Anda di halaman 1dari 11

PENGAUDITAN I

OLEH :
I Made Risky Prasetya (1707531087)
I Made Andika Wicaksana (1707531116)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN AJARAN 2018/2019
DAFTAR ISI

Cover ......................................................................................................................... i

Daftar Isi................................................................................................................... ii

Peta konsep............................................................................................................... iii

Pengertian Bukti Audit .............................................................................................. 1

Tujuan Bukti Audit .................................................................................................... 1

Manfaat Bukti Audit .................................................................................................. 2

Kecukupan Bukti Audit ............................................................................................. 2

Kompetensi Bukti Audit ............................................................................................ 3

Pendekatan Pengumpulan Bukti ................................................................................ 4

Jenis Bukti Audit ....................................................................................................... 5

Kesimpulan .............................................................................................................. 7

Daftar Pustaka ......................................................................................................... 8

PETA KONSEP

ii
semua media informasi yang digunakan oleh auditor
untuk mendukung argumentasi, pendapat atau
simpulan dan rekomendasinya dalam meyakinkan
tingkat kesesuaian antara kondisi dengan kriterianya.

Untuk mendukung
temuan, simpulan, dan Membantu membuat
rekomendasi audit. keputusan tentang
penilaian risiko
Manfaat BUKTI AUDIT Tujuan
Mempunyai peran
yang sangat penting Membantu menentukan
terhadap keberhasilan prosedur audit yang cocok
pelaksanaan audit dengan asersi dan penilaian
resiko

1. Relevansi Bukti Faktor yang 1. Materialitas


2. Sumber Informasi Mempengaruhi Kecukupan
Bukti 2. Risiko Audit
Kompetensi Bukti Audit
3. Objektivitas 3. Faktor-Faktor Ekonomi
Bukti Audit
4. Ketepatan Waktu 4. Ukuran dan Karakteristik
Populasi

1. Bukti Penerimaan
Top-down audit Fisik
evidence
Pendekatan 2. Bukti Konfirmasi
Pengumpulan Jenis Bukti
Bukti 3. Bukti Dokumentasi
Audit
4. Bukti Observasi
Bottom-up audit
evidence 5. Bukti Perhitungan
Kembali
(Recalculation)
6. Bukti Reperformance
7. Tes Analitik
8. Bukti Inquiri

iii
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN BUKTI AUDIT


Bukti audit adalah semua media informasi yang digunakan oleh auditor untuk
mendukung argumentasi, pendapat atau simpulan dan rekomendasinya dalam meyakinkan
tingkat kesesuaian antara kondisi dengan kriterianya. Tidak semua informasi bermanfaat bagi
audit, karena itu informasi harus dipilih. Pedoman pemilihan informasi yang akan digunakan
sebagai bukti audit adalah bahwa informasi tersebut harus andal sehingga mampu
meyakinkan pihak lain.
Menurut Mulyadi, Pembahasan bukti audit ini didasarkan pada Standar pekerjaan
lapangan ketiga yang berbunyi: "Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui
inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk
menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan."
Karena ada empat kata penting dalam standar tersebut yang perlu dijelaskan yaitu (1)
Bukti (2) Cukup (3) Kompeten (4) Sebagai dasar yang layak.

B. TUJUAN BUKTI AUDIT


Adapun tujuan bukti audit yaitu :
1. Membantu membuat keputusan tentang penilaian risiko dengan
mempertimbangkan salah saji berupa potensial yang akan mungkin terjadi.
Penilaian risiko audit adalah proses rekursif penelusuran bukti untuk
menentukan keyakinan dan menilai keaslian dan kebenaran bukti audit guna mendukung
penerbitan opini. Risiko audit merupakan salah satu yang menjadi perhatian auditor
dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab profesionalnya dan kemungkinan adanya
risiko audit. Risiko audit dapat ditimbulkan dari tingkat penemuan yang direncanakan
dalam menghadapi irregularities, misalnya related party transaction (transaksi
perusahaan induk dan anak atau transaksi antar keluarga); client misstate (klien
melakukan penyimpangan; kualitas komunikasi (klien tidak kooperatif); initial audit
(klien baru pertama kali audit); klien bermasalah.
2. Membantu menentukan prosedur audit yang cocok dengan asersi dan penilaian
resiko.
Asersi (assertion) adalah pernyataan manajemen yang terkandung di dalam
komponen laporan keuangan. Asersi sangat penting karena membantu auditor dalam

1
memahami bagaimana laporan keuangan mungkin disalah sajikan dan menuntun
auditor dalam mengumpulkan bukti.

