Anda di halaman 1dari 38

Tahap Pencegahan dan penanggulangan PTM

Pencegahan penyakit adalah Tindakan yang ditujukan untuk mencegah,


menunda, mengurangi, membasmi, mengeliminasi penyakit dan kecacatan dgn
menerapkan sebuah atau sejumlah intervensi yg telah dibuktikan efektif.
1. Pencegahan Primer
Adalah Upaya pencegahan yg dilakukan saat proses penyakit belum mulai
(pd periode pre-patogenesis) dengan tujuan agar tidak terjadi proses penyakit.
Tujuan: mengurangi insiden penyakit dengan cara mengendalikan penyebab
penyakit dan faktor risikonya. Upaya yang dilakukan adalah untuk memutus
mata rantai infeksi “agent – host - environment”
2. Pencegahan Sekunder
Adalah Upaya pencegahan yg dilakukan saat proses penyakit sudah
berlangsung namun belum timbul tanda/gejala sakit (patogenesis awal) dengan
tujuan proses penyakit tidak berlanjut. Tujuan: menghentikan proses penyakit
lebih lanjut dan mencegah komplikasi. Bentuknya berupa deteksi dini dan
pemberian pengobatan (yang tepat)
3. Pencegahan Tersier
Adalah Pencegahan yg dilakukan saat proses penyakit sudah lanjut (akhir
periode patogenesis) dengan tujuan untuk mencegah cacat dan mengembalikan
penderita ke status sehat. Tujuan: menurunkan kelemahan dan kecacatan,
memperkecil penderitaan dan membantu penderita-penderita untuk melakukan
penyesuaian terhadap kondisi yang tidak dapat diobati lagi
4. Strategi dalam penanggulangan penyakit dan promosi kesehatan PTM
Startegi Umum Penanggulangan PTM berbasis wilayah, yaitu:
a. Pencatatan dan pelaporan kasus harus dilakukan dengan baik, lengkap
dengan alamat, konfirmasi diagnostik, serta kemungkinan faktor risiko
lainnya.
b. Pertemuan lintas sektor lembaga swadaya masyarakat untuk membahas
temuan informasi hasil analisis surveilans perlu dilakukan sekaligus untuk
menggalang kemitraan dalam penanggulangan penyakit menular tertentu.
c. Evaluasi dan monitoring.
d. Strategi Surveilans PTM : mengingat upaya intervensi di Indonesia
dilakukan banyak institusi di berbagai tingkat dengan jenis surveilans yang
berlainan dan kapasitas yang berbeda.
e. Strategi promosi dan pencegahan PTM.
f. Pemilihan metode partisipatif dalam pengendalian faktor risiko
(community organization).
g. Kerjasama antar wilayah daerah otonom mengingat penyakit khususnya
berbagai faktor risiko bersifat lintas wilayah administratif.
Strategi pokok promkes, yaitu:
1. mengembangkan kebijaksanaan masyarakat yang berwawasan kesehatan
(build healthy public policy),
2. menciptakan lingkungan yang mendukung (create supportive
environment),
3. memperkuat gerakan masyarakat (strengthen community action),
4. mengembangkan kemampuan perorangan (develop personal skills),
5. menata kembali arah pelayanan kesehatan (re-orient health services)
Strategi
1. Advokasi
2. Social Support
3. Pemberdayaan Masyarakat
4. Kemitraan
Stepwise untuk penanggulangan PTM
1. Unsur-unsur surveilans PTM
Surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis
dan terus-menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan
kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit
atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan
penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan
data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada
penyelenggara program kesehatan.
Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular Merupakan
analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit tidak menular dan
faktor risiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit tidak
menular.
Kegiatan surveilans dapat berjalan dengan baik, karena adanya
unsur yang mendukung. Unsur tersebut merupakan data yang dikumpulkan
dari berbagai sumber. Adapun unsur-unsur tersebut, antara lain:
a. Pencatatan Kematian
Pencatatan kematian yang dilakukan di tingkat desa dilaporkan
ke tingkat kelurahan seterusnya ke tingkat kecamatan dan puskesmas,
lalu selanjutnya dilaporkan ke kabupaten daerah tingkat II. Pada
beberapa daerah tertentu, Amil ( yang memandikan mayat) berperan
dalam melaporkan kematian tertentu di desa-desa. Beberapa seminar di
Indonesia telah diadakan pula untuk menilai dan membahas usaha
untuk meningkatkan kelengkapan pencatatan kematian, yang
validitasnya relative lebih baik karena didiagnosis oleh dokter. Unsur
ini akan bermanfaat bila data pada pencatatan kematian itu cepat diolah
dan hasilnya segera diberitahukan kepada yang berkepentingan.
b. Laporan Penyakit
Unsur ini penting untuk mengetahui distribusi penyakit menurut
waktu, apakah musiman atau siklus. Dengan demikian dapat diketahui
pula ukuran endemis suatu penyakit. Bila terjadi lonnjakan frekuensi
penyakit melebihi ukuran endemis berarti terjadi kejadian luar biasa
pada daerah atau lokasi tertentu. Macam data yang diperlukan
sesederhana mungkin, variable “orang” hanya diperlukan data
mengenai nama dan umurnya, sedangkan variable “tempat” hanya
diperlukan data mengenai alamatnya. Dan yang tidak boleh dilupakan
adalah diagnosis penyakit dan kapan mulai timbulnya penyakit
tersebut.
c. Laporan Wabah
Penyakit tersebut terjadi dalam bentuk wabah, misalnya
keracunan makanan, influenza, demam berdarah, dan lainnya. Laporan
wabah dengan distribusi penyakit menurut waktu, tempat, dan orang,
penting artinya untuk menganalisis dan menginterpretasikan data dalam
rangka mengetahui sumber dan penyebab wabah tersebut.
d. Pemeriksaan Laboratorium
Laboratorium merupakan suatu sarana yang penting untuk
mengetahui kuman penyebab penyakit menular dan pemeriksaan
tertentu untuk penyakit-penyakit lainnya, misalnya kadar gula darah
untuk penyakit diabetes mellitus, trombosit untuk penyakit demam
berdarah, dan lainnya.
e. Penyakit Kasus
Penyelidikan kasus dimaksudkan untuk mengetahui riwayat
alamiah penyakit yang belum diketahui secara umum yang terjadi pada
seorang atau lebih individu.
f. Penyelidikan Wabah atau Kejadian Luar Biasa
Bila terjadi lonjakan frekuensi penyakit yang melebihi frekuensi
biasanya, maka perlu diadakan penyelidikan wabah pada tempat
dimana bila diadakan analisis data sekunder, dapat diketahui terjadinya
peningkatan kasus, untuk itu diperlukan diagnosis klinis dan laboratoris
disamping penyelidikan epidemiologi di lapangan. Wabah sering
dikenal dengan istilah kejadian luar biasa (KLB).
2. Sumber data PTM
a. Survei, antara lain Riskesdas, SDKI, SKRT, Susenas dsb.
b. Hasil wawancara dan pengukuran FR PTM di masyarakat melalui
deteksi dini
c. Hasil wawancara dan pengukuran FR PTM di Puskesmas.
3. Tujuan dan manfaat stepwise untuk penanggulangan PTM
Tujuan STEPwise WHO adalah sebagai berikut :
a. Mengumpulkan informasi terhadap faktor risiko penyakit kronis
penyakit tidak menular untuk pembuat kebijakan dan perencanaan
intervensi.
b. Terkumpulnya data faktor risiko yang sesuai standar dapat disesuaikan
dengan standar masing–masing negara.
c. Menyediakan sistem surveilans penyakit kronis untuk negara dengan
pendapatan rendah –menengah.
d. Membangun kapasitas masing –masing negara untuk monitoring faktor
risiko penyakit tidak menular.
e. Mengintegrasi pendekatan terpadu dengan biaya rendah.

4. Pendekatan stepwise untuk surveilans factor resiko


Khatib (2003) dalam Workshop on the WHO STEPwise
surveillance system (2004), menjelaskan bahwa surveilans merupakan
bahan evaluasi terhadap intervensi yang telah dilakukan, melalui strategi-
strategi terstandarisasi sehingga menghasilkan pemetaan trend dan
penanganan intervensi tersebut. Khatib juga menambahkan bahwa
surveilans nasional, epidemiologi faktor risiko, dan program pembangunan
berbasis masyarakat termasuk hal-hal yang penting untuk diperhatikan.
