Anda di halaman 1dari 11

PEMANFAATAN CITRA LANDSAT 8 DAN SRTM

UNTUK PEMETAAN KETERSEDIAAN AIRTANAH


(KASUS DAERAH KABUPATEN KLATEN BAGIAN UTARA)

Rahadian Her Jati Kuncara


ardi.geography@gmail.com

Sudaryatno
sudaryatno@ugm.ac.id

Abstract
Groundwater is a vital source of water for various needs. The northern part of Klaten are located
at the footslope of Mount Merapi. Recently the use of water in large quantities such as industry and
housing affect groundwater, so the studies related to the availability of groundwater is necessary.
This study uses Remote Sensing and Geographic Information System to mapping the availability
of groundwater. Landsat 8 and SRTM imagery used to deliniation of land parameters. Other data used
include Geological Map, Topographic Map, and Soil Map as a identification reference of land
parameters. Seven land parameters generated for groundwater potential mapping, such as: lithology,
landform, lineament, slope, drainage density, landcover, and soil texture.
AHP (Analytic Hirarchy Process) is used in the process of weighting parameters using a SMCE
(Spatial Multi Criteria Evaluation) to produce a groundwater potential map of study area. The accuracy
of interpretation show quite well with the level of accuracy 88.23% for land cover mapping, 89.13%
for landforms mapping, 92% for lithology mapping, 76% for soil texture mapping, and 83.72% for slope
mapping. The results accuracy of groundwater potential mapping is 72.72%.

Keywords: Groundwater Potential, SMCE, AHP, Landsat 8, SRTM

Abstrak
Airtanah merupakan sumber air yang vital untuk berbagai kebutuhan. Klaten bagian utara merupakan
daerah yang terletak pada lereng kaki Gunung Merapi. Dewasa ini pemanfaatan air dalam jumlah besar
seperti industri dan perumahan mempengaruhi airtanah, sehingga diperlukan studi terkait ketersediaan
airtanah. Penelitian ini menggunakan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk
memetakan ketersediaan airtanah. Citra yang digunakan berupa Landsat 8 dan SRTM untuk interpretasi
parameter lahan. Data lain yang digunakan meliputi Peta Geologi, Peta Rupabumi, dan Peta Tanah
sebagai acuan identifikasi. Parameter lahan yang dihasilkan meliputi: litologi, bentuklahan, pola
kelurusan, kemiringan lereng, kerapatan drainase, penutup lahan, dan tekstur tanah. AHP digunakan
dalam pembobotan parameter lahan melalui metode SMCE untuk menghasilkan peta ketersediaan
airtanah. Uji akurasi termasuk baik dengan tingkat akurasi sebesar 88,23% untuk penutup lahan, 89,13
% untuk bentuklahan, 92% untuk litologi, 76% untuk tekstur tanah, dan 83,72% untuk kemiringan
lereng. Hasil uji akurasi pemetaan ketersediaan airtanah memiliki nilai sebesar 72,72%.