C. MANFAAT BUKTI AUDIT


Mengidentifikasi jenis dan sumber bukti audit merupakan langkah awal yang baik dan
sangat menentukan tingkat ekonomi, efisiensi dan efektivitas audit yang dilakukan. Dengan
demikian, auditor harus mengidentifikasi secara jelas sifat, mutu, dan jumlah bukti audit yang
akan dikumpulkan. Adapun manfaat bukti audit adalah sebagai berikut :
1. Bukti akan digunakan untuk mendukung temuan, simpulan, dan rekomendasi audit.
Mutu simpulan dan rekomendasi audit sangat bergantung pada bukti audit ini.
2. Bukti-bukti audit mempunyai peran yang sangat penting terhadap keberhasilan
pelaksanaan audit. Oleh karena itu, bukti-bukti audit harus mendapatkan perhatian
auditor sejak tahap perencanaan audit sampai dengan akhir proses audit.

D. KECUKUPAN BUKTI AUDIT


Kecukupan bukti audit lebih berkaitan dengan kuantitas bukti audit. Hal ini berkaitan
dengan kuantitas bukti yang harus dikumpulkan oleh auditor. Faktor yang mempengaruhi
pertimbangan auditor dalam menentukan kecukupan bukti audit adalah:
 Materialitas. Auditor harus memberikan pendapat pendahuluan atas tingkat
materialitas laporan keuangan. Karena tingkat materialitas dan kuantitas bukti audit
memiliki hubungan terbalik, maka semakin rendah tingkat materialitas, semakin
banyak kuantitas bukti yang diperlukan. Sebaliknya, jika tingkat materialitas tinggi,
maka kuantitas bukti yang diperlukan pun akan semakin sedikit.
 Risiko Audit. Risiko audit dengan jumlah bukti audit yang diperlukan memilki
hubungan yang terbalik. Rendahnya resiko audit berarti tingkat kepastian yang
diyakini auditor mengenai ketepatan pendapatnya adalah tinggi. Tingginya tingkat
kepastian tersebut menuntut auditor untuk menghimpun bukti audit yang lebih
banyak.
 Faktor-Faktor Ekonomi. Pelaksanaan audit menghadapi kendala waktu dan biaya
ketika menghimpun bukti audit. Auditor memiliki keterbatasan sumber daya yang
akan digunakan untuk memperoleh bukti yang diperlukan sebagai acuan dalam
memberikan pendapat atas laporan keuangan entitas.

2
Auditor harus memperhitungkan apabila setiap tambahan waktu dan biaya untuk
mengumpulkan bukti audit memberikan manfaat terhadap kuantitas dan kualitas bukti
yang dikumpulkan.
 Ukuran dan Karakteristik Populasi. Ukuran populasi dan jumlah sampling bukti
audit memiliki hubungan yang searah. Semakin besar populasi, semakin besar jumlah
sampel bukti audit yang harus diambil dari populasi. Sebaliknya, semakin kecil
ukuran populasi, semakin kecil pula jumlah sampel bukti audit yang diambil dari
populasi. Karakteristik populasi berkaitan dengan homogenitas atau variabilitas unsur
individu yang menjadi anggota populasi. Auditor memerlukan lebih banyak sampel
bukti audit dan informasi yang lebih kuat atau mendukung tentang populasi yang
bervariasi anggotanya daripada populasi yang seragam.

