Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan indikator utama derajat kesehatan masyarakat

dan ditetapkan sebagai salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs). AKI

Indonesia diperkirakan tidak akan dapat mencapai target MDG yang ditetapkan yaitu 102 per

100 000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Kematian ibu akibat kehamilan, persalinan dan nifas

sebenarnya sudah banyak dikupas dan dibahas penyebab serta langkah‐langkah untuk

mengatasinya. Meski demikian tampaknya berbagai upaya yang sudah dilakukan pemerintah

masih belum mampu mempercepat penurunan AKI seperti diharapkan. Pada Oktober yang lalu

kita dikejutkan dengan hasil perhitungan AKI menurut SDKI 2012 yang menunjukkan

peningkatan (dari 228 per 100 000 kelahiran hidup menjadi 359 per 100 000 kelahiran hidup).

Diskusi sudah banyak dilakukan dalam rangka membahas mengenai sulitnya menghitung AKI

dan sulitnya menginterpretasi data AKI yang berbeda‐beda dan fluktuasinya kadang drastis.

(Depkes, 2013)

Masa nifas (puerpurium) adalah dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-

alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6

minggu. (Prawirohardjo, 2002).

Masa nifas adalah masa segera setelah kelahiran sampai 6 minggu. Selama masa ini,

saluran reproduktif anatomi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (Obstetri William).

Masa nifas (puerpurium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai

sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas 6-8 minggu. (Sinopsis

Obstetri).

Masa nifas merupakan masa yang rawan bagi ibu, sekitar 60% kematian ibu terjadi

setelah melahirkan dan hampir 50% dari kematian pada masa nifas terjadi pada 24 jam pertama

1
setelah melahirkan, diantaranya disebabkan oleh adanya komplikasi masa nifas. Selama ini

perdarahan pasca persalinan merupakan penyebab kematian ibu, namun dengan meningkatnya

persediaan darah dan system rujukan, maka infeksi menjadi lebih menonjol sebagai penyebab

kematian dan morbiditas ibu.

Infeksi nifas adalah infeksi pada dan melalui traktus genetalis setelah persalinan. Suhu

38 °C atau lebih yang terjadi antara hari ke 2-10 postpartum dan diukur peroral sedikitnya

empat kali sehari. Istilah infeksi nifas mencakup semua peradangan yangdisebabkan oleh

mesuknya kuman-kuman kedalam alat genetalia pada waktu persalinan dan nifas. Infeksi nifas

pada awalnya adalah penyebab kematian maternal yang paling banyak,namun dengan

kemajuan ilmu kebidanan terutama pengetahuan tentang sebab-sebab infeksi nifas, pencegahan

dan penemuan obat-obat baru dari itulah dapat diminimalisir terjdinya infeksi nifas.

Dari itulah seorang bidan perlu mengetahui tentang infeksi nifas, mulai dari apa itu

infeksi nifas, bagaimana penyebab terjadinya infeksinya, pencegahanya dan pengobatan dari

infeksi nifas tersebut. Hal ini ditujukan untuk terwujudnya persalinan yang aman asuhan nifas

yang higienis sehingga komplikasi pada masa nifas tidak lagi terjadi.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi peritonitis ?

2. Apa saja etiologi dari peritonitis ?

3. Apa patofisiologi dari peritonitis ?

4. Apa saja klasifikasi peritonitis ?

5. Apa saja tanda gejala peritonitis ?

6. Apa komplikasi peritonitis?

7. Apa saja pemeriksaan penunjang pada peritonitis ?

8. Apa saja pengobatan dari peritonitis ?

2
9. Apa saja penatalaksanaan medis dari peritonitis ?

1.3 TUJUAN

Tujuan dari penulisan ini adalah mahasiswa dapat memahami penyakit yang terjadi

pada organ abdomen terutama pada peritoneum, dan penulis berharap mahasiswa tidak hanya

memahami penyakit tersebut tapi mahasiswa juga dapat mengetahui penyebab gejala

pengobatan dan pencegahan dari penyakit yang di alami khususnya penyakit peritonitis. Serta

