Anda di halaman 1dari 21

PENGERTIAN BENCANA

Bencana yaitu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan


mengganggu kehidupan serta penghidupan orang-orang yang diakibatkan oleh
faktor alam dan/atau faktor manusia sehingga menyebabkan munculnya korban
jiwa, rusaknya lingkungan, kerugian harta benda serta efek psikologis. Bencana
alam merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa alam. Bencana alam adalah konsukuensi untuk keterlibatan manusia pada
pengrusakan alam yang ada. Minimal dengan mengawali untuk menjaga alam
sekitar, tidak buang sampah sembarangan, tidak membakar hutan dan tidak
melakukan hal-hal lain yang menyebabkan rusaknya lingkungan.

Bencana alam ada banyak sekali jenisnya, namun secara umum dibagi menjadi 3
(tiga), yaitu bencana alam geologi, bencana alam, meteorologi, dan bencana alam
ekstra-terestial. Berikut penjelasan selengkapnya.

1. Bencana Alam Geologi


Bencana alam geologi adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti
tsunami, gempa bumi, gunung meletus, dan tanah longsor. Contoh bencana alam
geologi paling umum adalah gempa bumi, tsunami, gunung meletus dan tanah
longsor.

2. Bencana Alam Meteorologi


Bencana alam meteorologi/hidrometeorologi merupakan bencana alam yang
berhubungan dengan iklim. Bencana alam ini umumnya tidak terjadi pada suatu
tempat yang khusus. Bencana alam bersifat meteorologis paling banyak terjadi
diseluruh dunia seperti banjir dan kekeringan. Kekhawatiran terbesar pada masa
modernisasi sekarang ini adalah terjadinya pemanasan global.

3. Bencana Alam Ekstra-Terestial


Bencana alam ekstra-terestial merupakan bencana alam yang terjadi di luar
angkasa. Bencana dari luar angkasa adalah datangnya berbagai benda langit seperti
asteroid atau gangguan badai matahari. Meskipun dampaknya berukuran kecil tidak
berpengaruh besar, asteroid kecil tersebut berjumlah sangat banyak sehingga bisa
menimbulkan untuk menabrak bumi.

BENCANA GEOLOGI TAHUN 2012

Berdasarkan data yang dihimpun oleh BNPB diketahui bahwa selama tahun
2012 bencana alam telah mengakibatkan sebanyak 487 orang meninggal, 675.798
orang mengungsi/menderita dan 33.847 rumah rusak dimana 7.891 rumah rusak
berat, 4.587 rusak sedang, dan 21.369 rusak ringan. Sekitar 85 persen adalah
bencana hidrometeorologi yakni banjir, longsor, kekeringan, puting beliung.
Dibandingkan dengan rata-rata bencana hidrometeorologi selama 2002 - 2011 yaitu
sekitar 80 persen, maka bencana hidrometeorologi mengalami peningkatan.
Kejadian bencana terbanyak adalah puting beliung 259 kejadian atau 36 persen,
banjir 193 kejadian atau 26 persen dan tanah longsor 138 kejadian atau 19 persen.

BENCANA GEOLOGI DI TAHUN 2013

1. Gunung Meletus

a. Sinabung

AFP PHOTO / ADE SINUHAJI Gunung Sinabung di Kabupaten Karo,


Sumut, meletus lagi pada Selasa, 17 September 2013 pukul 12.03. Gunung meletus
pada Minggu dan mengharuskan ribuan warga yang tinggal di kaki gunung segera
mengungsi. Status gunung masih Siaga III.

Sejak era Toba hingga Krakatau dan Tambora, gunung-gunung Indonesia


selalu memberi kejutan pada dunia. Letusan mahadahsyat kerap berasal dari gunung
Indonesia sementara dari sisi perilaku, gunung Indonesia baru-baru ini juga
memberi kejutan pada dunia.
Dari banyak aktivitas gunung berapi di Indonesia, ada tiga gunung yang
memberi kejutan. Gunung Sinabung di Sumatera Utara serta Merapi yang masuk
kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah memberi kejutan akan perilakunya.

Sementara, gunung lain adalah Samalas, ibu dari Gunung Barujari di Nusa
Tenggara Barat serta biang terbentuknya Danau Segara Anak, yang ternyata
menyebabkan letusan dahsyat pada tahun 1257 dan diduga terkait dengan bencana
di Eropa pada sekitar tahun tersebut.

Tahun 2013, gunung Sinabung kembali memberi kejutan pada dunia.


Berkali-kali, Sinabung meletus dan mengakibatkan hujan abu. Salah satu letusan
dahsyat Sinabung terjadi pada 25 November 2013. Dalam waktu 2 jam saja,
Sinabung bererupsi tiga kali dengan ketinggian embusan asap mencapai 2
kilometer. Sementara, hujan abu terjadi hingga radius 7 km.

Aktivitas Sinabung tahun ini mendapat perhatian dari dunia, diberitakan oleh
beragam media internasional. Sinabung dikatakan "bangun" setelah tidur ratusan
tahun.

