Anda di halaman 1dari 8

BAB I

KESEHATAN MASYARAKAT DAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Ilmu kesehatan berkembang atas dasar adanya penyakit. Kebutuhan akan penyembuhan
penyakit, menyebabkan timbulnya orang-orang yang mencoba mengatasi penyakit dengan
mencari cara pengobatan beserta obat-obatannya. Para dukunlah yang dianggap mempunyai
kemampuan untuk mengatasinya, dan mereka pun dianggap dapat menimbulkan penyakit pada
musuh-musuhnya.

Adapula masyarakat yang beranggapan bahwa penyakit itu terjadi karena perbuatan
dosa. Maka seiring dengan konsep penyaebab penyakit ini, pengobatan dilakukan oleh para
tokoh kepercayaan, agama, dan sebagainya. Pertama karena konsep tentang penyakit tersebut
tidak seluruhnya benar, kedua apabila konsepnya benar, obatnya masih sangat primitive, begitu
pula cara pengobatannya. Agar usaha pengobatan dapat menjadi efektif, perlu diketahui
penyebab penyakit dan dicoba menghilangkan penyebab tadi.

Dalam perkembangan waktu, orang mulai berpikir lebih rasional dan mempelajari
struktur serta fungsi tubuh manusia baik dalam kradaan sehat maupun dalam keadaan
sakit.Ilmu kedokteran ini kemudian, walaupun telah dapat menyembuhkan penyakit, ternyata
masih belum dapat mengatasi wabah-wabah yang melanda masyarakat , karena ilmu
kedokteran tidak mencegah penularan penyakit tetapi mengobati orang yang telah sakit secara
individual.

Orang kemudian sadar bahwa penyakit itu banyak sekali ditentukan oleh berbagai
factor, antara lain perilaku masyarakat sendiri. Norma serta budaya yang menentukan gaya
hidup masyarakat akan menciptakan keadaan lingkungan yang sesuai dengannya dan
menimbulkan penyakit yang sesuai pula dengan gaya hidupnya tadi. Jadi untuk menjadi sehat
tidak cukup dengan hanya pencegahan penyakit secara perseorangan, tetapi harus melihat dan
mengelola masyarakat sebagai satu kesatuan bersama lingkungan hidupnya. Atas dasar
pengetahuan ini timbulah ilmu kesehatan masyarakat.

Defenisi kesehatan masyarakat menurut Wislow pada tahun 1920 yaitu ilmu dan kiat
untuk mencegah penyakit, memperpanjang harapan hidup, meningkatkatn kesehatan dan
efisien masyarakat. Dari pembahasan terdahulu serta defenisi kesehatan masyarakat, dapat
dimengerti bahwa pada prinsipnya, pencegahan dan pemberantasan penyakit perlu
dilaksanakan dengan partisipasi masyarakat secara penuh .

a. Usaha Kesehatan Masyarakat


Dari pembahasan terdahulu serta defenisi kesehatan masyarakat, dapat dimengerti
bahwa pada prinsipnya, pencegahan dan pemberantasan penyakit perlu dilaksanakan

1
dengan partisipasi masyarakat secara penuh. Jadi masyarakat sendirilah yang dapat
memberantas penyakit ataupun meningkatkan kesehatannya.

b. Kesehatan Lingkungan

Kemampuan manusia untuk mengubah atau memodifikasi kualitas lingkungannya


tergantung sekali pada taraf social budayanya. Masyarakat yang masih primitive hanya mampu
membuka hutan secukupnya. Sebaliknya, masyarakat yang sudah maju sosial budayanya dapat
mengubah lingkungan hidup sampai ke taraf irreversible. Gunung-gunung dapat dibelah atau
dipotong sesuai dengan keperluannya. Hutan dapat diubah menjadi kota dalam waktu yang
singkat.

Seperti telah diuraikan terdahulu, usaha kesehatan lingkungan merupakan salah satu usaha
dari enam usaha dasar kesehatan masyarakat. Dari uraian tentang usaha dasar terlihat bahwa
kesehatan lingkunganpun erat sekali hubungannya dengan usaha kesehatan lainnya. Usaha ini
merupakan usaha yang perlu didukung oleh ahli rekayasa secara umum dan secara khusus oleh
ahli rekayasa lingkungan .

c. Pengaruh Lingkungan Terhadap Kesehatan

Perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam


terjadinya penyakit dan wabah. Bahwasanya lingkungan berpengaruh pada terjadinya penyakit
sudah sejak lama diperkirakan orang. Seorang tokoh didunia kedokteran, Hippocrates adalah
tokoh yang pertama-tama berpendapat bahwa penyakit itu ada hubungannya dengan fenomena
alam dan lingkungannya. Dilihat dari segi ilmu kesehatan lingkungan, penyakit terjadi karena
adanya interaksi ini disebut Ekologi dan secara khusus ekologi manusia, apabila pusat
perhatian studi itu adalah manusia.

Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang wajar dan
terlaksana sejak manusia itu dilahirkan sampai ia meninggal dunia. Hal ini disebabkan karena
manusia memerlukan daya dukung unsur-unsur lingkungan untuk kelangsungan hidupnya.
Udara, air, makanan, sandang, papan dan seluruh kebutuhasn manusia harus diambil dari
lingkungaan hidupnya. Akan tetapi dalam proses interaksi manusia dengan lingkungannya ini
tidak selalu didapatkan keuntungan, kadang-kadang manusia bahkan mendapat kerugian.

2
BAB II

MANUSIA DAN LINGKUNGANNYA

Manusia merupakan salah satu unsur di dalam lingkungan hidup ini. Secara biologis
manusia tergolong Homo Sapiens. Ia merupakan makhluk hidup yang paling canggih, namun
demikian, ia tetap merupakan salah satu unsur alam. Kecanggihan ini didapat manusia karena
kemampuannya mengembangkan budaya. Perkembangan budaya ini dapat tejadi pada manusia
karena ia dilengkapi dengan bentuk fisik, fungsi tubuh serta karakteristik perkembangan
tubuhnya yang berbeda dengan hewan-hewan lainnya. Budayanya ini pula yang menyebabkan
ia dapat mengubah kualitas lingkungan hidupnya dengan segala konsekukuensinya. Oleh
karena itu pula manusia dapat ditinjau dari segi fisik maupun segi budaya.

1. Perkembangan Fisik Manusia

Manusia dilahirkan dengan 46 pasang khromosom yang mengandung kurang lebih


30.000 gena. Komposisi gena ini menentukan genotip manusia, sedangkan bentuk fisik
manusia disebut fenotip. Dari seluruh gena tersebut 90-95% merupakan gena yang sama bagi
seluruh umat manusia. Hanya 5-10% dari seluruh gena tersebut yang membedakan Antara
bangsa, suku mauoun individu. Komposisi gena ini dapat berubah-ubah karena pengaruh
berbagai factor yang ada di dalam lingkungan hidupnya.

2. Perkembangan Budaya

Dilihat dari segi budaya, proses pendewasaan yang lambat ini merupakan suatu kuntungan.
Orangtua dan masyaakat sekitanya mepunai kesempatan yang banyak untuk memberi pelajaran
mengenai adat, kebiassaan, norma dan pengetahuan yang ada ataupun mentransfer budayanya
secara turun temurun. Sebagaimana layaknya, manusia berusaha untuk terus memperbaiki
keadannya. Secara pasti dapat ditentukan bagaimana manusia menemukan cara untuk bercocok
tanam. Tetapi besa kemungkinannya, bahwa mereka secara kebetulan melihat bahwa biji-biji
yang terbuang dapat tumbuh menjadi tanaman yang sama dengan tanaman asal biji terrsebut.
Kemampuan mempoduksi makanan yang melebihi kebutuhan sehari-harinya akan
menyebabkan meningkatnya suplai energi yang tersedia, maka angka kelahiran naik sedangkan
angka kematian tetap, maka jumlah populasi akan bertambah. Oleh karena jumlah penduduk
terus bertambah, maka cara-cara bercocok tanam tradisional tidak lagi dapat memenuhi
keperluan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan cara-cara yang dapat menyediakan suplai
bahan serta jasa dengan lebih cepat dan lebih efisien. Dengan kemampuan observasi fenomena
alam sekitarnya, dan daya pikirnya manusia kemudian dapat menemukan mesin-mesin yanng
berkerja dengan lebih cepat daripada tenaga manusia.

3
Apabila pada fase industrial ini manusia berfikir untuk menundukkan alam demi untuk
kemakmuran, maka dampak-dampak negatif yang dijumpai sebagai akibatnya menyadarkan
manusi bahwa existensinya tergantung pada kelestarian sumber daya lingkungan. Hal ini
memaksa manusia mengubah sikapnya terhadap lingkungan. Manusia menyadari
kesalahannya, dan tidak lagi berkehendak untuk menaklukan alam tetapi ingin hidup secara
harmonis dan produktif.

