Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan teknologi produksi dan bahan baku logam tidak dapat
dipisahkan dari pemanfaatan teknologi pengelasan, sehingga boleh dikatakan
hampir tidak ada logam yang tidak dapat dilas. Dalam industri fabrikasi, pengelasan
merupakan aspek penting dalam pembuatan dan perbaikan suatu produk fabrikasi
misalnya kapal, struktur lepas pantai maupun perpipaan. Dari berbagai manfaat dari
penggunaan proses pengelasan tersebut, pengelasan dapat diartikan sebagai teknik
penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam
pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa panas dan dengan atau
tanpa tambahan logam yang menghasilkan sambungan yang kontinu (Sonawan,
2006).
Berbagai faktor yang dapat berpengaruh pada hasil pengelasan, seperti
konstruksi las yang sesuai dengan rencana dan spesifikasi. Perencanaan dan
spesifikasi pengelasan yang dimaksud melingkupi proses pembuatan, alat dan
material yang diperlukan, urutan pelaksanaan, persiapan pengelasan. Sehingga jika
beberapa faktor tersebut dilaksanakan dengan baik, akan didapatkan efisiensi pada
suatu sambungan pengelasan. Namun, hal yang tidak dapat terhindarkan dari
sebuah proses pengelasan adalah temperatur tinggi yang tidak seragam yang dapat
menghasilkan distorsi dan tegangan sisa. Dimana tegangan sisa merupakan
tegangan akibat pemanasan lokal dan pendinginan yang cepat. Pada penerapan di
lapangan, tegangan sisa dapat dikurangi dengan penempaan dan pemanasan di awal
dan akhir proses pengelasan. Akan tetapi pada beberapa konstruksi dan metode
pengurangan tegangan sisa terkadang sulit dilakukan, sehingga diperlukan
pemilihan metode dan persiapan pengelasan yang tepat dengan memprediksi
besarnya distorsi dan tegangan sisa untuk meningkatkan efisiensi dan kekuatan
sambungan las.

Tahap persiapan pada tiap proses pengelasan dapat berupa persiapan


prosedur pengelasan, persiapan material dan persiapan penempatan. Pada persiapan
penempatan, biasanya digunakan jig (tanggem) atau stopper sebagai penahan yang
bertujuan untuk meminimalisir terjadinya deformasi maupun perubahan posisi pada
material yang akan dilas. Pada praktiknya dilapangan, penggunaan stopper berupa
tambahan plat sememtara sangatlah lumrah dijumpai karena relatif lebih efektif
dalam segi ekonomis, cepat dalam persiapannya dan dapat diterapkan pada area
yang relatif rumit dibandingkan penggunaan jig atau tanggem penjepit yang bersifat
fixed.
Pada penerapannya stopper memang efektif dalam meminimalisir
terjadinya deformasi, namun penahanan yang berlebih akan menimbulkan tegangan
sisa yang dapat menyebabkan retak atau crack pada area hasil pengelasan.
Begitupula dengan ketebalan plat yang dilas, semakin tebal plat maka akan kecil
kemungkinan terjaidnya deformasi namun menimbulkan tegangan sisa yang besar.
Sehingga pemilihan tebal plat dan penggunaan stopper yang tepat tidak akan
menimbulkan besarnya tegangan sisa dan deformasi yang terjadi.

Oleh karena itu daalam penelitian ini, penulis melakukan analisa pemodelan
numerik dan eksperimen pada plat baja A36 dengan memvariasikan pengaruh
stopper dan welding sequences terhadap distorsi angular akibat dari tegangan sisa
dan deformasi pada area hasil pengelasan. Dari pemodelan numerik menggunakan
simulasi elemen hingga dengan software ANSYS tersebut bertujuan untuk
mendapat hasil berupa besarnya distorsi angular yang terjadi pada plat baja A36
yang nantinya divalidasikan dengan hasil eksperimen. Sehingga dapat diketahui
pada jenis variasi manakah distorsi angular terkecil terjadi.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah yang akan
diselesaikann dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Berapa besar perubahan distorsi angular akibat pengaruh welding


sequences dan jarak pemasangan stopper pada plat baja A36 dengan
menggunakan metode elemen hingga?
2. Berapa besar perubahan distorsi angular akibat pengaruh welding sequences
dan jarak pemasangan stopper pada plat baja A36 pada eksperimen dengan
pengelasan SMAW?
3. Variasi welding sequences dan variasi jarak pemasangan stopper manakah
yang menghasilkan distorsi angular terkecil?

