Anda di halaman 1dari 19

PANDUAN

PELAYANAN PASIEN LEMAH DAN MANULA


DENGAN KETERGANTUNGAN

RSIA PERDANA MEDICA


Jl. Kutisari No.6 Surabaya Telp. 0318498311
Email. rsiaperdanamedica@gmail.com

SURABAYA

2018

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan YME, karena atas karunia-Nya maka penyusunan
Buku Panduan Pelayanan Pasien Lemah dan Manula dengan Ketergantungan RSIA
Perdana Medica telah terselesaikan dengan baik.
Buku Panduan Pelayanan Pasien Lemah dan Manula dengan Ketergantungan
RSIA Perdana Medica ini merupakan panduan yang digunakan Rumah Sakit untuk
pelaksanaan tugas sehari-hari, agar tetap fokus pada tugas, tidak menyimpang dari
tugas utama, dan tetap berpanduan pada pelayanan pasien di RSIA Perdana
Medica.
Kami berharap bahwasanya Buku Panduan Pelayanan Pasien Lemah dan
Manula dengan Ketergantungan RSIA Perdana Medica ini dapat menjadi landasan
pelayanan rumah sakit agar tercipta lingkungan yang terorganisir dan tidak terjadi
mis informasi antara RSIA Perdana Medica dengan pengguna layanan rumah sakit.

Surabaya, Desember 2018

Penyusun

iv
PERATURAN DIREKTUR RSIA PERDANA MEDICA
NOMOR: ……………../PER/RSPM/XII/2018
TENTANG
PANDUAN PELAYANAN PASIEN LEMAH DAN MANULA DENGAN
KETERGANTUNGAN PERDANA MEDICA
DIREKTUR RSIA PERDANA MEDICA

Menimbang : a. …………………………………….
b. ……………………………………..
Mengingat : a. ………………………………………
b. ……………………………………….
MEMUTUSKAN
Menetapkan:

Ditetapkan di Surabaya
Pada tanggal ………………………..
Direktur,

dr. CHESIA CHRISTIANI LIUWAN

v
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR .................................................................................................. iv
PERATURAN DIREKTUR RSIA PERDANA MEDICA ............................................... v
DAFTAR ISI ............................................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
A. Latar Belakang .................................................................................................... 1
B. Tujuan................................................................................................................... 2
C. Sasaran ................................................................................................................ 3
D. Ruang Lingkup .................................................................................................... 3
E. Kebijakan ............................................................................................................. 3
BAB II RUANG LINGKUP........................................................................................... 4
A. Definisi .................................................................................................................. 4
B. Klasifikasi Lansia ................................................................................................ 4
C. Tugas Pengembangan Lansia.......................................................................... 4
D. Ciri-ciri Masalah Lansia ..................................................................................... 5
E. Pendekatan Perawatan Pada Lansia .............................................................. 5
F. Pengkajian Pada Lansia .................................................................................... 6
G. Jenis-jenis Pelayanan Lansia ........................................................................... 8
H. Aspek-aspek Perubahan Pada Lansia ............................................................ 8
I. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Proses Menua Sehat dan Aktif ......... 11
J. Pelaksanaan Pembinaan Usia Lanjut ........................................................... 12
K. Penurunan Pada Lansia .................................................................................. 13
BAB III TATA LAKSANA .......................................................................................... 14
BAB IV PENUTUP .................................................................................................... 15

vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penduduk lanjut usia (lansia) merupakan bagian masyarakat yang tidak
bisa dipisahkan dalam kehidupan kita. Siapapun pasti akan mengalami masa
fase lansia tersebut. Menurut data pusat statistik, jumlah lansia di Indonesia
pada tahun 1980 adalah sebanyak 7,7 juta jiwa atau hanya 5,2 persen dari
seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 1990, jumlah penduduk lansia meningkat
menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Data terbaru menunjukkan bahwa
jumlah lansia di Indonesia diperkirakan akan mencapai 9,77% atau sejumlah
23,9 juta jiwa pada tahun 2010 dan meningkat lagi secara signifikan sebesar
11.4 persen atau sebanyak 28,8 juta jiwa pada tahun 2020. Hal ini berkorelasi
positif dengan peningkatan kesejahteraan yang dialami oleh masyarakat
Indonesia khususnya di bidang kesehatan yang ditunjukkan dengan semakin
tingginya angka harapan hidup masyarakat Indonesia. Pada tahun 1980, angka
harapan hidup masyarakat Indonesia hanya sebesar 52,2 tahun. Sepuluh tahun
kemudian meningkat menjadi 59,8 tahun pada tahun 1990 dan satu dasa warsa
berikutnya naik lagi menjadi 64,5 tahun. Diperkirakan pada tahun 2010 usia
harapan hidup penduduk Indonesia akan mencapai 67,4 tahun. Bahkan pada
tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 71,1 tahun. Dengan data-data tersebut,
maka diperkirakan 10 tahun kedepan struktur penduduk Indonesia akan berada
pada struktur usia tua.
Meningkatnya populasi lansia ini membuat pemerintah perlu merumuskan
kebijakan dan program yang ditujukan kepada kelompok penduduk lansia
sehingga dapat berperan dalam pembangunan dan tidak menjadi beban bagi
masyarakt. Undang-undang nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia
menetapkan bahwa batasan umur lanisa di Indonesia adalah 60 tahun ke atas.
Berbagai kebijakan dan program yang dijalankan pemerintah diantaranya
tertuang dalam peraturan pemerintah nomor 43 tahun 2004 tentang pelaksanaan
upaya peningkatan kesejahteraan lanjut usia, yang antara lain meliputi: 1)
pelayanan keagamaan dan mental spiritual seperti pembangunan sarana ibadah
dengan pelayanan aksesibilitas bagi lanjut usia; 2) pelayanan kesehatan melalui
peningkatan upaya penyembuhan (kuratif), diperluas pada bidang pelayanan
geriatrik/ gerontologik; 3) pelayanan untuk prasarana umum, yaitu mendapatkan

1
kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum, keringanan biaya, kemudahan
dalam melakukan perjalanan, penyediaan fasilitas rekreasi dan olahraga khusus;
4) kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum, seperti pelayanan administrasi
pemerintah (kartu tanda penduduk seumur hidup), pelayanan kesehatan pada
sarana kesehatan milik pemerintah, pelayanan dan keringanan biaya untuk
pembelian tiket perjalanan, akomodasi, pembayaran pajak, pembelian tiket
rekreasi, penyediaan tempat duduk khusus, penyediaan loket khusus,
penyediaan kartu wisata khusus, mendahulukan para lansia.
Untuk mempertahankan kualitas hidup, tetap aktif dan produktif, lansia
membutuhkan kemudahan dalam beraktivitas dan pemahaman tentang
lingkungan aktivitas. Kemudahan beraktivitas akan membantu lansia melakukan
kegiatannya tanpa hambatan, menggunakan energi minimal dan menghindari
cedera. Pemahaman terhadap lingkunagan akan membantu lansia dalam
penyesuaian aktivitas individu. Pelayanan kesehatan yang memadai sangat
diperlukan karena lansia sangat rentan terhadap penyakit dan cedera.
Kemunduran yang dibahas disini hanya meliputi penurunan kemampuan fisik
saja, terutama yang berdampak kepada keselamatan lansia pada waktu
beraktivitas membersihkan diri di kamar mandi, dimana tempat ini merupakan
salah satu tempat sering terjadinya kecelakaan pada lansia yang dapat berakibat
fatal. Kecelakaan ini biasanya lebih banyak terjadi di lingkungan tempat tinggal
seperti lantai licin dan tidak rata, tersandung karena pencahayaan yang kurang
memadai, dan sebagainya. Walaupun kecelakaan dilatarbelakangi faktor intrinsik
atau faktor penyakit yang dialami oleh lansia, tetapi faktor ekstrinsik atau
lingkungan juga mempunyai kontribusi yang besar dalam kecelakaan pada
lansia. Tempat tinggal yang tidak ditata sesuai dengan kebutuhan akan membuat
tempat tersebut sebagai mine field atau ladang ranjau bagi lansia.

