Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah
komunikasi ini.

Penulis sadar bahwa selesainya penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak yang telah memberikan dukungan moril dan materi dalam penyususan
makalah ini, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Kasmilah,S.Kp.Ns,M.Kes sebagai koordinator mata kuliah dan dosen pengampu.

Makalah yang berjudul “Komunikasi Terapeutik dengan Pasien Gangguan Jiwa


Waham Besar” ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah komunikasi.

Berbagai upaya telah dilakukan penulis untuk mendapatkan hasil terbaik dalam
menyusun makalah ini. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat
dibutuhkan untuk menyempurnakan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi pembacanya.

Pati, 13 Maret 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan masalah ....................................................................................... 2
C. Tujuan ......................................................................................................... 2
D. Manfaat ........................................................................................................ 2
BAB II PEMBA HASAN
A. Pengertian ................................................................................................... 3
B. Jenis-jenis Waham ...................................................................................... 3
C. Tanda dan Gejala ........................................................................................ 5
D. Penyebab ..................................................................................................... 6
E. Proses Terjadinya Waham ........................................................................... 6
F. Pengkajian ................................................................................................... 8
G. Diagnosa Keperawatan ............................................................................... 9
H. Rencana Tindakan ....................................................................................... 10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan..................................................................................................15
B. Saran............................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................16
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di
negara-negara maju. Meskipun masalah kesehatan jiwa tidak dianggap sebagai
gangguan yang menyebabakan kematian secara langsung, namun gangguan tersebut
dapat menimbulkan ketidakmampuan individu dalam berkarya serta ketidak tepatan
individu dalam berprilaku yang dapat mengganggu kelompok dan masyarakat serta
dapat menghambat pembangunan karena mereka tidak produktif. (Hawari, 2001)
Prevalensi gangguan waham menetap di dunia sangat bervariasi, berdasarkan
beberapa literatur, prevalensi gangguan waham menetap pada pasien yang dirawat inap
dilaporkan sebesar 0,5-0,9% dan pada pasien yang dirawat jalan, berkisar antara 0,83-
1,2%. Sementara, pada populasi dunia, angka prevalensi dari gangguan ini mencapai
24-30 kasus dari 100.000 orang (Ariawan dkk, 2014). Sedangkan di Jawa Tengah
sendiri menurut direktur RSJD Amino Gondohutomo Semarang dr. Sri Widyayati,
Sppk, M.Kes mengatakan di tahun 2009 angka kejadian penderita gangguan jiwa di
jawa tengah berkisar antara 3300 orang sampai 9300 orang, angka kejadian ini
merupakan penderita yang sudah terdiagnosa. Pasien rawat inap yang mengalami
gangguan jiwa skizofrenia paranoid dan gangguan psikotik dengan gejala curiga
berlebihan, sikap eksentrik, ketakutan, murung, bicara sendiri, galak dan bersikap
bermusuhan. Gejala ini merupakan tanda dari skizofrenia dengan perilaku waham sesuai
dengan jenis waham yang diyakininya (medical record, 2010).
Intensitas kecemasan yang tinggi, perasaan bersalah dan berdosa, penghukuman diri,
rasa tidak mampu, fantasi yang tak terkendali, serta dambaan-dambaan atau harapan
yang tidak kunjung sampai, merupakan sumber dari waham. Waham dapat berkembang
jika terjadi nafsu kemurkaan yang hebat, hinaan dan sakit hati yang mendalam (Kartono,
1981).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian dari waham ?
2. Apa saja jenis dari waham ?
3. Bagaimanakah tanda dan gejala dari waham ?
4. Bagimanakah penyebab munculnya waham ?
5. Bagaimana proses terjadinya waham ?
6. Bagaimana proses pengkajian dari masalah waham ?
7. Bagaimana diagnosa keperwatan dari masalah waham ?
8. Bagaimakah rencana tindakan dari masalah waham ?

C. Tujuan Penulis
Tujuan Umum
Agar mahasiswa mampu memahami tentang gangguan jiwa dengan masalah waham.

Tujuan Khusus
Supaya mahasiswa mampu menjelaskan:
1. Untuk mengetahui Pengertian dari waham.
2. Untuk mengetahui Jenis-jenis dari waham.
3. Untuk mengetahui Tanda dan gejala dari waham.
4. Untuk mengetahui Penyebab munculnya waham.
5. Untuk mengetahui Proses terjadinya waham.
6. Untuk mengetahui Proses pengkajian dari masalah waham.
7. Untuk mengetahui Diagnosa keperwatan dari masalah waham.
8. Untuk mengetahui Rencana tindakan dari masalah waham.

