Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN

Dari hasil anamnesis dengan pasien, didapatkan bahwa pasien mengalami demam secara
mendadak sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit (RS). Demam dirasa terus menerus sepanjang
hari. Pasien juga mengeluhkan adanya nyeri perut serta mual dan penurunan nafsu makan.
Mimisan dan gusi berdarah disangkal. Pada infeksi dengue, demam merupakan tanda utama,
yang terjadi secara mendadak selama 2-7 hari. Selain itu, dapat disertai gejala lain, yaitu tidak
mau makan, nyeri perut, serta mual muntah, yang didapatkan pada pasien ini.

Dalam satu rumah, tidak ada yang mengalami keluhan serupa dengan pasien. Namun, beberapa
tetangga di sekitar rumah pasien ada yang mengidap demam berdarah. Jarak tetangga tersebut
hanya sekitar 2-3 rumah dari rumah pasien. Jika dicocokkan dengan distribusi nyamuk Aedes sp,
hal ini sesuai dengan jarak terbang nyamuk sejauh 50-200 meter (Anwar C, Lavita RA,
Handayani D, 2014).

Dari hasil pemeriksaan saat pasien masuk, didapatkan pasien tampak lemah dengan suhu 40.50
C. Pemeriksaan paru didapatkan simetris, suara dasar vesikuler + pada kedua lapang paru, dan
tidak ditemukan adanya suara napas tambahan, seperti ronkhi maupun wheezing. Dari
pemeriksaan jantung, didapatkan irama jantung regular dan tidak adanya murmur. Saat masuk,
dari pemeriksaan abdomen, tidak didapatkan adanya perut distended, hepatomegali, dan tanda-
tanda asites. Bising usus pasien masih normal serta suara perkusi timpani. Dari pemeriksaan juga
tidak didapatkan adanya tanda perdarahan, seperti ruam/petekie, mimisan, atau gusi berdarah
serta tanda-tanda syok, seperti akral dingin atau turgor yang kembali lambat. Dari hasil
pemeriksaan laboratorium saat pasien masuk, didapatkan adanya leukopenia (3.5 x 103/µL) serta
trombositopenia (112.000/mm3). Hematokrit pasien saat masuk sebesar 33.4%.
Dari hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium tersebut, hasilnya sesuai dengan gejala klinis
infeksi dengue berupa demam mendadak tinggi yang terjadi selama 2-7 hari. Selain itu juga
didapatkan adanya leukopenia serta trombositopenia (PPM IDAI, 2009; WHO, 20?).

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang laboratorium, pasien


didiagnosis dengan observasi febris hari ke-4 dd demam dengue dd demam berdarah dengue.
Untuk membedakan antara demam dengue dengan demam berdarah dengue, pada DBD terjadi
peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan perembesan plasma, hipovolemia, hingga
syok. Tanda perembesan plasma ini mengakibatkan ekstravasasi cairan yang ditandai dengan
efusi pleura, asites, edema pulmo, hingga syok. Pada pasien ini, saat masuk RS, belum
didapatkan adanya tanda kebocoran plasma.

Terapi awal pasien saat masuk adalah infus D5 ½ NS 15 tpm, injeksi norages 3x300 mg, pamol
sup 125 mg (ekstra), dan PO parasetamol sirup 3 x 1 ½ cth. Hal ini sudah sesuai dengan terapi
yang dimuat dalam PPM IDAI (2009). Jumlah cairan yang diberikan masih disesuaikan untuk
cairan rumatan, bukan resusitasi. Selain itu juga diberikan antipiretik untuk mengatasi gejala
demam pada pasien yang diberikan sesuai dosis per berat badan.

Selama perawatan, dilakukan pemeriksaan setiap hari serta pemeriksaan darah lengkap secara
berkala (per 24 jam) untuk dilakukan evaluasi. Dari hasil pemeriksaan fisik, pada hari ke-2
perawatan, didapatkan adanya hasil pemeriksaan fisik berupa abdomen distended, nyeri tekan (+)
pada hipokondriaka kanan dan epigastrium serta tanda undulasi pada pasien yang menandakan
adanya asites. Selain itu, dari hasil pemeriksaan laboratorium juga didapatkan adanya
kecenderungan trombositopenia persisten hingga trombosit terendah pasien sebesar 20.000/mL
pada hari kedua perawatan atau hari ke-6 demam. Hematokrit pasien juga cenderung meningkat
hingga tertinggi sebesar 49.6%. Hal ini sesuai dengan teori pola demam berdarah dengue yang
mengalami fase penurunan demam (fase kritis) pada hari 4-6 demam (WHO, 20?).
Hasil pemeriksaan fisik serta laboratorium selama perawatan pasien menunjukkan adanya
kebocoran plasma yang ditandai dengan asites serta peningkatan hematokrit. Peningkatan
hematokrit  42% merupakan bukti kebocoran plasma (WHO, 20?). Hal ini dibuktikan juga dari
pemeriksaan penunjang lain yang dilakukan pada hari ke-2 perawatan, yaitu rontgen thorax
PA/RLD (right lateral decubitus). Dari pemeriksaan, ditemukan adanya efusi pleura pada pasien.
Rontgen thorax dilakukan RLD karena pada posisi ini dapat dilakukan evaluasi efusi pleura serta
menilai volumenya. Selain itu, cairan efusi sebagian besar akan terkumpul di sudut kostofrenikus
kanan akibat pengaruh gravitasi serta di posisi ini akan lebih mudah tervisualisasi tanpa tertutup
jantung (Cahyaningrum, 2012). Rontgen thorax ini dilakukan selain untuk mengetahui adanya
perembesan plasma, juga untuk evaluasi pemberian cairan (PPM IDAI, 2009).

Dari hasil evaluasi pasien selama perawatan, diagnosis pasien berubah menjadi demam berdarah
dengue grade I-II. Untuk penegakan diagnosis demam berdarah dengue, dapat didasarkan pada
kriteria klinis dan trombositopenia serta peningkatan hematokrit. Selama perawatan, jumlah dan
jenis cairan serta pengobatan yang diberikan pada pasien tidak ada perubahan sejak pertama
masuk karena untuk demam berdarah dengue grade I-II selama perawatan, dibutuhkan cairan
rumatan saja, tidak perlu cairan resusitasi yang agresif. Untuk pengobatan simtomatis, tetap
diberikan antipiretik untuk mengurangi keluhan pasien.

Setelah melewati masa kritis, pada hari perawatan ke-4, keadaan umum pasien membaik yang
ditandai dengan berkurangnya keluhan serta dari hasil pemeriksaan fisik tanda-tanda asites sudah
tidak didapatkan. Trombosit pasien sudah mengalami peningkatan hingga 96.000/mm3 dan
hematokrit juga telah mengalami penurunan. Di akhir perawatan, trombosit pasien telah
mencapai 188.000/mm3 dan hematokrit < 40%, sehingga pasien telah memenuhi syarat untuk
dipulangkan, di ntaranya adanya perbaikan klinis dan nafsu makan membaik serta jumlah
trombosit > 50.000/mm3 (PPM IDAI, 2009).