Kemajuan pengetahuan khususnya di bidang kesehatan yang menyertai kemajuan


budaya seara umumnya, akan mengubah pola penyakit ini. Imunisasi yang dapat memberi
kekebalan secara artifisial pada anak-anak , dan usaha kesehatan lainnya mengakitbatkan
turunnya angka kematian anak. Dengan demikian usia hidup akan menaik, manusia secara rata-
rata akan menjadi tua. Maka akan mulai terdapat penyakit yang berhubungan dengan ketuaan.
Selain itu kemajuan di bidang sanitasi membuat lingkungan menjadi lebih sehat, penyebaran
penyakit menular lewat lingkungan berkurang, dan pola penyakit akan berubah dari yang
dominan menular menjadi tidak menular.

A. Reaksi Manusia Terhadap Stimuli

Manusia dapat bereaksi terhadap berbagai jenis stimuli lingkungan. Secara garis bessar
berbagai stimuli tesebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian berdasarkan asalnya yaitu :

1. Stimuli dari dalam tubuh manusia sendiri dan dissebut stimuli endogenous
2. Stimuli luar tubuh manusia dan disebut stimuli exogenous.

Stimuli endogeneus dapat berupa stimuli dari kadar-kadar hormon yang diproduksi
kelenjar-kelenjar hormon tubuh sendiri ataupun segala reaksi-reaksi biokimia yang terjadi di
dalam tubuh. Misalnya, di dalam tubuh terdapat terlalu banyak hormon thyroid, maka
metabolisme tubuh akan terjadi secara berlebihan. Tubuh akan berkeringat, terasa sering lapar
, tekanan darah meninggi dan seterusnya.

Stimuli exogeneus berasalkan dari luar tubuh. misalnya, keadaan temperatur udara yang
tinggi dapat menimbulkan reaksi tubuh yang lebih banyak mengeluarkan keringat. Hal ini
terjadi agar tubuh tidak terpengaruh oleh keadaan yang panas tadi.

B. Interaksi Manusia Dengan Lingkungannya

Manusia yang pimitif berhubungan secara erat dan langsung dengan banyak elemen di
dalam lingkungan. Merekapun sangat tepengaruh oleh lingkungan hidupnya. Makanan mereka
sangat tergantung pada jumlah ang tersedia di alam, oleh karenanya manusia primitif
berpindah-pindah tempat tinggal sesuai dengan ketersediaan bahan makanan di dalam
lingkungan sekitarnya. Sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat, terdapat masalah
kesehatan lingkungan, angka penyakit, angka kematian, dan kesehatan yang setara budaya
tersebut. Semuanya ini ditentukan oleh interaksi manusia dengan lingkungannya.

4
BAB III

LINGKUNGAN PRENATAL

Lingkungan prenatal ialah lingkungan manusia sebelum lahir ataupun lingkungan


embrio/janin yang ada alam kandungan ibu. Lingkungan prenatal terdiri atas beberapa bagian
yaitu :
1. Lingkungan matro atau lingkungan postnatal

Lingkungan matro adalah lingkungan ibu ataupun sama dengan lingkungan postnatal.
Di dalam lingkungan postnatal terdapat banyak sekali faktor yang bepengaruh terhadap
kesehatan janin, baik eugenik maupun yang disgenik. Dengan meningkatnya inustrialisasi,
kebeadaan zat kimia maupun fisis di alam lingkungan akan semakin bertambah baik kualitas
maupun kuantitasnya. Sekalipun orang mengelola kualitas lingkungan dengan menggunakan
baku mutu yang dianggap aman bagi kehidupan, kepekaan janin terhadapnya masih terus harus
dipantau. Bahan baku untuk inusstri seringkali tidak sempat diteliti efek jangka panjangnya,
terutama efek mutagenik , teratogenik, dan karsinogenik pada manusia.

Kelainan yang dapat terjadi karena zat-zat kimia ataupun fisika sangat tergantung pada
waktu pemaparan. Kehamilan usia mua sangat peka terhadap zat-zat yang berbahaya karena
pada saat-saat tersebut sedang terjadi perkembangan berbagai organ dan anggota badan.
Demikian pula dengan dosis yang diterima ibu. Pemaparan yang lama dan atau pemaparan
dosis tinggi dan mendadak dapat mengakibatkan keguguran, kelahiran mati dan lain
sebagainya.

