Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hipertiroid

Hipertiroid adalah suatu keadaan akibat dari produksi hormon tiroid yang berlebihan
oleh kelenjar tiroid sehingga menyebabkan kadar hormon tiroid didalam darah berlebihan
baik tiroksin (T4), triiodotironin (T3) atau keduanya. Hipertiroid dijumpai 5 - 7 kali lebih
sering pada wanita dibanding pria dan terjadi pada 1- 2 dari 1000 kehamilan.
Penderita hipertiroid biasanya mengalami gangguan haid ataupun kemandulan.
Kadang juga terjadi kehamilan atau timbul penyakit baru, timbul dalam masa kehamilan

2.2 Pengaruh Hipertiroid dalam Kehamilan

Hipertiroid merupakan kelainan endokrin yang sering ditemukan pada wanita,


terutama selama masa kehamilan. Berbagai perubahan hormonal dan metabolik pun bisa
terjadi selama kehamilan, sehingga dapat menyebabkan perubahan kompleks pada fungsi
tiroid maternal (kehamilan).

Hipertiroid pada wanita hamil mutlak harus segera diterapi karena jika tidak,
dapat menyebabkan komplikasi. Mengingat bayi atau janin memperoleh gizi dari plasenta
ibu dan masih tergantung pada metabolisme ibu, jadi bila metabolisme ibu mengalami
gangguan, dalam hal ini hypertiroid atau hypotiroid, maka tentu saja dapat memberikan
dampak atau pengaruh bagi bayi yang dikandung.

Pada janin, bisa menyebabkan:

 Keguguran / kematian janin di dalam kandung


 Janin bisa lahir terlalu kecil atau berat badan kurang atau lahir prematur
 Janin berisiko memiliki hipertiroid ketika dilahirkan
 Terjadinya hambatan pertumbuhan dalam kandungan / IUGR

Sedangkan pada ibu, hal yang bisa terjadi jika mengidap hipertiroid pada masa kehamilan
ialah berupa:

 Darah tinggi disertai kebocoran protein ginjal, bahkan sampai kejang ( pre-
eklamsia dan eklamsia )
 Krisis tiroid

1
 Gagal Jantung. Penyebab pasti tentang terjadinya perubahan hemodinamika pada
hipertiroidisme masih simpang siur, tetapi terdapat banyak bukti bahwa pengaruh
jangka panjang dari peningkatan hormon tiroid dapat menimbulkan kerusakan
miokard, kardiomegali dan disfungsi ventrikel.
 Kelahiran prematur

2.3 Diagnosis

Manifestasi klinis hipertiroid umumnya ditemukan. Sehingga mudah pula dalam


menegakkan diagnosa. Namun pada kasus-kasus yang sub klinis dan orang yang lanjut
usia perlu pemeriksaan laboraturium yang cermat untuk membantu menetapkan diagnosa
hipertiroid. Diagnosa pada wanita hamil agak sulit karena perubahan fisiologis pada
kehamilan seperti pembesaran tiroid serta manifestasi hipermetabolik, sama seperti pada
tirotoksikosis. Tanda klinis yang dapat digunakan sebagai pegangan diagnosis adalah
adanya tremor, kelainan mata yang non infiltratif atau yang infiltratif, berat badan
menurun tanpa diketahui sebabnya, miksedema lokal (hipotoridisme berat), maupun
miopati . Semua keadaan ini tidak pernah terjadi pada kehamilan normal. Pasien-pasien
dengan hipertiroidisme hamil dapat mengalami hiperemesis gravidarum yang hanya dapat
diatasi dengan obat-obat anti tiroid.

