Anda di halaman 1dari 18

BAB 5

HIDROSFIR
5.1 UMUM

Hidrosfir adalah lingkungan air. Sebagian besar (71%) dari permukaan bumi tertutupi
oleh air. Lingkungan air yang begitu luasnya, sehingga sangat berpengaruh terhadap iklim.
Karena air lebih sulit menjadi panas dibanding litosfir, maka siang hari air lebih dingin
daripada tanah, dan pada malam hari ia akan lebih lambat menjadi dingin, sehingga ia lebih
panas daripada daratan di malam hari.

5.1.1 Distribusi Air

Air merupakan sumber daya yang mutlak harus ada bagi kehidupan. Air juga merupakan
bahan pelarut paling baik. Tubuh manusia 70% terdiri atas air. Sebaliknya didalam badan air
terdapat benda-benda hidup yang sangat menentukan karakteristik air tersebut, baik secara
kimia maupun secara fisis dan biologis.

5.1.2 Sirkulasi Air

Sekalipun air jumlahnya relatif konstan, tetapi air tidak diam, melainkan bersirkulasi akibat
pengaruh cuaca, sehingga terkadi suatu siklus yang disebut siklus hidrologis. Siklus ini
penting karena untuk mensuplai daerah daratan dengan air. Siklus hidrologis mempunyai
syarat yaitu kualitas udara harus cukup bersih, karena apabila udara tercemar maka air hujan
pun akan ikut tercemar, karena proses turunnya hujan/salju merupakan proses alamiah yang
membersihkan atmosfer dari segala debu, gas, uap dan aerosol.

5.1.3 Air dan Budaya

Pendayagunaan air dalam bidang budaya antara lain adalah untuk transportasi, membentuk
tenaga mekanis ataupun listrik, untuk industri, untuk mendapatkan garam, Kalium,
Bromida dan rekreasi. Perkembangan budaya ini terjadi sebagai akibat dari kebutuhan
manusia dan adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan air.
5.1.4 Beberapa Sifat Air yang Penting

1. Sifat Fisis

Air di dunia didapatkan dalam ketiga wujudnya, yakni bentu padat sebagai es, bentuk
caiar sebagai air, dan bentuk gas sebagai uap air. Bentuk mana yang akan didapatkan
tergantung keadaan cuaca yang ada setempat.

2. Sifat Kimiawi

Air merupakan pelarut universal, hampir semua jenis zat dapat larut di dalam air. Air juga
merupakan cairan biologis, yakni didapat di dalam tubuh semua organisme. Dengan
demikian, spesies kimiawi yang ada di dalam air berjumlah sangat besar.

3. Sifat Biologis

Didalam perairan selalu didapat kehidupan, flora dan fauna. Benda hidup ini berpengaruh
timbal balik terhadap kualitas air. Didalam suatu lingkungan air, terdapat berbagai benda
hidup yang khas bagi lingkungan tersebut. Benda hidup di perairan dibagi ke dalam
organisme native dan tidak native bagi lingkungan tersebut. Organisme native dalam
badan air biasanya merupakan organisme yang tidak patogen terhadap manusia.
Organisme yang tidak native dapat berasalkan air limbah, air hujan, debu dll.

5.2 MANUSIA DAN AIR

Air dan manusia tidak dapat dipisahkan karena sebagian tubuh manusia mengandung air. Air
juga diperlukan untuk melarutkan berbagai jenis zat tubuh. Pemanfaatan sumber daya air
juga sangat diperlukan untuk kebutuhan dan kegiatan manusia sehari-hari.

5.3 PENGARUH AIR TERHADAP KESEHATAN

1. Pengaruh tidak langsung

Pemanfaatan air sebagai zat-zat pengikat oksigen, pupuk tanaman, sebagai material
tersuspensi, untuk pemanfaatan industri, pembangkit listrik, system irigasi dsb.

2. Pengaruh langsung

Pengaruh langsung dapat mempengaruhi kesehatan manusia yaitu zat-zat yang persisten,
zat radioaktif dan penyebab penyakit.
5.4 PEMANFAATAN SUMBER DAYA AIR

Sebagai penyediaan air minum dengan melihat kualitas air minum, standar air minum.
Standar air minum dibagi menjadi parameter fisis dan parameter kimia. Parameter fisis yang
berhubungan dengan rasa, suhu, warna, kekeruhan dan zat terlarut sedangkan parameter
kimia yang berhubungan dengan kimia anorganik dan kimia organik.

5.5 PENGENDALIAN KUALITAS HIDROSFIR

1. Standar desain, kinerja dan procedural

2. Pencegahan Pengotoran Air

5.6 PECEGAHAN PENYAKIT

Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan pengelolaan air minum dan air buangan secara
terpadu, karena semakin banyak PAB akan semakin banyak pula air buangannya. Air
buangan di bagi kedalam air buangan industri dan air buangan domestik, karena
sifatnya/kandungannya terlalu berbeda.

