Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI

TERBIMBING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN
KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS XI IPA
SMA NEGERI 2 KUTA KABUPATEN BADUNG
Ni Wayan Ika Setyawati, Made Candiasa, I Made Yudana

Program Studi Administrasi Pendidikan, Program Pascasarjana
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail: ika.setyawati@pasca.undiksha.ac.id
made.candiasa@pasca.undiksha.ac.id,
made.yudana@pasca.undiksha.ac.id

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis perbedaan pemahaman konsep dan
keterampilan proses sains antara siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri
terbimbing dengan konvensional, (2) menganalisis perbedaan pemahaman konsep
antara siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan
konvensional, dan (3) menganalisis perbedaan keterampilan proses sains antara
siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan konvensional.
Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen dengan rancangan desain penelitian
posttest only control group design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA
2 dan XI IPA 3 SMA Negeri 2 Kuta tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 74
orang siswa. Pengambilan kelas penelitian berdasarkan teknik random sampling.
Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik deskriptif dan MANOVA. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada pengaruh yang signifikan model
pembelajaran terhadap variabel-variabel pemahaman konsep dan keterampilan
proses sains (F=24,723; p<0,05).Artinya,pemahaman konsep dan keterampilan
proses sains secara bersama-sama menunjukkan perbedaan signifikan antar
model pembelajaran, (2) terdapat perbedaan pemahaman konsep yang signifikan
antara siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dan
konvensional (F=14,339; p<0,05). Rata-rata pemahaman konsep siswa yang
menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih besar daripada yang
menggunakan model pembelajaran konvensional, (3) terdapat perbedaan
keterampilan proses sains yang signifikan antara siswa yang mengikuti model
pembelajaran inkuiri terbimbing dan konvensional (F=38,687; p<0,05). Rata-rata
keterampilan proses sains siswa yang menggunakan model pembelajaran inkuiri
terbimbing lebih besar daripada siswa yang menggunakan model pembelajaran
konvensional.

Kata kunci : model pembelajaran inkuiri terbimbing, pemahaman konsep dan
keterampilan proses sains

ABSTRACT
The purpose of this study was: (1) analyze the differences in the understanding of
science concepts and process skills among students who take the guided inquiry
learning model with conventional, (2) to analyze the differences between the
students' understanding of concepts modeled with conventional guided inquiry
learning, and (3) analyze difference between the science process skills of students
who take guided inquiry learning model with the conventional. This study was a
quasi-experimental design of the study design posttest only control group design.
The subjects were students of class XI IPA 2 and XI IPA 3 SMAN 2 Kuta school
year 2013/2014, amounting to 74 students. Decision-class research based on

