Anda di halaman 1dari 18

PENGAUDITAN I

Pengauditan dan Profesi Akuntan Publik

OLEH :
I Made Risky Prasetya (1707531087)
I Made Andika Wicaksana (1707531116)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN AJARAN 2018/2019
A. Sampling Audit

Sampling audit adalah penerapan prosedur audit


terhadap kurang dari seratus persen unsur dalam suatu
saldo akun atau kelompok transaksi dengan tujuan untuk
menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok
transaksi tersebut. Auditor seringkali mengetahui dimana
saldo-saldo akun dan transaksi yang mungkin sekali
mengandung salah saji. Auditor mempertimbangkan
pengetahuan ini dalam perencanaan prosedur auditnya,
termasuk sampling audit. Auditor biasanya tidak memiliki
pengetahuan khusus tentang saldo-saldo akun atau
transaksi lainnya yang menurut pertimbangannya, perlu
diuji untuk memenuhi tujuan auditnya. Dalam hal terakhir
ini, sampling audit sangat berguna.

Tahapan Sampling Audit


Langkah-langkah sampling dibagi dalam enam tahap:

1. Menyusun Rencana Audit


Kegiatan sampling audit diawali dengan penyusunan
rencana audit. Pada tahap ini ditetapkan:

a. Jenis pengujian yang akan dilakukan, karena


berpengaruh pada jenis sampling yang akan
digunakan. Pada pengujian pengendalian biasanya
digunakan sampling atribut, dan pada pengujian
substantif digunakan sampling variabel.
b. Tujuan pengujian, pada pengujian pengendalian untuk
meneliti derajat keandalan pengendalian, sedangkan
pengujian substantif tujuannya meneliti kewajaran
nilai informasi kuantitatif yang diteliti.
c. Populasi yang akan diteliti, disesuaikan dengan jenis
dan tujuan pengujian yang akan dilakukan.
d. Asumsi-asumsi yang akan digunakan dalam
penelitian, terutama yang diperlukan untuk
menentukan unit sampel dan membuat simpulan hasil
audit, seperti tingkat keandalan, toleransi kesalahan,
dan sebagainya.

2. Menetapkan Jumlah/Unit Sampel


Tahap berikutnya adalah menetapkan unit sampel.
Jika digunakan metode sampling statistik, unit sampel
ditetapkan dengan menggunakan rumus/formula statistik
sesuai dengan jenis sampling yang dilakukan. Pada tahap
ini hasilnya berupa pernyataan mengenai jumlah unit
sampel yang harus diuji pada populasi yang menjadi objek
penelitian

3. Memilih Sampel
Setelah diketahui jumlah sampel yang harus diuji, langkah
selanjutnya adalah memilih sampel dari populasi yang
diteliti. Jika menggunakan sampling statistik, pemilihan
sampelnya harus dilakukan secara acak (random).

4. Menguji Sampel
Melalui tahap pemilihan sampel, peneliti mendapat sajian
sampel yang harus diteliti. Selanjutnya, auditor
menerapkan prosedur audit atas sampel tersebut. Hasilnya,
auditor akan memperoleh informasi mengenai keadaan
sampel tersebut.

5. Mengestimasi Keadaan Populasi


Selanjutnya, berdasarkan keadaan sampel yang telah diuji,
auditor melakukan evaluasi hasil sampling untuk
membuat estimasi mengenai keadaan populasi. Misalnya
berupa estimasi tingkat penyimpangan/kesalahan,
estimasi nilai interval populasi, dan sebagainya.
6. Membuat Simpulan Hasil Audit
Berdasarkan estimasi (perkiraan) keadaan populasi di atas,
auditor membuat simpulan hasil audit. Biasanya simpulan
hasil audit ditetapkan dengan memperhatikan/
membandingkan derajat kesalahan dalam populasi dengan
batas kesalahan yang dapat ditolerir oleh auditor. Jika
kesalahan dalam populasi masih dalam batas toleransi,
berarti populasi dapat dipercaya. Sebaliknya, jika
kesalahan dalam populasi melebihi batas toleransi,
populasi tidak dapat dipercaya.

