Anda di halaman 1dari 6

Analisis Penurunan Performa Heat Exchanger … (Muchammad)

ANALISIS PENURUNAN PERFORMA HEAT EXCHANGER STABILIZER


REBOILER 011E120 DI PT. PERTAMINA REFINERY UNIT IV CILACAP

Muchammad*
Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. H. Soedarto, Tembalang, Kota Semarang 50275.
*Email: m_mad5373@yahoo.com

Abstrak
Heat exchanger adalah alat penukar panas antar dua fluida berbeda temperaturnya
dimana satu fluida memberikan panas dan yang lainnya menerima panas. Beban dan
waktu kerja yang tinggi seringkali membuat alat ini mengalami penurunan performa,
hal ini dapat berakibat pada penurunan kapasitas produksi. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis penyebab utama terjadinya penurunan performa Heat Exchanger
Stabilizer Reboiler 011E120 di PT. Pertamina Refinery Unit IV Cilacap, serta
memberikan rekomendasi perbaikan alat tersebut. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah inspeksi secara visual dan melakukan pengukuran ketebalan
dinding pada bagian-bagian heat exchanger serta menghitung nilai faktor
pengotorannya (fouling factor). Penurunan performa heat exchanger ini terjadi karena
penyerapan panas yang kurang maksimal antara fluida pemanas (High Diesel Oil)
dengan fluida yang dipanaskan (Naphtha) hal ini terjadi karena adanya kotoran dan
deposit yang menempel pada tube sehingga menghambat proses perpindahan panas
antara fluida di luar dan di dalam tube, hal ini terlihat dari nilai faktor pengotoran Rd
= 0,02027 ft2hroF/BTU jauh lebih besar dari nilai toleransi yang diijinkan (fouling
resistance) pada specification sheet yaitu 0,0024 ft2hroF/BTU. Dari analisis yang
dilakukan maka untuk mengembalikan performa heat exchanger direkomendasikan
perbaikan berupa pembersihan rutin setiap dua tahun sekali pada seluruh permukaan
tube baik bagian luar maupun bagian dalam dengan menggunakan water jet (dengan
campuran cairan chemical).

Kata kunci: fouling factor, heat exchanger, reboiler, shell and tube

PENDAHULUAN performa, hal ini dapat berakibat pada penurunan


Minyak mentah merupakan campuran kapasitas produksi. Seperti yang terjadi pada
tersusun dari berbagai senyawa hidrokarbon yang Heat Exchanger Stabilizer Reboiler 011E120
sangat kompleks. Untuk mendapatkan bahan telah mengalami penurunan performa dan
bakar minyak seperti yang beredar dipasaran, berakibat pada hasil produksi yang kurang
senyawa hidrokarbon harus melewati berbagai maksimal. Mengacu pada permasalahan diatas
rangkaian proses, diantaranya proses distilasi, dilakukan penelitian dan pengkajian dan evaluasi
konversi, dekomposisi, pencampuran, recovery agar kapasitas produksi tetap stabil.
dan masih banyak lagi. Alat penukar kalor yang di analisa adalah
Proses distilasi, yaitu proses penyulingan Heat Exchanger Stabilizer Reboiler 011E120
berdasarkan perbedaan titik didihnya, dengan fluida pemanas berupa High Diesel Oil
berlangsung di kolom distilasi atmosferik dan (HDO) digunakan untuk memanaskan fluida
kolom destilasi vakum. Untuk mendidihkan naphtha yang akan memasuki Column Stabilizer
senyawa hidrokarbon dalam proses penyulingan 011C105, dimana unit berada pada area 011 FOC
dibutuhkan unit alat pemanas berupa heat II PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit IV
exchanger. Cilacap. Tujuan dari penelitian ini adalah (1)
Heat exchanger adalah alat penukar panas mengetahui ketebalan shell paling tipis yang
antar dua fluida berbeda temperaturnya dimana didapat dari hasil pengukuran, (2) mengetahui
satu fluida memberikan panas dan yang lainnya ketebalan shell cover paling tipis yang didapat
menerima panas. Heat exchanger merupakan alat dari hasil pengukuran, (3) mengetahui penyebab
yang menerapkan prinsip perpindahan kalor. utama penurunan performa heat exchanger, (4)
(Holman, 1986) menghitung nilai faktor pengotoran (fouling
Beban dan waktu kerja yang tinggi seringkali factor), serta (5) mengetahui rekomendasi dan
membuat alat ini mengalami penurunan

