Anda di halaman 1dari 25

RINGKASAN MATERI KULIAH

AKUNTANSI BIAYA
SAP 7

OLEH:
KELOMPOK 6
ANDREA DIVA ANANDA 1707531019
NI PUTU DIVA CAHYANI 1707531035
ARIEL SURYO 1707531045
IMAM FAHRUDIN 1707531117
NI KADEK DIAN KOTAMI 1707531120
I GST NGURAH AGUNG DANANJAYA 1707531150

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS UDAYANA
2018/2019
BAB II
PEMBAHASAN
1. Unsur Biaya yang Membentuk Harga Pokok Bahan Baku
Sistem Pembelian Lokal
(a) Prosedur Permintaan Pembelian Bahan Baku
Jika barang baku yang ada di gudang sudah mencapai jumlah tingkat minim, pemesanan
kembali (reorder point), Bagian Gudang kemudian membuat surat permintaan pembelian
(purchase requisition) untuk dikirimkan ke Bagian Pembelian.
(b) Prosedur Order Pembelian
Bagian Pembelian melaksankan pembelian atas dasar surat permintaan pembelian dari
Bagian Gudang. Untuk pemilihan pemasok, Bagian Pembelian mengirimkan surat
permintaan penawran harga (purchase price quotation) kepada para pemasok, yang berisi
permintaan informasi harga dan syarat-syarat pembelian dari masing-masing pemasok
tersebut. Setelah pemasok yang dianggap baik dipilih, Bagian Pembelian kemudian membuat
surat order pembelian untuk dikirmkan kepada pemasok yang dipilih.
(c) Prosedur Penerimaan Bahan Baku
Pemasok mengirimkan bahan baku kepada perusahaan sesuai dengan surat order
pembelian yang diteimanya. Bagian Penerimaan yang bertugas menerima barang,
mencocokkan kualitas, kuantitas, jenis serta spesifikasi bahan baku yang diterima dari
pemasok dengan tembusan surat order pembelian, Bagiam Penerimaan membuat laporan
penerimaan barang untuk dikirimkan kepada Bagian Akuntansi.
(d) Prosedur Pencatatan Penerimaan Bahan Baku di Bgaian Gudang
Bagian penerimaan menyerahkan bahan baku yang diterima dari pemasok kepada Bagian
Gudang. Bagian Gudang menyimpan bahan baku tersebut dan mencatat jumlah bahan baku
yang diterima dalam kartu gudang (stock card).
(e) Prosedur Pencatatan Utang yang Timbul dari Pembalian Bahan Baku
Pembelian menerima faktur pembelian dari pemasok. Bagian Pembelian memberikan
tanda tangan di atas faktur pembelian, sebagai tanda persetujuan bahwa faktur dapat dibayar
karena pemasok telah memenuhi syarat-syarat pembelian yang ditentukan oleh perusahaan.
Faktur pembelian yang telah ditandatangani oleh Bagian Pembelian tersebut diserahkan
kepada Bagian Akuntansi. Laporan penerimaan barang divcatat oleh Bagian Akuntansi dalam
jurnal pembelian dan dicatat dalam kartu persediaan.

Biaya yang Diperhitungkan dalam Harga Pokok Bahan Baku yang Dibeli
Menurut prinsip akuntansi yang lazim semua biaya yang terjadi untuk memperoleh
bahan baku dan untuk menempatkannya dalam keadaan siap untuk diolah, merupakan unsure
harga pokok bahan baku yang dibeli. Oleh karena itu, harga pokok bahan baku tidak hanya
berupa harga yang tercantum dalam faktur pembelian saja. Harga pokok bahan baku terdiri

2
dari harga beli ditambah dengan biaya-biaya pembelian dan biaya-biaya dikeluarkan untuk
menyiapkan bahan baku tersebut dalam keadaan siap untuk diolah.
Seringkali dalam pembelian bahan baku, perusahaan membayar biaya angkutan untuk
berbagai macam bahan baku yang dibeli. Hal ini menimbulkan masalah mengenai
pengalokasian biaya angkutan tersebut kepada masing-masing jenis bahan baku yang
diangkut. Perlakuan terhadap biaya angkutan ini dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli
2. Biaya angkutan tidak diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang
dibeli, namun diperlakukan sebagai unsure biaya overhead pabrik
Biaya Angkutan Diperlakukan sebagai Tambahan Harga Pokok Bahan Baku yang Dibeli.
Apabila baya angkutan diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli,
maka alokasi biaya angkutan kepada masing-masing jenis bahan baku yang dibeli dapat
didasrkan pada:
a. Perbandingan Kuantitas Tiap Jenis Bahan Baku yang Dibeli
Contoh 1

Perusahaan membeli 3 macam bahan baku dengan jumlah harga dalam faktur sebesar
RP500.000. Biaya angkutan yang dibayar untuk ketiga macam bahan baku terebut
adalah sebesar Rp300.000. Kuantitas masing-masing jenis bahan baku yang tercantum
dalam faktur adalah bahan baku A = 400 KG; Bahan baku b = 350 kg; bahan baku C
= 50 kg. Pembagian biaya angkutan kepada tiap-tiap jenis bahan baku disajikan
sebagai berikut:

Berat
% Alokasi Biaya Angkutan
Kg (a) : 800 (b) x Rp300.000
Jenis Bahan Baku (a) (b) (c)
A 400 50,00 Rp150.000
B 350 43.75 131.250
C 50 6,25 18.750
800 100,00 Rp300.000

3
b. Perbandingan Harga Faktur Tiap Jenis Bahan Baku yang Dibeli
Contoh 2

Perusahaan membeli 4 macam bahan baku dengan harga faktur tiap-tiap jenis bahan
baku sebagai berikut: bahan baku A Rp100.000, bahan baku B Rp 150.000, bahan
baku C Rp225.000, dan bahan baku D Rp125.000. Biaya angkutan yang dikeluarkan
untuk keempat jenis bahan baku tersebut adalah sebesar Rp48.000. Jika biaya
angkutan tersebut dibagikan atas dasar perbandingan harga faktur-faktur tiap-tiap
jenis bahan baku tersebut, harga pokok tiap jenis bahan baku akan dibebani dnegan
tambahan biaya angkutan sebesar Rp0,08. Pembagian biaya angkutan sebesar
Rp48.000 tersebut disajikan:

Pembagian Biaya
Angkutan
Harga Faktur (a) x Rp0,08 Harga Pokok Bahan Baku
Jenis Bahan Baku (a) (b) (a) +(b)
A Rp100.000 Rp8.000 Rp108.000
B 150.000 12.000 162.000
C 125.000 18.000 243.000
Rp600.000 10.000 135.000
Rp48.000 Rp648.000

c. Biaya Angkutan Diperhitungkan dalam Harga Pokok Bahan Baku yang Dibeli
Berdasarkan Tarif yangDitentukan Di Muka
Contoh 3
Untuk menyederhanakan perhitungan harga pokok bahan baku, biaya angkutan
dibebankan kepada bahan baku yang dibeli atas dasar tariff yang ditentukan di muka
(predetermined rate). Penghitungan tarif dilakukan dengan menaksir biaya angkutan
yang akan dikeluarkan dalam tahun anggaran tertentu. Taksiran biaya angkutan
kemudian dibagi dengan dasar yang akan digunakan untuk mengalokasikan biaya
angkutan tersebut. Pada saat terjadi biaya pembelian bahan baku, harga faktur baan
baku harus ditambahn dengan biaya angkutan sebesar tariff sesungguhnya
dikeluarkan dicatat dalam rekening Biaya Angkutan. Jurnal untuk mencatat
pembebanan biaya angkutan atas dasar tariff biaya angkutan yang sesungguhnya
adalah sebagai berikut:

(a) Pembebanan biaya angkutan kepada bahan baku yang dibeli atas dasar yang
ditentuksn di muka adalah sebagai berikut:

4
Persediaan Bahan Baku xx

(Tarif biaya angkutan x dasar pembebanan)

Biaya Angkutan xx

(b) Pencatatan biaya angkutan yang sesungguhnya dikeluarkan adalah:


Biaya angkutan xx

Kas xx

(c) Apabila pada akhir periode akuntnasi dalam rekening Biaya Angkutan terdapat
selisih biaya angkutan yang dibebankan atas dasar tariff dengan biaya angkutan
yang sesungguhnya terjadi, yang jumlahnya material, maka selisih tersebut
dibagikan ke rekening Persediaan Bahan Baku, Persediaan Barang Dalam Proses,
Persediaan Produk Jadi, dan Harga Pokok Penjualan dengan junal sebagai berikut:

Persediaan Bahan Baku xx

Persediaan Barang Dalam Proses xx

Persediaan Produk Jadi xx

Harga Pokok Penjualan xx

Biaya Angkutan xx

Biaya Unit Organisasi yang Terkait Dalam Perolehan Bahan Baku


Jika biaya pembelian dibebakan kepada bahan baku yang dibeli atas dasar tariff, maka
perhitungan tariff biaya pembelian dilakukan sebagai berikut:
1. Jumlah biaya tiap bagian yang terkait dalam transaksi pembelian bahan baku tersebut
diperkirakan selama satu tahun anggaran.
2. Ditentukan dasar pembebanan biaya tiap-tipa bagian tersebut dan ditaksir berapa
jumlahnya dalam tahun anggaran
3. Ditentukan tariff biaya pembelian untuk tiap bagian tersebut dengan cara memabi
biaya tiap bagian dengan dasar pembebanan.

5
Jurnal pembebanan baya pembelian kepada harga pokok bahan baku atas dasar tariff
adalah sebagai berikut:
Persediaan xx
Biaya Bagian Pembelian yang Dibebankan xx
Biaya Bagian Penerimaan yang Dibebankan xx
Biaya Bagian Gudang yang Dibebankan xx
Biaya Bagian Akuntansi Persediaan yang Dibebankan xx
Bagian Dasar Pembebanan Tarif Pembebanan
Pembelian
Pembelian Jumlah Frekuensi Tarif per transaksi
pembelian atau volume pembelian atau tarif
pembelian setiap jumlah harga
faktur pembelian
Penerimaan Jumlah macam bahan Tarif per macam bahan
yang diterima yang diterima
Gudang Jumlan macam bahan, Tarif per macam bahan;
kuantitas, atau nilai per meter kubik atau per
rupiah nilai ruiah bahan baku
yang disimpan di gudang
Akuntansi Persediaan Jumlah frekuensi Tarif per transaksi
pembelian pembelian

Unsur Biaya yang Diperhitungkan dalam Harga Pokok Bahan Baku yang Diimpor
Harga Pokok Bahan Baku yang diimpor terdiri dari:
Harga FOB xx
Angkutan laut (ocean freight) xx +
Harga C & F xx
Biaya asuransi (marine insurance) xx +
Harga C. I & F xx
Biaya-biaya Bank xx
Bea masuk & biaya pabean lainnya xx
Pajak penjualan impor xx
Biaya Gudang xx
Biaya ekspedisi muatan kapal laut xx

6
Biaya transport lokal xx +
Harga pokok bahan baku xx

2. Penentuan Harga Pokok Bahan Baku yang Dipakai Dalam Produksi


A. Metode Pencatatan Biaya Bahan Baku
Ada dua macam metode pencatatan biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi, yaitu:
metode mutasi persediaan (perpetual inventory method) dan metode persediaan fisik
(physical inventory method). Dalam metode mutasi persediaan, setiap mutasi bahan baku
dicatat dalam kartu persediaan. Dalam metode persediaan fisik, hanya tambahan persediaan
bahan baku dari pembelian saja yang dicatat, sedangkan mutasi berkurangnya bahan baku
karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan. Untuk mengetahui berapa biaya
bahan baku yang dipakai dalam produksi, dilakukan dengan menghitung sisa persediaan
bahan baku yang masih ada di gudang pada akhir periode. Harga pokok persediaan awal
bahan baku ditambah dengan harga pokok bahan baku yang dibeli selama periode dikurangi
dengan harga pokok persediaan bahan baku yang masih ada pada akhir periode merupakan
biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi selama periode yang bersangkutan.