B. Perlunya Sampling dalam Audit

Menurut PSA N0. 26 Sampling Audit adalah


penerapan prosedur audit terhadap kurang dari seratus
persen unsur dalam suatu saldo akun atau kelompok
transaksi dengan tujuan untuk menilai beberapa
karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut.
Ada alasan lain bagi auditor untuk memeriksa
kurang dari 100% unsur yang membentuk saldo akun atau
kelompok transaksi. Sebagai contoh, auditor mungkin
hanya memeriksa beberapa transaksi dari suatu saldo akun
atau kelompok untuk memperoleh pemahaman atas sifat
operasi entitas atau memperjelas pemahaman atas
pengendalian intern entitas. Audit sampling ini dapat
dilakukan dengan dua pendekatan umum, yaitu :
1. Tidak menggunakan statistik (nonstatistik) dan
2. Menggunakan statistik.

Kedua pendekatan tersebut mengharuskan


auditor menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel, serta
dalam menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari
sampel dengan bukti audit lain dalam penarikan
kesimpulan atas saldo akun atau kelompok transaksi yang
berkaitan.
Kedua pendekatan ini dapat digunakan dalam
audit, karena tidak ada satu pihakpun yang dapat menjamin
bahwa salah satu di antara keduanya lebih baik dari yang
lain. Sampling dipergunakan untuk menginferensi
karakteristik dari populasi. Keuntungan dari sampling itu
sendiri adalah :
 Menghemat sumber daya: biaya,waktu, tenaga
 Kecepatan mendapatkan informasi (up date)
 Ruang lingkup (cakupan) lebih luas
 Data/informasi yang diperoleh lebih teliti dan
mendalam
 Pekerjaan lapangan lebih mudah disbanding cara
sensus.

Rencana sampling untuk pengujian substantif dapat


dirancang untuk :
 Memperoleh bukti bahwa saldo akun tidak
mengandung salah saji yang material
 Membuat estimasi independen mengenai jumlah
tertentu

C. Cara Melakukan Samping dalam Audit

Tahapan Sampling Audit


Langkah-langkah sampling dibagi dalam enam tahap:

1. Menyusun Rencana Audit


Kegiatan sampling audit diawali dengan penyusunan
rencana audit. Pada tahap ini ditetapkan:
 Jenis pengujian yang akan dilakukan, karena
berpengaruh pada jenis sampling yang akan digunakan.
Pada pengujian pengendalian biasanya digunakan
sampling atribut, dan pada pengujian substantif
digunakan sampling variabel.
 Tujuan pengujian, pada pengujian pengendalian untuk
meneliti derajat keandalan pengendalian, sedangkan
pengujian substantif tujuannya meneliti kewajaran nilai
informasi kuantitatif yang diteliti.
 Populasi yang akan diteliti, disesuaikan dengan jenis
dan tujuan pengujian yang akan dilakukan.
 Asumsi-asumsi yang akan digunakan dalam penelitian,
terutama yang diperlukan untuk menentukan unit
sampel dan membuat simpulan hasil audit, seperti
tingkat keandalan, toleransi kesalahan, dan sebagainya.

2. Menetapkan Jumlah/Unit Sampel


Jika digunakan metode sampling statistik, unit sampel
ditetapkan dengan menggunakan rumus/formula statistik
sesuai dengan jenis sampling yang dilakukan. Pada tahap
ini hasilnya berupa pernyataan mengenai jumlah unit
sampel yang harus diuji pada populasi yang menjadi objek
penelitian.

3. Memilih Sampel
Setelah diketahui jumlah sampel yang harus diuji, langkah
selanjutnya adalah memilih sampel dari populasi yang
diteliti. Jika menggunakan sampling statistik, pemilihan
sampelnya harus dilakukan secara acak (random).

