Anda di halaman 1dari 29

PERATURAN PERUNDANGAN DAN

PERSYARATAN LAINNYA
DI BIDANG MANAJEMEN FASILITAS
RUMAH SAKIT UMUM DADI
KELUARGA

JL. SULTAN AGUNG NO 8A


TELUK – PURWOKERTO SELATAN
2018
Peraturan Perundangan
Di Bidang Manajemen Fasilitas di Rumah Sakit

No Peraturan Perundangan Materi Perundangan


1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang a. Pasal 22 :
Kesehatan. Kesehatan lingkungan
b. Pasal 23 : Kesehatan Kerja.
(1) Kesehatan kerja diselenggarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja yg optimal
(2) Kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja , pencegahan penyakit akibat kerja , dan syarat
kesehatan kerja.
(3) Setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja.
(4) Kesehatan kerja ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah
2. UU RI No.44 tahun 2009 Pasal 9 Bangunan
Tentang Rumah Sakit 1. persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung pada umumnya, sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan; dan
2. persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit, sesuai dengan fungsi, kenyamanan dan kemudahan dalam
pemberian pelayanan serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-
anak, dan orang usia lanjut.
Pasal 11 Prasarana
Prasarana Rumah Sakit : instalasi air; instalasi mekanikal dan elektrikal; instalasi gas medik; instalasi uap;
instalasi pengelolaan limbah; pencegahan dan penanggulangan kebakaran; petunjuk, standar dan sarana evakuasi
saat terjadi keadaan darurat; instalasi tata udara; sistem informasi dan komunikasi; dan ambulan. (harus dalam
keadaan terpelihara dan berfungsi dengan baik.
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
Pasal 16 Peralatan
Peralatan medis dan nonmedis harus memenuhi standar pelayanan, persyaratan mutu, keamanan, keselamatan dan
laik pakai, harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi
pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang.
Pasal 25 Perijinan RS
Izin mendirikan diberikan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) tahun. Izin
operasional diberikan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang kembali selama memenuhi
persyaratan.
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pasal 2
Indonesia Nomor 147/Menkes/PER/I/2010 (1) Setiap Rumah Sakit harus memiliki izin.
Tentang (2) Izin terdiri atas izin mendirikan Rumah Sakit dan izin operasional Rumah Sakit.
Perizinan Rumah Sakit (3) Izin operasiona terdiri atas izin operasional sementara dan izin operasional tetap.
Izin mendirikan dan izin operasional Rumah Sakit kelas C dan kelas D diberikan oleh Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Pasal 4
Untuk memperoleh izin mendirikan, Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan yang meliputi :
a. Studi kelayakan;
b. Master plan;
c. Status kepemilikan;
d. Rekomendasi izin mendirikan;
e. Izin undang-undang gangguan (ho);
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
f. Persyaratan pengolahan limbah;
g. Luas tanah dan sertifikatnya;
h. Penamaan;
i. Izin mendirikan bangunan (imb);
j. Izin penggunaan bangunan (ipb);
k. Surat izin tempat usaha (situ).
Pasal 6
Untuk mendapatkan izin operasional, Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan yang meliputi:
a. Sarana dan prasarana;
b. Peralatan;
c. Sumber daya manusia;
d. Administrasi dan manajemen.
Pasal 9
(1) Rumah sakit yang telah memiliki izin operasional sementara dan mendapatkan penetapan kelas Rumah Sakit,
diberikan izin operasional tetap.
(2) Izin operasional tetap berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang kembali selama
memenuhi persyaratan.
Pasal 15
(1) Setiap Rumah Sakit dapat mengajukan permohonan peningkatan kelas secara tertulis.
(2) Peningkatan kelas diajukan dengan melampirkan:
a. Rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi;
b. Profil dan data Rumah Sakit;
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
c. Isian Instrument Self Assessment peningkatan kelas;
d. Sertifikat lulus akreditasi kelas sebelumnya.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pasal 2
Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Pengaturan persyaratan teknis Bangunan dan Prasarana Rumah Sakit bertujuan untuk: a. mewujudkan Bangunan
Persyaratan Teknis Bangunan Dan dan Prasarana Rumah Sakit yang fungsional dan sesuai dengan tata bangunan dan prasarana yang serasi dan
Prasarana Rumah Sakit selaras dengan lingkungannya; b. mewujudkan tertib pengelolaan bangunan dan prasarana yang menjamin
keandalan teknis bangunan dan prasarana dari segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan; dan c.
meningkatkan peran serta pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam pengelolaan Rumah Sakit yang
sesuai dengan persyaratan teknis.
Pasal 3
Persyaratan teknis Bangunan dan Prasarana Rumah Sakit harus memenuhi standar pelayanan, keamanan, serta
keselamatan dan kesehatan kerja penyelenggaraan Rumah Sakit.
Pasal 7
Persyaratan teknis Bangunan Rumah Sakit terdiri atas:
a. Rencana Blok Bangunan; dilaksanakan berdasarkan ketentuan tentang tata Ruang wilayah daerah, rencana
tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan, dan peraturan bangunan daerah setempat.
b. Massa Bangunan; harus memenuhi syarat sirkulasi udara dan pencahayaan, kenyamanan, keselarasan, dan
keseimbangan dengan lingkungan.
c. tata letak bangunan (site plan); harus memenuhi syarat zonasi berdasarkan tingkat risiko penularan penyakit,
zonasi berdasarkan privasi, dan zonasi berdasarkan pelayanan atau kedekatan hubungan fungsi antar Ruang
pelayanan.
d. pemanfaatan Ruang; harus efektif sesuai fungsi pelayanan.
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
e. desain tata Ruang, harus memperhatikan alur kegiatan petugas dan pengunjung Rumah Sakit. dan komponen
bangunan, harus dapat meminimalisir risiko penyebaran infeksi.
f. Rencana Blok Bangunan Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan: a. peruntukan lokasi bangunan; b.
kepadatan bangunan; c. ketinggian bangunan; dan d. jarak bebas bangunan.
Pasal 15
(1) Bangunan Rumah Sakit harus menyediakan fasilitas yang aksesibel bagi penyandang cacat dan lanjut usia
untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi semua pengguna baik di dalam maupun diluar Bangunan Rumah
Sakit secara mudah, aman, nyaman dan mandiri.
(2) Fasilitas yang aksesibel meliputi: a. toilet; b. koridor; c. tempat parkir; d. telepon umum; e. jalur pemandu; f.
rambu atau marka; g. pintu; dan h. tangga, lift, dan/atau ram.
Pasal 18
Prasarana Rumah Sakit meliputi : a. Instalasi air; b. Instalasi mekanikal dan elektrikal; c. Instalasi gas medik dan
vakum medik; d. Instalasi uap; e. Instalasi pengelolaan limbah; f. pencegahan dan penanggulangan kebakaran;
g. petunjuk, persyaratan teknis dan sarana evakuasi saat terjadi keadaan darurat; h. Instalasi tata udara; i. sistem
informasi dan komunikasi; dan j. ambulans.
Pasal 35
(1) Rumah Sakit harus mempunyai program Pemeliharaan, pedoman dan panduan Pemeliharaan, serta lembar
kerja Pemeliharaan bangunan dan prasarana. (2) Rumah Sakit harus menyediakan biaya Pemeliharaan paling
rendah 15% (lima belas persen) dari nilai bangunan dan Prasarana Rumah Sakit.
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pasal 4
Indonesia Nomor Persyaratan Teknis Prasarana Instalasi Elektrikal Rumah Sakit berlaku bagi instalasi listrik dalam lokasi medik
2306/Menkes/Per/XI/2011 Tentang untuk memastikan keselamatan pasien dan staf medik.
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
Persyaratan Teknis Prasarana Instalasi
Elektrikal Rumah Sakit
6. KMK no,1014/Menkes/SK/XI/2008 tentang Peralatan RS kelas C / setara :
Standar Pelayanan Radiologi diagnostik di USG, Analog X-ray fixed unit atau digital, mobile X-ray, dental X-ray, Peralatan dan perlengkapan proteksi
sarana pelayanan kesehatan radiasi, quality assurance & quality control, emergency kit, kamar gelap, viewing box.

