Anda di halaman 1dari 22

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. wiwik


Usia : 48 tahun
Alamat : Jln. Mrican
Agama : Islam
Pekerjaan : Buruh tani
Status : Menikah
Pendidikan Terakhir : SD
No. CM : 06
Tanggal datang : 1 Oktober 2014

I. ANAMNESE
Keluhan utama : Kelopak Mata kiri bengkak
Riwayat Penyakit Sekarang :
Seorang perempuan berusia 48 tahun datang ke klinik dengan kelopak
mata kiri bengkak sudah 3 hari. Bengkak terjadi secara tiba-tiba. Pasien
bekerja sebagai buruh tani dan mengakui sering terkena paparan debu. Ukuran
bengkak tetap sama sejak dari awal keluhan. Mata ditekan semakin nyeri,
sudah diberi obat warungan berupa tetes mata tetapi tidak membaik, keluar
sedikit belek berwarna kuning kehijauan, mata tidak merah, air mata tidak
banyak, pasien merasa pandangan tidak kabur, tidak melihat pelangi di sekitar
lampu, tidak silau saat melihat sinar, tidak melihat pandangan ganda, tidak ada
kerontokan pada bulu mata, mata tidak gatal tidak ada demam, tidak mual
muntah, tidak pusing.
Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat sakit serupa : 1 tahun yang lalu
- Riwayat alergi : disangkal
- Riwayat herpes : disangkal
- Riwayat trauma : disangkal
- Riwayat operasi pada mata : disangkal
- Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal
- Riwayat penyakit gula : disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :
- Riwayat sakit serupa : disangkal
- Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal
- Riwayat penyakit gula : disangkal
- Riwayat alergi : disangkal
Riwayat Pribadi
- Riwayat pemakaian lensa kontak : disangkal
- Riwayat pemakaian kacamata : disangkal
- Riwayat pemakaian kosmetik pada mata : disangkal

II. PEMERIKSAAN FISIk


1. Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
2. Kesadaran : compos mentis
3. TANDA VITAL
- Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Nadi : 80 kali/menit ( reguler, isi dan tegangan cukup )
- Respiratory rate : 20 kali/menit, reguler
- Suhu : 36,8oC (axiller)
4. STATUS GIZI
- Berat badan : 50 kg
- Tinggi badan : 160 cm
5. STATUS GENERALIS
a. Kepala : kesan mesosefal
b. Hidung : sekret (-), deformitas (-), hiperemis (-), massa (-)
c. Mulut : mukosa kering (-), mukosa hiperemis (-), Tonsil T1-1
tidak hiperemesis, faring hiperemis (-), uvula hiperemis
(-).
d. Telinga : sekret (-/-), nyeri tekan tragus (-/-), nyeri ketok mastoid
(-/-),pembesaran nodilimfe preaurikula(-/-), nyeri tekan
preaurikula (-/-)
2
e. Leher : pembesaran limfonodi submandibula (-), servikalis
anterior (-).
f. Thorax :
Pulmo
Dextra Sinistra
Depan dan Belakang

Inspeksi Diameter Diameter


Lateral>Antero posterior. Lateral>Antero
Hemithorax Simetris posterior.
Statis Dinamis. Hemithorax Simetris
Statis Dinamis.
Palpasi Stem fremitus normal Stem fremitus normal
kanan sama dengan kiri. kanan sama dengan kiri.
Nyeri tekan (-). Nyeri tekan (-).
Pelebaran SIC (-). Pelebaran SIC (-).
Arcus costa normal. Arcus costa normal.
Perkusi Sonor seluruh lapang Sonor seluruh lapang
paru paru
Auskultasi Suara dasar paru Suara dasar paru
vesikuler (+), wheezing vesikuler (+), wheezing
(-), ronki (-) (-), ronki (-)

Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba tak kuat angkat
Perkusi :
Batas atas jantung : ICS II Linea parasternal sinistra
Pinggang jantung : ICS III Linea parasternal sinistra
Batas kiri bawah jantung: ICS V 1cm medial Linea mid clavicula
sinistra
Batas kanan bawah jantung : ICS V Linea sternalis dextra
Auskultasi : Bunyi jantung I & II normal & murni, bising (-), gallop (-)
g. Abdomen