4. Menguji Sampel
Melalui tahap pemilihan sampel, peneliti mendapat sajian
sampel yang harus diteliti. Selanjutnya, auditor
menerapkan prosedur audit atas sampel tersebut. Hasilnya,
auditor akan memperoleh informasi mengenai keadaan
sampel tersebut.

5. Mengestimasi Keadaan Populasi


Selanjutnya, berdasarkan keadaan sampel yang telah diuji,
auditor melakukan evaluasi hasil sampling untuk membuat
estimasi mengenai keadaan populasi. Misalnya berupa
estimasi tingkat penyimpangan/kesalahan, estimasi nilai
interval populasi, dan sebagainya.

6. Membuat Simpulan Hasil Audit


Berdasarkan estimasi (perkiraan) keadaan populasi di atas,
auditor membuat simpulan hasil audit. Biasanya simpulan
hasil audit ditetapkan dengan memperhatikan/
membandingkan derajat kesalahan dalam populasi dengan
batas kesalahan yang dapat ditolerir oleh auditor. Jika
kesalahan dalam populasi masih dalam batas toleransi,
berarti populasi dapat dipercaya. Sebaliknya, jika
kesalahan dalam populasi melebihi batas toleransi,
populasi tidak dapat dipercaya.

D. Sampling Audit Statistik dan Non Statistik

Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit


yang dapat dipilih auditor untuk memperoleh bukti audit
kompeten yang memadai yaitu Sampling Statistik dan
Sampling Non Statistik.

Sampling Statistik
Guy (1981) menyatakan bahwa sampling statistik
adalah penggunaan rencana sampling (sampling plan)
dengan cara sedemikian rupa sehingga
hukum probabilitas digunakan untuk
membuat statement tentang suatu populasi. Ada dua syarat
yang harus dipenuhi agar suatu prosedur audit bisa
dikategorikan sebagai sampling statistik. Pertama, sampel
harus dipilih secara random. Random merupakan
lawan arbritrari atau judgemental. Seleksi random
menawarkan kesempatan sampel tidak akan bias. Kedua,
hasil sampel harus bisa dievaluasi secara matematis. Jika
salah satu syarat ini tidak terpenuhi maka tidak bisa disebut
sebagai sampling statistik. Berikut digambarkan tipe
sampling audit syarat pengkategorian tipe-tipe tersebut
Tabel Tipe Sampling Audit
Tipe
Sample Evaluasi
No Sampling
Selection Sampel
Audit
1 100 percent Key items Conclusive
Judgement
2 Judgmental Judgmental
Sample
Representative
3 Random Judgmental
Sample
Statistical
4 Random Mathematical
Sample
Sumber: Guy, 1981

Untuk memilih sampel secara random ada beberapa


metode yang bisa digunakan :
a. Simple Random Sampling. Menggunakan pemilihan
random untuk memastikan bahwa tiap elemen
populasi mempunyai peluang yang sama dalam
pemilihan. Tabel bilangan acak dapat dipakai untuk
mecapai kerandoman (randomness).
b. Stratified Random Sampling. Membagi populasi
dalam kelompok-kelompok (grup/stratum)dan
kemudian melakukan pemilihan secara random untuk
tiap kelompok. Kelebihan metode ini, pertama,
pemilihan sampel bisa dihubungkan dengan item
kunci, serta bisa menggunakan teknik audit berbeda
untuk tiap stratum. Kedua, stratifikasi meningkatkan
reliabilitas sampel dan mengurangi besarnya sampel
(sample size) yang dibutuhkan. Jika sampel yang
homogen dikelompokkan maka keefektifan dan
keefisienan sampel bisa ditingkatkan.
c. Systematic Sampling. Menggunakan random strart
point kemudian memilih tiap populasi ken. Kelebihan
utama metode ini adalah penggunaannya mudah.
Namun problem utama adalah kemungkinan masih
timbul sampel yang bias (Guy, 1981).
d. Sampling Probability Proportional to Size (Dollar
Unit Sampling). Memilih sampel secara random
sehingga probabilitas pilihan langsung terkait dengan
nilai (size). Dengan metode ini unit yang nilai
tercatatnya besar secara proporsional akan memiliki
lebih banyak kesempatan untuk terpilih daripada unit
yang nilai tercatatnya kecil.