5.7 PENILAIAN KUALITAS HIDROSFIR

Secara praktis untuk dapat melakukan penilaian, diperlukan kemampuan memeriksa air,
baik dilihat dari segi fisis, kimiawi, maupun biologis dan radiologis: 1. Diperlukan prosedur
standar untuk pemeriksaan air. Prosedur pemeriksaan yang digunakan oleh berbagai
laboraturium sebaiknya standar, agar dapat diperbandingkan hasilnya, 2. Diperlukan ahli
dalam pemeriksaan air. Untuk ini diperlukan pula fasilitas pendidikan dan latihan. 3.
Diperlukan laboraturium beserta peralatan yang lengkap untuk memeriksa air.

5.8 PERAN WANITA

Kaum wanita memiliki peranan besar dalam memilih kualitas suatu air, karena kaum wanita
yang mengurus rumah tangga yang mana juga banyak memerlukan air. Sikap orang tua
terutama ibu, terhadap lingkungan umumnya dan lingkungan air khususnya
baik/sehat/saniter, maka pada anak-anaknyapun akan tertanam kebiasaan yang baik pula.
BAB 6

LITOSFIR

6.1 UMUM

Litosfir adalah semua bagian bumi yang padat, mulai dari pusat bumi sampai ke
permukaan dikelompokkan ke dalam litosfer. Lapisan teratas dari litosfer disebut tanah yaitu
suatu lapisan yang sangat tipis dibanding dengan seluruh tebal litosfir. Tanah ataupun lahan
ini mencakup 29% dari permukaan bumi atau 14.800 juta ha.dengan 1.400 ha diliputi es dan
yang tersisa 13.400 ha yang dapat dipergunakan untuk semua kegiatan di bumi ini.

6.2 PENGARUH TERHADAP KESEHATAN

6.2.1. Pengaruh Langsug

Pengaruh litosfir terhadap kesehatan digolongkan kepada penyakit-penyakit yang


menyebar lewat tanah. Penyakit-penyakit ini disebut sebagai penyakit bawaan tanah atau
“soil-borne diseases” . penyakit bawaan tanah dapat berupa penyakit menular dan
penyakit tidak menular.

6.2.2. Pengaruh Tidak Langsung

Pengaruh litosfir yang tidak langsung digunakan manusia untuk bermukim, untuk
melakukan segala kegiatan, seperti pertanian, peternakan, industri dan tempat pembuangan
limbah padat atau persampahan. Berbagai kegiatan yang penting diantaranya adalah:

6.2.2.1 KESEHATAN KELEMBAGAAN

Usaha kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan pemanfaatan litosfir untuk berbagai
kegiatan dikenal sebagai usaha kesehatan instirusi atau kelembagaan. Institusi/ lembaga
diartikan sebagai suatu organisasi ataupun bangunan yang digunakan oleh organisasi
untuk mencapai suatu tujuan. Usaha kesehatan kelembagaan diperlukan akibat
pemanfaatan bagunan dengan kepadatan berlebih (overcrowding) timbulnya daerah
pemukiman yang kumuh dan tempat kerja yang sangat tidak saniter.

Lembaga pemukiman terbentuk karena manusia memerlukan tempat untuk tinggal dan
bernaung. Suatu pemukiman dapat menjadi reservoir penyakit bagi keseluruhan
lingkungan. Timbulnya permasalahan kesehatan di dalam lingkungan pemukiman pada
dasarnya disebabkan karena orang belum sepaham tentang fungsi suatu rumah.
Organisasi kesehatan di dunia mendefinisikan rumah sebagai berikut “ Rumah adalah
tempat untuk tumbuh dan berkembang baik secara jasmani, rohani dan sosial”.
Definisi ini membawa banyak konsenkuesi yakni bahwa selain kualitas rumah harus baik,
diperlukan pula segala fasilitas yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang. Fasilitas
itu sebaiknya ada pada suatu daerah pemukiman ataupun letaknya tidak terlalu jauh dari
rumah. Misalnya fasilitas pendidikan, perbelanjaan, fasilitas air bersih dan lain-lain.
Selanjutnya faktor-faktor pada rumah yang berpengaruh terhadap kesehatan perumahan
adalah (i) kualitas bangunannya, (ii) pemanfaatan bagunan, dan (iii) pemeliharaannya.

Seperti halnya pemukiman, kesehatan lembaga pendidikan tergantung pula dari kualitas
bahan dan kontruksi bangunan serta pemeliharaan dan penggunaanya. Hal ini diperlukan
untuk mecengah kecelakaan, kebakaran dan penularan penyakit. Kualitas bangunan serta
isinya harus pula dibuat sesuai dengan fungsi gedung, sehingga tujuan kelembagaan
tersebut dapat mudah tercapai.

Selain itu pemeliharaan orang sakit juga termasuk dalam lembaga kesehatan karena di
rumah sakit terkumpul populasi dengan karakteristik sama yakni orang sakit. Fungsi
rumah sakit adalah merawat yang sakit dan mencoba menyembuhkan sedapat mungkin.