Pemeliharaan dan perawatan.


7. Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit Pedoman Teknis Arsitektur Dan Struktur Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit :
Ruang Operasi Alur sirkulasi kegiatan ruangan operasi, pembagian zona pada sarana ruang operasi rumah sakit, aksesibilitas dan
Direktorat Bina Pelayanan Penunjang hubungan antar ruang, kebutuhan ruang, sarana evakuasi dan aksesibilitas penyandang cacat, persyaratan struktur
Medik Dan Sarana Kesehatan Direktorat bangunan ruang operasi rumah sakit.
Bina Upaya Kesehatan Kementerian Pedoman Teknis Prasarana Ruang Operasi Rumah Sakit :
Kesehatan RI prasarana, instalasi mekanikal, instalasi elektrikal, instalasi proteksi kebakaran
Tahun 2012
8. Pedoman Penyusunan Rencana Induk PERSIAPAN : Pengumpulan Data Primer, Pengumpulan Data Sekunder
(Master Plan) Rumah Sakit. Direktorat ANALISIS KONDISI UMUM : Aspek Eksternal, Aspek Internal
Bina Pelayanan Penunjang Medik Dan MASTER PROGRAM
Sarana Kesehatan Direktorat Bina Upaya PROGRAM FUNGSI : Aktivitas Kerja, Hubungan Fungsional, Pengelompokan/ Zonasi, Pola Sirkulasi Kegiatan
Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Rumah Sakit, Kebutuhan Pembiayaan
Tahun 2012 RENCANA BLOK BANGUNAN DAN KONSEP UTILITAS RUMAH SAKIT : Perencanaan Blok Plan,
Perencanaan Konsep Utilitas
9. UU no.29 tahun 2004 Praktek kedokteran Pasal 29
Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat tanda
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi.
Pasal 36
Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat izin praktik.
Pasal 39
Praktik kedokteran diselenggarakan berdasarkan pada kesepakatan antara dokter atau dokter gigi dengan pasien
dalam upaya untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit
dan pemulihan kesehatan.
Pasal 44
Dokter atau dokter gigi dalam menyelenggarakan praktik kedokteran wajib mengikuti standar pelayanan
kedokteran atau kedokteran gigi.
Pasal 45
Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien
harus mendapat persetujuan.
Pasal 46
Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam medis.
Pasal 48
Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran.
Pasal 49
(1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran atau kedokteran gigi wajib
menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya.
(2) Dalam rangka pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan audit medis.
10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pasal 2
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
Indonesia Nomor (1) Setiap Dr dan Drg yang menjalankan praktik kedokteran wajib memiliki SIP. (2) SIP dikeluarkan oleh Kepala
2052/Menkes/PER/X/2011 tentang Izin Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Praktik dan Pelaksanaan Praktik Pasal 4
Kedokteran (1) SIP Dokter dan Dokter Gigi diberikan paling banyak untuk 3 (tiga) tempat praktik, baik pada fasilitas
pelayanan kesehatan milik pemerintah, swasta, maupun praktik perorangan. (2) SIP 3, dapat berada dalam
kabupaten/kota yang sama atau berbeda di provinsi yang sama atau provinsi lain.
Pasal 8
(1) Untuk memperoleh SIP, Dokter dan Dokter Gigi harus mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota tempat praktik kedokteran dilaksanakan dengan melampirkan : a. fotokopi STR yang
diterbitkan dan dilegalisasi asli oleh KKI; b. surat pernyataan mempunyai tempat praktik, atau surat keterangan
dari fasilitas pelayanan kesehatan sebagai tempat praktiknya; c. surat persetujuan dari atasan langsung bagi
Dokter dan Dokter Gigi yang bekerja pada instansi/fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah atau pada
instansi/fasilitas pelayanan kesehatan lain secara purna waktu; d. surat rekomendasi dari organisasi profesi, sesuai
tempat praktik; dan e. pas foto berwarna ukuran 4x6 sebanyak 3 (tiga) lembar dan 3x4 sebanyak 2 (dua) lembar.
11. Undang-Undang Republik Indonesia Pasal 3
Nomor 38 Tahun 2014 Pengaturan Keperawatan bertujuan :
Tentang Keperawatan a. Meningkatkan mutu Perawat;
b. Meningkatkan mutu Pelayanan Keperawatan;
c. Memberikan pelindungan dan kepastian hukum kepada Perawat dan Klien; dan
d. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
12. UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenaga Tenaga kerja mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama.
Kerjaan Perencanaan tenaga kerja dan informasi ketenagakerjaan.
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
Pelatihan kerja, pemagangan.
Penempatan tenaga kerja
13. PP Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga a. Bab 1, pengertian dan jenis tenaga kesehatan
Kesehatan b. Pasal 4, tenaga kes. dalam melakukan upaya kes. harus memp. Ijin dari Menkes.
14. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Pasal 2
Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Peraturan Pemerintah ini mengatur Pekerjaan Kefarmasian dalam pengadaan, produksi, distribusi atau
Kefarmasian penyaluran, dan pelayanan sediaan farmasi. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan.
Pasal 33
Tenaga Kefarmasian terdiri atas:
a. Apoteker; dan
b. Tenaga Teknis Kefarmasian, terdiri dari Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga
Menengah Farmasi/Asisten Apoteker.
15. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Upaya K3 di RS menyangkut tenaga kerja, cara/metode kerja, alat kerja, proses kerja dan lingkungan kerja.
Indonesia Nomor 432/Menkes/SK/IV/2007 Upaya ini meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan dan pemulihan. Kinerja setiap petugas kesehatan dan
Tentang Pedoman Manajemen Kesehatan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen K3 yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan
Dan Keselamatan Kerja (K3) Di Rumah kerja.
Sakit Bahaya Potensial di RS dapat mengakibatkan penyakit dan kecelakaan akibat kerja. Yaitu disebabkan oleh faktor
biologi (virus, bakteri dan jamur); faktor kimia (antiseptik, gas anestasi) ; faktor ergonomi (cara kerja yang
salah); faktor fisika (suhu, cahaya, bising, listrik, getaran dan radiasi); faktor psikososial (kerja bergilir, hubungan
sesama karyawan/atasan).

Upaya untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja/buruh dengan
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan,
pengobatan dan rehabilitasi.