Tujuan utama surveilans adalah penggunaan data yang dikumpulkan untuk
merumuskan kebijakan dan program promosi kesehatan dan pencegahan
penyakit (Khatib, 2003). Jabbour (2003) dalam Workshop on the WHO
STEPwise surveillance system (2004) juga menyebutkan bahwa surveilans
berguna untuk mengetahui besaran masalah suatu penyakit, menentukan
prioritas penyakit, serta sebagai implementasi dan evaluasi program. Shah
dan Marthur (2010) menjelaskan bahwa surveilans faktor risiko memiliki
beberapa tujuan:
a. Mengidentifikasi kasus beserta wilayah asal, agar dapat diberikan
intervensi yang tepat sasaran.
b. Mengidentifikasi kecenderungan penyakit dan faktor risikonya
berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan.
c. Memonitor efektifitas kebijakan / program intervensi.
d. Memetakan distribusi kasus dan faktor risiko berdasarkan wilayah dan
karakteristik kelompok.
e. Mengidentifikasi isu penelitian baru berdasarkan temuan, yang dapat
memperkuat surveilan.
f. Memfasilitasi advokasi, sebagai pedoman kebijakan, dan menentukan
prioritas alokasi sumber daya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka surveilans sebaiknya
dilakukan dengan memperhatikan hal berikut (Shah dan Marthur, 2010):
a. Mengevaluasi sistem yang sudah berjalan (baik publik maupun swasta).
b. Mengidentifikasi dan melibatkan semua stakeholder, mulai dari tahap
perencanaan hingga pelaksanaan.
c. Memulai dengan pembuatan indikator sederhana yang akurat, reliabel,
tepat waktu, dan kontributif.
d. Fleksibel, sensitif, dan mudah beradaptasi sesuai dengan kebutuhan dan
multiple user.
Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan salah satu
penyakit tidak menular, dan sebagaimana yang telah dirumuskan WHO
mengenai surveilans penyakit tidak menular yaitu dengan pendekatan WHO
STEPwise. STEPwise merupakan flexible tool yang digunakan untuk
assessment faktor risiko penyakit tidak menular, dimana setiap negara
pelaksana dapat menyesuaikannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing
(WHO, 2003). Pendekatan STEPwise menekankan bahwa data dengan
jumlah kecil, tapi dengan kualitas tinggi lebih berharga dibanding data
dengan jumlah besar dengan kualitas rendah. Tindakan surveilans STEPS
dikategorikan berdasarkan kompleksitas dalam memperoleh data, yaitu
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.1 berikut. (WHO, 2003)

Komponen Pendekatan STEPS Surveilan Faktor Risiko Penyakit


Tidak Menular. (WHO, 2003)
a. STEP 1, merupakan pengumpulan informasi umum individu terkait
faktor risiko dengan pengisian kuesioner. Faktor risiko tersebut antara
lain data sosioekonomi, konsumsi tembakau dan alkohol, dan data
kuranga aktivitas fisik. Kuesioner dibuat dalam bentuk simpel, serta
asupan makanan.
b. STEP 2, menambahkan informasi pada STEP1. Dilaksanakan dalam
bentuk pengukuran fisik yang sederhana, seperti tekanan darah, tinggi
badan, dan berat badan.
c. STEP 3, merupakan gabungan STEP1 dan STEP2, serta menambahkan
pengukuran biokimia, misalnya dengan pengambilan sampel darah
untuk pengukuran lipid darah.
Pada pendekatan STEPS, database merupakan hal yang essensial.
Tujuan database yaitu
a. mengumpulkan data update prevalensi dan rata-rata faktor risiko
penyakit berdasarkan umur dan jenis kelamin,
b. data harus menghasilkan indikator-indikator sehingga dapat dilakukan
perbandingan dengan wilayah lain, dan
c. pengumpulan data penyakit tidak menular membutuhkan kerja sama
antara masing-masing wilayah pelaksana surveilans. (WHO, 2003)
Ada Beberapa langkah-langkah Surveilans faktor risiko PTM
dilaksanakan dengan sebagai berikut:
1. PengumpulanData
a. Data dikumpulkan darihasil survey seperti Riskesdas, SDKI,
Posbindu PTM, dan survei rutin yang lain yang merupakan data
agregat/kelompok. Data Posbindu PTM didapatkan dari pencatatan
individu peserta Posbindu PTM. Puskesmas melakukan
pengumpulan data dari posbindu PTM di wilayahnya.
b. Data dikumpulkan menggunakan sistem informasi yang sudah ada
seperti Sistem Informasi manajemen PTM utuk data Posbindu
PTM
2. Pengolahan dan Analisis Data
a. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan bantuan software.
Sistem Informasi Manajemen PTM (data Posbindu PTM) atau
dengan software lain seperti Micosoft Excel, Epi Info, Epi Data,
SPSS atau STATA.
b. Data yang diolah adalah faktor risiko PTM dengan
memperhitungkan jumlah sampel/penduduk di suatu wilayah.
c. Produk pengolahan dan analisis berupa prevalensi faktor risiko
PTM yang bersumber dari Riskesdas dan SDKI antara lain:
a) Prevalensi perokok aktif
b) Prevalensi kurang aktivitas fisik (<150 menit per minggu)
c) Prevalensi kurang konsumsi sayur dan buah
d) Prevalensi obesitas, Prevalensi obesitas sentral
e) Prevalensihipertensi
f) Prevalensiminum alkohol
g) Proporsi penyebab cedera
Sedangkan yangbersumber dari Posbindu PTM antara lain:
a) Cakupan kunjungan posbindu.
b) Jumlah rujukan ke fasilitas kesehatan
c) Proporsi perokok aktif
d) Proporsi kurang aktivitas fisik (<150 menit per minggu)
e) Proporsi kurang konsumsi sayur dan buah
f) Proporsi obesitas
g) Proporsi obesitas sentral
h) Proporsi hipertensi
i) Proporsi hiperglikemi
j) Proporsi hiperkolesterolemia
k) Proporsi gangguan fungsi paru, Dan lain-lain.
d. Berdasarkan hasil pengolahan data, maka dilakukan penyajian
dalam bentuk narasi, tabel, grafik, spot map, area map, dan lainnya.
e. Analisis data dilakukan secara diskriptif menurut
variabelorang(umur, jenis kelamin, pendidikan, dan lainnya),
tempat(antar wilayah) dan waktu (antar waktu).
3. InterpretasiData
Hasil analisis di interpretasi berdasarkan situasi di suatu
wilayah, apakah prevalensi menunjukkan besaran masalah faktor
risiko PTM di wilayah setempat, dan menghubungkannya dengan data
lain, seperti demografi, geografi, gaya hidup/perilaku, dan pendidikan.
4. Disseminasi Informasi
a. Hasil-hasil analisis dan interpretasi dibuat dalam bentuk laporan
dan/atau presentasi. Laporan tersebut dikirimkan oleh unit
penanggungjawab kepada jenjang struktural yang lebih tinggi,
dari Puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten/kota, dari dinas
kesehatan kabupaten/kota ke dinas kesehatan provinsi dan
Kementerian Kesehatan. Umpan balik di berikan ke unit jenjang
dibawahnya, seperti ke dinkes kabupaten/kota dan dinkes
provinsi.
b. Diseminasi informasi ditujukan kepada seluruh stakeholder yang
terkait, seperti jajaran kesehatan, LSM, profesi, perguruan tinggi
dan masyarakat pada umumnya. Untuk jajaran kesehatan,
khususnya dinas kesehatan informasi akan menjadi dasar dalam
pengambilan keputusan dan perencanaan pengendalian PTM
serta evaluasi program.