Kata kunci : Ketersediaan Airtanah, SMCE, AHP, Landsat 8, SRTM

1
2. Melakukan pemetaan ketersediaan
PENDAHULUAN airtanah menggunakan data
Airtanah merupakan sumber air Penginderaan Jauh dan bantuan Sistem
yang sangat ketersediaan untuk berbagai Informasi Geografis.
kebutuhan karena memiliki kuantitas yang 3. Melakukan evaluasi hasil pemetaan
besar dan kualitas yang cukup baik. zona ketersediaan airtanah dan analisis
Keberadaan airtanah tidak terpengaruh oleh citra Penginderaan Jauh dan Sistem
musim sehinga dapat diperoleh pada musim Informasi Geografis dalam aplikasinya
kemarau, meskipun dengan debit yang terhadap pemetaan ketersediaan
berkurangSecara keseluruhan air tawar yang airtanah.
berada di Bumi ini lebih dari 97% terdiri atas
airtanah. (Asdak, 2007)
Klaten merupakan salah satu METODE PENELITIAN
Kabupaten di Jawa Tengah yang terletak di
Pengolahan Parameter Litologi
antara Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Peta Litologi skala 1:50.000 dapat
Sukoharjo, dan Kabupaten Boyolali. Klaten disusun melalui interpretasi visual dengan
merupakan dataran yang sebagian besar bantuan Citra Landsat 8 Komposit, Peta
wilayahnya tersusun atas perpaduan Geologi lembar Yogyakarta skala
bentuklahan vulkanik dan fluvial. Hal 1:100.000. Analisis korelasi antara jenis
tersebut menyebabkan sumber airtanah di formasi batuan, umur formasi batuan, dan
Klaten sangatlah melimpah karena terletak material formasi batuan dengan
pada lereng kaki dimana akuifer airtanah karakteristik bentuklahan yang spesifik
mulai muncul menjadi mata air. Secara dapat memberikan informasi fisik lebih
umum, formasi batuan di Kabupaten Klaten
rinci terkait batuan yang ada
berupa Formasi Gunungapi Merapi muda dan
Formasi Gunungapi Merapi tua. Pengolahan Parameter Bentuklahan
Dewasa ini perkembangan dan
pertumbuhan berbagai sector di Kabupaten Pemetaan bentuklahan untuk
Klaten semakin meningkat karena memiliki identifikasi ketersediaan airtanah dilakukan
posisi strategis yang menghubungkan dengan interpretasi visual. Interpretasi
Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa visual dilakukan menggunakan kunci-kunci
Yogyakarta. Pembangunan daerah industri interpretasi yang dapat diidentifikasi pada
serta permukiman dengan segala fasilitasnya citra Landsat 8. Proses pengenalan masing-
menyebabkan ketergantungan terhadap masing bentuklahan memiliki karakteristik
sumber mata air dan airtanah menjadi unsur interpretasi yang berbeda-beda,
semakin meningkat. Pembangunan ini dapat namun dapat dikenali secara umum melalui
menimbulkan perubahan penutup lahan yang karakteristik relief, pola aliran, dan lokasi.
semula daerah hijau menjadi lahan terbangun
yang kedap air. Hal tersebut menyebabkan air Pengolahan Parameter Tekstur Tanah
hujan yang jatuh di permukaan tanah tidak Identifikasi tekstur tanah dapat
dapat meresap , sehingga menjadi limpasan diperoleh melalui interpretasi visual citra
permukaan. Apabila infiltrasi yang terjadi Landsat 8 dengan bantuan peta geologi dan
sedikit maka menyebabkan jumlah cadangan peta bentuklahan yang sudah dibuat.
airtanah yang terdapat dalam akuifer Tekstur tanah dapat diprediksi dan
berkurang. dispesifikasikan lebih detil menggunakan.
Tujuan dari penelitian ini adalah : kunci interpretasi tekstur tanah, antara lain:
1. Mengkaji kemampuan citra warna, pola, asosiasi, dan bentuk.
Penginderaan Jauh dalam ekstraksi
parameter lahan yang digunakan untuk Pengolahan Parameter Pola Kelurusan
pemetaan ketersediaan airtanah. (Lineament)

