Anda di halaman 1dari 16

BENIGN PROSTATIC HIPERPLASIA

A. DEFINISI

Istilah BPH sebenarnya merupakan istilah histopatologis, yaitu adanya hiperplasia sel stroma dan sel
epitel kelenjar prostat. 2,3,4

Sementara itu, istilah benign prostatic enlargement (BPE) merupakan istilah klinis yang menggambarkan
bertambahnya volume prostat akibat adanya perubahan histopatologis yang jinak pada prostat
(BPH).10,11 Diperkirakan hanya sekitar 50% dari kasus BPH yang berkembang menjadi BPE.10

Pada kondisi yang lebih lanjut, BPE dapat menimbulkan obstruksi pada saluran kemih, disebut dengan
istilah benign prostatic obstruction (BPO). BPO sendiri merupakan bagian dari suatu entitas penyakit
yang mengakibatkan obstruksi pada leher kandung kemih dan uretra, dinamakan bladder outlet
obstruction (BOO). Adanya obstruksi pada BPO ataupun BOO harus dipastikan menggunakan
pemeriksaan urodinamik.11

Pada dasarnya BPH tumbuh pada pria yang menginjak usia tua dan memiliki testis yang masih
menghasilkan testosteron. Di samping itu, pengaruh hormon lain (estrogen, prolaktin), pola diet,
mikrotrauma, inflamasi, obesitas, dan aktivitas fisik diduga berhubungan dengan proliferasi sel kelenjar
prostat secara tidak langsung.3-7,9

Faktor-faktor tersebut mampu memengaruhi sel prostat untuk menyintesis growth factor, yang
selanjutnya berperan dalam memacu terjadinya proliferasi sel kelenjar prostat.5

B. EPIDEMIOLOGI
BPH terjadi pada sekitar 70% pria di atas usia 60 tahun. Angka ini akan meningkat hingga 90% pada
pria berusia di atas 80 tahun.1 Angka kejadian BPH di Indonesia yang pasti belum pernah diteliti,
tetapi sebagai gambaran hospital prevalence di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sejak
tahun 1994-2013 ditemukan 3.804 kasus dengan rata-rata umur penderita berusia 66,61 tahun.8

C. FAKTOR RESIKO
Faktor risiko yang paling berperan dalam BPH adalah usia, selain adanya testis yang fungsional sejak
pubertas (faktor hormonal). Dari berbagai studi terakhir ditemukan hubungan positif antara BPH
dengan riwayat BPH dalam keluarga, kurangnya aktivitas fisik, diet rendah serat, konsumsi vitamin E,
konsumsi daging merah, obesitas, sindrom metabolik, inflamasi kronik pada prostat, dan penyakit
jantung.3-7,9

D. PATOGENESIS
Meskipun jarang mengancam jiwa, BPH memberikan keluhan yang dapat mengganggu aktivitas
sehari-hari. Keadaan ini akibat dari obstruksi pada leher kandung kemih dan uretra oleh BPH.5,10
Selanjutnya obstruksi ini dapat menimbulkan perubahan struktur kandung kemih maupun ginjal
sehingga menyebabkan komplikasi pada saluran kemih atas maupun bawah. Keluhan yang
disampaikan oleh pasien BPH seringkali berupa lower urinary tract symptoms (LUTS), yang terdiri

