Anda di halaman 1dari 17

OPERATION & MAINTENANCE

MANUAL
BOOSTER PUMP 2 PUMP with
VARIABLE SPEED

OPERATION & MAINTENANCE MANUAL


BOOSTER PUMP VARIABLE SPEED

I. PENDAHULUAN

II. PENGENALAN & SISTEM KERJA BOOSTER PUMP VARIABLE SPEED

III. PENGATURAN OPERATOR DISPLAY

IV. MAINTENANCE & TROUBLE SHOOTING


I. Pendahuluan

Kebutuhan akan Hemat Energi terutama Energi Listrik dewasa ini sangat besar.
Untuk itu dibutuhkan suatu system penghematan dimana Energi Listrik yang dipakai
disesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan.
Untuk kebutuhan / pemakaian Air dalam jumlah banyak seperti untuk di gedung-
gedung bertingkat, hotel – hotel berbintang ,apartemen ,Rumah Sakit,dan lain lain.
Dibutuhkan Intensitas yang tinggi dari Pompa untuk mencukupi pemakaian air
tersebut sehingga kebutuhan akan energy Listrik menjadi besar.

Untuk menanggulangi kebutuhan Energy Listrik tersebut diperlukan beberapa langkah

Langkah – langkah tersebut meliputi area utama untuk memperbaiki pompa dan
sistim pemompaan. Area utama bagi penghematan energi meliputi:
 Memilih pompa yang benar
 Mengendalikan debit aliran dengan variasi kecepatan
 Pompa dalam susunan paralel untuk memenuhi permintaan yang beragam
 Membuang kran pengendali aliran
 Membuang kendali by-pass
 Kendali start/stop pompa
 Memperbaiki keseimbangan impeler

I.1 Memilih pompa yang benar


Dalam memilih pompa, para pemasok berusaha untuk mencocokan kurva sistim yang
diberikan oleh fihak pengguna dengan kurva pompa yang memenuhi kebutuhan
tersebut sedekat mungkin.
Titik operasi pompa adalah titik dimana kurva pompa dan kurva tahanan sistim
berpotongan. Walau begitu, tidak memungkinkan bagi satu titik operasi memenuhi
seluruh kondisi operasi yang dikehendaki.
Titik Efisiensi Terbaik/ Best Efficiency Point (BEP) merupakan kapasitas pemompaan
pada diameter impeler maksimum, dimana efisiensi pompanya adalah yang paling
tinggi. Seluruh titik kesebelah kanan atau kiri BEP memiliki efisiensi lebih rendah.
BEP terpengaruh jika pompa yang terpilih ukurannya berlebih. Alasannya adalah
bahwa aliran pompa dengan ukuran berlebih harus dikendalikan dengan metoda yang
berbeda, seperti kran penutup atau jalur by-pass. Keduanya memberikan tahanan
tambahan dengan meningkatnya gesekan. Sebagai akibatnya kurva sistim bergeser ke
kiri dan berpotongan dengan kurva pompa pada titik lainnya. Sekarang BEP nya juga
menjadi lebih rendah. Dengan kata lain, efisiensi pompa berkurang sebab aliran
keluar berkurang akan tetapi pemakaian dayanya tidak.
I.2 Mengendalikan debit aliran dengan variasi kecepatan