Meskipun diagnosa sudah jelas, namun pemeriksaan laboratorium untuk


hipertiroidisme perlu dilakukan, dengan alasan :

 Untuk lebih menguatkan diagnosa yang sudah ditetapkan pada pemeriksaan


klinis.
 Untuk menyingkirkan hipertiroidisme pada pasien dengan beberapa kondisi,
seperti atrial fibrilasi yang tidak diketahui penyebabnya, payah jantung, berat
badan menurun, diare atau miopati tanpa manifestasi klinis lain hipertiroidisme.
 Untuk membantu dalam keadaan klinis yang sulit atau kasus yang meragukan.
Menurut Bayer MF kombinasi hasil pemeriksaan laboraturium Thyroid
Stimulating Hormone sensitif (TSHs) yang tak terukur atau jelas subnormal dan
free T4 (FT4) meningkat, jelas menunjukan hipertiroidisme.

2
2.6 Penatalaksanaan

Pengobatan hipertiroidisme pada kehamilan penting untuk menghindari komplikasi


ibu, janin, dan neonatus. Tujuan terapi hipertiroidisme pada kehamilan adalah
menormalkan fungsi tiroid dengan dosis obat antitiroid paling minimal.

Pengobatan ditargetkan agar kadar fT4 terdapat pada nilai batas atas normal. Dosis
obat yang terlalu tinggi dapat menyebabkan hipotiroidisme dan struma pada janin.
Pemantauan berkala setiap 2 minggu pada awal terapi dan setiap 4 minggu bila target
eutiroid sudah tercapai. Terapi obat anti-tiroid sebaiknya tidak dihentikan sebelum
kehamilan 32 minggu sebab dapat berisiko terjadi relaps. Dua obat anti-tiroid yang efektif
dan aman untuk mengendalikan hipertiroidisme pada kehamilan, yaitu propiltiourasil
(PTU) dan metimazol.

Efek samping yang pernah dilaporkan adalah aplasia kutis pada janin ibu hamil yang
menggunakan metimazol. Namun secara umum, keduanya aman digunakan pada
kehamilan. Pada trimester I lebih dianjurkan untuk menggunakan PTU karena terdapat
risiko kelainan kongenital yang pernah dilaporkan pada penggunaan metimazol; setelah
kehamilan 12 minggu metimazol dapat digunakan terutama bila khawatir terhadap efek
samping hepatotoksik dalam penggunaan PTU pada ibu. Risiko hipotiroid pada janin
akibat kedua obat tidak berbeda. Dosis awal obat PTU adalah 150-450 mg per hari
(dibagi dalam 3 dosis), sedangkan dosis metimazol 20-40 mg per hari (dibagi dalam 2
dosis). Perbaikan klinis akan tampak sesudah beberapa minggu terapi, fungsi tiroid akan
normal dalam 3-7 minggu.

Perbaikan klinis yang dimaksud adalah kenaikan berat badan dan berkurangnya
takikardi, sehingga dosis obat anti-tiroid dapat diturunkan menjadi separuh. Kehamilan
sendiri sebenarnya mempengaruhi perjalanan penyakit Graves karena peningkatan
hormon progesteron menekan fungsi limfosit, sehingga mengurangi keaktifan autoimun
Penderita Graves. Hal itu ditandai dengan penurunan kebutuhan obat anti-tiroid seiring
peningkatan usia kehamilan, namun dapat meningkat kembali setelah 3 bulan pasca-
melahirkan.

Bila terjadi eksaserbasi atau perburukan klinis, maka dosis obat anti-tiroid dapat
dinaikkan kembali. Kebanyakan pasien tidak membutuhkan pengobatan anti-tiroid lagi
setelah kehamilan di atas 26-28 minggu. Efek samping yang pernah dilaporkan adalah
ikterus kolestatik dan agranulositosis. Pasien dengan gejala hipermetabolik mendapat
obat penyekat beta, seperti atenolol dan propranolol, selama beberapa hari. Baik PTU

3
maupun metimazol dapat melewati sawar plasenta, jika dalam dosis besar dapat
menyebabkan struma dan hipotiroidisme pada janin. Pada ibu menyusui, obat anti-tiroid
dapat terus diberikan bila dosis PTU <150-200 mg per hari atau metimazol <10 mg per
hari.

