Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini banyak sekali permasalahan di dalam NKRI, salah
satunya adalah masalah tentang goyahnya ideologi Negara, yakni Ideologi
Pancasila. Pengaruh globalisasi memberi banyak dampak terhadap
perkembangan bangsa Indonesia. Mulai dari dampak positif hingga
dampak negative. Kebudayaan asing yang mulai masuk ke dalam Negara
Indonesia lewat era globalisasi sangatlah mencemaskan. Pasalnya banyak
sekali generasi muda yang mulai mengikuti tradisi budaya luar, tak jarang
bila banyak generasi muda yang masa depannya hancur karena kurang
bijak untuk menyaring dan menerima kebudayaan asing. Seperti
contohnya adalah pergaulan bebas, gaya berpakaian kebarat-baratan, atau
hal lainnya.
Era Globalisasi yang tidak disaring dan diolah dengan bijak lambat
laun dapat mempengaruhi kondisi NKRI. Salah satu efek dari globalisasi
ialah meluasnya paham liberalism. Indonesia menganut system Ideologi
Pancasila, dan apabila bangsa Indonesia kurang sadar akan pentingnya
jiwa nasionalisme dan patriotisme, maka ideologi Pancasila akan hilang
tergantikan paham-paham lainnya. Sebagai generasi muda penerus bangsa,
kita harus memiliki nilai-nilai Pancasila yang tertanam dan terlaksana
dalam diri setiap individu. Nilai-nilai Pancasila yang tertanam dalam diri
akan membantu generasi muda untuk melindungi bangsa. Karena sebagai
bangsa Indonesia kita harus memiliki jiwa nasionalisme dan Patriotisme
serta nilai-nilai Pancasila dalam hati kita.

B. Rumusan Masalah
1. Mengapa UUD 1945 dianggap sebagai penyebab terjadinya
pemerintahan yang otoriter?
2. Mengapa generasi muda Indonesia harus siap menghadapi
tantangan yang menyangkut Ideologi Pancasila di masa depan?

1
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai tugas dari mata
kuliah Pendidikan Pancasila
2. Untuk mengetahui alasan UUD 1945 dianggap sebagai penyebab
pemerintahan yang otoriter.
3. Untuk mengetahui tantangan beserta upaya di masa depan yang dapat
mengancam keselamatan Ideologi Pancasila.

2
BAB II
BERITA

Sistem Ketatanegaraan Yang Melenceng

Kamis 12 Oktober 2017 - 14:41

UUD 1945 yang dituduh oleh berbagai pihak sebagai penyebab terjadinya
pemerintahan yang otoriter, telah diamandemen sebanyak empat kali, ternyata
hasilnya tidak sesuai dengan roh dan semangat Pembukaan UUD 1945, sebagai
akibat peraturan perundang-undangan yang tidak konkordan lagi dengan dasar
negaranya….”
Pegiat Akademia Pancasila, Sardjono Sigit dalam papernya mengungkapkan
pendapat dan tulisan para pakar ketatanegaraan dan pakar ilmu politik tentang
akibat amandemen UUD 1945 yang “salah jalan” karena menyimpang dari roh
dan semangat Pembukaan UUD-nya. Amandemen inilah, yang kemudian
mengakibatkan bergesernya nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi kearah
individualisme, liberalism dan kapitalisme, yang sama sekali bukan menjadi jiwa
dan semangat kebangsaan seperti yang dikehendaki oleh para founding parents
bangsa ketika menggagas berdirinya Negara Indonesia. Oleh karena itu, menurut
Sigit, demi keutuhan dan kelestarian NKRI, Akademia Pancasila telah
mencantumkannya sebagai salah satu dari 13 fenomena politik penyebab