1.3 Tujuan
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Melakukan analisa perubahan distorsi angular akibat pengaruh welding


sequences dan jarak pemasangan stopper pada plat baja A36 dengan
menggunakan metode elemen hingga.
2. Melakukan eksperimen dan melakukan pengukuran distorsi angular akibat
pengaruh welding sequences dan jarak pemasangan stopper pada plat baja
A36 dengan pengelasan SMAW.
3. Menentukan variasi welding sequences dan variasi jarak pemasangan
stopper yang menghasilkan distorsi angular terkecil.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penelitian ini antara lain:

1. Memberikan pengetahuan mengenai perubahan distorsi angular akibat


pengaruh welding sequences dan jarak pemasangan stopper pada plat baja
A36 dengan metode elemen hingga.
2. Mengetahui variasi welding sequences dan jarak pemasangan stopper yang
menghasilkan distorsi angular terkecil maupun yang terbesar.
3. Diharapkan dapat menjadi acuan dalam penelitian lainnya yang
menggunakan pengelasan SMAW pada plat baja A36.

1.5 Batasan Masalah


Agar lebih memudahkan analisis dan dapat dicapai tujuan yang diharapkan,
maka perlu diberikan batasan-batasan sebagai berikut:

1. Meterial yang digunakan adalah plat baja A36.


2. Bentuk plat adalah plat datar ukuran 100 x 600 mm dengan sambungan
pengelasan butt joint dengan ketebalan 10 mm.
3. Metode pengelasan menggunakan metode SMAW (Shielded Metal Arc
Welding)
4. Posisi pengelasan adalah 1G (datar) dengan jenis sambungan butt joint.
5. Pengelasan dilakukan tanpa adanya pre-heating dan post-heating.
6. Bentuk bevel yang digunakan adalah single V groove.
7. Parameter yang diubah adalah welding sequences dan jarak antar stopper.
8. Stopper yang digunakan memiliki dimensi 200 mm x 100 mm dengan
ketebalan 10 mm.
9. Sudut pemasangan stopper yaitu 90˚.
10. Stopper dipasang sejumlah 2 dengan variasi jarak 200 mm, 300 mm dan 400
mm.
11. Pengukuran distorsi yang diperoleh dari hasil pemodelan numerik adalah
jenis distorsi angular.
12. Diabaikannya cacat pada material yang dilas
13. Pemodelan geometri menggunakan software Autodesk Inventor dan Solid
Works.
14. Analisa numerik menggunakan software ANSYS 16.0 Mechanical.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Proposal Tugas Akhir (P-1) ini adalah sebagai berikut

1. BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi beberapa hal, antara lain
1.1. Latar Belakang
1.2. Perumusan Masalah
1.3. Tujuan
1.4. Manfaat
1.5. Batasan Masalah
1.6. Sistematika Penulisan
2. BAB II DASAR TEORI
Bab ini berisi mengenai teori-teori pendukung yang digunakan dalam
menyelesaikan studi kasus.
3. BAB III METODOLGI PENELITIAN
Bab ini menguraikan alur penelitian dari awal hingga menghasilkan suatu
kesimpulan.
4. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi mengenai jabaran permasalahan yang terjadi dan solusi dalam
menyelesaikan analisis.
5. BAB V PENUTUP
Bab ini berisi simpulan dari analisis dan saran yang bermanfaat.