Bayi juga perlu dipantau kadar TSH-nya agar mengetahui pengaruh obat yang
diberikan. Operasi tiroidektomi perlu dilakukan hanya pada pasien dengan dosis
pemberian anti- tiroid yang sangat besar (PTU >600 mg), alergi obat anti-tiroid, pasien
tidak taat berobat, dan struma sangat besar. Terapi iodium radioaktif merupakan
kontraindikasi pada kehamilan sebab dapat melewati plasenta dengan risiko terapi iodium
radioaktif berupa hipotiroidisme pada bayi dan retardasi mental.

4
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien

Nama : Ny. N

Umur : 28 Tahun

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

No. MR : 160209

Tanggal Masuk : 8 Oktober 2018

Jam Masuk : 15.00 WIB

Alamat : Tanah Garam

3.2 Anamnesis

Keluhan Utama :

Seorang pasien wanita umur 28 tahun datang ke Poli Kebidanan RSUD Solok
pada tanggal 08 Oktober 2018 jam 11.30 WIB dengan diagnosa G5P0A4H0
gravid aterm 37-38 minggu dengan hipertiroid.

Riwayat Penyakit Sekarang :

 Seorang pasien wanita umur 28 tahun datang ke Poli Kebidanan RSUD


Solok pada tanggal 08 Oktober 2018 jam 11.30 WIB dengan diagnosa
G5P0A4H0 gravid aterm 37-38 minggu dengan hipertiroid.

 Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (-)

 Keluar darah yang banyak dari kemaluan (-)

 Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan (-)

 Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-).

 Tidak haid sejak ± 9 bulan yang lalu

5
 HPHT : 20 Januari 2018

 TP : 27 Oktober 2018

 RHM : mual (+), muntah (+), perdarahan (-)

 ANC : rutin kontrol kehamilan sejak usia kehamilan 3 bulan

 RHT : mual (-), muntah (-), perdarahan (-)

 Riwayat menstruasi : menarche umur 14 tahun, siklus haid teratur


1x28 hari, lamanya 5-7 hari, banyaknya 2-3 kali ganti duk/hari dan nyeri
saat haid (+)

Riwayat Penyakit Dahulu :

 Riwayat Hipertiroid sejak 1 tahun yang lalu dan kontrol ke poliklinik


interna

 Tidak ada riwayat penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM dan hipertensi

Riwayat Penyakit Keluarga :

 Tidak ada keluarga yang menderita penyakit keturunan, menular dan


kejiwaan

Riwayat Pengobatan :

 Riwayat mengkonsumsi PTU sejak tahun 2017 sampai sekarang

Riwayat Perkawinan : 1 kali tahun 2015 sampai sekarang

Riwayat Kehamilan / Abortus / Persalinan : 5 / 4 / 0

- 2015/Kehamilan 3 bulan/Curetase/Dokter
- 2016/Kehamilan 2 bulan/Abortus/Dokter
- 2017/Kehamilan 2 bulan/Abortus/Dokter
- 2017/Kehamilan 2 bulan/Abortus/Dokter
- 2018/Hamil sekarang

Riwayat Kontrasepsi : Spiral

Riwayat Imunisasi : TT 2x

6
Riwayat Pendidikan : SMA

Riwayat Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Riwayat Kebiasaan : merokok (-), alkohol (-), narkoba (-)

3.3 Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos Mentis Cooperative

Tinggi Badan : 160 cm

Berat badan sebelum hamil : 55 kg

Berat badan setelah hamil : 70 kg

Vital Signs :

 Tekanan Darah : 110/70 mmHg

 Nadi : 82 x/menit

 Nafas : 20 x/ menit

 Suhu : 36,7 ⁰C

Status Generalisata

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Leher :