B. Metode Penentuan Harga Pokok Bahan Baku yang Dipakai dalam produksi
Dalam satu periode akuntansi seringkali terjadi fluktuasi harga, sehingga harga beli
bahan baku berbeda dari pembelian yang satu dengan pembelian yang lain. Oleh karena itu
persediaan bahan baku yang ada di gudang mempunyai harga pokok satuan yang berbeda-
beda, meskipun jenisnya sama. Terdapat berbagai macam metode penentuan harga pokok
bahan baku yang dipakai dalam produksi, antara lain:
1. Metode Identifikasi Khusus
Dalam metode ini, setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus diberi tanda pada harga
pokok per satuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Setiap pembelian bahan baku yang harga
per satuannya berbeda dengan harga per satuan bahan baku yang ada di gudang harus
dipisahkan penyimpannya dan diberi tanda pada harga berapa bahan tersebut dibeli. Tiap-tiap
jenis bahan baku yang ada di gudang jelas identitas harga pokoknya, sehingga setiap
pe,makain bahan baku dapat diketahui harag pokok per satuannya secara pasti.
2. Metode Masuk Pertama, Keluar Pertama
Metode ini menentukan bahan baku dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan bahan
baku yang pertama masuk ke dalam gudang, digunakan untuk menentukan harga bahan baku
yang pertama kali dipakai.
Contoh soal:
Persediaan bahan baku A pada tanggal 1 Januari 2013 terdiri dari:
600 kg@ Rp2.400 = Rp1.440.000
400 kg@ Rp2.500 = Rp1.000.000

7
Transaksi pembelian dan pemakain bahan baku selama bulan Januari 2013:
Tanggal Kuantitas Harga Beli Per Kg Jumlah
Transaksi Kg
6/1 Pemakaian 700
15/1 Pembelian 1.200 Rp2.750 Rp3.300.000
17/1 Pembelian 500 Rp3.000 Rp1.500.000
21/1 Pemakaian 1.100
Jumlah Rp4.800.000
pembelian

Jika dicatat dalam kartu persediaan dengan metode MPKP dengan Metode persediaan fisik:
Persediaan awal 1.000 kg Rp2.440.000
Pembelian 1.700 kg Rp4.800.000
Jumlah bahan baku yang tersedia untuk diolah Rp7.240.000
Persediaan akhir (dengan MPKP):
400@ Rp2.750 Rp1.100.000
500@ Rp3.000 Rp1.500.000
Rp2.600.000
Biaya bahan baku bulan Januari Rp4.6400.000

3. Metode Masuk Terakhir, Keluar Pertama


Menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi dengan anggapan bahawa
harga pokok per satuan bahan baku yang terakhir masuk dalam persediaan gudang, dipakai
untuk menentukan harga pokok bahan baku yang pertama kali dipakai dalam produksi.
Contoh soal:
Persediaan bahan baku A pada tanggal 1 Januari 2013 terdiri dari:
600 kg@ Rp2.400 = Rp1.440.000
400 kg@ Rp2.500 = Rp1.000.000
Tanggal Kuantitas Harga Beli Per Kg Jumlah
Transaksi Kg
6/1 Pemakaian 700
15/1 Pembelian 1.200 Rp2.750 Rp3.300.000
17/1 Pembelian 500 Rp3.000 Rp1.500.000
21/1 Pemakaian 1.100
Jumlah Rp4.800.000
pembelian

8
Setelah pembelian tanggal 15 januari, persediaan bahan baku yang ada di gudang terdiri dari
dua macan:
a. Sisa bahan baku sebanyak 300 kg, dari 600 kg persediaan awal yang telah dipakai pada
tanggal 6 Januari sebanyak 300 kg
b. Bahan baku dari pembelian tanggal 15 Januari sebanyak 1.200 kg yang harga pokoknya
Rp2.750 per kg.

Jika perusahaan menggunakan metode persediaan fisik dalam pencatatan bahan baku, maka
perhitungan menggunakan MTKP:
Persediaan awal 1.000 kg Rp2.440.000
Pembelian 1.700 kg Rp4.800.000
Jumlah bahan baku yang tersedia diolah Rp7.240.000
Persediaan Akhir (dengan MTKP):
300@ Rp2.400 Rp720.000
600@ Rp2.750 Rp1.650.000 Rp2.370.000
Biaya bahan baku bulan Januari Rp4.870.000
4. Metode Rata-Rata Bergerak
Pada metode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang dihitung harga pokok rata-
ratanya, dengan cara membagi total harga pokok dengan jumlah satuannya. Setiap kali terjadi
pembelian yang harga pokok per satuannya berbeda dengan harga pokok persediaan yang ada
di gudang, harus dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata per satuannya yang baru.
Bahan baku yang dipakai dalam proses produksi dihitung harga pokoknya dengan:
Jumlah satuan bahan baku yang dipakai X Harga pokok rata-rata per satuan bahan baku yang
ada
4. Metode Biaya Standar

5. Bahan baku yang dibeli dicatat dalam kartu persediaan sebesar harga standar yaitu
harga taksiran yang mencerminkan harga yang diharapkan akan terjadi di masa yang
akan datang. Harga standar merupakan harga yang diperkirakan untuk tahun anggaran
tertentu.

6. Metode Rata-Rata Harga Pokok Bahan Baku Pada Akhir Bulan


Dalam metode ini, pada tiap akhir bulan dilakukan penghitungan harga pokok rata-rata per
satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di gudang. Harga pokok rata-rata per satuan
ini kemudian digunakan untuk menghitung harga pokok bahan baku yang dipakai dalam
produksi dalam bulan berikutnya.

9
3. Masalah-Masalah Khusus yang Berhubungan dengan Bahan Baku
1) Sisa Bahan (Scrap Materials)
Sisa bahan adalah bahan baku yang tersisa dari proses produksi yang tidak dapat
diikutsertakan kembali dalam proses produksi dengan tujuan semula, tetapi ada
kemungkinan untuk digunakan pada proses produksi dengan tujuan yang lain atau
dijual. Contoh sisa bahan adalah perca yang dihasilkan dari proses produksi kaos.
Jika di dalam proses produksi terdapat sisa bahan, masalah yang timbul adalah
bagaimana memperlakukan hasil penjualan sisa bahan tersebut. Berikut adalah empat
alternatif perlakuan akuntansi yang dapat dipilih dan diterapkan secara konsisten:
1. Pengurang biaya bahan baku yang dipakai dalam pesanan yang menghasilkan
sisa bahan
Kas/Piutang Dagang xxx

BDP-Biaya Bahan Baku xxx

2. Penghasilan di luar usaha


Kas/Piutang Dagang xxx

Penjualan Sisa Bahan/Pendapatan Lain-lain xxx

3. Pengurang terhadap biaya overhead pabrik sesungguhnya


Kas/Piutang Dagang xxx

BOP Sesungguhnya xxx

4. Dikreditkan pada harga pokok penjualan


Kas/Piutang Dagang xxx

Harga Pokok Penjualan xxx

Contoh:

Bagian produksi menyerahkan 2.000 kg sisa bahan ke bagian gudang. Sisa bahan
tersebut diperkirakan dapat laku dijual Rp 5.000 per kg. Sampa dengan akhir periode
akuntansi, sisa bahan tersebut telah laku dijual sebanyak 1.250 kg dengan harga jual
Rp 6.000 per kg.