menyelesaikan tugas yang diberikan dosen dari matakuliah asuhan kebidanan

kegawatdaruratan maternal

BAB II

3
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Peritonitis


Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen dan
meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun
kronis / kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi,
defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi.
Peritonitis merupakan sebuah proses peradangan pada membrane serosa yang
melingkupi kavitas abdomen dan organ yang terletak didalamnyah. Peritonitis sering
disebabkan oleh infeksi peradangan lingkungan sekitarnya melalui perforasi usus seperti
rupture appendiks atau divertikulum karena awalnya peritonitis merupakan lingkungan yang
steril. Selain itu juga dapat diakibatkan oleh materi kimia yang irritan seperti asam lambung
dari perforasi ulkus atau empedu dari perforasi kantung empeduatau laserasi hepar. Padawanita
sangat dimungkinkan peritonitis terlokalisasi pada rongga pelvis dari infeksi tuba falopi atau
rupturnya kista ovari. Kasus peritonitis akut yang tidak tertangani dapat berakibat fatal.

2.2 Etiologi
Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP) dan
peritonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena ninfeksi intra abdomen,tetapi biasanya terjadi
pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehingganmenjadi
translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang terjadi
penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik.
Semakin rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan
abses. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites
pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Coli 40%,
Klebsiella pneumoniae 7%, spesies Pseudomonas, Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri
gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%, jenis Streptococcus lain 15%,dan
golongan Staphylococcus 3%, selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri.
Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi
transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritonealterutama disebabkan
bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Peritonitis tersier terjadi karena
infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang
adekuat, bukan berasal dari kelainan organ, pada pasienperitonisis tersier biasanya timbul abses

4
atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Selain itu juga terdapat peritonitis TB, peritonitis
steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia, misalnya cairan empedu, barium,
dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya
penyakit Crohn)

2.3 Patofisiologi
Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa.
Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel
menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya
menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak
dapat mengakibatkan obstuksi usus.
Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran
mengalamikebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka
dapatmenimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin,
dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya
dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara
retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi
awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia.
Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami
oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut
meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem
seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan
retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan
suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah.Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan
lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan
penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi.
Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi
menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum,
aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan
meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok,
gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus
yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi
usus.

5
Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena
adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha
untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaituobstruksi usus yang
tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus
stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan
berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena
penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis.
Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan kuman S.
Typhi yang masuk tubuh manusia melalui mulut dari makan dan air yang tercemar. Sebagian
kuman dimusnahkan oleh asam lambung, sebagian lagi masuk keusus halus dan mencapai
jaringan limfoid plaque peyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertropi ditempat ini
komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi, perforasi ileum pada tifus
biasanya terjadi pada penderita yang demam selama kurang lebih 2 minggu yang disertai nyeri
kepala, batuk dan malaise yang disusul oleh nyeri perut, nyeri tekan, defansmuskuler, dan
keadaan umum yang merosot karena toksemia.
Perforasi tukak peptik khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di
epigastrium dan meluas keseluruh peritonium akibat peritonitis generalisata. Perforasi
lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang
mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam di perut. Nyeri ini timbul
mendadak terutama dirasakan di daerah epigastrium karena rangsangan peritonium oleh asam
lambung, empedu dan atau enzim pankreas. Kemudian menyebar keseluruh perutmenimbulkan
nyeri seluruh perut pada awal perforasi, belum ada infeksi bakteria, kadang fase ini disebut
fase peritonitis kimia, adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsanganperitoneum berupa
mengenceran zat asam garam yang merangsang, ini akan mengurangi keluhan untuk sementara
sampai kemudian terjadi peritonitis bakteria.
Pada apendisitis biasanya biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh
hiperplasi folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis dan neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalamibendungan,makin
lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai
keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen dan menghambat aliran
limfe yang mengakibatkan oedem, diapedesis bakteri, ulserasi mukosa, dan obstruksi vena
sehingga udem bertambah kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark
dinding apendiks yang diikuti dengan nekrosis atau ganggren dinding apendiks sehingga
menimbulkan perforasi dan akhirnya mengakibatkan peritonitis baik lokal maupun general.