2
Lineament dapat diidentifikasi Setelah melakukan ekstraksi dan
melalui proses interpretasi visual dengan pengukuran terhadap berbagai parameter
memperhatikan beberapa kunci interpretasi penentu ketersediaan airtanah, dilakukan
utama, antara lain: pola, bentuk, dan proses pembobotan parameter yang
asosiasi. Proses pengenalan pola kelurusan berkisar antara 0% sampai 100%
dilakukan menggunakan kunci interpretasi berdasarkan kontribusinya menggunakan
berupa kenampakan lurus yang kontras dan Analytic Hirarchy Process(AHP). Tidak
memiliki perbedaan rona yang mencolok semua parameter memiliki bobot yang
dengan obyek lainnya. sama tergantung dengan kontribusinya
terhadap fenomena airtanah itu sendiri.
Pengolahan Parameter Kemiringan Matriks perbandingan diperoleh melalui
Lereng pertimbangan skala prioritas berdasarkan
parameter litologi, fisiografi dan faktor
Kemiringan lereng berperan dalam
hidrologi yang mempengaruhi ketersediaan
mengetahui pergerakan air melalui
airtanah lainnya
informasi topografi. Proses infiltrasi
airtanah akan meningkat seiring dengan Tabel 1. Klasifikasi Pembobotan
rendahnya nilai kemiringan lereng.
Ekstraksi parameter lereng dapat diperoleh Parameter Bobot(%) Rank
melalui pemrosesan Citra SRTM yang Litologi 26,4 1
memuat data DSM diturunkan menjadi peta Bentuklahan 21,7 2
kemiringan lereng melalui beberapa tahap. Pola Kelurusan 19,1 3
Kemiringan Lereng 13,2 4
Pengolahan Parameter Kerapatan Kerapatan Drainase 12,4 5
Drainase Tekstur Tanah 3,8 6
Penutup lahan 3,4 7
Pemrosesan peta jaringan drainase Sumber: (Hasil Pengolahan, 2015)
menjadi peta kerapatan drainase dapat
diperoleh melalui perbandingan antara total
panjang dari cabang sungai dengan luas
area kajian yang ada. Setelah diperoleh skor
kerapatan drainase maka dilakukan proses
klasifikasi kelas kerapatan drainase dan
simbolisasi sesuai kaidah kartografis.

Pengolahan Parameter Penutup Lahan


Penutup lahan merupakan
parameter yang menggambarkan fenomena
permukaan bumi baik alami maupun
buatan. Jenis penutup lahan yang ada akan
mempengaruhi tingkat infiltrasi air hujan
yang jatuh pada permukaan bumi. Untuk
mendapatkan kelas penutup lahan, citra
LANDSAT 8 dilakukan proses supervised
classification yaitu maximum likelihood
classification.

Pembobotan Parameter

3
Gambar 1. Diagram Alir Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

Akurasi Interpretasi Parameter Penentu induk Batuan Gunungapi Merapi memiliki


Ketersediaan Airtanah persentase yang mendominasi yaitu 89.52 %
Citra penginderaan jauh merupakan sedangkan bahan induk Aluvial memiliki
teknologi yang efektif dalam penyadapan luas sebesar 10,47%. Formasi Batuan
informasi beragam kenampakan permukaan Gunungapi Merapi(Qvm) yang tersebar
bumi tanpa kontak langsung. Walaupun pada lereng atas dan lereng tengah dapat
dapat menyadap berbagai fenomena menjadi akuifer yang baik. Breksi
permukaan bumi namun diperlukan uji Gunungapi, tuff, dan lava merupakan
validasi antara obyek hasil interpretasi penyusun batuan yang memiliki porositas
terhadap obyek di lapangan. Hasil uji batuan yang cukup baik untuk dalam proses
akurasi beragam parameter penentu airtanah perkolasi airtanah. Alluvium(Qa) yang
termasuk baik dengan rincian 88,23% untuk terdapat pada Kecamatan Wonosari
pemetaan penutup lahan, 89,13 % untuk merupakan penampung airtanah yang baik
pemetaan bentuklahan, 92% untuk yang lebih baik.
pemetaan litologi, 76% untuk pemetaan
tekstur tanah, dan 83,72% untuk pemetaan Bentuklahan
kemiringan lereng. Bentuklahan merupakan salah satu
parameter utama dalam penentuan zona
Litologi ketersediaan airtanah. Lereng Gunungapi
Litologi merupakan faktor yang merupakan bentuklahan bagian lereng
sangat berpengaruh terhadap pembentukan Gunungapi Merapi yang terletak pada
airtanah. Karakteristik akuifer yang sebagian Kecamatan Tulung dan Kecamatan
terbentuk pada permukaan bumi Jatinom. Kemiringan lereng yang relatif
dipengaruhi oleh tipe litologi yang ada. miring menyebabkan terjadi limpasan
menunjukan luas litologi dengan bahan permukaan pada daerah lereng.

