Anda di halaman 1dari 10

PENGAUDITAN I

OLEH :
I Made Risky Prasetya (1707531087)
I Made Andika Wicaksana (1707531116)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN AJARAN 2018/2019
PEMBAHASAN
1. Etika Umum dan Etika Profesional
Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu, dari kata ethos yang artinya karakter. Nama
lain dari etika adalah moralitas yang berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata mores yang
berarti kebiasaan. Etika berfokus dengan pertanyaan bagaimana seseorang bertindak
terhadap orang lainnya. Para ahli filsafat dan etika telah mengembangkan berbagai teori
tentang tindakan-tindakan etis.
 Etika Umum
Etika umum berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “Hal baik apa
yang saya inginkan” dan “Apakah kewajiban saya dalam hal seperti itu” dengan
merumuskan apa yang baik untuk individu ataupun masyarakat. Namun, tidak ada
seperangkat prinsip universal yang dapat dengan jelas menunjukkan pilihan perilaku
yang benar untuk segala situasi, maka para ahli mengembangkan suatu kerangka
pengambilan keputusan etika umum, sebagai berikut:
a. Dapatkan fakta yang relevan untuk pengambilan keputusan
b. Identifikasi masalah etika yang terkait dengan fakta tersebut
c. Tentukan siapa yang terpengaruh oleh keputusan tersebut dan bagaimana
pengaruhnya
d. Identifikasi alternatif pengambilan keputusan
e. Identifikasi konsekuensi dari setiap alternatif
f. Tetapkan pilihan etika
 Etika Profesional
Kode etik profesional dirancang antara lain untuk mendorong perilaku ideal , maka
dari itu kode etik harus realistis dan dapat dilaksanakan. Kode etik profesional dibuat
untuk memelihara kepercayaan masyarakat (public confident) akan jasa yang
diberikan. Dalam kaitannya dengan akuntan publik, kepercayaan klien dan pemakai
laporan keuangan atas kualitas audit dan jasa profesional lainnya sangat penting
artinya.
Kode etik berpengaruh besar terhadap reputasi serta kepercayaan masyarakat pada
profesi yang bersangkutan. Kode etik berkembang dari waktu ke waktu dan terus
berubah sejalan dengan perubahan dalam praktik yang dijalankan akuntan publik.
2. Etika Profesi Eksternal Auditor
Organisasi profesi akuntan di Indonesia telah memiliki Kode Etik Akuntan Indonesia
yang ditetapkan dalam Kongres VIII Ikatan Akuntan Indonesia pada tahun 1998 dan
mulai efektif berlaku pada Mei 2000. Kode etik tersebut bersumber dari Kode Etik
AICPA, edisi Juni 1998 dan berlaku untuk semua anggota IAI yang tidak hanya
beranggotakan akuntan publik saja, tapi juga meliputi akuntan pendidik, manajemen dan
akuntan pemerintah. Sejak terbentuknya Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) pada
tahun 2007 khusus untuk para akuntan publik anggota IAPI diberikan kode etik baru yang
disebut Kode Etik Profesi Akuntan Publik (berlaku efektif 1 Januari 2010). Kode etik ini
mengacu pada pada Code of Ethics for Professional Accountants yang diterbitkan oleh
The International Ethics Standard Boards for Accountants (IESBA-IFAC) Edisi tahun
2008.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik (Kode Etik) terdiri dari dua bagian :
a. Bagian A
Menetapkan prinsip dasar etika profesi dan memberikan kerangka konseptual
untuk penerapan prinsip.
b. Bagian B
Memberikan ilustrasi mengenai penerapan kerangka konseptual terhadap situasi-
situasi.
Kode Etik tersebut menetapkan prinsip dasar dan aturan etika profesi yang harus
ditetapkan oleh setiap individu dalam Kantor Akuntan Publik (KAP dan Jaringan KAP).
Prinsip-Prinsip Dasar Etika Profesi
 Pendekatan Kerangka Konseptual
Kode Etik mengharuskan Praktisi agar selalu menerapkan kerangka konseptual untuk
mengidentifikasi ancaman (threarts) terhadap kepatuhan pada prinsip dasar, serta
menerapkan pencegahan (safeguards).