Sebelumnya, Sinabung dikategorikan sebagai gunung tipe B, gunung yang


tidak punya karakteristik letusan magmatik. Gunung yang juga tergolong dalam tipe
ini antara lain Gunung Merbabu, gunung yang bertetangga dengan Merapi. Karena
letusan dahsyat tahun 2010, Sinabung kemudian dikategorikan sebagai gunung tipe
A, punya sejarah letusan setidaknya dalam 1.600 tahun terakhir. Status Sinabung
terus disesuaikan sejak letusan pada September 2013. Pada 15 September, letusan
Sinabung dinaikkan dari Waspada ke Siaga. Sempat diturunkan kembali menjadi
Waspada pada 29 September, pada akhir November status Sinabung dinyatakan
Awas.

b. Merapi

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Gunung Merapi. Merapi


juga memberi kejutan pada 18 November 2013 karena erupsi freatiknya yang
menyemburkan asap hingga ketinggian 2.000 meter. Letusan freatik ini dikatakan
fenomena baru bagi Merapi. Sejarah mencatat bahwa fenomena letusan freatik ini
baru terjadi sejak erupsi salah satu gunung paling aktif di dunia itu pada tahun 2010.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan


Geologi (BPPTKG), Subandriyo, mengatakan bahwa letusan freatik terkait
tingginya kandungan gas. Letusan eksplosif tahun 2010 yang di luar kebiasaan
Merapi bisa terjadi karena tingginya kandungan gas. Pasca letusan, kemungkinan
kandungan gas masih tinggi sehingga memunculkan erupsi freaktik

c. Samalas

KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT Awan menyelimuti puncak


Gunung Rinjani (3726 m) di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Puncak ini merupakan
bagian dari Gunung Samalas yang meletus hingga melumpuhkan dunia pada tahun
1257. Superletusan mengakibatkan terbentuknya kaldera dan Danau Segara Anak.

Tak ada aktivitas Samalas tahun ini sebab gunung ini sebenarnya sudah
"rubuh". Kini, yang ada adalah anaknya, yakni Gunung Barujari. Samalas memberi
kejutan karena hasil riset tim vulkanolog Indonesia dan asing yang menyatakan
bahwa gunung yang berada di kompleks Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, ini
diduga pernah meletus dahsyat pada tahun 1257.

Tim vulkanolog meneliti jejak rempah vulkanik yang terdapat di lapisan es


kutub utara untuk mengonfirmasi letusan dahsyat Samalas. Dari hasil studi,
diungkap bahwa letusan Samalas bertanggung jawab pada kejadian kelaparan dan
kematian massal di Eropa setahun setelah letusan. Ditemukannya ribuan kerangka
manusia di London yang dipastikan berasal dari tahun 1258 kemungkinan berkaitan
erat dengan dampak global dari letusan Gunung Samalas pada tahun 1257.

Tulisan dalam Babad Lombok menggambarkan kedahsyatan letusan


Samalas. Namun, letusan sebenarnya jauh lebih dahsyat dari apa yang digambarkan
dalam tulisan tersebut.
Letusan Merapi pada tahun 2010 masuk dalam skala 4. Sementara, letusan
Samalas ratusan tahun lalu mencapai skala 7, kekuatannya 1.000 kali lebih besar
dari letusan Merapi.

Jika letusan Samalas terjadi saat ini, kerugiannya tak terkira. Letusan
Merapi saja sudah membuat 1.000 orang mengungsi. Bila Samalas meletus lagi,
semua penerbangan lumpuh, tidak beroperasi. Dari kejutan yang diberikan gunung-
gunung Indonesia, satu pelajaran yang bisa dipetik adalah kewaspadaan. Indonesia
berada di wilayah yang secara geologi dan vulkanologi sangat aktif. Perubahan
perilaku Merapi dan Sinabung, misalnya, mesti mendapatkan perhatian dan
mengubah cara pandang dalam melihat keduanya.

2. Banjir Jakarta

Banjir Jakarta yang terjadi 17 Januari 2013 bisa dikatakan sebagai bencana
banjir paling fenomenal tahun ini. Banjir Jakarta terjadi akibat paduan beragam
faktor. Dari sisi meteorologi, beberapa hari sebelum banjir, hujan mengguyur
wilayah Jakarta dan merata, mencapai intensitas 40 - 100 mm. Hujan yang merata
mengakibatkan volume air yang menggenang besar.

Besarnya volume air mungkin bisa ditampung bila faktor-faktor lain, seperti
sistem drainase, situ yang berfungsi baik, dan tata kota, mendukung.Sayangnya,
kejadiannya tak demikian. Tata kota Jakarta parah, situ tak berfungsi baik,
sementara drainase Jakarta juga buruk. Akibatnya, volume air yang menggenang
besar, bahkan menjebol tanggul. Banjir terjadi di wilayah yang cukup luas, bahkan
kawasan Bundaran Hotel Indonesia dan Menteng pun terendam. Dari bencana bajir
ini, setidaknya 20 orang tewas.