Pada perusahan industri terkumpul juga populasi yang mempunyai tujuan yg sama.
Populasi dalam perusahaan dan industry di pekerjaan nya akan berhadapan dengan bahan
baku ataupun proses dan bahan jadi yang dapat mempengaruhi kesehatan karena dapat
terpapar berbagai bahan berbahaya seperti : faktor kimia, faktor fisika, biologis, dan
ergonomis. Dalam hal ini usaha pencegahan penyakit mempunyai peran yang sangat
dominan. Penyakit-penyakit ini timbul akibat kerja yang tidak bersifat reversible. Selain
itu fasilitas dasar akan sanitasi dan air bersih juga perlu diperhatikan.

Angkutan, motel dan hotel


Tiga kelembagaan ini dibicarakan bersama karena populasinya mempunyai karakteristik
yang sama, yakni berda dalam keadaan transisi atau berpejalanan. Mereka tentunya
memerlukan fasilitas yang khas pula agar kesehatan dan keselamtannya dapat terjamin.

6.2.2 PERSAMPAHAN
Sampah dapat dibedakan atas dasar sifat-sifat biologis dan kimianya, sehingga
mempermudah pengelolaannya, sebagai berikut :
1. Sampah yang dapat membusuk , seperti sisa makanan, daun, sampah kebun, pertanian
, dan lainnya
2. Sampah yang tidak membusuk seperti kertas, plastik, karet, gelas, logam dan lainnya
3. Sampah yang berbahaya terhadap kesehatan, seperti sampah-sampah berasalkan
industri yang mengandung zat-zat kimia maupun zat fisis berbahaya.
Sampah, baik kuantitas maupun kualitasnya, sangat dipengaruhi oleh berbagai
kegiatan dan taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor yang penting antara lain adalah:
1. Jumlah penduduk
2. Keadaan sosial ekonomi
3. Kemajuan teknologi

Pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat dikelompokkan menjadi efek langsung


dan tidak langsung. Yang dimaksud efek langsung adalah efek yang disebabkan
karena kontak yang langsung dengan sampah tersebut. Misalanya, sampah beracun,
sampah yang korosif terhadap tubuh, yang karsinogenik, teratogenik, dll. Sedangakn
pengaruh tidak langsung dapat dirasakan masyarakat akibat proses pembusukan,
pembakaran, dan pembuangan sampah.

Penyakit bawaan sampah sangat luas dan dapat berupa penyakit menular, tidak
menular, dapat berupa akibat kebakaran, keracunan dan lain-lain. Penyebabnya dapat
berupa bakteri, jamur, cacing dan zat kimia,

Pengelolaan sampah perlu didasarkan atas berbagai pertimbangan seperti untuk


mencegah terjadinya penyakit, konservasi sumber daya alam, dan mencegah
gangguan estetika, memberi intensif untuk daur ulang/pemanfaatan dan bahwa
kuantitas dan kualitas sampah akan meningkat.

6.2.2.3 KESEHATAN RADIOLOGIS

Pemanfaatan material radioaktif termasuk sinar-sinar radioaktif semakin banyak, baik


untuk diagnosa dan terapi, penelitian, untuk energi alternatif, maupun didalam proses
industri. Sumber-sumber materi radioaktif dapat bersifat alamiah maupun buatan.
Sumber buatan berasal dari peralatan rontgen yang memancarkan sinar X/ Rontgen ,
reaktir nuklir, bom atom, dsb.

Radioaktivitas adalah suatu proses dimana mineral yang mempunyai nukleus atau inti
yang tidak stabil mengalami disintegrasi spontan dengan melepaskan energy. Proses
ini disebut sebagai “decay”/”paruh”/”luruh”. Proses disintegrasi tadi disertai atau
ditandai oleh adanya remisi radiasi seperti partikel alpha, beta, dan sinar gamma.

Sinar alpha adalah partikel yang terdiri atas dua proton dan dua neutron atau sama
dengan sebuah atom Helium, tanpa elektron. Radiasi beta adalah radiasi yang terdiri
atas aliran elektron-elektron yang mempunyai daya tembus yang sedang dan kecepatan
yang tinggi. Radiasi Gamma adalah radiasi elektromagnetik, dapat menembus sangat
dalam, dan mempunyai kecepatan tinggi.
Sinar radioaktif sangat berbahaya bagi kesehatan, karena marusaak sel dan jaringan
tubuh, mulai dari yang sangat ringan seperti rontoknya rambut sampai pada kanker. Lebih
berbahaya lagi apabila sinar tadi mengenai sel-sel genetic, karena dapat menimbulkan
sterilitas dan mutasi.

Mengingat bahayanya radiasi pengion, pengelolaan lingkungan harus dilaksanakan dengan


seksama. Cara pengelolaan didasarkan atas :

1. Jarak, mengingat aktivitas sinar berbanding terbalik dengan jarak kuadrat dan
2. Waktu pemaparan yang sebaiknya di buat minimum.