4
Bentuklahan ini umumnya termasuk zona yang memiliki kemiringan lereng lebih
penadah airhujan yang berpengaruh curam. Kelas kemiringan lereng
terhadap proses pengisian bergelombang, berbukit, dan bergunung
kembali(recharge). Kaki Gunungapi banyak ditemukan pada bentuklahan Lereng
merupakan bentuklahan yang terdapat pada Kaki Gunungapi dan Kaki Gunungapi di
sebagian Kecamatan Tulung dan Kecamatan Kecamatan Jatinom. Kecamatan Tulung,
Jatinom. Kemiringan lereng yang tercakup Kecamatan Karanganom, dan Kecamatan
antara landai hingga berbukit dapat Polanharjo. Kemiringan lereng datar dan
ditemukan pada bentuklahan ini. landai memiliki lokasi yang menyebar
Bentuklahan ini masih termasuk zona namun mendominasi pada bentuklahan
penadah hujan sehingga penutup lahan Dataran Fluvio Gunungapi dan Dataran
didominasi oleh kebun campuran dan Fluvial di Kecamatan Delanggu, Kecamatan
permukiman. Dataran Fluvial Gunungapi Wonosari, dan Kecamatan Juwiring.
dan Dataran Aluvial pada merupakan
bentuklahan yang terdapat pada daerah Kerapatan Drainase
dengan kemiringan lereng landai hingga Kerapatan drainase pada daerah
datar. Perbedaan antara kedua bentuklahan kajian memiliki pola tinggi menuju rendah
ini adalah proses vulkanik masih dominan dari bentuklahan Kaki Gunungapi dibagian
mengontrol Dataran Fluvial Gunungapi, barat hingga bentuklahan dataran alluvial
sedangkan Dataran Aluvial dominan dibagian timur. Kerapatan drainase agak
dikontrol oleh proses fluvial. tinggi hingga tinggi dapat ditemui di bagian
barat daerah kajian yang memiliki
Pola Kelurusan kemiringan lereng relatif tinggi. Hal tersebut
Pola kelurusan dapat ditemukan menyebabkan limpasan permukaan
menyebar di daerah kajian namun umumnya meningkat sehingga ketersediaan airtanah
banyak ditemukan pada daerah tekuk lereng. menjadi rendah. Kerapatan drainase sedang
Dominasi kenampakan pola kelurusan dengan rentang nilai 2.4 - 3.2 km/km2
banyak ditemukan pada zona tekuk lereng di merupakan kelas yang paling mendominasi
perbatasan Kecamatan Jatinom, Kecamatan pada daerah kajian. Kerapatan drainase
Tulung, Kecamatan Karanganom, dan rendah dengan rentang nilai antara 0 - 1,6
Kecamatan Polanharjo. Kecamatan Pola km/km2 termasuk pada sebagian
kelurusan tersebut merupakan kategori Kecamatan Karanganom, Kecamatan
rekahan antar batuan sedangkan untuk sesar Juwiring, dan Kecamatan Wonosari.
tidak ditemukan pada daerah kajian. Proses
rekahan tersebut akan mempengaruhi
pergerakan airtanah antar batuan dan
membentuk celah dalam proses pengisian Penutup Lahan
kembali(recharge). Area yang tercakup pada Jenis penutup lahan yang dipetakan
rekahan akan membentuk porositas dibagi menjadi empat kategori yaitu sawah
sekunder yang membentuk zona perkolasi irigasi, lahan terbuka, permukiman, dan
airtanah yang baik dibandingkan dengan kebun campuran. Beragam tipe penutup
daerah yang tidak tercakup. lahan akan mempengaruhi ketersediaan
airtanah di daerah kajian. Penutup lahan
menjelaskan komponen yang mengisi suatu
Kemiringan Lereng lahan yang ada di permukaan bumi. Kebun
Tingkat kemiringan lereng suatu campuran dapat diidentifikasi melalui kunci
daerah dapat mempengaruhi proses interpretasi tutupan vegetasi heterogen yang
pengisian kembali(recharge). Dataran memiliki lokasi menyebar pada daerah
Fluvial Gunungapi dan Dataran Aluvial kajian. Penutup lahan sawah memiliki
yang memiliki kemiringan lereng landai dominasi yang besar dibandingkan kategori
hingga datar dapat menahan airhujan dan penutup lahan lainnya. Hal tersebut
membantu menampung airtanah dengan dikarenakan daerah kajian memiliki kondisi
baik dibanding daerah Lereng Gunungapi yang ideal untuk dimanfaatkan sebagai