I.2.1 Menjelaskan pengaruh kecepatan5


Perputaran impeler pompa menghasilkan head. Kecepatan keliling impeler
berhubungan langsung dengan kecepatan perputaran batang torak. Oleh karena itu
variasi kecepatan putaran berpengaruh langsung pada kinerja pompa.
Parameter kinerja pompa (debit alir, head, daya) akan berubah dengan bervariasinya
kecepatan putaran. Oleh karena itu, untuk mengendalikan kecepatan yang aman pada
kecepatan yang berbeda-beda maka penting untuk mengerti hubungan antara
keduanya.
Persamaan yang menjelaskan hubungan tersebut dikenal dengan “Hukum Afinitas”:
 Debit aliran (Q) berbanding lurus dengan kecepatan putaran (N)
 Head (H) berbanding lurus dengan kuadrat kecepatan putarar
 Daya (P) berbanding lurus dengan kubik kecepatan putaran
QaN
H a N2
P a N3
Sebagaimana dapat dilihat dari hukum diatas, penggandaan kecepatan putaran pompa
akan meningkatkan pemakaian daya 8 kalinya. Sebaliknya penurunan kecepatan
yang kecil akan berakibat penurunan pemakaian daya yang sangat besar. Hal ini
menjadikan dasar bagi penghematan energi pada pompa sentrifugal dengan kebutuhan
aliran yang bervariasi. Hal yang relevan untuk dicatat bahwa pengendalian aliran oleh
pengaturan kecepatan selalu lebih efisien daripada oleh kran pengendali. Hal ini
disebabkan kran menurunkan aliran namun tidak menurunkan pemakaian energi
pompa. Sebagai tambahan terhadap penghematan energi, terdapat manfaat lainnya
dari kecepatan yang lebih rendah tersebut.
 Umur bantalan meningkat. Hal ini disebabkan bantalan membawa gaya hidrolik
pada impeler (dihasilkan oleh profil tekanan dibagian dalam wadah pompa), yang
berkurang kira-kira sebesar kuadrat kecepatan. Untuk sebuah pompa, umur bantalan
sebanding dengan kecepatan pangkat tujuh (N7)!
 Getaran dan kebisingan berkurang dan umur sil meningkat selama titik tugas tetap
berada didalam kisaran operasi yang diperbolehkan.
I.2.2 Menggunakan penggerak kecepatan yang bervariasi/ variable speed drive
(VSD)
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa pengendalian kecepatan pompa
merupakan cara yang paling efisien dalam mengendalikan aliran, sebab jika kecepatan
pompa berkurang maka pemakaian daya juga berkurang. Metoda yang biasanya
banyak digunakan untuk menurunkan kecepatan pompa adalah Penggerak Kecepatan
yang Bervariasi/ Variable Speed Drive (VSD).
VSD memperbolehkan pengaturan kecepatan pompa berada diatas kisaran yang
kontinyu, menghindarkan kebutuhan untuk melompat dari satu kecepatan ke
kecepatan lainnya sebagaimana yang terjadi dengan pompa yang berkecepatan
berlipat. Kecepatan pompa dengan pengendali VSD menggunakan dua jenis sistim:
 VSD mekanis meliputi sarang hidrolik, kopling fluida, dan belts dan pully yang
dapat diatur-atur.
 VSD listrik meliputi sarang arus eddy, pengendali motor dengan rotor yang
melingkar, pengendali frekuensi yang bervariasi/ variable frequency drives (VFDs).
VFDs adalah yang paling populer dan mengatur frekuensi listrik dari daya yang
dipasok ke motor untuk mengubah kecepatan perputaran motor.
Untuk beberapa sistim, VFDs menawarkan sesuatu yang berharga untuk memperbaiki
efisiensi operasi pompa pada kondisi operasi yang berbeda-beda. Pengaruh
pelambatan kecepatan pompa pada operasi pompa digambarkan dalam Gambar 14.
Ketika VFD menurunkan RPM pompa, kurva head/aliran dan daya bergerak turun
dan ke arah kiri, dan kurva efisiensi juga bergeser ke sebelah kiri.
Keuntungan utama penggunaan VSD disamping penghematan energi adalah
 Memperbaiki pengendalian proses sebab dapat memperbaiki variasi- variasi kecil
dalam aliran lebih cepat.
 Memperbaiki kehandalan sistim sebab pemakaian pompa, bantalan dan sil jadi
berkurang.
 Penurunan modal dan biaya perawatan sebab kran pengendali, jalur by-pass, dan
starter konvensional tidak diperlukan lagi. Kemampuan starter lunak: VSD
membolehkan motor memiliki arus start-up yang lebih rendah.

I.3 Pompa yang dipasang paralel untuk memenuhi permintaan yang


bervariasi
Mengoperasikan dua pompa secara paralel dan mematikan salah satu jika kebutuhan
menjadi lebih rendah, dapat menghasilkan penghematan energi yang signifikan. Dapat
digunakan pompa yang memberikan debit aliran yang berbeda-beda. Pompa yang
dipasang secara paralel merupakan sebuah opsi jika head statik lebih dari lima puluh
persen head total.