3
kerusakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus diperbaiki dari suatu
entitas sosial-politik Bangsa dan Negara. Di mana amandemen sebanyak 4 kali
telah menjadi “tantangan” Akademia Pancasila untuk diluruskan kembali, sesuai
dengan roh, semangat dan nilai-nilai Pancasila seperti semula. Generasi Muda
Indonesia Harus Siap Hadapi Tantangan Masa Depan Pancasila Telah
Ditenggelamkan Liberal-Kapitalis
“Bahwa amandemen UUD 1945 yang keliwatan (over excessive) akan dapat
menghilangkan staats fundamentalnorm (norma dasar kenegaraan) seperti yang
ditentukan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada saat
mereka bersidang untuk mempersiapkan pembentukan Negara tahun 1945 dahulu.
Kalaupun dengan perkembangan zaman, ada tuntutan untuk menyempurnakannya,
harus dijaga agar nilai-nilai dasar yang objektif, positif, intrinsik dan transeden itu
tetap dipertahankan secara konsisten, tanpa mengurangi aktualitas dan
kontekstualitasnya.”
Namun sayangnya batang tubuh UUD yang tercantum dalam pasal-pasal hasil
amandemen tersebut ternyata sudah sangat jauh menyimpang dari norma dasar
kenegaraan (staats fundamentalnorm) seperti yang dimaksudkan oleh Pembukaan
UUD-nya. Karena itu, banyak pakar ketatanegaraan dan politik yang mengatakan
bahwa UUD 1945 sudah DIGANTI dengan UUD 2002.
Perubahan semangat UUD 45 itu konon di ”arahkan” oleh campur tangan asing
dengan adanya peranan pihak tertentu sehingga menjadi UUD 2002 dan sudah
sangat jelas tidak mengikuti roh dari nilai-nilai Pancasila, antara lain sila keempat,
bahwa “kedaulatan ditangan rakyat rakyat yang dipimpin oleh hikmah
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan”.

sumber:https://kumparan.com/shodiq-akbar/sistem-ketatanegaraan-yang-
melenceng

4
BAB III

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Otoritarianisme' adalah bentuk organisasi sosial yang ditandai
dengan penyerahan kekuasaan. Dalam politik, suatu pemerintahan otoriter
adalah satu di mana kekuasaan politik terkonsentrasi pada suatu pemimpin.
Otoritarianisme biasa disebut juga sebagai paham politik otoriter, yaitu
bentuk pemerintahan yang bercirikan penekanan kekuasaan hanya pada
Negara atau pribadi tertentu, tanpa melihat derajat kebebasan individu.
Istilah otoritarianisme berasal dari bahasa Inggris, authoritarian.
Kata authoritarian sendiri berasal dari bahasa Inggris authority, yang
sebetulnya merupakan turunan dari kata Latin auctoritas. Kata ini berarti
pengaruh, kuasa, wibawa, otoritas. Oleh otoritas itu, orang dapat
memengaruhi pendapat, pemikiran, gagasan, dan perilaku orang, baik
secara perorangan maupun kelompok. Otoritarianisme adalah paham atau
pendirian yang berpegang pada otoritas, kekuasaan dan kewibawaan, yang
meliputi cara hidup dan bertindak.
Penganut otoritarianisme akan berpegang pada kekuasaan sebagai
acuan hidup. Ia akan menggunakan wewenang sebagai dasar berpikir.
Ketika berhadapan dengan orang lain dan menanggapi masalahnya,
mereka akan menanyakan kedudukannya (sebagai apa) dalam lembaga dan
organisasi. Dalam membahas masalah itu, dia tidak akan mempersoalkan
hakikat dan kepentingannya, tetapi berhak ikut campur dan mengurus
perkara yang dipersoalkannya. Namun, hal ini hanya berlaku untuk
dirinya. Untuk orang lain, orang otoritarian akan membatasi pekerjaan
seseorang, yaitu agar orang tersebut bekerja menurut prosedur dan aturan
yang ada. Jika orang itu tidak mengerti dan tidak menjalankan tugasnya
dengan baik, ia akan dianggap salah.