B. Tujuan
1. Mampu menjelaskan kelainan-kelainan yang sering terjadi pada lansia
beserta pencegahan dan pengobatannya.
2. Meningkatkan kepedulian agar lansia yang memerlukan mendapatkan
pelayanan, perlindungan, bantuan dan perawatan secara manusiawi.
3. Adanya kebijakan rumah sakit untuk melayani lansia secara fisik, mental,
sosial, serta diliputi keselamatan dan kenyamanan.
4. Memberikan pelayanan kesehatan maksimal kepada lansia.

2
C. Sasaran
Sasaran pada program ini adalah semua unit pelayanan medis di RSIA
Perdana Medica.

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup program ini adalah semua unit pelayanan medis.

E. Kebijakan
Keputusan Direktur RSIA Perdana Medica tentang Kebijakan Pelayanan
pasien lemah dan manula dengan ketergantungan bantuan

3
BAB II
RUANG LINGKUP

A. Definisi
Lanjut usia adalah seseorang baik wanita maupun laki-laki yang telah
berusia 60 tahun ke atas. Lanjut usia secara fisik dapat dibedakan atas dua yaitu
lanjut usia potensial maupun lanjut usia tidak potensial. Beberapa jenis
permasalahan yang dialami lanjut usia antara lain secara fisik, mental, sosial,
dan psikologis. Sehingga hal ini akan mengakibatkan gangguan dalam
pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita.

B. Klasifikasi Lansia
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia:
1. Pralansia (prasenilis) -> seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
2. Lansia -> seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
3. Lansia resiko tinggi -> seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih; atau
seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
4. Lansia potensial -> lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan
atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.
5. Lansia tidak potensial lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga
hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

C. Tugas Pengembangan Lansia


1. Mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun.
2. Mempersiapkan diri untuk pensiun.
3. Membentuk hubungan baik dengan orang seusianya.
4. Mempersiapkan kehidupan baru.
5. Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial/ masyarakat secara
santai.
6. Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangan.

4
D. Ciri-ciri Masalah Lansia
1. Ciri-ciri lansia yang memiliki tiga atau lebih penyakit kronis:
a. Gejala penyakit yang tidak khas.
b. Menurunnya beberapa fungsi organ tubuh.
c. Tingkat kemandiriannya berkurang.
d. Sering disertai adanya masalah nutrisi.
2. Ciri yang dapat dikategorikan sebagai pasien lansia dan psikogeriatri, yaitu:
a. Keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin
meningkatnya usia.
b. Adanya akumulasi dari penyakit-penyakit degeneratif.
c. Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis bila:
1) Ketergantungan pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan
orang lain).
2) Mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan
karena berbagai sebab, diantaranya setelah menjalani masa
pensiun, setelah sakit cukup berat dan lama, setelah kematian
pasangan hidup, dan lain-lain.
d. Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan sehingga
membawa lansia ke arah kerusakan/kemerosotan yang progresif
terutama aspek psikologis yang mendadak, misalnya bingung, panik,
depresif, apatis, dan sebagainya. Hal itu biasanya bersumber dari
munculnya stressor psikososial yang paling berat, misalnya kematian
pasangan hidup, kematian sanak keluarga dekat, terpaksa berurusan
dengan penegak hukum, atau trauma psikis.

E. Pendekatan Perawatan Pada Lansia


1. Komponen pendekatan fisik seperti pernapasan, nutrisi, eliminasi, tidur,
menjaga sikap tubuh waktu berjalan, tidur, menjaga sikap, duduk, merubah
posisi tiduran, beristirahat, personal hygiene, memakai dan menukar
pakaian, mempertahankan suhu badan, melindungi kulit dan kecelakaan.
2. Pendekatan psikis memegang prinsip sabar, simpatik, dan service.
3. Pendekatan sosial diskusi, tukar pikiran, dan bercerita.
4. Pendekatan spiritual ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya
dengan Tuhan atau agama yang dianutnya dalam keadaan sakit atau

5
mendeteksi kematian.

