Anda di halaman 1dari 137

Modul Ekonomi Islam

Basic-Advance

Modul Ekonomi Islam Basic-Advance MenggaliPotensi, MembangunEkonomRabbani

MenggaliPotensi,

MembangunEkonomRabbani

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

DAFTAR ISI

BAB I

PENGANTAR EKONOMI ISLAM

Pengertian Ekonomi Islam

3

Tujuan Ekonomi Islam

3

Ciri-ciri Ekonomi Islam

3

Prinsip-prinsip Ekonomi Islam

4

Perbedaan Ekonomi Islam dengan Ekonomi Konvensional

5

Ekonomi Islam Saat Ini

6

BAB II

SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM

Pada Masa Pemerintahan Nabi Muhammad S.A.W

8

Pada Masa Khulafaurrasyidin

12

Pada Masa Pasca Khulafaurrasyidin

18

Pada Masa Ekonomi Klasik

20

Pada Masa Kontemporer

27

Kontribusi Ekonomi Islam Kepada Dunia

28

Mahzab-mahzab dalam Ekonomi Islam

29

BAB III

FIQH MUAMALAH

Pengertian

30

Pembagian Fiqh

30

Sumber Hukum Fiqh

30

Norma Akad

31

Transaksi

33

Khiyar

35

Jenis Akad

36

BAB IV

LEMBAGA KUANGAN SYARIAH

Perbankan Konvensional dan Perbankan Syariah

48

LembagaKeuanganSyariah Non-Bank

64

BAB V

EKONOMI MIKRO ISLAM

Teori Konsumsi dalam Islam

76

Teori Produksi dalam Islam

80

Teori Permintaan dan Penawaran dalam Islam

83

Mekanisme Pasar dalam Islam

87

Unfair Market dalam Islam

89

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

BAB VI

EKONOMI MAKRO ISLAM

Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam

92

Nilai Tukar Uangdalam Islam

96

Kebijakan dan Instrumen MoneterdalamPerspektif Islam

98

BAB VII

PENGANTAR AKUNTANSI SYARIAH

Pengertian

104

SejarahAkuntansiSyariah

104

StandarAkuntansiSyariah

107

LaporanKeuanganSyariah

108

BAB VIII

PASAR MODAL SYARIAH

Pengertian

110

SejarahPasar Modal Syariah

110

ProdukSyariah di Pasar Modal

111

Transaksi yang DilarangdalamPasar Modal Syariah

114

BAB IX

ZISWAF

Zakat

115

Infaq

121

Sedekah

122

Wakaf

124

BAB X

Ke-FoSSEI-an

TentangFoSSEI

126

SejarahFoSSEI

126

TujuandanFungsiFoSSEI

126

VisidanMisiFoSSEI

127

ArtiLambangFoSSEI

127

Presidium Nasional

127

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

BAB I PENGANTAR EKONOMI ISLAM

A. Pengertian Ekonomi Islam Berbagai ahli ekonomi Muslim memberikan definisi ekonomi Islam yang bervariasi, tetapi pada dasarnya mengandung makna yang sama. Pada intinya, ekonomi Islam adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya untuk memandang, meneliti dan menyelesaikan permasalahan- permasalahan ekonomi dengan cara-cara yang Islami (yaitu didasarkan atas Al-Quran dan Sunnah Nabi).

B. Tujuan Ekonomi Islam

1. Mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat (falah) melalui suatu tata kehidupan yang baik dan terhormat (hayyah thayyibah).

2. Mencapai kesejahteraan manusia yang terletak pada perlindungan terhadap lima ke-mashlahah-an yaitu keimanan (ad dien), ilmu (al „ilm), kehidupan (an nafs), harta (al maal), kelangsungan keturunan (an nash). Kelima mashlahah tersebut merupakan sarana yang sangat dibutuhkan bagi kelangsungan kehidupan yang baik dan terhormat. (Menurut As-Shatibi)

3. Membangun keimanan yang mampu membentuk preferensi, sikap, keputusan dan perilaku yang mengarah pada perwujudan mashlahah untuk mencapai falah.

4. Menciptakan kehidupan yang seimbang, mencakup keseimbangan fisik dengan mental, material

dengan spiritual, individu dengan sosial, masa kini dengan masa depan, serta dunia dengan akhirat.