Jurnal penyerahan sisa bahan dari bagian produksi ke bagian gudang jika hasil
penjualan diperlakukan sebagai penghasilan di luar usaha:
Persediaan Sisa Bahan *Rp 10.000.000
Penjualan Sisa Bahan Rp 10.000.000
*2.000 kg x Rp 5.000

Jurnal pada saat realisasi penjualan sisa bahan:


Kas/Piutang Dagang *Rp 7.500.000

10
Persediaan Sisa Bahan Rp 7.500.000
*1.250 kg x Rp 6.000

Pada akhir periode akuntansi perlu dibuat jurnal penyesuaian karena adanya
persediaan sisa bahan yang belum laku dijual sebanyak 750 kg. Jurnal pertama mencatat hasil
penjualan sebanyak 2.000 kg, tetapi realisasinya hanya 1.250 kg. Oleh karena itu, akun
Penjualan Sisa Bahan harus dikurangi sebesar Rp 3.750.000 (750 kg x Rp 5.000), yaitu
jumlah hasil penjualan yang belum terealisasi. Jurnal penyesuainnya adalah:
Penjualan Sisa Bahan Rp 3.750.000
Pendapatan yang Belum Terealisasi Rp 3.750.000
Jurnal penyesuaian pada akhir periode akuntansi juga perlu dibuat jika terdapat selisih
harga jual taksiran sisa bahan dengan harga jual sesungguhnya. Dalam contoh, terdapat
selisih sebesar Rp 1.000 per kg (Rp 6.000 – Rp 5.000) dimana sisa bahan yang terjual
sebanyak 1.250 kg. Oleh karena itu, selisih harga jual sebesar Rp 1.250.000 harus disesuaikan
ke akun Penjualan Sisa Bahan untuk menyesuaikan penjualan yang dicatat terlalu kecil.
Jurnalnya:
Persediaan Sisa Bahan Rp 1.250.000
Penjualan Sisa Bahan Rp 1.250.000

Jurnal-jurnal di atas digambarkan oleh buku besar T berikut.

Persediaan Sisa Bahan


Penjualan Sisa Bahan
Rp 10.000.000 Rp 7.500.000
Rp 3.750.000 Rp 10.000.000
Rp 2.500.000
Rp 6.750.000
Rp 1.250.000
Rp 1.250.000
Rp 3.750.000
Rp 7.500.000

Pendapatan yang Belum Terealisasi Kas


Rp 3.750.000 Rp 7.500.000

11
2. Produk Rusak (Spoiled Goods)
Produk rusak adalah unit produk yang tidak memenuhi standar produksi dan
tidak dapat diperbaiki karena secara teknis tidak memungkinkan atau tidak ekonomis.
Contoh produk rusak adalah roti yang dipanggang terlalu lama di dalam oven
sehingga terlalu matang dan berwarna kehitaman.

Perlakuan terhadap produk rusak tergantung dari sifat dan penyebab terjadinya:

1. Produk rusak yang terjadi karena sulitnya pengerjaan pesanan tertentu atau
faktor luar biasa yang lain, maka harga pokok produk rusak dibebankan
sebagai tambahan harga pokok produk yang baik dalam pesanan yang
bersangkutan. Jika produk rusak tersebut masih laku dijual, maka hasil
penjualannya diperlakukan sebagai pengurang biaya produksi pesanan yang
menghasilkan produk rusak tersebut.
2. Jika produk rusak merupakan hal yang normal terjadi dalam proses produksi,
maka kerugian yang timbul sebagai akibat terjadinya produk rusak dibebankan
kepada produksi secara keseluruhan dengan cara memperhitungkan kerugian
tersebut di dalam tarif biaya overhead pabrik. Kerugian yang sesungguhnya
terjadi didebet ke akun BOP Sesungguhnya.
3.

Contoh:

 Produk rusak dibebankan kepada pesanan tertentu


PT ABC berproduksi atas dasar pesanan. Dalam bulan Januari 2007
perusahaan menerima pesanan 1.000 unit produk X. Karena pesanan ini merupakan
pesanan yang membutuhkan ketepatan spesifikasi yang ditentukan pemesan, maka
produk rusak yang terjadi dibebankan kepada pesanan ini.

Untuk memenuhi pesanan tersebut perusahaan memproduksi 1.100 satuan


produk X dengan biaya produksi sebagai berikut: biaya bahan baku Rp 75.000, biaya
tenaga kerja langsung Rp 175.000 dan BOP dibebankan atas dasar tarif 150% dari
biaya tenaga kerja langsung. Saat pesanan selesai dikerjakan, terdapat 100 unit produk
yang rusak. Produk rusak tersebut diperkirakan laku dijual Rp 350 per unit.

Jurnal mencatat biaya produksi 1.100 unit produk X:


BDP-Biaya Bahan Baku Rp 75.000
BDP-BTKL Rp 175.000
BDP-BOP Rp 262.500
Persediaan Bahan Baku Rp 75.000
Gaji dan Upah Rp 175.000
BOP Dibebankan Rp 262.500

12
Jika 100 unit produk tida rusak, maka harga pokok produk X adalah Rp 466 per unit
(Rp 512.500 : 1.100 unit). Harga pokok produk rusak dibebankan kepada produk yang
baik, sehingga harga pokok produk X yang baik menjadi Rp 513 (Rp 512.500 : 1.000
unit).