kreatif. Bandura (dalam Hart & Kritsonis. terencana untuk mewujudkan harapan. dipertahankan dan belum berubah . Dampak dari pembelajaran seperti tergambar dari kemampuan para siswa ini adalah siswa yang pasif(Wenning & untuk menguasai isi pelajaran. On average students are science process skills using guided inquiry learning model is greater than the students who used conventional learning models. Hal ini mencerminkan sebagaimana telah ditetapkan untuk kurangnya minat dan motivasi siswa suatu pelajaran tertentu. mandiri. conceptual understanding. kegiatan jawab (Depdiknas. dan menjadi warga negara Proses pembelajaran yang yang demokratis serta bertanggung bersifat konvensional. Faktor untuk belajar biologi. 2008).687.339. Wenning. berakhlak negara yang disurvei di Asia (Lubis. Guru masih penunjang yang dapat dipakai sebagai dominan dan siswa resisten pada model acuan prestasi belajar seorang siswa pembelajaran konvensional ini. That is. cakap. dan materi pokok pembelajaran 2006) mengatakan bahwa proses yang terkandung di dalam buku ajar.05). 2003). sehingga proses paradigma mengajar masih tetap belajar akan menjadi lebih bermakna. p <0. Guru adalah melalui pemahaman konsep. (2) there is a significant difference between the understanding of the concept of students who take the guided inquiry learning model and the conventional (F = 14. PENDAHULUAN Patut diakui bahwa hasil-hasil Pendidikan merupakan usaha pendidikan di Indonesia masih jauh dari sadar. terutama di bidang peserta didik (Septriana & Handoyo. Perkembangan kognitif ini guru. pembelajarannya melibatkan guru. random sampling technique. The results showed that: (1) there is significant effect on the learning model variables and the understanding of the concept of science process skills (F = 24. Study-Repeat (TIMSS-R) yang bertujuan untuk berkembangnya potensi melaporkan bahwa Indonesia peserta didik agar menjadi manusia menempati peringkat 32 untuk sains dan yang beriman dan bertakwa kepada peringkat 34 untuk matematika dari 38 Tuhan Yang Maha Esa. belajar bertanggung jawab terhadap Meskipun dewasa ini eksperimen di perkembangan kognitif anak dan kelas sudah sering dilakukan. p <0. On average students' understanding of the concept of the use of guided inquiry learning model is larger than that using the conventional learning models. mulia. sains. sehat. namun mempengaruhi kelangsungan hidup pembelajaran masih berpusat pada mereka.05). masih menjadi pemain dan siswa Pemahaman konsep sangat penting penonton. and science process skills.723.05). and (3) there is a difference significant science process skills among students who take the guided inquiry learning model and the conventional (F = 38. 2006). p <0. Data were analyzed with descriptive statistics and MANOVA. Rendahnya mutu pendidikan di 2006). dengan tujuan agar siswa dapat Paradigma lama masih melekat karena mengingat konsep-konsep yang mereka kebiasaan yang susah diubah. guru aktif dan siswa pasif. Pendidikan nasional berfungsi Indonesia khususnya di bidang sains mengembangkan kemampuan dan dan matematika ditunjukkan dari membentuk watak serta peradaban penelitian yang dilakukan oleh The Third bangsa yang bermartabat dalam rangka International Mathematics and Science mencerdaskan kehidupan bangsa. understanding the concepts and science process skills together showed significant differences between the model of learning. berilmu. pelajari lebih lama. siswa. Keywords : model of guided inquiry learning. Rendahnya kualitas sumber proses belajar dan hasil belajar yang daya manusia Indonesia dalam optimal sesuai dengan karakteristik persaingan global.

