Anda di halaman 1dari 6

Kabut lembut Kota Dieng

Kata orang, foto ga bakal cukup jadi bukti cerita perjalanan, karena foto hanya bagian dari
potongan cerita, penyempurna nya adalah tulisan.. Okedehhh, dan ini lah cerita perjalanan
sekelompok mahasiswa kemarin sore ke negri di atas awan, Dataran Tinggi Dieng.

Setelah satu semester menyandang gelar mahasiswa ternyata muncul juuga keinginan buat
kembali lagi explore keindahan ciptaan Allah. Pokoknya perjalanan ini beranggotakan 13
mahasiswa ingusan, hehe. Siapa aja ? Kebetulan kami ini adalah mahasiswa teknik yang saat itu
masih semester satu. Kami saling mengenal selain karena memang satu fakultas juga karena
sama-sama berada di satu organisasi yang sama, sebutlah IMM FTI UAD. Saat itu aku dan
kawan-kawan ini tergabung di dalam LSO nya IMM FTI UAD, ada yang ikut di LSO BUMI
SABA juga ada yang ikut di LSO DMP. Kalo aku gabungnya di DMP bagian membering yang
kerjaannya ngajakin jalan-jalan hehe.

Tak perlu waktu yang cukup lama untuk mengagendakan perjalanan ini. Seingetku tiba-tiba ada
grup WA yang isinya ya anak-anak yang mau ke Dieng ini. Kronologi kenapa bisa ada grupnya
gimna udah lupa, maklum udah 3 tahun yang lalu. Grup WA ini Namanya ‘Ngetrip IMM FTI’.
Akhirnya disepakatilah kalau tujuan trip nya ke Dieng.

Awalnya dilema juga itu, pengen ke Dieng, pengen jalan-jalan di destinasi wisata nya, pengen
naik ke Sikunir, eh gatau mau nginep di mana. Maklum masih mahasiswa semester baru, minim
pengalaman. Nanya-nanya penginapan, dompetnya yang pada ga sanggup. AlhamduliLLAH
akhirnya dapat solusi nginep di kost saudara salah satu temen.

Oke singkat cerita udah H-1 menuju Dieng. Karena sebagian dari temen-temen ini belum pernah
ke Dieng ya, buat jaga-jaga sempet itu aku tulisin peralatan yang kudu dibawa kalau mau ke
Dieng, yang masih aku ingat aku tulis jangan lupa bawa alat mandi ditambah caption ‘kalau yang
mau mandi, udah kebayang kan gimana dinginnya Dieng pun kalau ga mandi maklum hehe.

Sesuai kesepakatan, sebelum berangkat kami ngumpul dulu di Masjid Uzlifatul Jannah, masjid
deket kampus. Kesepakatannya sih shalat shubuh kudu harus di sana, tapi ya karena banyak yang
ikut jadi ngaret dah. Waktu udah ngumpul semua, kami langsung buat lingkaran ala-ala traveler
buat berdoa’a bareng sekalian ngumpulin patungan hehe.
Kami mengendarai motor untuk menuju Dieng. Nah ternyata setelah dihitung motor yang ada
justru kelebihan, terpaksa ngantar motor itu balik ke kostnya dulu, molor lagi dah. Perjalanan
sesungguhnya dimulai sekitar Pukul 06.30 pagi langsung menuju arah Dieng.

Sampai di Magelang kami berhenti dulu di salah satu pusat oleh-oleh khas Magelang tujuannya
buat beli oleh-oleh teruntuk ibu kost yang kami bakal numpang di sana. Nah sebelum start
menuju Dieng lagi, karena di perjalanan sampai di Magelang ada beberapa motor yang
ketinggalan rombongan akhirnya kami sepakati urutan rombongan biar gaada lagi yang terpisah
atau ketinggalan. Lucunya kami gayaan bikin-bikin isyarat ala bikers professional.

Setiap perjalanan memang selalu punya cerita, di bagian ini juga punya cerita. Cerita nyasar,
alias salah ngambil jalur. Ternyata jalur perjalanan menuju Dieng yang kami ambil bukan jalur
utama, kami melewati jalanan Desa yang cukup sempit, di perjalanan ini juga sempat ada yang
terpleset jatuh dari motor, kebetulan motor perempuan salah satu dari kami. AlhamduliLLah
tidak ada luka hanya sedikit kaget aja. Karena kami melewati rute ini waktu perjalanan juga
menjadi lebih panjang. Kami tiba di Dieng sekitar pukul 11an.