 Ancaman terhadap kepatuhan Praktisi terhadap prinsip dasar etika profesi
terjadi dalam situasi tertentu ketika Praktisi melaksanakan pekerjaannya.
Kerangka konseptual mengharuskan Praktisi untuk mengidentifikasi,
mengevaluasi dan menangani setiap ancaman terhadap kepatuhan pada
prinsip dasar etika profesi dengan tujuan untuk melindungi kepentingan
publik.
 Jika ancaman tersebut tersebut merupakan ancaman yang secara jelas tidak
signifikan, maka pencegahan yang tepat harus dipertimbangkan dan
diterapkan untuk menghilangkan ancaman atau mengurangi ke tingkat yang
dapat diterima.
 Setiap praktisi harus mengevaluasi setiap ancaman terhadap kepatuhan pada
prinsip dasar etika profesi ketika ia mengetahui keadaan atau hubungan yang
dapat mengakibatkan pelanggaran terhadap prinsip dasar etika profesi.
 Selain itu, setiap praktisi harus memperhatikan faktor-faktor kualitatif dan
kuantitatif dalam mempertimbangkan signifikansi suatu ancaman.
 Praktisi mungkin saja melanggar suatu ketentuan dalam Kode Etik ini secara
tidak sengaja. Pelanggaran tersebut mungkin saja tidak mengurangi kepatuhan
pada prinsip dasar etika profesi jika pelanggaran tersebut dapat dikoreksi
sesegera mungkin.
 Ancaman dan Pencegahan
Ancaman terhadap prinsip dasar dalam Kode Etik ini, dapat diklasifikasikan menjadi
5 jenis ancaman, yang terdiri dari :
 Ancaman Kepentingan Pribadi
Ancaman yang terjadi sebagai akibat dari kepentingan keuangan maupun
kepentingan lainnya dari Praktisi maupun anggota keluarga praktisi.
 Ancaman Telaah Pribadi
Ancaman yang terjadi jika pertimbangan yang diberikan sebelumnya harus
dievaluasi kembali oleh Praktisi yang bertanggung jawab atas pertimbangan
tersebut.
 Ancaman Advokasi
Ancaman yang terjadi ketika Praktisi menyatakan sikap atau pendapat
mengenai suatu hal yang dapat mengurangi objektivitas selanjutnya dari
praktisi tersebut.
 Ancaman Kedekatan
Ancaman yang terjadi ketika Praktisi terlalu bersimpati terhadap kepentingan
pihak lain sebagai akibat dari kedekatan hubungannya.
 Ancaman Intimidasi
Ancaman yang terjadi ketika Praktisi dihalangi untuk bersifat objektif.
Pencegahan yang dapat menghilangkan ancaman tersebut atau menguranginya ke
tingkat yang dapat diterima dapat diklasifikasikan menjadi sebagai berikut :
a. Pencegahan yang dibuat oleh profesi, perundang-undangan atau peraturan.
 Persyaratan pendidikan, pelatihan dan pengalaman untuk memasuki
profesi
 Persyaratan pengembangan dan pendidikan berkelanjutan
 Peraturan tata kelola perusahaan
 Standar profesi
 Prosedur pengawasan dan pendisiplinan dari organisasi profesi atau
regulator
 Penelaahan eksternal oleh pihak ketiga yang diberikan kewenangan
hukum atas laporan, komunikasi atau informasi yang dihasilkan
Praktisi.
b. Pencegahan dalam lingkungan kerja.
 Pencegahan dapat meningkatkan kemungkinan untuk mengidentifikasi
atau menghalangi perilaku yang tidak sesuai dengan Etika Profesi.
Pencegahan tersebut mencakup :
 Sistem pengaduan yang efektif yang memungkinkan pelaporan
perilaku Praktisi yang tidak profesional.
 Kewajiban yang dinyatakan secara tertulis dan eksplisit untuk
melaporkan pelanggaran etika profesi yang terjadi.
 Sifat pencegahan yang diterapkan sangat beragam, tergantung dari
situasinya.
 Penyelesaian Masalah yang Terkait dengan Etika Profesi
 Dalam mengevaluasi kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi, Praktisi
mungkin diharuskan untuk menyelesaikan masalah dalam penerapan Etika
Profesi.
 Ketika mulai proses penyelesaian masalah harus memperhatikan hal-hal
berikut:
a. Fakta yang relevan
b. Masalah etika profesi yang terkait
c. Prinsip dasar etika profesi yang terkait dengan masalah etika profesi yang
dihadapi
d. Prosedur internal yang berlaku
e. Tindakan alternatif
 Setelah mempertimbangkan hal tersebut, Praktisi harus menentukan tindakan