Menurut jawabannya melalui penelitian ini dapat Ely (dalam Sanjaya. lain: (1) guru tidak mampu dan tidak Berdasarkan uraian yang telah berusaha untuk mengetahui dipaparkan. (2) guru tidak adalah “Pengaruh Model Pembelajaran pernah mengajak siswa untuk proses Inkuiri Terbimbing Terhadap sains. paling mampu dan menguasai Fokus permasalahan yang dicari pembelajaran (Sanjaya. dan konsultan. mengembangkan sikap siswa menjadi Pembelajaran yang masih lebih baik dalam pembelajaran.menjadi paradigma membelajarkan sehingga dapat diperoleh manfaat untuk siswa. terhadap peningkatan hasil belajar (5) dari belajar berbasis teori menuju siswa. terbimbing dan kelompok siswa yang Perencanaan yang sistematis belajar dengan model pembelajaran hendaknya dapat diimplementasikan konvensional siswa di kelas XI IPASMA . optimal dalam mengubah fasilitas Pemberian pengalaman belajar belajar. antara lain: (1) dari penggunaan dan pengembangan peran guru sebagai transmiter ke keterampilan proses dan sikap ilmiah fasilitator. 2008) menyatakan dirumuskan sebagai berikut (1) Apakah bahwa perencanaan dalam terdapat perbedaan pemahaman pembelajaran sangat penting karena konsep dan keterampilan proses sains perencanaan merupakan proses dan antara kelompok siswa yang belajar cara berpikir yang dapat membantu dengan model pembelajaran inkuiri menciptakan hasil yang diharapkan. Perubahan pola mandiri. dengan tujuan untuk memahami (2) dari peran guru sebagai sumber konsep-konsep dan mampu pengetahuan menjadi kawan belajar. tetapi juga oleh semua terdapat dalam pembelajaran tradisional unsur praktisi dan teoretisi pendidikan. (3) memecahkan masalah. Melalui dari belajar diarahkan oleh kurikulum keterampilan proses sains juga siswa menjadi diarahkan oleh siswa itu sendiri. Pola pembelajaran seperti ini pikir tersebut tidak hanya dilakukan oleh menyebabkan tahapan-tahapan yang guru di sekolah. (8) siswadikarenakan guru tidak mampu dari fokus kelas menuju fokus merencanakan proses pembelajaran masyarakat. dan (10) dari penilaian matang akan dapat menyebabkan secara normatif menuju pengukuran kekeliruan guru dalam mengajar antara unjuk kerja yang komprehensif. Tanpa adanya ditentukan sebelumnya menjadi hasil perencanaan pembelajaran yang yang terbuka. yaitu dengan melakukan apa yang diminta oleh guru melakukan perubahan paradigma dalam sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran yang disertai dengan menemukan konsep materi secara perubahan pola pikir. (4) dari belajar berdasarkan fakta dan produktif sehingga berimplikasi menuju berbasis masalah dan proyek. diharapkan dapat berpikir aktif. (9) dari hasil yang dengan baik. kreatif. didominasi oleh guru menyebabkan Salah satu cara untuk mengatasi siswa pasif. 2008). dan (4) guru Proses SainsSiswa Kelas XI IPA SMA manganggap dirinya adalah orang yang Negeri 2 KutaKabupaten Badung”. Ketidakmampuan guru dalam (6) dari taat aturan dan prosedur menumbuhkembangkan pemahaman menjadi penemuan dan penciptaan. (7) konsep dan keterampilan proses sains dari kompetitif menuju kolaboratif. Suparno (2006) menyatakan secara langsung dalam pembelajaran beberapa penekanan perubahan pikiran sains sangat ditekankan melalui yang diperlukan. berlawanan dengan tahapan Perubahan pola pikir tersebut diperlukan pembelajaran yang berorientasi teori agar mereka mampu berkreasi secara konstruktivis (Darma. hanya menerima dan kesenjangan tersebut.judulpada penelitian ini kemampuan awal siswa. dunia dan tindakan nyata serta refleksi. pembimbing. 2007). (3) guru tidak berusaha Pemahaman Konsep dan Keterampilan memperoleh umpan balik.