Inspeksi : JVP 5-2 cmH2O

Tampak pembesaran kelenjar tiroid

Palpasi : Kelenjar tiroid teraba membesar

KGB tidak teraba membesar

7
Thorax :

Pulmo :

Inspeksi : Bentuk dan pergerakan simetris kanan = kiri

Palpasi : Fremitus normal kiri = kanan

Perkusi : Sonor dikedua lapangan paru

Auskultasi : Vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Cor :

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : Ictus cordis teraba 2 jari medial LMCS RIC V

Perkusi : Batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : Irama teratur, bising jantung (-)

Abdomen : Status obstrecticus

Genitalia : Status obstrecticus

Ekstremitas : Edema (-/-), Refleks Fisiologi (+/+), Refleks Patologi (-/-)

Status Obstetrikus :

Wajah : Chloasma gravidarum (-)

Mammae : membesar, areolla dan papilla mammae hiperpigmentasi (+),

sikatrik (-)

Abdomen :

Inspeksi : tampak membuncit sesuai usia kehamilan aterm

8
Palpasi :

L1 : FUT 3 jari dibawah processus xyphoideus. Teraba massa bulat,


lunak, noduler
L2 : teraba tahanan terbesar janin disebelah kanan ibu dan teraba
bagian kecil-kecil disebelah kiri ibu
L3 : teraba massa bulat, keras, melenting
L4 : konvergen

Perkusi : Thympani

Auskultasi : Bising usus (+) normal, DJJ : 144-153x/menit

His : 1-2x/15”/10’/lemah

TFU : 34 cm

TBA : 3255 gr

Genitalia :

Inspeksi : V/U tenang, PPV (-)

3.4 Pemeriksaan Penunjang

 Pemeriksaan darah rutin tanggal 8 Oktober 2018 :

Hemoglobin : 11,1 g/dL

Hematokrit : 33,9 %

Leukosit : 12.680 /mm³

Thrombosit : 243.000 /mm³

HBsAg : (-)

HIV : (-)

fT4 : 16,85

PT : 11,3 detik

APTT : 27,3 detik

9
TSH : < 0,05

3.5 Diagnosis

G5P0A4H0 gravid aterm 37-38 minggu + Hipertiroid

3.6 Sikap

1. Kontrol KU, VS, His, DJJ

2. Informed Consent

3. IVFD RL 500 cc 20 tetes/menit

4. PTU 3x1

3.7 Rencana

SCTPP

Tanggal 09 Oktober 2018 jam 10.00 WIB :

Telah dilakukan SCTPP dan lahir seorang bayi laki dengan BB : 3300 gr, PB : 50
cm, A/S : 7/8, anus (+), TP : segar, ketuban : jernih. Plasenta dilahirkan dengan sedikit
tarikan ringan pada tali pusat lengkap 1 buah ± 600 gram ukuran 17x15,25 cm, panjang
tali pusat ± 50cm, perdarahan selama tindakan ±150 cc.

A/ P1A4H1 post SCTPP a/i Hipertiroid

P/ Kontrol keadaan umum, tanda vital, kontraksi, PPV

IVFD RL 500cc drip oxytocin 2 amp  28 tetes/menit

Cefadroxil 2x500 mg PO

Vit C 3x50 mg PO

Asam mefenamat 3x500 mg PO

SF 1x1 PO

10
Pemantauan Kala IV

Jam Waktu TD Nadi Nafas Suhu


Ke

1 13.00 150/100mmHg 74x/i 20 36,5◦

13.15 150/100 mmHg 76x/i 20 36,7◦

13.30 150/100 mmHg 74x/i 20 36,5◦

13.45 150/100 mmHg 76x/i 20 36,5◦

2 14.15 150/100 mmHg 80x/i 20 36,7◦

14.45 150/100 mmHg 80x/i 20 36,6◦

Jam Ke TFU Kontraksi Kandung Perdarahan


Uterus kemih

1 2 jari dibawah pusat Baik Tidak teraba Tidak ada

2 jari dibawah pusat Baik Tidak teraba Tidak ada

2 jari dibawah pusat Baik Tidak teraba Tidak ada

2 2 jari dibawah pusat Baik Tidak teraba Tidak ada

2 jari dibawah pusat Baik Tidak teraba Tidak ada

2 jari dibawah pusat Baik Tidak teraba Tidak ada

11
Follow Up :

Tanggal 10 Oktober 2018

S/ : Nyeri bekas operasi (+)