Untuk mengurangi bahaya K3 khususnya thd pekerja , pasien, pengunjung, masy lingk RS, thd bahaya fisik,
kimia, biologi, ergonomic, dan psikososial. Bahaya kesehatan meliputi bahaya Kimia, biologik, ergonomik,
psikososial.
16. Keppres Nomor 22 Tahun 1993 tentang a. Pasal 1
Penyakit Yang Timbul Karena Hubungan Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja
Kerja b. Pasal 2
Setiap tenaga kerja yang menderita penyakit tersebut berhak mendapat jaminan kecelakaan baik pada saat
masih dalam hubungan kerja maupun setelah hubungan kerja berakhir
c. Daftar 31 jenis penyakit yang timbul karena hub kerja
17. KMK RI no.1087/Menkes/ SK/VIII/2010 RS harus memiliki kualifikasi sesuai standar K3RS dan/ memiliki sertifikasi dalam bidang kesehatan dan
tentang Standar kesehatan dan keselamatan kerja
keselamatan kerja di RS Pelaksanaan standar K3RS harus didokumentasikan dan dilaporkan secara berkala sebagai salah satu indikator
dalam penilaian akreditasi RS
18. Kepmenkes No. 1075/Menkes/SK/2003 Sistem informasi dan manajemen kesehatan kerja.
tentang Sistem Informasi Kesehatan
Kerja.
19. Kepmenkes No. 1405/Menkes/Sk/XI/2002 Persyaratan dan tata cara penyelenggaraan kes. Lingkungan kerja perkantoran dan industri.
tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Kerja. Perkantoran Dan
Industri.
20. SKB Menkes dan Menhub No. 1391 Tahun Mengkoordinasikan langkah pembinaan kesehatan kerja pada pekerja transportasi dalam upaya meningkatkan
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
2003 Dan No. Km 42 Tahun 2003 tentang derajat kesehatan dan keselamatan pekerja transportasi
Pembinaan Kesehatan Kerja pada pekerja
transportasi
21. Kepmenkes No. 913/Menkes/SK/VII/2002 Acuan bagi masyarakat termasuk pekerja dalam beraktivitas.
tentang Angka Kecukupan Gizi Yang
Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia
22. Kepmenkes No.138/Menkes/SK/II/1996 a. SetiapTKI yang akan bekerja di luar negeri dan TKA yang akan bekerja di Indonesia harus memiliki surat
tentang Pemeriksaan Tenaga Kerja keterangan sehat.
Indonesia Yang Akan Bekerja Di Luar b. Jenis yang diperiksa sesuai dengan yang diminta negara yang bersangkutan.
Negeri Dan Tenaga Kerja Asing Yang Akan c. Pemeriksaan kesehatan dilakukan di sarana pelayanan kesehatan yang mendapat izin dari Menkes.
Bekerja Di Indonesia.
23. Kepmenkes no 424/MENKES/SK/IV/2007 Jenis-jenis pelayanan kesehatan kerja
tentang pedoman upaya kesehatan a. Promosi Kesehatan (Kesehatan pekerja dan lingkungan
pelabuhan dalam rangka karantina kerja)
kesehatan b. Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit akibat
kerja
c. Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja (sebelum
kerja/berkala tahunan/khusus)
d. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)
e. Pembinaan dan pengawasan APD ( penyuluhan dan
pemilihan alat pelindung diri)
Prosedur pelayanan kesehatan kerja, Bahan, Obat dan Peralatan
24. UU No 10 Tahun 1997 tentang Ketenaga BAB VI. Pengelolaan limbah radioaktif
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
Nukliran Pengelolaan limbah RA untuk mencegah timbulnya bahaya radiasi terhadap pekerja, masyarakat dan lingkungan
hidup. Limbah RA diklasifikasikan : rendah / sedang / tinggi. Wajib mengumpulkan, mengelompokkan dan
menyimpan sementara
25. PP RI no.101 tahun 2014 tentang PP ini mengatur mengenai :
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Penetapan limbah B3
dan Beracun Pengurangan limbah B3
Penyimpanan limbah B3
Pengumpulan limbah B3
Pengangkutan limbah B3
Pemanfaatan limbah B3
Pengolahan limbah B3
Penimbunan limbah B3
Dumping (pembuangan) limbah B3
Pengecualian limbah B3
Perpindahan lintas batas limbah B3
Penanggulangan pencemaran lingkungan hidup dan atau kerusakan lingkungan dan pemulihan fungsi lingkungan
hidup
Sistem tanggap darurat dalam pengelolaan limbah B3
Pembinaan, Pengawasan, Pembiayaan dan Sanksi administratif
26. PP Nomor 18 Tahun 1999 tentang a. Pasal 3
Pengelolaan B3 Larangan membuang B3 secara langsung
b. Lampiran tabel menyebutkan RS dan sarana kesehatan lain termasuk penghasil B3