Menurut Halim (2001) sampling statistik memerlukan


lebih banyak biaya daripada sampling nonstatistik.
Alasannya karena harus ada biaya yang dikeluarkan
untuk training bagi staf auditor untuk menggunakan
statistik dan biaya pelaksanaan sampling secara statistik.
Namun tingginya biaya sampling statistik dikompensasi
dengan tingginya manfaat yang dapat diperoleh melalui
pelaksanaan sampling statistik. Sedang menurut Guy
(1981) ada empat kelebihan sampling statistik, yaitu :

 Memungkinkan auditor menghitung reliabilitas sampel


dan risiko berdasarkan sampel.
 Mengharuskan auditor merencanakan sampling dengan
lebih baik (more orderly manner) dibandingkan dengan
sampling non statistic
 Auditor bisa mengoptimalkan sampel size,
tidak overstated atau understated, dengan risiko yang
hendak diterima terukur secara matematis.
 Berdasarkan sampel, auditor bisa
membuat statement yang obyektif mengenai populasi
sampel.

Sampling Non Statistik


Sampling non statistik merupakan pengambilan
sampel yang dilakukan berdasarkankriteria subyektif
berdasarkan pengalaman auditor. Guy (1981)
mendefinisikan sampling yang sampelnya dipilih secara
subyektif, sehingga proses pemilihan sampel tidak
random dan hasil penyampelan tidak dievaluasi secara
matematis. Ada beberapa metode pemilihan sampel yang
dikategorikan dalam sampling non statistik, sebagai berikut
:
a. Haphazard sampling. Auditor memilih sampel yang
diharapkan representatif terhadap populasi lebih
berdasar judgement individu tanpa menggunakan
perandom probabilistik (misalnya semacam tabel
bilangan random). Untuk menghindari bias, sampel
dipilih tanpa memperhatikan ukuran, sumber, atau ciri-
ciri khas lainnya (Arrens dan Loebbecke, 2000).Tetapi
kelemahan utama metode ini adalah kesulitan untuk
benar-benar menghilangkan bias pemilihan.
b. Block sampling. Menggunakan seleksi satu atau lebih
kelompok elemen populasi secara berurut. Bila satu
item dalam blok terpilih maka secara berurut item-item
berikutnya dalam blok akan terpilih dengan otomatis.
Metode ini secara teoritis merupakan metode pemilihan
sampel yang representatif namun jarang digunakan
karena tidak efisien. Waktu dan biaya untuk memilih
sampel yang memadai agar representatif terhadap
populasi sangat mahal (Guy dan Carmichael, 2001).
c. Systematic sampling. Menggunakan start point yang
ditentukan secara judgement kemudian memilih tiap
elemen populasi ke n. Sampel dipilih berdasarkan
interval yang ditentukan dari pembagian jumlah unit
dalam populasi dengan jumlah sampel.
d. Directed sampling. Menggunakan seleksi
berdasarkan judgement elemen bernilai (high
value)atau elemen yang diyakini
mengandung error. Auditor tidak mendasarkan pada
pemilihan yang mempunyai kesempatan
sama (probabilistik), namun lebih menitik beratkan
pemilihan berdasarkan kriteria. Kriteria yang biasa
digunakan adalah:
 Item-item yang paling mungkin mengandung salah saji.
 Item-item yang memiliki karakteristik populasi
tertentu.
 Item yang mempunyai nilai tinggi (large dollar
coverage)