Pemantauan merupakan aktivitas penting dalam pengelolaan lingkungan. Beberapa hal


yang perlu didapat dengan pemantauan antara lain:

1. Tingkat radioaktivitas alamiah


2. Apakah terjadi perubahan-perubahan tingkat radioaktivitas
3. Apakah ada kebocoran, dan
4. Penentuan standar.
BAB 7

BIOSFIR

7.1 UMUM

Biosfir disebut juga ekosfir, adalah lingkungan yang terdiri atas fauna dan flora,
terkecuali manusia, sekalipun manusia itu merupakan bagian dari alam, tetapi tidak
digolongkan ke dalam biosfir. Batas biosfir ditentukan sampai pada batas dimana tidak lagi
terdapat benda hidup (atas dasar pengetahuan saat ini).

Kalau dilihat dari dekat suatu biosfir itu tampak beraturan dengan pola tertentu. Dimulai bila
terlihat seekor kelinci atau satu buah pohon genjer, yang disebut organisme, kemudian
oerganisme ini berada dalam suatu kelompok yang terdiri atas jenis yang sama, disebut
populasi. Kumpulan berbagai populasi tumbuhan atau hewan di daerah tertentu disebut
komunitas, dan interaksi setiap organisme yang ada di dalam komunitas ini dengan
lingkungannya (biotis dan abiotis) disebut suatu ekosistem. Ekosistem di seluruh dunia ini
berhubungan satu dengan yang lain, membentuk ekosfir.

Suatu ekosistem ini berkembang dari satu atau beberapa organisme pionir yang berkembang
selama ratusan atau ribuan tahun dimana terjadi pergantian satu komunitas oleh komunitas
yang lain. Pergantian komunitas ini disebut suksesi ekologis.

Stabilitas suatu ekosistem dapat dipertahankan melalui tiga mekanisme sebagai berikut:

1. Megendalikan laju aliran energy yang melalui system


2. Mengendalikan laju siklus kimia di dalam system, dan
3. Memelihara diveristas biota dan hubungan rantai makanan

Setiap spesies didalam komunitas mempunyai struktur dan fungsi masing-masing yang saling
menujang (interdependency) atau disebut suatu “niche ekologis”. Berbagai organisme
didunia ada mempunyai “niche ekologis” yang sama atau mirip sehingga disebut ekivalen
ekologis. Didalam komunitas sedemikian juga terjadi siklus biogeokimia, dan aliran energi

Keberadaan materi dan energi di alam ini mengikuti suatu hukum yang disebut hukum
thermodinamika yang menyatakan bahwa energi dan materi itu tidak pernah punah, ia hanya
berubah bentuk. Hukum ini terdiri atas dua. Hukum thermodinamika yang pertama juga
dikenal sebagai hukum konservasi energi, menyatakan bahwa energi itu tidak dapat
diciptakan atau pun dihancurkan, tetapi hanya berubah dari salah satu bentuk ke bentuk yang
lain : panas, cahaya, energi mekanik, elektrik, atau energi kimia. Hukum yang kedua
menyatakan bahawa tidak ada konversi energy yang efisien untuk 100%.
Pada setiap konversi energi, sebagian dari energi itu akan menjadi energi yang tidak
terpakai berbentuk panas. Sesuai hukum tadi, dan adanya produser dan konsumer di
dalam suatu ekosistem, maka dapat dimengerti bahwa rantai makanan ini akan
berbentuk piramida. Semakin tinggi tingkat trofis, semakin sedikit jumlah organisme
tadi.

7.1.1 KEKAYAAN ALAM INDONESIA

Lingkungan biologi adalah lingkungan yang memerlukan waktu yang cukup lama
untuk mencapai kestabilan, dan di dalam fase yang masih muda, mudah sekali
terkacaukan oleh aktivitas manusia. Setiap kali terjadi perubahan kualitas lingkungan,
maka biosfir akan berubah baik dalam kualitas maupun kuantitas.

Indonesia adalah Negara yang kaya akan berbagai jenis fauna dan flora. Sekitar 17%
dari spesies biota dunia ada di Indonesia. 11% dari tumbuhan berbunga ada di
indonesia, demikian pula terdapat 12% mamalia. 15% amphibi dan reptilia, 37% ikan
dan 10% dari seluruh mikroorganisme. Fauna dan flora yang telah dimanfaatkan di
Indonesia terbilang 6000 jenis. Tanaman yang telah dibudidayakan ada 400 jenis
penghasil buah-buahan, 360 jenis penghasil sayuran, 70 jenis umbi-umbian, 60 jenis
tanaman penyegar, 50 jenis tanaman rempah, 940 jenis tanaman obat-obatan yang 74
prosennya hidup liar.

Indonesia terdiri dari banyak kepulauan hal ini memungkinkan terjadinya isolasi yang
lama yang memberi peluang dan proses evolusi membentuk spesies yang khas dan unik
bagi kepulauan tersebut. Keadaan ini disebut keadaan endemis spesies,

7.2 BIOSFIR DAN KESEHATAN

Biosfir berpengaruh terhadap kesehatan dalam dua cara, positif dan negative. Pengaruh
positif, karena didapat eleman yang menguntungkan hidup manusia seperti bahan
makanan, sumber daya hayati yang diperlukan untuk sandang, papan, pangan, industry,
mikroba dan serangga yang berguna dll. Ada pula elemen yang negatif yang merugikan
seperti mikroba pathogen, hewan dan tanaman beracun, hewan berbahaya secara fisik ,
vektor penyakit dan reservoir penyebab dan penyebar penyakit. Dilihat dari aspek
kesehatan, pengaruhnya ada yang langsung dan tidak langsung.