Atas dasar pengetahuan ini, maka sebaiknya ibu hamil tidak menggunakan obat apapun selain
pada keadaan yang memaksa. Kalaupun obat harus dipergunakan oleh seorang calon ibu, maka
ia harus berada dalam pengawasan yang ketat dari dokternya.

2.Lingkungan embrio/janin yang terdiri dari lingkungan makro dan lingkungan mikro.

Secara alamiah embrio/janin mendapat perlindungan dari ibu dalam berbagai aspek,
oleh karenanya lingkungan prenatal relatif leih baik daripada lingkungan postnatal, namun
demikian masih terdapat banyak faktor-faktor digenik yang perlu diperhatikan. Lingkungan
makro untuk embrio adalah tubuh ibu, baik struktur, fungsi maupun kualitasnya. Usia ibu
sangat mempengaruhi kesehatan janin serta kualitas bayi yang akan dilahirkan. Usia ibu ini
tidak saja berpengauh terhadap bayinya, tetapi juga tehadap ibu itu sendiri. Wanita yang
melahirkan pada usia 18 tahun atau lebih muda, mempunyai resiko kematian akibat persalinan
3x lebih besar daripada ibu-ibu yang melahirkan pada usia 20-29 tahun. Resiko kematian ibu
berusia lebih daripada 34 tahun meningkat menjadi 5x lebih besar daripada ibu berusia 20-29
tahun.

Sedangkan lingkungan mikro tediri atas otot-otot rahim , plasenta, cairan amnion, janin
lain pada kehamilan kembar dan lain-lain. Lingkungan mikro ini melindungi embrio (0-2
bulan), dan janin (3-9 bulan) dari berbagai faktor disgenik seperti tekanan mekanis, bakteri

5
patogen dan lain-lain. Plasenta berbentuk iskoid, berdiameter antaa 15-20 cm, tebalnya antaa
2-3 cm dan beratnya rata-rata adalah 500 gram. Plasenta mempunyai dua fungsi yakni yang
pertama membuat hormon-hormon sehingga lapisan endometrium rahim tetap baik untuk
pekembangan embio/janin dan yang kedua merupakan media tansfer bebagai zat dari ibu ke
anak dan sebaliknya. Segala keperluan nutrisi anak diambil dari ibu adalah makanan yang siap
pakai, sehingga anak perlu melakukan pencernaan, karena pada fase ini saluran pencernaan
anak belum berfungsi. Begitu pula keperluan akan oxigen untuk pernapasan. Plasenta juga
berfungsi untuk menyalurkan berbagai jenis buangan anak, baik yang berbentuk air maupun
gas. Plasenta juga berfungsi sebagai barrier terhadap berbagai zat dan fungsi ini tergantung dari
permeabilitasnya.

PARITAS

Paritas adalah angka-angka yang menunjukkan jumlah kehamilan yang pernah dialami
ibu serta status terminasi kehamilan tersebut. Paritas menggambarkan pengalaman ibu dalam
kehamila. Misalnya, jumlah kehamilan yang pernah dialaminya dapat dibandingkan terhadap
kelahiran dan kegugurannya. Ibu yang sering mengalami keguguran mestinya mempunyai latar
belakang kesehatan yang berbeda dibanding dengan yang tidak pernah mengalami abortus.
Dari pencatatan statistik diperoleh hubungan antara jumlah paritas dengan derajat kesehatan
bayi yang dilahirkan. Dinyatakan bahwa semakin besar angka gravida semakin besar
kemungkinannya melahirkan anak yang lemah.

Gizi ibu hamil perlu diperhatikan, karena segala keperluan perkembangan dan
pertumbuhan janin hanya dapat diperoleh dari ibu. Dapat dimengerti bahwa status gizi ibu akan
sangat menentukan kesehatan bayi yang dilahirkan. Percobaan hewan memperlihatkan bahwa
induk tikus yang kekurangan gizi akan melahirkan anak yang bersifat emosional dan penakut.