D. Manfaat
Mahasiswa mengetahui dan mampu memahami tentang gangguan jiwa dengan masalah
waham.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang


salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang
budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti
adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan
aniaya. (Keliat, 1999).
Waham adalah keyakinan yang salah yang secara kokoh dipertahankan
walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita normal (Stuart
dan Sundeen, 1998).
Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan keyataan tetapi
dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain, keyakinan ini
berasal dari pemikiran klien dimana sudah kehilangan control (Depkes RI, 1994).

B. Jenis-jenis Waham

1. Waham kebesaran

Suatu kenyataan palsu dimana seorang memperluas atau memperbesar


kepentingan dirinya, baik kualitas tindakan/kejadian/orang disekelilingnya, dalam
bentuk tidak realistik. Waham ini timbul akibat perasaan yang tidak wajar, tidak aman
dan rasa rendah diri yang secara sadar dihalangi oleh komponen ideal dan efektif dari
waham itu sendiri. Isi dari waham kebesaran sering menunjukkan kekecewaan,
kegagalan, dan perasaan tidak aman.
2. Waham Kejar.

Klien yakin bahwa ada orang yang sedang mengganggunya, menipunya,


memata-matai atau menjelekkan dirinya.

3. Waham Depresif (menyalahkan diri sendiri).

Kepercayaan yang tidak berdasar. Menyalahkan diri sendiri akibat perbuatan-


perbuatannya yang melanggar kesusilaan atau kejahatan lain. Waham depresif sering
dirasakan sebagai : waham bersalah (perasaan bersalah, kehilangan harga diri), waham
sakit (gangguan perasaan tubuh yang berasal dari viseral yang dipengaruhi oleh keadaan
emosi), waham miskin (kehidupan perasaan nilai sosial).

4. Waham nihilistik

Suatu kenyataan bahwa dirinya atau orang lain sudah meninggal atau dunia ini
sudah hancur.

5. Waham somatik (waham hipokondria).

Kecenderungan yang menyimpang dan bersifat dungu mengenai fungsi dan


keadaan tubuhnya, misalnya penderita merasa tubuhnya membusuk atau mengeluarkan
bau busuk.

6. Waham hubungan.

Keyakinan bahwa ada hubungan langsung antara inteprestasi yang salah dari
pembicaraan, gerakan atau digunjingkan.

7. Waham pengaruh.

Keyakinan yang palsu bahwa dia adalah berlebihan dan diucapkan secara
berulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
8. Waham curiga

Klien mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan atau mencederai dirinya yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai
dengan kenyataan.

C. Tanda dan Gejala


1. Kognitif :
a. Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
b. Individu sangat percaya pada keyakinannya
c. Sulit berfikir realita
d. Tidak mampu mengambil keputusan

2. Afektif
a. Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
b. Afek tumpul
3. Prilaku dan Hubungan Sosial
a. Hipersensitif
b. Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
c. Depresi
d. Ragu-ragu
e. Mengancam secara verbal
f. Aktifitas tidak tepat
g. Streotif
h. Impulsive
i. Curiga
4. Fisik
a. Higiene kurang
b. Muka pucat
c. Sering menguap
d. BB menurun
D. Penyebab Waham

1. Faktor predisposisi

a. Genetik, faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan


suatu kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan
yang sama (orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain).

b. Neurobiologis, adanya gangguan pada kosteks pre frontal dan korteks limbic.

c. Neurotransmiter : abnormalitas pada dopamine, serotonin, dan glutamate.

d. Virus : paparan virus influenza pada trimester III.

e. Psikologis : ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.

2. Faktor presipitasi

a. Proses pengolahan informasi yang berlebihan.

b. Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal.

E. Proses terjadinya Waham

Menurut Yosep (2009), proses terjadinya waham meliputi 6 fase, yaitu :

1. Fase of human need

Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik


maupun psikis. Secara fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang
dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin
dan menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang
secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara realiti dengan self
ideal sangat tinggi.
2. Fase lack of self esteem

Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self
ideal dengan self reality (keyataan dengan harapan) serta dorongn kebutuhan
yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui
kemampuannya.

3. Fase control internal external

Klien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia
katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan
keyataan, tetapi menghadapi keyataan bagi klien adalah suatu yang sangat berat,
karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan
diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan
tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar klien
mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu tidak
benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan
keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi
tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak
merugikan orang lain.

4. Fase envinment support

Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya


menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu
yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang.
Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya
norma (super ego) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat
berbohong.
5. Fase comforting

Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap


bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya.
Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien menyendiri dari
lingkungannya. Selanjutnya klien sering menyendiri dan menghindari interaksi
sosial (isolasi sosial).