3. Tanah Longsor

Tanah Longsor di Sumatera, 9 Tewas 17 Hilang. Terakhir kali diperbarui


27/01/2013. Warga berjalan di jalan setapak di wilayah yang terkena bencana tanah
longor di Koto Timur,Padang Pariaman (Foto: dok). Dua buah insiden tanah
longsor dilaporkan terjadi di wilayah Sumatera, menewaskan sedikitnya sembilan
orang dan 17 orang dinyatakan hilang (26/1).

Warga berjalan di jalan setapak di wilayah yang terkena bencana tanah


longor di Koto Timur,Padang Pariaman (Foto: dok). Dua buah insiden tanah
longsor dilaporkan terjadi di wilayah Sumatera, menewaskan sedikitnya sembilan
orang dan 17 orang dinyatakan hilang (26/1).

Dua tanah longsor terpisah yang dipicu oleh hujan lebat di Indonesia barat
menewaskan sedikitnya sembilan orang dan 17 lainnya hilang, Sabtu (26/1). Dua
tanah longsor terpisah yang dipicu oleh hujan lebat di Indonesia barat telah
menewaskan sedikitnya sembilan orang, termasuk empat pekerja geothermal dan
17 lainnya hilang. Demikian dikatakan pejabat Minggu (27/1).

Pejabat urusan bencana Ade Edward mengatakan 20 rumah tertimbun


lumpur dan batu-batuan yang jatuh dari bukit sekitarnya pada dini hari Minggu di
desa Tanjung Sani, distrik Agam, Sumatra Barat. "Penyelamat mengeluarkan lima
jenazah dan masih mencari 17 orang lainnya yang dilaporkan terkubur dibawah
timbunan lumpur," kata Ade Edward. Tiga penduduk desa yang cedera dirawat di
sebuah rumah sakit. Para pejabat urusan bencana mengatakan, longsor di Kerinci,
Jambi, menewaskan empat pegawai geotermal di lokasi pemboran milik PT
Pertamina Geothermal Energy.

Menurut pejabat perusahaan tersebut, Adiatma Sardjito, hujan lebat telah


memicu insiden tanah longsor di lokasi tersebut, Sabtu sore (26/1). Menurutnya, PT
Pertamina Geothermal Energy telah mengerahkan peralatan berat untuk membantu
usaha mengeluarkan jenazah dari timbunan lumpur. Hujan lebat dan penebangan
atau penggundulan hutan adalah penyebab tanah longsor dan banjir bandang yang
sering terjadi di Indonesia setiap tahun.
BENCANA GEOLOGI DI TAHUN 2014

1. Banjir Bandang, Manado 15 Januari 2014

Banjir ini terjadi di Manado, Sulawesi Utara. Selain Manado, banjir ini juga
melanda tiga kota lainnya yaitu, Tomohon, Minahasa Utara dan Minahasa. Banjir
ini memakan korban puluhan ribu rumah dan orang yang harus mengungsi ketempat
yang lebih aman. Kerugian dari kejadian ini mencapa 1, 8 triliun Rupiah, karena
banjir ini juga menyebabkan tanah longsor.

Walaupun banjir ini melanda di empat wilayah tadi, tetapi kerusakan


terbesar memang di alami oleh kota Manado itu sendiri. Banjir kali ini terjadi karena
berkurangnya tanah resapan akibat dari pembangunan kota dan juga hilangnya
hutan dan sungai-sungai kecil disekitar Manado. Pada saat itupun air laut juga
sedang pasang.

2. Gempa Bumi, Kebumen 25 Januari 2014

Gempa sebesar 6,5 SR ini berpusat di 104Km Barat Daya Kebumen, Jawa
Tengah. Guncangan dari gempa ini menyebar dan dapat dirasakan oleh kota sekitar
seperti DKI Jakarta, Jawa Timur dan Yogyakarta. Namun kerusakan terparah
dialami daerah Cilacap dan Banyumas.

Gempa ini disebabkan adanya pertemuan lempeng Indo Australia dan


Eurasia yang melakukan pelepasan energi. Akibat dari gempa ini, puluhan rumah
dan sarana ibadah menjadi rusak. Seperi contohnya Masjid Jami at-Taqwa yang ada
di Kranggan. Kubuah masjid dengan diameter 10 meter itu ambruk dan tembok-
tembok banyak yan retak.

3. Angin Puting Beliung, Lampung 6 Januari 2014.

Angin puting beliung ini terjadi sekitar pokul 17.00 dan pusaran angin
terjadi selama 3 menit. Angin puting beliung ini melanda dua dusun di Desa
Rajabasainduk, Kecamatan Labuhanratu, Kabupaten Lampung Timur. Selain itu,
sejak sebelumnya kira-kira pukul 15.00 daerah ini juga turun hujan deras. Atap –
Atap Rumah Rusak Di Lampung

Angin puting beliung ini memporak-porandakan rumah-rumah, material


rumah seperti atap pada beterbangan. Banyak juga pohon besar-besar roboh dan
menimpa korban pengendara motor yang sedang melewati daerah tersebut. Dua hari
setelahnya, angin kembali melanda disertai dengan huja deras.