3
Inspeksi : Permukaan cembung tidak mengkilat, warna sama seperti
kulit di sekitar, ikterik (-)
Auskultasi : Bising usus (14x/menit) normal
Perkusi : Timpani seluruh regio abdomen, pekak sisi (+) normal,
pekak alih (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepatomegali (-), splenomegali (-).
h. Ekstremitas
Superior Inferior

Akral hangat +/+ +/+

Oedem -/- -/-

Sianosis -/- -/-

Capillary Refill < 2 detik/<2 detik <2 detik/2 detik

Bintik merah di kulit -/- -/-

6. STATUS OFTALMOLOGIS

OD OS
Visus 6/6 6/10
Visus koreksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sensus Coloris Tidak ada buta warna Tidak ada buta warna
Pergerakan bola Bebas segala arah Bebas segala arah
mata

4
Kedudukan bola Ortoforia Ortoforia
mata
Suprasilia Madarosis (-) Madarosis (-)
Tumbuh penuh normal Tumbuh penuh normal
Silia Madarosis (-) Madarosis (-)
Trikiasis (-) Trikiasis (-)
Distrikiasis (-) Distrikiasis (-)
Palpebra oedem (-) oedem (+)
superior Hiperemis (-) Hiperemis (+)
Suhu perabaan lebih hangat (-) Suhu perabaan Lebih hangat (+)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (+)
Sekret (-) Margo palpebra superior :
Seckret purulen kuning
kehijauan (+)
Ulkus (-) Ulkus (-)
Vesikel (-) Vesikel (-)
Skuama (-) Skuama (-)
Pseudoptosis (-) Pseudoptosis (+)

Fisura Palpebra Normal Menyempit


Palpebra Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
inferior Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Spasme (-) Spasme (-)
Massa (-) Massa (-)
Konjungtiva Sekret (-) Sekret (-)
palpebra Hiperemis (-) Hiperemis (-)
superior Folikel (-) Folikel (-)
Cobble stone (-) Cobble stone (-)
Giant papil (-) Giant papil (-)
Udem (-) Udem (-)

5
Corpus alienum (-) Corpus alienum (-)
Konjungtiva Sekret (-) Sekret (-)
palpebra Hiperemis (-) Hiperemis (-)
inferior Folikel (-) Folikel (-)
Cobble stone (-) Cobble stone (-)
Giant papil (-) Giant papil (-)
Udem (-) Udem (-)
Corpus alienum (-) Corpus alienum (-)
Konjungtiva Injeksi konjungtiva (-) Injeksi konjungtiva (-)
forniks dan Injeksi silier (-) Injeksi silier (-)
bulbi Sekret (-) Sekret (-)
Sklera Ikterik (-) Ikterik (-)
Sklerektasis (-) Sklerektasis (-)
Kornea Jernih Jernih
Infilrat (-) Infilrat (-)
Ulkus (-) Ulkus (-)
Sensibilitas kornea (+) Sensibilitas kornea (+)
Udem (-) Udem (-)
Neovaskularisasi (-) Neovaskularisasi (-)
COA Jernih Jernih
Kedalaman cukup Kedalaman cukup
Pupil Bulat, Sentral, Reguler Bulat, Sentral, Reguler
Diameter 3 mm Diameter 3 mm
Refleks direk/indirek (+/+) N Refleks direk/indirek (+/+) N
Iris Kripte normal Kripte normal
Neovaskularisasi (-) Neovaskularisasi (-)
Sinekia anterior (-) Sinekia anterior (-)
Udem (-) Udem (-)
Lensa Kekeruhan (-) Kekeruhan (-)
Bentuk bikonveks Bentuk bikonveks

6
Fundus Refleks (+) Cemerlang (+) Cemerlang
Lapang pandang Baik Baik
Tekanan T.N T.N
bolamata digital
Tes Fluorescein Tidak dilakukan Tidak dilakukan