7.2.1 Pengaruh tidak langsung

Pengaruh tidak langsung disebabkan elemen-elemen didalam biosfir yang


dimanfaatkan manusia untuk meningkatkan kesejahteraan. Semakin sejahtera manusia,
diharapkan semakin naik pula derajat kesehatannya. Dalam hal ini, biosfir digunakan
sebagai sumber bahan mentah untuk berbagai kegiatan industry, seperti industry kayu,
industry mebel, rotan, obat-obatan dll.
7.2.2 pengaruh langsung

Pengaruh lansgung disebabkan:

1. Karena manusia membutuhkan sumber energy yang diambilnya dari biosfir, yakni
makanan
2. Adanya elemen yang langsung membahayakan kesehatan secara fisik, misalnya,
beruang harimau , ular, scorpion, posion ivy, dll
3. Adanya elemen mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit
4. Adanya vektor, yakni serangga penyebar penyebab penyakit, dan reservoir agent
penyakit.

7.3 LINGKUNGAN MAKANAN

Makanan adalah sumber energy satu-satunya bagi manusia. Karena jumlah penduduk
yang terus berkembang, maka jumlah produksi makanan pun harus terus bertambah
melebih jumlah penduduk ini, apabila kecukupan pangan harus tercapai.

Dari segi kuantitas, baik yang berlebih maupun yang kekurangan akan menyebabkan
kelainan gizi. Penyakit yang berhubungan dengan kegemukan disebabkan jumlah
makanan yang berlebih, juga kualitasnya seringkali tidak seimbang. Kekuranagan gizi
dari segi kuantitas makanan (marasmus) dan kekurangan dari segi kualitas (kwashiorkor).

Keadaan kurang gizi juga sangat diperngaruhi oleh:


1. Pengetahuan masyarakat
2. Kontaminasi makanan dan minuman akibat lingkungan yang tidak sehat
3. Prioritas hidup lainnya selain makanan bergizi.

Makanan tidak saja bermanfaat bagi manusia, tetapi juga sangat baik untuk pertumbuhan
mikroba yang pathogen. Untuk itu agar mendapat keuntungan maksimum dari makanan
perlu dijaga sanitasi makanan. Gangguan kesehatan yang dapat terjadi akibat makanan
dapat dikelompokkan menjadi: 1. Keracunan makanan, dan 2. Penyakit bawaan makanan.

Makanan dapat terkontaminasi oleh berbagai racun yang dapat berasal dari tanah, udara,
manusia, dan vektor. Racun dari lingkungan udara, air, tanah dan lainnya dapat masuk ke
dalam biota. Apabila racun tidak dapat diuraikan, maka akan terjadi biomagnifikasi
didalam tubuh biota.
Pencegahan penyakit bawaan makanan dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Pemilihan bahan baku yang sehat, tidak busuk, warna yang segar
2. Penyimpanan bahan baku jangan sampai terkena serangga, tikus atau jangan sampai
membusuk
3. Pengelolaan makanan yang higienis serta prosesnya dapat mematikan penyebab
penyakit
4. Pengolah makanan bukan carrier penyakit, dan tidak sakit
5. Penyajian makanan tidak terkena lalat , debu , dan udara kotor
6. Penyaji makanan harus mendapat surat keterangan sehat
7. Penyimpanan makanan matang jangan sampai terkontaminasi dan membusuk.

7.4 PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT


Vektor penyakit adalah serangga penyebar penyakit atau Arthropoda. Beda vektor dari
vehicle, adalah bahwa vehicle itu suatu penyebar penyakit yang tidak hidup, seperti air,
udara, makanan, dan lain-lainnya. Sedangkan vektor adalah benda hidup, yakni serangga.

Pengaruh vektor terhadap kesehatan dapat bermacam-macam, selain sebagai vektor.


Secara langsung dapat menyebabkan entomophobia, gangguan ketenangan, dapat
menjadi penyebab penyakit seperti penyakit scabies dan myasis. Secara tidak langsung
dapat menjadi reservoir agent penyakit, memusnahkan panen, dan menjadi parasit pada
tubuh manusia

Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan melakukan pengendalian kimiawi dengan


menggunakan insektisida, kemudian menggunkana pengendalian vektor terpadu dengan
meningkatkan partisipasi masyarakat, kerjasama sektoral dll, sedangkan pengendalian
rekayasa dengan mengurangi sarang insekta (breeding places) dengan melakukan
pengelolaan lingkungan, yakni melakukan manipulasi dan modifikasi lingkungan, dan
pengendalian biologis dengan memelihara musuh alami dan mengurangai fertilitas
insekta.
BAB 8
SOSIOSFIR
8.1 UMUM