6. Fase improving

Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu


keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul
sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang
tidak terpenuhi (rantai yang hilang). Waham bersifat menetap dan sulit untuk
dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain.

F. Pengkajian

Tanda dan gejala dari perubahan proses pikir : waham, yaitu klien mengatakan
dirinya sebagai seseorang besar yang mempunyai kekuatan, pendidikan atau
kekayaan luar biasa, klien menyatakan perasaan dikejar-kejar oleh orang lain atau
sekelompok orang, klien menyatakan perasaan mengenai penyakit yang ada dalam
tubuhnya, menarik diri dan isolasi, sulit menjalin hubungan interpersonal dengan
orang lain, rasa curiga yang berlebihan, kecemasan yang meningkat, sulit tidur,
tampak apatis, suara memelan, ekspresi wajah datar, kadang tertawa atau menangis
sendiri, rasa tidak percaya kepada orang lain, gelisah.

Untuk mendapat data waham sesuai dengan jenis wahamnya, harus dilakukan
observasi terhadap perilaku klien sebagai berikut :

1. Waham kebesaran

Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan


berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
2. Waham curiga.

Meyakini bahwa seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan/mencederai


dirinya, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

3. Waham Agama

Memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan


berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

4. Waham somatik

Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu/terserang penyakit,


diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

5. Waham nihilistik

Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal, diucapkan


berulang kali tetapi tidak sesuai dengan keyataan.

H. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaian atau kesimpulan yang diambil dari


pengkajian (Gabie, dikutip oleh Carpernito, 1983).

Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual atau potensial dan


berdasarkan pendidikan dan pengalamannya perawat mampu mengatasinya (Gordon
dikutip oleh Carpernito, 1983).

Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari hasil
pengkajian adalah:

1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham.
2. Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah.
G. Rencana Keperawatan

TUM :

Klien dapat berpikir sesuai dengan realitas

TUK 1

Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Kriteria Evaluasi :

Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat
tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan
dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.

Rencana Tindakan :

1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :

a. Sapa klien dengan nama baik verbal maupun non verbal.

b. Perkenalkan diri dengan sopan.

c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.

d. Jelaskan tujuan pertemuan

e. Jujur dan menepati janji

f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.

g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar.

TUK 2

Klien dapat mengidentifikasi perasaan yang muncul secara berulang dalam pikiran
klien,

Kriteria evaluasi :

Klien menceritakan ide-ide dan perasaan yang muncul secara berulang dalam
pikirannya.
Rencana Tindakan :

1. Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya.

2. Diskusikan dengan klien pengalaman yang dialami selama ini.

3. Dengarkan pernyataan klien dengan empati tanpa mendukung/menentang pernyataan


wahamnya

TUK 3

Klien dapat mengidentifikasi stressor/pencetus wahamnya,

Kriteria evaluasi :

Klien dapat menyebutkan kejadian-kejadian sesuai dengan urutan waktu serta


harapan/kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi, seperti : harga diri, rasa aman dsb. Dapat
menyebutkan hubungan antara kejadian traumatis/kebutuhan tidak terpenuhi dengan
wahamnya.

Rencana Tindakan :

1. Bantu klien mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi serta kejadian yang
menjadi faktor pencetus wahamnya.

2. Diskusikan dengan klien tentang kejadian-kejadian traumatik yang menimbulkan rasa


takut, cemas maupun perasaan tidak dihargai.

3. Diskusikan kebutuhan/harapan yang belum terpenuhi.

4. Diskusikan dengan klien cara-cara mengatasi kebutuhan yang tidak terpenuhi dan
kejadian traumatik.

5. Diskusikan dengan klien antara kejadian traumatik dengan wahamnya.

TUK 4

Klien dapat mengidentifikasi wahamnya,

Kriteria evaluasi :

Klien dapat menyebutkan perbedaan pengalaman nyata dengan pengalaman wahamnya


Rencana Tindakan :

1. Bantu klien mengidentifikasi keyakinan yang salah tentang situasi yang nyata (bila
klien sudah siap) :

a. Diskusikan dengan klien pengalaman wahamnya tanpa beragumentasi.

b. Katakan kepada klien akan keraguan perawat terhadap pernyataan klien.

c. Diskusikan dengan klien respon perasaan terhadap wahamnya.

d. Bantu klien membedakan situasi nyata dengan situasi yang dipersepsikan salah
oleh klien.

TUK 5

Klien dapat mengidentifikasi konsekuensi dari wahamnya,

Kriteria evaluasi :

Klien dapat menjelaskan gangguan fungsi hidup sehari-hari yang diakibatkan ide-
ide/pikirannya yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Rencana Tindakan :

1. Diskusikan dengan klien pengalaman-pengalaman yang tidak menguntungkan sebagai


akibat dari wahamnya.