III. RESUME
Seorang perempuan berusia 48 tahun datang ke klinik dengan kelopak
mata kiri bengkak sudah 3 hari. Bengkak terjadi secara tiba-tiba. Pasien
bekerja sebagai buruh tani dan mengakui sering terkena paparan debu. Ukuran
bengkak tetap sama sejak dari awal keluhan. Mata ditekan semakin nyeri,
sudah diberi obat warungan berupa tetes mata tetapi tidak membaik, keluar
sedikit belek berwarna kuning kehijauan, mata tidak merah, air mata tidak
nerocos, pasien merasa pandangan tidak kabur, tidak melihat pelangi di sekitar
lampu, tidak silau saat melihat sinar, tidak melihat pandangan ganda, tidak ada
kerontokan pada bulu mata, mata tidak gatal tidak ada demam, tidak mual
muntah, tidak pusing.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan: Oedem hiperemis, suhu perabaan


hangat, nyeri tekan, terdapat secret purulen kuning kehijauan, dan
pseudoptosis pada margo palpebra superior okuli sinistra

IV. ASSESMENT
Diagnosis : Blefaritis Anterior OS et causa bakterial
Diagnosis Banding :
1. Blefaritis Anterior OS et causa Bakteri
2. Blefearits Anterior OS et causa Virus
3. Blefearits Anterior OS et causa Alergi
4. Blefaritis Posterior OS
5. Konjungtivitis akut OS
Masalah aktif Masalah pasif

7
Blefaritis Anterior OS et causa Pekerjaan tani
bacterial Paparan debu

V. INITIAL PLAN
Ip Dx : Blefaritis Anterior OS et causa bakterial
Ip Tx :
a. Kompres dengan air hangat 3-4 kali/hari selama 10-15menit/hari
b. Sulfasetamid 10% zalf 3,5 gram No. I
s.3.dd.ung I.os
Ip Mx :
a. Gejala klinis
b. Penjalaran Infeksi
Ip Ex :
a. Kompres dengan air hangat 3-4 kali/hari selama 10-15menit/hari
b. Pembersihan secret kelopak mata dengan shampo bayi
c. Hindari dari paparan debu
d. Istirahat yang cukup
e. Tutup mata baik dengan kacamata maupun kain
f. Jangan dikucek

8
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Blefaritis adalah istilah medis untuk peradangan pada kelopak mata. Kata
"blefaritis" berasal dari kata Yunani blepharos, yang berarti "kelopak mata,"
dan akhiran itis Yunani, yang biasanya digunakan untuk menunjukkan
peradangan dalam bahasa Inggris. Peradangan adalah istilah umum yang
digunakan untuk menggambarkan proses dimana sel-sel darah putih dan zat
kimia yang diproduksi dalam tubuh melindungi kita dari zat-zat asing, cedera,
atau infeksi. Respon tubuh normal dalam peradangan melibatkan berbagai
derajat pembengkakan, kemerahan, nyeri, panas, dan perubahan dalam fungsi.
Blefaritis merupakan inflamasi kronis kelopak mata yang umum terjadi.
Kadang dikaitkan dengan infeksi stafilokokus kronis. Kondisi ini
menyebabkan debris skuamosa, inflamsi tepi kelopak mata, kulit, dan folikel
bulu mata (blefaritis anterior). Kelenjar Meibom dapat terkena secara
tersendiri (blefaritis posterior).

B. KLASIFIKASI & ETIOLOGI


1. Berdasarkan Lokasi
a. Blepharitis Anterior
Blepharitis anterior biasanya mengenai area disekitar basis bulu
mata. Berdasarkan etiologinya, blepharitis anterior dapat dibedakan
menjadi blepharitis staphyloccocal yang terutama disebabkan oleh
bakteri staphyloccocus aureus. Penyebab lainnya adalah bakteri
staphyloccocus epidermidis atau staphylococcus koagulase negatif.
Jenis kedua dari blepharitis anterior adalah blepharitis seborrhoik yang
disebabkan oleh bakteri pytirosporum ovale. Kedua jenis blepharitis
ini juga dapat muncul secara bersamaan sebagai suatu blepharitis
anterior tipe campuran.