27. PP No.33 Tahun 2007 tentang keselamatan Persyaratan ijin pemanfaatan tenaga nuklir wajib memenuhipersyaratan keselamatan radiasi, meliputi persyaratan
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
radiasi pengion dan keamanan sumber manajemen, persyaratan proteksi radiasi, persyaratan teknik dan verifikasi keselamtan.
radioaktif
28. PP Nomor 63 Tahun 2000 tentang a. SIM Keselamatan Radiasi
Keselamatan Dan Kesehatan Terhadap b. Pasal 10, Pemantauan Dosis
Pemanfaatan Radiasi Pengion c. Pasal 19, Pemeriksaan Kesehatan
29. Permenkes No.84/Menkes/Per /II/1990 Merubah dan menambah bahwa pelayanan swasta di bidang medik merupakan bagian integral dari jejaring
tentang Perubahan atas permenkes no. 920 pelayanan medik perorangan, kelompok, yayasan atau badan hukum, yang meliputi upaya kuratif, rehabilitatif,
tentang upaya pelayanan kesehatan swasta promotif dan preventif.
di bidang medik.
30. Kepmenkes No. 1350/2001 tentang Pengelolaan Tenaga dan perlengkapan pelindung
Pestisida
31. Kepmenkes 907/MENKES/PER/2002 tentang a. Jenis air minum harus memenuhi syarat kesehatan air minum.
Syarat-Syarat Dan Pengawasan Kualitas Air b. Persyaratan kesehatan meliputi ; bakteriologis, kimiawi, radioaktif dan fisik.
Minum
32. Permenkes no.492/MENKES/PER/IV/2010 Air minum aman bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan fisika, kimiawi, mikrobiologis dan radiologis
Persyaratan kualitas air yang dimuat dalam parameter wajib dan parameter tambahan. Parameter ada dalam lampiran.
33. Permenkes RI no.736/MENKES/PER/VI/2010 Pasal 10
tentang Tata Laksana Pengawasan Kualitas Kegiatan pengawasan kualitas air minum meliputi :
Air Minum Inspeksi sanitasi dilakukan dengan cara pengamatan dan penilaian kualitas fisik air minum dan faktor resikonya,
pengambilan sampel air minum dilakukan berdasarkan hasil inspeksi sanitasi, pengujian kualitas air minum
dilakukan di laboratorium yang terakreditasi, analisis hasil pengujian laboratorium, rekomendasi untuk
pelaksanaan tindak lanjut, dan pemantauan pelaksanaan tindak lanjut.
34. Kepmenkes No. 1406 Tahun 2002 tentang Standar pemeriksaan kadar timah hitam pada spesimen biomarker manusia
Standar Pemeriksaan Kadar Timah Hitam
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
Pada Spesimen Biomarker Manusia
35. Kepmenkes 1407/Menkes/SK/XI/2002 Kegiatan pelaks. Pengendalian terlebih dahulu didasarkan renc.lima tahunan : tenaaga,peralatan, sektor
tentang Pedoman Pengendalian.Dampak terkait,strategi, dan biaya
Pencemaran Udara
36. Kepmenkes No. 1439/Menkes/SK/VI/2002 Penggunaan gas medis pada sarana pelayanan kesehatan.
Tentang Penggunaan Gas Medis Pada
Sarana Pelayanan Kesehatan.
37. Kepmenkes No. 1217/Menkes/SK/XII/2003 Dilakukan untuk pengamanan lingkungan tempat radiasi dengan cara-cara yang ditetapkan.
tentang Pedoman Pengamanan Dampak
Radiasi.
38. Kepmenkes No. 1204/2004 tentang Persyaratan , persyaratan tenaga , kurikulum, penilaian pemeriksaaan kes ling kes. RS.
Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit.
39. Keputusan Bersama Dirjen Binawas Penanggulangan anemia gizi (kekurangan zat besi) bagi pekerja wanita.
Depnaker Dan Dirjen Binkesmas Depkes
No. Kep.22/BW/96 – No.
202/BW/DJ/BGM/II/96 tentang
Penanggulangan Anemia Gizi
(Kekurangan Zat Besi) Bagi Pekerja
Wanita.
40. SKB Menkes dan Bapeten No. Pelaksanaan, metodologi pemantauan, hasil pemantauan.
1193/Menkes/2000 dan No.
003/Bapeten/2000 tentang Pembinaan Dan
Pengawasan Keselamatan Dalam
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
Pemanfaatan Tenaga Nuklir Di Bidang
Kesehatan
41. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Formularium Nasional merupakan daftar obat terpilih yang dibutuhkan dan harus tersedia di fasilitas pelayanan
Indonesia Nomor kesehatan dalam rangka pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional. Dalam hal obat yang dibutuhkan tidak
Hk.01.07/Menkes/659/2017 Tentang tercantum dalam Formularium Nasional, dapat digunakan obat lain secara terbatas berdasarkan persetujuan
Formularium Nasional Direktur Rumah Sakit setempat.
42. Kepmenkes No. 1197 Tahun 2004 tentang Standar pelayanan kefarmasian di RS, pengelolaan, pelayanan