I.4 Menghilangkan kran pengendali aliran


Metoda lain untuk mengendalikan aliran adalah dengan menutup atau membuka kran
pembuangan (hal ini dikenal juga dengan kran “throttling”). Walau metoda ini
menurunkan tekanan namun tidak mengurangi pemakaian daya, sebab head total
(head statik) bertambah.
Metoda ini meningkatkan getaran dan korosi sehingga meningkatkan biaya perawatan
pompa dan secara potensial mengurangi umurnya. VSD merupakan suatu pemecahan
yang lebih baik dari sudut pandang efisiensi energi.
I.5 Menghilangkan pengendali by-pass
Aliran dapat juga diturunkan dengan cara memasang sebuah sistim kendali by-pass,
dimana pembuangan pompa dibagi menjadi dua aliran menuju dua pipa saluran yang
terpisah. Satu pipa saluran mengirimkan fluida ke titik tujuan pengiriman, sementara
pipa saluran kedua mengembalikan fluida ke sumbernya. Dengan kata lain, sebagian
fluida diputarkan dengan tanpa alasan, dengan demikian maka hal ini merupakan
pemborosan energi. Oleh karena itu maka opsi ini harus dihindarkan.

I.6 Kendali Start/stop pompa


Suatu cara yang sederhana dan masuk akal berkenaan dengan energi yang efisien
adalah menurunkan debit aliran dengan menjalankan dan menghentikan pompa,
sepanjang hal ini tidak sering terjadi dilakukan. Sebuah contoh dimana opsi ini dapat
digunakan adalah bila sebuah pompa digunakan untuk mengisi tangki penyimpan
dimana fluida mengalir ke proses pada debit yang tetap. Dalam sistim ini, pengendali
dipasang pada tingkatan minimum dan maksimum didalam tangki untuk menjalankan
dan menghentikan pompa. Beberapaperusahaan menggunakan metoda ini juga dalam
rangka menghindarkan kebutuhan
maksimum yang lebih rendah (yaitu dengan pemompaan pada bukan jam puncak).

I.7 Keseimbangan impeler


Mengubah diameter impeler akan memberikan perubahan yang sebanding dengan
kecepatan keliling impeler. Sama halnya dengan hukum afinitas, persamaan berikut
berlaku untuk diameter impeler D:
QaD
H a D2
P a D3
Mengubah diameter impeler merupakan suatu cara mengefisienkan energi untuk
mengendalikan debit aliran. Walau demikian, beberapa hal berikut harus
dipertimbangkan:
 Opsi ini tidak dapat digunakan jika terdapat pola aliran yang bervariasi.
 Impeler tidak harus diseimbangkan lebih dari 25% dari ukuran impeler aslinya,
karena akan menyebabkan getaran karena terjadinya kavitasi yang akan menurunkan
efisiensi pompa.
 Keseimbangan pompa harus dijaag; keseimbangan impeler harus sama pada
seluruh sisi. Mengganti impeler merupakan suatu opsi yang lebih baik daripada
menyeimbangkan impeler, namun cara ini juga lebih mahal dan kadangkala impeler
yang lebih kecil di pasaran ukurannya jauh lebih kecil dari kebutuhan.
II. Pengenalan Booster Pump Variable Speed
Packaged Booster Pump Variable Speed ini didesain untuk meminimalisirkan
kebutuhan pemakaian energy Listrik dengan cara Mengatur secara Automatic
pemakaian Air dengan Putaran Pompa. Booster pump variable speed control panels,
adalah panel kontrol yang khusus didesain bersama pompa booster untuk melayani
system supply air bertekanan. Panel control ini ideal untuk aplikasi pompa yang
membutuhkan constant pressure dengan flow rate yang bervariasi. Misal di high rise
building, rumah sakit, apartemen, hotel, PDAM dan lain-lain. Selain itu, aplikasi
Inverter merupakan aplikasi VVVF (Variable Voltage Variable Frequency) dapat
memberikan saving energy yang cukup besar hingga 30% dari pemakaian
konvensional.

II.1 Fitur-fitur standar

• Box panel outdoor double door


• Kontrol dengan menggunakan PLC (Programable Logic Controller)
• 2 buah Variable Speed Drive (VSD) / Variable Frequency Drive (VFD) /
Inverter
• Operator Display berupa compact display yang terdiri dari 4 Menu setting dan
memiliki 8 tombol tekan untuk melihat status maupun merubah parameter
pada masing-masing menu yang telah diprogram.
• Selector switch Manual dan Auto
• Lampu Indikator status power dan status pompa
• Pressure Transduccer/ Transmitter dengan output 4-20mA.