19 Jangkauan 8 10 8 14 Skor 13 10 28 20 Minimum .42 2.06 2. Kuta tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 4 kelas yang terdistribusi di HASIL PENELITIAN dalam kelas-kelas homogen secara Objek dalam penelitian ini adalah akademik. Selanjutnya dari kedua kelas model pembelajaran inkuiri terbimbing tersebut akan dirandom lagi untuk dan kelompok siswa yang belajar menentukansatu kelas yang belajar dengan model pembelajaran Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing konvensional siswa di kelas XI IPASMA dan satu kelas yang belajar dengan Negeri 2 Kuta? (3) Apakah terdapat Model Konvensional.83 6. Data Pemahaman Konsep dan Keterampilan Proses Sains untuk Pembelajaran dengan Inkuiri Terbimbing dan Pembelajaran Konvensional Pemahaman Konsep Keterampilan Proses Sains Statistik Kelas Kelas Kelas Kelas Inkuiri Inkuiri Konvensional Konvensional Terbimbing Terbimbing Jumlah 37 37 37 37 Siswa Rata-rata 17 15 32 29 Standar 2.Negeri 2 Kuta? (2) Apakah terdapat kelas yang ada akan dirandom untuk perbedaan pemahaman konsep antara menentukan dua kelas sebagai sampel kelompok siswa yang belajar dengan penelitian. Sampel dalam penelitian ini pemahaman konsep dan keterampilan diambil dengan cara group random proses sains sebagai pengaruh model sampling. yang belajar dengan model Data yang dikumpulkan dalam pembelajaran konvensional siswa di penelitian ini terdiri dari data kelas XI IPASMA Negeri 2 Kuta? pemahaman konsep siswa yang dikumpulkan dengan menggunakan tes pemahaman konsep dan data METODE PENELITIAN keterampilan proses sains dikumpulkan Penelitian ini merupakan dengan tes keterampilan proses penelitian eksperimen semu (quasi sains.62 2. Penelitian dilaksanakan di SMA judgement).84 4. Peneliti menggunakan teknik pembelajaran inkuiri terbimbingdan undian dalam pemilihan sampel.68 Deviasi Varians 5. Populasi penelitian ini digunakan adalah analisis deskriptif dan adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 2 analisis multivarian. Semua model pembelajaran konvensional. Analisis data yang Negeri 2 Kuta.25 7. Tabel 1.Instrumen yang digunakan exsperiment) dengan desain penelitian sebelumnya diuji validitasnya dengan eksperimen post-test only control group pengujian kepada ahli (expert design. Kesemua perbedaan keterampilan proses kelompok belajar tersebut diberikan sainsantara kelompok siswa yang pembelajaran untuk dapat belajar dengan model pembelajaran mengembangkan pemahaman konsep inkuiri terbimbing dan kelompok siswa dan keterampilan proses sains.

00 18 48.86 .67 Rendah KPS < 10 Sangat Rendah Tabel 4.75 Tinggi 10. Skor 21 20 36 34 Maksimum Tabel 4.42 ≤ K < 14.00 2 5.25 Sangat Rendah Tabel 4.58 ≤ K < 18.7 Kualifikasi Skor Keterampilan Proses Sains Inkuiri Konvensional Skor Mentah Kualifikasi Terbimbing Fo (%) Fo (%) KPS ≥ 30 Sangat Tinggi 33 89.81 24 64.25 Sangat 0 0 0 0 Rendah Jumlah 37 100 37 100 Tabel 4.6 Kualifikasi Skor Tes Keterampilan Proses Sains Rentang Skor Kualifikasi KPS ≥ 30 Sangat Tinggi 23.75 Tinggi 20 54.58 Sedang 7 19.58 Sedang 6.58 ≤ K < 18.42 Rendah 0 0 1 2.33 Sedang 10 ≤ KPS < 16.33 ≤ KPS < 30 Tinggi 16.41 Tinggi 14.65 6.00 16 43.42 ≤ K < 14.67 ≤ KPS < 23.33 ≤ KPS < 30 Tinggi 4 10.19 12 32.43 23.70 K < 6.25 ≤ K < 10.3 Kualifikasi Skor Pemahaman Konsep Inkuiri Konvensional Skor Mentah Kualifikasi Terbimbing Fo (%) Fo (%) K ≥ 18.25 ≤ K < 10.24 10.75 Sangat 10 27.2 Kualifikasi Skor Tes Pemahaman Konsep Rentang Skor Kualifikasi K ≥ 18.42 Rendah K < 6.75 Sangat Tinggi 14.