Jika produk rusak masih dapat dijual, maka hasil penjualan produk rusak dikurangkan
dari biaya produksi yang seluruhnya telah dibebankan kepada produk baik.

Jurnal mencatat penjualan produk rusak:


Persediaan Produk Rusak *Rp 35.000
BDP-Biaya Bahan Baku Rp 5.100
BDP-BTKL Rp 11.925
BDP-BOP Rp 17.925
*100 unit x Rp 350

Jenis Biaya Biaya Produksi Biaya per Harga Pokok


Unit (: 1.100) Produk Rusak

Bahan baku Rp 75.000 Rp 68 Rp 6.800

TKL Rp 175.000 Rp 159 Rp 15.900

BOP Rp 262.500 Rp 239 Rp 23.900

Total Rp 512.500 Rp 466 Rp 46.600

Pembagian nilai jual produk rusak :


𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑗𝑢𝑎𝑙 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘 𝑟𝑢𝑠𝑎𝑘 𝑅𝑝 35.000
= 𝑅𝑝 46.600 = 75%
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑜𝑘𝑜𝑘 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘 𝑟𝑢𝑠𝑎𝑘

BDP-Biaya Bahan Baku 75% x Rp 6.800 Rp 5.100

BDP-BTKL 75% x Rp 15.900 Rp 11.925

BDP-BOP 75% x Rp 23.900 Rp 17.925

Jumlah *Rp 34.950

*Jumlah seharusnya Rp 35.000. Selisih Rp 50 karena pembulatan.

13
Karena produk rusak diperkirakan masih laku dijual sebesar Rp 35.000 maka biaya
produksi berkurang menjadi Rp 477.500 (Rp 512.500 – Rp 35.000) sehingga harga
pokok produk X yang baik per unit sebesar Rp 478 (Rp 477.500 : 1.000 unit).

Jurnal mencatat produk jadi:


Persediaan Produk Jadi Rp 477.500
BDP-Biaya Bahan Baku Rp 69.900
BDP-BTKL Rp 163.075
BDP-BOP Rp 244.575

 Produk rusak dibebankan kepada seluruh produk


Dengan kasus yang sama pada PT ABC di atas, jurnal untuk mencatat penjualan
produk rusak dengan membebankan kerugian produk rusak ke seluruh produk
adalah:

Persediaan Produk Rusak Rp 35.000


BOP Sesungguhnya Rp 11.600
BDP-Biaya Bahan Baku Rp 6.800
BDP-BTKL Rp 15.900
BDP-BOP Rp 23.900

Nilai jual produk rusak 100 unit x Rp 350 = Rp 35.000

Harga pokok produk rusak 100 unit x Rp 466 = Rp 46.600

Kerugian produk rusak = (Rp 11.600)

Jurnal untuk mencatat produk jadi A yang baik :

Persediaan Produk Jadi Rp 466.000


BDP-Biaya Bahan Baku Rp 68.000
BDP-BTKL Rp 159.000

BDP-BOP Rp 239.000

4. Produk Cacat (Defective Goods)


Produk cacat adalah unit produk yang tidak memenuhi standar produksi dan
dapat diperbaiki secara teknis dan ekonomis untuk dapat dijual sebagai produk baik

14
atau tetap sebagai produk cacat. Contoh produk cacat adalah radio yang tida dapat
mengeluarkan suara. Setelah diperbaiki maka radio tersebut dapat dijual sebagai
produk baik.

Masalah dalam produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya


tambahan untuk pengerjaan kembali produk cacat tersebut. Perlakuan terhadap biaya
pengerjaan kembali produk cacat mirip dengan perlakuan pada produk rusak, yakni :

1. Jika produk cacat bukan hal yang biasa terjadi dalam proses produksi, maka
biaya pengerjaan kembali dapat dibebankan sebagai tambahan biaya produksi
pesanan yang bersangkutan.
2. Jika produk cacat adalah hal yang biasa terjadi dalam proses produksi, maka
biaya pengerjaan kembali dapat dibebankan kepada seluruh produksi dengan
cara memperhitungkan biaya overhead pabrik. Biaya pengerjaan kembali
produk cacat akan didebet ke akun BOP Sesungguhnya.

Contoh:

 Biaya pengerjaan kembali dibebankan kepada pesanan tertentu


PT ABC menerima pesanan 100 unit produk X. Biaya produksi yang
dikeluarkan adalah: biaya bahan baku Rp 40.000, biaya tenaga kerja langsung Rp
25.000, dan BOP dibebankan atas dasar tarif sebesar 200% dari biaya tenaga kerja
langsung. Setelah 100 unit produk X selesai, ditemuka 10 unit produk cacat. Biaya-
biaya pengerjaan kembali produk cacat tersebut terdiri dari biaya tenaga kerja
langsung Rp 5.000 dan BOP sesuai dengan tarif yang digunakan.

Jurnal pencatatan biaya produksi 100 unit produk X :

BDP-Biaya Bahan Baku Rp 40.000


BDP-BTKL Rp 25.000
BDP-BOP Rp 50.000
Persediaan Bahan Baku Rp 40.000
Gaji dan Upah Rp 25.000
BOP Dibebankan Rp 50.000

Jurnal pencatatan biaya pengerjaan kembali :

BDP-BTKL Rp 5.000
BDP-BOP Rp 10.000
Gaji dan Upah Rp 5.000
BOP Dibebankan Rp 10.000

15
Jurnal pencatatan harga pokok produk selesai :
Persediaan Produk Jadi Rp 130.000

BDP-Biaya Bahan Baku Rp 40.000

BDP-BTKL Rp 30.000

BDP-BOP Rp 60.000

 Biaya pengerjaan kembali dibebankan kepada produksi secara keseluruhan


Dengan kasus yang sama pada PT ABC di atas, jurnal pencatatan biaya pengerjaan
kembali adalah:

BOP Sesungguhnya Rp 15.000

Gaji dan Upah Rp 5.000

BOP Dibebankan Rp 10.000

Sementara itu, pencatatan untuk biaya produksi dan harga pokok produk jadi sama
seperti pembebanan biaya pengerjaan kembali kepada pesanan tertentu.

4. Biaya Tenaga Kerja


A. Pengertian Biaya Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan
untuk mengolah produk. Biaya tenaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk
penggunaan tenaga kerja manusia tersebut.