72 e-ISSN 2406-9329
Momentum, Vol. 13, No. 2, Oktober 2017, Hal. 72-77 ISSN 0216-7395

perbaikan untuk mengembalikan performa heat Kondisi performa 011E120 pasca turn around
exchanger. kembali mengalami penurunan performa secara
gradual. Hal ini diindikasikan dengan
METODE PENELITIAN bertambahnya flow pemanas yaitu HDO pump
Dalam Penelitian Analisis Penurunan around untuk mendapatkan target temperature
Performa Heat Exchanger Stabilizer Reboiler bottom stabilizer 011C105 sesuai target, grafik
011E120 dimulai dari studi literartur dan penurunan performa pasca turn around dapat
pengumpulan data spesifikasi dari heat dilihat pada Gambar 2.
exchanger yang akan digunakan untuk
melakukan perhitungan. Selanjutnya adalah
melakukan inspeksi, diantaranya adalah inspeksi
visual untuk dapat diketahui kerusakan-
kerusakan yang bersifat makro, adapun metode
inspeksi yang lain adalah inspeksi ultrasonic
thickness untuk mengetahui ketebalan permukaan
heat exchanger dan memastikan spesifikasi dan
kelayakan dari heat exchanger tersebut. Setelah Gambar 2. Grafik Temperature Bottom dan
didapat semua data dilakukan analisis dan Flow Bottom Pasca Turn Around
perhitungan nilai factor pengotoran untuk dapat
mengetahui penyebab penurunan performa heat Penurunan suhu tersebut menyebabkan flow
exchanger dan terakhir dibuat kesimpulan pemanas HDO mengalami kenaikan flow secara
penelitian beserta rekomendasi yang dapat gradual dari 250 m3/hr menjadi 775 m3/hr untuk
diberikan untuk mengembalikan performa heat mendapatkan temperatur bottom target 190 oC.
exchanger. Pasca iturn around, temperature bottom
Stabilizer 011C105 mengalami penurunan
HASIL DAN PEMBAHASAN sampai 180 oC. Berdasarkan desain material
Evaluasi Performa Heat Exchanger Stabilizer balance unit 011, flow HDO sebagai pemanas
Reboiler 011E120 adalah sebesar 831 m3/hr. Pernurunan performa
Berdasarkan kondisi operasi aktual, terjadi dari Heat Exchanger 011E120 tersebut terus
penurunan performa Heat Exchanger 011E120 berlanjut terhitung sampai tanggal 11 Januari
diindikasikan oleh: 2017 sampai dilakukan stop unit sehingga dapat
1. Terjadi penurunan temperature bottom pada di inspeksi dan evaluasi untuk didapat hasil
Column Stabilizer 011C105 dari 190 oC rekomendasi perbaikan agar performa dari heat
menjadi 180 oC. exchanger kembali meningkat.
2. Terjadi kenaikan kebutuhan HDO (sebagai
sebagai pemanas) dari 300 m3/hr menjadi 750 Analisis Performa Heat Exchanger Stabilizer
m3/hr. Reboiler 011E120
Kondisi saat pra turn around menunjukkan Terdapat beberapa parameter penyebab
adanya penurunan performance Heat Exchanger terjadinya penurunan performa pada Heat
011E120 yang menyebabkan off spec produk. Exchanger Stabilizer Reboiler 011E120 yang
Teramati dari turunnya temperatur bottom akan dibahas satu persatu sebagai berikut.
stabilizer (011C105) dengan flow pemanas HDO
meningkat seperti yang terlihat pada Gambar 1. Analisis Performa Fluida Servis
Analisis Laju Aliran Fluida Servis
Semakin besar flow fluida menyebabkan laju
aliran massa semakin besar dimana laju aliran
massa didapat dari laju fluida dikalikan dengan
densitasnya. Pada kasus Heat Exchanger
011E120 flow HDO sebagai pemanas sebesar
1169,77 m3/hr sehingga:

M  w 
Gambar 1. Grafik Temperature Bottom dan  1170 m3 hr  669 kg m3 (1)
Flow HDO Pra Turn Around  782730 kg hr

Fakultas Teknik-UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 73


Analisis Penurunan Performa Heat Exchanger … (Muchammad)

Berdasarkan Spesifikasi Desain Heat pengukuran menunjukkan tebal memimum


Exchanger Stabilizer Reboiler 011E120 besar sebesar 13,12 mm.
total flow fluida HDO adalah 555780 kg/hr, pada
aktualnya total flow HDO ditingkatkan sampai Analisis Performa Tube
782730 kg/hr akan tetapi performa dari heat Penurunan performa tube bisa di sebabkan
exchanger tidak mengalami peningkatan secara karena tube yang kotor ataupun terdeposit.
signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa Berdasarkan inspeksi visual di dapat kondisi tube
flow fluida HDO tidak menjadi penyebab bundle terdeposit dan dipenuhi kotoran seperti
menurunnya performa Heat Exchanger Stabilizer yang di tunjukkan oleh Gambar 4.
Reboiler 011E120.

Analisis Temperatur Fluida Servis


Temperatur aktual inlet fluida HDO 333,44 oC
jauh lebih besar dari temperatur desain pada yaitu
sebesar 302 oC dengan temperature outletnya 235
o
C. Sementara temperature outlet aktual 308,61
o
C sehingga didapat  T HDO aktual sebesar
24,83 oC jauh lebih kecil dari  T HDO desain
sebesar 67 oC. Dapat dianalisa bahwa penyebab
penurunan performa Heat Exchanger 011E120
bukan disebabkan karena temperatur inlet
Gambar 4. Permukaan Tube Bundle
pemanas HDO tetapi karena penyerapan kalor
yang kurang maksimal dimana hal ini di
Terlihat pada Gambar 6 kotoran dan deposit
tunjukkan oleh nilai  T HDO aktual jauh lebih
pada tube bundle cukup parah, hal ini
kecil dari  T HDO desain.
memungkinkan menyebabkan penurunan
perfoma pada heat exchanger. Oleh karenanya
Analisis Performa Shell dan Shell Cover
pengotor dan deposit pada tube perlu dihitung
Berdasarkan hasil inspeksi visual seperti yang
dengan mencari nilai fouling factor atau factor
ditunjukkan oleh Gambar 3., tidak ditemukan
pengotoran yaitu nilai batas pengotor yang terjadi
penipisan ataupun korosi yang berarti yang dapat
pada heat exchanger secara aktual dimana
menyebabkan heat loss sehingga dapat dianalisa
nilainya dibandingkan dengan factor pengotoran
bahwa shell dan shell cover bukan menjadi
(fouling factor) yang diijinkan pada spesifikasi.
penyebab penurunan performa heat exchange.
Batas nilai fouling factor Heat Exchanger
011E120 yang diijinkan pada specification sheet
adalah 0,0024 ft2hroF/BTU. Untuk menentukan
fouling factor dari Heat Exchanger 011E120
dilakukan perhitungan berikut.