Secara statistik ini adalah “Terdapat perbedaan dirumuskan sebagai: pemahaman konsep antara kelompok siswa yang belajar dengan Model pembelajaran Inkuiri Terbimbing dan H0:Tidak terdapat perbedaan kelompok siswa yang belajar dengan pemahaman konsep dan keterampilan model pembelajaran konvensional”. maka H0 Windows. μ Y  X1 2   μ X2 Y 2  berikutnya adalah analisis untuk menguji hipotesis. belajar dengan Model Pembelajaran Konvensional. Analisis multivariat dengan Largest Rootadalah 0. = 0.000.05 (p<0. H1: Terdapat perbedaan pemahaman H1:Terdapat perbedaan pemahaman konsep antara kelompok siswa yang konsep dan keterampilan proses sains belajar dengan Model pembelajaran antara kelompok siswa yang belajar Inkuiri Terbimbing dan kelompok siswa dengan Model pembelajaran Inkuiri yang belajar dengan model Terbimbingdan kelompok siswa yang pembelajaran konvensional.339 dengan .  μ Y  μ Y  H0:  X1 1    X2 1  H0 : [ μ X1Y1 ] = [ μ X2 Y1 ]  μ X1 Y 2   μ X2 Y 2  melawan. menunjukkan bahwa nilai F untuk perbedaan pemahaman konsep dan pemahaman konsep adalah 14. Wilk’s MANOVA (Multivariate Analisis of Lamda.000. Berdasarkan Multivariate Test Analisis statistik untuk pengujian pada. Nilai F kelompok siswa yang belajar dengan untuk keterampilan proses sains siswa Model pembelajaran Inkuri Terbimbing adalah 38.71 10 ≤ KPS < 16. kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional.0 for lebih kecil dari 0. dari 0. dapat diketahui nilai F hasil hipotesis kedua dan ketiga perhitungan MANOVA sebesar Fhitung = menggunakan hasil analisis Test 24. melawan. Hipotesis pertama Test Between Subjects Effects dari penelitian ini adalah “Terdapat pada.05 (p<0.67 Rendah 0 0 0 0 Sangat KPS < 10 0 0 0 0 Rendah Jumlah 37 100 37 100 PENGUJIAN HIPOTESIS μ Y  μ Y  Analisis statistik yang dilakukan H1:  X1 1    X2 1  .05).05). proses sains antara kelompok siswa Secara statistik dirumuskan sebagai: yang belajar dengan H0: Tidak terdapat perbedaan Model pembelajaran Inkuri Terbimbing pemahaman konsep antara kelompok dan kelompok siswa yang belajar siswa yang belajar dengan Model dengan Model Pembelajaran pembelajaran Inkuiri Terbimbing dan Konvensional.67 ≤ KPS < 23.723 dan angka sig. H1 : [ μ X1Y1 ]  [ μ X2 Y1 ] Karena nilai F hasil perhitungan ANOVA sebesar Fhitung = 14. Analisis yang digunakan untuk Karena nilai signifikansi uji MANOVA menguji hipotesis yang pertama adalah melalui statistik Pillai Trace. ditolak dan H1 diterima.687 dengan taraf signifikansi dan kelompok siswa yang belajar 0.33 Sedang 0 0 1 2. 16. dengan model pembelajaran Hipotesis kedua dari penelitian konvensional”.000 dan nilai ini menggunakan SPSS-PC 13.000lebih kecil Between Subjects Effects. Hotelling’s Trace dan Roy’s Variance).339 keterampilan proses sains antara dengan taraf signifikansi 0.