5
sawah, antara lain: topografi yang relatif tersebut termasuk lokasi yang cocok
datar, air irigasi yang mudah didapat, dan dimanfaatkan sebagai zona resapan airtanah.
tanah relatif subur. Kelas ketersediaan airtanah agak
rendah dan rendah memiliki porsi sebesar
Tekstur Tanah 7,7% dan 1,1% dari total luas daerah kajian.
Tekstur tanah pasir kasar hingga Lokasi kelas tersebut memiliki pola
sangat halus memiliki distribusi pada persebaran mengelompok pada Kecamatan
bentuklahan Lereng Gunungapi, Kaki Jatinom dan Kecamatan Tulung. Penutup
Gunungapi, dan Dataran Fluvial Gunungapi. lahan yang didominasi kebun campuran,
Menurut Peta Jenis Tanah, daerah tersebut rata-rata kemiringan lereng bergelombang
termasuk jenis tanah Regosol kelabu yang hingga bergunung, kerapatan drainase relatif
memiliki karakteristik tanah muda yang rapat, dan tekstur tanah pasir termasuk
belum ada perkembangan horizon dengan parameter lahan yang tidak mendukung
tekstur tanah pasir. Tekstur tanah debu ketersediaan airtanah, namun zona ini
hingga lempung dapat ditemukan pada memiliki peran dalam proses pengisian
bentuklahan Dataran Aluvial yang berada di kembali airtanah(groundwater recharge).
Kecamatan Wonosari dan Kecamatan
Juwiring.
Evaluasi Hasil Pemetaan Ketersediaan
Distribusi Ketersediaan Airtanah Airtanah
Pemetaan ketersediaan airtanah dapat
Peta ketersediaan airtanah yang menghasilkan zonasi-zonasi yang
diperoleh memiliki klasifikasi bertingkat membedakan suatu lahan menurut kelas
ketersediaan airtanah berdasarkan parameter ketersediaan airtanahnya berdasar parameter
lahan yang digunakan. Adapun klasifikasi lahan yang berpengaruh.. Adapun beberapa
ketersediaan airtanah pada penelitian ini, parameter lahan yang berprengaruh
antara lain: rendah (1,98-2.49), agak rendah terhadap ketersediaan airtanah, antara lain:
(2,491-2.731), sedang (2,731-2,919), agak litologi, bentuklahan, pola kelurusan,
tinggi (2,919-3,16), dan tinggi (>3,16). kemiringan lereng, kerapatan drainase,
Umumnya persebaran kelas ketersediaan tekstur tanah, dan penutup lahan. Beragam
airtanah tinggi hingga agak tinggi memiliki parameter tersebut memiliki pengaruh yang
persebaran pada Bentuklahan Dataran berbeda-beda terhadap kemunculan
Fluvio Vulkan dan Dataran Aluvial pada airtanah.
Kecamatan Juwiring, Kecamatan Delanggu, Berdasarkan faktor-faktor yang
Kecamatan Wonosari, sebagian Kecamatan menentukan ketersediaan airtanah pada
Karanganom dan Sebagian Kecamatan suatu daerah maka dapat diperoleh
Polanharjo. Perbatasan tekuk lereng di karakterisik parameter lahan yang
perbatasan kedua bentuklahan tersebut mendukung ketersediaan airtanahnya. Zona
menyebabkan banyaknya pola kelurusan, ketersediaan airtanah tinggi dapat
berubahnya kerapatan drainase menjadi diidentifikasi melalui beberapa karakteristik
rendah, sehingga mempengaruhi perubahan antara lain: tipe litologi yang berumur
kelas ketersediaan airtanah secara Quarter, banyaknya pola kelurusan,
mencolok. Hal tersebut menunjukan kerapatan drainase yang rendah, kemiringan
karakteristik parameter lahan pada daerah lereng yang datar, tekstur tanah pasiran, dan
tersebut memiliki dukungan terhadap penutup lahan vegetasi rapat. Zona
pemunculan airtanah. ketersediaan airtanah rendah dapat
Kelas ketersediaan airtanah sedang diidentifikasi melalui beberapa
memiliki pola persebaran memusat pada karakteristik, antara lain: tipe litologi
bentuklahan Kaki Gunungapi dan Lereng berumur tua, tidak ditemui pola kelurusan,
Gunungapi di Kecamatan Tulung dan kerapatan drainase yang tinggi, kemiringan
Kecamatan Jatinom. Luas kelas lereng yang curam, tekstur tanah lempung,
ketersediaan airtanah sedang sebesar 15,92 dan penutup lahan kedap air.
% dari total luas daerah kajian. Berdasarkan Distribusi curah hujan menunjukan
karakteristik parameter lahannya, zona daerah yang memiliki kemiringan lereng

