Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

“SEJARAH PENJAJAHAN INGGRIS

DI INDONESIA”

“Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Pendidikan Kewarganegaraan”

Dosen Pengampu

Taufik Faturrohman, S. S., M.Pd

disusun oleh :

Hendra Hermawan NIM :18.44238.1030

Ferry Samuel NIM :18.44238.1001

Jamal Nurjaman NIM :18.44238.1004

AKADEMI FARMASI

YAYASAN PENDIDIKAN FARMASI

2018
i

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala

limpahan berkat dan rahmat-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan

makalah yang berjudul “SEJARAH PENJAJAHAN INGGRIS DI INDONESIA”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapat masukan dari

berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami

menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi

dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa ada kekurangan baik dari segi

susunan kalimat ataupun tata bahasanya. Maka dari itu, kami sangat menerima dengan

besar hati segala masukan, saran, dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki

makalah ini dan menjadikannya pelajaran agar makalah selanjutnya menjadi lebih baik.

Akhir kata, kami berharap makalah ini dapat berguna bagi pembaca dan bermanfaat,

serta memberikan inspirasi bagi pembacanya. Amin.

Bandung, 09 November 2018

Penulis

i
ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………….……….……… i

Daftar Isi…………………………………………………………..………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ………………….……………………….…….…………. 1

1.2 Tujuan Umum …….…………….……………………….……….……….. 2

1.3 Tujuan Khusus ………………………………………….……….………… 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Awal Pemerintahan Inggris ….……………………………...……. 4

2.2 Latar Belakang Pendudukan Inggris ………………………………….…… 5

2.3 Kebijakan Pemerintahan Inggris ……………………...…………………… 6

2.4 Pelaksanaan Sistem Sewa Tanah …………………………………………. 7

2.5 Kebijakan Pemerintahan Thomas S. Raffles ………………………...…… 10

2.6 Akhir Penjajahan Inggris di Indonesia …………………………………… 14

BAB III KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan …………………………………………………………….… 15

DAFTAR PUSTAKA

ii
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Latar belakang kedatangan Inggris ke Indonesia diawali oleh Francis Drake

dan Thomas Cavendish. Dengan mengikuti jalur yang dilalui Magellan, pada tahun

1579 Francis Drake berlayar ke Indonesia. Armadanya berhasil membawa

rempah-rempah dari Ternate dan kembali ke Inggris lewat Samudera Hindia.

Perjalanan berikutnya dilakukan pada tahun 1586 oleh Thomas Cavendish

melewati jalur yang sama.

Pengalaman tersebut membuat Ratu Elisabeth I sebagai Pemimpin tertinggi di

Kerajaan Inggris semakin meningkatkan pelayaran internasionalnya. Hal ini

dilakukan dalam rangka menggalakan ekspor wol, menyaingi perdagangan

Spanyol, dan mencari rempah-rempah yang pada waktu itu adalah komoditas yang

paling laris di pasar Eropa.

Ratu Elisabeth I kemudian memberikan hak istimewa kepada EIC (East Indian

Company) untuk mengurus perdagangan di Asia. EIC kemudian mengirim

sejumlah armadanya ke Indonesia. Armada EIC yang dipimpin James Lancestor

berhasil melewati jalur Portugis (melalui Afrika). Namun mereka gagal mencapai

Indonesia karena diserang Portugis dan bajak laut Melayu di Selat Malaka.

1
2

EIC mengemban misi untuk hubungan dagang yang baik dengan Indonesia.

Pada tahun 1602, armada Inggris berhasil mencapai Banten dan berhasil

mendirikan loji disana. Pada tahun 1604, Inggris mengadakan perdagangan dengan

Ambon dan Banda. Tahun 1609 mendirikan pos di Sukadana, Kalimantan. Pada

tahun 1613 berdagang dengan Makassar (Kerajaan Gowa) dan tahun 1614

mendirikan loji di Batavia (Jakarta).

Dalam usaha perdagangan itu, Inggris mendapat perlawanan kuat dari

Belanda. Belanda tidak segan menggunakan kekerasan untuk mengusir orang

Inggris dari Indonesia. Setelah terjadi tragedi Ambon Massacre, EIC mundur dari

Indonesia dan mulai mengarahkan perhatiannya ke daerah lain di Asia Tenggara,

seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam sampai memperoleh

kesuksesan. Inggris kembali memperoleh kekuasaan di Indonesia melalui

keberhasilannya memenangkan Perjanjian Tuntang pada tahun 1811.