Sosiosfir adalah lingkungan yang tercipta akibat terjadinya interaksi antar manusia secara
menalar. Interkasi sedemikian memungkinkan tersalurkannya budaya dari satu orang ke
orang lain atau dari satu generasi ke generasi selanjutya, misalnya, pengalaman yang didapat
masyarakat atau perseorangan ditularkan pada lain orang dan pada generasi penerusnya,
yang akan menentukan sikap dan pengetahuan pada masyarakat. Sikap bersama-sama
dengan pengetahuan, kepercayaan dan norma ini akan menentukan bagaimana seseorang
berfikir, dan berperasaan, yang selanjutnya menentukan perilakunya. Perilaku juga sangat
dipengaruhi oleh sumber daya yang tersedia dan pendapat panutan masyarakat. Tampak
bahwa kerana pengalaman dan sumber daya selalu berubah, maka perilakupun akan berubah
, apalagi apabila panutan masyarakat yang memulai perubahan.

8.2 SOSIOSFIR DAN KESEHATAN


Lingkungan sosial merupakan lingkungan yang paling penting dalam menetukan kesehatan
lingkungan. Seperti telah diketahui, penyakit dapat disebabkan oleh unsur fisis seperti
temperature, radiasi, tekanan, kebisingan: antara unsur kimia seperti arsen, merkuri,
insektisida, makanan, dan lain-lain: atau unsur biologis seperti mikroba pathogen. Tetapi
penyakit itu hanya dapat terjadi apabila norma serta budaya manusianya “mengizinkan”.

Norma, perilaku dan adat kebiasaan sedemikian itu dapat didasarkan atas ke-tidak-tahuan,
atau ke-tidak-pedulian masyarakat terhadap kesehatan. Tetapi hasil akhirnya adalah sama:
terjadi pencemaran lingkungan dan terjadi penyakit sebagai akibatnya.

Sosiosfir juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit kejiwaan. Apabila hubungan antar
manusia di dalam suatu kelompok atau masyarakat tidak menyenangkan atau menekan
seseorang dan orang tersebut tidak mengetahui bagaimana menyelesaikannya, maka akan
timbul penyakit kejiwaan dan juga penyakit psykhosomatik, yaitu penyakit yang
menunjukkan gejala fisik tetapi sebetulnya disebabkan karena suatu keadaan tekanan jiwa.
8.3 DEMOGRAFI DAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Demografi adalah ilmu yang mempelajari secara statistik dan metematik tentang besar,
komposis, distribusi, dan perubahan-perubahannya sepanjang masa akibat kerjanya lima
komponen demografi, yakni kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), perkawinan,
migrasi, dan mobilitas sosial.

8.3.1 Jumlah Penduduk


Jumlah penduduk suatu masyarakat dapat diketahui dari hasil sensus penduduk yang
paling tidak dilakukan setiap sepuluh tahun satu kali. Sensus ini tidak saja
menunjukkan jumlah tetapi juga semua atribut sosial-ekonomi masyarakat yang
disebut terdahulu.

8.3.2 Pertumbuhan
Jumlah penduduk selalu berubah. Apabila jumlahnya bertambah, maka akan terjadi
pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk diukur dengan nilai r, yang
menunjukkan rata-rata pertumbuhna penduduk per tahun untuk periode tertentu, dan
biasanya dinyatakan dalam prosen. Laju pertumbuhan penduduk ini dapat dihitung
secara geometri maupun exponensial. Pertumbuhan geometri an exponensial dihitung
dengan rumus sebagai berikut :

a. Geometris

Pt =P0 . (1 + r)n , dimana

Pt = banyaknya penduduk pada tahun t,


P0 = jumlah penduduk pada tahun awal atau 0,
r = laju pertumbuhan penduduk, dan
n= jumlah tahun antara 0 dan t

b. Exponensial

Pt =P0 . em , dimana

e = angka exponensial 2,71828


Pt = banyaknya penduduk pada tahun t,
P0 = jumlah penduduk pada tahun awal atau 0,
n = jumlah tahun antara 0 dan t
Pertumbuhan penduduk selain akibat alamiah juga dapat diakibatkan oleh faktor non
alamiah akibat perpindahan penduduk. Pertumbuhan non alamiah disebabkan karena
imigrasi, transmigrasi, atau urbanisasi. Pertumbuhan alamiah disebabkan karena
kelahiran yang lebih banyak daripada kematian. Sebagai contoh, pertumbuhan dapat
terjadi karena angka kematian yang turun akibat penjajahan, penemuan obat penicillin,
program kesehatan lingkungan atau kesehatan masyarakat dll.

8.3.3 Piramida Penduduk

Komposisi penduduk perlu diketahui untuk berbagai hal :

1. Untuk mengetahui sumber daya manusia yang tersedia baik atas dasar usia
maupun jenis kelamin
2. Untuk mengambil kebijaksanaan yang berhubungan dengan kependudukan
3. Untuk studi komparatif antar daerah
4. Untuk mengetahui proses demografi dengan menggambarkannya sebagai
piramida penduduk.