4. Letusan Gunung Kelud, Jawa Timur.

Semua pasti tidak asing lagi dengan Gunung Kelud. Gunung Kelud yang
berada di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang
ini, merupakan gunung merapi yang sangat aktif di Indonesia. Sebenarnya gunung
ini sudah sering meletus semenjak tahun 1901. Namun status paling berbahaya
terjadi di tahun 2014.

Status bahaya pada gunung merapi ini terjadi pada tanggal 13 Februari
2014. Kejadian ini mengakibatkan adanya abu vulkanik yang sangat berbahaya
untuk kesehatan. Abu vulkanik ini begitu tebal menutupi wilayah, sehingga jarang
pandang hanya menacpai 3 – 5 meter saja. Pasca gunung meletus, laharpun
mengalir ke rumah-rumah warga.

5. Kabut Asap, Riau September 2014

Kabut asap yang terjadi di Riau ini membuat udara di Riau tidak sehat.
Karena daerah dipenuhi dengan asap ini, warga dihimbau untuk tidak bepergian
keluar rumah. Jika terpaksa harus keluar rumah, harus menggunakan masker. Jarak
Pandang Riau Yang Dipenuhi Asap Tebal

Kabut asap ini berasal dari sisa kebakaran hutan dan lahan disejumlah
wilayah. Asap yang kian hari kian menebal ini berdampak buruk bagi masyarakat.
Selain jarang pandang hanya 1 -2 kilometer, asap ini juga membut pernafasan
masyarakat tidak baik. Pemerintah setempat pun menghimbau agar waga memakai
masker, guna menghindari iritasi pada saluran pernafasan.

6. Tanah Longsor, Banjarnegara 12 Desember 2014


Kejadian ini lebih dikenal dengan sebutan “Longsong Jemblung” karna titik
kejadian terjadi di daerah dusun Lembung, Sampang, Karangkobar, Banjarnegara.
Akibat dari longsot ini, warga Desa Sletri, Desa Paweden dan Desa Sampang
diharuskan mengungsi ketempat yang lebih aman. Keadaan Daerah Yang Terkena
Tanah Longsor

Tanah longsor yang disebabkan karena curah hujan yang tinggi diwilayah
tersebut, menimpa korban sebanyak 300 jiwa dari 53 keluarga. Selain itu, kejadian
yang terjadi sekitar pukul 17.30 WIB ini menyebabkan puluhan rumah rusak dan
banyak orang yang tertimbun longsoran.

7. Banjir Bandang, Bandung 23 Desember 2014

Air Menggenangi Daerah Bandung. Banjir ini terjadi di kawasan Baleendah


dan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Banjir ini terjadi akibat luapan air Sungai
Cisangkuy. Selain banjir, kawasan ini juga terus diguyur hujan lebat beserta angin
yang cukup kencang. Air Menggenangi Daerah Bandung

Banjir yang terus diwarnai hujan angin ini, membuat air semakin meninggi
dan meluas. Pantauan terakhir banjir setinggi betis orang dewasa, dan yang awalnya
hanya tiga kecamatan yang terendam banjir, kini sudah mencapai sembilan
kecamatan yang terendam banjir. Warga saat pun harus mengungsi ke dataran
yang lebih tinggi.

Jika diawal tahun 2014 di Indonesia diawali dengan banjir di Manado,


penutup tahun ini pun diwarnai dengan banjir di Bandung. Sesungguhnya bencana-
bencana ini diantaranya adalah akibat dari kelalaian kita sendiri yang tidak menjaga
lingkungan dengan baik. Semoga untuk kedepannya kita semua akan bisa lebih baik
menjaga lingkungan.
BENCANA GEOLOGI TAHUN 2015

Kebakaran Hutan

Pada tahun 2015, Indonesia menghadapi bencana kabut asap dan kebakaran
hutan yang besar, bencana ini Terjadi di Wilayah, Riau, Sumatera dan Kalimantan.
dalam kejadian tersebut setidaknya membakar 2,56 juta hektar hutan dan lahan
sehingga menimbulkan kabut asap di Riau dan palembang. Kabut asap ini menjadi
bencana besar karena sangat berefek buruk pada kesehatan.

Letusan Gunung Sinabung

Sepanjang tahun 2015 silam, Gunung sinabung terlihat mengalami letusan.


hal tersebut membuat warga sekitar menjadi terancam dan harus mengungsi.
sinabung terlihat mengalami beberapa kali erupsi dan berstatus WASPADA.

Gempa Alor

Nusa Tenggara Timur diguncang gempa berkekuatan 6,2 SR tepatnya pada


tanggal 4 November 2015 di Alor. selang dua hari, terjadi gempa susulan masing-
masing 4,1 SR dan 3,4 SR. gempa terjadi Kedalaman 89 Km Lokasi 28 km Timur
Laut Alor- NTT mengakibatkan beberapa unit bangunan runtuh .