1.2 Tujuan Umum

Makalah ini dibuat guna menyelesaikan tugas Mata Kuliah Pendidikan

Kewarganegaraan dengan judul “SEJARAH PENJAJAHAN INGGRIS DI

INDONESIA” di Akademi Farmasi YPF tahun 2018.

2
3

1.3 Tujuan Khusus

 Mengetahui sejarah kedatangan Inggris di Indonesia

 Mengetahui isi Perjanjian Tuntang

 Mengetahui Kebijakan Inggris pada masa pemerintahannya di Indonesia

 Mengetahui penyebab berakhirnya masa penjajahan Inggris di Indonesia

3
4

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Awal Masa Pemerintahan Inggris di Indonesia

Pada tanggal 03 Agustus 1811 Inggris muncul di Batavia dan terjadi

peperangan antara pasukan Inggris dan pasukan Belanda. Berawal dari Inggris

menyerbu Pulau Jawa, pengganti Daendels dari pihak Belanda yaitu Gubernur

Jendral Janssens tidak mampu bertahan. Janssens dari pihak Belanda menyerah

dan mengaku kalah dalam Perjanjian Tuntang. Isi dari Perjanjian Tuntang ialah

sebagai berikut :

1. Seluruh Jawa dan sekitarnya diserahkan kepada Inggris.

2. Semua tentara Belanda menjadi tawanan Inggris.

3. Semua pegawai Belanda yang mau bekerja sama dengan Inggris dapat

memegang jabatannya terus.

4. Semua hutang pemerintah Belanda yang dahulu bukan menjadi tanggung jawab

Inggris

Kapitulasi Tuntang ditandatangani tanggal 18 September 1811 oleh

S.Auchmuty dari pihak Inggris dan Janseens dari pihak Belanda. Pulau Jawa pun

berpindah ke tangan Inggris. Wilayah bekas Hindia-Belanda diserahkan kepada

Thomas Stamford Raffles sebagai penguasa baru.

4
5

2.2 Latar Belakang Pendudukan Inggris di Indonesia

Ada 2 hal inti yang mendasari Inggris ingin menguasai Nusantara, yaitu :

1. Contingental Stelseel

Sistem yang diterapkan oleh Panglima Perancis Napoleon Bonaparte di

Eropa pada tahun 1806, dimana terjadi pemblokadean perdagangan Inggris

di daratan Eropa. Padahal ketika itu Inggris adalah Negara yang

mempunyai industri yang besar yang membutuhkan daerah pemasaran

yang luas. Karena adanya sistem ini, maka Inggris harus mencari wilayah

pasar perdagangan yang baru dan akhirnya India dan Indonesia dijadikan

tempat pemasaran barang industri Inggris.

2. Nusantara yang praktis dikuasai Belanda dan Perancis merupakan bahaya

besar bagi Inggris terutama di sektor perdagangan mereka. Maka dari itu

Inggris memutuskan untuk menyerang Batavia yang notabene nya adalah

wilayah kekuasaan Belanda, hingga akhirnya Belanda diputuskan

menyerah kepada Inggris. Seminggu sebelum terjadinya kapitulasi

Tuntang, Raja Muda Lord Minto yang berkedudukan di India mengangkat

Thomas Stamfor Raffles sebagai wakil gubernur di Pulau Jawa. Dalam

pelaksanaannya, Raffles berkuasa penuh untuk seluruh wilayah Nusantara

dan cenderung mendapatkan tanggapan positif dari raja-raja dan rakyat

setempat.

5
6

Yang mendasari Raffles lebih disukai diantaranya :

 Para raja dan rakyat tidak menyukai Daendels pada saat itu

 Ketika Raffles masih berkedudukan di Penang, Malaysia, dia melakukan

beberapa kali misi rahasia ke kerajaan-kerajaan yang anti-Belanda, seperti

Yogyakarta, Banten, dan Palembang. Sehingga ada hubungan baik antara

Raffles dengan beberapa kerajaan di Nusantara.

Sebagai seorang yang liberalis, Raffles memiliki kepribadian yang simpatik.

Dia menjalankan politik yang murah hati dan sabar, walaupun pada prakteknya

ada yang berlainan.