Jika dibandingkan konvensional”.05). Ketidaktercapaian pembelajaran Inkuiri Terbimbingdan secara optimal ini tentu dipengaruhi oleh kelompok siswa yang belajar dengan beberapa faktor. yaitu keterampilan proses sains antara 32 lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang belajar dengan rata-rata skor keterampilan proses sains model pembelajaran Inkuiri siswa yang belajar dengan Terbimbingdan kelompok siswa yang pembelajaran konvensional. Secara statistik berdasarkan skor rata-ratanya.05 Hasil analisis statistik deskriptif (p<0. siswa kurang memberdayakan = 38.05 (p<0. hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas eksperimen yang belajar dengan . proses sains antara kelompok siswa tetapi belum mampu mencapai hasil yang belajar dengan Model yang maksimal. maka H0 ditolak dan H1 menunjukkan bahwa pemahaman diterima. rata-rata dirumuskan sebagai berikut: skor keterampilan proses siswa yang H0: Tidak terdapat perbedaan belajar dengan Inkuiri Terbimbing. diskusi dalam memecahkan masalah Angka signifikansi ini lebih kecil dari dalam kelompok mereka. yang hanya belajar dengan model pembelajaran 29. Angka PEMBAHASAN signifikansi ini lebih kecil dari 0. sedang.000. siswa H1 : [ μ X1Y2 ]≠ [ μ X2Y2 ] masih mengalami kesulitan ketika memecahkan masalah.05). Rata-rata pembelajaran konvensional.pemahaman pemahaman konsep kelompok siswa konsepnya berada pada kualifikasi yang diberi perlakuan Inkuiri Terbimbing rendah. tinggi dan sangat tinggi ( X  17 ) lebih besar dari rata-rata dengan rata-rata skor 15.Selain itu juga. tinggi dan sangat tinggi dengan Inkuiri Terbimbingdan kelompok siswa skor rata-rata 17 dan untuk siswa yang yang belajar dengan model berada di kelas kontrol belajar dengan pembelajaran konvensional. 2) Pada keterampilan proses sains. kelompok siswa yang diberi perlakuan Analisis deskriptif pada keterampilan proses sains siswa konvensional ( X  15 ).000. maka H0 ditolak dan H1 kurangnya kemampuan siswa dalam diterima. menunjukkan bahwa keterampilan Hipotesis ketiga dari penelitian proses sains siswa pada kelas yang ini adalah “Terdapat perbedaan belajar dengan Inkuiri Terbimbing keterampilan proses sains antara berada pada kualifikasi tinggi dan kelompok siswa yang belajar dengan sangat tinggi dan kelas yang belajar Model pembelajaran Inkuiri dengan pembelajaran konvensional Terbimbingdan kelompok siswa yang berada pada kategori sedang. 0. proses pemahaman konsep. menggali informasi untuk memecahkan masalah yang disodorkan. Model pembelajaran inkuiri H0 : [ μ X1Y2 ]=[ μ X2Y2 ] terbimbing mampu memberikan melawan. kualifikasi yang lebih baik dibandingkan H1: Terdapat perbedaan keterampilan model pembelajaran konvensional. antara lain : 1) Pada model pembelajaran konvensional. tinggi dan belajar dengan model pembelajaran sangat tinggi. Karena Berdasarkan tabel Test Between memecahkan masalah temasuk Subjects Effects dapat diketahui nilai F kedalam kemampuan berpikir tingkat hasil perhitungan ANOVA sebesar Fhitung tinggi. konvensional.taraf signifikansi 0. Simpulan yang dapat ditarik konsep kelas eksperimen yang belajar adalah terdapat perbedaan pemahaman dengan Model pembelajaran Inkuiri konsep antara kelompok siswa yang Terbimbingberada pada kategori belajar dengan model pembelajaran sedang.687dengan taraf signifikansi 0.