C. Ciri-ciri Ekonomi Islam

1. Memelihara fitrah manusia. Islam adalah agama yang sesuai dengan kefitrahan manusia. Fitrah manusia adalah sejauh apapun ia berjalan menyelisihi fitrha kemanusiaannya, ia akan berusaha mencari jalan kembali.

2. Memelihara norma-norma akhlak. Islam membawa ajaran dasar tauhid, akhlaq dan ajaran yang berhubungan aspek jiwa, akal, materi dan sosial. Maka kita harus berakhlaq yang baik kepada semua orang dan jangan pernah menganggap rendah orang lain.

3. Memenuhi keperluan-keperluan masyarakat. Islam mendahulukan kepentingan masyarakat umum dari pada kepentingan pribadi.

4. Kegiatan-kegiatan ekonomi adalah kebahagian dari ajaran agama Islam.

5. Kegiatan ekonomi Islam mempunyai cita-cita luhur. Yaitu bertujuan berusaha untuk mencari keuntungan individu, disamping melahirkan kebahagiaan bersama bagi masyarakat.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

6. Aktivitas-aktivitas ekonomi Islam senantiasa diawasi oleh hukum-hukum islam dan

pelaksanaannya dikawal pula oleh pihak pemerintah.

7. Ekonomi Islam menyeimbangkan antara kepentingan individu dan masyarakat.

D. Prinsip-prinsip Ekonomi Islam

Prinsip-prinsip dalam ekonomi Islamakan membentuk keseluruhan kerangka ekonomi Islam,

yang jika diibaratkan sebagai sebuah bangunan dapat divisualisasikan sebagai berikut:

AKHLAK
AKHLAK

Perilaku islami dalam bisnis danbangunan dapat divisualisasikan sebagai berikut: AKHLAK Multitype Freedom To Act Social Ownership

Multitype

Freedom To Act

Social

Ownership

Justice

Tauhid

„Adl

Nubuwah

Khilafah

Ma‟ad

Prinsip-prinsip Tauhid „Adl Nubuwah Khilafah Ma‟ad sistem ekonomi Islam Teori ekonomi Islam Bangunan ekonomi

sistem ekonomi

Islam

Teori ekonomi Khilafah Ma‟ad Prinsip-prinsip sistem ekonomi Islam Islam Bangunan ekonomi Islam didasarkan atas lima nilai

Islam

Bangunan ekonomi Islam didasarkan atas lima nilai universal, yakni: tauhid (keimanan), „adl

(keadilan), nubuwwah (kenabian), khilafah (pemerintahan), dan ma‟ad (hasil). Kelima nilai ini

menjadi dasar inspirasi untuk menyusun proposisi-proposisi dan teori-teori ekonomi islam.

Namun, teori yang kuat dan baik tanpa diterapkan menjadi sistem, akan menjadikan ekonomi

Islam hanya sebagai kajian ilmu saja tanpa memberi dampak pada kehidupan ekonomi. Oleh karena

itu, dari kelima nilai-nilai universal tersebut, dibangunlah tiga prinsip derivatif yang menjadi ciri-ciri

dari cikal bakalsistem ekonomi Islam. Ketiga prinsip derivatif itu adalah: multitype ownership,

freedom to act, dan social justice.

Di atas semua nilai dan prinsip yang telah diuraikan di atas, dibangunlah konsep yang

memayungi kesemuanya, yakni konsep akhlah. Akhlak menempati posisi puncak, karena inilah yang

menjadi tujuan Islam dan dakwah para Nabi, yakni untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Prinsip-prinsip Derivatif: Ciri-ciri Sistem Ekonomi Islam

1. Multitype Ownership (Kepemilikan Multijenis)

Nilai tauhid dan nilai „adl melahirkan konsep multitype ownership. Prinsip ini adalah

terjemahan dari nilai tauhid:pemilik primer langit, bumi, dan sisanya adalah Allah, dan manusia

hanya sebagai pemilik sekunder.Sedangkan untuk menjamin keadilan, maka cabang-cabang

produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

2. Freedom to Act (Kebebasan Bertindak/Berusaha) Keempat nilai nubuwwah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad (shiddiq, amanah, fathanah dan tabligh) bila digabungkan dengannilai keadilan dan nilai khilafah (good governance) akan melahirkan freedom to act pada Muslim, khususnya pada pelaku ekonomi dan bisnis. Freedom to act bagi setiap individu akan menciptakan mekanisme pasar dalam perekonomian.