Perhitungan Laju Perpindahan Panas

QHDO  Mt  Ct  T (2)
 T  T1  T2  632  588  44 F o
(3)
Gambar 3. Permukaan Shell Cover dan T1  T2 632  588
Permukaan Shell Trata  rata    610 F (4)
o

2 2
(Trata  T 2)
Ct  Cti   (Cto  Cti)
Tebal desain shell adalah 13 mm dengan (T1  T 2)
corossion allowance sebesar 3,175 mm sehingga (610  588) (5)
tebal minimum yang diijinkan adalah 9,825 mm,  0, 694   (0699  0, 694)
(632  588)
sementara hasil pengukuran thickness shell
 0, 697BTU / lbo F
adalah 12,64 mm. Begitu juga dengan ketebalan
QHDO  Mt  Ct  T
shell cover masih dalam kondisi baik dimana (6)
 1725622  0, 697  44
tebal desain adalah 13,5 dan corossion allowance
sebesar 3,175 sehingga didapat tebal minimum  52921375,5BTU / hr
shell cover adalah 10,325. Sementara hasil

74 e-ISSN 2406-9329
Momentum, Vol. 13, No. 2, Oktober 2017, Hal. 72-77 ISSN 0216-7395

Perhitungan Log Mean Temperature Ms 1773022


Gs    1023330 lb hr ft 2 (13)
Difference (∆LMTD) as 1,7326

(T1  t 2)  (T 2  t1 )
LMTD  2. Kecepatan Aliran Massa pada Tube
T1  t 2 Mt 1725622
ln Gt    1323127 lb hr ft 2 (14)
T 2  t1 (7) at 1,3042
th  tc

th
ln Perhitungan Bilangan Reynold
tc
1. Bilangan Reynold pada Shell
254  227
  205o F
254
ln De  Gs 0, 0625 1023330
227 Re s    220545 (15)
s 0, 29
T1  T 2 632  588 44
R    2,58 (8)
t 2  t1 378  361 17
2. Bilangan Reynold pada Tube
t 2  t1 378  361 17 (9)
S    0, 06
T1  t1 632  361 271 IDt  Gt 0, 05 1323127
Re t    118136 (16)
t 0,56
Dengan nilai R = 2,58 dan S = 0,06
berdasarkan Figure 23 LMTD Correction Berdasarkan hasil perhitungan yang didapat
Factor TEMA didapat nilai jenis aliran yang terjadi di dalam shell maupun
Ft = 0,99. (TEMA, 1996)
LTMD  Ft  LTMD tube adalah aliran turbulen karena Res dan Ret >
 0,99  205 (10) 2300. (Incropera dkk., 1996)
 203o F
Perhitungan Bilangan Prandtl
Perhitungan Luasan Aliran 1. Bilangan Prandtl Pada Shell
1. Luasan Aliran Fluida Tube
Cs s 0, 697  0, 29 (17)
Dimana C = Pt – Des = 1 – 0,75 = 0,25 Pr s    0,316
ks 0, 64
inchi
2. Bilangan Prandtl Pada Tube
IDs  C  B
as 
144Pt Ct t 0, 721 0, 70
Pr t    1, 202 (18)
51,18  0, 25 19,5
 kt 0, 42
144 1
 1, 7326 ft 2 (11) Perhitungan Rasio Viskositas
1. Rasio Viskositas shell
2. Luasan Aliran Fluida Tube
0.14
 µs 
0.14
Berdasarkan Tabel 10 Heat Exchanger and  0, 29  (19)
Condenser Tube Data Process Heat s       1, 00
 µs w   0, 29 
Transfer D.Q. Kern dengan ukuran Des =
0,75 = 3/4 inchi dan BWG 14 didapat nilai
a’t = 0,2679 in2 (Kern dan Donald Q., 2. Rasio Viskositas Tube
1965)
0.14
 µt 
0.14
 0,56  (20)
Nt  a ' t t       0,97
at   µt w   0, 70 
144n
1402  0, 2679
 Perhitungan Koefisien Perpindahan Panas
144  2 Dari Figure 28 Process Heat Transfer D.Q.
 1,3042 ft 2 (12) Kern dengan nilai Res = 220545 sehingga
didapat nilai dari JHs = 300. (Kern dan Donald
Perhitungan Kecepatan Aliran Massa Q., 1965)
1. Kecepatan Aliran Massa pada Shell Dari Figure 24 Process Heat Transfer D.Q.
Kern dengan nilai Ret = 118136 dan L/IDt =