B. Penggolongan Kegiatan dan Biaya Tenaga Kerja


Dalam perusahaan manufaktur penggolongan kegiatan tenaga kerja dapat dilakukan
sebagai berikut:
1. Penggolongan menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan.
Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi dalam tiga fungsi pokok :
produksi, pemasaran, dan administrasi. Oleh karena itu perlu ada penggolongan dan
pembedaan antara tenaga kerja pabrik dan tenaga kerja nonpabrik. Pembagian ini
bertujuan untuk membedakan biaya tenaga kerja yang merupakan unsur harga pokok
produk dari biaya tenaga kerja nonpabrik, yang bukan merupakan unsur harga pokok
produksi, melainkan merupakan unsur biaya usaha. Dengan demikian biaya tenaga

16
kerja perusahaan manufaktur digolongkan menjadi : biaya tenaga kerja produksi,
biaya tenaga kerja pemasaran, dan biaya tenaga kerja administrasi & umum. Berikut
ini diberikan beberapa contoh biaya tenaga kerja yang termasuk dalam tiap golongan
tersebut:
a. Biaya tenaga kerja produksi:
Gaji karyawan pabrik
Biaya kesejahteraan karyawan pabrik
Upah lembur karyawan pabrik
Upah mandor pabrik
Gaji manajer pabrik

b. Biaya tenaga kerja pemasaran


Upah karyawan pemasaran
Biaya kesejahteraan karyawan pemasaran
Biaya komisi pramuniaga
Gaji manajer pemasaran

a. Biaya tenaga kerja administrasi dan umum


Gaji karyawan bagian akuntansi
Gaji karyawan bagian personalia
Gaji karyawan bagian sekretariat
Biaya kesejahteraan karyawan bagian akuntansi
Biaya kesejahteraan karyawan bagian personalia
Biaya kesejahteraan karyawan bagian secretariat

2. Penggolongan menurut kegiatan departemen – departemen dalam perusahaan.


Misalnya departemen produksi suatu perusahaan kertas terdiri dari tiga
departemen. Bagian pulp, bagian kertas, dan bagian penyempurnaan. Biaya tenaga
kerja dalam departemen produksi tersebut digolongkan sesuai dengan bagian –
bagian yang dibentuk dalam perusahaan tersebut. Tenaga kerja yang bekerja di
departemen – departemen nonproduksi digolongkan pula menurut departemen yang
menjadi tempat kerja mereka. Dengan demikian biaya tenaga kerja di departemen –
departemen nonproduksi dapat digolongkan menjadi biaya tenaga kerja bagian
akuntansi, biaya tenaga kerja bagian personalia, dan lain sebagainya. Penggolongan

17
semacam ini dilakukan untuk lebih memudahkan pengendalian terhadap biaya
tenaga kerja yang terjadi dalam tiap departemen yang dibentuk dalam perusahaan.
Kepala departemen yang bersangkutan bertanggung jawab atas pelaksanaan kerja
karyawan dan biaya tenaga kerja yang terjadi dalam departemennya.

3. Penggolongan menurut jenis pekerjaannya.


Dalam suatu departemen, tenaga kerja digolongkan menurut sifat pekerjaannya.
Misalnya dalam suatu departemen produksi, tenaga kerja digolongkan sebagai
berikut: operator, mandor, dan penyelia (superintendant). Dengan demikian biaya
tenaga kerja juga digolongkan menjadi: upah operator, upah mandor, dan upah
penyelia. Penggolongan biaya tenaga kerja semacam ini digunakan sebagai dasar
penetapan deferensiasi upah standar kerja.

4. Penggolongan menurut hubungannya dengan produk.


Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi : tenaga kerja
langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja langsung adalah semua
karyawan yang secara langsung ikut serta memproduksi produk jadi, yang jasanya
dapat diusut secara langsung pada produk, dan yang upahnya merupakan bagian
yang besar dalam memproduksi produk. Upah tenaga kerja langsung diperlakukan
sebagai biaya tenaga kerja langsung dan diperhitungkan langsung sebagai unsur
biaya produksi. Tenaga kerja yang jasanya tidak secara langsung dapat diusut pada
produk disebut tenaga kerja tak langsung. Upah tenaga kerja tak langsung ini disebut
biaya tenaga kerja tak langsung dan merupakan unsur biaya overhead pabrik. Upah
tenaga kerja tak langsung dibebankan pada produk tidak secara langsung, tetapi
melalui tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka.

B. Akuntansi Biaya Tenaga Kerja


Biaya tenaga kerja dapat dibagi ke dalam tiga golongan besar berikut ini : (1) gaji
dan upah reguler yaitu jumlah gaji dan upah bruto dikurangi dengan potongan –
potongan seperti pajak penghasilan karyawan dan biaya asuransi hari tua ; (2) premi
lembur ; (3) biaya – biaya yang berhubungan engan tenaga kerja (labor related costs).
1) Gaji dan Upah
Ada berbagai macam cara perhitungan upah karyawan dalam perusahaan. Salah
satu cara adalah dengan mengalihkan tarif upah dengan jam kerja karyawan. Dengan

18
demikian untuk menentukan upah seorang karyawan perlu dikumpulkan data jumlah
jam kerjanya selama periode waktu tertentu.
Dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan, dokumen
pokok untuk mengumpulkan waktu kerja karyawan adalah kartu hadir (clock card)
dan kartu kerja jam (job time ticket). Kartu hadir adalah suatu catatan yang digunakan
untuk mencatat jam kehadiran karyawan, yaitu jangka waktu antara jam hadir dan jam
14.00, maka kartu hadir karyawan akan berisi jam kedatangan di perusahaan dan jam
pergi dari perusahaan setiap hari kerja. Jika seorang karyawan hadir di perusahaan
dari jam 07.00 sampai dengan jam 14.00, maka ia hadir di perusahaan selama 7 jam,
yang merupakan jam kerja reguler perusahaan. Jika karyawan tersebut bekerja lebih
dari 7 jam sehari, kelebihan jam kerja di atas jam kerja reguler tersebut dinamakan
jam kerja lembur. Pada setiap akhir minggu, kartu hadir tiap karyawan dikirim ke
bagian pembuat daftar gaji dan upah untuk dipakai sebagai dasar perhitungan gaji dan
upah karyawan per minggu.