E. KOMPETENSI BUKTI AUDIT


Bukti disebut kompeten sepanjang bukti tersebut konsisten dengan fakta, yaitu sah
atau valid. Berikut adalah hal-hal untuk menilai kompeten tidaknya suatu bukti:
1. Bukti yang diperoleh dari pihak ketiga yang dapat dipercaya lebih kompeten
dibandingkan dengan bukti yang diperoleh dari pihak yang diaudit.
2. Bukti yang dikembangkan dari sistem pengendalian yang efektif lebih kompeten
dibandingkan dengan bukti yang diperoleh dari pengendalian yang lemah atau yang
tidak ada pengendaliannya.
3. Bukti yang diperoleh secara langsung melalui audit fisik, pengamatan, perhitungan,
dan inspeksi lebih kompeten dibandingkan dengan bukti yang diperoleh secara tidak
langsung.
4. Dokumen asli dianggap lebih kompeten dibandingkan dengan fotokopi atau
tembusannya.
5. Bukti kesaksian yang diperoleh dalam kondisi yang memungkinkan orang berbicara
dengan bebas lebih kompeten dibandingkan dengan bukti kesaksian yang diperoleh
dalam kondisi yang tidak bebas.
6. Bukti kesaksian yang diperoleh dari individu yang independen atau pakar mengenai
bidang tersebut lebih kompeten dibandingkan dengan bukti kesaksian yang diperoleh
dari individu yang memihak atau yang hanya memiliki pengetahuan awam mengenai
bidang tersebut.
Kompetensi atau reliabilitas bahan bukti yang berupa catatan akuntansi berkaitan erat
dengan efektivitas pengendalian internal klien. Semakin efektif pengendalian intern klien,
3
semakin kompeten catatan akuntansi yang dihasilkan. Kompetensi bukti yang berupa
informasi penguat dipengaruhi oleh berbagai faktor, berikut ini :
1. Relevansi Bukti. Bukti audit yang relevan adalah yang sesuai atau tepat jika
digunakan untuk suatu maksud tertentu. Bukti yang relevan lebih kompeten daripada
bukti yang tidak relevan.
2. Sumber Informasi Bukti. Sumber informasi sangat berpengaruh terhadap
kompetensi bukti audit. Bukti yang diperoleh auditor secara langsung dari pihak luar
entitas yang independen merupakan bukti yang paling tepat dipercaya.
3. Ketepatan Waktu. Kriteria ketepatan waktu berhubungan dengan tanggal pemakaian
bukti audit. Ketepatan waktu sangat penting, terutama dalam melakukan verifikasi
atas aktiva lancar, utang lancar, dan akun surplus-defisit terkait karena berkaitan
dengan apakah cut off atau pisah batas telah dilakukan secara tepat.
4. Objektivitas. Bukti audit yang bersifat objektif lebih dapat dipercaya atau reliabel
dan kompeten daripada bukti audit yang bersifat subjektif. Dalam menelaah bukti
subjektif, seperti estimasi manajemen, auditor harus mempertimbangkan kualifikasi
dan integritas individu pembuat estimasi, dan menentukan ketepatan proses
pembuatan keputusan dalam membuat judgement.

F. PENDEKATAN PENGUMPULAN BUKTI


Pengumpulan bukti dilakukan dari 2 arah secara simultan (top-down & bottom-up) :
1. Top-down audit evidence
Fokus kepada perolehan pemahaman bisnis dan industri klien, tujuan dan
sasaran manajemen, penggunaan sumber-sumber untuk mencapai tujuan, keunggulan
kompetitif organisasi klien, proses bisnis yang utama, earnings dan cash flow yang
dihasilkan. Tujuan memperoleh pengetahuan tentang perusahaan klien dan
mengembangkan harapan auditor terhadap laporan keuangan.
2. Bottom-up audit evidence
Fokus kepada pengujian-pengujian secara langsung terhadap transaksi-
transaksi, saldo-saldo akun, dan sistem yang mencatat transaksi dan menghasilkan
saldo-saldo akun. Tujuan memperoleh dan bukti-bukti yang mendukung transaksi-
transaksi dan saldo-saldo akun dalam laporan keuangan.

4
G. JENIS BUKTI AUDIT
Bukti audit memiliki beberapa jenis yang dapat diperoleh oleh para auditor. Adapun
jenis jenis dari bukti audit itu sendiri adalah :

1. Bukti Penerimaan Fisik

Bukti fisik adalah bukti yang didapat melalui suatu pemeriksaan secara fisik
atau melalui perhitungan yang dilakukan oleh auditor terhadap harta perusahaan
seperti, barang persediaan, uang tunai, surat-surat berharga dan lain-lain.

2. Bukti Konfirmasi

Bukti konfirmasi adalah bukti yang dapat diperoleh melalui penegasan dari
pihak ketiga yang independen, berupa jawaban lisan maupun tulisan yang
membenarkan cermatnya suatu data, atas permintaan auditor.