yang sesuai dengan prinsip dasar profesi yang dihadapi
 Jika masalahnya melibatkan konflik dengan organisasi klien, maka praktisi
harus mempertimbangkan untuk melakukan konsultasi dengan pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola perusahaan.
 Praktisi sangat dianjurkan untuk mendokumentasikan substansi permasalahan
dan rincian pembahasan yang dilakukan atau keputusan yang diambil.
 Praktisi sangat dianjurkan untuk mendokumentasikan substansi permasalahan
dan rincian pembahasan yang dilakukan atau keputusan yang terkait.
 Jika masalah etika profesi yang signifikan tidak dapat diselesaikan, maka
Praktisi dapat meminta nasihat profesional seperti nasihat dari penasihat
hukum.
 Jika masalah etika profesi tidak dapat diselesaikan, maka Praktisi harus
menolak untuk dikaitkan dengan hal yang timbul dari masalah tersebut.
Prinsip Dasar
Prinsip dasar yang disajikan pada Bagian A Kode Etik terdiri dari 5 prinsip yaitu :
a. Prinsip Integritas
Prinsip ini mewajibkan setiap Praktisi untuk tegas, jujur dan adil dalam
hubungan profesional dan hubungan bisnisnya. Praktisi tidak boleh terkait
dengan laporan, komunikasi atau informasi lainnya yang diyakininya terdapat :
 Kesalahan yang material atau pernyataan yang menyesatkan
 Pernyataan atau informasi yang diberikan secara tidak hati-hati
 Penghilangan atau penyembunyian yang dapat menyesatkan atas
informasi yang seharusnya diungkapkan
b. Prinsip Objektivitas
Prinsip ini mengharuskan Praktisi untuk tidak membiarkan subjektivitas,
benturan kepentingan atau pengaruh yang tidak layak dari pihak-pihak lain
memengaruhi pertimbangan profesional. Setiap Praktisi harus menghindari
setiap hubungan yang bersifat subjektif atau yang tidak layak terhadap
pertimbangan profesionalnya.
c. Prinsip Kompetensi, Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional
Prinsip ini mewajibkan setiap Praktisi untuk :
a. Memelihara pengetahuan dan keahlian profesional yang dibutuhkan
untuk menjamin pemberian jasa profesional yang kompeten kepada
klien atau pemberi kerja.
b. Menggunakan kemahiran profesionalnya dengan saksama sesuai
dengan standar profesi dan kode etik profesi yang berlaku dalam
memberikan jasa profesionalnya.
Kompetensi profesional dapat dibagi menjadi dua tahap yang terpisah
sebagai berikut :
a. Pencapaian Kompetensi Profesional
b. Pemeliharaan Kompetensi Profesional
Sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional mengharuskan setiap
Praktisi untuk bersikap dan bertindak secara hati-hati menyeluruh dan
tepat waktu sesuai dengan persyaratan penugasan.
d. Prinsip Kerahasiaan
Prinsip ini mewajibkan setiap Praktisi untuk TIDAK melakukan tindakan-
tindakan sebagai berikut :
a. Mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia yang diperoleh dari
hubungan profesional dan hubungan bisnis kepada pihak di luar KAP
atau jaringan KAP tempatnya bekerja tanpa adanya wewenang
khusus.
b. Menggunakan informasi yang bersifat rahasia yang diperoleh dari
hubungan profesional dan hubungan bisnis untuk keuntungan pribadi.
e. Prinsip Perilaku Profesional
Prinsip ini mewajibkan setiap Praktisi untuk mematuhi setiap ketentuan hukum
yang berlaku serta menghindari tindakan yang dapat mendeskritkan profesi.
Dalam memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaannya, setiap Praktisi
harus bersikap jujur dan tidak boleh bersikap atau melakukan tindakan sebagai
berikut:
a. Membuat pernyataan yang berlebihan mengenai jasa profesional yang
dapat diberikan, kualifikasi yang dimiliki, atau pengalaman yang telah
diperoleh
b. Membuat pernyataan yang merendahkan atau melakukan
perbandingan yang tidak didukung bukti terhadap hasil pekerjaan
Praktisi lain
3. Etika Profesi Akuntan Lainnya
KODE ETIK PROFESI

