Anda di halaman 1dari 15

A.

Pengertian
Pola hidup sehat adalah suatu konsep hidup yang mengedepankan
upaya-upaya dan kegiatan-kegiatan hidup yang sehat. Dengan penerapan
konsep hidup sehat ini, maka kita dapat terhindar dari berbagai penyakit
yang mungkin dapat menyerang tubuh kita. Setidaknya dalam hal ini kita
secara terus menerus mencoba untuk mensosialisasikan pengertian
budaya hidup sehat kepada masyarakat. Hal ini sangat penting sebab
salah satu dasar kebahagiaan hidup kita adalah kesehatan tubuh. Jika
tubuh kita sehat, maka segala kegiatan hidup kita dapat kita laksanakan
dengan sebaik-baiknya. Kita memang sudah seharusnya membudayakan
hidup sehat dalam kehidupan masyarakat kita. Apalagi untuk keluarga
kecil, maka budaya hidup sehat bukanlah sesuatu yang sulit untuk
diterapkan. Jika semua anggota keluarga memahami pengertian budaya
hidup sehat, maka secara serempak kita dapat menerapkan pola hidup
sehat.
Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140
mmHg atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen,
1996). Pendapat lain dikemukakan oleh Luckman Sorensen (1996),
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG
dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG. Dan juga Barbara
Hearrison (1997) Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi
peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan
darah diastolic 90 mmHg atau lebih. Diperkirakan satu dari empat populasi
dewasa di Amerika atau sekitar 60 juta individu dan hampir 1 milyar
penduduk dunia menderita hipertensi, dengan mayoritas dari populasi ini
mempunyai risiko yang tinggi untuk mendapatkan komplikasi
kardiovaskuler. Penderita hipertensi perlu mengatur pola makan dan apa
yang dikonsumsi. Penatalaksaan diit yang tepat akan membantu
menangani penyakit hipertensi.
Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan
kadar glukosa darah melebihi normal. Insulin yang dihasilkan koleh
kelenjar pankreas sangat penting untuk menjaga keseimbangan kadar
glukosa darah yaitu untuk orang normal (non diabetes) waktu puasa antara
60-120 mg/dL dan dua jam sesudah makan dibawah 140 mg/dL. Bila terjadi
gangguan pada kerja insulin, keseimbangan tersebut akan terganggu
sehingga kadar glukosa darah cenderung naik. Gejala bagi penderita
Diabetes Mellitus adalah dengan keluhan banyak minum (polidipsi),
banyak makan (poliphagia), banyak buang air kecil (poliuri), badan lemas
serta penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya, kadar gula
darah pada waktu puasa ≥ 126 mg/dL dan kadar gula darah sewaktu ≥ 200
mg/dL (Badawi, 2009).
Untuk penderita penyakit diabetes mellitus pada prinsipnya harus
melakukan pengaturan makan dengan mengurangi karbohidrat kompleks.
Diet bagi penderita diabetes harus dikonsultasikan dengan dokter untuk
mengatur jumlah, jadwal, dan jenisnya. Jumlah kalori mesti pas sesuai
kebutuhan, tak lebih atau kurang. Jadwal harus dibuat tiga kali makan
utama dan tiga kali makan antara dalam selang waktu tiga jam. Penderita
harus membatasi makanan tinggi kalori, tinggi lemak, dan tinggi kolesterol.
Makanan yang dianjurkan adalah sayur dan buah yang kurang manis,
seperti apel, pepaya, tomat, kedondong, salak, dan pisang.

B. Etiologi
Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90%
diantara mereka menderita hipertensi essensial (primer), dimana tidak
dapat ditentukan penyebab medisnya. Sisanya mengalami kenaikan
tekanan darah dengan penyebab tertentu (hipertensi sekunder).
(Smeltzer, 2001).
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :
1. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum
diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari
seluruh hipertensi).
2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai
akibat dari adanya penyakit lain. ( Smeltzer, 2001).
Adapun penyebab lain dari hipertensi yaitu :
a. Peningkatan kecepatan denyut jantung
b. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama
c. Peningkatan TPR yang berlangsung lama
1. Diabetes Melitus tergantung insulin (DMTI)

a. Faktor genetic : Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu


sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan
genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini
ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human
Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang
bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.

b. Faktor imunologi : Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu


respon autoimun. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody
terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap
jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan
asing.

c. Faktor lingkungan : Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel


β pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa
virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat
menimbulkan destuksi sel β pancreas.

2. Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI)

Diabetes Melitus tipe II disebut juga Diabetes Melitus tidak tergantung


insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM)
yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes
yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi
terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak.

Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II,


diantaranya adalah:

a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65


tahun)

b. Obesitas

c. Riwayat keluarga
d. Kelompok etnik.

C. Tanda gejala
1. Gejala Hipertensi
a. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
b. Sakit kepala
c. Epistaksis
d. Pusing / migrain
e. Rasa berat ditengkuk
f. Sukar tidur
g. Mata berkunang kunang
h. Lemah dan lelah
i. Muka pucat
j. Suhu tubuh rendah

2. Menurut Newsroom (2009) seseorang dapat dikatakan menderita


Diabetes Melitus apa bila menderita dua dari tiga gejalayaitu:
a. Keluhan TRIAS : Kencing yang berlebihan ( Poliuri ), Rasa
haus yang berlebihan ( Polidipsi ) , Rasa lapar berlebihan (
Polifagia ) dan Penurunan berat badan.
b. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl.
c. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200
mg/dl.
Keluhan yang sering terjadi pada penderita Diabetes Mellitus adalah:
Poliuria, Polidipsia, Polifagia, Berat Badan menurun, Lemah,
Kesemutan, Gatal, Visus menurun, Bisul/luka, Keputihan (Waspadji,
1996). Penyakit pada penderita diabetes bagian kaki dengan gejala
dan tanda sebagai berikut :
a. Sering kesemutan/gringgingan (asmiptomatus).
b. Adanya kalus ditelapak kaki
c. Nyeri saat istirahat.
d. Kerusakan jaringan (necrosis, ulkus).
D. Komplikasi
1. Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi menurut
TIM POKJA RS Harapan Kita (2003:64) dan Dr. Budhi Setianto (Depkes,
2007) adalah diantaranya :
a. Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak,
transient ischemic attack (TIA).
b. Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark
miocard acut (IMA).
c. Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.
d. Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, oedema
pupil.
2. Menurut (Mansjoerdkk, 2014) beberapa komplikasi dari Diabetes Mellitus
adalah :
a. Hipoglikemia
Hipoglikemia secara harafiah berarti kadar glukosa darah di
bawah harga normal. Walaupun kadar glukosa plasma
puasa pada orang normal jarang melampaui 99 mg%
(5,5mmol/L), tetapi kadar <180 mg% (6 mmol/L) masih
dianggap normal. Kadar glukosa plasma kira-kira 10 % lebih
tinggi dibandingkan dengan kadar glukosa darah
keseluruhan (whole blood) karena eritrosit mengandung
kadarglukosa yang relative lebih rendah. Kadar glukosa
arteri lebih tinggi dibandingkan vena, sedangkan kadar
glukosa darah kapiler diantara kadar arteri dan vena
(WahonoSoemadji, 2006).
b. Hiperglikemia
Hiperglikemia dapat terjadi karena meningkatnya asupan
glukosa dan meningkatnya produksi glukosa hati. Glukosa
yang berlebihan ini tidak akan termetabolisme habis secara
normal melalui glikolisis. Tetapi, sebagian melalui perantara
enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol, yang
selanjutnya akan tertumpuk dalam sel/jaringan tersebut dan
menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi (Arifin).
c. Penyakit makrovaskuler seperti Penyakit pembuluh darah
d. Ulkus/gangren
e. Salah satu komplikasi yang sangat ditakuti penderita
diabetes adalah kaki diabetik. Komplikasi ini terjadi karena
terjadinya kerusakan saraf, pasien tidak dapat
membedakan suhu panas dan dingin, rasa sakit pun
berkurang.