Sebagai contoh. gejala iritasi (storage symptoms).5 E. • Riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenitalia (pernah mengalami cedera. 1-3 ii. dapat diketahui seorang pasien menderita nokturia idiopatik. atau pembedahan pada saluran kemih). skor 8-19: sedang. seperti antidepresan. infeksi. Dengan mencatat kapan dan berapa jumlah asupan cairan yang dikonsumsi serta kapan dan berapa jumlah urine yang dikemihkan. Status Urologis . di dalam daftar pertanyaan IPSS terdapat satu pertanyaan tunggal mengenai kualitas hidup (quality of life atau QoL) yang juga terdiri atas 7 kemungkinan jawaban. dan gejala pasca berkemih. atau karena poliuria akibat asupan air yang berlebih.3 IPSS terdiri atas 7 pertanyaan yang masing-masing memiliki nilai 0 hingga 5 dengan total maksimum 35 (lihat lampiran kuesioner IPSS yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia). Skor ini berguna untuk menilai dan memantau keadaan pasien BPH. Gejala iritasi meliputi frekuensi berkemih meningkat. kencing batu. nokturia. Catatan harian berkemih (voiding diaries) Pencatatan harian berkemih sangat berguna pada pasien yang mengeluh nokturia sebagai keluhan yang menonjol. Pemeriksaan fisik i. Gejala pasca berkemih berupa urine menetes (dribbling). Skor keluhan Pemandu untuk mengarahkan dan menentukan adanya gejala obstruksi akibat pembesaran prostat adalah sistem penskoran keluhan.4-6 Selain 7 pertanyaan di atas. Gejala obstruksi meliputi pancaran kemih lemah dan terputus (intermitensi). kencing berdarah (hematuria). atau bronkodilator terbukti dapat menyebabkan peningkatan 2 – 3 skor International Prostate Symptom Score (IPSS). Sebaiknya pencatatan dikerjakan 3 hari berturut-turut untuk mendapatkan hasil yang baik. 1.Anamnesis Riwayat Penyakit itu meliputi: • Keluhan yang dirasakan dan berapa lama keluhan itu telah mengganggu. b. Berat- ringannya keluhan pasien BPH dapat digolongkan berdasarkan skor yang diperoleh. 4-5 iii. • Riwayat konsumsi obat yang dapat menimbulkan keluhan berkemih. antihistamin. Tidak semua pasien BPH mengeluhkan gangguan berkemih atau sebaliknya. Kuesioner IPSS dibagikan kepada pasien dan diharapkan pasien mengisi sendiri setiap pertanyaan. hingga gejala yang paling berat adalah retensi urine. • Riwayat kesehatan secara umum dan keadaan fungsi seksual. dan skor 20-35: berat. instabilitas detrusor akibat obstruksi infravesika. atas gejala obstruksi (voiding symptoms). merasa tidak puas sehabis berkemih.5 Hubungan antara BPH dengan LUTS sangat kompleks. urgensi. yaitu: skor 0-7: ringan. Salah satu sistem penskoran yang digunakan secara luas adalah International Prostate Symptom Score (IPSS) yang telah dikembangkan American Urological Association (AUA) dan distandarisasi oleh World Health Organization (WHO).2. penggunaan obat harian. DIAGNOSIS a.