Kode etik profesi merupakan sarana untuk membantu para pelaksana sebagai seseorang yang
professional supaya tidak dapat merusak etika profesi.

KODE ETIK PROFESI


Kode; yaitu tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-kata, tulisan atau benda yang
disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu berita, keputusan
atau suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode juga dapat berarti kumpulan peraturan yang
sistematis.
Kode etik ; yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai
landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.

Akuntansi memegang peranan penting dalam ekonomi dan sosial, karena dalam setiap
pengambilan keputusan mengenai hal keuangan harus bedasarkan informasi akuntansi. Hal
tersebut menjadikan Akuntan sebagai profesi yang keberadaanya sangat dibutuhkan di dalam
berbagai lingkungan bisnis.

Akuntan dapat digolongkan menjadi :

1. Akuntan Publik
Akuntan publik merupakan satu-satunya profesi akuntansi yang menyediakan jasa audit yang
bersifat independen. Yaitu memberikan jasa untuk memeriksa, menganalisis, kemudian
memberikan pendapat / asersi atas laporan keuangan perusahaan sesuai dengan prinsip
akuntansi berterima umum.

2. Akuntan Manajemen
Akuntan manajemen merupakan sebuah profesi akuntansi yang biasa bertugas atau bekerja di
perusahaan-perusahaan. Akuntan manajemen bertugas untuk membuat laporan keuangan di
perusahaan

3. Akuntan Pendidik
Akuntan pendidik merupakan sebuah profesi akuntansi yang biasa bertugas atau bekerja di
lembaga-lembaga pendidikan, seperti pada sebuh Universitas, atau lembaga pendidikan
lainnya. Akuntan manajemen bertugas memberikan pengajaran tentang akuntansi pada pihak
– pihak yang membutuhkan.

4. Akuntan Internal
Auditor internal adalah auditor yang bekerja pada suatu perusahaan dan oleh karenanya
berstatus sebagai pegawai pada perusahaan tersebut. Tugas audit yang dilakukannya terutama
ditujukan untuk membantu manajemen perusahaan tempat dimana ia bekerja.

5. Konsultan SIA / SIM


Salah satu profesi atau pekerjaan yang bisa dilakukan oleh akuntan diluar pekerjaan
utamanya adalah memberikan konsultasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan
sistem informasi dalam sebuah perusahaan.Seorang Konsultan SIA/SIM dituntut harus
mampu menguasai sistem teknologi komputerisasi disamping menguasai ilmu akuntansi yang
menjadi makanan sehari-harinya. Biasanya jasa yang disediakan oleh Konsultan SIA/SIM
hanya pihak-pihak tertentu saja yang menggunakan jasanya ini.

6. Akuntan Pemerintah
Akuntan pemerintah adalah akuntan profesional yang bekerja di instansi pemerintah yang
tugas pokoknya melakukan pemeriksaan terhadap pertanggungjawaban keuangan yang
disajikan oleh unit-unit organisasi dalam pemerintah atau pertanggungjawaban keuangan
yang disajikan oleh unit-unit organisasi dalam pemerintah atau pertanggungjawaban
keuangan yang ditujukan kepada pemerintah. Meskipun terdapat banyak akuntan yang
bekerja di instansi pemerintah, namun umumnya yang disebut akuntan pemerintah adalah
akuntan yang bekerja di Badan Pengawas Keuangan dan Pembagian (BPKP) dan Badan
Pemeriksa Keuangan (BAPEKA), dan instansi pajak.

Pada umumnya masyarakat memandang profesi akuntan sebagai seorang yang profesional.
Dalam hal ini, masyarakat mempunyai presepsi bahwa seorang akuntan itu telah mematuhi
standar dan tata nilai yang berlaku di profesi akuntan.
Akuntan sebagai profesional memiliki tiga kewajiban:

1. harus kompeten dan tahu tentang seni dan ilmu akuntansi

2. melihat kepentingan terbaik bagi klien, menghindari godaan untuk mengambil


keuntungan dari klien

3. untuk melayani kepentingan publik.

Nilai-nilai Etika VS Teknik Akuntansi/Auditing

Nilai-nilai Etika yang terdapat dalam diri seorang Akuntan, dapat dicirikan sebagai berikut:

1. Integritas

Merupakan segala perbuatan dan tutur kata pelaku profesi menunjukan sikap yang transparan,
juju dan konsistensi.

2. Kerjasama

Merupakan kemampuan untuk bekerja dalam tim

3. Inovasi

Merupakan kemampuan memberi nilai tambah kepada pelanggan dan peroses kerja dengan
metode yang baru.

4. Simplisitas

Merupakan kemampuan memberikan pemecahan masalah yang timbul dan menyederhanakan


masalah yang bersifat kompeks. Sedangkan teknik akuntansi merupakan norma-norma
khusus yang ditetapka dari prinsip-prinsip akuntan yang menjelaskan transaksi dan kejadian
keuangan tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi tersebut.

Perilaku Etika dalam Pemberian Jasa Akuntan Publik


Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari
masyarakat yang dilayaninya. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa akuntan publik
akan menjadi lebih tinggi, jika profesi tersebut menerapkan standar mutu tinggi terhadap
pelaksanaan pekerjaan profesional yang dilakukan oleh anggota profesinya. Aturan Etika
Kompartemen Akuntan Publik merupakan etika profesional bagi akuntan yang berpraktik
sebagai akuntan publik Indonesia. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik bersumber
dari Prinsip Etika yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Dalam kongresnya tahun
1973, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) untuk pertama kalinya menetapkan kode etik bagi
profesi akuntan. Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian:

1. Prinsip Etika.

2. Aturan Etika.

3. Interpretasi Aturan Etika.

1.Prinsip Etika

Memberikan kerangka dasar bagi Aturan Etika, yang mengatur pelaksanaan pemberian jasa
profesional oleh anggota. Prinsip Etika disahkan oleh Kongres dan berlaku bagi seluruh
anggota.

2.Aturan Etika

Aturan Etika disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan hanya mengikat anggota
Himpunan yang bersangkutan.

3.Interpretasi Aturan Etika

Merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah
memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai
panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan
penerapannya.

4. Beda Etika Profesi Auditor dengan Profesi Lainnya