E. Diet
1. Diet Hipertensi
Diet untuk penderita hipertensi biasanya disebut dengan “diet rendah
garam”. Garam yang dimaksud adalah garam natrium yang terdapat
di dalam garam dapur (NaCl), soda kue (NaHCO3), baking powder,
natrium benzoat, dan vetsin (monosodium glutamat). Natrium
merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler tubuh yang
berfungsi menjaga keseimbangan cairan dan asam basa tubuh, serta
berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot. Makanan sehari-
hari umumnya mengandung lebih banyak natrium daripada yang
dibutuhkan tubuh.
Dalam kondisi normal, jumlah natrium yang dikeluarkan tubuh melalui
urin sama dengan jumlah yang dikonsumsi, sehingga terdapat
keseimbangan. WHO (1990) menganjurkan pembatasan konsumsi
garam dapur hingga 6 gr per hari (ekuivalen dengan 2400 mg
natrium). Asupan natrium yang berlebihan, terutama dalam bentuk
NaCl, dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan tubuh,
sehingga menyebabkan hipertensi.
a. Tujuan Diet Rendah Garam (Hipertensi)
Adapun tujuan dari diet rendah garam ini adalah membantu
menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan dan
menurunkan tekanan darah pada hipertensi.
b. Syarat-syarat Diet Rendah Garam (Hipertensi)
Diet rendah garam dapat dilakukan jika memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
a) Cukup kalori, protein mineral dan vitamin
b) Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit.
c) Jumlah natrium yang diperbolehkan disesuaikan dengan
berat atau tidaknya retensi garam atau hipertensi.
c. Macam Diet dan Indikasi Pemberian
Diet rendah garam diberikan kepada penderita dengan oedema
atau hipertensi. Diet ini mengandung cukup zat-zat gizi. Sesuai
dengan keadaan penyakit, dapat diberikan berbagai tingkat diet
rendah garam, sebagai berikut :
a) Diet rendah garam I (200 mg - 400 mg Na)
Pada diet rendah garam tingkat I dalam pemasakan tidak
ditambahkan garam dapur. Menghindari bahan makanan
yang mengandung natrium tinggi. Makanan seperti ini
diberikan pada penderita hipertensi berat. Meskipun diet
rendah garam dilakukan, kita harus tetap memperhatikan
makanan yang dikonsumsi baik dari segi takaran atau ukuran
dan nilai gizi makanan yang dikonsumsi.
Contoh menu :
Pagi :
Nasi 1 gelas belimbing (70 gr)
Telur 1 butir (50 gr)
Sayuran ½ gelas belimbing (50 gr)
Minyak ½ sendok makan (5 gr)
Gula pasir 1 sendok makan (10 gr)
Siang dan Sore :
Nasi 2 gelas belimbing (140 gr)
Daging 2 potong (50 gr)
Sayuran ¼ gls (75 gr)
Buah 1 buah pisang (75 gr)
Minyak 1 sendok makan (10 gr)
b) Diet rendah garam II (600 mg - 800 mg Na)
Dalam pengolahan makanannya boleh menggunakan ½
sendok teh garam dapur (2 gr) dan diet ini berlaku kepada
pasien hipertensi yang tidak terlalu berat.
Contoh Menu :
Pagi :
Nasi,
Telur Dadar,
Tumis Kacang Panjang,
Sayur Lodeh,
Papaya
Siang :
Nasi,
Ikan Acar,
Telur,
Bacem,
Pisang
Sore :
Nasi,
Daging,
Tempe Kering,
Sayur
c) Diet Garam Rendah III (1000 mg - 1200 mg Na)
Dalam pengolahan makananya boleh menggunakan garam 1
sendok teh (4 gr) garam dapur dan diet ini diberikan pada
pasien hipertensi ringan.
d. Cara Diet Rendah Garam
Cara diet rendah garam yang bisa anda lakukan untuk menjaga
kadar garam yang sesuai dalam tubuh anda (menurut WHO yaitu
2400 mg natrium setiap harinya) adalah sebagai berikut :
a) Gunakan bahan makanan yang segar. Jauhi makanan yang
diproses terlebih dahulu seperti sosis, makanan kaleng
ataupun telor asin.
b) Kurangi penggunaan garam, bumbu penyedap, terasi dan
kecap saat memasak.
c) Untuk mengganti rasa asin dalam masakan anda bisa
menggunakan gula atau cuka pada masakan anda. Tomat
segar pada sup, atau gunakan bumbu kare, bumbu gulai dan
bumbu rawon. Anda juga bisa menggunakan bahan rempah
lain sesuai selera anda seperti jahe, kunyit, belimbing wuluh
dan sebagainya.
d) Makan makanan anda selagi hangat agar aroma masakannya
masih segar sehingga menutupi rasa asin yang kurang
terasa.