6
BAB IV

ATMOSFIR

Atmosfir adalah lingkungan udara, udara yang meliputi planet bumi ini. Atmosfir
terdiri atas beberapa lapisan yang terbentuk karena adanya interaksi Antara sinar-sinar
matahari, gaya tarik bumi, rotasi bumi, dan permukaan bumi. Lapisan-lapisam atmosfir dapat
dikenali dari perbedaan suhunya. Batasan-batasan lapisan atmosfir ini bervariasi, tergantung
dari iklim dan keadaan cuaca, tetapi setiap lapisan mempunyai karakteristik yang berbeda-
beda.

a. Udara Bebas

Udara bebas yang ada disekitar manusia dapat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat.
Pengaruh tersebut dikelompokkan menjadi pengaruh langsung dan tidak langsung.

Pengaruh udara bebas langsung yaitu terjadi karena proses pernapasan kontak seluruh
anggota tubuhnya dengan udara. Pengaruh udara terhadap kesehatan sangat ditentuksn oleh
komposisi kimia, biologis maupun fisis udara. Pada keadaan normal, sebagian besar udara
terdiri atas oxygen dan nitrogen.Tetapi aktivitas manusia dapat mengubah komposisi kimiawi
udara sehingga terjadi pertambahan jumlah spesies, ataupun meningkatkan konsentrasi zat-zat
kimia yang sudah ada.

Pengaruh udara bebas secara tidak langsung merupakan penagaruh terhadap kesejahteraan
masyarakat. Misalnya, nitrogen di dalam udara dapat dimanfatatkan sebagai bahan baku pupuk
urea dengan menggunakan proses Haber. Pupuk urea meningkatkan produksi di bidang
pertanian. Dengan demikian kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Pengetahuan tentang
adanya berbagai gelombang elektromagnetis di dalam udara didayagunakan sebagai sumber
surya, komunikasi lewat gelombang microwave, gelombang radio dan sebagainya.

b. Efek Estetika

Efek estetika adalah salah satu pengaruh udara yang penting terhadap sekitarnya.
Penyebabnya dapat berupa berbagai zat kimia, fisis dan biologis. Misalnya, semua proses yang
menimbulkan bau dan udara menjadi tidak jernih akibat terjadinya kabut dapat mengurangi
nilai estetik lingkungan setempat. Zat pengotor biologis karena terutama berperan di dalam
udara tidak bebas. Yang dimaksud dengan udara tidak bebas adalah udara yang di dapat di
dalam gedung-gedung seperti rumah, pabrik, bioskop, sekolah, rumah sakit dan lain-lain.
Udara tidak bebas didapat pula di dalam sumur-sumur dan tambang-tambang.

7
c. Jenis-Jenis Pencemar

Di dalam udara tidak bebas, bahan-bahan yang dapat menimbulkan penyakit lebih banyak
jumlah/kadarnya maupun jenisnya disbanding dengan yang ada di dalam udara bebas. Kasus-
kasus penyakit akibat pencemaran udara tidak bebas ini banyak sekali terjadi, terutama di
dalam lingkungan kerja dan di rumah-rumah.

d. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kualitas Udara

Mengingat bahwa udara yang bersih itu diperlukan setiap detik bagi tercapainya
masyarakat yangs ehat, maka kualitas udara harus diusahakan agar selalu bersih. Tidak
mungkin kiranya kita membiarkannya kotor dan dibersihkan kemudian sebelum dikonsumsi
seperti halnya air, karena udara setiap detik diperlukan. Bagi Indonesia tentunya sudah banyak
yang dapat dipelajari baik buruk pendapat-pendapat yang ada dengan mempelajari
pengalaman-pengalaman negara industri. Terlepas dari pendapat yang ada, pada hakekatnya
saat ini sudah tersedia teknologi yang bias dimanfaatkan untuk pengendalian sumber-sumber
pencemar udara secara efektif dan murah. Memanfaatkan teknologi pasti memerlukan biaya,
akan tetapi tak perlu disangsikan bahwa uang yang digunakan untuk kebersihan udara ini akan
memberi manfaat bagi masyarakat saat ini dan generasi yang akan datang.

e. Alat-Alat Pembersih Gas Buang

Berbagai alat pembersih gas buang sudah banyak tersedia, pemilihan dilakukan atas dasar
efisiensi penyisihan emisi yang dikehendaki, sifat fisik kimiawi tercemar, dan lainnya. Alat-
alat yang ada dapat dikelompokkan menjadi filter, electrostatic precipitators, cyclones,
kolektor mekanis, scrubers, pembakar atau after burners dan lainnya.