F. Pengkajian Pada Lansia


1. Menentukan kemampuan pasien untuk memelihara diri sendiri.
2. Melengkapi dasar-dasar rencana perawatan individu.
3. Membantu menghindarkan bentuk dan pandangan pasien.
4. Memberi waktu kepada klien untuk menjawab.
5. Keadaan umum:
a. Tingkat kesadaran:
b. GCS:
c. TTV:
d. BB dan TB:
e. Bagaimana postur tulang belakang lansia:
1) Tegap
2) Membungkuk
3) Kifosis
4) Skoliosis
5) Lordosis
f. Keluhan:
6. Penilaian tingkat kesadaran (kualitatif):
a. Compos mentis Kesadaran penuh
b. Apatis Acuh tak acuh terhadap keadaan sekitarnya
c. Somnolen -> Kesadaran lebih rendah ditandai pasien tampak
mengantuk, selalu ingin tidur, tidak responsif terhadap rangsangan
ringan tapi masih responsif terhadap rangsangan kuat
d. Sopor -> Tidak memberikan respon terhadap rangsangan ringan maupun
sedang, tetapi masih sedikit respon terhadap rangsangan yang kuat,
reflek pupil terhadap cahaya masih positif.
e. Koma -> Tidak dapat bereaksi terhadap stimulus apapun, refleks pupil
terhadap cahaya tidak ada.
f. Delirium -> Tingkat kesadaran paling rendah, disorientasi, kacau, dan
salah persepsi terhadap rangsangan.
7. Penilaian kuantitatif
Diukur melalui GCS (Glasgow Coma Scale)

6
a. Membuka mata/ Eye movement (E)
b. Respon verbal (V)
c. Respon motorik (M)
8. Indeks Massa Tubuh
BMI = Berat Badan (kg)/ [Tinggi Badan (m)]2
Kurang: <18,5
Normal: 18,5-24,9
Berlebih: 25-29,9
Obesitas: >30
9. Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan Short
Portable Mental Status Quesioner (SPMSQ). Intruksi: ajukan pertanyaan 1-
10 pada daftar dan catatsemua jawaban. Catat jumlah kesalahan total
berdasarkan 10 pertanyaan.
Interpretasi hasil:

No PERTANYAAN BENAR SALAH


1 Tanggal berapa hari ini?
2 Hari apa sekarang?
3 Apa nama tempat ini?
4 Dimana alamat anda?
5 Berapa umur anda?
6 Kapan anda lahir? (minimal tahun lahir)
7 Siapa presiden Indonesia sekarang?
8 Siapa presiden Indonesia sebelumnya?
9 Siapa nama ibu anda?
10 Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan
3 dari setiap angka baru, semua secara
menurun
Jumlah: Jumlah:

• Salah 0-3 : fungsi intelektual utuh


• Salah 4-5 : kerusakan intelektual ringan
• Salah 6-8 : Kerusakan intelektual sedang
• Salah 9-10 : Kerusakan intelektual berat

7
G. Jenis-jenis Pelayanan Lansia
1. Poliklinik
Tempat pelayanan ini memberikan jasa mengadakan pemeriksaan
menyeluruh, tindakan pengobatan sederhana dan konsultasi bagi pasien
rawat jalan, baik di masyarakat maupun antar poliklinik. Tenaga minimal
yang dibutuhkan adalah dokter umum atau dokter ahli penyakit dalam yang
telah mendapat kursus geriatri, atau seorang dokter spesialis geriatri,
seorang perawat, dan seorang petugas sosial medik.
2. IGD
Pada unit ini pada dasarnya hanya dirawat pasien usia lanjut yang
mempunyai penyakit akut atau semi akut. Terhadap penderita ini dilakukan
asesmen, tindakan pengobatan dan rehabilitasi secepat mungkin setelah
keadaannya memungkinkan.
3. Perawatan terminal
Pelayanan kesehatan sejak dulu diarahkan untuk menyembuhkan penyakit
dan mencegah kematian, tetapi ada kalanya dokter dihadapkan pada
keadaan menjelang ajal yang tidak dapat dielakkan. Hospice care (asuhan
sakit) merupakan salah satu bentuk layanan lansia dengan ciri-ciri: harapan
hidup penderita diperkirakan kurang dari enam bulan; pendekatan paliatif
dengan penekanan pada pengelolaan nyeri dan gejala; koordinasi oleh tim
interdisiplin, terdiri atas tenaga medik, rohaniawan, keluarga dan relawan/
pekerja sosial.
4. Rehabilitasi medik
Penyakit pada usia lanjut selalu mempunyai kecenderungan untuk terjadinya
kecacatan, sehingga oleh WHO selalu diharapkan penegakan diagnosis
pasien usia lanjut dalam aspek gangguan organ (disease), penyakit
(impairment), keterbatasan (disability) yang diakibatkan dan kecacatan
(handicap). Oleh karenanya, rehabilitasi medik selalu merupakan aspek yang
haras terdapat dalam pelayanan kesehatan usia lanjut. Rehabilitasi
dilaksanakan sesegera mungkin sejak pasien masuk smapai pulang sesuai
kebutuhan.