Golongan Bahan Makanan pada Penderita Hipertensi


Makanan yang boleh dan yang tidak boleh diberikan
GOLONGANG MAKANAN YANG MAKANAN YANG
BAHAN MAKANAN BOLEH DIBERIKAN TIDAK BOLEH
DIBERIKAN
Sumber hidrat arang Beras, bulgur, Roti, biskuit, dan kue-
kentang singkong, kue yang dimasak
terigu, tapioca, dengan garam dapur
hunkew, gula, dan soda.
makanan yang diolah
dari bahan di atas
tanpa garam dapur
dan soda seperti :
makaroni, mie, bihun,
roti, biscuit, kue kering
dan sebagainya.
Sumber protein hewani Daging dan ikan Otak, ginjal, lidah
maksimal 100gr sardine, keju, daging,
sehari,telur maksimal ikan dan telur, serta
satu butir sehari. Susu yang diawetkan
maksimal 200gr dengan garam dapur,
sehari. seperti: daging asap,
ham, bacon, dendeng
abon, ikan asin, ikan
kaleng, kornet, ebi,
udang kering, telur
asin, telur pindang
dan sebagainya.
Sumber protein nabati Semua jenis kacang- Keju kacang tanah
kacangan dan hasil dan semua kacang-
yang diolah dan kacangan yang
dimasak tanpa garam. hasilnya dimasak
dengan garam dapur
dan ikatan natrium
lain.
Sayuran Semua sayuran Sayuran yang
segar, sayuran yang diawetkan dengan
diawetkan tanpa garam dapur dan
garam dapur, natrium ikatan natrium, seperti
benzoat dan soda. sayuran dalam
kaleng, sawi asin,
asinan, acar, dan
sebagainya.
Buah-buahan Semua buah-buahan Buah-buahan yang
segar, buah-buahan diawetkan dengan
yang diawetkan tanpa garam dapur dan
garam dapur, dan ikatn natrium lain.
natrium benzoate dan
soda.
Lemak Minyak, margarine Margarine dan
tanpa garam, mentega biasa.
mentega tanpa
garam.
Bumbu-bumbu Semua bumbu – Garam dapur, baking
bumbu segar dan powder, soda kue,
kering yang tidak vetsin, dan bumbu-
mengandung garam bumbu yang
dapur dan ikatan mengandung garam
natrium lain. dapur seperti kecap,
terasi, saus tomat,
petis, tauco.
Minuman Teh, coklat, dan Kopi
minuman botol ringan
Keterangan :
Rasa makanan dapat dipertinggi dengan menggunakan bumbu-bumbu lain
yang tidak mengandung natrium, misalnya gula, cuka, bawang merah,
bawang putih, jahe, kunyit, laos, dan daun salam.

2. Diet DM (Diabetes Miletus)


a. Tujuan diet Penyakit DM adalah membantu memperbaiki
kebiasaan makan dan olahraga untuk mendapatkan control
metabolic yang lebih baik, dengan cara :
a) Mempertahankan kadar gula darah (Glukosa) supaya
mendekati normal dengan menyeimbangkan asupan
makanan,
b) Mencapai dan mempertahankan kadar lipida serum
normal.
c) Member energi untuk mempertahankan atau mencapai
berat badan normal.
d) Menghindari atau menangani komlikasi akut.
e) Meningkatkan derajat kesehatan yang optimal melalui
perbaikan gizi.
b. Syarat-syarat diet Penyakit Diabetes Melitus :
a) Energi cukup (25-30 kkal/kg BB) untuk mencapai dan
mempertahankan berat badan normal.
b) Protein normal yaitu 10-15% dari kebutuhan energi
total.
c) Kebutuhan lemak 20% dari kebutuhan energi total.
d) Kebutuhan karbohidrat 60-70% dari kebutuhan energi
total.
e) Asupan serat dianjurkan 25 g/hr yang terdapat dari
sayur dan buah.
f) Cukup vitamin dan mineral.
Bahan makanan yang dianjurkan untuk Diet Diabetes Melitus adalah
sebagai berikut :
1. Sumber Karbohidrat kompleks seperti nasi, roti, mie, kentang
singkong dan sagu.
2. Sumber protein rendah lemak seperti ikan, ayam tanpa kkulit, susu
skim, tempe, tahu serta kacang-kacangan.
3. Sumber lemak dalam jumlah terbatas yaitu bentuk bahan makanan
yang mudah dicerna. Makanan terutama diolah dengan cara
dipanggang, dikukus disetup, direbus dan dibakar.
Bahan makanan yang tidak dianjurkan untuk Diet Diabetes Melitus adalah
sebagai berikut :
1. Bahan makanan yang mengandung gula sederhana seperti Gula
pasir, gula jawa, sirop, jam, buah-buahan yang diawetkan dengan
gula, susu kental manis, minuman botol ringan, es krim.
2. Bahan makanan yang mengandung banyak lemak seperti cake,
makanan siap saji, goreng-gorengan.
3. Bahan makanan yang mengandung banyak natrium seperti ikan
asin, telur asin, makanan yang diawetkan.
4. Jika penderita Diabetes Melitus mengalami Hipoglikemi (kadar gula
darah terlalu rendah (<80 mg/dl)) segera di berikan teh manis, agar
kadar gula darah kembali normal. Dan jika penderita Diabetes
Melitus mengalami Ketoasidosis (kadar gula darah terlalu tinggi
(>200 mg/dl)) dan mengalami pingsan, segera dirujuk ke rumah
sakit terdekat agar segera dilakukan penanganan.
F. Terapi Komplementer Untuk Hipertensi