2.3 Kebijakan Pemerintah Inggris

Ada perubahan sistem pemerintahan dan kebijakan primer yang dilakukan

Inggris di Nusantara. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan bagi rakyat

Indonesia pada saat itu. Ada 4 kebijakan Inggris yang utama, diantaranya :

a. Jenis penyerahan wajib pajak (contingenten), sistem penyerahan wajib

(verplichte leverantie) dan kerja rodi dihapuskan karena dianggap terlalu

berat dan membuat daya beli berkurang.

b. Rakyat diberi kebebasan untuk menentukan tanaman yang ditanam, namun

tetap diarahkan ke tanaman yang bersifat komoditas ekspor. Pemerintah

6
7

hanya berkewajiban membuat pasar untuk merangsang petani menanam

tanaman ekspor yang paling menguntungkan.

c. Menetapkan sistem sewa tanah (landrent). sistem ini didasarkan pada

anggapan bahwa pemerintah kolonial adalah pemilik tanah dan para petani

dianggap sebagai penyewa (tenant) tanah pemerintah. Oleh karena itu, para

petani diwajibkan membayar pajak atas penggunaan tanah pemerintah.

d. Pemungutan pajak yang pada mulanya secara peorangan menjadi per desa.

Hal ini dikarenakan kurangnya pegawai pemerintah untuk menagih pajak per

kepala. Jadi pajak dibayarkan kepada kolektor yang dibantu kepala desa

tanpa melalui bupati.

2.4 Pelaksanaan Sistem Sewa Tanah

Sewa tanah diperkenalkan di Jawa semasa pemerintahan peralihan Inggris

(1811-1816) oleh Gubernur Jenderal Stamford Raffles, yang banyak menghimpun

gagasan sewa tanah dari sistem pendapatan dari tanah India-Inggris. Sewa tanah

didasarkan pada pemikiran pokok mengenai hak penguasa sebagai pemilik semua

tanah yang ada, tanah disewakan kepada kepala-kepela desa di seluruh Jawa yang

pada gilirannya bertanggungjawab membagi tanah dan memungut sewa tanah

tersebut. Sewa ini pada mulanya dapat dibayar dalam bentuk uang atau barang,

tetapi dalam perkembangan selanjutnya lebih banyak berupa pembayaran uang.

7
8

Pengalaman dan pelaksanaan sewa tanah ini oleh Gubernur Jenderal

Stamford Raffles sangat dipengaruhi oleh pengalaman penerapan

perkembangan perekonomian colonial pada masa penguasaan Inggris di India.

Gubernur Jenderal Stamford Raffles ingin menciptakan suatu sistem ekonomi

di Jawa yang bebas dari segala unsur paksaan, dan dalam rangka kerjasama

dengan raja-raja dan para bupati. Kepada para petani, Gubernur Jenderal

Stamford Raffles ingin memberikan kepastian hukum dan kebebasan berusaha

melalui sistem sewa tanah tersebut.

Tiga aspek pelaksanaan sistem sewa tanah :

1. Penyelenggaraan sistem pemerintahan atas dasar modern

Pergantian dari sistem pemerintahan-pemerintahan yang tidak langsung

yang dulu dilaksanakan oleh para raja-raja dan kepala desa digantikan

dengan pemerintahan modern yang tentu saja lebih mendekati kepada liberal

karena rafles sendiri adalah seorang liberal. Penggantian pemerintahan tersebut

berarti bahwakekuasaan tradisional raja-raja dan kepala tradisional sangat

dikurangi dansumber-sumber penghasilan tradisional mereka dikurangi

ataupun ditiadakan.Kemudian fungsi para pemimpin tradisional tersebut

digantikan oleh para pegawai-pegawai Eropa.

8
9

2. Pelaksanaan pemungutan sewa

Pelaksanaan pemungutan sewa selama pada masa VOC adalah

pajak kolektif, dalam artian pajak tersebut dipungut bukan dasar perhitungan

perorangan tapi seluruh desa. Dalam mengatur pemungutan ini tiap-tipa kepala

desa diberikan kebebaskan oleh VOC untuk menentukan berapa besar pajak

yang harusdibayarkan oleh tiap-tiap kepala keluarga. pada masa sewa tanah hal

ini digantikan menjadi pajak adalah kewajiban tiap-tiap orang bukan seluruh

desa

3. Pananaman tanaman dagangan untuk dieksport.

Pada masa sewa tanah ini terjadi penurunan dari sisi ekspor,

misalnyatanaman kopi yang merupakan komoditas ekspor pada awal abad ke-19 pada

masasistem sewa tanah mengalami kegagalan, hal ini karena kurangnya

pengalaman para petani dalam menjual tanaman-tanaman merekadi pasar

bebas, karena para petani dibebaskan menjual sendiri tanaman yang mereka

tanam.