Fakultas Teknik-UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 75


Analisis Penurunan Performa Heat Exchanger … (Muchammad)

20/0,05 = 400 ft sehingga didapat nlai JHt = 400. hio  ho


Uc 
(Kern dan Donald Q., 1965) hio  ho
3573  2262 (26)
1. Koefisien Perpindahan Panas pada Shell 
3573  2262
1  1385
ho ks
 JHs    Prs  3
s Des Perhitungan Faktor Pengotoran
1
0, 64
 300    0,316  3 (21)
Uc  Ud
0, 75 Rd 
Uc  Ud
 22622 BTU ft 2 hr o F
1385  47, 63 (27)
Rd 
1385  47, 63
2. Koefisien Perpindahan Panas pada Tube
 0.02027
1
hi kt
 JHt    Pr t  3 Berdasarkan hasil perhitungan didapat nilai
t IDt
fouling factor Rd = 0,02027 ft2hroF/BTU jauh
1
0, 42
 400   1, 202  3 (22) lebih besar dari nilai toleransi yang diijinkan
0, 05 (fouling resistance) pada specification sheet yaitu
 3573 BTU ft 2 hr o F 0,0024 ft2hroF/BTU, dari hal ini maka dapat
Perhitungan Koefisien Koreksi Perpindahan disimpulkan bahwa kotoran dan deposit yang
Panas Tube menempel pada tube merupakan penyebab utama
menurunnya performa Heat Exchanger Stabilizer
hio hi IDt Reboiler 011E150.
 
t t ODt
Rekomendasi Perbaikan Heat Exchanger
hi IDt (23)
hio  t   Stabilizer Reboiler 011E120
t ODt Dari hasil analisa yang didapatkan, penurunan
0, 05 performa terjadi karena terbentuknya kotoran dan
 0,97  3573 
0, 06 deposit di dalam heat exchanger yang menumpuk
 2888,175 dalam jangka waktu dua tahun. Berdasarkan hal
tersebut rekomendasi perbaikan yang diberikan
Koefisien Perpindahan Panas Menyeluruh yaitu proses pembersihan (cleaning) pada seluruh
saat Kotor permukaan tube pada setiap dua tahun sekali
Berdasarkan Tabel 10 Heat Exchanger and dimana deposit dan kotoran tersebut mulai
Condenser Tube Data Process Heat Transfer terbentuk. Proses pembersihan dilakukan dengan
Kern untuk OD tube = 0,75 in dan BWG = 14 water jet yaitu penyemprotan menggunakan air
maka di dapat nilai a” = 0,1963 ft2 (Kern dan bertekanan (dengan campuran cairan chemical)
Donald Q., 1965) untuk membersihkan kotoran yang menempel
pada permukaan tube.
A  Nt  L  a "
 1402  20  0,1963 KESIMPULAN
Berdasarkan analisa dan pembahasan
 5504,25 ft 2 (24) mengenai penurunan performa Heat Exchanger
Qt Stabilizer Reboiler 011E120 diambil
Ud 
A  TLMTD kesimpulan sebagai berikut:
52921375,5 (25) 1. Ketebalan shell paling tipis yang didapat dari

5504, 25  203 hasil pengukuran adalah 12,64 mm lebih
 47,36 BTU/ft 2 hr o F
besar dari ketebalan shell minimal yang
diijinkan yaitu 9,83 mm.
2. Ketebalan shell cover paling tipis yang
Koefisien Perpindahan Panas Menyeluruh
didapat dari hasil pengukuran adalah 13,12
saat Bersih mm lebih besar dari ketebalan shell cover
minimal yang diijinkan yaitu 10,33 mm.