Gempa Halmahera

Masih pada bulan november, tepatnya pada tanggal 20 November terjadi


gempa berturut turut di Halmahera Barat ,Maluku Utara dengan kekuatan gempa
5,1 SR. Gempa menyebabkan jalan raya retak sepanjang 500 meter dan juga
merusak sejumlah fasilitas pemerintah.
BENCANA GEOLOGI TAHUN 2016

1. Longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah

Longsor di Kabupaten Banjarnegara tidak hanya terjadi sekali, tetapi tiga


kali berturut-turut. Longsor pertama melanda Desa Clapar, Kecamatan Madukara,
pada Kamis (24/3/2016) pukul 19.00 WIB dan disusul pada Jumat (25/3/2016)
pukul 01.30 WIB disusul longsor ketiga pada 06.00 WIB. Longsor terjadi pada area
seluas lima hektar tanah yang bergerak sejauh 1,2 kilometer. Longsoran merayap
(soil creep) itu bergerak secara perlahan-lahan sehingga masyarakat dapat
mengantisipasi dan melakukan evakuasi. Terhitung sembilan rumah rusak berat,
tiga rumah rusak sedang, dua rumah rusak ringan, dan 29 rumah terancam longsor
susulan. Sebanyak 158 jiwa warga RT 3-5 di RW 01 mengungsi ke SD Negeri 2
Clapar, Madukara. Longsor kedua terjadi di Desa Gumelem Kulon, Kecamatan
Susukan, Sabtu (18/6/2016). Sebuah bukit setinggi sekitar 100 meter longsor dan
menimpa lima rumah sehingga rata dengan tanah. Akibat bencana tersebut, enam
warga Dukuh Gumelem dan Wanarata tertimbun longsor. Tiga orang ditemukan
tewas di Dukuh Gumelem pada Sabtu malam dalam rentang waktu pukul 21.15
WIB hingga 21.33 WIB. Adapun tiga korban lainnya di RW 11 Dukuh Wanarata,
Desa Gumelem. Material longsor menutup akses jalan di Desa Wanoharjo,
Kecamatan Rowokele, dan Desa Sampang, Kecamatan Sempor, Kebumen.Adapun
longsor ketiga terjadi di Dusun Tambak Sari, Desa Sidengok, Kecamatan Peawaran,
Banjarnegara, Minggu (25/9/2016) pukul 07.00 WIB. Longsoran tanah tersebut
menimpa rumah milik Sugianto (570. Kejadian longsor di Dusun Tambak Sari
dipicu hujan deras yang terjadi sejak Sabtu (24/9/2016) siang hingga malam hari.
Akibat peristiwa tersebut, satu korban bernama Nurhaidin (21) dinyatakan tewas.

2. Banjir di Bandung, Jawa Barat

Sepanjang 2016, kawasan Bandung Raya beberapa kali terendam banjir.


Banjir merendam 15 kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, setelah hujan
deras mengguyur sejak Sabtu hingga Minggu (12-13/3/2106) dini hari. Banjir itu
merendam ribuan rumah warga dan menyebabkan dua orang tewas serta tiga orang
hilang. Korban tewas di Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, dan Desa
Sukasari, Kecamatan Pameungpeuk. Berdasarkan data BNPB pada Selasa
(15/3/2016) pukul 07.00 WIB, terdapat sebanyak 5.900 kepala keluarga atau 24.000
jiwa terdampak banjir. Sebanyak 2.840 kepala keluarga atau 10.344 jiwa
mengungsi akibat banjir tersebut. Mereka tersebar di 28 titik pengungsian seperti di
GOR Baleendah, POM Cikarees, Masjid Nurul Iman, Waskita, Warakawuri,
Masjid Unilon. Banjir juga memutus arus lalu lintas di beberapa lokasi dari arah
Bandung menuju Kecamatan Bojongsoang, Baleendah, Ciparay, dan Majalaya,
yang melintasi Sungai Citarum. Begitu juga jalur lalu lintas dari arah Bandung
melintasi Dayeuhkolot, Pameungpeuk, Katapang, dan Banjaran tak bisa dilewati
karena kecamatan-kecamatan itu terendam hingga setinggi 3 meter. Banjir kembali
melanda Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang, Kabupaten
Bandung, Rabu (21/9/2016). Hujan yang turun pada Selasa (20/9/2016) malam
membuat debit air Sungai Citarum meluap. Ribuan rumah pun kembali terendam,
sedangkan sejumlah jalan tidak bisa dilalui karena tergenang air. Dari data BPBD,
total ada 101 jiwa yang terpaksa tinggal di tiga lokasi pengungsian. Sebanyak 50
jiwa mengungsi di Inkanas Baleendah, 7 jiwa di Gor Baleendah dan 44 jiwa di Desa
Dayeuhkolot. Warga berusaha menembus aliran deras banjir bandang luapan
Sungai Citepus yang meluber hingga Jalan Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat,
akibat hujan disertai badai yang menghantam Kota Kembang ini, Minggu
(13/11/2016). Sejumlah titik terdampak hujan disertai badai seperti banjir, pohon
tumbang, serta lumpuhnya sarana transportasi kereta api selama beberapa jam.
(Kompas/Rony Ariyanto Nugroho) Banjir besar juga terjadi di Kota Bandung.
Banjir kali ini menjadi yang terparah dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Apalagi,
banjir terjadi di lokasi bukan langganan banjir, seperti Gedebage.

