Anda di halaman 1dari 8

Bab 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Prestasi belajar bagi siswa sangat penting karena prestasi belajar merupakan salah
satu gambaran tingkat keberhasilan dari kegiatan selama mengikuti pelajaran. Salah satu
tujuan dalam proses pembelajaran adalah meraih suatu prestasi dalam belajar. Prestasi belajar
merupakan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar
yang dilakukan oleh guru. Peranan orangtua sangatlah penting dalam membimbing bagi
anaknya dalam memotivasinya untuk giat belajar. Supaya prestasi belajarnya baik, orangtua
perlu mencurahkan seluruh bimbingan untuk anaknya.
Menurut Sardiman AM (2011) setiap siswa yang belajar itu senantiasa merupakan perubahan
tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan. Karena proses penyusutan dan
pengurangan muncul suatu pola tingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis. Prestasi
belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat
memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.
Menurut Kartono (1995) faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dikategorikan
menjadi dua yaitu faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang
terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat
biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga,
sekolah, masyarakat dan sebagainya.
Beberapa fenomena menunjukkan bahwa orang tua dengan latar pendidikan cukup sangat
perhatian terhadap pendidikan anaknya, tapi pada kondisi lain orang tua acuh bahkan tidak
tau permasalahan pendidikan anak .perhatian orang tua menjadi permasalahan tersendiri bagi
anak terutama peranorang tua dalam membimbing anak selama proses pendidikan di SD
merjosari malang.
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak.
Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan,
baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk
mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat (Yusuf, 2002).
Apabila dalam keluarga tidak mampu menerapkan atau melaksanakan fungsi-fungsinya,
berarti suatu keluarga mengalami stagnasi (kemandegan) atau disfungsi yang pada gilirannya
akan merusak kekokohan, konstelasi keluarga itu sendiri khususnya terhadap perkembangan
kepribadian anak (Yusuf, 2002). Dalam hal ini dibutuhkan perhatian orang tua dalam rangka
membimbing anak. Bimbingan orang tua selain pada bimbingan mengenai cara hidup juga
termasuk bimbingan dalam belajar. Bimbingan orang tua dalam belajar sangatlah penting.
Walaupun ada yang belajar tanpa orang tua, namun belajarnya tidak terarah. Bimbingan
terarah dari orang tua juga akan mengarahkan kemana jalan belajar yang baik yang harus
dijalani oleh anak, karena ilmu tersebut bermacam-macam jenis dan ragamnya, maka melalui
bimbingan orang tua akan mengarahkan kemana anak harus belajar dan kapan anak juga
harus belajar. Melalui bimbingan orang tua yang dipenuhi dengan kasih sayang maka akan
terwujud dan tercipta anak yang berprestasi dan bakat yang dimiliki oleh anak dapat
berkembang dengan baik. Hal yang seharusnya dikembangkan oleh orang tua dalam
membimbing anaknya adalah untuk meningkatkan prestasi belajarnya di sekolah. Karena
dengan pendidikan yang memadai dan cukup akan mudah memenuhi cita-cita para peserta
didik. Selain mendapatkan bimbingan orang tua, prestasi belajar yang didapatkan oleh para
peserta didik juga didapatkan dari dukungan guru di sekolah. Guru merupakan orang tua
kedua bagi anak dan berposisi di sekolah untuk membimbing dan memberikan pengajaran.
Guru yang memberikan pendidikan dan pelajaran di sekolah. Dalam pengajarannya guru
memerlukan metode yang tepat agar dapat dimengerti oleh siswa. Dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, pemerintah terus berupaya melakukan berbagai
reformasi dalam bidang pendidikan, diantaranya adalah dengan diluncurkannya Peraturan
Mendiknas No. 22 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan
Peraturan Mendiknas No. 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah. Pelaksanaan peraturan tersebut dikeluarkan pula Peraturan
Mendiknas No 24 tahun 2006 (Depdiknas, 2006).
Sedangkan Perkembangan sosial adalah kemampuan seseorang dalam bertingkah laku dan
berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan norma, nilai atau harapan sosial. Pada usia 2-3
tahun anak mulai belajar mengembangkan kemampuan sosial dalam bentuk belajar
memainkan peran sosial dalam aktivitas dengan teman sebayanya, dan mengembangkan
sikap sosial terhadap individu lain dan aktivitas sosial yang berada di masyarakat.
Kemampuan bersosialisasi adalah salah satu kemampuan yang perlu dikuasai anak, karena
anak akan berinteraksi dengan orang lain (Wahyudin & Agustin, 2011)
Perkembangan sosial sebagai suatu proses yang dijalani individu yang sejak lahir sudah
memiliki bermacam-macam potensi, diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku sosial
yang dalam pengertian lebih sempit diartikan sebagai tingkah laku yang sesuai dengan
kebiasaan yang dapat diterima sesuai dengan standar yang berlaku dalam suatu kelompok
tertentu. Pola tingkah laku sosial terbentuk selama tahun-tahun awal yang akan berpengaruh
terhadap pola tingkah laku sosial individu di masa-masa berikutnya.
Masa usia 2-3 tahun merupakan masa sosialisasi anak yang sesungguhnya, di mana anak
mulai mempergunakan kriteria orang dewasa dalam menilai orang-orang dan situasi. Pada
usia ini, anak biasanya sudah dapat berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa,
anak mulai melaksanakan kontak sosial dengan orang-orang diluar keluarganya terutama
dengan anak-anak seusianya (Somantri, 2005). Seorang anak akan berinteraksi dengan baik
jika dia memiliki kemampuan sosial yang ada dalam dirinya. Anak kurang sosialisasi dapat
disebabkan oleh perubahan fisik yang juga berpengaruh terhadap tingkah laku anak. Di
samping itu juga dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan berupa perubahan perlakuan orang
dewasa terhadap anak. (Somantri, 2005). Pada zaman modern ini, kebanyakan anak-anak usia
6-7 tahun lebih memilih untuk bermain hp, tab dan alat elektronik lainnya. Hal ini membuat
kebanyakan anak kurang bersosialisasi bersama teman-temannya di luar rumah. Banyak
ditemukan anak pada masa tumbuh kembang mengalami perlambatan yang dapat disebabkan
kurangnya pemenuhan kebutuhan pada diri anak termasuk masa bermain yang diharapkan
menumbuhkan kematangan dalam pertumbuhan dan perkembangan karena masa tersebut
tidak digunakan sebaik mungkin maka tentu akhirnya mengganggu tumbuh kembang anak
(Hidayat, 2005).
Beberapa dampak dari masalah sosial yang sering dialami anak adalah: anak ingin menang
sendiri, merasa berkuasa, kurang sabar menunggu giliran bila sedang bermain bersama, ingin
diperhatikan atau memilih-milih teman, agresif dengan cara menyerang orang atau anak lain,
merebut mainan atau barang orang lain, merusak barang teman lain, kurang mampu
berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan orang dan lingkungan baru. Pelaksanaan penilaian
perkembangan anak usia 2-3 tahun dapat dilakukan dengan cara: pengamatan (observasi),
wawancara (percakapan), Angket (kuesioner), dan dengan tabel sosiometri (Wahyudin &
Agustin, 2011). Sebagai suatu aktivitas yang memberikan stimulasi dalam kemampuan
keterampilan, kognitif, dan afektif maka sepatutnya diperlukan motivasi bagi anak ,
mengingat motivasi dan dukungan bagi anak merupakan suatu kebutuhan bagi dirinya
sebagaimana kebutuhan lainnya seperti kebutuhan makan, kebutuhan rasa aman, kebutuhan
kasih sayang, dan lain-lain. Bagi orang tua prestasi belajar pada anak harus selalu
diperhatikan sebagaimana memperhatikan terhadap pemenuhan kebutuhan lainnya (Hidayat,
2005). Dari ulasan di atas, peneliti tertarik untuk mengangkat tema dalam penelitian ini
dengan judul : DENGAN JUDUL :HUBUNGAN PERKEMBANGAN SOSIAL DAN
PRESTASI BELAJAR PADA ANAK USIA SEKOLAH DI SD MERJOSARI MALANG.
1.2 Rumusan Masalah