76 e-ISSN 2406-9329
Momentum, Vol. 13, No. 2, Oktober 2017, Hal. 72-77 ISSN 0216-7395

3. Penyebab utama penurunan performa heat M =


Laju aliran massa (lb/hr)
exchanger bukan disebabkan oleh penipisan Nt =
Jumlah tube
ketebalan shell maupun penurunan fluida n =
Banyaknya pass pada bagian tube
servisnya (laju aliran dan temperatur fluida) Pr =
Bilangan Prandtl
tetapi dikarenakan perpindahan panas yang Pt =
Jarak antara sumbu tube (inchi)
kurang sempurna karena adanya kotoran yang Q =
Laju perpindahan panas (BTU/hr)
menempel pada tube. Rd Faktor kekotoran (ft2hroF/BTU)
=
4. Dari hasil perhitungan faktor pengotoran Re =
Bilangan Reynolds
(fouling factor) didapat nilai Rd sebesar Tc Suhu rata-rata fluida panas (oF)
=
0,0203 ft2hroF/BTU jauh melebihi nilai tc Suhu rata-rata fluida dingin (oF)
=
minimal pengotoran yang diijinkan yaitu T1 Temperatur atas fluida panas (oF)
=
0,0024 ft2hroF/BTU. t1 Temperatur atas fluida dingin (oF)
=
5. Untuk mengembalikan performa heat T2 Temperatur bawah fluida panas (oF)
=
exchanger direkomendasikan perbaikan t2 Temperatur bawah fluida dingin (oF)
=
berupa pembersihan setiap dua tahun sekali Uc =
Koefisien perpindahan panas saat bersih
pada seluruh permukaan tube baik bagian luar (BTU/fthroF)
maupun bagian dalam dengan menggunakan Ud = Koefisien perpindahan panas menyeluruh
water jet (dengan campuran cairan chemical). saat kotor (BTU/fthroF)
w = Laju aliran fluida (ft3/hr)
DAFTAR NOTASI  LMTD = Delta Log Mean Temperature
a = Luas penampang aliran (ft2) Difference (oF)
a’t = Luas aliran tiap tube (ft2) ∆T = Beda temperatur inlet dan outlet fluida
a” = Surface per lin ft (ft2) (oF)
B = Jarak baffle (inchi) µ = Viskositas inlet fluida (lb/fthr)
C = Jarak antar tube (inchi) µw = Viskositas outlet fluida (lb/fthr)
Cp = Panas jenis fluida di dalam shell/tube  = Rasio viskositas pada sisi shell
(BTU/lboF)
De = Diameter ekuivalent bagian shell (inchi) DAFTAR PUSTAKA
Ft = Faktor koreksi ∆LTMD Holman, J.P.,(1986). “Perpindahan Panas”, edisi
G = Kecepatan aliran massa (lb/ft2hr) ke enam, Erlangga, Jakarta.
hi = Koefisien transfer panas pada air dalam Incropera, Frank P., dan Dewitt, David P.,
tube (BTU/ft2hroF) (1996), “Fundamental of Heat and Mass
hio = Koefisien koreksi perpindahan panas tube Transfer”, 4th Edition, John Wiley and Sons,
(BTU/ft2hroF) United States of America.
ho = Koefisien transfer panas bagian luar tube Kern, Donald Q., (1965), “Proccess Heat
(BTU/ft2hroF) Transfer”, Mc Graw-Hill International Book
ID = Diameter dalam (ft) Company, New York.
JH = Faktor transfer panas shell/tube Standars of The Tubular Exchanger
k = Konduktifitas panas fluida bagian Manufacturers Association (TEMA), (1999),
shell/tube (BTU/fthroF) 8th Edition, TEMA Inc., New York.
L = Panjang tube (ft)
LMTD = Log Mean Temperature Difference (oF)

Fakultas Teknik-UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 77