sedangkan pada kadar PSA 1.3-9. Urinalisis Pemeriksaan urinalisis dapat menentukan adanya leukosituria dan hematuria. Colok Dubur Colok dubur atau digital rectal examination (DRE) merupakan pemeriksaan yang penting pada pasien BPH. dan adanya nodul yang merupakan salah satu tanda dari keganasan prostat. dan kadar PSA 3. Pemeriksaan faal ginjal berguna sebagai petunjuk perlu tidaknya melakukan pemeriksaan pencitraan pada saluran kemih bagian atas. 10 Pemeriksaan PSA bersama dengan colok dubur lebih superior daripada pemeriksaan colok . pada retensi urine akut. dan (c) lebih mudah terjadi retensi urine akut8.2.1 ii. 2 i.3 mL/tahun.1. Bila dicurigai adanya infeksi saluran kemih perlu dilakukan pemeriksaan kultur urine.9 Pertumbuhan volume kelenjar prostat dapat diprediksikan berdasarkan kadar PSA.2 Pada pemeriksaan colok dubur juga perlu menilai tonus sfingter ani dan refleks bulbokavernosus yang dapat menunjukkan adanya kelainan pada lengkung refleks di daerah sakral. konsistensi prostat. setelah manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau TURP).2 ng/dl adalah 2. 9 Serum PSA dapat meningkat pada saat terjadi retensi urine akut dan kadarnya perlahan-lahan menurun terutama setelah 72 jam dilakukan kateterisasi. Gagal ginjal akibat BPH terjadi sebanyak 0.4-3. Pemeriksaan PSA (Prostate Specific Antigen) PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specific tetapi bukan cancer specific. Mengukur volume prostat dengan DRE cenderung lebih kecil daripada ukuran yang sebenarnya.3 ng/dl adalah 0. (b) keluhan akibat BPH/laju pancaran urine lebih jelek. 8 Serum PSA dapat dipakai untuk meramalkan perjalanan penyakit dari BPH.9 ng/dl adalah 3. Semakin tinggi kadar PSA. ada tidaknya tanda infeksi. Laju pertumbuhan volume prostat rata-rata setiap tahun pada kadar PSA 0.1 iii. Apabila ditemukan hematuria. Pemeriksaan fungsi ginjal Obstruksi infravesika akibat BPH dapat menyebabkan gangguan pada saluran kemih bagian atas.1 • Kandung kemih Pemeriksaan kandung kemih dilakukan dengan palpasi dan perkusi untuk menilai isi kandung kemih.6%. keganasan prostat.1 mL/tahun. dan usia yang makin tua. maka semakin cepat laju pertumbuhan prostat. maka perlu dicari penyebabnya.1.• Ginjal Pemeriksaan fisik ginjal pada kasus BPH untuk mengevaluasi adanya obstruksi atau tanda infeksi.1. Dari pemeriksaan colok dubur ini dapat diperkirakan adanya pembesaran prostat.2. 7 Kadar PSA di dalam serum dapat mengalami peningkatan pada keradangan.4 ii.3-30% dengan rata-rata 13.7 mL/tahun. kateterisasi. dalam hal ini jika kadar PSA tinggi berarti: (a) pertumbuhan volume prostat lebih cepat.

tetapi juga digabungkan dengan pemeriksaan lain. penilaian ada tidaknya obstruksi saluran kemih bagian bawah tidak hanya dinilai dari hasil Qmax saja. baik sebelum maupun setelah terapi. pada usia di atas 50 tahun atau di atas 40 tahun (pada kelompok dengan risiko tinggi) pemeriksaan PSA menjadi sangat penting guna mendeteksi kemungkinan adanya karsinoma prostat. laju pancaran rata-rata (Qave). Pancaran urine yang lemah dapat disebabkan obstruksi saluran kemih bagian bawah atau kelemahan otot detrusor.13. dan Qmax cukup akurat dalam menentukan adanya obstruksi saluran kemih bagian bawah. waktu yang dibutuhkan untuk mencapai laju pancaran maksimum.dubur saja dalam mendeteksi adanya karsinoma prostat.1 Sebaiknya. Pemeriksaan non-invasif ini ditujukan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih bagian bawah. tetapi tidak nyaman bagi pasien. Kombinasi pemeriksaan skor IPSS. Terdapat hubungan antara nilai Qmax dengan kemungkinan obstruksi saluran kemih bagian bawah (BOO). 11 Apabila kadar PSA >4 ng/ml. hingga bakteremia. positive predictive value (PPV) sebesar 70 %. dan sensitivitas sebesar 47% untuk mendiagnosis BOO. Pengukuran dengan kateter ini lebih akurat dibandingkan USG. Dari uroflowmetry dapat diperoleh informasi mengenai volume berkemih. Sementara itu. dapat menimbulkan cedera uretra. volume prostat. dan lama pancaran. laju pancaran maksimum (Qmax). Jumlah residu urine pada pria normal rata-rata 12 mL. 13 Pemeriksaan residu urine dapat dilakukan dengan cara USG.13 Peningkatan volume residu urine dapat disebabkan oleh obstruksi saluran kemih bagian bawah atau kelemahan kontraksi otot detrusor. bladder scan atau dengan kateter uretra. 3. dengan batas nilai Qmax sebesar 15 mL/detik memiliki spesifisitas sebesar 38%. Oleh karena itu. infeksi saluran kemih. Peningkatan volume residu urine pada pemantauan berkala berkaitan dengan risiko terjadinya retensi urine. Pada batas nilai Qmax sebesar 10 mL/detik memiliki spesifisitas sebesar 70%.14 . dan sensitivitas sebesar 82% untuk mendiagnosis BOO. 13 Pemeriksaan uroflowmetry bermakna jika volume urine >150 mL. PPV sebesar 67%. biopsi prostat dipertimbangkan setelah didiskusikan dengan pasien. Residu urine Residu urine atau post voiding residual urine (PVR) adalah sisa urine di kandung kemih setelah berkemih. Volume residu urine yang banyak pada pemeriksaan awal berkaitan dengan peningkatan risiko perburukan gejala.1 Hasil uroflowmetry tidak spesifik menunjukkan penyebab terjadinya kelainan pancaran urine. Pemeriksaan ini dipakai untuk mengevaluasi gejala obstruksi infravesika. 12 Uroflowmetry (Pancaran Urine ) Uroflowmetry adalah pemeriksaan pancaran urine selama proses berkemih.