Oke, trip dimulai. Wisata yang pertama kali kami pilih adalah Candi Arjuna Dieng. Cukup lama
kami berada di sana. Candi yang bisa dibilang tidak cukup besar namun pemandangan nya yang
membuat istimewa. Memasuki pintu masuk Candi, berjalan melawati pohon-pohon yang rindang
seperti sebuah taman yang menyajikan kesejukan. Apalagi udara dataran Dieng yang dingin ini
memberikan kesan tersendiri. Di tengah-tengah kompleks ini terdapat Candi dengan rumput
hijau yang bisa dimanfaatkan untuk duduk-duduk di atasnya. Pemandangan sekitar pun tidak
kalah eloknya. Dimana langit yang megah terlihat begitu mengagumkan. Kemudian, hamparan
perbukitan dan pegunungan yang terlihat sebagai lukisan Sang Maha Pencipta. Mengesankan
memang, berfoto, bergurau dan keliling kompleks ini kami lakukan.

Salah satu jejak fotonya adalah foto ini, aku certain deh nama-nama yang ada di foto. Mulai dari
yang paling kiri, perempuan berjilbab biru tua namanya Nita Namira Bakir, mahasiswa teknik
kimia kala itu, kabarnya sekarang pindah jurusan jadi calon Cheff. Samping Nita, perempuan
berjilbab putih yang paling murah senyum, Farah Aisha Hardita. Sebelah Farah ada permpuan
berjaket biru asal Lampung, Raifa Tryas Shara, sampingnya ada mas ganteng Ganang.
Nah yang paling ditunggu adalah di sebelahnya ganang, ga perlu banyak disanjung.. ehmmm aku
sendiri, Zaim. Oke di sampingku ada permpuan strong namanya Marissa, nah di tempat
saudaranya Marissa ini kami bakal numpang nginap. Barisan depan paling kiri ada perempuan
berjilbab coklat namanya Namira, disampingnya ada Wulan, Lilis, Faqih, Deby, dan Jefri. Nah
kalau yang makan tempat foto paling depan namanya Firman, supporter garis depan salah satu
club sepakbola di Indonesia.

Sekian lama kami mengelilingi kompleks Candi Arjuna tiba-tiba rintik hujan pun turun.
Akhirnya kami putuskan untuk berteduh sejenak.Tujuan kami selanjutnya adalah menuju ke
Kawah Sikidang. Seingetku jarak antara Candi Arjuna dan Kawah Sikidang ga begitu jauh sih,
sampailah kami di salah satu kawah aktif di dataran tinggi Dieng.

Kawah Sikidang salah satu keunikannya adalah karena kawah ini bisa dijumpai di taah yang
relatif datar, biasanya kan kalau mau liat view kawah kudu ndaki berjam-jam dulu baru ketemu
kawah. Kami perlu jalan kaki terlebih dahulu sebelum sampai ke lokasi kawah aktif sikidang.
Nah belum sampai di kawahnya udah ketemu sama tulisan gede KAWAH SIKIDANG, berhenti
dulu dah ngambil jejak digital hehe.

Dari tempat kami berfoto sudah mulai tercium bau belerang jadi sudah siap-siap pakai masker.
Kami berjalan kaki melewati sebuah pasar kecil yang menjajakan makanan-makanan khas
Dieng. Terlihat juga letupan-letupan asap di sekeliling kami, sepertinya sih kawah-kawah kecil
yang berada di sekitar sana. Kata orang kalau bawa telur bisa tuh direbus di kawah-kawah kecil
itu. Nah pas udah sampai di kawah utama nya ternyata kawahnya cukup besar, dan tentunya
berasap banget, full tutup hidung pakai masker dah. Nah ini salah satu foto yang diambil di
lokasi kawah sikidangnya.