9
10

Dua hal yang ingin dicapai oleh Raffles melalui sistem sewa tanah ini

adalah :

1) Memberikan kebebasan berusaha kepada para petani Jawa melalui

pajak tanah.

2) Mengefektifkan sistem administrasi Eropa yang berarti penduduk pribumi

akan mengenal ide-ide Eropa mengenai kejujuran, ekonomi, dan keadilan.

2.5 Kebijakan Pemerintahan Thomas S. Raffles

Kebijakan Gubernur Jenderal Stamford Raffles pada dasarnya dipengaruhi oleh

semboyan revolusi Perancis dengan semboyannya mengenai Libertie (kebebasan),

Egaliie (persamaan), dan Franternitie (persaudaraan). Hal tersebut membuat

sistem liberal diterapkan dalam sewa tanah, di mana unsur- unsur kerja sama

dengan raja-raja dan para bupati mulai di minimalisir keberadaannya. Sehingga

hal tersebut berpengaruh pada perangkat pelaksana dalam sewa tanah, di mana

Gubernur Jenderal Stamford Raffles banyak memanfaatkan colonial (Inggris)

sebagai perangkat (struktur pelaksana) sewa tanah, dari pemungutan sampai pada

pengadministrasian sewa tanah. Meskipun keberadaan dari para bupati sebagai

pemungut pajak telah dihapuskan, namun sebagai penggantinya mereka dijadikan

bagian integral (struktur) dari pemerintahan colonial dengan melaksanakan

proyek-proyek pekerjaan umum untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk.

10
11

Dalam menjalankan pemerintahan di Indonesia, Raffles didampingi oleh suatu

Badan Penasihat (Advisory Council) yang terdiri atas Gillespie, Cranssen, dan

Muntinghe. Tindakan-tindakan Raffles selama memerintah di Indonesia (1811-

1816) adalah sebagai berikut :

1) Bidang Birokrasi Pemerintahan

a. Pulau Jawa dibagi menjadi 16 karesidenan, yang terdiri atas beberapa

distrik. Setiap distrik terdapat beberapa divisi (kecamatan) yang merupakan

kumpulan dari desa-desa.

b. Mengubah sistem pemerintahan yang semula dilakukan oleh penguasa

pribumi menjadi sistem pemerintahan kolonial yang bercorak barat.

c. Bupati-bupati atau penguasa-penguasa pribumi dilepaskan kedudukannya

sebagai kepala pribumi secara turun-temurun. Mereka dijadikan pegawai

pemerintah kolonial yang langsung di bawah kekuasaan pemerintah pusat.

2) Bidang Perekonomian dan Keuangan

a. Petani diberikan kebebasan untuk menanam tanaman ekspor, sedangkan

pemerintah hanya berkewajiban membuat pasar untuk merangsang petani

menanam tanaman ekspor yang paling menguntungkan.

b. Penghapusan pajak hasil bumi (contingenten) dan sistem penyerahan wajib

(Verplichte Leverantie) karena dianggap terlalu berat dan dapat mengurangi

daya beli rakyat.

11
12

c. Menetapkan sistem sewa tanah (landrent). Sistem ini didasarkan pada

anggapan bahwa pemerintah kolonial adalah pemilik tanah dan para petani

dianggap sebagai penyewa (tenant) tanah pemerintah. Oleh karena itu, para

petani diwajibkan membayar pajak atas penggunaan tanah pemerintah.

d. Pemungutan pajak pada mulanya secara perorangan. Namun, karena

petugas tidak cukup akhirnya dipungut per desa. Pajak dibayarkan kepada

kolektor yang dibantu kepala desa tanpa melalui bupati.

3) Bidang Hukum

Sistem peradilan yang diterapkan Raffles lebih baik daripada yang

dilaksanakan oleh Daendels. Apabila Daendels berorientasi pada warna kulit

(ras), Raffles lebih berorientasi pada besar-kecilnya kesalahan. Menurut

Raffles, pengadilan merupakan benteng untuk memperoleh keadilan. Oleh

karena itu, harus ada benteng yang sama bagi setiap warga negara.

4) Bidang Sosial

a. Penghapusan kerja rodi (kerja paksa).

b. Penghapusan perbudakan, tetapi dalam praktiknya beliau melanggar

undang-undangnya sendiri dengan melakukan kegiatan sejenis perbudakan.

Hal itu terbukti dengan pengiriman kuli-kuli dari Jawa ke Banjarmasin

untuk membantu perusahaan temannya, Alexander Hare, yang sedang

mengalami kekurangan tenaga kerja.