Standar Pelayanan Farmasi Di Rumah


Sakit
43. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Pasal 5
tentang Narkotika (Lembaran Negara Pengaturan Narkotika dalam Undang-Undang ini meliputi segala bentuk kegiatan dan/atau perbuatan yang
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor berhubungan dengan Narkotika dan Prekursor Narkotika.
143, Tambahan Lembaran Negara Pasal 6
Republik Indonesia Nomor 5062); Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 digolongkan ke dalam: a. Narkotika Golongan I; b. Narkotika
Golongan II; dan c. Narkotika Golongan III.
Pasal 7
Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Pasal 8
(1) Narkotika Golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan. (2) Dalam jumlah terbatas,
Narkotika Golongan I dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan
untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan Menteri atas
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Pasal 14
(1) Narkotika yang berada dalam penguasaan Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan
sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan
lembaga ilmu pengetahuan wajib disimpan secara khusus. (2) Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, sarana
penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan,
dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat, menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala
mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran Narkotika yang berada dalam penguasaannya.
Pasal 35
Peredaran Narkotika meliputi setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan penyaluran atau penyerahan Narkotika,
baik dalam rangka perdagangan, bukan perdagangan maupun pemindahtanganan, untuk kepentingan pelayanan
kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pasal 43
(1) Penyerahan Narkotika hanya dapat dilakukan oleh: a. apotek; b. rumah sakit; c. pusat kesehatan masyarakat; d.
balai pengobatan; dan e. dokter.
(2) Apotek hanya dapat menyerahkan Narkotika kepada: a. rumah sakit; b. pusat kesehatan masyarakat; c. apotek
lainnya; d. balai pengobatan; e. dokter; dan f. pasien.
(3) Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat, dan balai pengobatan hanya dapat menyerahkan Narkotika
kepada pasien berdasarkan resep dokter.
(4) Penyerahan Narkotika oleh dokter hanya dapat dilaksanakan untuk: a. menjalankan praktik dokter dengan
memberikan Narkotika melalui suntikan; b. menolong orang sakit dalam keadaan darurat dengan memberikan
Narkotika melalui suntikan; atau c. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
(5) Narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu yang diserahkan oleh dokter sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) hanya dapat diperoleh di apotek.
Pasal 53 Pengobatan
(1) Untuk kepentingan pengobatan dan berdasarkan indikasi medis, dokter dapat memberikan Narkotika
Golongan II atau Golongan III dalam jumlah terbatas dan sediaan tertentu kepada pasien sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(2) Pasien dapat memiliki, menyimpan, dan/atau membawa Narkotika untuk dirinya sendiri. Pasien harus
mempunyai bukti yang sah bahwa Narkotika yang dimiliki, disimpan, dan/atau dibawa untuk digunakan
diperoleh secara sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
44. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009
tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5419);
45. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Narkotika merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan atau pelayanan kesehatan dan
Indonesia Nomor 41 Tahun 2017 Tentang pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi dapat menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila
Perubahan Penggolongan Narkotika disalahgunakan atau digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan saksama; terdapat
peningkatan penyalahgunaan zat psikoaktif baru yang memiliki potensi sangat tinggi mengakibatkan
ketergantungan dan membahayakan kesehatan masyarakat yang belum termasuk dalam golongan narkotika
sebagaimana diatur dalam Lampiran I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Pasal 1
Daftar narkotika golongan I, golongan II dan golongan III
46. Kepmenkes No 567 tahun 2006 ttg o Mengurangi praktek penggunaan bersama peralatan menyuntik.
Pedoman Pelaksanaan pengurangan o Mengurangi jumlah pasangan yang diajak penggunaan bersama serta mengurangi kesempatan penggunaan
dampak buruk NAPZA
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
bersama.
o Risiko-risiko dari berbagai tehnik mempersiapkan penyuntikan Napza dan cara penggunaan bersama yang
aman.
o Risiko-risiko dari berbagai tehnik berbeda dalam berbagi Napza (contohnya antara pengisian dari depan
dengan pengisian dari belakang).
o Risiko-risiko dari berbagi peralatan menyuntik (contohnya filter, wadah, air).
o Tehnik-tehnik untuk membersihkan dan suci hama peralatan suntik.
o Bagaimana cara memperoleh jarum suntik steril.
o Pemusnahan yang aman terhadap peralatan suntik yang telah terkontaminasi.
o Cara-cara lain dalam menggunakan Napza (contohnya alternatif-alternatif lain dari menyuntik).
o Layanan perawatan Napza yang tersedia.
