Anda di halaman 1dari 12

B E B E R AP A K AT A D AL AM B AH AS A L AT I N Y AN G SERING

DIGUNAK AN D ALAM PENU LIS AN RESEP (AD A DI BUKU ILMU


MERACIK OB AT)

misce fac (m.f) : Campur dan buatlah

da tales doses (d.t.d.) : Berilah sekian takaran – maksudnya adalah jumlah zat yang
ditulis pada resep, merupakan jumlah untuk 1 sediaan jadi, jika tidak
terdapat d.t.d.di dalam resep maka, jumlah zat yang ditulis pada resep,
merupakan jumlah totaluntuk seluruh jumlah sediaan yang diminta.

de die (d.d.) : sehari

cochlear (cochl.) : sendok makan

ad usum externum (ad us. ext.) : untuk pemakaian luar (seperti salep, gel, dll.)

ad usum internum (ad us. int.) : untuk pemakaian dalam (seperti sirup, suspensi, dll.)

adde (add.) : tambahkan

fac lege artis (f.l.a.) : buat menurut seni (dalam meracik obat sesuai keahlian peracik
obat)

guttae (gtt.) : tetes

gargarisma (garg.) : obat kumur

haustus (haust.) : diminum sekaligus

mixtura (mixt.) : campuran

post coenam (p.c) : setelah makan

ante coenam (a.c.) : sebelum makan

mane (m) : pagi-pagi

meridiem (merid.) : tengah hari

ante meridiem (a.merid.) : sebelum tengah hari

vespere (vesp.) : malam

omni mane (o.m.) : tiap pagi

omni nocte (o.n.) : tiap malam


omni hora (o.h.) : tiap jam

omni hora cochlear (o.h.c.) : tiap jam 1 sendok makan

omni bihorio cochlear (o.b.h.c.) : tiap 2 jam 1 sendok makan

periculum in mora (P.I.M.) : berbahaya jika ditunda – obat yang harus disediakan atau
diracik segera, harus didahulukan terlebih dahulu. Penyebabnya bisa karena orang
keracunan, dll.

potio (pot.) : minuman

Recipe (R., Rp., Rcp.) : ambillah

signa (s.) : tanda

solutio (sol., solut.) : larutan


U K U R AN C AN G K AN G K AP S U L

Dalam membuat kapsul, kamu harus memilih cangkang kapsul yang akan kamu
gunakan

Cangkan kapsul ini harus disesuaikan dengan jumlah bahan yang ingin kamu
masukkan ke dalamnya

dimana,

Acetosal dalam Nat-bikarbonat


No. ukuran Nbb* dalam gram
gram dalam gram

000 1 1,4 1,7

00 0,6 0,9 1,2

0 0,5 0,7 0,9

1 0,3 0,5 0,6

2 0,25 0,4 0,5

3 0,2 0,3 0,4

4 0,15 0,25 0,25

5 0,1 0,12 0,12


S AL I N AN R E S E P ( C O P I E R E S E P )

Copie Resep adalah salinan tertulis dari suatu resep.

Salinan resep ini ditulis sama dengan informasi yang ada di resep asli yang memuat:

 Nama dan alamat apotek


 Nama dan nomor S.I.K. Apoteker pengelola apotek
 Tanda tangan atau paraf Apoteker pengelola apotek
 Tanda det = detur untuk obat yang sudah diserahkan, atau tanda ne det = ne
deturuntuk obat yang belum diserahkan
 Nomor resep dan tanggal pembuatan
 Tanda pro copie conform (p.c.c.) = sesuai dengan aslinya

Salinan resep tidak selalu diberikan kepada pasien

Salinan resep diberikan untuk memenuhi suatu keadaan tertentu

 Jika pasien meminta untuk dibuatkan (namun ditulis det jika obat sudah diberikan
semua)
 Jika, obat belum diberikan semua (kehabisan stok di apotek) untuk bisa membeli di
apotek lain
 Jika resep merupakan resep untuk pemakaian berulang (iter)
Perhitungan dosis
Sekarang saya akan menuliskan mengenai cara perhitungan dosis dan masalah-
masalah yang sering terjadi di dalam perhitungan dosis, tulisan ini akan dibagi-bagi
dalam sub-sub topik sesuai permasalahan yang terjadi dalam perhitungan dosis.