iv. atau terapi minimal invasif lainnya. seperti operasi terbuka. dengan menggunakan ultrasonografi transabdominal (TAUS) atau ultrasonografi transrektal (TRUS). TUIP. TURP. Prostat Pemeriksaan pencitraan prostat merupakan pemeriksaan rutin yang bertujuan untuk menilai bentuk dan besar prostat. Selain itu. 18 Pengukuran besar prostat penting dalam menentukan pilihan terapi invasif. hal ini juga penting dilakukan sebelum pengobatan dengan 5-ARI. teknik enukleasi. .

pasien diberi penjelasan mengenai segala sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk keluhannya. TATALAKSANA a. yaitu keluhan ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah 7.1 Pada watchful waiting ini.F. Konservatif Terapi konservatif pada BPH dapat berupa watchful waiting yaitu pasien tidak mendapatkan terapi apapun tetapi perkembangan penyakitnya tetap diawasi oleh dokter. misalnya: (1) jangan banyak .

2. Efek samping yang terjadi pada pemberian finasteride atau dutasteride ini minimal.blocker yang tersedia. alfuzosin. Efek klinis finasteride atau dutasteride baru dapat terlihat setelah 6 bulan. atau timbul bercak-bercak kemerahan di kulit. yaitu finasteride dan dutasteride. Antagonis Reseptor Muskarinik Pengobatan dengan menggunakan obat-obatan antagonis reseptor muskarinik bertujuan untuk menghambat atau mengurangi stimulasi reseptor muskarinik sehingga akan mengurangi kontraksi sel otot polos kandung kemih. penurunan libido. di antaranya dapat terjadi disfungsi ereksi.1 Jika keluhan berkemih bertambah buruk.3 Penyulit lain yang dapat terjadi adalah ejakulasi retrograd. IPSS. dizzines. 5a-reductase inhibitor juga dapat menurunkan kadar PSA sampai 50% dari nilai yang semestinya sehingga perlu diperhitungkan pada deteksi dini kanker prostat. ginekomastia.4 iii. uroflowmetry. α1-blocker Pengobatan dengan α1-blocker bertujuan menghambat kontraksi otot polos prostat sehingga mengurangi resistensi tonus leher kandung kemih dan uretra. 5α-reductase inhibitor 5α-reductase inhibitor bekerja dengan menginduksi proses apoptosis sel epitel prostat yang kemudian mengecilkan volume prostat hingga 20 – 30%. Jenis obat yang digunakan adalah: i.1 Masing-masing α1-blocker mempunyai tolerabilitas dan efek terhadap sistem kardiovaskuler yang berbeda (hipotensi postural. maupun volume residu urine. perlu dipikirkan untuk memilih terapi yang lain. Saat ini. yaitu terazosin. (4) jangan menahan kencing terlalu lama. (3) batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin.1-3 Tetapi obat α1- blocker tidak mengurangi volume prostat maupun risiko retensi urine dalam jangka panjang. minum dan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam. . doksazosin. (2) kurangi konsumsi makanan atau minuman yang menyebabkan iritasi pada kandung kemih (kopi atau cokelat). dan asthenia) yang seringkali menyebabkan pasien menghentikan pengobatan. dan tamsulosin yang cukup diberikan sekali sehari. terdapat 2 jenis obat 5α- reductase inhibitor yang dipakai untuk mengobati BPH.2.1 ii.4 Finasteride digunakan bila volume prostat >40 ml dan dutasteride digunakan bila volume prostat >30 ml. b.3 Salah satu komplikasi yang harus diperhatikan adalah intraoperative floppy iris syndrome (IFIS) pada operasi katarak dan hal ini harus diinformasikan kepada pasien. Beberapa obat α1. Medikamentosa Terapi medikamentosa diberikan pada pasien dengan skor IPSS >7. Beberapa obat antagonis reseptor muskarinik yang terdapat di Indonesia adalah fesoterodine fumarate.2. (5) penanganan konstipasi1 Pasien diminta untuk datang kontrol berkala (3-6 bulan) untuk menilai perubahan keluhan yang dirasakan.1 Obat golongan ini dapat mengurangi keluhan storage symptom dan voiding symptom dan mampu memperbaiki skor gejala berkemih hingga 30-45% atau penurunan 4-6 skor IPSS dan Qmax hingga 15-30%.