9
Peradangan pada blepharitis staphyloccocal diduga timbul sebagai
akibat dari adanya respon sel yang abnormal terhadap komponen
dinding sel bakteri Staphyloccocus aureus.
Blepharitis seborheik sering berhubungan dengan kelainan
seborheik general yang dapat mengenai lapisan kulit kepala, lipat
nasolabial, bagian belakang telinga dan juga sternum. Karena letak
palpebra yang terlalu dekat dengan permukaan bola mata dapat
memicu terjadinya peradangan sekunder sertaperubahan mekanis pada
konjungtiva dan kornea.
b. Blepharitis Posterior
Blepharitis Posterior merupakan peradangan pada kelopak mata
akibat adanya disfungsi dari kelenjar meibom. Seperti blepharitis
anterior, penyakit ini bersifat bilateral, kondisi kronik. Blepharitis
anterior dan posterior dapat terjadi bersamaan.
Blepharitis posterior disebabkan oleh adanya disfungsi kelenjar
meibom dan perubahan sekresi kelenjar meibom. Enzim Lipase yang
dilepaskan oleh bakteri menyebabkan pembentukan asam lemak.
Keadaan ini menyebabkan peningkatan titik lebur meibom sehingga
menghambat pengeluarannya dari kelenjar.
Hal ini berpengaruh terhadap timbulnya iritasi permukaan okuler
dan memungkinkan terjadinya pertumbuhan bakteri terutama jenis
Staphylococcus aureus. Hilangnya komponen posfolipid film air mata
yang seharusnya berperan sebagai surfaktan mengakibatkan
peningkatan osmolaritas dan penguapan air mata dan ketidakstabilan
air mata.
2. Berdasarkan etiologi
a. Blefaritis Alergi
Blefaritis alergi dapat disebabkan oleh rangsangan kronik /
menahun akibat dari debu, asap, bahan kimia, iritatif, dan bahan
kosmetik.

10
b. Blefaritis Bakterial
1) Blefaritis superfisial
Bila infeksi kelopak superfisial disebabkan oleh staphylococcus
maka pengobatan yang terbaik adalah dengan salep antibiotik
seperti sulfasetamid dan sulfisolksazol. Sebelum pemberian
antibiotik krusta diangkat dengan kapas basah. Bila terjadi
blefaritis menahun maka dilakukan penekanan manual kelenjar
Meibom untuk mengeluarkan nanah dari kelenjar Meibom
(Meibormianitis), yang biasanya menyertai
2) Blefaritis Seboroik
Merupakan peradangan menahun yang sukar penanganannya.
Biasanya terjadi pada laki-laki usia lanjut (50 tahun), dengan
keluhan mata kotor, panas, dan rasa kelilipan. Gejalanya adalah
sekret yang keluar dari kelenjar meiborn, air mata berbusa pada
kantus lateral, hiperemia, dan hipertropi pupil pada konjungtiva.
Pada kelopak dapat terbentuk kalazion, hordeolum, madarosis,
poliosis, dan jaringan keropeng. Pengobatannya adalah dengan
membersihkan menggunakan kapas lidi hangat. Kompres hangat
sela 5-10 menit. Kelenjar meibom ditekan dan dibersihkan dengan
shampo bayi.

Blefaritis Seboroik
Gejala yang timbul :
- Tepi kelopak mata yang hiperemis dn berminyak, disertai
kerontokan bulu mata
11
- Skuama yang terbentuk halus dan dapat berlokasi dimana saja
pada tepi kelopak mata, maupun menempel pada bulu mata.
3) Blefaritis Skuamosa
Blefaritis skuamosa adalah blefaritis disertai adanya skuama
atau krusta pada pangkal bulu mata yang bila dikupas tidak
mengakibatkan terjadinya luka kulit. Merupakan peradangan tepi
kelopak terutama yang mengenai kulit didaerah akar bulu mata dan
sering terdapat pada orang yang berambut minyak. Penyebabnya
adalah kelainan metabolik ataupun oleh jamur. Pasien dengan
blefaritis skuamosa akan terasa gatal dan panas. Pada blefaritis
skuamosa terdapat sisik berwarna halus-halus dan penebalan margo
palpebra disertai madarosis. Sisik ini mudah dikupas dari dasarnya
mengakibatkan pendarahan. Pengobatan blefaritis skuamosa ialah
dengan membersihkan tepi kelopak dengan shampo bayi, salep
mata, dan steroid setempat disertai dengan memperbaiki
metabolisme pasien.

Blefaritis Skuamosa
4) Blefaritis Ulseratif
Merupakan peradangan tepi kelopak atau blefaritis dengan
tukak akibat infeksi staphylococcus. Pada blefaritis ulseratif
terdapat keropeng berwarna kekuning-kuningan yang bila diangkat
akan terlihat ulkus yang kecil dan mengeluarkan darah disekitar
bulu mata. Pada blefaritis ulseratif skuama yang terbentuk bersifat
12
kering dan keras, yang bila diangkat akan terjadi luka dngan
disertai pendarahan. Pengobatan dengan antibiotik dan higiene
yang baik sedangkan pada blefaritis ulseratif dapat dengan
sulfasetamid, gentamisin atau basitrasin. Apabila ulseratif
mengalami peluasan, pengobatan harus ditambah antibiotik
sistemik dan diberi roboransia.