6
Pada trauma abdomen baik trauma tembus abdomen dan trauma tumpul abdomen dapat
mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis bila mengenai organ yang berongga intra
peritonial. Rangsangan peritonial yang timbul sesuai dengan isi dari organ berongga tersebut,
mulai dari gaster yang bersifat kimia sampai dengan kolon yang berisi feses. Rangsangan kimia
onsetnya paling cepat dan feses paling lambat. Bila perforasi terjadi dibagian atas, misalnya
didaerah lambung maka akan terjadi perangsangan segera sesudah trauma dan akan terjadi
gejala peritonitis hebat sedangkan bila bagian bawah seperti kolon, mula-mula tidak terjadi
gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untukberkembang biak baru setelah 24
jam timbul gejala akut abdomen karena perangsangan peritoneum.

2.4 Klasifikasi
Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Peritonitis Bakterial Primer
Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada
cavumperitoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen.Penyebabnya
bersifat monomikrobial, biasanya E. Coli, Sreptococus atau Pneumococus.
Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Spesifik : misalnya Tuberculosis
2. Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis an Tonsilitis.
Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi,
keganasan intraabdomen, imunosupresi dan splenektomiKelompok resiko tinggi
adalah pasien dengan sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik, lupus eritematosus
sistemik, dan sirosis hepatis dengan asites.
b. Peritonitis Bakterial Akut Sekunder (Supurativa)
Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau
tractus urinarius. Pada umumnya organism tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis
yangfatal. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi
ini. Bakteriianaerob,khususnya spesies Bacteroides, dapat memperbesar pengaruh
bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi.
1. Luka/trauma penetrasi, yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum
peritoneal.
2. Perforasi organ-organ dalam perut, contohnya peritonitis yang disebabkan oleh
bahankimia, perforasi usus sehingga feces keluar dari usus.
3. Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal, misalnya appendisitis.

7
c. Peritonitis tersier
Peritonitis yang disebabkan oleh jamur. Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat
ditemukan.Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii
misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine.
d. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis:
1. Aseptik/steril peritonitis
2. Granulomatous peritonitis
3. Hiperlipidemik peritonitis
4. Talkum peritonitis
2.5 Tanda dan Gejala
Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau
pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, mual dan muntah, perut kembung, nafsu makan
menurun, diare, konstipasi dan tidak bisa buang gas, lemas, jantung berdebar, tatikardi,
dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum
maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang
karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang
menyakinkan atau tegang karenairitasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan
vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaan-
pemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi
(misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan
penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial, ensefalopati toksik, syok sepsis, atau
penggunaan analgesic), penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric.
2.6 Komplikasi
1) Eviserasi Luka
2) Pembentukan abses
2.7 Pemeriksaan Penunjang
1. Test laboratorium
Leukositosis
Hematokrit meningkat
Asidosis metabolik
2. Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral), didapatkan :Illeus merupakan
penemuan yang tak khas pada peritonitis.Usus halus dan usus besar dilatasi.Udara bebas dalam
rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi.
2.8 Pengobatan
8
Prinsip umum terapi pada peritonitis adalah :

a) Penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena.

b) Terapi antibiotika memegang peranan yang sangat penting dalam pengobatan infeksi

nifas.Karena pemeriksaan-pemeriksaan ini memerlukan waktu, maka pengobatan perlu

dimulai tanpa menunggu hasilnya. Dalam hal ini dapat diberikan penicillin dalam dosis

tinggi atau antibiotika dengan spectrum luas, seperti ampicillin dan lain-lain.

c) Terapi analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri.

Antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Intubasi usus dan

pengisapan membantu dalam menghilangkan distensi abdomen dan meningkatkan fungsi

usus. Cairan dalam rongga abdomen dapat menyebabkan tekanan yang membatasi

ekspansi paru dan menyebabkan distress pernapasan. Terapi oksigen dengan kanula nasal

atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat, tetapi kadang-kadang

intubasi jalan napas dan bantuan ventilasi diperlukan

(d) Tindakan bedah mencakup mengangkat materi terinfeksi dan memperbaiki penyebab.

Tindakan pembedahan diarahkan kepada eksisi terutama bila terdapat apendisitis, reseksi

dengan atau tanpa anastomosis (usus), memperbaiki pada ulkus peptikum yang

mengalami perforasi atau divertikulitis dan drainase pada abses. Pada peradangan

pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan

darurat biasanya tidak dilakukan. Diberikan antibiotik yang tepat, bila perlu beberapa

macam antibiotik diberikan bersamaan.