H. Aspek-aspek Perubahan Pada Lansia


1. Aspek psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami

8
penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses
belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga
menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi semakin lambat.
Sementara fungsi psikomotorik meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi yang berakibat
bahwa lansia menjadi kurang cekatan. Dengan adanya penurunan kedua
fungsi tersebut, lanisa juga mengalami perubahan aspek psikososial yang
berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan
berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia:
a. Tipe kepribadian konstruktif (construction personality), biasanya tipe ini
tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
b. Tipe kepribadian mandiri (independent personality), pada tipe ini ada
kecenderungan mengalami post power syndrome, apalagi jika pada
masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan ekonomi
pada dirinya.
c. Tipe kepribadian tergantung (dependent personality), pada tipe ini
biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan
keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi
jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan
menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
d. Tipe kepribadian bermusuhan (hostility personality), pada tipe ini setelah
memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak
keinginan yang kadang- kadang tidak diperhitungkan secara seksama
sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi kacau.
e. Tipe kepribadian kritik diri (self hate personality), pada tipe ini umumnya
terlihat sengsara karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau
cenderung membuat susah dirinya.
2. Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan
ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan
hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena p
ensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan,
peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa
pensiun lebih tergantung dari tipe kepribadiannya seperti yang telah
diuraikan. Dalam kenyataannya ada yang menerima, ada yang takut

9
kehilangan, ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga
yang seolah- olah acuh terhadap pensiun (pasrah). Masing-masing sikap
tersebut sebenarnya mempunyai dampak bagi masing-masing individu, b aik
positif maupun negatif. Dampak positif lebih menentramkan diri lansia dan
dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun
lebih berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-
benar diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan
hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh gaji
penuh. Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi dan
terarah bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan
assesmen untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan
yang jelas dan positif. Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan
memasuki masa lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya
memantapkan arah minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta,
cara membuka usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan macamnya.
Model pelatihan hendaknya bersifat praktis dan langsung terlihat hasilnya
sehingga menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa disamping pekerjaan
yang selama ini ditekuninya, masih ada alternatif lain yang cukup
menjanjikan dalam menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak
membayangkan bahwa setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna,
menganggur, penghasilan berkurang dan sebagainya.
3. Perubahan dalam peran sosial di masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak, fisik
dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan
pada lansia. Misalnya badan menjadi bungkuk, pendengaran sangat
berkurang, pennglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering
menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu
mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih
sanggup agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika
keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan
orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah
menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta
merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya
seperti anak kecil. Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada
umumnya lansia yang memiliki keluarga, bagi orang-orang kita (budaya