Selesai dari kawah sikidang kami putuskan untuk lanjut menuju Telaga Warna Dieng tapi tak
lupa nih mampir ke masjid dulu buat sholat sekaligus istirahat bentar. Lokasi masjidnya berada
di jalan sebelum sampai di lokasi Telaga Warna. Masih ingat betul bagaimana dinginnya air di
sana. Jangankan air geh, lantai masjidnya aja adem benerr hehe. Tapi itulah yang kemudian
menjadi satu hal yang sulit dilupakan dari Kota Dieng.

Selesai sholat niatnya mau langsung ke telaga warna, tapi ternyata ada salah satu motor yang
katanya dari perjalanan awal tadi udah kerasa ga normal, motor marissa. Nah sempet pada gaya-
gayan ngecek motornya marissa yang sepertinya kalau kataku rusak lakher velg rodanya sih tapi
karena maklum ga ngerti apa-apa soal motor asal bisa jalan akhirnya kami nekat aja buat lanjut
ngetripnya.

Telaga Warna Dieng, ditemani rintiknya hujan justru menjadi keistimewaan sendiri. Kami
berjalan mengelilingi telaga warna, melewati pepohonan yang rindang di sekeliling telaga. Kata
orang, waktu terbaik mengunjungi telaga warna adalah di pagi atau siang hari karena pada
waktu-waktu tersebut sinar matahari sedang terik-teriknya sehingga bisa melihat telaga yang
benar-benar berwarna. Nah berhubung kami sampai di sini sore dan mendung juga yaaa hanya
warna ijo yang terlihat hehe. Seingetku dulu pernah bikin video di sini, tapi ntah kemana itu hasil
rekamannya. Walaupun ga bisa benar-benar melihat berwarnanya telaga ini, sunyi dan sahdu nya
telaga warna tidak berkurang memberikan kesan tersendiri.

Selesai dari telaga warna, langit udah berubah menjadi gelap. Selain karena memang udah sore,
juga karena waktu itu mendung banget. Tujuan selanjutnya yaitu turun dari area Dieng menuju
ke alun-alun Wonosobo karena katanya tempat nginep kami dekat dengan alun-alun ini. Di
perjalanan ini kesampaian juga hujan-hujanan, alhamduliLLah udah persiapan bawa mantel,
lumayan lah walaupun tetep dingin. Sempat dari kami ada yang jatuh dari motor lagi, aku juga
gatau sih gimana kok sampai bisa jatuh soalnya motorku waktu itu berada paling depan.
AlhamduliLLah jatuhnya tidak berakibat luka-luka yang serius, tapi dari ekspresinya sih serius
kalau memang jatuh hehe.

Sampai di alun-alun kami memutuskan untuk singgah sholat dan lanjut makan terlebih dahulu.
Ketemulah di sana dengan Warung makan Bebek Pak Slamet. Sambil istirahat dan menunggu
makanan tersaji sempat kami diskusikan rencana besok pagi untuk naik ke Sikunir. Walaupun
aku tau hari itu kawan-kawan udah pada lelah apalagi yang baru jatuh dari motor, tetapi akhirnya
kami sepakati kalau besok pagi jam 02.00 kita tetep lanjut menuju golden sunrise sikunir.

Selesai makan kami bertemu dengan saudaranya marissa yang udah nunggu di deket alun-alun.
Persiapan buat besok pagi kami sempat mampir buat beli snack dan ngisi BBM terlebih dahulu.
Sesampainya di tempat menginap, beberapa ada yang langsung istirahat, yang cowo dapat kamar
di lantai atas, yang cewe dapat kamar di lantai bawah dekat dengan kolam. Asli asik betul itu,
seneng rasanya denger suara gemricik air, sepertinya di sana kalau tentang air sangat melimpah
ruah.