3. Bukti Dokumentasi

Dokumentasi adalah bukti-bukti yang dapat diperoleh melalui pemeriksaan


catatan pembukuan (Vouching) yang pada umumnya dapat berupa :

 Surat pesanan pembelian/penjualan

 Dokumen pengapalan/bill of leading

 Duplikat faktur penjualan dan lain-lain

4. Bukti Observasi

Bukti observasi adalah bukti yang dapat diperoleh melalui penggunaan panca
indera, dengan acar mengamati, mendengar, menyentuh, dan mencium. Bukti audit ini
berupa :

 Hasil pengamatan terhadapa fasilitas-fasilitas umum/khusus perusahaan

 Barang-barang yang sudah tidak dapat digunakan lagi karena aus, rusak dan lain-
lain

5. Bukti Perhitungan Kembali (Recalculation)

Perhitungan kembali adalah bukti atas kecermatan mekanik yang meliputi


pengkajian kembali atas catatan-catatan pembukuan perusahaan selama tahun

5
berjalan. Misalnya : pengecekan terhadap perhitungan pemindahan pencatatan saldo
sesuai dengan kelompoknya, dan angkanya dipindahkan dengan benar.

6. Bukti Reperformance

Reperformances adalah bukti diperoleh dari pemeriksaan accounting


procedures dan control internal akuntansi. Reperformances berbeda dengan
recalculation, dimana recalculation berfokus pada perhitungan angka sedangkan
reperformances berfokus pada prosedur lainnya.

7. Tes Analitik

Analytical test adalah bukti yang dapat diperoleh melalui perbandingan saldo
dan perbandingan rasio antara tahun berjalan dan tahun sebelumnya atau dengan rasio
perusahaan lain yang sejenis.

8. Bukti Inquiri

Pengertian bukti inquiri adalah bukti yang dapat diperoleh melalui pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan oleh auditor baik tertulis maupun lisan. Bukti audit ini juga
berupa rekomendasi hasil Tanya jawab antara auditor dengan pihak klien.

6
KESIMPULAN

Bukti audit adalah semua media informasi yang digunakan oleh auditor untuk
mendukung argumentasi, pendapat atau simpulan dan rekomendasinya dalam meyakinkan
tingkat kesesuaian antara kondisi dengan kriterianya. Adapun tujuan bukti audit yaitu
membantu membuat keputusan tentang penilaian risiko dengan mempertimbangkan salah saji
berupa potensial yang akan mungkin terjadi dan membantu menentukan prosedur audit yang
cocok dengan asersi dan penilaian resiko. Selain itu, bukti audit memiliki manfaat yaitu :
1. Bukti akan digunakan untuk mendukung temuan, simpulan, dan rekomendasi audit.
2. Bukti-bukti audit mempunyai peran yang sangat penting terhadap keberhasilan
pelaksanaan audit.
Dalam audit, kecukupan bukti audit lebih berkaitan dengan kuantitas bukti audit. Hal
ini berkaitan dengan kuantitas bukti yang harus dikumpulkan oleh auditor. Faktor yang
mempengaruhi pertimbangan auditor dalam menentukan kecukupan bukti audit adalah
materialitas, risiko audit, faktor-faktor ekonomi, ukuran dan karakteristik populasi. Suatu
bukti disebut kompeten sepanjang bukti tersebut konsisten dengan fakta, yaitu sah atau valid.
Kompetensi atau reliabilitas bahan bukti yang berupa catatan akuntansi berkaitan erat dengan
efektivitas pengendalian internal klien. Semakin efektif pengendalian intern klien, semakin
kompeten catatan akuntansi yang dihasilkan. Pengumpulan bukti dilakukan dari 2 arah secara
simultan yaitu top-down dan bottom-up.
Bukti audit juga terbagi menjadi beberapa jenis. Adapun jenis jenis dari bukti audit itu
sendiri yaitu bukti penerimaan fisik, bukti konfirmasi, bukti dokumentasi, bukti observasi,
bukti perhitungan kembali (recalculation), bukti reperformance , tes analitik, dan bukti
inquiri.

7
DAFTAR PUSTAKA

Arens, Alvin ; Randal J. Elder dkk. 2009. Auditing dan Jasa Asurans. Jakarta : Salemba
Empat
http://www.belajarakuntansionline.com/contoh-jenis-jenis-bukti-audit/
http://eva-nurpitasari.blogspot.co.id/2012/06/bukti-audit.html