3. Social Justice (Keadilan Sosial) Gabungan nilai khilafah dan nilai ma‟admelahirkan prinsip keadilan sosial. Dalam Islam, pemerintahbertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya dan keseimbangan sosial antara yang kaya dan yang miskin. Semua sistem ekonomi memiliki tujuan yang sama yaitu menciptakan sistem perekonomian yang adil. Dalam Islam, keadilan diartikan dengan suka sama sukadan tidak ada yang terdzalimi. Prinsip-prinsip ekonomi Islam secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Berbagai jenis sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan Allah swt kepada manusia.

2. Islam mengakui kepemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu, termasuk kepemilikan alat produksi dan faktor produksi.

3. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.

4. Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh beberapa orang saja.

5. Ekonomi Islam menjamin kepemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan orang banyak.

6. Seorang Muslim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.

7. Seorang Muslim yang kekayaannya melebihi ukuran tertentu (nisab) diwajibkan membayar zakat.

8. Islam melarang riba dalam segala bentuk.

E. Perbedaan Ekonomi Islam dengan Ekonomi Konvensional Terdapat perbedaan paradigma yang mendasari ekonomi konvensional dengan paradigma ekonomi Islam. Keduanya tidak mungkin untuk di kompromikan, karena adanya perbedaan sudut pandang. Ekonomi konvensional melihat bahwa ilmu hanya berorientasi pada sekuler (kehidupan duniawi). Sedangkan ekonomi Islam dibangun atas prinsip-prinsip religius, tidak hanya berorientasi pada kehidupan dunia tetapi juga kehidupan akhirat. Dalam ekonomi konvensional, manusia disebut rasional secara ekonomi. Mereka selalu memaksimumkan kepentingan sendiri, yaitu utility untuk konsumen dan keuntungan untuk produsen. Sedangkan dalam ekonomi Islam pelaku ekonomi, produsen maupun konsumen akan berusaha memaksimalkan mashlahah. Segala keadaan yang mengarah pada menurunnya nilai mashlahah selalu dihindari bahkan dicegah.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

Ekonomi Islam mempelajari apa yang (akan dan telah) terjadi pada individu dan msyarakat yang perilaku ekonominya diilhami oleh nilai-nilai Islam. Sedangkan ekonomi konvensional hanya mempelajari perilaku ekonomi manusia yang ada. Ekonomi Konvensional beorientasi pada keuntungan materi (profit oriented) semata dan mengabaikan nilai-nilai moral serta mengedepankan sistem bunga dalam transaksi ekonominya. Sementara ekonomi Islam tidak melegitimasi adanya bunga dalam transaksi ekonomi, tapi yang dikenal adalah nisbah (prosentase) bagi hasil. Ekonomi Islam bertolakbelakang dengan ekonomi kapitalis yang cenderung individualistik, ekonomi sosialis yang lebih mengutamakan kebersamaan (kolektivitas) dan komunisme yang ekstrim. Ekonomi dalam Islam harus mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, memberikan rasa adil, kebersamaan dan kekeluargaan serta mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha.

F. Ekonomi Islam Saat Ini Kemunculan ilmu Islam ekonomi modern di panggung internasional, dimulai pada tahun 1970-an. Ditandai dengan kehadiran para pakar ekonomi Islam kontemporer, seperti Muhammad Abdul Mannan, M. Nejatullah Shiddiqy, Kursyid Ahmad, An-Naqvi, M. Umer Chapra, dll. Pada tahun 1975 berdiri Islamic Development Bank dan selanjutnya diikuti pendirian lembaga-lembaga perbankan dan keuangan Islam lainnya di berbagai negara. Pada tahun 1976 para pakar ekonomi Islam dunia berkumpul untuk pertama kalinya dalam sejarah pada International Conference on Islamic Economics and Finance, di Jeddah. Di Indonesia, momentum kemunculan ekonomi Islam dimulai tahun 1990an. Ditandai berdirinya Bank Muamalat Indoeesia tahun 1992. Sepanjang tahun 1990an perkembangan ekonomi syariah di Indonesia relatif lambat. Tetapi pada tahun 2000an terjadi gelombang perkembangan yang sangat pesat ditinjau dari sisi pertumbuhan aset, omset dan jaringan kantor lembaga perbankan dan keuangan syariah. Pada saat yang bersamaan juga mulai muncul lembaga pendidikan tinggi yang mengajarkan ekonomi Islam.