5
Penganut otoritarian hanya mengenal satu macam komunikasi,
yaitu satu arah. Komunikasi dua arah, saling diskusi dan menanggapi, dan
model demokratis dengan kemungkinan perbedaan dan pertentangan
pendapat secara verbal atau secara konseptual akan dimengerti, tetapi sulit
untuk dihayati. Komunikasi yang bebas dan terbuka, berasal dari berbagai
arah dan tertuju ke segala penjuru akan asing baginya, karena gaya
komunikasi tersebut tidak masuk dan klop dalam kerangka berpikirnya.
Oleh karena itu, komunikasi satu arah menjadi andalan bagi orang ini
dalam menjalankan tugasnya. Dalam menjalankan tugasnya baik dalam
menyampaikan gagasan, pemikiran, dan pesan, orang otoritarian hanya
mengenal satu bentuk komunikasi, yaitu instruksi. Istilah yang dikenalnya
terbatas pada pengarahan, petunjuk, wejangan, perintah, pembinaan,
sehingga bentuk komunikasi yang sifatnya sekadar memberitahu
perkaranya (informatif) dianggap sudah mencukupi. Bentuk komunikasi
yang persuasif untuk meyakinkan, dinilai menghabiskan waktu dan tidak
efisien. Yang dimaksud dengan main kuasa adalah pemaksaan kuasa
dengan melumpuhkan orang, menggunakan ancaman, dan menyepelekan
perkara. Orang otoritarianisme juga akan mempermainkan perasaan
bawahannya dengan sengaja membuat mereka salah dan malu. Dengan
kata lain, daripada bertitik tolak dari hakikat dan kepentingan perkara,
keadaan dan kemampuan orang, serta situasi dan kondisi yang ada, dalam
bertindak orang otoritarianisme akan berkutat pada kekuasaan yang
dimilikinya.
Dari awal, para pendiri negara secara eksplisit sudah menyatakan
bahwa Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 adalah konstistusi yang
bersifat sementara. Bahkan, Soekarno menyebutnya sebagai UUD atau
revolutiegrondwet. Kondisi obyektif ini sudah diantisipasi oleh the fouding
fathers dengan menyediakan Pasal 37 UUD 1945 sebagai sarana untuk
melakukan perubahan. Karena kelalaian menjalankan amanat itu, sejak
awal kemerdekaan proses penyelengaraan negara dilaksanakan dengan
konstitusi yang bersifat sementara. selama hampir setengah abad di bawah
UUD 1945 (1945-1949 dan 1959-2002), persoalan mendasar tidak hanya

6
terletak pada sifat kesementaraan tetapi lebih kepada kelemahan-
kelemahan elementer yang terdapat dalam UUD 1945. Misalnya, sangat
fleksibel untuk diterjemahkan sesuai dengan keinginan pemegang
kekuasaan, terperangkap dalam design ketatanegaraan yang rancu
sehingga tidak membuka ruang untuk melaksanakan paradigma checks and
balances atau akuntabilitas horizontal dalam menciptakan good
governance.

Kedua kelemahan itu sangat mewarnai perjalanan sejarah


ketatanegaraan Indonesia di bawah UUD 1945, yang kemudian bermuara
pada multi-krisis yang terjadi pada penghujung abad XX dan sampai dua
tahun pertama awal abad XXI belum menunjukkan tanda-tanda akan
berakhir. Misalnya dalam hal penafsiran, pergantian sistem presidentil
kepada sistem parlementer pada tanggal 14 November 1945. Di dua era
yang berbeda, Soekarno menafsirkan (memahami) demokrasi dalam UUD
1945 sebagai Demokrasi Terpimpin sementara Soeharto menafsirkannya
sebagai Demokrasi Pancasila dan kedua-duanya melahirkan rejim otoriter.

Krisis ketatanegaraan yang diawali dengan kejatuhan Soeharto


pada tahun 1998 memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan
secara mendasar terhadap UUD 1945. Banyak anggapan bahwa salah satu
penyebab krisis itu adalah ketidakmampuan UUD 1945 mengantisipasi
penyelewengan-penyelewengan dalam praktek penyelenggaraan negara.
Dalam waktu yang panjang, UUD 1945 telah menjadi instrumen politik
yang ampuh berkembangnya otoritarianisme dan menyuburkan praktek
kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) di sekitar kekuasaan Presiden. Oleh
karena itu, di masa reformasi menyusul berakhirnya kekuasaan Soeharto,
agenda perubahan UUD 1945 menjadi sesuatu yang niscaya. Ini dapat
dipahami bahwa tidak mungkin melakukan reformasi politik dan ekonomi
tanpa melakukan reformasi hukum. Reformasi hukum pun tidak mungkin
dilakukan tanpa melakukan perubahan terhadap konstitusi (constitutional
reform).