5. Pendekatan stepwise untuk surveilans stroke
Secara global, penyakit serebrovaskular (stroke) adalah penyebab
utama kematian kedua. Ini adalah penyakit yang terutama terjadi pada usia
pertengahan dan orang dewasa yang lebih tua. WHO memperkirakan bahwa
pada tahun 2005, stroke menyumbang 5,7 juta kematian di seluruh dunia,
setara dengan 9,9% dari semua kematian. Lebih dari 85% dari kematian ini
akan terjadi pada orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan
menengah dan sepertiga akan berada pada orang yang berusia kurang dari
70 tahun.
A. Tujuan
Menanggapi kebutuhan untuk perbaikan dalam pengumpulan
data stroke, pencegahan dan pengobatan, WHO telah mengembangkan
sistem surveilans stroke internasional: pendekatan STEPwise untuk
surveilans stroke (STEPS-stroke) yang membentuk kerangka kerja
untuk pengawasan dan pengumpulan data dan bertujuan untuk
menyediakan data untuk semua Negara Anggota WHO.
Tujuan dari studi surveilans stroke STEPS WHO adalah untuk
menyediakan pekerja kesehatan dan pembuat kebijakan dengan alat
standar untuk nilai besarnya stroke, Menjelaskan populasi yang
berisiko, mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang terkait, memantau
tren dari waktu ke waktu, memberikan dasar untuk merancang dan
melaksanakan intervensi, memantau dan mengevaluasi efektivitas
intervensi.
B. Desain
STEPS Stroke mengidentifikasi tiga kelompok pasien stroke
yang berbeda yang membuat beban stroke di komunitas atau populasi
tertentu. Mereka tercantum dalam urutan kompleksitas dalam
mengidentifikasi mereka, beberapa langkah-langkah yaitu antara lain:
1. Informasi tentang pasien stroke yang dirawat di fasilitas kesehatan
(Langkah 1)
2. Identifikasi kejadian stroke fatal berbasis komunitas (Langkah 2)
3. Perkiraan kejadian stroke non-fatal berbasis komunitas (Langkah 3)
Hasil lainnya yang diharapkan, dari pengaturan lokasi surveilans
termasuk:
1. Membangun keahlian dan sistem berkualitas tinggi untuk
komunitas jangka Panjang surveilans penyakit tidak menular
kronis, terutama stroke.
2. Bentuk jaringan penelitian
3. Meningkatkan kesadaran akan penyakit tidak menular di
masyarakat.
4. Menetapkan prioritas spesifik per negara untuk pencegahan dan
pengelolaan stroke dalam konteks rencana terpadu nasional untuk
penyakit kronis pencegahan dan control.
Surveilans merupakan kunci dari pencegahan stroke, terpenting
uji klinis dan studi epidemiologi telah menunjukkan bahwa stroke
untuk sebagian besar dapat dicegah. Tindakan publik untuk
menurunkan prevalensi paparan faktor risiko, bagaimanapun, tidak
mungkin diambil, jika besarnya dan konsekuensi dari stroke dan
penyakit kronis utama lainnya tidak diidentifikasi
C. Strategi Pencegahan
Setelah data yang akurat telah tersedia, strategi pencegahan yang
dapat dilakukan dengan diimplementasikan untuk mengurangi
terjadinya dan dampak stroke seperti yang dijelaskan dalam tabel di
bawah ini:
Ditujukan untuk
Strategi pencegahan Misalnya, melalui
mengurangi..
Terjadinya stroke - Identifikasi individu pada
Primer di tempat keseluruhan risiko stroke
pertama. yang tinggi atau CVD
(orang hipertensi atau
penderita diabetes)
- populasi yang luas
Inisiatif untuk
meningkatkan aktivitas
fisik
- Legislasi untuk
mengendalikan
penggunaan tembakau.
Dampak stroke - Pengurangan intensif
dalam orang yang dalam paparan yang besas
sudah menderita terhadap faktor risiko
Sekunder
stroke atau TIA. kardiovaskular
- Anti trombosit dan
pengobatan antihipertensi.
Tersier Konsekuensi dan - Pengobatan infeksi di
kerugian pada tahap akut
pasien stroke. - Manajemen ko-morbiditas
- Perbaikan rehabilitasi
Epidemiologi Penyakit Hipertensi
1. Epidemiologi Penyakit Hipertensi
Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya adalah suatu
gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan
nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkan. Hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (Silent
Killer), karena termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai pengan
gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya.
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat
melebihi batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan
usia. Berbagai faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian
besar (90%) penyebab hipertensi tidak diketahui (hipertensi essential).
Penyebab tekanan darah meningkat adalah peningkatan kecepatan denyut
jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari pembuluh darah dari tepi dan
peningkatan volume aliran darah.
Penyakit hipertensi merupakan penyakit kelainan jantung yang ditandai
oleh meningkatnya tekanan darah dalam tubuh. Seseorang yang terjangkit
penyakit ini biasanya berpotensi mengalami penyakit-penyakit lain seperti
stroke, dan penyakit jantung
Dari definisi-definisi diatas dapat diperoleh kesimpulan bahwa
hipertensi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah menjadi naik karena
gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi
yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkannya.
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan
darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau
lebih.
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi:
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah.
2. Gejala yang lazim
Gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan
kelelahan. Dalam kenyataanya ini merupakan gejala terlazim yang
mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Sementara
gejala ringan hipertensi yaitu:
a. Pusing atau sakit kepala
b. Sering gelisah
c. Sukar tidur
d. Mudah marah
e. Wajah merah
f. Tengkuk terasa pegal dan terasa berat
g. Sesak napas
h. Telinga berdengung
i. Mudah lelah, mimisan dan mata berkunang-kunang

Gambar 1. Gejala Hipertensi


Pada pemeriksaan fisik, hipertensi juga dicurigai ketika terdeteksi adanya
retinopati hipertensi pada pemeriksaan fundus optik di belakang mata
dengan menggunakan oftalmoskop. Biasanya beratnya perubahan retinopati
hipertensi dibagi atas tingkat I-IV, walaupun jenis yang lebih ringan
mungkin sulit dibedakan antara satu dan lainnya.Hasil oftalmoskopi juga
dapat memberi petunjuk berapa lama seseorang telah mengalami hipertensi.
a. Etiologi
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan- perubahan pada :
a) Elastisitas dinding aorta menurun
b) Katub jantung menebal dan menjadi kaku
c) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun, kemampuan jantung memompa darah
menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
d) Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
b. Jenis Hipertensi
Hipertensi dapat didiagnosa sebagai penyakit yang berdiri sendiri,
tetapi lebih sering dijumpai terkait dengan penyakit lain, misalnya obesitas,
dan diabetes melitus. Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat
dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:
a) Hipertensi esensial atau hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya.
b) Hipertensi renal atau hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang
disebabkan oleh penyakit lain.
c) Komplikasi Hipertensi, Jika hipertensi tidak diobati maka akan
menyebabkan stroke, penyakit jantung koroner, gagal jantung, gagal
ginjal kronik.
c. Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi penyakit hipertensi terdiri dari:
Tekanan sistolik:
1. < 119 mmHg : Normal
2. 120-139 mmHg : Pra hipertensi
3. 140-159 mmHg : Hipertensi derajat 1
4. > 160 mmHg : hipertensi derajat 2
Tekanan diastolik
1) < 79 mmHg : Normal
2) 80-89 mmHg : pra hipertensi
3) 90-99 mmHg : hipertensi derajat 1
4) >100mmHg : hipertensi derajat 2
Stadium 1: Hipertensi ringan (140-159 mmHg 90-99 mmHg)
Stadium 2: Hipertensi sedang (160-179 mmHg 100-109 mmHg)
Stadium 3: Hipertensi berat (180-209 mmHg 110-119 mmHg)
d. Gejala Hipertensi
Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak
memiliki gejala khusus, gejala-gejala yang mudah diamati antara lain yaitu
Gejala ringan seperti pusing atau sakit kepala, Sering gelisah, Wajah merah,
Tengkuk terasa pegal, Mudah marah, Telinga berdengung, Sukar tidur,
Sesak napas, Rasa berat ditengkuk, Mudah lelah dan Mata berkunang-
kunang
2. Faktor Risiko Hipertensi
Faktor risiko terjadinya hipertensi, adalah antara lain:
1. Obesitas (kegemukan)
Walaupun belum diketahui secara pasti hubungan antara hipertensi
dan obesitas, namun terbukti bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi (usia
18 tahun ke atas). Obesitas atau kegemukan di mana berat badan mencapai
indeks massa tubuh > 27 (berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m)
juga merupakan salah satu faktor risiko terhadap timbulnya hipertensi.