Adakah hubungan perkembangan sosial dan prestasi belajar pada anak usia sekolah ?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan hubungan perkembangan sosial dan prestasi belajar pada anak usia sekolah

1.3.2 Tujuan Khusus

a) Mengidentifikasi perkembangan sosial anak usia 6-7 tahun


b) Mengidentifikasi Prestasi belajar pada anak usia 6-7 tahun di sekolah.
c) Menganalisis hubungan antara perkembangan sosial dan prestasi belajar pada anak usia 6-7
tahun di sekolah

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Memberikan tambahan informasi kepada para mahasiswa keperawatan tentang hal-hal yang
berkaitan dengan hubungan perkembangan sosial dan prestasi belajar pada anak usia 6-7
tahun di sekolah

1.4.2 Manfaat Praktis

1.4.2.1 Bagi Peneliti Selanjutnya

Dapat digunakan sebagai referensi untuk melakukan penelitian yang terkait dengan hubungan
perkembangan sosial dan prestasi belajar pada anak usia 6-7 tahun di sekolah
1.4.2.2 Bagi Orang Tua

Memberikan informasi bagi para orang tua tentang pentingnya memperhatikan


perkembangan sosial anak untuk meningkatkan prestasi belajar pada anak di sekolah

1.4.2.3 Bagi Guru

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk memantau perkembangan sosial
anak usia 6-7tahun, agar anak-anak semakin mampu dalam meningkatkan prestasi belajar di
sekolah

1.4.2.4 Bagi Responden

Dapat meningkatkan perkembangan sosial dan prestasi belajar pada anak di sekolah
BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A.Tinjauan Pustaka
1. Tinjauan tentang Prestasi Belajar anak
1.1. Belajar

Pada kenyataannya, belajar merupakan suatu istilah yang sudah populer di kalangan
masyarakat, dapat diperkirakan kalau setiap individu sudah mengerti bahkan paham dengan
istilah tersebut. Maka dari itu, dimungkinkan jika setiap individu memiliki pendapat atau
batasan sendiri tentang belajar. Namun di dalam buku Psikologi Pendidikan yang disusun
oleh Tim Penulis Buku Psikologi Pendidikan (2006: 59) disebutkan bahwa “Para ahli pun
belum mempunyai batasan yang seragam (tentang pengertian belajar), apalagi orang awam.”
Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika kita melihat beberapa batasan yang dikemukakan
oleh para ahli guna menambah wawasan atau pengetahuan kita. Berikut batasan-batasan
mengenai belajar yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Menurut Sri Rumini, dkk. (2006: 59)
belajar adalah “Suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang relatif menetap, baik yang dapat diamati maupun tidak dapat
diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam
interaksinya dengan lingkungan.”
Dari definisi ini, lebih lanjut dijabarkan mengenai ciri-ciri belajar yakni:

1. Dalam belajar ada perubahan tingkah laku, baik tingkah laku yang dapat diamati maupun
tingkah laku yang tidak dapat diamati secara langsung.

2. Dalam belajar, perubahan tingkah laku meliputi tingkah laku kognitif, afektif, psikomotor,
dan campuran.

3. Dalam belajar, perubahan terjadi melalui pengalaman atau latihan. Jadi, perubahan tingkah
laku yang terjadi karena mukjizat, hipnotis, hal-hal gaib, proses pertumbuhan, kematangan,
penyakit, ataupun kerusakan fisik, tidak dianggap sebagai hasil belajar.

4. Dalam belajar, perubahan tingkah laku menjadi sesuatu yang relatif menetap. Bila
seseorang dengan belajar dapat membaca, maka kemampuan membaca tersebut akan tetap
dimiliki.

5. Belajar merupakan suatu proses usaha, yang artinya belajar berlangsung dalam kurun
waktu yang cukup lama. Hasil belajar yang berupa tingkah laku kadang-kadang dapat
diamati, tetapi proses belajar itu sendiri tidak dapat diamati.

6. Belajar itu terjadi karena ada interaksi dengan lingkungan. Wina Sanjaya (2008: 112)
berpendapat bahwa “Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga
menyebabkan munculnya perubahan tingkah laku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya
interaksi individu dengan lingkungannya yang disadari.” Proses mental atau aktivitas mental
yang dimaksudkan oleh Wina Sanjaya adalah bahwa proses perubahan yang terjadi dalam diri
seseorang yang belajar tidak dapat kita saksiskan. Kita hanya bisa menyaksikan perubahan
tersebut melalui gejala-gejala perubahan perilaku yang tampak. Beliau juga menjelaskan
bahwa belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan melainkan lebih kepada adanya
perubahan perilaku. W.S. Winkel (2009: 59) mendefinisikan belajar sebagai “Suatu aktivitas
mental/ psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang
menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai-
sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas”. Bagi Winkel, belajar dapat
terjadi dalam setiap interaksi/aktivitas. Namun, tidak semua aktivitas tersebut menjamin
adanya proses belajar. Agar terjadi proses belajar, orang harus aktif sendiri, melibatkan diri
dengan segala pemikiran, kemauan dan perasaannya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, terdapat beberapa persamaan pengertian tentang
belajar, yakni belajar diartikan sebagai suatu proses untuk mendapatkan perubahan. Jadi,
secara sederhana dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan
oleh seseorang untuk mendapatkan perubahan-perubahan yang relatif menetap di dalam
dirinya seperti perubahan dalam pengetahuan, kecakapan, pemahaman, minat, keterampilan,
maupun nilai atau sikap.