II. 2 Sistem Operasi

Pada aplikasi constant pressure, pressure transducer diletakan pada discharge pompa
dan dihubungkan ke PLC. Pada mode otomatis, inverter akan memutar pompa dan
secara terus menerus mengatur kecepatan pompa hingga target referensi pressure
tercapai. Inverter akan di atur oleh PLC yang menghitung kebutuhan kecepatan
pompa dibandingkan dengan feedback dari pressure transducer apakah naik atau
turun.

Apabila flow yang dibutuhkan kecil maka inverter akan mengurangi kecepatan
pompa. Ketika tidak ada kebutuhan flow sama sekali, pompa akan turun hingga
minimum speed dan bila selama beberapa waktu tidak ada pemakaian, pompa akan
stop Ketika pressure turun pada nilai tertentu, inverter akan aktif (wake up) dan
memerintahkan pompa untuk memenuhi target referensi pressure.
SCHEMATIC DIAGRAM
1
2
XGT LS
F1 F3

10 M 3700 mBAR
F2 F4

ESC ALM SET ENT

F 5 0. 0 F 5 0. 0
RUN STOP FWD REV RUN STOP FWD REV

MODE ESC MODE RUN

STOP STOP
ENTER ENTER
RESET RESET
50 50

ATV312 ATV312
0 100 0 100

PUMP 1 PUMP 2

DISCHARGE HEADER 5

Gambar . 1

1. Operator Display
2. Programmable Logic Control (PLC)
3. Variable Frequency Drives (Inverter)
4. Booster Pump
5. Pressure Transmitter

Note : Angka 1000 mBAR pada Display = 1 Bar pada Pressure Gauge

Angka 10 M (20 Menit) pada Display menunjukkan Waktu pergantian


II. 3 Dasar - Dasar Operasi

Terdapat 10 dasar operasi pada sistem booster dengan variable speed.

1. Pompa dapat dijalankan dengan mode manual maupun auto. Mode manual
maupun auto dapat dipilih melalui Selector Switch. Pada mode manual
kecepatan pompa dapat diatur secara manual dengan menekan tombol up
maupun down untuk menaikan atau menurunkan kecepatan pompa.

Untuk Manual Variable Speed dapat menghidupkan salah satu dari Pompa 1
atau Pompa 2.

2. Pada mode Automatic Sistem Operasi sebagai berikut :


Pertama - tama Sistem Automatic, memeritahkan Water Level Control (WLC)
Untuk mengukur level air di bak penampung, kalau level air tersebut telah
memenuhi syarat yaitu dari electrode yang telah dipasang pada Reservoar maka
Water Level Control Reservoar akan memberikan signal siap running ke sistem
control automatic pompa. Setelah itu jalankan dulu salah satu Pompa Secara Manual
sampai tekanan di Discharge Header mencapai angka 1900 pada Display atau 1.9 Bar
pada Pressure Gauge. Setelah ada tekanan pada Pipa maka kita tempatkan selector
pada posisi Automatic, dengan urutan Running sebagai berikut:
SCHEMATIC SISTEM KERJA

o Set Point Pressure = 3700 ~ Set Timer = 10 Menit


o High Pressure = 4000
o Set ACC = 7.5 ~ Set HSP (High Frequency) = 45 Hz
o Set DEC = 20 ~ Set LSP (Low Frequency) = 30 Hz
Running 1  Variable Speed ON menghidupkan Pump 1

Setelah adanya pemakaian air maka PLC akan menghidupkan VSD Pump 1
dan Variable Speed akan running apabila pressure turun dan nilainya lebih
kecil dari Set Point pressure (menu setting 1). Pompa beroperasi dengan
kecepatan yang bervariasi untuk menjaga tekanan tetap konstan sesuai dengan
Set Point pressure (menu setting 1). PLC akan memerintahkan variable
speed (inverter) untuk menaikan atau menurunkan frequensinya berdasarkan
sinyal feedback pressure transmitter untuk mempertahankan nilai pressure.
Kecepatan Pompa 1 akan bertambah seiring dengan peningkatan penggunaan
air. Dan Apabila tidak ada lagi pemakaian air maka Automatic variable speed
akan menaikan pressure sehingga pompa 1 mencapai titik High Pressure
(menu setting 2) dan setelah tercapai Variable Speed Pump 1 akan OFF