D O S I S M A K S I M U M ( D M ) – 2 0 T A H U N K E A T AS
adalah dosis maksimum yang dapat diberikan untuk dewasa untuk pemakainan melalui
mulut, injeksi subkutan, dan rektal.
DM umumnya dituliskan seperti ini X mg/ Y mg.
 X menunjukkan dosis maksimum untuk sekali pakai
 Y menunjukkan dosis maksimum untuk sehari pakai (sebagai akumulasi maksimum dari
X)
Jadi, untuk orang dewasa, tidak perlu dikonversi dosis untuk pemakaian mulut (per
oral), langsung dimasukkan DM yang tertera pada literatur.

DOSIS LAZIM (DL)


yang menunjukkan jumlah minimal zat untuk dapat memberikan efek terapeutik
terhadap tubuh.
Dosis adalah jumlah zat yang masuk ke dalam tubuh

Ada beberapa rumus yang umum digunakan di dalam perhitungan konversi dosis :
1. Rumus Young (untuk Anak umur 2-8 tahun) :
n/n+12 x DM , dimana “n” menyatakan umur dalam tahun
2. Rumus Dilling (untuk Anak diatas 8 tahun) :
n/20 x DM
3. Rumus Fried (untuk Anak atau Bayi di bawah 2 tahun) :
m/150 x DM , dimana “m” menyatakan umur dalam bulan
4. Rumus Clark (menghitung dosis berdasarkan berat badan pasien –
termasuk dewasa) :
w/68 x DM , dimana “w” menyatakan berat dalam kg

Contoh perhitungan konversi dosis :

Penulisan resep tidak harus sama persis seperti yang diatas, bisa berbeda, asalkan
tetap memenuhi semua persyaratan resep yang berlaku.

Pertama, kamu analisa terlebih dahulu informasi yang ada di dalam resep maupun
kesalahan dalam penulisan suatu resep.
Dari resep di atas, diketahui beberapa poin penting

 Usia pasien : 2 tahun


 Parasetamol 100 mg
 Aturan pakai (s.p.r.n.t.d.d.pulv.I) = signa pro renata tres de die pulveres I = aturan
pakai, bila perlu 3 kali sehari 1 serbuk.
 Terdapat tanda d.t.d. para resep, yang menunjukkan setiap satu sediaan mengandung
jumlah zat yang sama seperti yang tertulis di resep.
Usia Susi adalah 2 tahun, maka perlu dilakukan konversi dosis terlebih dahulu dari DM.
DM parasetamol : -/4.000 mg
Maka digunakan rumus Young, sebagai berikut :

 2/2+12 x DM parasetamol
 2/14 x -/4.000 mg
 -/571,428 mg
Jadi, maksimum pemakaian parasetamol perhari untuk Susi adalah 571.428 mg.

D I H I T U N G J U M L A H P A R A S E T A M O L P E R H AR I Y A N G D I R E S E P K AN
Informasi yang dapat digunakan disini adalah 3 kali sehari 1 bungkus
Dalam 1 bungkus terdapat 100 mg parasetamol

 Sekali pakai = 100 mg parasetamol


 Sehari pakai = 100 mg parasetamol x 3 kali sehari = 300 mg perhari (tidak overdosis)
Dihitung persentase dari dosis tersebut dengan:

 300 mg/571,428 mg x 100%


 52,5%
Perlu dihitung persentase, karena jika mencapai 80% atau lebih maka peracika obat
perlu dilakukan satu persatu, tidak boleh bersamaan diracik untuk mencegah kelebihan
dosis yang terjadi.
Untuk dosis maksimum dan dosis lazim suatu zat bisa dilihat langsung di Farmakope
Indonesia ed. III (ada di halaman belakang), atau literatur lain.