Piramida penduduk pada hakekatnya adalah diagram balok, dibuat sebagai berikut :

1. Sumbu vertikal untuk interval usia


2. Sumbu horizontal untuk jumlah penduduk dalam prosen atau nilai absolut
3. Sebelah kiri untuk penduduk laki-laki, sebelah kanan untuk penduduk wanita
4. Dasar sumbu vertikal untuk kelompok usia termuda, semakin ke atas kelompok
usai semakin tua
5. Puncak piramida untuk penduduk tertua, biasanya dalam interval terbuka,
misalnya 75 tahun ke atas
6. Besarnya balok bagi semua kelompok adalah sama.
8.3.4 Persebaran Penduduk
Persebaran penduduk atau distribusinya dapat dilihat dari segi administratif politis dan
geografis. Persebaran atas dasar administratif politis adalah persebaran atas dasar
wilayah atau Negara. Penduduk Indonesia tidak tersebar merata, sebagian besar (64%)
bermukim di pulau Jawa, padahal luas wilayah pulau Jawa hanya 6,6 % dari seluruh
wilayah Indonesia. Demikian pula dengan penduduk dunia, lebih dari separuhnya ada di
Asia, sedangkan separuh lagi berada di benua Afrika, Amerika, Eropa dan Oceania.

Dilihat dari segi sosial ekonomis distribusi yang tidak merata dapat menimbulkan banyak
permasalahan. Banyak yang tidak terjangkau pembangunan ataupun pelayanan kesehatan.
Struktur dan distribusi penduduk yang tidak merata secara sosial ekonomi mempunyai
dampak terhadap kesehatan , penularan penyakit, pendidikan, perilaku , kesempatan
kerja, penghasilan , gizi, kebiasaan, pemukiman, kenakalan remaja, dan sampai pada
kriminalitas.

Sebagai akibat dari tidak meratanya penduduk dan fasilitas yang tersedia, terjadi
berbagai perpindahan atau morbilitas penduduk dengan maksud untuk mencari perbaikan
hidup. Perpindahan ini ada yang pulang balik tiap hari, ada yang bersifat musiman, atau
yang menetap. Perpindahan penduduk dengan tujuan menetap di daerah lain dan
melampaui batas politis, disebut migrasi.

8.4 PARAMETER SOSIOSFIR


Struktur demografis yang berpengaruh terhadap fungsi masyarakat yang selanjutnya
menentukan norma dan kesehatan dapat dinilai kualitasnya atas berbagai parameter,
misalnya CDR (Crude Death Rate atau angka kematian kasar ), CBR (Crude Birth Rate
atau angka kelahiran kasar), IMR (Infant Mortality Rate atau angka kematian bayi
(AKB)), Piramida penduduk, taraf pendidikan , Load of dependency ratio (beban
tanggungan) dan PNB (produk nasional bruto) atau PDB (produk domestic bruto).

Parameter sosiosfir lebih sering dilihat secara keseluruhan atau bersama daripada satu-
persatu. Parameter ini akan menampakkan profil taraf pembangunan suatu Negara. Profil-
profil berbagai Negara seringkali didaftarkan dan dirangking , dan tampak sampai
seberapa jauh taraf pembangunannya relatif terhadap berbagai Negara. Namun demikian ,
karena rangking sedemikian tidak mengikut-sertakan unit waktu, maka sangat sulit untuk
memberi kesimpulan tentang taraf perkembangan tersebut. Jadi, daftar rangking profil
tadi lebih sering digunakan untuk membantu menentukan target dalam pembangunan.
8.5 PENYAKIT BAWAAN SOSIOSFIR
Lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap penularan, penyebaran dan pelestarian agent
di dalam lingkungan ataupun pemberatasannya. Lingkungan sosial yang menentukan norma
serta perilaku orang berpengaruh terhadap:
1. Penularan penyakit secara langsung dari orang ke orang, seperti halnya penularan
penyakit kelamin, penyakit kulit, penyakit pernapasan, dan lain-lain.
2. Penularan penyakit secara fekal-oral seperti halnya pada penyakit saluran pencernaan,
disebabkan karena tidak terbiasa mencuci tangan setelah buang air, dan tidak
mementingkan penyediaan fasilitas cuci ini.
3. Penularan lewat media air, udara, tanah, makanan dan vektor juga di tentukan oleh
perlakuan dan etik masyarakat terhadap lingkungan hidupnya.

Penyakit tidak menular, erat kaitannya dengan budaya atau gaya hidup masyarakat yang
kesemuanya ditentukan oleh kualitas lingkungan sosial. Pengetahuan tentang hubungan
penyakit dengan berbagai kebiasaan hidup dapat digunakan untuk mencegah penyakit
tersebut secara efektif, dengan melakukan kebalikannya.