kecepatan reseksi. komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi meliputi inkontinensia urin (2. propiverine HCL. dan tolterodine l-tartrate 5. hal ini tergantung dari pengalaman spesialis urologi. (6) penurunan fungsi ginjal yang disebabkan oleh obstruksi akibat BPH. yaitu pada BPH yang sudah menimbulkan komplikasi.39%).1 i. stenosis leher kandung kemih (4. dan pasien yang menolak pemberian terapi medikamentosa. ejakulasi retrograde (65. 1 . Sementara itu.6 Penggunaan antimuskarinik terutama untuk memperbaiki gejala storage LUTS. Invasif Minimal 1.1. (3) infeksi saluran kemih berulang.4 Indikasi relatif lain untuk terapi pembedahan adalah keluhan sedang hingga berat.15 Penyulit dini yang dapat terjadi pada saat TURP bisa berupa perdarahan yang memerlukan transfusi ( 0-9%).. Pembedahan Indikasi tindakan pembedahan. Secara umum. angka mortalitas perioperatif (30 hari pertama) adalah 0. 1 Akan tetapi. disfungsi ereksi (6. (2) gagal Trial Without Catheter (TwoC). tidak ada batas maksimal volume prostat untuk tindakan ini di kepustakaan.2%). 1 Selain itu. dan infeksi saluran kemih (0-22%). seperti: (1) retensi urine akut.4%). (5) batu kandung kemih. dan retensi urin dan UTI. TURP dapat memperbaiki gejala BPH hingga 90% dan meningkatkan laju pancaran urine hingga 100%.3%). striktur urethra (3. dan alat yang digunakan.8%). retensi bekuan darah (0. (7) dan perubahan patologis pada kandung kemih dan saluran kemih bagian atas.5-14%). sindrom TUR (0-5%). (4) hematuria makroskopik berulang.7%). Analisis pada kelompok pasien dengan nilai PSA c. tidak menunjukkan perbaikan setelah pemberian terapi non bedah. Transurethral Resection of the Prostate (TURP) TURP merupakan tindakan baku emas pembedahan pada pasien BPH dengan volume prostat 30-80 ml. AUR (0-13. solifenacin succinate.

.

.

Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat jinak adalah : (1) Teori Dihidrotestosteron. Dibentuk dari testosteron di dalam sel prostat oleh enzim 5α-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. DHT yang telah terbentuk berikatan dengan reseptor androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA pada inti dan sel selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat.sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitifitas sel. kadar testosterone menurun. (2) Adanya ketidakseimbangan antara estrogen- testosteron. aktivitas enzim 5α-reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. dan menurunkan jumlah kematian sel. Telah diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel. Ketidakseimbangan estrogen dan testosteron Pada usia yang semakin tua. Teori Dihidrotestosteron (DHT) Dihidrotestosteron atau DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada pertumbuhan sel.I. meningkatkan jumlah reseptor androgen. ETIOLOGI Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat. meskipun rangsangan terbentuknya sel.sel kelenjar prostat. Hasil akhir dari semua keadaan ini adalah.sel baru akibat rangsangan testosterone menurun. tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua) . (3) Interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat. dan (5) Teori Stem sel.5 a.sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen.sel prostat (apoptosis). sedangkan kadar estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen : testosterone relatif meningkat. 5 . Hal ini menyebabkan pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal. 5 b. hanya saja pada BPH. (4) Berkurangnya kematian sel (apoptosis). tetapi sel – sel prostat yang telah ada mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar. Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal.