6
semakin datar memiliki nilai curah hujan dengan data mata air daerah kajian
yang semakin tinggi, sehingga curah hujan memiliki nilai sebesar 72,72%.
secara gradual meningkat dari bagian barat
menuju kearah timur daerah kajian. Pola DAFTAR PUSTAKA
tersebut juga ditemukan pada ketersediaan
Aronoff, Stan. 1989. "Geographic Information System a
air tanah daerah kajian yang semakin Management Perspective". Ottawa-Canada :WDL
meningkat kearah dataran. Validasi hasil Publication
pemetaan ketersediaan airtanah dengan Arifin. 2008. Koreksi Geometri Data Citra Raster. Diakses
curah hujan di daerah kajian menunjukan hal pada tanggal 28 Juli 2015 dari URL
yang saling berhubungan. Hasil uji akurasi http://digilib.itb.ac.id.
Avtar, Ram dkk. 2010. Identification and analysis of
pemetaan ketersediaan airtanah dengan data groundwater potential zones in Ken-Betwa river linking
kemunculan mataair memiliki nilai sebesar area using Remote Sensing and GIS. Geocarto
72,72%. International, 25(5). hal. 379-396. Diakses tanggal 28
Januari 2015, dari URL
http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/10106048
KESIMPULAN 909354204
Bayong Tjasyono,H.K. 2004. Klimatologi. Bandung:
1. Pemanfaatan Citra Landsat 8 dan Citra Penerbit ITB
SRTM untuk pemetaan berbagai faktor Chay, Asdak. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan DAS.
Yogyakarta:Gadjah Mada Press.
ketersediaan airtanah termasuk baik dengan Chowdary, V.M. dkk. 2008. Assessment surface and sub-
tingkat akurasi pemetaan sebesar 88,23% surface waterlogged area in irrigation command areas
untuk penutup lahan, 89,13 % untuk of Bihar state using remote sensing and GIS.
Agricultural Management 95 (7). Hal. 754-766
bentuklahan, 92% untuk litologi, 76% Chuma, Constant. 2013. Application of Remote Sensing and
untuk tekstur tanah, dan 83,72% untuk GIS in Determining the Groundwater Potential in the
Crystaline Basement of Bulawayo Metropolitan Area,
kemiringan lereng. Zimbabwe. Advances in Remote Sensing, 2. hal. 149-
2. Secara umum ketersediaan airtanah yang 161. Diakses tanggal 20 November 2015 dari URL
berada di Kabupaten Klaten bagian utara www.scirp.org/journal/ars
Danoedoro, P. 2012. Pengantar Penginderaan Jauh Digital.
memiliki ketersediaan airtanah tinggi Yogyakarta: Penerbit Andi.
hingga agak tinggi memiliki distribusi Florinsky. 2000. Relationship between topographically
wxpressed zones of flow accumulation and sites of fault
menyebar pada daerah penelitian dengan
intersection . Enviromental modelling and software. hal.
total luas sebesar 75,07 % dari total luas 87-100
daerah kajian. Kelas ketersediaan airtanah JSS (Japan Space System). 2015. Format of SRTM . Diakses
25 April 2015, dari
sedang memiliki pola persebaran memusat (http://www.jspacesystems.or.jp/ersdac/GDEM/E/2.htm
pada bentuklahan Kaki Gunungapi dengan l
luas sebesar 15,92 % dari total luas daerah Kerrich, R. 1986. Fluid Transport in Lineament .
Philosophycal Transaction of the Royal Society of
kajian. Kelas ketersediaan airtanah agak London. Hal. 219-251
rendah dan rendah memiliki porsi sebesar Kim, Gyoo-Bum, 2003, Construction of a Lineament Density
Map with ArcView and Avenue, Korea Water Resources
7,7% dan 1,1% dari total luas daerah kajian. Corporation, South Korea
3. Penggunaan Citra Penginderaan jauh dapat Lattman, L.H. 1958. Technique of mapping geologic fracture
menyadap berbagai parameter lahan traces and lineament on aerial photographs.
Photogrametric Engineering.
penentu ketersediaan airtanah tanpa kontak Lillesand, T.M dan Kiefer, R.W. 2007. Remote Sensing and
langsung terhadap obyek tersebut, sehingga Image Interpretation, 5th Edition. New York: John
memiliki kelebihan terkait biaya, waktu, Wiley & Sons.
Lintz J.Jr., dan D.S. Simonett. 1976. Remote Sensing of
dan tenaga. Sistem Informasi Geografis Environtment. Addison-London:Wesley Publishing
memungkinkan pengguna efektif dalam Company
Ministry of Economy, Trade, and Industry (METI) dan
melakukan manajemen data spasial yang National Aeronautics and Space Administration
digunakan dalam penelitian ini. Validasi (NASA). 2011. SRTM 2 Readme. Japan & United States
hasil pemetaan ketersediaan airtanah : METI & NASA.
Murthy, K.S.R. dan Mamo, Abiy. 2007. Multi-criteria
Decision Evaluation in Groundwater Zones
Identifcation in Moyale-Teltele Subbasin, South