o Pencegahan Hepatitis B (termasuk vaksinasi) dan Hepatitis C.
o Perawatan pembuluh darah dan abses.
o Penggunaan kondom dan hubungan seks yang lebih aman.
o Rincian nama dan alamat dari orang/organisasi yang bisa dihubungi untuk layanan kesehatan, kesejahteraan,
serta layanan lainnya.
47. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pasal 2
Indonesia Nomor Jasaboga golongan B merupakan jasaboga yang melayani kebutuhan masyarakat dalam kondisi tertentu, meliputi:
1096/MENKES/PER/VI/2011
fasilitas pelayanan kesehatan.
Tentang
Higiene Sanitasi Jasaboga Pasal 5
Pengelolaan makanan oleh jasaboga harus memenuhi higiene sanitasi dan dilakukan sesuai cara pengolahan
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
makanan yang baik.
48. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pasal 2
Indonesia Nomor Ruang lingkup meliputi Organisasi, Standar Keselamatan Pasien, Sasaran Keselamatan Pasien, Penyelenggaraan
1691/Menkes/PER/VIII/2011
Keselamatan Pasien Rumah Sakit, Pelaporan Insiden, Analisis dan Solusi, serta Pembinaan dan Pengawasan.
Tentang Keselamatan Pasien RS
Pasal 6
(1) Setiap rumah sakit wajib membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit (TKPRS) yang ditetapkan oleh
kepala rumah sakit sebagai pelaksana kegiatan keselamatan pasien.
(2) TKPRS bertanggung jawab kepada kepala rumah sakit.
(3) Keanggotaan TKPRS terdiri dari manajemen rumah sakit dan unsur dari profesi kesehatan di rumah sakit.
(4) TKPRS melaksanakan tugas :
a. mengembangkan program keselamatan pasien di rumah sakit sesuai dengan kekhususan rumah sakit
tersebut;
b. menyusun kebijakan dan prosedur terkait dengan program keselamatan pasien rumah sakit;
c. menjalankan peran untuk melakukan motivasi, edukasi, konsultasi, pemantauan (monitoring) dan penilaian
(evaluasi) tentang terapan (implementasi) program keselamatan pasien rumah sakit;
d. bekerja sama dengan bagian pendidikan dan pelatihan rumah sakit untuk melakukan pelatihan internal
keselamatan pasien rumah sakit;
e. melakukan pencatatan, pelaporan insiden, analisa insiden serta mengembangkan solusi untuk
pembelajaran;
f. memberikan masukan dan pertimbangan kepada kepala rumah sakit dalam rangka pengambilan kebijakan
Keselamatan Pasien Rumah Sakit; dan
g. membuat laporan kegiatan kepada kepala rumah sakit.
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
Standar Keselamatan Pasien meliputi:
A. Hak pasien;
B. Mendidik pasien dan keluarga;
C. Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan;
D. Penggunaan metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan
pasien;
E. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien;
F. Mendidik staf tentang keselamatan pasien; dan
G. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.
Sasaran Keselamatan Pasien meliputi tercapainya hal-hal sebagai berikut:
a. Ketepatan identifikasi pasien;
b. Peningkatan komunikasi yang efektif;
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai;
d. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi;
e. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan; dan
f. Pengurangan risiko pasien jatuh.
Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit terdiri dari:
a. membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien;
b. memimpin dan mendukung staf;
c. mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko;
d. mengembangkan sistem pelaporan;
e. melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien;
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
f. belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien; dan
g. mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien.
49. Undang-Undang Republik Indonesia Pasal 5
Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Wabah (1) Upaya penanggulangan wabah meliputi:
Penyakit Menular a. penyelidikan epidemiologis;
b. pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita, termasuk tindakan karantina;
c. pencegahan dan pengebalan;
d. pemusnahan penyebab penyakit;
e. penanganan jenazah akibat wabah;
f. penyuluhan kepada masyarakat;
g. upaya penanggulangan lainnya.
50. Permenkes No. 560/Menkes/Per/VII/1989 Pelaksanaan dari PP No. 40/1990 tentang Penanggulangan Penyakit Menular.
tentang Jenis Penyakit tertentu yang dapat
menimbulkan wabah, Tata cara
penyampaian laporannya dan tata cara
penanggulangan seperlunya.
51. Kepmenkes No. 424/Menkes/SK/2003 Semua penunpang dari dan keluar bandara/ pelabuhan harus diperiksa, termasuk TKI.
tentang Penetapan Severe Acute
Respiratory Syndrome (Sars) Sebagai
Penyakit Yang Dapat Menimbulkan
Wabah Dan Pedoman
Penanggulangannya.
52. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pasal 3
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
Indonesia Nomor 27 Tahun 2017 Tentang (1) Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus melaksanakan PPI. Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus
Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian melakukan: a. surveilans; dan b. pendidikan dan pelatihan PPI. Pelaksanaan PPI dilakukan melalui
Infeksi Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan pembentukan Komite atau Tim PPI. Komite atau Tim PPI merupakan organisasi nonstruktural pada Fasilitas