Disamping kartu hadir, perusahaan menggunakan kartu jam kerja untuk mencatat
pemakaian waktu hadir karyawan pabrik, dalam mengerjakan berbagai pekerjaan atau
produk. Kartu jam kerja ini biasanya digunakan untuk mencatat pemakaian waktu
hadir tenaga kerja langsung di pabrik. Kartu jam kerja untuk setiap karyawan
kemudian disesuaikan dengan waktu yang tercantum dalam kartu jam hadir dan
dikirim ke bagian akuntansi biaya untuk keperluan distribusi gaji dan upah (labor cost
distribution) tenaga kerja langsung. Kartu jam kerja sangat penting dalam perusahaan
yang menggunakan metode harga pokok pesanan dalam perhitungan harga pokok
produknya. Dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok proses, kartu
jam kerja tersebut tidak diperlukan, karena karyawan melakukan pekerjaan atau
membuat produk yang sama dalam departemen tertentu dari hari ke hari, sehingga
distribusi biaya tenaga kerja tidak diperlukan.
Akuntansi biaya gaji dan upah dilakukan dalam empat tahap pencatatan berikut
ini:
Tahap 1
Berdasarkan kartu hadir karyawan (baik karyawan produksi, pemasaran maupun
administrasi dan umum), bagian pembuatan daftar gaji dan upah kemudian membuat
daftar gaji dan upah karyawan. Dari daftar gaji dan upah tersebut kemudian dibuat
rekapitulasi gaji dan upah untuk mengelompokkan gaji dan upah tersebut menjadi gaji

19
dan upah karyawan pabrik, gaji dan upah administrasi dan umum, serta gaji dan upah
karyawan pemasaran. Gaji dan upah karyawan pabrik dirinci lagi ke dalam upah
karyawan langsung dan karyawan tak langsung dalam hubungannya dengan produk.
Atas dasar rekapitulasi gaji dan upah tersebut, bagian akuntansi kemudian membuat
jurnal sebagai berikut:
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja xx
Biaya Overhead Pabrik xx
Biaya Administrasi dan Umum xx
Biaya Pemasaran xx
Gaji dan Upah xx
Tahap 2
Atas dasar daftar gaji dan upah tersebut bagian keuangan membuat bukti kas keluar
dan cek untuk pengembalian uang dari bank. Atas dasar bukti kas keluar tersebut,
bagian akuntansi membuat jurnal sebagai berikut:
Gaji dan Upah xx
Utang PPh Karyawan xx
Utang Gaji dan Upah xx
Tahap 3
Setelah cek diuangkan di bank, uang gaji dan upah kemudian dimasukkan ke dalam
amplop gaji dan upah tiap karyawan. Uang gaji dan upah karyawan kemudian
dibayarkan oleh juru bayar kepada tiap karyawna yang berhak. Tiap karyawan
menandatangani daftar gaji dan upah sebagai bukti telah diterimanya gaji dan upah
mereka. Setelah tiap karyawan mengambil gaji dan upahnya, atas dasar daftar gaji dan
upah yang telah ditandatangani karyawan, bagian akuntansi membuat jurnal sebagai
berikut:
Utang Gaji dan Upah xx
Kas xx

Tahap 4
Penyetoran pajak penghasilan (PPh) karyawan ke Kas Negara dijurnal oleh bagian
akuntansi sebagai berikut:
Utang PPh Karyawan xx
Kas xx

20
Contoh 1
Misalkan perusahaan X hanya mempekerjakan 2 orang karyawan: Risa Remedi dan
Eliona Sari. Berdasarkan kartu hadir minggu pertama bulan April 20X1, bagian
pembuat daftar gaji dan upah membuat daftar gaji dan upah untuk periode yang
bersangkutan. Menurut kartu hadir, karyawan Risa Rimendi bekerja selama seminggu
sebanyak 40 jam, dengan upah per jam Rp 1.000, sedangkan karyawan Eliona Sari
selama periode yang sama bekerja 40 jam dengan tarif upah Rp 750 per jam. Menurut
kartu kerja, penggunaan jam hadir masing – masing karyawan tersebut sebagai
berikut:

Dengan demikian upah karyawan tersebut dihitung sebesar Rp 70.000 (40 jam x Rp
1.000 ditambah 40 jam x Rp 750) dan distribusikan sebagai berikut:

Akuntansi biaya gaji dan upah atas dasar data tersebut adalah sebagai berikut:
Tahap 1
Berdasarkan atas rekapitulasi gaji dan upah, bagian akuntansi kemudian membuat
jurnal distribusi gaji dan upah sebagai berikut:
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Rp 57.500
Biaya Overhead Pabrik Rp 12.500
Gaji dan Upah Rp 70.000
Tahap 2
Atas dasar bukti kas keluar, bagian akuntansi membuat jurnal sebagai berikut:
Gaji dan Upah Rp 70.000
Utang PPh Karyawan Rp 10.500

21
Utang Gaji dan Upah Rp 59.500
Tahap 3
Atas dasar daftar gaji dan upah yang telah ditandatangani karyawan (sebagai bukti
telah dibayarkannya upah karyawan), bagian akuntansi membuat jurnal sebagai
berikut:
Utang Gaji dan Upah Rp 59.500
Kas Rp 59.500
Tahap 4
Penyetoran PPh karyawan ke Kas Negara dijurnal oleh bagian akuntansi sebagai
berikut:
Utang PPh Karyawan Rp 10.500
Kas Rp 10.500