D O S I S S E AR A H ( D O S I S K O M B I N A S I )
Apabila dalam suatu resep terdapat dua atau lebih obat yang mempunyai efek yang
sama, maka dosis-dosis tersebut dihitung sebagai dosis searah.
Hal ini perlu diamati dengan baik, karena kedua zat tersebut mungkin
tidak overdosisuntuk terbagi, tetapi jika tidak dicek secara baik, dapat
menimbulkan overdosiskarena terhitung dosis searah.
Dosis searah terjadi, karena dua jenis obat yang memiliki efek yang sama kemungkinan
besar akan bekerja di lokasi dan reseptor yang sama pula, jadi perlu dipertimbangkan
dosis searah jika mendapat 2 atau lebih zat dengan efek yang sama.
Cara menghitung dosis searah sangatlah mudah, dengan menjumlahkan persentase
dosis dari zat-zat tersebut.
Jika, hasil penjumlahan dosis, lebih dari 100%, maka overdosis.
Jika, setelah sudah dikonversi DM, hasil yang kamu dapat adalah overdosis, maka
kamu tinjau terlebih dahulu kesalahannya dimana, cari solusi, dan hubungi dokter
penulis resep untuk bertanya.
Perhitungan dosis untuk resep sediaan cair
Cara menghitung dosis untuk sediaan cair berbeda lagi dari sediaan yang sudah dari
awal terbagi-bagi, seperti pulveres.
Penggunaan sediaan cair, umumnya menggunakan sendok takar walau ada pula yang
langsung dihabiskan sekali minum, seperti potio effervescent yang akan dijelaskan
selanjutnya.

Yang paling pertama harus dihafal adalah istilah berikut :

 C. (Cochlear) = Sendok Makan, dosis 15 ml


 c.p. (cochlear pulvis/parfum) = Sendok Bubur, dosis 8 ml
 cth. (cochlear theae) = Sendok Teh, dosis 5 ml
 haus. (haustus) : diminum sekaligus
PERLU DIINGAT! Sendok yang dimaksudkan diatas bukan jenis sendok makan atau
sendok teh yang digunakan dirumah sehari-hari, namun sendok takar khusus yang
dosisnya sesuai.

Dari resep diatas dapat digunakan informasi berikut:


 Dalam resep tidak terdapat zat aktif, namun sebuah formula sediaan.
 p.r.n. (pro renata) = bila perlu
 4 dd. C. 1 (quadra de die Cochlear unum) = empat kali sehari, satu sendok makan (15
ml)
 Umur 20 tahun (dewasa) – tidak perlu dilakukan konversi dosis
Namun, agar kamu bisa mengerti konversi dosis untuk sediaan cair, anggap saja umur
Tono baru 15 tahun.
1. Hal pertama yang terlihat adalah tidak adanya zat aktif
Hal ini bisa terjadi, karena sebagai Apoteker Profesional, kamu dituntut untuk
mengetahui formula umum yang digunakan untuk peresepan di Indonesia. Dalam
resep, tertulis Potio Nigra Contra Tussim, terdengar sangat asing memang, namun ini
cuma obat yang sering ditemukan di kehidupan sehari-hari.
Potio artinya obat minum, Nigra artinya hitam, Contra artinya melawan atau
berlawanan, Tussim artinya batuk.
Jadi, Potio Nigra Contra Tussim berarti obat minum yang berwarna hitam untuk
melawan batuk atau Obat Batuk Hitam (OBH), sudah kenal?
Komposisi tiap 300 ml mengandung :
 Glycirrhizae Succus 10 gr
 Ammonii Chloridum 6 gr
 Ammoniae Anisi Spritus 6 gr
 Aqua Destilata ad 300 ml
Selanjutnya dihitung dosisnya untuk sekali pakai sesuai resep dan hanya 1 bahan yang
memiliki nilai Dosis Maksimum yaitu Amonium Klorida.
DL Amonium Klorida : 0,5-1/2-4 g
DM Amonium Klorida : -/8 g
Konversi dosis untuk 15 tahun:
Konversi DL = 15/20 tahun x 0,5-1/2-4 g
= 0,375-0,75/1,5 – 3 g
Konversi DM = 15/20 tahun x -/8 g
= -/6 g
 Dosis sekali pakai (1 sendok makan)
= 15/300 ml x 6 g
= 0,3 g (tidak berefek)
 Dosis sehari pakai (4 kali sehari)
= 0,3 g x 4
= 1,3 g (tidak berefek)
Dari perhitungan dosis, didapatkan bahwa dosis sekali pakai dan sehari pakai tidak
dapat memberikan efek yang diinginkan, dilihat dari DL (Dosis Lazim) yang ada
untuk Amonium Klorida. Kalau hal ini terjadi, kamu sebagai Apoteker perlu
menghubungi dokter mengenai hal ini, untuk dapat menaikkan dosis sampai tercapai
dosis lazim.
Untuk obat-obat wajib apotek (OWA), seorang apoteker dapat menentukan sendiri
tanpa perlu harus menanyakan kepada dokter