Pelayanan Kesehatan yang mempunyai fungsi utama menjalankan PPI serta menyusun kebijakan pencegahan
dan pengendalian infeksi termasuk pencegahan infeksi yang bersumber dari masyarakat berupa Tuberkulosis,
HIV (Human Immunodeficiency Virus), dan infeksi menular lainnya.
(2) PPI dilaksanakan melalui penerapan: a. prinsip kewaspadaan standar dan berdasarkan transmisi; b.
penggunaan antimikroba secara bijak; dan c. bundles, merupakan sekumpulan praktik berbasis bukti sahih
yang menghasilkan perbaikan keluaran poses pelayanan kesehatan bila dilakukan secara kolektif dan
konsisten.
Penerapan PPI sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan terhadap infeksi terkait pelayanan HAIs dan
infeksi yang bersumber dari masyarakat.
53. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pasal 3
Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Strategi Program Pengendalian Resistensi Antimikroba dilakukan dengan cara: a. mengendalikan berkembangnya
Program Pengendalian Resistensi mikroba resisten akibat tekanan seleksi oleh antibiotik, melalui penggunaan antibiotik secara bijak; dan b.
Antimikroba Di Rumah Sakit mencegah penyebaran mikroba resisten melalui peningkatan ketaatan terhadap prinsip pencegahan dan
pengendalian infeksi.
Pasal 4
(1) Penggunaan antibiotik secara bijak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan penggunaan
antibiotik secara rasional dengan mempertimbangkan dampak muncul dan menyebarnya mikroba (bakteri)
resisten.
(2) Penerapan penggunaan antibiotik secara bijak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
tahapan:
a. meningkatkan pemahaman dan ketaatan staf medis fungsional dan tenaga kesehatan dalam penggunaan
antibiotik secara bijak;
b. meningkatkan peranan pemangku kepentingan di bidang penanganan penyakit infeksi dan penggunaan
antibiotik;
c. mengembangkan dan meningkatkan fungsi laboratorium mikrobiologi klinik dan laboratorium penunjang
lainnya yang berkaitan dengan penanganan penyakit infeksi;
d. meningkatkan pelayanan farmasi klinik dalam memantau penggunaan antibiotik;
e. meningkatkan pelayanan farmakologi klinik dalam memandu penggunaan antibiotik;
f. meningkatkan penanganan kasus infeksi secara multidisiplin dan terpadu;
g. melaksanakan surveilans pola penggunaan antibiotik, serta melaporkannya secara berkala; dan
h. melaksanakan surveilans pola mikroba penyebab infeksi dan kepekaannya terhadap antibiotik, serta
melaporkannya secara berkala.
Pasal 6
(1) Setiap rumah sakit harus melaksanakan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba secara optimal. (2)
Pelaksanaan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba dilakukan melalui: a. pembentukan tim pelaksana
program Pengendalian Resistensi Antimikroba; b. penyusunan kebijakan dan panduan penggunaan antibiotik; c.
melaksanakan penggunaan antibiotik secara bijak; d. melaksanakan prinsip pencegahan pengendalian infeksi.
54. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pasal 2
Indonesia Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan HIV dan AIDS secara komprehensif dan berkesinambungan yang terdiri atas promosi kesehatan,
Penanggulangan HIV dan AIDS pencegahan, diagnosis, pengobatan dan rehabilitasi terhadap individu, keluarga, dan masyarakat.
Pasal 3
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
Pengaturan Penanggulangan HIV dan AIDS bertujuan untuk:
a. menurunkan hingga meniadakan infeksi HIV baru; b. menurunkan hingga meniadakan kematian yang
disebabkan oleh keadaan yang berkaitan dengan AIDS; c. meniadakan diskriminasi terhadap ODHA; d.
meningkatkan kualitas hidup ODHA; dan e. mengurangi dampak sosial ekonomi dari penyakit HIV dan AIDS
pada individu, keluarga dan masyarakat.
Pencegahan meliputi upaya :
a. pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual;
b. pencegahan penularan HIV melalui hubungan non seksual;
c. pencegahan penularan HIV dari ibu ke anaknya;
Pasal 21
Pemeriksaan diagnosis HIV dilakukan untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penularan atau peningkatan
kejadian infeksi HIV. dilakukan berdasarkan prinsip konfidensialitas, persetujuan, konseling, pencatatan,
pelaporan dan rujukan. Prinsip konfidensial berarti hasil pemeriksaan harus dirahasiakan dan hanya dapat dibuka
kepada : a. yang bersangkutan; b. tenaga kesehatan yang menangani; c. keluarga terdekat dalam hal yang
bersangkutan tidak cakap; d. pasangan seksual; dan e. pihak lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 22
(1) Pemeriksaan diagnosis HIV dilakukan melalui KTS atau TIPK, harus dilakukan dengan persetujuan pasien.
Kecuali dalam hal: a. penugasan tertentu dalam kedinasan tentara/polisi; b. keadaan gawat darurat medis untuk
tujuan pengobatan pada pasien yang secara klinis telah menunjukan gejala yang mengarah kepada AIDS; dan c.
permintaan pihak yang berwenang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 23
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
(1) KTS dilakukan dengan langkah-langkah meliputi:
a. konseling pra tes; dilakukan dengan tatap muka atau tidak tatap muka dan dapat dilaksanakan bersama
pasangan (couple counseling) atau dalam kelompok (group counseling).