Pagi sekitar jam tigaan kami udah siap pakai jaket, manasin motor buat menuju akhir destinasi
trip kami yaitu golden sunrise Sikunir. Waktu masih di tempat menginap sih belum kerasa
dinginnya, tapi pas udah perjalanan ke arah Sikunir MaasyaAllah dinginnya hemmmmmm.
Perjalanan menuju area Sikunir cukup menanjak, alhamduliLLah semua motor sanggup
menjalaninya dengan tabah hehe. Sesampainya di Sikunir setelah membayar retribusi, kami
bersiap untuk mendaki bukit ini. Udaranya sangat dingin, aku aja pakai jaket double hehe.
Sekitar pukul 4 kami berbarengan berjalan kaki menuju puncak sikunir. Karena masih gelap
tentunya mengandalkan cahaya senter. Masih setengah perjalanan sebelum sampai puncak, salah
satu dari kami tiba-tiba ada yang pingsan. Kaget juga tuh soalnya dia ini dari awal jalan kaki
yang paling ramai bicaranya tapi entah kedinginan entah kecapean tiba-tiba pingsan. Sebutin ga
yaa siapa yang pingsan hehe ? AlhamduliLLah setelah beberapa saat dikasih minyak angina dan
sebagainya, si dia ini kembali pulih dan sanggup buat lanjutin jalan. Uniknya lagi nih, si Faqih
ternyata udah paling depan sampai di puncak sikunir, tau kan ya gimana Faqih, kalau kata dia
mah dia itu ga terlalu sering makan cuma seringnya lupa kalau udah makan wkw.

Sesaat sebelum sampai di puncak ternyata di sana udah disedian Musholla dan karenan memang
udah masuk waktu shubuh akhirnya kami berjama’ah sholat shubuh terlebih dahulu.

Golden Sunrise Sikunir, meski kabut pun tak mau kalah menunjukkan pekatnya, sesaat dan
sesaat aroma jingga dibalik saga menampakkan wujudnya. Dercak kagum bersiulan dari para
penikmatnya. Udara dingin digantikan dengan lukisan megah ciptaan Sang Maha Indah.
Kesejukan yang begitu hangat karena jingga kali ini bisa bersama kalian, teman-teman ku, terima
kasih.

Jejak foto dimanapun kapanpun itu sangat penting hehe. Nah ini salah satu foto yang kami ambil
sesaat setelah menikmati indahnya Golden Sunrise Sikunir.

Makanan yang kami bawa ternyata tidak sadar udah dibuka, gatau tuh siapa yang ngeduluin buka
makanan. AlhamduliLLah kembali kami diberikan nikmat rasa hangatnya bercengkrama
bersama teman-teman dengan sajian kesejukan Kota Dieng, sambil ngemil tentunya. Sekian lama
kami berada di sini hingga akhhirnya kami lihat sekeliling yang tadinya begitu ramai dengan
pengunjung ternyata sekarang hanya kami yang tersisa. Akhirnya kami putuskan untuk turun dan
kembali ke tempat menginap untuk istirahat.

Di perjalanan kembali menuju ke tempat menginap, kami mampir sarapan di salah satu warung
makan di sana. Menu nya adalah Mie Ongklok dan Sate Sapi, makanan khas Dieng. Kaldu yang
kental dibersamai dengan Sate Sapi yang manis karena bumbu kecapnya memang cocok sekali
disantap di tempat dingin seperti ini. AlhamduliLLah. Selesai makan kami sempat mampir di
took oleh-oleh khas Dieng. Beberapa teman ada yang tertarik membeli oleh-oleh khas Dieng
yaitu carica. Katanya ada juga yang mau dibawa buat oleh-oleh pulang kampung.

Sesampainya di tempat menginap kami istirahat beberapa jam sebelum akhirnya kami pamit
untuk kembali pulang ke Kota Yogyakarta. Tak lupa kami berpamitan dengan saudaranya
marissa yang sudah memberikan tumpangan buat nginap sekaligus mengantar kami ke Sikunir.
Juga berpamitan dengan pemilik tempat menginap ini, istilahnya ibu kost, kami sampaikan
ucapan terima kasih dan tak lupa kami berikan sekedar buah tangan dari kami kepada ibu kost.

Inilah sepenggal kisah 13 mahasiswa dalam perjalanan nya di negeri di atas awan, Dieng. Terima
kasih teruntuk semua teman-teman, semoga kelak tulisan ini menjadi pengingat bahwa kita
pernah bersam-sama berpetualang di indahnya Kota Dieng. Tidak lain tidak bukan, tujuannya
untuk menjaga silaturahim dan persaudaraan.

Teruntuk untuk salah satu anggota perjalanan kami yang saat ini diberikan ujian oleh Allah
berupa sakit, Semoga Allah segera menyembuhkan mu, Aamiin.