Blefaritis Ulseratif
5) Blefaritis angularis
Merupakan infeksi staphlococcus pada tepi kelopak di sudut
kelopak atau kantus. Blefaritis angularis yang mengenai sudut
kelopak mata (kantus eksternus dan internus) sehingga dapat
mengakibatkan gangguan pada fungsi puntum lakrimal. Blefaritis
angularis disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Kelainan ini
biasanya bersifat rekuren. Befaritis angularis diobati dengan sulfa,
tetrasiklin dan seng sulfat. Penyulit pada punctum lakrimal bagian
medial sdut mata yang akan menyumbat duktus lakrimal.

Blefaritis angularis

13
6) Blefaritis meibomanitis
Merupakan infeksi pada kelenjar meibom yang akan
mengakibatkan tanda peradangan lokal pada kelenjar tersebut.
Meibomianitis menahun perlu pengobatan kompres hangat,
penekanan dan pengeluaran nanah dari dalam berulang kali disertai
antibiotik lokal
c. Blefaritis Virus
1) Herpes Zoster
Virus ini dapat memberikan infeksi pada ganglion
saraftrigeminus Biasanya.virus ini akan mengenai orang dengan
usia lanjut. Bila yag terkena ganglion cabang oftalmik maka akan
terlihat gejala-gejala herpes zoster pada mata dan kelopak mata
atas. Gejala tidak akan melampaui garis medin kepala dengan
tanda-tanda yang terlihat pada mata adalah rasa sakit pada daerah
yang terkena dan badan terasa demam. Pada kelopak mata terlihat
vesikel dan infiltrat pada kornea bila mata terkena. Lesi vesikel
pada cabang oftalmik saraf trigeminus superfisial merupakan gejala
yang khusus pada infeksi herpes zoster mata.
2) Herpes Simplex
Vesikel kecil dikelilingi eritema yang dapat disertai dengan
keadaan yang sama pada bibir merupakan tanda herpes simplex
kelopak. Dikenal bentuk blefaritis simplex yang merupakan radang
tepi kelopak ringan dengan terbentuknya krusta kuning basah pada
tepi bulu mata, yang mengakibatkan kedua kelopak lengket.

Blefaritis Herpes Simplex


14
d. Blefaritis Jamur
- Infeksi superficial
- Infeksi jamur dalam
- Blefaritis pedikulosis : kadang-kadang pada penderita dengan
higiene yang buruk akan dapat bersarang tuma atau kutu pada
pangkal silia di daerah margo palpebra.

C. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi blefaritis biasanya terjadi kolonisasi bakteri pada mata karena
adanya pembentukan minyak berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak
mata yang merupakan lingkungan yang disukai oleh bakteri yang dalam
keadaan normal ditemukan di kulit. Hal ini mengakibatkan invasi
mikrobakteri secara langsung pada jaringan di sekitar kelopak mata,
mengakibatkan kerusakan sistem imun atau terjadi kerusakan yang disebabkan
oleh produksi toksin bakteri, sisa buangan dan enzim. Kolonisasi dari tepi
kelopak mata dapat diperberat dengan adanya dermatitis seboroik dan kelainan
fungsi kelenjar meibom.
Blefaritis anterior mempengaruhi daerah sekitar dasar dari bulu mata dan
mungkin disebabkan infeksi stafilokokus atau seboroik. Yang pertama
dianggap hasil dari respon mediasi sel abnormal pada komponen dinding sel
S. Aureus yang mungkin juga bertanggung jawab untuk mata merah dan
infiltrat kornea perifer yang ditemukan pada beberapa pasien. Blefaritis
seboroik sering dikaitkan dengan dermatitis seboroik umum yang mungkin
melibatkan kulit kepala, lipatan nasolabial, belakang telinga, dan sternum.
Karena hubungan erat antara kelopak dan permukaan okular, blefaritis kronis
dapat menyebabkan perubahan inflamasi dan mekanik sekunder di
konjungtiva dan kornea. Sedangkan blefaritis posterior disebabkan oleh
disfungsi kelenjar meibomian dan perubahan sekresi kelenjar meibomian.
Lipase bakteri dapat mengakibatkan pembentukan asam lemak bebas. Hal ini
meningkatkan titik leleh dari meibum yang menghambat ekspresi dari
kelenjar, sehingga berkontribusi terhadap iritasi permukaan mata dan mungkin
15
memungkinkan pertumbuhan S. Aureus. Hilangnya fosfolipid dari tear film
yang bertindak sebagai surfaktan mengakibatkan meningkatnya penguapan air
mata dan osmolaritas, juga ketidakstabilan tear film.
Patofisiologi blefaritis posterior melibatkan perubahan struktural dan
disfungsi sekresi dari kelenjar meibomian. Kelenjar Meibomian mengeluarkan
meibum, lapisan lipid eksternal dari tear film, yang bertanggung jawab untuk
mengurangi penguapan tear film dan mencegah kontaminasi. Pada perubahan
struktural contoh kegagalan kelenjar di blepharitis posterior telah ditunjukkan
dengan meibography, selain itu, kelenjar epitel dari hewan model penyakit
kelenjar meibomian menunjukkan hiperkeratinisasi yang dapat menghalangi
kelenjar atau menyebabkan deskuamasi sel epitel ke dalam lumen, duktus
kelenjar sehingga menyebabkan konstriksi kelenjar. Hiperkeratinisasi dapat
mengubah diferensiasi sel asinar dan karenanya mengganggu fungsi kelenjar.
Disfungsi sekretorik contohnya dalam blepharitis posterior, terjadi perubahan
komposisi meibum di mana perubahan rasio asam lemak bebas untuk ester
kolesterol telah terbukti. Hasil sekresi yang berubah ini bisa memiliki titik
leleh yang lebih tinggi dari pada yang tampak di kelopak mata sehingga
menyebabkan menutupnya muara kelenjar.

D. MANIFESTASI KLINIS
1. Blefaritis stafilokokus
- sisik keras dan pengerasan kulit terutama berlokasi di antara dasar bulu
mata .
- hiperemia konjungtiva ringan dan umumnya terjadi konjungtivitis
papiler kronis.
- Kasus lama dapat berkembang menjadi jaringan parut dan bentukan
(tylosis) dari tepi kelopak mata. Madarosis, trichiasis dan poliosis.
- Perubahan sekunder termasuk pembentukan tembel, keratitis tepi
kelopak mata dan sesekali terjadi phlyctenulosis.
- Berhubungan dengan ketidakstabilan tearfilm dan sindrom mata kering
yang umumnya terjadi.
16
2. Blefaritis seboroik
- Hiperaemik tepi kelopak mata anterior dan tampak berminyak dengan
menempel bersama-sama pada bulu mata
- Sisik yang lembut dan terletak di mana saja pada tepi kelopak mata dan
bulu mata.
3. Blefaritis posterior
- Sekresi berlebihan dan tidak normal kelenjar meibomian sebagai
menyumbat lubang kelenjar meibomian dengan tetesan minyak
- Berkerut, resesi, atau penyumbatan lubang kelenjar meibomian
- Hiperemi dan telangiectasis dari tepi kelopak posterior.
- Tekanan pada tepi kelopak mengakibatkan cairan meibomian keruh
atau seperti pasta gigi.
- Transiluminasi kelopak dapat menunjukkan hilangnya kelenjar dan
dilatasi kistik duktus meibomian.
- Tear film berminyak dan berbusa, buih dapat menumpuk di tei kelopak
atau dalam kantus.
- perubahan sekunder termasuk konjungtivitis papiler dan erosi kornea
epitel inferior.