Disamping pengobatan dengan antibiotika, tindakan-tindakan untuk mempertinggi

daya tahan badan tetap perlu dilakukan. Perawatan baik sangat penting, makanan yang

mengandung zat-zat yang diperlukan hendaknya diberikan dengan cara yang cocok dengan

keadaan penderita, dan bila perlu transfusi darah dilakukan.Pada sellulitis pelvika dan

pelvioperitonitis perlu diamat-amati dengan seksama apakah terjadi abses atau tidak. Jika

9
terjadi abses, abses harus dibuka dengan menjaga supaya nanah tidak masuk kedalam rongga

peritoneum dan pembuluh darah yang agak besar tidak sampai dilukai.

2.9 Penatalaksanaan Medis

1. Pada pasien ini direnacanakan terapi Observasi keadaan umum dan vital sign, Pasang

NGT, DC, Puasa, IVFD NaCl 0,9 % 20 tpm, Sefalosporin , Inj Ranitidin 1 ampul / 12

jam, Transfusi PRC 300 cc, Metformin 500 mg 2x1, dan Laparatomi Eksplorasi,

2. Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang

dilakukan secara intravena karena peradangan yang menyeluruh pada membran

peritoneum menyebabkan perpindahan cairan ekstraseluler ke dalam cavum

peritoneum dan ruang intersisial, pemberian antibiotika yang sesuai, dekompresi

saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal, pembuangan fokus septik

(apendiks, dsb) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin mengalirkan nanah keluar

dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri.

3. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat.

Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik, dan kemudian dirubah jenisnya

setelah hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang

dicurigai menjadi penyebab.

4. Bila peritonitis meluas dan pembedahan dikontraindikasikan karena syok dan

kegagalan sirkulasi, maka cairan oral dihindari dan diberikan cairan vena untuk

mengganti elektrolit dan kehilangan protein. Biasanya selang usus dimasukkan melalui

hidung ke dalam usus untuk mengurangi tekanan dalam usus.

5. Bila infeksi mulai reda dan kondisi pasien membaik, drainase bedah dan perbaikan

dapat diupayakan.

10
6. Pembedahan mungkin dilakukan untuk mencegah peritonitis, seperti apendiktomi. Bila

perforasi tidak dicegah, intervensi pembedahan mayor adalah insisi dan drainase

terhadap abses.

BAB III
PENGKAJIAN KASUS

11
Tanggal / jam :
Tempat :
RM :

3. 1. Data Subyektif
1. Keluhan utama
a. Ibu mengatakan 6 minggu post kuret karena keguguran.
b. Ibu mengatakan nyeri perut seperti ditikam pisau yang dirasakan diseluruh
lapang perut, mual, muntah, serta demam, menggigil serta kurang tidur.
3.2. Data Objektif
1. Keadaan Umum : Lemah
Kesadaran : Compsmatis
Keadaan Emosional : Stabil
2. Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : 100/70 Mmhg
Suhu : 39,5 ‘c
Nadi : 100 x/m
Pernapasan : 20 x/m
Berat Badan : 55 Kg
3. Pemeriksaan Fisik
Kepala : bersih, tidak ada ketombe
Muka : tidak pucat, tidak oedem
Mata : konjungtiva tidak pucat, sklera tidak kuning
Hidung : bersih, tidak ada secret
Telinga : simetris, bersih, tidak ada serumen
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar typoid dan parotis
Ketiak : bersih, tidak ada pembesaran kelenjar limfe
Payudara : simetris, tidak ada masa
Abdomen : di uterus tidak teraba benjolan, nyeri tekan perut bagian bawah
Genetalia : tidak oedem, tidak varises, ppv lokhea alba, tidak bau busuk