Obesitas merupakan ciri dari populasi penderita hipertensi. Curah jantung
dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi
dari penderita hipertensi yang tidak obesitas. Pada obesitas tahanan perifer
berkurang atau normal, sedangkan aktivitas saraf simpatis meninggi
dengan aktivitas renin plasma yang rendah. Obesitas diartikan sebagai
suatu keadaan dimana terjadi penimbunan lemak yang berlebihan di
jaringan lemak tubuh, dan dapat mengakibatkan terjadinya beberapa
penyakit. Parameter yang umum digunakan untuk menentukan keadaan
tersebut adalah indeks massa tubuh seseorang 25-29,9 kg/m2.
Obesitas terutama tipe sentral/ abdominal sering dihubungkan
dengan beberapa keadaan seperti diabetes melitus, hiperlipidemia, penyakit
jantung, hipertensi, penyakit hepatobiliar dan peningkatan resiko mortalitas
dan morbiditas. Swedish Obese Study (1999) mendapatkan kejadian
hipertensi pada 13,6% populasi obesitas sedangkan Tromo study
membuktikan adanya hubungan antara peningkatan indeks massa dengan
peningkatan tekanan darah baik pada laki-laki dan wanita. Peningkatan
risiko ini juga seiring dengan peningkatan waist -hip- ratio (WHR) dan
waist circumference dimana dikatakan risiko tinggi bila memiliki WHR >
0,95 untuk laki-laki dan > 0,85 untuk wanita, serta waist circumference >
102 cm untuk laki-laki dan > 88 cm untuk wanita. Laki-laki memiliki resiko
angka kejadian penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi dibanding
wanita, karena obesitas tipe sentral ini lebih banyak terjadi pada laki-laki
dibanding wanita. Hal ini disebabkan adanya perbedaan distribusi lemak
tubuh antara laki-laki dan wanita. Pada laki-laki distribusi lemak tubuh
terutama pada daerah abdomen sedangkan wanita lebih banyak pada daerah
gluteal dan femoral.
Meskipun telah banyak penelitian yang dilakukan, akan tetapi
patogenesis hipertensi pada obesitas masih belum jelas benar. Beberapa
ahli berpendapat peranan faktor genetik sangat menentukan kejadian
hipertensi pada obesitas, tetapi yang lainnya berpendapat bahwa faktor
lingkungan mempunyai peranan yang lebih utama. Hal ini dapat dilihat dari
terjadinya peningkatan prevalensi obesitas dari tahun ke tahun tanpa
adanya perubahan genetik, selain itu pada beberapa populasi/ ras dengan
genetik yang sama mempunyai angka prevalensi yang sangat berbeda.
Mereka berkesimpulan walaupun faktor genetik berperan tetapi factor
lingkungan mempunyai andil yang besar. Saat ini dugaan yang mendasari
timbulnya hipertensi pada obesitas adalah peningkatan volume plasma dan
peningkatan curah jantung yang terjadi pada obesitas berhubungan dengan
hiperinsulinemia, resistensi insulin dan sleep apnea syndrome, akan tetapi
pada tahun-tahun terakhir ini terjadi pergeseran konsep, dimana diduga
terjadi perubahan neurohormonal yang mendasari kelainan ini. Hal ini
mungkin disebabkan karena kemajuan pengertian tentang obesitas yang
berkembang pada tahun-tahun terakhir ini dengan ditemukannya leptin.
Perubahan berat badan juga merupakan salah satu faktor penting
pada survival rate penderita hipertensi. Perubahan berat badan merupakan
sebanyak 5 kg (meningkat ataupun menurun) pada kurun waktu 10-15
tahun akan meningkatkan angka mortalitas sebesar 1,5 - 2 kali lebih tinggi.
Pada satu studi prospektif- epidemiologi didapatkan angka mortalitas
penyakit kardiovaskular lebih rendah pada populasi dengan berat badan
yang stabil selama kurun waktu tertentu. Pada obesitas biasanya sering
didapatkan adanya fluktuasi peningkatan dan penurunan berat badan secara
periodik ini akan meningkatkan resiko mortalitas pada obesitas.
2. Stres.
Diduga melalui aktivasi saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat
kita beraktifitas). Peningkatan aktivitas saraf simpatis mengakibatkan
meningkatnya tekanan darah secara intermitten (tidak menentu). Hubungan
antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis, yang
dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Apabila stress menjadi
berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menjadi tetap tinggi.
Arieska Ann Soenarta, 2008 menyatakan bahwa stres akan meningkatkan
resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung. Sehingga akan
menstimulasi aktifitas saraf simpatetik. Adapun stress ini dapat
berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik
personal.
3. Faktor keturunan (genetik).
Apabila riwayat hipertensi didapati pada kedua orang tua, maka
dugaan hipertensi essensial akan sangat besar. Demikian pula dengan
kembar monozigot (satu sel telur) apabila salah satunya adalah penderita
hipertensi. Peran factor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti
dengan ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada pada
kembar monozigot (satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel telur).
Seorang penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi primer
(esensial) apabila dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi terapi, bersama
lingkungannya akan menyebabkan hipertensinya berkembang dan dalam
waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul tanda dan gejala hipertensi dengan
kemungkinan komplikasinya. Orang-orang dengan riwayat keluarga yang
mempunyai penyakit tidak menular lebih sering menderita penyakit yang
sama. Jika ada riwayat keluarga dekat yang mempunyai faktor keturunan
hipertensi, akan mempertinggi risiko terkena hipertensi pada keturunannya.
Keluarga yang memiliki riwayat hipertensi akan meningkatkan risiko
hipertensi sebesar 4 kali lipat. Dari data statistik terbukti bahwa seseorang
memiliki kemungkinan lebih besar mendapatkan penyakit tidak menular
jika orang tuanya penderita PTM. Jika seorang dari orang tua menderita
PTM, maka dimungkinkan sepanjang hidup keturunannya mempunyai
peluang 25% terserang penyakit tersebut. Jika kedua orang tua mempunyai
penyakit tidak menular maka kemungkunan mendapatkan penyakit tersebut
sebesar 60%.
4. Jenis Kelamin (gender).
Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi
daripada wanita. Hipertensi berdasarkan gender ini dapat pula dipengaruhi
oleh faktor psikologis. Pada wanita seringkali dipicu oleh perilaku tidak
sehat (merokok, kelebihan berat badan), depresi, dan rendahnya status
pekerjaan. Sedangkan pada pria lebih berhubungan dengan pekerjaan,
seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran.
Secara teoritis penyakit hipertensi cenderung lebih tinggi pada perempuan
dibandingkan laki – laki. Hal ini disebabkan karena penyakit hipertensi pada
wanita meningkat seiring dengan bertambahnya usia, beban tugas sebagai
ibu rumah tangga apalagi ibu rumah tangga yang bekerja dengan tingkat
stres yang tinggi. Hipertensi esensial mulai terjadi seiring bertambahnya
umur. Pada populasi umum, pria lebih banyak yang menderita penyakit ini
dari pada wanita (39% pria dan 31% wanita). Prevalensi hipertensi primer
pada wanita sebesar 22%-39% yang dimulai dari umur 50 sampai lebih dari
80 tahun, sedangkan pada wanita berumur kurang dari 85 tahun
prevalensinya sebesar 22% dan meningkat sampai 52% pada anita berumur
lebih dari 85 tahun. (Trenkwalder P et al, 2004).
Bila ditinjau perbandingan antara perempuan dan pria, ternyata
perempuan lebih banyak menderita hipertensi. Dari laporan Sugiri di Jawa
Tengah didapatkan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6% untuk
perempuan. Prevalensi di Sumatera Barat 18,6% pria dan 17,4%
perempuan, sedangkan daerah perkotaan di Jakarta (Petukangan)
didapatkan 14,6% pria dan 13,7% perempuan.