Dibanding sampling statistik, judgement atau


sampling non statistik sering dikritik karena secara
berlebihan mengandalkan intuisi dan juga sering secara
irasional dipengaruhi faktor-faktor subyektif. Kecukupan
ukuran sampel tidak bisa secara obyektif ditentukan.
Misalnya reaksi personal auditor terhadap karyawan klien,
proses pengadilan, dan waktu yang tersedia untuk
menyelesaikan penugasan bisa sangat mempengaruhi
ukuran sampel (Guy, 1981). Namun demikian terlepas dari
kemungkinan terjadinya hal-hal tersebut, sampling non
statistik yang direncanakan secara tepat akan dapat
seefektif sampling statistik. Banyak situasi yang
membuatjudgement sampling lebih sesuai dari pada
sampling statistik. Harus dicatat bahwa sampling statistik
merupakan alat yang berguna untuk sebagian, tidak semua
situasi. Apakah sampling statistik harus digunakan,
tergantung dari keputusan, tujuan audit, pertimbangan cost
diferensial (dibandingkan dengan judgement sampling)
serta trade-offs antara biaya dan manfaat yang didapat
dalam pengauditan.

Teknik Sampling Statistik

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa terdapat


dua tehnik sampling statistik, yaitu: sampling atribut dan
sampling variabel serta tehnik gabungan antara keduannya.

a. Sampling Atribut
Yang dimaksud dengan sampling atribut adalah
suatu metode untuk melakukan perkiraan atau estimasi
terhadap sebagian dari populasi yang mengandung karakter
atau atribut tertentu yang menjadi perhatian atau menjadi
tujuan audit seorang auditor. Sampling ini terutama
digunakan dalam pengujian-pengujian pengendalian
intern. Sampling atribut digunakan untuk membuat
kesimpulan mengenai tingkat kejadian di dalam populasi,
dan biasanya digunakan untuk menguji tingkat ketaatan
terhadap prosedur di dalam populasi, dan biasanya
digunakan untuk menguji tingkat ketaatan terhadap
prosedur di dalam sistem pengendalian intern sebagai
sarana untuk mengetahui apakah ketentuan-ketentuan yang
dibuat manajemen telah ditaati.
Sebagai contoh misalnya auditor ingin menentukan
prosentase banyaknya bukti pembayaran yang tidak
didukung dengan bukti-bukti tertentu atau tidak diotorisasi
oleh pejabat yang berwenang. Untuk menguji pengendalian
intern tersebut auditor dapat menggunakan salah satu dari
tiga metode sampling, yaitu estimasi atribut (sampling
fixed-sample-size), sampling sekuensial (sampling atribut
keputusan atau stop or go sampling) dan sampling
temuan (discovery sampling). Langkah-langkah dalam
sampling atribut:

1. Tentukan tujuan pengujian yang hendak dilakukan oleh


auditor.
2. Definisikan populasi dan satuan atau unit samplingnya.
3. Definisikan atribut yang menjadi objek pengukuran
dan apa yang dimaksudkan dengan penyimpangan.
4. Tentukan tingkat kesalahan tertinggi yang dapat
ditolelir.
5. Buat estimasi atau perkiraan mengenai tingkt
penyimpangan di dalam populasi, yaitu jumlah
penyimpangan di dalam sampel dibagi dengan
besarnya sampel
6. Tentukan tingkat keyakinan, biasanya dalam
presentase.
7. Tentukan besarnya sampel dengan mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut:
 Risiko data yang dapat diterima
 Tingkat kesalahan yang dapat ditolelir
 Perkiraan mengenai tingkat penyimpanga dalam
populasi
 Pengaruh besarnya populasi
 Metode sampling yang digunakan, apakah
sampling fixed-sample-size, sampling sekuensial,
atau sampling temuan
8. Pilih sampel secara acak
9. Lakukan prosedur audit
10. Lakukan evaluasi hasil audit sampel pada langkah 9
dengan cara sebagai berikut:
 Hitung tingkat penyimpangan
 Pertimbangkan risiko sampling
 Pertimbangkan aspek kualitatif dari penyimpangan
tersebut
 Buat kesimpulan secara menyeluruh mengenai
pengendalian intern