4. Pemeriksaan Penunjang

12
Tidak di lakukan
3.3.ASSESSMENT
P0A1 post AB 6 minggu dengan suspek peritonitis
3.4. PLANNING
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu mengalami tanda gejala infeksi pada
bagian perut yang di tandai dengan nyeri tekan perut bagian bawah, mual, dan demam
Ev. Ibu mengerti penjelasan bidan dan merasa cemas
2. Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan melakukan
pemeriksaan radiologi ke RS
Ev. Ibu bersedia mengikuti anjuran bidan
3. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa ibu harus dirujuk agar dapat dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut
Ev. Ibu dan keluarga mengerti dan bersedia untuk dirujuk
4. Memberitahu ibu akan dulakukan pemasangan infus dan pemberian obat sebelum di
rujuk. (IVFD) Rl 20 tpm, Inj Ranitidin 1 ampul / 12 jam, Donperidon tab 3x1,
Paracetamol tab 3x1 dan Amoxicilin tab 3x1
Ev. Ibu dan keluarga mengerti dan bersedia untuk dipasang infus dan meninum obat
5. Memberikan infom consent kepada ibu tentang persetujuan pemasangan infus dan
rujukan
Ev. Ibu bersedia menandatangani surat persetujuan pemasangan infis dan dirujuk
6. Pada saat membuat surat rujukan bidan tetap memberikan suppot mental pada ibu
dengan cara memotivasi ibu untuk tetap tenang dan tidak merasa cemas
Ev. Ibu merasa sedikit tenang
7. Menganjurkan ibu untuk makan-makanan bergizi dan memperbanyak sayuran hijau
serta menganjurkan ibu untuk istirahat cukup
Ev. Ibu mengerti dan bersedia mengikuti anjuran bidan
8. Melakukan persiapan rujukan dan mengantar ibu ke tempat rujukan
Ev. Persiapan rujukan sudah siap dan pasien telah dirujuk.

BAB IV
PENUTUP
13
4.1 Kesimpulan
Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus visera
dalam rongga perut. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut
dan dinding perut sebelah dalam. Peritonitis yang terlokalisir hanya dalam rongga pelvis
disebut pelvioperitonitis.
Penyebab peritonitis antara lain : penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi,
penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual, infeksi
dari rahim dan saluran telur, kelainan hati atau gagal jantung, peritonitis dapat terjadi setelah
suatu pembedahan, dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal), iritasi tanpa infeksi.
Patofisologi peritonitis adalah reaksi awal peritoneum terhadap invasi bakteri adalah
keluarnya eksudat fibrinosa. Terbentuk kantong-kantong nanah (abses) diantara perlekatan
fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi
infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai
pita-pita fibrinosa, yang kelak dapat menyebabkan terjadinya obstruksi usus. Prinsip umum
terapi pada peritonitis adalah
1. Penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena.
2. Terapi antibiotika memegang peranan yang sangat penting dalam pengobatan infeksi nifas.
3. Terapi analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri.
4. Tindakan bedah mencakup mengangkat materi terinfeksi dan memperbaiki penyebab.
4.2 Saran
Kita sebagai seorang bidan dalam mengatasi masalah peritonitis dimasyarakat dapat
memberikan berbagai cara untuk mencegah peritonitis dan diharapkan mahasiswa/i dapat
memberikan asuhan keperawatan khususnya pada klien yang mengalami peritonitis yang
sesuai dengan apa yang dipelajari.

Daftar Pustaka
14
http://healthyenthusiast.com/peritonitis.html

http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2018/11/19/peritonitis/

http://chatcit.com/peritonitis-radang-selaput-rongga-perut/

Peritonitis,http://www.medikastore.com/med/peritonitis_pyk.php?dktg=7&UID 200705.

Rukiyah,A Y., Lia Yulianti dan Meida Liana. 2011. Asuhan kebidanan III (nifas). Jakarta :

TIM.

Silvia A. Price. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, ECG ;

JakartaDiagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : Jakarta

Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC. Jakarta

PERTANYAAN DAN JAWABAN UNTUK KELOMPOK PERITONITIS

1. Mengapa Pada pemeriksaan objektif didapatkan conjungtiva pucat,


dan pada pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 9 ?
Jawaban :
15
Karena pasien post curetage dengan hb yang rendah ditambah dengan
sedang mengalami peritonitis sehinggah ibu mengalami gangguan
tidur akibat nyeri yang dirasakan

2. Apa penyebab kasus peritonitis berdasarkan kasus ?


Jawaban :
- Disebabkan alat yang digunakan saat pasien dicuretage kkurang
steril sehinggah bakteri masuk melalui alat.
- Ibu kurang menjaga personal hygiene
- Pola nutrisi kurang baik

3. Apa resiko peritonitis terhadap ibu jika tidak dilakukan tindakan?


Jawaban :
Jika peritonitis meluas bisa menyebabkan syok dan kegagalan
sirkulasi sehinggah akan dilakukan tindakan bedah dan memperbaiki
penyebabnya.

16