Faktor jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya penyakit tidak
menular tertentu, yang banyak dicetuskan oleh hipertensi dimana pria lebih
banyak menderita hipertensi dibandingkan wanita dengan rasio sekitar 2,29
mmHg untuk peningkatan darah sistolik. Wanita yang sedang memasuki
menopause berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi. Di Indonesia
terdapat beban ganda dari prevalensi penyakit hipertensi dan penyakit
kardiovaskuler lainnya dengan penyakit infeksi dan malnutrisi. Prevalensi
hipertensi yang tertinggi adalah pada wanita (25%) dan pria (24%). Rata-
rata tekanan darah sistole 127,33 mmHg pada pria Indonesia dan 124,13
mmHg pada wanita Indonesia. Tekanan diastole 78,10 mmHg pada pria dan
78,56 mmHg pada wanita. Arieska Ann Soenarta, 2008 menyatakan bahwa
lelaki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal.
Lelaki juga mempunyai resiko lebih besar terhadap morbiditas dan
mortalitas cardiovaskuler. Sedangkan diatas umur 50 tahun, hipertensi lebih
banyak terjadi pada perempuan.
5. Usia.
Dengan semakin bertambahnya usia, kemungkinan seseorang
menderita hipertensi juga semakin besar. Penyakit tidak menular tertentu
seperti penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, dan lain lain erat
kaitannya dengan umur. Semakin tua seseorang maka semakin besar risiko
terserang penyakit tersebut. Umur lebih dari 40 tahun mempunyai risiko
terkena hipertensi dan penyakit DM. Dengan bertambahnya umur, risiko
terkena hipertensi lebih besar sehingga prevalensi dikalangan usia lanjut
cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 % diatas umur
60 tahun. Arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan serta tekanan darah
meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Peningkatan kasus hipertensi
akan berkembang pada umur lima puluhan dan enampuluhan. Dengan
bertambahnya umur, dapat meningkatkan risiko hipertensi. Hipertensi bisa
terjadi pada segala usia, namun paling sering dijumpai pada usia 35 tahun
atau lebih. Sebenarnya biasa saja bila tekanan darah kita sedikit meningkat
dengan bertambahnya umur. Ini sering disebabkan oleh perubahan alami
pada jantung, pembuluh darah dan hormon. Hanya saja bila perubahan ini
disertai faktor-faktor lain maka bisa memicu terjadinya hipertensi.
Muhammadun AS, 2010 menyatakan bahwa wanita pada usia 50
tahun mempunyai resiko hipertensi lebih besar dibandingkan laki-laki pada
usia yang sama, dan wanita pada usia dibawah 50 tahun memiliki resiko
lebih kecil dibandingkan dengan` laki-laki pada usia yang sama. Arieska
Ann Soenarta, 2008 menyatakan bahwa Insidensi hipertensi meningkat
seiring dengan pertambahan usia. Seseorang yang berumur diatas 60 tahun,
50 - 60 % diantaranya mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama
dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi
sejalan dengan pertambahan usia.
6. Asupan garam.
Melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan
darah yang akan diikuti oleh peningkatan ekskresi kelebihan garam
sehingga kembali pada keadaan hemodinamik (sistem perdarahan) yang
normal. Pada hipertensi essensial mekanisme inilah yang terganggu.
Arieska Ann Soenarta, 2008 menyatakan bahwa Sodium adalah penyebab
dari hipertensi esensial, asupan garam yang tinggi akan menyebabkan
pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung
akan meningkatkan tekanan darah. Sodium secara eksperimental
menunjukkan kemampuan untuk menstimulasi mekanisme vasopressor
pada susunan syaraf pusat. Defisiensi potasium akan berimplikasi terhadap
terjadinya hipertensi.
7. Gaya hidup yang kurang sehat.
Walaupun tidak terlalu jelas hubungannya dengan hipertensi namun
kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan kurang olah raga
dapat pula mempengaruhi peningkatan tekanan darah. Marice, S (2010)
dalam penelitiannya mengenai hubungan perilaku merokok, konsumsi
makanan/minuman dan aktifitas fisik dengan penyakit hipertensi pada
responden obes usia dewasa di Indonesia yang menyatakan bahwa
responden yang mengkonsumsi makanan asin tidak terbukti ada hubungan
mengalami penyakit hipertensi.
Mubarok, Khamim (2011), dalam penelitiannya mengenai Studi
Prevalensi dan Faktor Risiko Hipertensi Primer pada Nelayan di Pelabuhan
Jepara dengan hasil penelitian menunjukka bahwa prevalensi hipertensi
primer di Pelabuhan Jepara sebesar 24,5 %.
Berdasarkan analisis diketahui ada hubungan antara Indeks Massa
Tubuh (IMT) dengan kejadian hipertensi primer (p = 0,0001), ada hubungan
antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi primer (p = 0,02). ada
hubungan antara tingkat penghasilan engan kejadian hipertensi primer (p =
0,0001), ada hubungan antara kebiasaan minum-minum berkafein dengan
kejadian hipertensi primer (p = 0,0001), ada hubungan konsumsi alkohol
dengan kejadian hipertensi primer(p = 0,0001).
Secara umum masyarakat sering menghubungkan antara konsumsi
garam dengan hipertensi. Garam merupakan hal yang sangat penting pada
mekanisme timbulnya hipertensi. Pengaruh asupan garam terhadap
hipertensi melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan
darah. Keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan ekskresi (pengeluaran)
kelebihan garam sehingga kembali pada keadaan hemodinamik (system
pendarahan) yang normal. Pada hipertensi esensial mekanisme ini
terganggu, di samping ada faktor lain yang berpengaruh. Olah raga ternyata
juga dihubungkan dengan pengobatan terhadap hipertensi. Melalui olah
raga yang isotonik dan teratur (aktivitas fisik aerobik selama 30-45
menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan
tekanan darah.
8. Pencegahan dan penanggulangan Penyakit Hipertensi
A. Pencegahan Hipertensi
1) Pengendalian berat badan
2) Pengurangan asupan natrium klorida
3) Mengurangi konsumsi alcohol
4) Meningkatkan aktifitas fisik
5) Pengendalian stress
6) Menjaga pola makan
7) Modifikasi gaya hidup
8) Diet rendah garam / kolesterol/lemak jenuh
9) Mengurangi asupan garam dalam tubuh
10) Batasi konsumsi daging dan keju
11) Makan sayur dan buah yang berserat tinggi seperti sayuran hijau,
pisang dan wortel.
12) Konsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan
kalsium.
13) Berhenti merokok (setidaknya mengurangi kegiatan merokok)
14) Hindari obat yang bisa meningkatkan tekanan darah tinggi
15) Kendalikan diabetes
Cara lain mencegah diabetes yaitu:
1) Mengatasi Obesitas.
Dengan melakukan diet rendah kolesterol, namun kaya dengan serat
dan protein. Dianjurkan pula minum suplemen potassium dan kalsium.
Minyak ikan yang kaya dengan asam lemak omega-3 juga dianjurkan.
Diskusikan dengan dokter ahli/ahli gizi sebelum melakukan diet.
2) Mengurangi Asupan garam ke dalam tubuh.
Harus memperhatikan kebiasaan makan penderita hipertensi.
Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan, jadi
sebaiknya dilakukansecara bertahap dan tidak dipakai sebagai
pengobatan tunggal.
3) Menghindari stres. Ciptakan suasana yang menenangkan bagi pasien
penderita hipertensi. Perkenalkan berbagai metode relaksasi seperti
yoga atau meditasi, yang dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya
dapat menurunkan tekanan darah.
4) Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat. Anjurkan kepada pasien
penderita Hipertensi untuk melakukan olah raga seperti senam aerobik
atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu.
Selain itu menghentikan kebiasaan merokok dan mengurangi minum
minuman beralkohol sebaiknya juga dilakukan.
B. Penanggulangan
Penanggulangan hipertensi dimulai dengan meningkatkan kesadaran
masyarakat dan perbahan pola hidup kearah yang lebih sehat. Faktor
dominan yang menyebabkan hipertensi adalah pola makan dan aktivitas
tubuh. Akibat dua hal seiring bertambahnya usia semakin meningkatkan
resiko kemunculan penyakit. Pengendalian hipertensi antara lain yaitu:
1) Diet rendah garam, kolesterol, dan lemak jenuh. Mengurangi asupan
garam ke dalam tubuh. Harus memperhatikan kebiasaan makan
penderita hipertensi. Pengurangan asupan garam secara drastis akan
sulit dilaksanakan, jadi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak
dipakai sebagai pengobatan tunggal.