Banjir besar pertama tahun ini terjadi di Jalan Dr Djunjunan (Pasteur) pada
24 Oktober 2016 sekitar pukul 12.00 WIB. Ketinggian air mencapai satu meter dan
mengakibatkan lalu lintas di depan Bandung Trade Center (BTC) lumpuh total
akibat air dengan volume besar tumpah ke jalan. Gerbang tol Pasteur ditutup selama
sejam. Di saat yang sama, banjir lebih parah terjadi di ruas Jalan Pagarsih,
Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astana Anyar. Amukan Sungai Citepus membuat
pembatas sungai jebol. seorang warga bernama Ade Sudrajat (30), seorang
karyawan swalayan Borma, tewas dalam musibah tersebut. Korban yang hendak
menolong warga lain terpeleset dan terseret arus air deras dalam parit depan SMP
Negeri 15 Bandung di Jalan Setiabudi. Hingga akhir bulan Oktober, laporan
masyarakat soal banjir terus bermunculan seiring tingginya intensitas hujan di
Bandung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat
memperkirakan kerugian materiil akibat banjir itu mencapai Rp 16 miliar. Total
rumah terendam dari tiga kelurahan terdampak banjir mencapai 813 unit. Selain itu,
satu unit sekolah dengan enam ruang kelas dan satu ruang guru mengalami
kerusakan. Sungai Citepus di Pagarsih kembali meluap pada 9 November 2016 sore
hari. Sama seperti banjir sebulan sebelumnya, banjir kali ini juga mengakibatkan
mobil terseret arus deras. Sejumlah pengamat perkotaan menduga banjir besar
tersebut terjadi karena adanya perubahan tata guna lahan dan tata ruang di wilayah
tangkapan air. Curah hujan tinggi dan tak siapnya drainase kian memperburuk
keadaan. "Urban flood semacam ini hampir selalu mengancam kota besar di
Indonesia. Terlebih lagi secara geomorfologi Kota Bandung berupa cekungan yang
dikelilingi oleh banyak pegunungan," ucap Ketua Ikatan Ahli Bencana (IABI)
Sudibyakto, Selasa (25/10/2016). Ketua Dewan Pemerhati Kehutanan dan
Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Supardiono Sobirin mengatakan, Bandung
seharusnya tidak banjir karena memiliki kontur miring yang bisa membuang air
hujan ke 47 sungai yang melewati kota ini. Akar masalahnya ada pada saluran
drainase yang buruk dan infrastruktur yang tidak selaras dengan alam. Dewan
Eksekutif Kemitraan Habitat, Nirwono Joga, menilai bahwa banjir Bandung
memperlihatkan komitmen pemerintah untuk melindungi warga masih rendah.
Pemkot Bandung menyusun sejumlah strategi penangkal banjir. Solusi jangka
pendek, Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung membuat bak kontrol yang
dilengkapi pipa berdiameter sekitar 40 sentimeter di titik banjir. Dibantu mesin
pompa, pipa itu berfungsi untuk mempercepat buangan air di jalan. Teknologi itu
dikenal dengan sebutan tol air. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan
bahwa solusi jangka pendek itu tidak menyelesaikan masalah sepenuhnya. Ridwan
mengerahkan tim ahli untuk mencari tahu sebab dan solusi banjir Bandung. Selain
karena cuaca ekstrem, Ridwan mengungkapkan bahwa banjir terjadi karena banyak
bangunan yang mempersempit badan sungai. Ridwan mengambil langkah
membongkar paksa sejumlah bagian rumah, pertokoan, hingga jembatan yang
dibangun serampangan."Ditemukan fakta menurut ahli ITB seperti di Pagarsih
hanya dengan ada dua bangunan yang menghalangi air. Air itu bisa masuk ke jalan,"
kata Ridwan, Senin (14/11/2016). Pemkot Bandung juga tengah memproses
pembangunan kolam retensi di delapan titik, yakni di Babakan Jeruk, Jalan Bima,
Sirnaraga, Pagarsih, Cigadung, Cikutra, Sarimas, dan Danau Gedebage sebagai
proyek terbesar.