10
ketimuran) masih sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak,
cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu
memelihara dengan pebuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi
mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara karena hidup
membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan
pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri,
seringkali menjadi terlantar. Disinilah pentingnya adanya panti werdha
sebagai tempat untuk pemeliharaan dan perawatan bagi lansia disamping
sebagai long stay rehabilitation yang tetap memelihara kehidupan
bermasyarakat.
4. Status gizi lansia merupakan hasil pengukuran antropometri
Ada lima kategori status gizi lansia yaitu buruk, kurang, cukup, baik, lebih.
Status gizi ditentukan melalui body mass index. Susunan menu makanan
lansia merupakan susunan hidangan yang terdiri dari olahan berbagai
macam resep masakan yang dipadukan dan disajikan dalam waktu tertentu.
Menu dapat terdiri dari dua macam hidangan atau lebih misalnya makanan
selingan beserta minumannya, makanan lengkap (pagi, siang, malam),
ataupun sebagai hidangan makanan sehari-hari secara keseluruhan. Pola
konsumsi pangan lansia merupakan kebiasaan tentang makan dan jenis
makanan yang dikonsumsi oleh lansia sebagai refleksi dari keadaan
lingkungan sosial dan budaya setempat.

I. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Proses Menua Sehat dan Aktif


1. Faktor pelayanan kesehatan dan sosial
a. Prevalensi yang masih tinggi dari infeksi/ penyakit menular
b. Masalah malnutrisi
c. Makin banyak penyakit-penyakit degeneratif
d. Fasilitas pelayanan kesehatan yang masih kurang
2. Faktor ekonomi
a. Menurunnya pendapatan
b. Mungkin tidak memiliki asuransi atau pensiun
c. Kebalikannya mungkin cukup mampu/ kaya sehingga mengundang resiko
obesitas dan penyakit-penyakit lain akibat gaya hidup yang kurang baik.

11
J. Pelaksanaan Pembinaan Usia Lanjut
1. Bagi petugas kesehatan
a. Upaya promotif, yaitu upaya untuk menggairahkan semangat hidup para
lansia agar tetap merasa dihargai dan berguna bagi dirinya sendiri,
keluarga maupun masyarakat.
b. Upaya preventif, yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya
komplikasi dari penyakit yang disebabkan proses menua.
c. Upaya kuratif, yaitu upaya pengobatan yang mana penanggulangannya
perlu melibatkan multidisiplin ilmu kedokteran.
d. Upaya rehabilitate, yaitu upaya untuk memulihkan fungsi organ tubuh yang
sudah menurun.
2. Bagi usia lanjut sendiri
a. Untuk kelompok pra usia lanjut membutuhkan informasi:
1) Akibat proses penuaan.
2) Pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.
3) Pentingnya melakukan latihan kesegaran jasmani.
4) Pentingnya meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat.
b. Untuk kelompok usia lanjut membutuhkan informasi:
1) Pemeriksaan kesehatan secara berkala.
2) Kegiatan olahraga.
3) Pola makan dengan menu seimbang.
4) Perlunya alat bantu sesuai dengan kebutuhan.
5) Pengembangan kegemaran sesuai dengan kemampuan.
6) Peningkatan hubungan sosial di masyarakat.
c. Untuk kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi membutuhkan informasi:
1) Pembinaan diri sendiri dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi,
aktivitas di dalam maupun di luar rumah.
2) Pemeriksaan kesehatan berkala.
3) Latihan kesegaran jasmani.
4) Pemakaian alat bantu sesuai kebutuhan.
5) Perawatan fisioterapi.
3. Bagi keluarga dan lingkungannya
a. Membantu mewujudkan peran serta, kebahagiaan dan kesejahteraan usia
lanjut.
b. Usaha pencegahan dimulai dari rumah tangga.

12
K. Penurunan Pada Lansia
1. Kondisi fisik
Pada saat seseorang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi
adanya kondisi fisik yang bersifat patologis multipel, misalnya tenaga
berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang
makin rapuh, dan sebagainya. Secara umum kondisi fisik seseorang yang
sudah memasuki masa lansia banyak mengalami penurunan fungsi organ. Hal
ini dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik,
maupun sosial yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan selalu
bergantung kepada orang lain. Agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang
sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi
psikologik maupun sosial. Seorang lansia haras mampu mengatur cara
hidupnya dengan baik, misalnya keseimbangan makan, tidur, istirahat, dan
bekerja.
2. Penurunan fungsi dan potensi seksual
3. Penurunan fungsi dan potensi seksual pada usia lanjut seringkali
berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti:
a) Gangguan jantung.
b) Gangguan metabolisme, misalnya diabetes mellitus.
c) Vaginitis.
d) Baru selesai operasi, misalnya prostatektomi.
e) Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan
sangat kurang.
f) Penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid,
obat penenang.
g) Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan
jiwa lainnya, misalnya cemas, depresi, pikun, dan sebagainya.
4. Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain: rasa tabu atau malu bila
mempertahankan kehidupan seksual pada lansia. Sikap keluarga dan
masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya.
5. Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
6. Pasangan hidup telah meninggal