1.2. Prestasi Belajar

Kita sering mendengar kata prestasi dalam dunia pendidikan, karena memang itulah
tujuan dari siswa dalam menuntut ilmu, yakni prestasi optimal. Prestasi pada hakikatnya sama
dengan hasil, lebih jelasnya lagi, prestasi merupakan hasil dari suatu kegiatan/aktivitas yang
kita kerjakan. Sutratinah Tirtonegoro (2001: 43) bependapat bahwa “Prestasi Belajar adalah
penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbul, angka, huruf
maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak (dalam
hal ini siswa SD ) dalam periode tertentu. Menurut Sutratinah Tirtonegoro, dengan
mengetahui prestasi belajar anak, kita dapat mengetahui tingkat penguasaan anak selama
belajar dengan kata lain kita mampu mengetahui hasil belajar anak. Oleh sebab itu, prestasi
belajar dapat diartikan sama dengan hasil belajar.

1.3. Hasil Belajar

Kita telah mengetahui bahwa prestasi belajar itu sama dengan hasil belajar. untuk lebih
lengkapnya pemaparan dalam bab ini, berikut ditambahkan tentang definisi hasil belajar dari
beberapa ahli. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2009: 102) “Hasil belajar atau
achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau
kapasitas yang dimiliki seseorang.” Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa hampir sebagian
terbesar dari perilaku yang diperlihatkan seseorang merupakan hasil belajar. Perilaku ini
dapat berupa perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun
keterampilan motorik. Tingkat penguasaan hasil belajar biasanya dilambangkan dengan
angka 0-10 pada pendidikan dasar dan menengah serta huruf A, B, C, D pada Pendidikan
tinggi. Dimyati dan Mudjiono (2009: 3) berpendapat bahwa “Hasil belajar merupakan hasil
dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar”. Beliau menuliskan bahwa dengan
berakhirnya suatu proses belajar, maka peserta didik (siswa) akan memperoleh suatu hasil
belajar. Dari sisi guru (pengajar), tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil
belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berkahirnya penggal dan puncak tugas.
Sudjana dalam Asep Jihad dan Abdul Haris (2009: 15) berpendapat bahwa “hasil belajar
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya”. Jadi, setelah melalui proses belajar maka peserta didik (dalam hal ini adalah
siswa) tentu akan mendapatkan sesuatu seperti perubahan pemahaman, perilaku atau lebih
mudahnya dinamakan dengan hasil belajar. Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat kita
simpulkan bahwa hasil belajar siswa adalah segala sesuatu yang didapatkan siswa setelah
mengalami proses belajar.

1.4. Cara Mengukur Prestasi Belajar

Prestasi belajar siswa perlu diukur atau dinilai untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa
dalam belajar. Proses pengukuran atau penilaian prestasi belajar ini bisa juga disebut dengan
evaluasi hasil belajar. Penilaian prestasi belajar, selain menjadi motivasi tersendiri bagi siswa
juga bertujuan untuk memberikan informasi kepada guru dalam memberikan langkah-
langkah instruksional yang konstruktif guna meningkatkan prestasi
belajar siswa kedepan. Sardiman A.M. (2009: 174-175) mengemukakan langkah-langkah
yang dapat diambil untuk menilai prestasi belajar siswa:

1) Mengumpulkan data hasil belajar siswa.

a) Setiap kali ada usaha mengevaluasi selama pelajaran berlangsung.


b) Pada akhir pelajaran

2) Menganalisis data hasil belajar siswa. Dengan langkah ini guru akan mengetahui:

a) Siswa yang menemukan pola-pola belajar yang lain;


b) Keberhasilan atau tidaknya siswa dalam belajar.

3) Menggunakan data hasil belajar siswa, dalam hal ini menyangkut:

a) Lahirnya feed back untuk masing-masing siswa dan ini perlu diketahui oleh guru;
b) Adanya feed back itu maka guru akan menganalisis dengan tepat follow up atau kegiatan-
kegiatan berikutnya.

H. Daryanto (2007: 28) berpendapat bahwa secara garis besar, teknik evaluasi yang
digunakan dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu: teknik tes dan non-tes. Teknik non-tes
berupa: skala bertingkat (rating scale), kuesioner (questionaire), daftar cocok (check-list),
wawancara (interview), pengamatan (observation), riwayat hidup. Teknik tes (ditinjau dari
segi kegunaan untuk mengukur siswa) berupa: tes diagnostik, tes formatif, dan tes
sumatif.