yang keduanya tidak tergantung pada androgen.sel epitel secara parakrin. terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel. 5 d. c. Setelah sel. sehingga dengan adanya androgen sel ini akan berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal. Teori stem cell Isaac dan Coffey mengajukan teori ini berdasarkan asumsi bahwa pada kelenjar prostat. Diduga hormon androgen berperan dalam menghambat proses kematian sel karena setelah dilakukan kastrasi. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan makin meningkat sehingga mengakibatkan pertambahan massa prostat. II. terjadi peningkatan aktivitas kematian sel kelenjar prostat. Berkurangnya kematian sel prostat (Apoptosis) Apoptosis sel pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik homeostatis kelenjar prostat. PATOFISIOLOGI . Interaksi stroma epitel Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel. Stimulasi itu menyebabkan terjadinya proliferasi sel. Pada jaringan nomal. selain ada hubungannya dengan stroma dan epitel. sel.sel stroma itu sendiri secara intrakin dan autokrin. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying. juga ada hubungan antara jenis-jenis sel epitel yang ada di dalam jaringan prostat.1 b. serta mempengaruhi sel.sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol.sel stroma mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi sel. Sel aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara mutlak pada androgen.sel stroma melalui suatu mediator (growth factor) tertentu.sel epitel maupun stroma.

buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. trabekulasi. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomik buli. 5 Tekanan intravesika yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian buli. oleh pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala prostatimus. distensi kandung kemih. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urine dari buli. nyeri suprapubik  Retensi urine kronik –residu urin > 500ml. sakula. 5 Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan menghambat aliran urine. buli. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter. buli teraba. hidronefrosis.buli. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional. Dihidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel- sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein growth factor yang memacu pertumbuhan kelenjar prostat. pancaran lemah. Perubahan struktur pada buli.buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko-ureter. dan divertikel buli. KOMPLIKASI Hiperplasia Prostat ↓ Penyempitan lumen uretra posterior ↓ Tekanan intravesika meningkat  Retensi urine akut – ketidak mampuan untuk mengeluarkan urin. bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal. Untuk dapat mengeluarkan urine.buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. tidak nyeri . terbentuknya selula.sel kelenjar prostat hormon akan dirubah menjadi metabolit aktif dihidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim 5α reduktase.buli berupa hipertrofi otot detrusor. 5 III. yang di dalam sel. Pertumbuhan kelenjar ini sangat bergantung pada hormon testosteron.buli tersebut. sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer.