12
13

c. Peniadaan pynbank (disakiti), yaitu hukuman yang sangat kejam dengan

melawan harimau.

5) Bidang Ilmu Pengetahuan

Masa pemerintahan Raffles di Indonesia memberikan banyak

peninggalan yang berguna bagi ilmu pengetahuan, antara lain berikut ini :

a. Ditulisnya buku berjudul History of Java. Dalam menulis buku tersebut,

Raffles dibantu oleh juru bahasanya Raden Ario Notodiningrat dan

Bupati Sumenep, Notokusumo II.

b. Memberikan bantuan kepada John Crawfurd (Residen Yogyakarta)

untuk mengadakan penelitian yang menghasilkan buku berjudul History

of the East Indian Archipelago, diterbitkan dalam tida jilid di

Edinburgh, Scotlandia pada tahun 1820.

c. Raffles juga aktif dalam mendukung Bataviaach Genootschap, sebuah

perkumpulan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

d. Ditemukannya bunga bangkai yang akhirnya diberi nama Rafflesia

Arnoldi.

e. Dirintisnya Kebun Raya Bogor.

Selama lima tahun Raffles berkuasa di Indonesia terjadi beberapa kali

persengketaan dengan pribumi. Hal ini terjadi di Palembang (1811),

Yogyakarta (1812), Banten (1813), dan Surakarta (1815).

13
14

2.6 Akhir Penjajahan Inggris di Indonesia

Berakhirnya Kekuasaan Thomas S. Raffles di Indonesia ditandai dengan

adanya Convetion of London pada tahun 1814. Perjanjian tersebut (Convetion of

London) ditandatangani oleh wakil-wakil dari Belanda dan Inggris yang isinya

yaitu sebagai berikut :

1. Indonesia dikembalikan kepada Belanda

2. Jajahan Belanda seperi Sailan,Guyana,Kaap Koloni,tetap ditangan Inggris.

3. Cochin (di Pantai Malabar) diambil alih oleh Inggris, sedangkan Bangka

diserahkan kepada Belanda sebagai gantinya.

Thomas S. Raffles yang sudah terlanjur tertarik kepada Indonesia sangat

menyesalkan lahirnya Convetion of London.Akan tetapi, Raffles cukup senang

karena bukan ia yang harus menyerahkan kekuasaan kepada Belanda,

melainkan penggantinya yaitu John Fendall, yang berkuasa hanya lima hari

saja. Raffles kemudian diangkat menjadi gubernur di Bengkulu yang meliputi

wilayah Bangka dan Belitung. Karena pemerintahan Raffles berada di antara

dua masa penjajahan Belanda, Pemerintahan Inggris itu disebut dengan masa

interregnum (masa sisipan).

14
15

BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Nilai Pancasila pada saat Penjajahan Inggris terdapat pada sila ke-2, yaitu :

“Kemanusiaan yanga dil dan beradab”. Dimana pada masa pemerintahan colonial

Inggris penyerahan wajib dan kerja rodi dihapuskan karena dianggap terlalu berat

dan tidak manusiawi.

Kebijakan Pemerintahan Inggris meliputi :

1. Bidang Birokrasi Pemerintahan

2. Bidang Perekonomian dan Keuangan

3. Bidang Hukum

4. Bidang Sosial

5. Bidang Ilmu Pengetahuan

Berakhirnya pemerintah Raffles di Indonesia ditandai dengan adanya

Convention of London pada tahun 1814. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh

wakil-wakil Belanda dan Inggris yang isinya sebagai berikut:

1) Indonesia dikembalikan kepada Belanda.

2) Jajahan Belanda seperti Sailan, Kaap Koloni, Guyana, tetap ditangan Inggris.

15
16

3) Cochin (di Pantai Malabar) diambil alih oleh Inggris, sedangkan Bangka

diserahkan kepada Belanda sebagai gantinya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Niel, Robert Van, 2003, Sistem Tanam Paksa di Jawa, Jakarta: LP3ES

sejarahbudayanusantara.weebly.com/inggris.html

www.academia.edu/8296568/penjajahan_inggris_di_indonesia (diakses pada tanggal

14 November 2018 pk 17.36)

https://www.katailmu.com/2011/03/sejarah-penjajahan-inggris-di-

indonesia.html?m=1 (diakses pada tanggal 14 November 2018 pk 18.06)

https://www.idsejarah.net/2016/06/penjajahan-inggris-di-indonesia-1811.html?m=1

(diakses pada tanggal 14 November 2018 pk 19.22)