8.5.1. PENCEGAHAN PENYAKIT BAWAAN SOSIOSFIR

Karena penyakit bawaan sosial itu bersumber pada perilaku/ way of life atau gaya hidup
masyarakat yang tidak sehat, maka untuk mencegahnya diperlukan perubahan perilaku.
Perubahan perilaku ini seringkali tidak mudah, apalagi bila perilaku yang akan diubah tadi
sudah dianggap normal oleh masyarakat. Perubahan perilaku dapat terjadi secara alamiah
ataupun direncanakan. Pada hakekatnya manusia itu terus berubah karena harus
beradaptasi terhadap lingkungan yang selalu berubah.

Perubahan itu dapat berarah kepada yang baik atau sebaliknya. Agar manusia berubah dan
menjadi lebih baik dari semula, maka harus terjadi suatu inovasi atau pembaharuan.
Mengingat bahwa perilaku itu kompleks dan banyak pula yang perlu diubah, maka perlu
ditentukan prioritas. Perubahan itu memerlukan waktu yang cukup panjang, sehingga
dukungan untuk berubah perlu diberikan waktu yang cukup panjang pula. Perubahan
perilaku dapat dipermudah apabila perubahan itu tidak bertentangan dengan kepercayaan,
sumber dana tersedia, tidak mengubah prioritas penggunaan dana oleh masyarakat banyak
yang ikut berubah dan perubahan menyelesaikan permasalahan masyarakat.
Agar proses ini dapat terjadi, maka perlu dilakukan pendidikan maupun penyuluhan.
Penyuluhan seringkali dilakukan hanya dengan memberi ceramah-ceramah. Hal ini
mungkin dapat diterima atau berhasil, bila yang disuluhi adalah mereka yang telah
berpendidikan dan mudah disadarkan akan permasalahan yang dihadapi ( bersifat
progresif). Apabila yang dihadapi adalah mereka yang masih dalam taraf tradisional atau
bersifat konservatif, maka ceramah saja tidak cukup. Untuk itu, tahap pertama yang perlu
dilakukan adalah penyadaran masyarakat akan permasalahan ataupun kebutuhan yang
mereka hadapi. Bahkan seringkali masyarakat tidak menyadari apa yang dibutuhkannya.
Kesadaran ini bisa didapat apabila masyarakat terlibat dalam suatu kegiatan yang
membawa mereka kepada kebutuhan tadi.

8.6 PERAN WANITA


Wanita sanagat berperan dalam pendidikan di dalam rumah. Mereka menanamkan
kebiasaan dan menjadi panutan bagi generasi yang akan datang tentang perlakuan terhdap
lingkungan. Dengan demikian wanita ikut serta menentukan kualitas lingkungan hidup.

Untuk dapat melaksankan pendidikan dengan baik, para wanita perlu juga berpendidikan
baik formal maupun tidak formal. Akan tetapi, pada kenyataannya taraf pendidikan wanita
masih jauh lebih rendah daripada kaum pria.

Agar anak wanita dimasa yang akan datang lebih baik pendidikannya, maka para orang
tua, teruatama ibu perlu diberi penyuluhan ataupun pendidikan tidak formal, tentang
pentingnya seorang anak perempuan berpendidikan cukup tinggi.

8.7 PENGELOLAAN SOSIOSFIR


Pengelolaan lingkungan sosial ini seperti lingkungan lainnya direncanakan agar terjadi
perbaikan sehingga tujuan pembangunan dapat tercapai. Pengelolaan dapat dilakukan
dengan pendekatan admistratif, pendidikan, pemberian pelayanan, atau kombinasi dari
tiga cara tersebut

Pendekatan admistratif dapat dilakukan dengan membuat peraturan berserta sanksi.

Cara pendidikan dapat dilakukan secara formal maupun tidak formal untuk memberi
pengertian dan mengubah perilaku.

Pendekatan pelayanan diperlukan untuk menunjang perubahan , baik yang di lakukan


secara administratif maupun pendidikan.
Pendekatan terkombinasi adalah yang paling baik, karena untuk efek cepat dalam jangka
pendek perlu adanya peraturan. Namun, peraturan saja tanpa memberi pengertian akan
membuat masyarakat tetap tidak mendapatkan inovasi. Dan akhirnya, sarana atau
teknologinya perlu juga diperkenalkan.

Beberapa usaha yang perlu dilakukan untuk itu adalah :


1. Melaksanakan peraturan kependudukan yang ada
2. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan, sehingga perilaku masyarakat dapat
berubah menjadi sehat dan menunjang pembangunan
3. Melaksanakan atau membuat peraturan tata kota yang menyehatkan lingkungan
pemukiman, perindustrian, perdagangan, transportasi dll sehingga kota maupun
desa menjadi tetap sehat lingkungannya.
4. Mengendalikan angka penyakit dan kelahiran
5. Penyediaan berbagai sarana kesehatan lingkungan, sehingga masyarakat dapat
hidup lebih manusiawi, dengan mendapat kebutuhan pelayanan dasar kesehatan
lingkungan.
6. Pengadaan kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang layak dan sehat
7. Peningkatan taraf ekonomi, budaya, dan sosial