7
Ethiopia. International Journal of Remote Sensing. Vol
30,11,2729-2740.
Panda, A.K. 1998. Identification of groundwater potential
zone in Kamla-Balan river basin using Remote Sensing
and GIS. Tesis. IITK
Prahasta, Eddy. 2009. Sistem Informasi Geografis : Konsep-
konsep Dasar (Perspektif Geodesi & Geomatika).
Penerbit Informatika, Bandung
Purnama, Setyawan. 2006. Hidrologi Air Tanah. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
Purnama, Setyawan. 2000. Bahan Ajar Geohidrologi.
Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM
Schmidt, F.H. dan Ferguson, J.H.A. (1951). Rainfall Types
Based on Wet and Dry Period Ratios for Indonesia and
Western New Guinea. Verh. Djawatan Mety. Dan
Geofisik, Jakarta 42
Suharsono, P. 1999. Identifikasi Bentuklahan dan
Interpretasi Citra Untuk Geomorfologi. Yogyakarta:
PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.
Saaty, Thomas L. 2008. Decision making with the analytic
hierarchy process. International Journal Services
Sciences vol 1. Diakses tanggal 20 Desember 2015 dari
URL www.colorado.edu
Sutanto. (1994). Penginderaan Jauh Jilid I. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press
Todd, D.K. 1980. Groundwater Hydrology. New York: John
Wiley and Sons
USGS. 2015. Landsat 8 OLI Spesification. Diakses 25 April
2015, dari (http://Landsat.usgs.gov/Landsat8.php)

8
LAMPIRAN

Gambar 2. Peta Kemiringan Lereng Daerah Kajian Gambar 4. Peta Tekstur Tanah Daerah Kajian

Gambar 3. Bentuklahan Daerah Kajian Gambar 5. Peta Pola Kelurusan Daerah Kajian

9
Gambar 6. Peta Kerapatan Drainase Daerah Kajian Gambar 8. Peta Penutup Lahan Daerah Kajian

Gambar 7. Peta Litologi Daerah Kajian


Gambar 8. Peta Ketersediaan Airtanah Daerah Kajian

10
11