Running 2  Variable Speed ON menghidupkan Pump 2

Apabila kembali adanya pemakaian air, PLC akan menghidupkan VSD Pump
2 dan Variable Speed akan running apabila pressure turun dan nilainya lebih
kecil dari Set Point pressure (menu setting 1). Pompa beroperasi dengan
kecepatan yang bervariasi untuk menjaga tekanan tetap konstan sesuai dengan
Set Point pressure (menu setting 1). PLC akan memerintahkan variable
speed (inverter) untuk menaikan atau menurunkan frequensinya berdasarkan
sinyal feedback pressure transmitter untuk mempertahankan nilai pressure.
Kecepatan Pompa 2 akan bertambah seiring dengan peningkatan penggunaan
air. Dan Apabila tidak ada lagi pemakaian air maka Automatic variable speed
akan menaikan pressure sehingga pompa 2 mencapai titik High Pressure
(menu setting 2) dan setelah tercapai Variable Speed Pump 2 akan OFF
Running 3  Variable Speed 1 ON menghidupkan Pump 1

 Var able Speed 2 ON menghidupkan Pump 2 (Back Up ON)

Selanjutnya apabila pemakaian air bertambah banyak sehingga pressure


semakin turun dan ketika kondisi Variable Speed sudah running full speed
(frequensi 50 Hz) akan tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhan flow sistem
sehingga pressure actual (menu status 1) kurang dari Set Point pressure
(menu setting 1) maka PLC akan memerintahkan VSD Pump 2 running
sebagai pompa tambahan. Apabila kedua Pompa sudah Running diharapkan
dapat memenuhi kebutuhan pemakain. Dan Apabila tidak ada lagi pemakaian
air maka Automatic variable speed akan menaikan pressure sehingga
mencapai titik High Pressure (menu setting 2) dan setelah tercapai maka
Variable Speed Pump 1 & Variable Speed Pump 2 akan OFF

Running 4  Variable Speed 2 ON menghidupkan Pump 2

 Variable Speed 1 ON menghidupkan Pump 1 (Back Up ON)

Kembali seperti diatas apabila pemakaian air bertambah banyak sehingga


pressure semakin turun dan ketika kondisi Variable Speed sudah running full
speed (frequensi 50 Hz) akan tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhan flow
sistem sehingga pressure actual (menu status 1) kurang dari Set Point
pressure (menu setting 1) maka PLC akan memerintahkan VSD Pump 1
running sebagai pompa tambahan. Apabila kedua Pompa sudah Running
diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pemakain. Dan Apabila tidak ada lagi
pemakaian air maka Automatic variable speed akan menaikan pressure
sehingga mencapai titik High Pressure (menu setting 2) dan setelah tercapai
maka Variable Speed Pump 2 & Variable Speed Pump 1 akan OFF
3. Fungsi Timer pada Display adalah sebagai Waktu yang digunakan untuk
melakukan pergantian Pompa apabila Pompa bekerja dalam waktu Constant
Pressure.

4. Pengurangan pemakaian air akan menurunkan kecepatan pompa. Pada saat


pompa tambahan running, kecepatan terendah pompa utama akan dibatasi oleh
constant frequency (menu setting 4). Fungsi dari menu setting ini untuk
menonaktifkan pompa tambahan apabila kebutuhan flow system dapat
dipenuhi hanya oleh pompa utama. Sehingga, ketika kecepatan pompa
tambahan lebih kecil dari sleep frekuensi pompa (menu setting 3). Hal yang
sama terjadi pada pompa utama, apabila Set Point pressure (menu setting 1)
sudah tercapai dan tidak ada pemakaian air maka pompa akan non aktif.

5. Pompa secara otomatis tidak beroperasi apabila water level control


mengindikasikan low level pada tangki. Hal ini untuk mencegah kondisi dry
running pada pompa.

6. Jika motor pompa utama ataupun inverter fault, pompa yang lain secara
otomatis akan running menggantikan pompa tersebut. Selanjutnya gunakan
user manual inverter untuk mengetahui penyebab fault serta cara
menanganinya.