2) Behenti merokok dan alkohol
3) Latihan fisik secara teratur
4) Menghindari stres. Buatlah suasana yang menenangkan dan lakukan
relaksasi-relaksasi rutin setiap hari. Hal ini penting untuk memberi efek
ketenangan yang dapat mengontrol sistem saraf sehingga dapat
menurunkan tekanan darah.
5) Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat. Penting melakukan
olahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat sekitar 30 menit
sebanyak beberapa kali dalam sepekan.
Epidemiologi Penyakit Jantung Koroner
1. Klasifikasi PJK
A. Pengertian Penyakit Jantung Koroner (Coronary Heart Disease)
Penyakit Jatung Koroner (PJK) adalah suatu kelainan yang disebabkan
oleh penyempitan atau penghambatan pembuluh arteri yang mengalirkan
darah ke otot jantung. Jantung diberi oksigen dalam darah melalui arteri-
arteri koroner utama yang bercabang menjadi sebuah jaringan pembuluh
lebih kecil yang efisien.
B. Klasifikasi Penyakit Jantung Koroner
Menurut Huon Gray (2002:113) penyakit jantung koroner diklasifikasikan
menjadi 3, yaitu Silent Ischaemia (Asimtotik), Angina Pectoris, dan
Infark Miocard Akut (Serangan Jantung). Berikut adalah penjelasan
masing-masing klasifikasi PJK:
a. Silent Ischaemia (Asimtotik)
Banyak dari penderita silent ischaemia yang mengalami PJK tetapi
tidak merasakan ada sesuatu yang tidak enak atau tanda-tanda suatu
penyakit.
b. Angina Pectoris
Angina pectoris terdiri dari dua tipe, yaitu Angina Pectoris Stabil
yang ditandai dengan keluhan nyeri dada yang khas, yaitu rasa tertekan
atau berat di dada yang menjalar ke lengan kiri dan Angina Pectoris
tidak Stabil yaitu serangan rasa sakit dapat timbul,8 baik pada saat
istirahat, waktu tidur, maupun aktivitas ringan. Lama sakit dada jauh
lebih lama dari sakit biasa. Frekuensi serangan juga lebih sering.
c. Infark Miocard Akut (Serangan Jantung)
Infark miocard akut yaitu jaringan otot jantung yang mati karena
kekurangan oksigen dalam darah dalam beberapa waktu. Keluhan yang
dirasakan nyeri dada, seperti tertekan, tampak pucat berkeringat dan
dingin, mual, muntah, sesak, pusing, serta pingsan.
C. Penyebab Penyakit Jantung Koroner
Penyebab PJK terdiri dari beberapa faktor dan dinamakan faktor
risiko. Faktor risiko merupakan faktor-faktor yang keberadaannya
berkedudukan sebelum terjadinya penyakit. Secara garis besar faktor risiko
PJK dapat dibagi dua, yaitu faktor risiko yang dapat diubah / modifiable
(kolesterol, hipertensi, merokok, obesitas, diabetes melitus, kurang aktifitas
fisik, stres) dan faktor risiko yang tidak dapat diubah / non modifiable
(riwayat keluarga, jenis kelamin, usia).
Berdasarkan penelitian terdahulu tentang diagnosa penyakit jantung
koroner, maka dalam penelitian ini digunakan faktor risiko (variabel input)
seperti jenis kelamin, usia, denyut nadi, tekanan darah sistolik, kolesterol,
gula darah sewaktu, trigliserida, elektrokardiogram. Serta dengan
tambahan gejala terjadinya penyakit jantung koroner seperti nyeri dada,
sesak nafas dan batuk. Berikut ini adalah uraian tentang variabel input yang
digunakan, yaitu:
a. Jenis Kelamin
Dari hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa jenis
kelamin laki-laki lebih besar terkena PJK dibandingkan dengan wanita.
Akan tetapi, pada wanita yang sudah menopause risiko PJK meningkat.
Hal itu berkaitan dengan penurunan hormon estrogen yang berperan
penting dalam melindungi pembuluh darah dari kerusakan yang
memicu terjadinya aterosklerosis.
b. Usia
Hasil penelitian terdahulu terbukti bahwa semakin
bertambahnya usia, risiko terkena PJK semakin tinggi, dan pada
umumnya dimulai pada usia 40 tahun ke atas.
c. Denyut Nadi
Denyut nadi adalah denyutan arteri dari gelombang darah yang
mengalir melalui pembuluh darah sebagai akibat dari denyutan jantung.
d. Tekanan Darah Sistolik
Tekanan darah sistolik adalah tekanan darah pada saat terjadi
kontraksi otot jantung. Istilah ini sering digunakan untuk merujuk pada
tekanan arterial maksimum saat terjadi kontraksi pada lobus ventrikular
kiri dari jantung. Rentang waktu terjadinya kontraksi disebut systole.
e. Kolesterol
Kolesterol ditranspor dalam darah dalam bentuk lipoprotein,
75% merupakan lipoprotein densitas rendah (low density
lipoprotein/LDL) dan 25% merupakan lipoprotein densitas tinggi (high
density lipoprotein/HDL). Kadar kolesterol LDL yang rendah memiliki
peran yang baik pada PJK dan terdapat hubungan terbalik antara kadar
HDL dan risiko terjadinya PJK.
f. Gula Darah Sewaktu
Gula darah sewaktu adalah tingkat glukosa di dalam darah pada
waktu itu (saat pemeriksaan). Konsentrasi gula darah atau tingkat
glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang
dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh.
g. Trigliserida
Trigliserida merupakan satu macam lemak yang terdapat dalam
tubuh, yang di dalam cairan darah dikemas dalam bentuk partikel
lipoprotein.
h. Elektrokardiogram (EKG)
Elektrokardiogram adalah rekaman aktivitas listrik jantung,
yang digunakan untuk mendiagnosa aritmia jantung, iskemia miokard
dan infark miokard.11
i. Nyeri dada
Gejala nyeri dada dirasakan oleh sekitar 1/3 penderita PJK.
Nyeri dirasakan di bagian tengah dan menyebar ke leher, lengan, dagu.
Rasa nyeri sering disertai rasa seperti diremas atau dicengkeram, dan
hal ini disebabkan karena jantung kekurangan darah dan oksigen.
Terkadang nyeri tidak dirasakan, tetapi hanya merasakan tidak enak
badan saja.
j. Sesak Nafas
Bila jantung tidak dapat memompa sebagaimana mestinya,
cairan cenderung dapat berkumpul di jaringan dan paru, sehingga
menyebabkan kesulitan bernafas waktu berbaring.
k. Batuk
Batuk merupakan tindakan refleks naluriah atau mekanisme
kerja tubuh untuk mengusir benda asing yang dapat mengiritasi saluran
pernapasan.
D. Epidemiologi PJK

E. Straregi pencegahan dan promosi kesehatan mengenai masalah PJK di


Indonesia
Epidemiologi Kanker Payudara
1. Pengertian Kanker Payudara
Kanker payudara adalah tumor ganas pada jaringan payudara.
Jaringan payudara terdiri dari kelenjar susu (kelenjar pembuat air susu),
saluran kelenjar (saluran air susu), dan jaringan penunjang payudara. Oleh
Word Health Organization (WHO) penyakit ini dimasukkan ke dalam
International Classification of Disease (ICD) dengan kode 174-175.
Kanker payudara terjadi karena adanya kerusakan pada gen yang
mengatur pertumbuhan dan diffrensiasi sehingga sel itu tumbuh dan
berkembang biak tanpa dapat dikendalikan. Penyebaran kanker payudara
terjadi melalui pembuluh getah bening dan tumbuh di kelenjar getah
bening, sehingga kelenjar getah bening aksila ataupun supraklavikula
membesar. Kemudian melalui pembuluh darah kanker menyebar ke organ lain
seperti paru-paru, hati dan otak.