3. Banjir di Garut dan longsor di Sumedang, Jawa Barat

Hujan lebat pada Selasa (20/9/2016) malam menyebabkan dua musibah


secara bersamaan di dua kabupaten di Jawa Barat. Di Kabupaten Sumedang, dua
rumah Kampung Cimareme, Kelurahan Pasanggrahan Baru, Kecamatan Sumedang
Selatan, rusak tertimbun material longsor. Longsor juga mengakibatkan lima orang
meninggal dunia dan dua korban luka. Di Desa Baginda, Kecamatan Sumedang
Selatan, tanah longsor menimbun rumah warga. Nana Hermawan (56) tewas dan
722 orang mengungsi akibat bencana tersebut. Mereka mengungsi di Gor
Tadjimalela dan bekas kantor proyek Waduk Jatigede. Longsor juga memutus jalur
penghubung antarkota, seperti Bandung-Sukabumi serta Majalengka-Cirebon. Di
hari yang sama, banjir bandang di Garut, Jawa Barat. Musibah itu terjadi pada 20
September tengah malam setelah hujan deras terus mengguyur daerah itu sejak pagi
sampai malam hari. Air Sungai Cimanuk yang melewati tengah perkotaan meluap
hingga ketinggian sekitar 12 meter. Ribuan rumah di sepanjang pinggiran sungai
pun tersapu sampai ada bangunan yang tak tersisa. Banjir bandang terlebih dulu
melanda Desa Mulya Sari, Kecamatan Bayongbong, dan berlanjut ke Tarogong
Kidul, Garut Kota, hingga Cibatu. Daerah yang paling parah terlanda banjir
bandang adalah Desa Haurpanggung Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Tarogong
Kidul, serta Kelurahan Sukamentri dan Paminggit di Kecamatan Garut Kota. "Saya
masih terbayang-bayang sampai sekarang melihat kejadian mengerikan di Garut
itu. Bagaimana tidak, ribuan rumah dan puluhan orang meninggal terbawa banjir
dan belasan orang sampai sekarang tak ditemukan entah dimana," jelas Feri (30),
salah seorang warga Garut kepada Kompas.com, Selasa (5/12/2016). Sedikitnya 34
orang meninggal dunia dan 19 orang hilang hingga kini. Data pengungsi yang
terdampak banjir bandang berjumlah 787 kepala keluarga atau 2.525 jiwa.
Sebanyak 2.529 unit rumah rusak, dengan rincian 830 rusak berat, 473 rusak
sedang, dan 1.226 rusak ringan. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp 288
miliar. Presiden Joko Widodo yang berkunjung ke tempat itu memerintahkan
kepada pemerintah daerah setempat untuk mengkaji ulang keberadaan permukiman
yang ditengarai berada di kawasan rawan bencana. "Untuk sementara para korban
banjir yang kehilangan rumahnya sampai sekarang masih berada di rumah susun
milik pemerintah. Mereka ditampung di bangunan yang awalnya diperuntukan bagi
warga yang belum memiliki tempat tinggal," kata Bupati Garut Rudy Gunawan.
Dari penelusuran sementara tim investigasi khusus, diketahui bahwa banjir bandang
terjadi akibat pengalihan fungsi lahan kawasan hutan. Sebagian besar lahan hutan
di sekitar hulu sungai berubah menjadi kawasan perkebunan sayuran dan
pembangunan kawasan wisata alam yang menyebabkan rawan longsor. Namun,
sampai sekarang belum ada kejadian pasti terkait banjir bandang tersebut. Berbagai
upaya dan rencana program sebagai solusi mencegah kejadian terus digulirkan
berbagai pihak mulai dari pemerintah, aktivis lingkungan, lembaga masyarakat,
sampai para tokoh masyarakat yang peduli terhadap penanggulangan pasca bencana
banjir di Garut. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, misalnya, meminta para
penghayat adat supaya tinggal di sepanjang bantaran sungai untuk melakukan
pemeliharaan alam dan mendatangkan ahli geologi Prof Surono. Sementara itu,
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil bekerja sama dengan pengembang membangun
perumahan bagi korban bencana. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan
memberikan alokasi dana khusus perbaikan pascabencana. Menteri Sosial Khofifah
Indar Parawangsa juga memberikan bantuan dan jaminan kematian bagi keluarga
korban meninggal.
4. Gempa Aceh