7
Sebenarnya, persoalan UUD 1945 bukan hanya pada sifat kesementaraan
itu tetapi juga pada sifatnya yang amat fleksibel untuk dapat diterjemahkan
sesuai dengan perkembangan kondisi politik dan keinginan pemegang
kekuasaan.

Amandemen Pertama yang dilakukan pada Sidang Umum MPR


tahun 1999 telah melakukan perubahan terhadap 9 pasal yang meliputi
Pasal 5 ayat (1), Pasal 7, Pasal 9, Pasal 13 ayat (2), Pasal 14, Pasal 15,
Pasal 17 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 20, dan Pasal 21. Pasal-pasal yang
diperbaiki dalam Amandemen Pertama lebih memberikan penekanan pada
perdebatan yang muncul pada awal kejatuhan rezim Soeharto. Misalnya,
pada masa itu dirasakan bahwa kemampuan Soeharto untuk dapat bertahan
sebagai Presiden sekitar 32 tahun karena tidak adanya pembatasan
periodesasi masa jabatan Presiden. Untuk itu, MPR melakukan
amandemen terhadap Pasal 7 UUD 1945 yang secara eksplisit menentukan
bahwa seseorang hanya dapat menjadi Presiden Indonesia hanya untuk dua
kali masa jabatan. Di samping itu, Amandemen Pertama juga mengurangi
kecenderungan UUD 1945 yang executive heavy. Ini dilakukan dengan
memperbaiki bunyi pasal-pasal yang terkait dengan DPR. Misalnya dalam
pengangkatan Duta Besar, Presiden mempunyai keharusan untuk
memperhatikan pertimbangan DPR, atau dalam memberikan Amnesti dan
Abolisi Presiden harus memperhatikan pertimbangan DPR.

Oleh karena itu mengapa amandemen UUD 1945 dianggap sebagai


pemerintahan yang otoriter, dikarenakan pada masa pemerintahan
Soeharto segala bentuk kekuasaan berada di tangan Presiden Soeharto,
pendapat dan keputusan hanya dapat diputuskan oleh pemegang
kekuasaan. Hal ini disebut sebagai kekuasaan otoriter. Setelah lengsernya
pemerintahan otoriter Presiden Soeharto, UUD mengalami amandemen
sebanyak 4 kali, guna untuk memperbaiki pasal-pasal dalam UUD 1945
agar semua isi dalam UUD 1945 sesuai dengan roh dan nilai-nilai dalam
Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila, yakni kebebasan untuk
bermusyawarah dan menjadikan NKRI sebagai negara demokrasi.

8
Karena banyaknya permasalahan dalam NKRI yang mengancam
sistem pemerintahan dan Ideologi pancasila, sebagai generasi muda kita
harus memiliki rasa nasionalisme dan petriotisma dalam upaya Pertahanan
Negara. Kemajuan teknologi informasi membawa perubahan yang
mendasar pada pola komunikasi antar manusia. Pada satu sisi, kemajuan
tersebut memberikan dampak yang positif terhadap kehidupan manusia,
namun pada sisi lain memberikan pengaruh yang negatif kepada manusia
secara individual, kelompok, bahkan sampai negara dan bangsa.

Ideologi berasal dari bahasa Yunani ”eidos”dan ”logos”, ideos


berarti cita-cita dan logos yang berarti ilmu pengetahuan dan paham. Jadi,
Ideologi adalah seperangkat nilai, ide dan cita-cita yang tersusun secara
sistematis sebagai hasil gagasan pemikiran yang mendalam dan diyakini
kebenarannya sehingga dijadikan petunjuk, pedoman untuk menyelesaikan
berbagai masalah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.

Pendek kata, tantangan ideologi bangsa di masa depan adalah


pengaruh yang bertentangan dengan ajaran ideologi tertentu, termasuk
Pancasila tidak hanya bersifat fisik akan tetapi lebih banyak disebarkan
melalui media sosial yang ada.