Untuk kasus ini, penulis akan menaikkan dosisnya di resep menjadi 8 g


Diulangi kembali perhitungan dosisnya,
 Dosis sekali pakai (1 sendok makan)
= 15/300 ml x 8 g
= 0,4 g (berefek)
 Dosis sehari pakai (4 kali sehari)
= 0,4 g x 4
= 1,6 g (berefek)
 % sehari pakai
= 1,6/6 g x 100%
=26,67% (tidak overdosis)
Jadi, dapat disimpulkan bahwa nantinya sediaan OBH yang kamu buat dapat
memberikan efek dalam sekali pakai dan untuk pemakaian dalam sehari.
Pasti kamu bertanya-tanya darimana datangnya angka ini, angka itu dalam perhitungan
dosis tersebut, maka kita akan menganalisanya kembali.
 Dosis sekali pakai (1 sendok makan)
= 15/300 ml x 8 g
= 0,4 g (berefek)
15/300 ml merupakan berapa besar volume cairan yang diambil dalam sekali sendok
(sendok makan) dibandingkan dengan volume sediaan seluruhnya (300 ml) dan 8 g,
merupakan dosis keseluruhan yang dilarutkan (tertera dalam resep)
 Dosis sehari pakai (4 kali sehari)
= 0,4 g x 4
= 1,6 g (berefek)
0,4 g merupakan hasil perhitungan dosis dalam sekali pakai sebelumnya, karena
digunakan 4 kali sehari, dikalikan empat.
 % sehari pakai
= 1,6/6 g x 100%
=26,67% (tidak overdosis)
1,6/6 g merupakan dosis dalam sehari pemakaian dibandingkan dengan DM sehari
pakai yang telah dikonversi. Pada sekali pakai tidak dihitung % sekali pakai, karena
tidak tercantum DM sekali pakai untuk Amonium Klorida. OBH merupakan contoh
larutan, artinya semua bahannya dapat terlarut sempurna dalam pelarut (air), sehingga
mudah untuk menghitung dosisnya, karena bahannya secara merata terbagi ke dalam
pelarut..
Peran dari pro renata diatas, adalah menjelaskan bahwa obat yang diresepkan
tidak perlu diminum setiap hari sampai habis,Namun hanya bila perlu saja, apabila
timbul batuk lagi.

Utamakan perhitungan berat badan dan volume tubuh


Dalam menghitung dosis yang tetap untuk pasien, yang paling tepat adalah dengan
menggunakan berat badan atau volume tubuh, selain usia. Karena obat yang masuk ke
dalam tubuh, akan tersebar secara sistemik ke seluruh tubuh, maka perhitungan massa
tubuh sangatlah penting, agar jumlah obat yang tersebar bisa sesuai
dengan massa atau volume tubuh pasien, dan memberikan efek yang sesuai pula
jika diambil usia pasien, hasil bisa berbeda antar pasien, karena bisa saja ada pasien
anak yang tubuhnya besar, begitupula sebaliknya untuk usia tua.

Penurunan kondisi fisiologis tubuh pada manula


Hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam menghitung dosis, melihat kondisi
fisiologis tubuh yang sudah menurun,
sehingga dapat menyebabkan perbedaan ADME obat yang terjadi di tubuh pasien.
Sehingga untuk manula, DM perlu disesuaikan sekali lagi,
 Usia 60-70 tahun, DM = 4/5 x DM dewasa
 Usia 70-80 tahun, DM = 3/4 x DM dewasa
 Usia 80-90 tahun, DM = 2/3 x DM dewasa
Untuk mencegah terjadinya overdosis pada pasien manula.
Kesalahan dalam penulisan resep
Sekali lagi saya ingin tekankan bahwa penulisan resep tidak boleh sembarangan,
karena hal ini menyangkut obat apa yang akan dikonsumsi oleh pasien, apakah nanti
obat tersebut dapat menyembuhkan atau bahkan memperparahpenyakit yang ada
pada pasien jika, ada kesalahan segera hubungi dokter yang bersangkutan, pahami
banyak mengenai bahasa latin, dan teliti dalam menghitung dosis