2. Teori terjadinya Kanker
Perubahan yang terjadi pada sel, terutama disebabkan oleh sinar UV,
sinar X dan bahan-bahan kimia penyebab kanker. Yang termasuk bahan-bahan
kimia penyebab kanker adalah Benzopyrene, yakni zat berbahaya yang terjadi
akibat adanya pembakaran. Benzopyrene biasa ditemukan pada produk-produk
yang dimasak dengan api atau pengasapan. Benzopyrene mengakibatkan
timbulnya sebuah zat tertentu yang secara kimia bisa mengikat DNA dan ikatan
inilah yang kemudian mengakibatkan terjadinya perubahan struktur DNA.
Perubahan ini merugikan proses pembelahan sel dan sebaliknya
menguntungkan proses “Mutasi.” Semakin lama seseorang mengkonsumsi
tembakau, maka semakin besar pula zat-zat penyebab kanker yang dihisap oleh
si perokok, sehingga semakin tinggi pula resiko- bahwa zat-zat penyebab
kanker yang telah ia hisap tersebut, akan menjadi pemicu terjadinya perubahan
struktur dalam gen.
Resiko terjadinya “Mutasi” akan semakin bertambah seiring dengan
pertambahan usia, hal ini dikarenakan tubuh seseorang yang semakin berumur
bekerja tak seoptimal dulu. Inilah yang dengan mudah bisa memicu terjadinya
kesalahan pada pembelahan sel.
A. Gejala
a) Fase awal kanker payudara asimtomatik (tanpa tanda dan gejala).
Tanda dan gejala yang paling umum adalah benjolan dan
penebalan pada payudara. Kebanyakan kira-kira 90% ditemukan
oleh penderita sendiri. Kanker payudara pada stadium dini biasanya
tidak menimbulkan keluhan.
b) Fase lanjut :
1) Bentuk dan ukuran payudara berubah, berbeda dari sebelumnya.
2) Luka pada payudara sudah lama tidak sembuh walau sudah diobati.
3) Eksim pada puting susu dan sekitarnya sudah lama tidak
sembuh walau diobati.
4) Puting sakit, keluar darah, nanah atau cairan encer dari puting
atau keluar air susu pada wanita yang sedang hamil atau tidak
menyusui.
5) Puting susu tertarik ke dalam.
6) Kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk (peud d’orange).
c) Metastase luas, berupa :
a. Pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula dan servikal.
b. Hasil rontgen toraks abnormal dengan atau tanpa efusi pleura.
c. Peningkatan alkali fosfatase atau nyeri tulang berkaitan
dengan penyebaran ke tulang.
d. Fungsi hati abnormal.
Di Indonesia, kanker payudara masih menjadi masalah besar
karena lebih dari 70% pasien datang ke dokter pada stadium yang sudah
lanjut dengan berbagai bentuk luka, antara lain tumor melekat pada kulit
dan jaringan dibawahnya serta penyebaran pada kelenjar getah bening
regional. Gejala lain yang mungkin timbul adalah batuk dan sesak
nafas karena metastasis tumor pada paru, sakit di punggung akibat
metastasis pada tulang belakang, berat badan semakin menurun dan
anemia.
B. Stadium
Dibawah ini pembagian stadium klinis Portman yang disesuaikan
dengan aplikasi klinik :
a. Stadium I :Tumor terbatas dalam payudara, bebas dari jaringan
sekitarnya, tidak ada klasifikasi/infiltrasi berkulit dan jaringan
dibawahnya. Besar tumor 1-2 cm. KGB (Kelenjar Getah Bening)
regional belum teraba.
b. Stadium II : Sama dengan stadium I, besar tumor 2-5 cm, sudah
ada KGB aksila (+), tetapi masih bebas dengan diameter kurang 2
cm.
c. Stadium IIIA : Tumor berukuran 5-10 cm, tetapi masih bebas dari
jaringan sekitarnya, KGB aksila masih bebas satu sama lain.
d. Stadium IIIB : Tumor meluas dalam jaringan payudara ukuran 5-
10 cm, fiksasi pada kulit/dinding dada, kulit merah dan ada
edema (lebih dari 1/3 permukaan kulit payudara), ulserasi, nodul
satelit, KGB aksila melekat satu sama lain atau ke jaringan
sekitarnya dengan diameter 2-5 cm dan belum ada metastasis jauh.
e. Stadium IV : Tumor seperti stadium I, II atau III tetapi sudah
disertai dengan
KGB aksila supraklavikula dan metastasis jauh.
3. Epidemiologi Kanker Payudara
A. Distribusi dan Frekuensi
Semua wanita memiliki risiko terkena kanker payudara. Kanker
payudara juga bisa menyerang pria dengan perbandingan 1 : 100 antara
pria dengan wanita. Kanker payudara ditemukan di seluruh dunia.
Tahun 2003, insidens kanker payudara di Belanda 91 per 100.000
penduduk, Amerika 71,7 per 100.000 penduduk, Swiss 70 per 100.000
wanita, Australia 83,2 per 100.000 penduduk, Kanada 84,7, Indonesia
26 per 100.000 wanita pada tahun 2002 dan Jepang 16 per 100.000
penduduk.
Kanker payudara lebih sering dijumpai pada umur 40-49 tahun
yaitu sebesar 30,35%. Menurut Sukardja yang dikutip oleh Arlinda
(2002) di Amerika frekuensi kanker payudara tertinggi ditemukan
pada umur 40-50 tahun. Demikian juga di Jepang yaitu sebesar 40,6%
kanker payudara ditemukan pada umur 40-49 tahun dan jarang pada umur
kurang dari 30 tahun.
4. Faktor risiko Kanker Payudara
Beberapa faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya kanker payudara
adalah :
a. Usia
Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya usia.
Berdasarkan penelitian American Cancer Society tahun 2006
diketahui usia lebih dari 40 tahun mempunyai risiko yang lebih
besar untuk mendapatkan kanker payudara yakni 1 per 68 penduduk
dan risiko ini akan bertambah seiring dengan pertambahan usia
yakni menjadi 1 per 37 penduduk usia 50 tahun, 1 per 26 penduduk
usia 60 tahun dan 1 per 24 penduduk usia 70 tahun. Kanker payudara
juga ditemukan pada usia <40 tahun namun jumlahnya lebih sedikit
yakni 1 per 1.985 penduduk usia 20 tahun dan 1 per 225 penduduk
usia 30 tahun. Data American Cancer Society (2007) melaporkan
70% perempuan didiagnosa menderita kanker payudara di atas usia 55.
b. Jenis Kelamin
Kanker payudara lebih banyak ditemukan pada wanita. Pada pria
juga dapat terjadi kanker payudara, namun frekuensinya jarang
hanya kira-kira 1% dari kanker payudara pada wanita.
c. Riwayat Reproduksi
Riwayat reproduksi dihubungkan dengan banyak paritas, umur
melahirkan anak pertama dan riwayat menyusui anak. Wanita yang
tidak mempunyai anak atau yang melahirkan anak pertama di usia
lebih dari 30 tahun berisiko 2-4 kali lebih tinggi daripada wanita
yang melahirkan pertama di bawah usia 30 tahun. Wanita yang tidak
menyusui anaknya mempunyai risiko kanker payudara 2 kali lebih
besar. Kehamilan dan menyusui mengurangi risiko wanita untuk
terpapar dengan hormon estrogen terus. Pada wanita menyusui,
kelenjar payudara dapat berfungsi secara normal dalam proses
laktasi dan menstimulir sekresi hormon progesteron yang bersifat
melindungi wanita dari kanker payudara.
d. Riwayat Kanker Individu
Penderita yang pernah mengalami infeksi atau operasi tumor jinak
payudara berisiko 3-9 kali lebih besar untuk menderita kanker
payudara. Penderita tumor jinak payudara seperti kelainan fibrokistik
berisiko 11 kali dan penderita yang mengalami operasi tumor ovarium
mempunyai risiko 3-4 kali lebih besar.