Kayu manis merupakan rempah-rempah yang bisa diolah menjadi


bubuk atau di ekstrak cair, yang mana didalamnya terkandung volatile oils
cinnamaldehyde, cinnamyl alcohol and cinnamyl acetate, serta
mengandung kalsium, zat besi, mangan, vitamin K dan serat. Hal inilah
yang membuat kayu manis sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh,
terutama untuk menurunkan tekanan darah tinggi dan juga membantu
menurunkan LDL (kolestrol jahat).
Kayu manis efektif dan ampuh untuk menurunkan tekanan darah
tinggi jika dikombinasikan dengan magnesium, dimana mampu
menghasilkan pengurangan hingga 25 mmHg dari obat apapun dengan
keuntungan tidak memiliki efek samping. Sedangkan jika hanya konsumsi
kayu manis saja tanpa perubahan diet atau gaya hidup mampu
menurunkan tekanan darah hingga 5,39 dan 2,6 mmHg. Berdasarkan para
ahli gizi, seperti dilansir dari Daily Health Post.
Caranya, seduh sepotong kayu manis sepanjang jari telunjuk
dengan air panas. Minum secara rutin hingga tekanan darah kembali
normal. Jika menggunakan kayu manis yang bubuk seduh bubuk kayu
manis sebanyak 1-2 sendok dengan air hangat.
G. Terapi Komplementer untuk DM

Ada beberapa kandungan senyawa aktif alami yang dimiliki oleh


daun salam yang memberikan manfaat bagi kesehatan yakni berupa : minyak
asiri yang mengandung sitral,seskuiterpen,lakton,eugenol,dan fenol.
Senyawa lain yang terkandung dalam daun salam antara lain
saponin,triterpen,flavonoid,tanin,polifenol,dan alkaloid. Satu dari sekian
banyak khasiat dan manfaat daun salam adalah mampu mengobati penyakit
diabetes karena daun salam terbuka secara ilmiah mampu menurunkan kadar
gula darah tinggi dalam tubuh. Hal tersebut dikarenakan daun salam
mengandung flavonoid yang berbentuk gugus gula dan mampu beritindak
sebagai penangkap radikal hidroksil yang kinerjanya sama seperti amygdalin.
Hal inilah yang menjadikan daun salam bersifat diabetogenik atau
menurunkan kadar gula dengan baik. Berikut ini adalah bagaimana cara
pembuatan obat diabetes dari daun salam

1. 7-15 lembar daun salam segar


2. 3 gelas air (600ml)
3. Cuci daun salam dengan air yang mengalir hingga bersih
4. Rebus daun salam segar dengan air sebanyak 3 gelas hingga tersari menjadi
satu gelas
5. Dinginkan dan saring
6. Minum ramuan 2 kali sehari sebelum makan,masing-masing sebnayak 1 gelas
DAFTAR PUSTAKA

Arisman, (2014). Diabetes Mellitus. Dalam: Arisman, ed. Buku Ajar Ilmu Gizi
Obesitas, Diabetes Mellitus dan Dislipidemia. Jakarta: EGC, 44-54.

Corwin, EJ. 2016. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. Jakarta: EGC

Hartono, Andry. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta : EGC
Johnson, M., et all. 2014. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Ramayulis, Rita. 2010. Menu dan Resep untuk Penderita Hipertensi. Jakarta :
penebar plus.
Redaksi Agromedia. 2009. Solusi Sehat Mengatasi Hipertensi. Jakarat :
Agromedia Pustaka.
http://www.scribd.com/doc/99977814/DIET-Rendah-Garam. Diakses tanggal 13
November 2013.
https://www.kompasiana.com/adityaagustinus/55177677a333118307b65e9e/
diet-penyakit-diabetes-melitus