Di akhir tahun, Indonesia mengalami musibah besar akibat gempa di


Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh. Gempa berkekuatan magnitudo 6,5 terjadi
pada 7 Desember 2016 pagi. Pusat gempa bumi terletak pada 5,25 derajat Lintang
dan 96,24 derajat Bujur Timur, tepatnya di darat pada jarak 106 km arah tenggara
Kota Banda Aceh pada kedalaman 15 km. Setelah gempa itu, BMKG mencatat
telah terjadi gempa susulan sebanyak 88 kali, yang terakhir pada Senin
(12/12/2016) pukul 01.27 WIB dengan kekuatan magnitudo 3,5. Gempa di Pidie
Jaya telah menimbulkan kerusakan di tiga kabupaten, yaitu Pidie Jaya, Pidie, dan
Bireuen. Sebanyak 102 orang tewas akibat kejadian tersebut, yakni 96 jiwa di Pidie
Jaya, 4 jiwa di Pidie, dan 2 jiwa di Bireuen. Adapun korban luka-luka akibat gempa
sebanyak 857 orang dan jumlah pengungsi akibat gempa tersebut mencapai 83.838
orang. Di Kabupaten Pidie Jaya, pengungsi tersebar di Kecamatan Meurudue,
Meurah Dua, Trieng Gadeng, Bandar Baru, Pante Raja, Banda Dua, dan Jangka
Buya. Di Kabupaten Pidie, pengungsi ditempatkan d Kecamatan Kembang Tanjong
dan Bandar Baru. Adapun di Kabupaten Bireuen, titik pengungsian berada di
Matang Menasah Blang, Masjid Matang Jareung, Masjid Al Ghamamah, dan
Masjid Kandang. Gempa mengakibatkan 11.267 rumah di Pidie Jaya mengalami
kerusakan, terdiri dari 2.874 rumah rusak berat dan 8.393 rumah rusak ketagori
ringan. Di Kabupaten Bireun, tercatat ada 56 unit rusak berat, 74 rusak sedang, dan
141 rusak ringan. Di Pidie, sebanyak 143 rumah megalami kerusakan. Pemerintah
pusat menyebutkan rumah yang rusak total akan diberikan bantuan dana sebesar Rp
40 juta. Sementara, bantuan kemanusiaan dari berbagai pihak terus diterima Posko
Utama Tanggap Darurat Bencana Gempa Aceh. Bantuan logistik mulai dari
makanan, air kemasan, tikar, selimut, pakaian, kelambu, dan sebagainya diberikan
oleh kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, kelompok masyarakat
maupun individu. Selain menerima bantuan berupa barang, posko utama juga
menerima bantuan berupa uang. Gempa bumi besar juga sempat melanda
Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pada 2 Maret 2016 malam. Gempa
berkekuatan M7,8 tersebut terjadi di 682 km arah barat daya Kepulauan Mentawai.
Tidak ada tsunami akibat kejadian itu. Juga tidak ada korban jiwa dan kerusakan
bangunan akibat gempa tersebut.
BENCANA GEOLOGI TAHUN 2017

Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung:

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin


sampai pagi ini tampak sering berkabut. Teramati asap putih tipis sampai tebal
mencapai ketinggian 100-700 m dari puncak, condong ke arah Tenggara dan Timur.
Secara visual dan melalui rekaman seismograf tidak terekam adanya erupsi letusan.
Erupsi disertai guguran lava yang meluncur sejauh 700-1500 m ke lereng Tenggara
dan Timur. Erupsi tidak diikuti oleh luncuran awan panas guguran.

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan


panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan
jebol.

Rekomendasi: -Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di


dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km
ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.-Mengingat telah
terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di
hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan
karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume
air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit Tanggal 16 Agustus


2017 Pukul 09:49 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 500 condong ke arah
Tenggara dan Timur.

G. Dukono:

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami


erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas
dan terkadang berkabut. Teramati kolom abu erupsi menerus putih kelabu tebal
tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 400-700 m condong ke Barat. Letusan
terbesar terjadi sebanyak 133 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos
Dukono.

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan


agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di
dalam radius 2 km.

VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 19 Agustus 2017


pukul 08:03 WIT. Tinggi kolom abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari
puncak. Kolom abu condong ke arah Baratlaut.

G. Ibu:

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami


erupsi secara menerus. Secara visual G. Ibu tertutup kabut dan tidak teramati tinggi
kolom erupsi. Angin bertiup ke arah Timur.

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar


tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan
sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 15 Agustus 2017


pukul 10:27 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1825 m di atas permukaan laut
atau 500 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki


tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman
gas beracun.
2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Agustus 2017
relatif sama dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juli
2017. Seluruh Wilayah Indonesia dari Sumatera sampai Papua masih berpotensi
terjadinya gerakan tanah. Dan wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah
Sulawesi, Maluku bagian utara dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif
lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara.
Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di
wilayah Jawa mengingat pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan yang cukup
masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

1. Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, 2. Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa


Yogyakarta

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena curah hujan yang tinggi;
lereng yang agak terjal; minimnya pepohonan penahan lereng; tanah lapukan yang
tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, bertempat tinggal di dekat tebing,
bekerja di daerah tambang manual yang tidak memperhatihan keselamatan serta
dan kurang berfungsinya drainase/saluran air.

Dampak :

1. Gerakan Tanah / Tanah Longsor terjadi di Kota Padangsidimpuan, Sumatera


Utara mengakibatkan 2 (dua) rumah rusak berat.

2. Gerakan Tanah / Tanah Longsor terjadi di daerah penambangan di Kabupaten


Sleman, Yogyakarta mengakibatkan mengakibatkan 2 (dua) orang meninggal dunia
dan 1 (satu) orang luka-luka..

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu
sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui
www.vsi.esdm.go.id.
3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Perairan Maluku

Informasi Gempabumi;Gempabumi terjadi pada hari Sabtu, 19 Agustus


2017 pukul 04:00:49 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi
berada pada koordinat 128,13° BT dan 6,25° LS (261 km timurlaut Maluku
Baratdaya), dengan magnitudo 5,2 SR pada kedalaman 10 km.

Penyebab gempa bumi;Diperkirakan berasosiasi dengan aktifitas


pensesaran aktif pada lempeng benua Eurasia di bawah Laut Banda.

Dampak gempa bumi;Beum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan
kerusakan bangunan. Gempabumi ini tidak menimbulkan gelombang tsunami.