2. Ajak klien melihat bahwa waham tersebut adalah masalah yang membutuhkan
bantuan orang lain.

3. Diskusikan dengan klien orang/tempat ia meminta bantuan apabila wahamnya


timbul/sulit dikendalikan.

TUK 6

Klien dapat melakukan tehnik distraksi sebagai cara menghentikan pikiran terpusat pada
wahamnya,

Kriteria evaluasi :

Klien dapat melakukan melakukan aktivitas yang konstruktif sesuai dengan minatnya
yang dapat mengalihkan fokus klien dari wahamnya.
Rencana Tindakan :

1. Diskusikan hobi/ aktivitas yang disukainya.

2. Anjurkan klien memilih dan melakukan aktivitas yang membutuhkan perhatian dan
ketrampilan fisik.

3. Ikut sertakan klien dalam aktivitas fisik yang membutuhkan perhatian sebagai pengisi
waktu.

4. Libatkan klien dalam TAK orientasi realita.

5. Beri reinforcement positif setiap upaya klien yang positif.

TUK 7

Klien dapat dukungan keluarga,

Kriteria evaluasi :

Klien dapat menjelaskan tentang : pengertian waham, tanda dan gejala waham,
penyebab dan akibat waham, cara merawat klien waham dan dapat mempraktekan cara
merawat klien waham.

Rencana Tindakan :

1. Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung untuk mengatasi


waham.

2. Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatasi waham.

3. Jelaskan kepada keluarga tentang : pengertian, tanda dan gejala, penyebab dan akibat,
cara merawat klien waham.

4. Latih keluarga cara merawat klien waham

5. Beri pujian kepada keluarga atas ketelibatannya merawat klien.

TUK 8

Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.


Kriteria evaluasi :

Klien dapat menyebutkan manfaat minum obat, kerugian tidak minum obat, efek
samping dan efek terapi. Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan
benar. Klien dapat menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter.

Rencana Tindakan :

1. Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat.

2. Pantau klien saat penggunaan obat.

3. Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar.

4. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter.

5. Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola prilaku yang secara klinis bermakna yang
berkaitan langsung distress (penderitaan) dan menimbulkan hendaya (disabilitas)
pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia.
2. Salah satu gangguan jiwa yang sering terjadi pada masyarakat, yaitu waham. Waham
adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan tetapi dipertahankan dan
tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain, keyakinan ini berasal dari pemikiran
klien dimana sudah kehilangan control.
3. Tanda dan gejala dari perubahan proses pikir : waham, yaitu klien mengatakan
dirinya sebagai seseorang besar yang mempunyai kekuatan, pendidikan atau
kekayaan luar biasa, klien menyatakan perasaan dikejar-kejar oleh orang lain atau
sekelompok orang,klien menyatakan perasaan mengenai penyakit yang ada dalam
tubuhnya, menarik diri dan isolasi, sulit menjalin hubungan interpersonal dengan
orang lain, rasa curiga yang berlebihan, kecemasan yang meningkat, sulit tidur,
tampak apatis, suara memelan, ekspresi wajah datar, kadang tertawa atau menangis
sendiri, rasa tidak percaya kepada orang lain, dan gelisah.

B. Saran
Diharapkan bagi pembaca setelah membaca makalah ini khususnya perawat dan
memahami dan mengerti serta dapat mengaplikasikan tindakan keperawatan secara
intensif serta mampu berfikir kritis dalam melaksanakan proses keperawatan apabila
mendapati klien dengan penyakit gangguan kejiwaan.
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Anna Budi. Akemat. Helena, Novy, dkk. 2007. Keperawatan Kesehatan Jiwa
Komunitas: CMHN (Basic Care). Jakarta: EGC

Hawari, Dadang. 2001. Manajemen stress, cemas dan depresi. Jakarta: FKUI.

Ariawan D, Made. Ratep, Nyoman. Westa, Wayan. GANGGUAN WAHAM


MENETAP PADA PASIEN DENGAN RIWAYAT PENYALAHGUNAAN
GANJA: SEBUAH LAPORAN KASUS. 2014Kartono, Kartini. 1981. Patologi
Sosial – jilid 1. Bandung: Rajagrafindo Persada.

Stuart G.W. and Sundeen (1995). Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th
ed). St. Louis Mosby Year Book.

Stuart dan Laraia (2001). Principle and Practice of Psychiatric Nursing, Edisi 6, St.
Louis Mosby Year Book.

Townsend. (1998). Diagnosis Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri :


pedomanan Untuk Pembuatan Rencana Keperawatan EGC, Jakarta
(terjemahan).

Yosep, I. (2009). Keperawatan Jiwa, Edisi Revisi, Refika Aditama, Jakarta.