E. PENATALAKSANAAN
Banyak sistem mengenai kebersihan kelopak mata, dan semua ini
termasuk variasi dari 3 langkah penting.
1. Aplikasi panas untuk menghangatkan sekresi kelenjar kelopak mata dan
untuk memicu evakuasi dan pembersihan dari bagian sekretorik sangat
penting. Pasien umumnya diarahkan untuk menggunakan kompres hangat
basah dan menerapkannya pada kelopak berulang kali. Air hangat di
handuk, kain kassa direndam, atau dimasak dengan microwave, kain yang
telah direndam dapat digunakan. Pasien harus diinstruksikan untuk
menghindari penggunaan panas yang berlebihan.
2. Tepi kelopak mata dicuci secara mekanis untuk menghilangkan bahan
yang menempel, seperti ketombe, dan sisik, juga untuk membersihkan
17
lubang kelenjar. Hal ini dapat dilakukan dengan handuk hangat atau
dengan kain kasa. Air biasa sering digunakan, meskipun beberapa dokter
lebih suka bahwa beberapa tetes shampo bayi dicampur dalam satu tutup
botol penuh air hangat untuk membentuk larutan pembersih. Harus
diperhatikan untuk menggosok-gosok lembut atau scrubbing dari tepi
kelopak mata itu sendiri, bukan kulit kelopak atau permukaan konjungtiva
bulbi. Menggosok kuat tidak diperlukan dan mungkin berbahaya.
3. Salep antibiotik pada tepi kelopak mata setelah direndam dan digosok.
Umum digunakan adalah salep eritromisin atau sulfacetamide. Salep
antibiotik kortikosteroid kombinasi dapat digunakan, meskipun
penggunaannya kurang tepat untuk pengelolaan jangka panjang.
Situasi klinis tertentu mungkin memerlukan pengobatan tambahan. Kasus
refrakter blefaritis sering respons dengan penggunaan antibiotik oral. Satu atau
dua bulan penggunaan tetrasiklin sering membantu dalam mengurangi gejala
pada pasien dengan penyakit yang lebih parah. Tetrasiklin diyakini tidak
hanya untuk mengurangi kolonisasi bakteri tetapi juga untuk mengubah
metabolisme dan mengurangi disfungsi kelenjar. Penggunaan metronidazol
sedang dipelajari.
Disfungsi tear film dapat mendorong penggunaan solusi air mata buatan,
salep air mata, dan penutupan pungtum. Kondisi yang terkait, seperti herpes
simplex, varicella-zoster, atau penyakit kulit staphilokokal, bisa memerlukan
terapi antimikroba spesifik berdasarkan kultur. Penyakit seboroik sering
ditingkatkan dengan penggunaan shampoo dengan selenium, meskipun
penggunaannya di sekitar mata tidak dianjurkan. Dermatitis alergi dapat
merespon terapi kortikosteroid topikal.
Konjungtivitis dan keratitis dapat menjadi komplikasi blefaritis dan
memerlukan pengobatan tambahan selain terapi tepi kelopak mata. Campuran
antibiotik-kortikosteroid dapat mengurangi peradangan dan gejala
konjungtivitis. Infiltrat kornea juga dapat diobati dengan antibiotik-
kortikosteroid tetes. Ulkus tepi kelopak yang kecil dapat diobati secara
empiris, tetapi ulkus yang lebih besar, parasentral, atau atipikal harus dikerok
18
dan spesimen dikirim untuk diagnostik dan untuk kultur dan pengujian
sensitivitas.
Serangan berulang dari peradangan dan jaringan parut dari blefaritis dapat
memngakibatkan penyakit kelopak mata posisional. Trichiasis dan notching
kelopak dapat mengakibatkan gejala keratitis berat. Trichiasis diobati dengan
pencukuran bulu, perusakan folikel melalui arus listrik, laser, atau krioterapi,
atau dengan eksisi bedah. Entropion atau ectropion dapat mengembangkan
dan mempersulit situasi klinis dan mungkin memerlukan rujukan ke ahli
bedah oculoplastics. Perawatan bedah untuk blefaritis diperlukan hanya untuk
komplikasi seperti pembentukan kalazion, trichiasis, ektropion, entropion,
atau penyakit kornea.
Untuk blefaritis anterior, antibiotik natrium asam fusidic topikal,
bacitracin atau kloramfenikol digunakan untuk mengobati folikulitis akut
tetapi terbatas dalam kasus-kasus lama. Setelah kelopak dibersihkan salep
harus digosok ke tepi kelopak anterior dengan cotton bud atau jari yang bersih.
Oral azitromisin (500 mg setiap hari selama tiga hari) dapat membantu untuk
mengontrol penyakit blefaritis ulseratif.
Pada blefaritis posterior, tetrasiklin sistemik merupakan andalan
pengobatan tetapi tidak boleh digunakan pada anak di bawah usia 12 tahun
atau pada wanita hamil atau menyusui karena disimpan dalam tulang dan gigi
tumbuh, dan dapat menyebabkan noda pada gigi dan hipoplasia gigi
(eritromisin adalah alternatif). Alasan untuk penggunaan tetrasiklin adalah
kemampuan mereka untuk memblokir produksi lipase stafilokokal jauh di
bawah konsentrasi penghambatan minimum antibakteri. Tetrasiklin terutama
diindikasikan pada pasien dengan phlyctenulosis berulang dan keratitis tepi,
meskipun berulang pengobatan mungkin diperlukan. Contohnya:
Oxytetracycline 250 mg b.d. selama 6-12 minggu, Doksisiklin 100 mg b.d.
selama satu minggu dan kemudian setiap hari selama 6-12 minggu,
Minocycline 100 mg sehari selama 6-12 minggu; (pigmentasi kulit dapat
berkembang setelah penggunaan jangka panjang). Erythromicin 250 mg
perhari atau b.d digunakan untuk anak-anak.
19
F. PROGNOSIS
Kebersihan yang baik (pembersihan secara teratur daerah mata) dapat
mengontrol tanda-tanda dan gejala blefaritis dan mencegah komplikasi.
Perawatan kelopak mata yang baik biasanya cukup untuk pengobatan. Harus
cukup nyaman untuk menghindari kekambuhan, karena blefaritis sering
merupakan kondisi kronis. Jika blefaritis berhubungan dengan penyebab yang
mendasari seperti ketombe atau rosacea, mengobati kondisi-kondisi tersebut
dapat mengurangi blefaritis. Pada pasien yang memiliki beberapa episode
blefaritis, kondisi ini jarang sembuh sepenuhnya. Bahkan dengan pengobatan
yang berhasil, kekambuhan dapat terjadi.