e. Riwayat Kanker Keluarga
Secara genetik, sel-sel pada tubuh individu dengan riwayat keluarga
menderita kanker sudah memiliki sifat sebagai embrio terjadinya
sel kanker. Menurut sutjipto (2000) yang dikutip oleh Elisabet T,
kemungkinan terkena kanker payudara lebih besar 2 hingga 4 kali
pada wanita yang ibu dan saudara perempuannya mengidap penyakit
kanker payudara.
f. Menstruasi cepat dan Menopause lambat
Wanita yang mengalami menstruasi pertama (Menarche) pada usia
kurang dari 12 tahun berisiko 1,7 hingga 3,4 kali lebih tinggi daripada
wanita dengan menstruasi yang datang pada usia normal atau lebih dari
12 tahun dan wanita yang mengalami masa menopausenya terlambat
lebih dari 55 tahun berisiko 2,5 hingga 5 kali lebih tinggi. Wanita
yang menstruasi pertama di usia kurang dari 12 tahun dan wanita
yang mengalami masa menopause terlambat akan mengalami
siklus menstruasi lebih lama sepanjang hidupnya yang
mengakibatkan keterpaparan lebih lama dengan hormon estrogen.
g. Pajanan Radiasi
Wanita yang terpapar penyinaran (radiasi) dengan dosis tinggi di
dinding dada berisiko 2 hingga 3 kali lebih tinggi.
h. Obesitas dan Konsumsi makanan lemak tinggi
Wanita yang mengalami kelebihan berta badan (obesitas) dan individu
dengan konsumsi tinggi lemak berisiko 2 kali lebih tinggi dari yang
tidak obesitas dan yang tidak sering mengkonsumsi makanan tinggi
lemak. Risiko ini terjadi karena jumlah lemak yang berlebihan
dapat meningkatkan kadar estrogen dalam darah sehingga akan
memicu pertumbuhan sel-sel kanker.
5. Pencegahan Kanker Payudara
Pencegahan kanker payudara adalah pencegahan yang bertujuan
menurunkan insidens kanker payudara dan secara tidak langsung akan
menurunkan angka kematian akibat kanker payudara.
A. Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial yaitu upaya pencegahan yang ditujukan kepada
orang sehat yang belum memiliki faktor risiko. Upaya ini
dimaksudkan dengan menciptakan kondisi pada masyarakat yang
memungkinkan kanker payudara tidak mendapat dukungan dasar dari
kebiasaan, gaya hidup dan faktor risiko lainnya. Pencegahan primordial
dilakukan melalui promosi kesehatan yang ditujukan pada orang sehat
melalui upaya pola hidup sehat.
B. Pencegahan Primer
Pencegahan primer pada kanker payudara dilakukan pada orang sehat
yang sudah memiliki faktor risiko untuk terkena kanker payudara.
Pencegahan primer dilakuka n melalui upaya menghindarkan diri dari
keterpaparan berbagai faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat.
Konsep dasar dari pencegahan primer adalah menurunkan insidens
kanker payudara yang dapat dilakukan dengan :
a. Mengurangi makanan yang mengandung lemak tinggi.
b. Memperbanyak aktivitas fisik dengan berolah raga.
c. Menghindari terlalu banyak terkena sinar-x atau jenis radiasi lainnya.
d. Mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak serat. Serat akan
menyerap zat-zat yang bersifat karsinogen dan lemak, yang
kemudian membawanya keluar melalui feses.
e. Mengkonsumsi produk kedelai serta produk olahannya seperti tahu
atau tempe. Kedelai mengandung flonoid yang berguna untuk
mencegah kanker dan genestein yang berfungsi sebagai estrogen nabati
(fitoestrogen). Estrogen nabati ini akan menempel pada reseptor
estrogen sel-sel epitel saluran kelenjar susu, sehingga akan
menghalangi estrogen asli untuk menempel pada saluran susu yang
akan merangsang tumbuhnya sel kanker.
f. Memperbanyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran,
terutama yang mengandung vitamin C, zat an tioksidan dan
fitokimia seperti jeruk, wortel, tomat, labu, pepaya, mangga, brokoli,
lobak, kangkung, kacang-kacangan dan biji-bijian.
Hampir setiap kanker payudara ditemukan pertama kali oleh
penderita sendiri daripada oleh dokter. Karena itu, wanita harus
mewaspadai setiap perubahan yang terjadi pada payudara. Untuk
mengetahui perubahan-perubahan tersebut dilakukan pemeriksaan
sederhana yang disebut pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).
SADARI sebaiknya dilakukan setiap bulan secara teratur. Cara ini
sangat efektif di Indonesia karena tidak semua rumah sakit
menyediakan fasilitas pemeriksaan memadai. Kebiasaan ini memudahkan
kita untuk menemukan perubahan pada payudara dari bulan ke bulan.
Pemeriksaan optimum dilakukan pada sekitar 7-14 hari setelah awal
siklus menstruasi karena pada masa itu retensi cairan minimal dan
payudara dalam keadaan lembut dan tidak membengkak sehingga jika
ada pembengkakan akan lebih mudah ditemukan. Jika sudah
menopause maka pilihlah satu hari tertentu, misalnya hari pertama
untuk mengingatkan melakukan SADARI setiap bulan.
C. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan untuk mengobati para penderita dan
mengurangi akibat -akibat yang lebih serius dari penyakit kanker
payudara melalui diagnosa dan deteksi dini dan pemberian pengobatan.
a. Diagnosa Kanker Payudara
Diagnosa kanker payudara dapat dilakukan dengan beberapa
pemeriksaan yaitu :
a) Anamnesa
 Anamnesa terhadap keluhan di payudara atau ketiak apakah
ada benjolan, rasa sakit, edema lengan atau kelainan kulit.
 Anamnesa terhadap keluhan di tempat lain berhubungan
dengan metastasis seperti nyeri tulang vertebrata, sesak, batuk
dan lain-lain.
 Anamnesa terhadap faktor-faktor risiko (usia, riwayat
keluarga, riwayat kanker individu dan konsumsi lemak).
b) Pemeriksaan Fisik
Ketepatan mendiagnosa kanker payudara dengan pemeriksaan
fisik sekitar 70%. Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap status
lokalis payudara kanan atau kiri atau bilateral dan penderita
harus diperiksa dalam posisi duduk dan terlentang. Kemudian
payudara diperiksa sehubungan dengan perubahan kulit,
perubahan puting susu, status kelenjar getah bening dan
pemeriksaan pada lokasi metastasis jauh.
c) Pemeriksaan Biopsi Jarum Halus
Pemeriksaan ini dilakukan pada lesi yang secara klinis dan
radiologi dicurigai ganas. Biopsi jarum halus dilakukan dengan
menusuk tumor dengan jarum halus dan disedot dengan spuit
10 cc sampai jaringan tumor lepas dan masuk ke dalam jarum.
Kemudian jaringan tumor diperiksa di laboratorium oleh ahli
Patologi Anatomi untuk mengetahui apakah jaringan tersebut
ganas (maligna) atau jinak (benigna).
d) Pemeriksaan Radio logik
Pemmeriksaan radiologik dilakukan dengan menggunakan
Mammografi dan USG (Ultrasonografi) payudara. Mammografi
merupakan tindakan pemeriksaan payudara dengan
menggunakan sinar X berintensitas rendah. Tujuan
pemeriksaan ini adalah untuk melihat ada tidaknya benjolan
pada payudara. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk
perempuan dengan keluhan
perihal payudara, baik setelah ditemukan maupun sebelum
ditemukan adanya
benjolan dan sebagai check up kanker payudara. American
Cancer Society dalam programnya menganjurkan sebagai berikut
:
a. Untuk perempuan berumur 35-39 tahun, cukup
dilakukan 1 kali mammografi dasar (Baseline
Mammogram).
b. Untuk perempuan berumur 40-50 tahun, mammografi
silakukan 1 atau 2 tahun sekali.
c. Untuk perempuan berumur di atas 50 tahun, mammografi
dilakukan setahun sekali. USG sangat bermanfaat jika
digunakan bersamaan dengan mammografi untuk tujuan
diagnostik untuk membantu membedakan kista berisi cairan
atau solid. Untuk menentukan stadium dapat menggunakan
foto thoraks, USG abdomen, Bone Scanning (Scan tulang)
dan CT Scan
6. Permasalahan penanggulangan kanker payudara di Indonesia