7 Tugas lain testosteron adalah pemacu libido. sehingga menimbulkan gejala. obesitas. Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya BPH adalah : 1. dihidrotestosteron dan androstenesdion. riwayat keluarga sedangkan faktor risiko yang tidak dapat diubah yang mempengaruhi terjadinya BPH adalah aktifitas seksual. Kadar Hormon Kadar hormon testosteron yang tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko BPH. Testosteron akan diubah menjadi androgen yang lebih poten yaitu dihydrotestosteron (DHT) oleh enzim 5α-reductase. pola makan tinggi lemak. Ras Orang dari ras kulit hitam memiliki risiko 2 kali lebih besar untuk terjadi . Usia Pada usia tua terjadi kelemahan umum termasuk kelemahan pada buli (otot detrusor) dan penurunan fungsi persarafan. yang secara keseluruhan dinamakan androgen. Sesuai dengan pertambahan usia. kurang olah raga. Infeksi traktus urinaria  Batu buli  Hematuri  Inkontinensia-urgensi  Hidroureter  Hidronefrosis . kebiasaan merokok dan kebiasaan minum alkohol. yang memegang peran penting dalam proses pertumbuhan sel-sel prostat 10 2.18 3. pertumbuhan otot dan mengatur deposit kalsium di tulang.17 Testis menghasilkan beberapa hormon seks pria. Perubahan karena pengaruh usia tua menurunkan kemampuan buli-buli dalam mempertahankan aliran urin pada proses adaptasi oleh adanya obstruksi karena pembesaran prostat.gangguan pada fungsi ginjal Faktor risiko yang tidak dapat diubah adalah usia. kurangnya konsumsi makanan tinggi serat. Testosteron sebagian besar dikonversikan oleh enzim 5-alfa-reduktase menjadi dihidrotestosteron yang lebih aktif secara fisiologis di jaringan sasaran sebagai pengatur fungsi ereksi. penyakit Diabetes Mellitus. Hormon tersebut mencakup testosteron. kadar testosteron mulai menurun secara perlahan pada usia 30 tahun dan turun lebih cepat pada usia 60 tahun keatas.

maka risiko meningkat menjadi 2-5 kali. Zink sangat penting untuk .2)5 5. akan terjadi hambatan prostat yang mengakibatkan kalenjar tersebut bengkak permanen. selain itu deposit lemak berlebihan juga akan mengganggu kinerja testis. Aktivitas seksual yang tinggi juga berhubungan dengan meningkatnya kadar hormon testosteron.BPH dibanding ras lain.2 (95%. Kebiasaan merokok Nikotin dan konitin (produk pemecahan nikotin) pada rokok meningkatkan aktifitas enzim perusak androgen. Kebiasaan minum-minuman beralkohol Konsumsi alkohol akan menghilangkan kandungan zink dan vitamin B6 yang penting untuk prostat yang sehat. CI 1. 7.20 8. Semakin banyak anggota keluarga yang mengidap penyakit ini. kelenjar prostat mengalami peningkatan tekanan darah sebelum terjadi ejakulasi. Bila satu anggota keluarga mengidap penyakit ini. BPH dihubungkan dengan kegiatan seks berlebihan dan alasan kebersihan. Jika suplai darah ke prostat selalu tinggi. Pola obesitas pada laki-laki biasanya berupa penimbunan lemak pada abdomen. sehingga menyebabkan penurunan kadar testosteron. Riwayat keluarga Riwayat keluarga pada penderita BPH dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi yang sama pada anggota keluarga yang lain. Aktivitas Seksual Kalenjar prostat adalah organ yang bertanggung jawab untuk pembentukan hormon laki-laki. Saat kegiatan seksual. Obesitas Obesitas akan membuat gangguan pada prostat dan kemampuan seksual. tipe bentuk tubuh yang mengganggu prostat adalah tipe bentuk tubuh yang membesar di bagian pinggang dengan perut buncit.5 4.6 9.6 Pada obesitas terjadi peningkatan kadar estrogen yang berpengaruh terhadap pembentukan BPH melalui peningkatan sensitisasi prostat terhadap androgen dan menghambat proses kematian sel-sel kelenjar prostat.7-10. Seks yang tidak bersih akan mengakibatkan infeksi prostat yang mengakibatkan BPH. sehingga lama-lama organ seksual kehilangan kelenturannya. Dari penelitian terdahulu didapatkan OR sebesar 4. Bila 2 anggota keluarga. maka risiko meningkat 2 kali bagi yang lain. seperti buah apel. Beban di perut itulah yang menekan otot organ seksual. semakin besar risiko anggota keluarga yang lain untuk dapat terkena BPH. Orang-orang Asia memiliki insidensi BPH paling rendah.

Prolaktin meningkatkan penukaran hormon testosteron kepada DHT. Zink membantu mengurangi kandungan prolaktin di dalam darah.kelenjar prostat.24.2 . Prostat menggunakan zink 10 kali lipat dibandingkan dengan organ yang lain.