20
DAFTAR PUSTAKA

Dahl, Andrew A., MD, FACS. Blepharitis. Viewed 10 November 2013.


<http://www.medicinenet.com/blepharitis/article.htm>

Johnson, Stephen, M., MD. Blepharitis in Midwest Eye Institute. viewed 10


November 2013. <http://smjohnsonmd.com/Blepharitis.html>

Ilyas, Sidarta,Prof.dr.H spM. Ilmu penyakit Mata. FKUI, edisi ketiga, Jakarta:
2009; page 1-2, 89-97

James, Bruce. Lecture Notes On Opthalmology. 9 th ed. Blackwell publishing,


Australia : 2013; page 52-4

Popham, Jerry MD. In Cosmetic facial and eye plastic surgery : Eyelid Anatomy.
Viewed 10 November 2013. <http://www.drpopham.com/347-Anatomy%20-
%20Eyelid/>

Vaughan D. Oftalmologi umum (General Ophthalmology). Widya Medika.


Jakarta: 2003; page 78-80

Weinstock, Frank J., MD, FACS and Melissa Conrad Stöppler, MD. Eyelid
Inflammation (Blepharitis). Viewed 10 November 2013.
<http://www.emedicinehealth.com/eyelid_inflammation_blepharitis/.htm>

Lowery, R Scott, MD et all, Adult Blepharitis Updated: April 26, 2013 viewed 10
November 2013. http://emedicine.medscape.com/article/1211763-
overview#a0104

Kanski JJ. Blepharitis. In: Clinical Ophthalmology. 7th ed. Butterworth


Heinemann. Philadelphia; 2011: page 34-38.

Allen, JH et all, Patophosiology Blepharitis in Best Practice British Medicine


Journal. Last updated: July 26, 2013. Download 10 November 2013.
<http://bestpractice.bmj.com/bestpractice/monograph/574/basics/pathophysiology
.htm>

Feder, Robert S, MD, chair et all. Blepharitis Limited Revision In Preferred


Practice Pattern. American Academy Ophthalmology: 2011.

Hadrill, Marilyn., Blepharitis Page updated September 21, 2013 viewed 10


November 2013. <http://www.allaboutvision.com/conditions/blepharitis.htm>

Papier, Art, MD; David J. Tuttle, MD; and Tara J. Mahar, MD. Differential
Diagnosis of the Swollen Red Eyelid in the American Academy of Family
21
Physicians.2007; page 1815-24.
<http://www.aafp.org/afp/2007/1215/p1815.html#afp20071215p1815-t1>

22