7. Buzzer pada panel control akan berbunyi apabila WLC (water level control)
mengindikasikan water low level maupun fault (menu status 5) pada motor
pompa maupun inverter. Untuk menonaktifkan buzzer cukup dengan
menekan tombol alarm stop pada operator interface. Apabila fault sudah
diatasi tombol reset harus ditekan untuk memastikan agar buzzer berbunyi
jika kembali terjadi fault.

8. Status operasi pompa dapat dilihat pada menu status di display. Menu status
menampilkan pressure aktual, alarm on, fault, pompa running, dan frequency
running.
III. 1 Menu Setting

MENU SETTING

Gambar.3

No Menu Fungsi Unit Kisaran


1 Setpoint pressure Nilai pressure yang diinginkan untuk Bar 0-10
dijaga tetap konstan

2 High Pressure Nilai Pressure tertinggi ketika pressure Bar 0-10


tercapai dan tidak terdapat pemakaian air
pada sistem booster dan Pompa dalam
kondisi OFF

3 Timer Operation Nilai Waktu lama bekerjanya Pompa M 0-120 M


dalam keadaan Konstan Pressure

4 Constant Frequency Nilai frequensi terendah pompa utama Hz 30-50 Hz


ketika pompa tambahan aktif. Semakin
besar perbedaan nilai frequensi ini
dengan nilai sleep frequensi pompa,
semakin cepat pompa tambahan dan
pompa utama off
III. 2 Setting Pressure

SETTING PRESSURE

Gambar.4

Gambar.5
 Untuk merubah referensi pressure, pada jendela menu utama tekan menu
F1
setup sistem untuk masuk ke jendela setup.
 Jendela Pressure akan tampil seperti di bawah ini.
o ALH = Alarm High Pressure / Buzzer ON
o HH = High Pressure / Limit Stop Pompa
o HL = Constant Pressure / Start VSD
o LL = Low Pressure / Start Pompa Back Up
o ALL = Alarm Low Pressure / Buzzer ON
SET
 Pilih Menu yang akan dirubah , setelah itu tekan tombol
Tekan pada baris angka untuk memasukan Settingan.
ENT
 Setelah di setting , tekan tombol untuk menyimpan settingan tersebut
III. 3 Setting Timer

SETTING TIMER

Gambar.6

 Untuk merubah referensi Timer, pada jendela menu utama tekan menu
SET
setup sistem untuk masuk ke jendela setup.
 Jendela Pressure akan menunjukan angka kecil untuk dirubah.
ENT
 Pilih Waktu yang ingin ditentukan , setelah itu tekan tombol
ENT
 Setelah di setting , tekan tombol untuk menyimpan settingan tersebut

III. 4 Menu Alarm

 Pada jendela Alarm akan ada message dari fault maupun log in user yang
masuk. Apabila fault itu menyebabkan buzzer berbunyi, tekan Alarm stop
untuk menonaktifkan buzzer dan tekan Reset apabila fault telah berhasil
diatasi.

III. 5 Menu Reset Default Setting

ESC
 Untuk Reset tekan tombol .
 Menu ini digunakan untuk mengganti settingan kembali ke settingan awal.
IV. Maintenance & Trouble Shooting

No Abnormal / Problem Kemungkinan Sebab Langkah Perbaikan


1 Inverter ON / OFF Kondisi Pipa Discharge Buang Air di Pipa paling Atas
cepat ada terperangkap Angin dari Instalasi Pipa dan
Jalankan Pompa secara Manual
2 Inverter Error -.Voltage Turun / Naik Tekan tombol Reset pada
-.Lonjakan Voltage Inverter
Power di OFF lalu di ON
kembali

3 Sitem Automatic tidak Air pada Reservoar habis Cek Reservoar


berfungsi Electrode Putus Cek Electrode di reservoir
Cek PLC dan Reset kembali
PLC Error

4 Pompa tidak ada Kondisi Pompa Cek Pompa dan buang Angin
tekanan terperangkap Angin melalui plug di Pompa
Body Pompa panas

5 Alarm / Buzzer -.High Pressure Cek Pressure Transmitter


Kelebihan tekanan
-.Low Pressure Cek Pompa apakah ada angin
dan Reservoar apakah dalam
keadaan kosong
NILAI SETTINGAN AWAL

No Menu
1 Constant Frequency
2 ALH
3 HH
4 HL
5 LL
6 ALL
7 Timer Operation
8