B. Usaha Penyelesaian Masalah

Amandemen UUD 1945 perlu dilakukan untuk memperbaiki isi


UUD 1945 yang tidak sesuai dengan bunyi pembukaan UUD 1945 dan
nilai-nilai dalam Pancasila. Dalam permasalahan di atas, dijelaskan adanya
pendapat yang menyatakan bahwa amandemen UUD 1945 merupakan
penyebab pemerintahan otoriter, karena amandemen tidak sesuai dengan
roh dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Menurut saya
mengapa disebut sebagai penyebab pemerintahan otoriter karena pada saat
rezim presiden Soeharto semua keputusan berada di tangan presiden,
sehingga segala pendapat dan keputusan berada pada presiden, sehingga
masyarakat tidak dapat menyampaikan pendapat dengan bebas dan leluasa.

9
Dan hal ini merupakan bentuk pelanggaran hak menyampaikan pendapat,
dan tidak sesuai dengan bunyi pancasila sila keempat, yakni ”Kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan
perwakilan”. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan untuk melakukan
kebijakan yang sesuai dengan ideologi pancasila, sehingga tidak akan ada
keributan dan isu lemahnya Ideologi Pancasila.

Sebagai generasi muda, kita harus memiliki rasa nasionalis dan


patriotisme sebagai upaya untuk mempertahankan negara, terutama dari
ancaman yang dapat merusak dan mengganggu Ideologi Pancasila. Banyak
sekali pengaruh dari luar yang ingin sekali menggantikan Ideologi
Pancasila dengan ideologi yang lainnya, seperti ideologi liberalis, komunis
dan ideologi yang lainnya. Salah satu upaya yang dapat kita lakukan
sebagai generasi muda indonesia antara lain, saling menjaga keamanan
dan kedamaian di dalam NKRI, ikut menjadi bagian dari negara dan
membantu TNI untuk melindungi negara, memiliki rasa toleransi karena
Indonesia merupakan negara Pancasila dengan asas Bhineka Tunggal Ika.
Menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila serta melaksanakan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-
hari.

10
BAB 4

PENUTUP

A. Kesimpulan

Ideologi merupakan pengertian yang menunjuk kepada


keseluruhan pandangan cita-cita, nilai dan keyakinan yang ingin
diwujudkan dalam kenyataan hidup yang konkrit. Ideologi sangatlah
dibutuhkan karena dianggap mampu membangkitkan kesadaranakan
kemerdekaan, memberikan orientasi mengenai dunia beserta isinya serta
antar kaitannya, dan menanamkan motivasi dalam perjuangan masyarakat
untuk bergerak melawan penjajahan, dan mewujudkan dalam sistem dan
penyelenggaran negara. Dalam amandemen UUD 1945 banyak dikatakan
bahwa isi dari UUD 1945 tersebut tidak sesuai dengan roh dan nilai-nilai
dalam Pancasila dan pembukaan UUD 1945. UUD 1945 dikatakan sebagai
penyebab pemerintahan yang otoriter dikarenakan pada masa
pemerintahan Presiden Soeharto seluruh kekuasaan negara berada di
tangan pemegang kekuasaan yakni presiden, sehingga segala keputusan
dan kebijakan berasal dari Presiden. Hak-hak warga negara untuk
menyampaikan pendapat tidak dapat terlaksanakan, sehingga
menyebabkan terjadinya pemerintahan yang bersifat otoriter.

B. Saran

Dalam pengerjaan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan,


mulai dari tatanan bahasa maupun topik dan pembahasan yang dibahas,
baik kurang jelas ataupun kurang pengertian. Semoga untuk kedepannya
dapat menambah pengalaman dan dapat memperbaiki tulisan dengan baik
dan lengkap.

11
DAFTAR PUSTAKA

Buku Pendidikan Pancasila oleh Tim MKWU Pendidikan Pancasila


Unesa, penerbit UNESA UNIVERSITY PRESS

https://id.wikipedia.org/wiki/Otoritarianisme#cite_note-Indonesia-1

https://www.saldiisra.web.id/index.php/buku-jurnal/jurnal/19-
jurnalnasional/384-perubahan-undang-undang-dasar-1945-dan-implikasinya-
terhadap-sistem-ketatanegaraan-indonesia.html

sumber:https://kumparan.com/shodiq-akbar/sistem-ketatanegaraan-yang-
melenceng

12