b. Sampling Variabel
Yang dimaksud dengan sampling variabel adalah
suatu metode yang digunakan untuk melakukan perkiraan
atau estimasi terhadap nilai yang sebenarnya dari saldo
suatu akun atau untuk menentukan besarnya nilai suatu
kesalahan. Sampling ini terutama digunakan dalam
pengujian substantif guna menentukan tingkat dapat
diandalkanya suatu jumlah dalam suatu akun, dan dapat
dilakukan dengan salah satu dari beberapa metode sebagai
beriut: (1) estimasi satuan nilai tengah, (2) estimasi selisih,
(3) estimasi perbandingan, dan (4) estimasi regresi.
Keempat metode ini dapat dilakukan dengan
stratifikasi atau tanpa stratifikasi. Sampling stratifikasi
adalah suatu metode sampling yang membagi-bagi
populasi menjadi dua atau lebih sub populasi yang disebut
dengan istilah strata, dan sampel kemudian dipilih dari
masing-masing strata tersebut, dan masing-masing strata
ini selanjutnya diaudit secara terpisah.
Pada umumnya sampling variabel dapat digunakan
untuk hal-hal sebagai berikut:
 Dalam pengujian substantif, yang dimaksudkan untuk
menentukan kewajaran nilai buku suatu akun.
 Untuk membuat estimasi mengenai nilai saldo suatu
akun atau suatu kelas tertentu dari transaksi-transaksi
yang berkaitan seperti taksiran saldo piutang atau
taksiran total penjualan untuk suatu periode tertentu.

Secara lebih spesifik Vasarhelyi dan Lin


(1990) menyatakan bahwa sampling variable ini dapat
diterapkan oleh auditor untuk melakukan pekerjaan audit
berkenaan dengan hal-hal sebagai berikut:
 Pengujian akun piutang
 Pengujian jumlah kuantitas, harga dan nilai persediaan.
 Penggantian metode penilaian persediaan dari metode
FIFO ke LIFO.
 Pengujian jumlah penambahan aktifa tetap
 Pengujian terhadap transaksi-transaksi untuk
menentukn besarnya nilai transaksi yang tidak
didukung oleh bukti yang memadai.

Meskipun banyak hal yang bersifat kuantitatif yang


dapat dicakup dengan sampling variabel, metode ini hanya
dapat digunakan apabila estimasi penyimpangan baku dari
populasi dapat diketahui. Di samping itu, sampling ini juga
bergantung pada karakteristik atau sifat-sifat statistik
distribusi normal. Selain pengklasifikasian berupa
sampling variabel tanpa stratifikasi dan sampling variabel
dengan stratifikasi, sampling variabel dan biasanya
dikategorikan menjadi empat metode sebagai berikut: (1)
estimasi satuan nilai tengah, (2) estimasi selisih, (3)
estimasi perbandingan, dan (4) estimasi regresi.

Langkah-langkah dalam sampling variabel:


1. Tentukan tujuan pengujian yang hendak dilakukan oleh
auditor
2. Definisikan populasi dan satuan unit samplingnya
3. Definisikan atau tentukan tingkat keyakinan
4. Estimasikan tingkat kesalahan tertinggi yang dapat
ditolelir
5. Tentukan besarnya risiko alfa dan risiko beta
6. Pilih dan periksasampel pendhuluan secara acak.
7. Perhatikan variasi di dalam populasi
8. Tentukan besarnya sampel dengan mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut:
 Risiko alfa dan risiko beta yang dapat diterima
 Kesalahan maksimum yang dapat ditolelir
 Perkiraan mengenai simpangan baku populasi
 Pengaruh besarnya populasi
9. Pilih dan periksa sampel tambahan
10. Lakukan prosedur audit
11. Buat estimasi mengenai nilai akun atau nilai total
populasi
12. Hitung rengtang keyakinan berdasarkan hasil
pemeriksaan sampel
13. Buat kesimpulan secara menyeluru mengenai hasil
pemeriksaan sampel

c. Monetary Unit Sampling


Metode ini merupakan gabungan dari sampling
atribut dan sampling variabel atau modifikasi dari sampling
atribut, yaitu sampling atribut yang digunakan untuk
menyatakan suatu kesimpulan tentang nilai yang
sebenarnya dari saldo suatu akun atau untuk menentukan
besarnya nilai suatu kesalahan.
Langkah-langkah audit dalam sampling monetary
unit sampling, sebagai berikut :
1. Tentukan tujuan pengujian yang hendak dilakukan oleh
auditor
2. Definisikan populasi dan satuan atau unit samplingnya
3. Estimasikan tingkat kesalahan tertinggi yang dapat
ditolelir
4. Tentukan besarnya sampel dengan mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut:
 Risiko data yang dapat diterima.
 Tingkat kesalahan yang dapat ditolelir.
 Perkiraan mengenai tingkat penyimpangan dalam
populasi, apakah kesalahannya 100% atau kurang
5. Pilih sampel secara acak, secara sistematis atau dengan
bantuan komputer
6. Lakukan prosedur audit
7. Evaluasi hasil audit sampel dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
 Apakah tidak ada kesalahan yang dijumpai
 Apakah kesalahan yang dijumpai 100%
 Apakah kesalahan yang dijumpai kurang dari 100%
 Aspek-aspek kualitatif dari penyimpangan tersebut
 Aspek-aspek kuantitatif dari penyimpangan
tersebut.
8. Buat kesimpulan secara menyeluruh mengenai
pengendalian intern atau pengujian yang dilakukan.

Contoh :
Seorang bendaharawan yang anda audit memiliki bukti
pengeluaran kas (kuitansi = X) sebanyak sepuluh sample
(N=10) lembar sebagai berikut:

Total (t) 100, 90, 110, 80, 120, 115, 85, 105, 95, 100 (total
pengeluaran 1000)

Sampel yang diambil sebanyak enam (n=6) kuitansi


Pertanyaan :

a. Tentukan rata-rata nilai sample ?


b. Tentukan perkiraan (estimasi) total populasi ?

Pemecahan:
Sampel (n=6): 90, 80, 120, 85, 105, 95
Nilai total dari enam sample (t)= 575
a. Rata-rata nilai sample ( c )= t/n = 575/6 = 95,83

b. Perkiraan total (estimasi) total populasi (T)


T = 10 x 95,83 = 958,30

Ada beberapa unsur–unsur dapat mempengaruhi hasil


sampling, yang mempengaruhi unit sampel, yaitu:
a. Unit populasi
Unit populasi adalah banyaknya satuan anggota populasi.
Misalnya kita melakukan audit atas mutasi pengeluara kas
tahun 2001 yang terdiri atas 3.500 kuitansi dengan nilai Rp
800 juta.
b. Standar deviasi
Standar deviasi adalah angka yang menunjukkan jarak
antara nilai rata-rata populasi dengan para anggota secara
umum sekaligus menunjukkan tingkat
heterogenitas/homogenitas data dalam populasi.
Standar Deviasi = σ = √ Σ (Xi - μ)2 / N
c. Tingkat keyakinan atau keandalan
Tingkat keyakinan adalah derajat keandalan sampel
terhadap populasi yang di wakilinya, di tunjukkan oleh
perkiraan persentase banyaknya populasi yang terwakili
oleh sampel.