13
BAB III
TATA LAKSANA

Pada pelaksanaan asuhan pelayanan pasien lemah dan manula dengan


ketergantungan bantuan terutama yang berkaitan dengan kerapuhan dan kecatatan
lansia di RSIA Perdana Medica, petugas medis harus bertindak memberikan
pengetahuan, pelayanan, pengobatan kepada lansia, Pelayanan lansia yang rapi
dan terorganisir di RSIA Perdana Medica sangat berperan dalam pengelolaan dari
konsekuensi demografik. Kebanyakan orang lanjut usia di atas 60 tahun masih hidup
cukup mandiri di masyarakat. Tugas utama dari pelayanan lansia untuk
mempertahankan kemandirian ini sehingga dapat menua sehat. Dengan demikian,
menua sehat dapat diharapkan juga akan berlanjut dengan menua aktif secara
sosial, spiritual dan kultural bahkan ekonomi untuk menuju pada menua dengan
sukses.
Pelayan pasien lemah dan manula dengan ketergantungan bantuan di RSIA
Perdana Medica dilakukan di rawat jalan maupun rawat inap. Perawat dan dokter
melakukan assesmen yang perlu serta asuhan pelayanan dikoordinasikan dengan
jenis pelayanan dengan menyediakan obat-obatan jika ada yang sakit, menyediakan
ruang poliklinik dan rawat inap untuk pelayanan kesehatan, menyediakan tenaga
medis dan ahli gizi yang mengatur kandungan gizi makanan yang akan dikonsumsi,
serta rehabilitasi medik. Petugas medis disini seolah-olah merupakan penyelia umum
atas terlaksananya semua tindakan yang telah direncanakan bersama mengingat
bahwa tugas perawat selama 24 jam yang terbagi dalam 3 shift dapat memonitor dan
melakukan tugas dari semua anggota tim. Mengingat jenis penyakit yang diderita
oleh lansia, maka pengawasan terutama dijalankan atas tindakan rehabilitatif,
walaupun tindakan kuratif juga masih tetap penting. Pelayanan kesehatan
dimaksudkan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan dan
kemampuan lanjut usia supaya kondisi fisik, mental dan sosial dapat berfungsi
secara wajar.
Petugas medis dapat melakukan upaya-upaya pencegahan primer dengan
mengetahui mana pasien yang paling beresiko. Pengkajian awal pada lansia harus
selalu menargetkan pada lansia dengan ketergantungan yaitu dengan penyuluhan,
penyebarluasan informasi kesehatan, pengobatan dan pengembangan perawatan
lansia dengan p enyakit kronis atau penyakit terminal.

14
BAB IV
PENUTUP

Asuhan pelayanan pasien lemah dan manula dengan ketergantungan bantuan


dilakukan sejak pasien masuk rumah sakit sampai dengan keluar rumah sakit oleh
masing-masing profesi haras dicatat dengan lengkap, akurat dan benar dalam
berkas rekam medis yang telah ditetapkan.
Panduan pelayanan pasien lemah dan manula dengan ketergantungan
bantuan ini disusun untuk menjadi acuan pelaksanaan pelayanan RSIA Perdana
Medica khususnya untuk penanganan pasien lemah dan manula dengan
ketergantungan bantuan. Tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam
pembuatan panduan ini karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan
atau referensi.
Tim penyusun banyak berharap para pembaca memberikan kritik dan saran
demi kesempurnaan panduan berikutnya. Semoga panduan ini bermanfaat bagi
pelayanan RSIA Perdana Medica.

15