2) Insentif
Dalam hubungannya dengan gaji dan upah, perusahaan memberikan insentif
kepada karyawan agar dapat bekerja lebih baik. Insentif dapat didasarkan atas waktu
kerja, hasil yang diproduksi atau kombinasi di antara keduanya.
Ada beberapa cara pemberian insentif:
a. Insentif Satuan dengan Jam Minimum (Straight Piecework with a Guaranted
Hourly Minimum Plan)
Karyawan dibayar atas dasar tarif per-jam untuk menghasilkan jumlah satuan
keluaran (output) standar. Untuk hasil produksi yang melebihi jumlah standar
tersebut, karyawan menerima jumlah upah tambahan sebesar jumlah kelebihan
satuan keluaran di atas standar kali tarif upah per satuan. Tarif upah per satuan
dihitung dengan cara membagi upah standar per jam dengan satuan keluaran
standar per jam.
Contoh:
Jika menurut penyelidikan waktu (time study), dibutuhkan waktu 5 menit untuk
menghasilkan 1 satuan produk, maka jumlah keluaran standar per-jam adalah 12
satuan. Jika upah pokok sebesar Rp 600 per jam, maka tarif upah per satuan
adalah Rp 50 (Rp 600:12). Karyawan yang tidak dapat menghasilkan jumlah
standar per jam, tetap dijamin mendapatkan upah Rp 600 per jam. Tetapi bila ia
dapat menghasilkan 14 satuan per jam (ada kelebihan 2 satuan dari jumlah satuan
standar per jam) maka upahnya dihitunng sebagai berikut:

22
Upah dasar per jam Rp 600
Insentif: 2 x Rp 50 (Rp 600 : 12) Rp 100
Upah yang diterima pekerja per jam Rp 700

b. Taylor differential piece rate plan


Cara pemberian insentif ini adalah semacam straight piece rate plan yang
menggunakan tarif tiap potong untuk jumlah keluaran rendah per jam dan tarif tiap
potong yang lain untuk jumlah keluaran tinggi per jam.
Contoh:
Karyawan dapat menerima upah Rp 4.200 per hari (untuk 7 jam kerja). Misalkan
rata – rata seorang karyawan dapat menghasilkan 12 satuan per jam, sehingga
upahnya per satuan Rp 50 (upah per hari dibagi dengan jumlah yang dihasilkan
per hari Rp 4.200/(12 x 8)). Dalam Taylor plan ini, misalnya ditetapkan tarif upah
Rp 45 per satuan untuk karyawan yang menghasilkan 14 satuan atau kurang per
jam dan Rp 65 per satuan untuk karyawan yang menghasilkan 16 satuan per jam,
maka upah per jam karyawan dihitung sebagai berikut : Rp 65 x 16 = Rp 1.040 per
jam. Sedang bila karyawan hanya menghasilkan 12 satuan per jam, maka upah per
jam dihitung sebagai berikut : Rp 45 x 12 = Rp 540

3) Premi Lembur
Dalam perusahaan, jika karyawan bekerja lebih dari 40 jam satu minggu, maka
mereka berhak menerima uang lembur dan premi lembur. Misalnya dalam satu
minggu seorang karyawan bekerja selamaa 44 jam dengan tarif upah (dalam jam kerja
biasa maupun lembur) Rp 50 per jam. Premi lembur dihitung sebesar Rp 50% dari
tarif upah. Upah karyawan tersebut dihitung sebagai berikut:
Jam biasa 40 x Rp 600 = Rp 24.000
Lembur 4 x Rp 600 = Rp 2.400
Premi Lembur 4 x Rp 300 = Rp 1.200
Jumlah upah karyawan tersebut satu minggu = Rp 27.600
Perlakuan terhadap premi lembur tergantung atas alasan – alasan terjadinya
lembur tersbeut. Premi lembur dapat ditambahkan pada upah tenaga kerja langsung
dan dibebankan pada pekerjaan atau departemen tempat terjadinya lembur tersebut.
Perlakuan ini dapat dibenarkan bila pabrik telah bekerja pada kapasitas penuh dan
pelangganan/pemesan mau menerima beban dan tambahan karena lembur tersebut.

23
Premi lembur dapat diperlakukan sebagai unsur biaya overhead pabrik atau
dikeluarkan sama sekali dari harga pokok produk dan dianggap sebagai biaya periode
(period expenses). Perlakuan yang terakhir ini hanya dapat dibenarkan jika lembur
tersebut terjadi karena ketidakefisienan atau pemborosan waktu kerja.

5. BIAYA-BIAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN TENAGA KERJA


(LABOR RELATED COSTS)
- Setup time
Seringsekali terjadi sebuah pabrik memerlukan waktu dan sejumlah biaya untuk
memulai produksi. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memulai produksi disebut biaya
pemula produksi (set up costs). Biaya pemula produksi diperlukan pada waktu pabrik
atau proses mulai dijalankan atau dibuka kembali atau pada waktu produk baru
diperkenalkan. Biaya pemula produksi meliputi pengeluaran-pengeluaran untuk
pembuatan rancang bangun, penyusunan mesin dan peralatan, latihan bagi karyawan dan
kerugian-kerugian yang timbul akibat belum adanya pengalaman.
Ada tiga cara perlakuan terhadap biaya pemula produksi:
1. Dimasukkan ke dalam kelompok biaya tenaga kerja langsung. Bila biaya pemula
produksi dapat diidentifikasikan pada pesanan tertentu, maka biaya ini seringkali
dimasukkan dalam kelompok biaya tenaga kerja langsung dan dibebankan langsung
rekening Barang Dalam Proses.
2. Dimasukkan sebagai unsur biaya overhead pabrik. Biaya pemula produksi dapat
diperlakukan sebagai unsure biaya overhead pabrik. Jurnal untuk mencatat biaya
permula produksi adalah sebagai berikut:
Biaya overhead pabrik sesungguhnya xxx
Kas xxx
Utang Dagang xxx
Persediaan xxx
3. Dibebankan kepada pesanan yang bersangkutan. Biaya pemula produksi dapat
dibebankan kepada pesanan tertentu, dalam kelompok biaya tersendiri, yang terpisah
dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan dan biaya overhead pabrik.

- Waktu Menganggur (Idel time)


Dalam mengolah produk, seringkali terjadi hambatan-hambatan, kerusakan mesin
atau kekurangan pekerjaan. Hal ini menimbulkan waktu menganggur bagi karyawan.

24
Biaya-biaya yang dikeluarkan selama waktu menganggur ini diperlukan sebagai unsur
biaya overheadpabrik.
Misalkan seorang karyawan harus bekerja 40 jam per minggu. Upahnya Rp600
per jam. Dari 40 jam kerja tersebut misalnya 10 jam merupakan waktu menganggur, dan
sisanya digunakan untuk mengerjakan pesanan tertentu. Jurnal untuk mencatat biaya
tenaga kerja tersebut adalah:

Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 18.000


Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 6.000
Gaji dan Upah Rp 24.000

25