ASI (+)

Demam (-)

BAK (+)

BAB (-)

O/ : KU Kes TD HR RR T

Sdg CMC 120/80 mmHg 80x/i 20x/i 36,6⁰C

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Abdomen :

Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit

Palpasi : Kontraksi Baik, NT (-), NL (-)

Perkusi : Tymphani

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Genitalia :

Inspeksi : V/U tenang, PPV (-)

A/ : P1A4H1 post SCTPP a/i Hipertiroid

P/ : Kontrol KU, VS, PPV

Asam Mefenamat 3x500 mg

Metildopa 2x250 mg

Propanolol 2x500 mg

PTU 3x100 mg

12
INDEKS WAYNE

Pada Pasien didapatkan :

- Mudah lelah +2
- Keringat berlebih +3
- Nafsu makan naik +3
- Senang hawa dingin +5
- Pembesaran Tiroid +3

Total 16 (Normal)

Keterangan :

<11 : Eutiroid

11-18 : Normal

>19 : Hipertiroid

13
BAB IV
ANALISA KASUS
4.1 Pembahasan
Telah dipresentasikan kasus, seorang pasien wanita umur 28 tahun datang ke Poli
Kebidanan RSUD Solok pada tanggal 08 Oktober 2018 jam 11.30 WIB dengan diagnosa
G5P0A4H0 gravid aterm 37-38 minggu dengan hipertiroid. Pada abdomen didapatkan
Inspeksi : tampak membuncit sesuai usia kehamilan aterm, Palpasi : FUT 3 jari dibawah
processus xyphoideus, Perkusi : tymphani, Auskultasi : bising usus (+) normal. Pada
genitalia didapatkan Inspeksi : V/U tenang, PPV (-). Pada pemeriksaan darah rutin
didapatkan Hemoglobin : 11,1 g/dL, Hematokrit : 33,9 %, Leukosit : 12.680/mm³,
Thrombosit : 243.000/mm³, HBsAg : (-), HIV : (-), fT4 : 16,85, PT : 11,3 detik, APTT :
22,3 detik, TSH : <0,05. Tindakan yang dilakukan adalah SCTPP. Lahir seorang bayi laki
dengan BB : 3300 gr, PB : 50 cm, A/S : 7/8, anus (+), TP : segar, ketuban : jernih.
Plasenta dilahirkan dengan sedikit tarikan ringan pada tali pusat lengkap 1 buah ± 600
gram ukuran 17x15,25 cm, panjang tali pusat ± 50cm, perdarahan selama tindakan ±150
cc.

14
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Hipertiroid adalah suatu keadaan akibat dari produksi hormon tiroid yang
berlebihan oleh kelenjar tiroid sehingga menyebabkan kadar hormon tiroid didalam darah
berlebihan baik tiroksin (T4), triiodotironin (T3) atau keduanya. Pengolahan
hipertiroidisme pada kehamilan menuntut kerjasama yang baik antara dokter spesialis
penyakit dalam dan kebidanan-kandungan. Berbagai perubahan fisiologis tiroid pada ibu
hamil harus dipahami untuk menentukan suatu kondisi termasuk fisiologis atau patologis.
Pemantauan klinis serta laboratorium (fT4 dan TSH) yang baik serta dosis anti-tiroid
yang tepat akan menghasilkan keluaran klinis yang baik bagi ibu, janin dan
kehamilannya.

15