disiplin ilmu yang beragam.metode pembelajaran inkuiri terbimbing kelompok siswa yang belajar lebih unggul daripada kelas kontrol yang dengan pembelajaran konvensional. Terdapat perbedaan keterampilan menganalisis data pada kedua kelas. Jurnal Teknodik. Terdapat perbedaan pemahaman pembelajaran konstruktivisme konsep dan keterampilan proses terhadap prestasi belajar sains antara kelompok siswa yang matematika terapan pada belajar dengan Model pembelajaran mahasiswa Politeknik Negeri Bali Inkuiri Terbimbing terhadap ditinjau dari motivasi berprestasi. Siswa masih belum memiliki greget pembelajaran inkuiri terbimbing untuk mau mengeksplorasi dan kepada guru-guru mata pelajaran menemukan jawaban atas masalah sehingga siswa lebih terbiasa yang diajukan dengan memanfaatkan mengkaji permasalahan dalam alat dan bahan yang tersedia. pembelajaran Inkuiri Terbimbing Namun dapat dilihat ada persamaan terhadap kelompok siswa yang kualifikasi yang muncul yaitu pada belajar dengan pembelajaran indikator merumuskan hipotesis. Guru biologi hendaknya mampu belum optimal karena siswa masih menerapkan model pembelajaran kurang menggunakan teori. I K. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan Siswa masih belum optimal dalam mengkaji lebih dalam mengenai mencari keterkaitan teori. Hal ini konsep antara kelompok siswa dapat dilihat dari kualifikasi masing. . Ketiga. yang belajar dengan Model masing indikator pada tiap kelas. prinsip. belajar dengan menggunakan metode 2. kemampuan menganalisis data masih b. dan 3. menghasilkan solusi masalah tersebut. model pembelajaran inkuiri maupun persamaan yang ada. Terdapat perbedaan pemahaman pembelajaran konvensional. Pengaruh model 1. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis dan rangkuman penelitian dapat ditarik DAFTAR RUJUKAN beberapa temuan sebagai berikut. Bagi sekolah diharapkan lebih intensif memanfaatkan alat dan bahan yang untuk mensosialisasikan model ada. konvensional. 2007. Kedua. Siswa belum mampu pembelajaran Inkuiri Terbimbing mewujudkan gambaran hipotesis yang berpengaruh terhadap pemahaman benar-benar dapat diuji dan sejalan konsep dan keterampilan proses sains. c. konvensional. kemampuan merumuskan hipotesis Berdasarkan temuan-temuan masih kurang dipahami secara benar diatas dapat disimpulkan bahwa model oleh siswa. sehingga terbimbing dalam subjek penelitian analisis masih belum dilakukan secara yang berbeda agar teori model mendalam. menggunakan alat dan bahan. Adapun belajar dengan pembelajaran hal tersebut disebabkan : Pertama. proses sains antara kelompok siswa Hal ini menunjukkan bahwa tidak yang belajar dengan Model terdapat perbedaan kemampuan pada pembelajaran Inkuiri Terbimbing indikator tersebut antara kelas terhadap kelompok siswa yang eksperimen dan kelas kontrol. prinsip. pembelajaran inkuiri terbimbing semakin kokoh. dalam menggunakan dikemukakan dari temuan-temuan alat dan bahan siswa cenderung tidak diatas adalah : cermat dan tidak sigap dalam a. Darma. dengan rumusan masalah yang Adapun saran yang diajukan. 22(6). 108-129. inkuiri terbimbing yang disesuaikan maupun persamaan yang relevan untuk dengan materi yang akan menganalisis permasalahan sehingga disampaikan kepada siswa.

development indonesia (HDI) atau Yogyakarta: Kanisius.. F. Filsafat Lubis. 2(1). Jurnal Pendidikan Forum Of Applied Educational Inovatif. 1-7. Penerapan Imitation of film-mediated think pair share (TPS) dalam aggressive models by: Albert pembelajaran kooperatif untuk Bandura. 2006. R. and meningkatkan prestasi belajar Sheila A. introductory physics. & Wenning. Diakses pada tanggal 8 nomor 20 tahun 2003 tentang Agustus 2009. Journal of 1. 3(3). Ross (1963). 2003. Suparno. W. A. writing on social learning theory: Septriana. Dorothea Ross. Mendongkrak human konstruktivisme dalam pendidikan.bpplsp-reg. (IPM) melalui program pendidikan A generic model for inquiry- keaksaraan. 2006. E. 2006. Physics Teacher Education php?dir=1&idStatus=0&PHPSESS Online. & Kritsonis. pembelajaran berorientasi standar Hart. Research Journal. ID=909ac7122495912b50586eef9 .. Jakarta: Critical analysis of an original Kencana. J. 2008. Tersedia pada oriented labs in postsecondary http://www. Sanjaya. National geografi. & Handoyo. indeks pembangunan manusia Wenning. E. sistem pendidikan nasional.go.Depdiknas. W.id/buletin/index. 2006. P. 47-50. C. R. Undang-undang 1cbb6ee. Strategi Jakarta. proses pendidikan. K. 24-33. 20(3). 2008.