b. tes HIV;
c. konseling pasca tes. harus dilakukan tatap muka dengan tenaga kesehatan atau konselor terlatih.
(2) KTS hanya dilakukan dalam hal pasien memberikan persetujuan secara tertulis.
Pasal 24
(1) TIPK dilakukan dengan langkah-langkah meliputi: a. pemberian informasi tentang HIV dan AIDS sebelum
tes; b. pengambilan darah untuk tes; c. penyampaian hasil tes; dan d. konseling.

(2) Tes HIV pada TIPK tidak dilakukan dalam hal pasien menolak secara tertulis.

(3) TIPK harus dianjurkan sebagai bagian dari standar pelayanan bagi: a. setiap orang dewasa, remaja dan anak-
anak yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan dengan tanda, gejala, atau kondisi medis yang mengindikasikan
atau patut diduga telah terjadi infeksi HIV terutama pasien dengan riwayat penyakit tuberculosis dan IMS; b.
asuhan antenatal pada ibu hamil dan ibu bersalin; c. bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan infeksi HIV; d. anak-
anak dengan pertumbuhan suboptimal atau malnutrisi di wilayah epidemi luas, atau anak dengan malnutrisi yang
tidak menunjukan respon yang baik dengan pengobatan nutrisi yang adekuat; dan e. laki-laki dewasa yang
meminta sirkumsisi sebagai tindakan pencegahan HIV.
Pasal 25
(1) Tes HIV untuk diagnosis dilakukan oleh tenaga medis dan/atau teknisi laboratorium yang terlatih.
(2) Dalam hal tidak ada tenaga medis dan/atau teknisi laboratorium, bidan atau perawat terlatih dapat melakukan
tes HIV.
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
(3) Tes HIV dilakukan dengan metode rapid diagnostic test (RDT) atau EIA (Enzyme Immuno Assay).
Pasal 30
(1) Setiap fasilitas pelayanan kesehatan dilarang menolak pengobatan dan perawatan ODHA.
(2) Dalam hal fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak mampu memberikan
pengobatan dan perawatan, wajib merujuk ODHA ke fasilitas pelayanan kesehatan lain yang mampu atau ke
rumah sakit rujukan ARV.
55. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Pasal 12
Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 Tentang (1) Penanganan kasus dalam Penanggulangan TB dilakukan melalui kegiatan tata laksana kasus untuk memutus
Penanggulangan Tuberkulosis mata rantai penularan dan/atau pengobatan pasien.
(2) Tata laksana kasus terdiri atas: a. pengobatan dan penanganan efek samping di Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
b. pengawasan kepatuhan menelan obat; c. pemantauan kemajuan pengobatan dan hasil pengobatan; dan/atau
d. pelacakan kasus mangkir.
(3) Tata laksana kasus dilaksanakan sesuai dengan pedoman nasional pelayanan kedokteran tuberkulosis dan
standar lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 15
Pemberian obat pencegahan TB (dilakukan selama 6 (enam) bulan) ditujukan pada: a. anak usia di bawah 5 (lima)
tahun yang kontak erat dengan pasien TB aktif; b. orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang tidak terdiagnosa
TB; atau c. populasi tertentu lainnya.
56. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Vektor adalah artropoda yang dapat menularkan, memindahkan dan/atau menjadi sumber penular penyakit
Indonesia Nomor : 374/ Me Nke S / Pe R/ terhadap manusia. Pengendalian vektor adalah semua kegiatan atau tindakan yang ditujukan untuk menurunkan
I I I / 2010 populasi vektor serendah mungkin sehingga keberadaannya tidak lagi berisiko untuk terjadinya penularan
Tentang Pengendalian Vektor penyakit tular vektor di suatu wilayah atau menghindari kontak masyarakat dengan vektor sehingga penularan
No Peraturan Perundangan Materi Perundangan
penyakit tular vektor dapat dicegah.

Upaya pengendalian vektor secara terpadu (PVT) merupakan pendekatan pengendalian vektor yang dilakukan
berdasarkan pertimbangan keamanan, rasionalitas dan efektivitas pelaksanaannya serta berkesinambungan (3)
Upaya pengendalian vektor dilaksanakan berdasarkan data hasil kajian surveilans epidemiologi antara lain
informasi tentang vektor dan dinamika penularan penyakit tular vektor.

Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan secara fisik atau mekanis, penggunaan agen
biotik, kimiawi, baik terhadap vektor maupun tempat perkembangbiakannya dan/atau perubahan perilaku
masyarakat serta dapat mempertahankan dan mengembangkan kearifan lokal sebagai alternatif.

Setiap tenaga pengendalian vektor harus mengunakan perlengkapan pelindung diri (PPD) dari bahaya insektisida
dalam melaksanakan tugasnya. Penggunaan pestisida rumah tangga harus mengikuti petunjuk penggunaan
sebagaimana tertera pada label produk Peralatan yang digunakan dalam pengendalian vektor harus memenuhi
Standar Nasional Indonesia (SNI)

Purwokerto, 3 September 2018

Mengetahui, Penyusun,
Direktur RSU Dadi Keluarga Ketua Tim Manajemen Fasilitas dan keselamatan

dr. Eggy Jita Pradana dr. Setia Rini, MM