1. Tantangan dan Problem Adanya perkembangan ekonomi global dan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap ekonomi dan perbankan Islam, ekonomi Islam menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan-tantangan yang besar. Ada lima problem dan tantangan yang dihadapi ekonomi Islam saat ini. Pertama, masih minimnya pakar ekonomi Islam berkualitas yang menguasai ilmu-ilmu ekonomi modern dan ilmu-ilmu syariah secara integratif. Kedua, ujian atas kredibiltas sistem ekonomi dan keuangannya. Ketiga, perangkat peraturan, hukum dan kebijakan, baik dalam skala nasional maupun internasional masih belum memadai. Keempat, masih terbatasnya perguruan tinggi yang mengajarkan ekonomi Islam dan masih minimnya lembaga tranining dan consulting

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

dalam bidang ini. Sehingga SDI di bidang ekonomi dan keuangan syariah masih terbatas dan belum memiliki pengetahuan ekonomi syariah yang memadai. Kelima, peran pemerintah baik eksekutif maupun legislatif masih rendah terhadap pengembangan ekonomi syariah, karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan mereka tentang ilmu ekonomi Islam.

2. Gerakan Menghadapi Tantangan Sadar akan berbagai problem ditambah dengan kondisi ekonomi bangsa (umat) yang masih terpuruk. Para ekonom muslim yang terdiri dari akademisi dan praktisi ekonomi Islam se- Indonesia berkumpul di Jakarta, di Istana Wakil Presiden Republik Indonesia pada tanggal 3 Maret 2004 dalam sebuah forum Konvensi Nasional Ekonomi Islam. Keesokan harinya, pada tanggal 4 maret 2004, di Universitas Indoensia, dideklarasikan lahirnya sebuah wadah Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) oleh para tokoh ekonomi Islam nasional, Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, ulama (MUI), K.H Maruf Amin, Direktur Utama Bank Muamalat, A.Riawan Amin, Ketua Umum BAZIS saat itu Ahmad Subianto, pakar ekonomi Islam dari Timur, Prof. Halidey, dan disaksikan ratusan ahli/akademisi dan praktisi ekonomi syariah se-Indoensia. Dari acara konvensi nasional dan deklarasi IAEI, para akademisi, praktisi, ulama dan regulator (BI), bergabung, bersinergi dan memiliki visi yang sama untuk mengembangkan ekonomi Islam di Indonesia, setelah sehari sebelumnya mendapat dukungan dan respon positif dari Wakil Presiden Republik Indonesia, Hamzah Haz. Ketika itu ada keyakinan bersama, yaitu jika berbagai elemen penting dari umat tersebut bersinergi, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, ekonomi Islam akan mampu memberikan konstribusi yang besar dan nyata bagi pembangunan ekonomi bangsa yang sekian lama terpuruk dalam krisis moneter dan ekonomi. Oleh karena itu IAEI merumuskan visinya, yaitu menjadi wadah para pakar ekonomi Islam yang memiliki komitmen dalam mengembangkan dan menerapkan ekonomi syariah di Indonesia. Sebagai sebuah wadah assosiasi para pakar dan profesional, IAEI lebih mengutamakan program pengembangan Ilmu Pengetahuan di bidang ekonomi syariah melalui riset ilmiah untuk dikontribusikankan bagi pembangunan ekonomi, baik ekonomi dunia maupun ekonomi Indonesia. Karena itu IAEI terus bekerja membangun tradisi ilmiah di kalangan akademisi dan praktisi ekonomi syariah di Indonesia. Misi IAEI selanjutnya ialah menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas di bidang ekonomi dan keuangan Islam melalui lembaga pendidikan dan kegiatan pelatihan. Membangun sinergi antara lembaga keuangan syariah, lembaga pendidikan dan pemerintah dalam membumikan ekonomi syariah di Indonesia. Selain itu IAEI juga akan berusaha membangun jaringan dengan lembaga-lembaga internasional, baik lembaga keuangan, riset maupun organisasi investor internasional.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

BAB II SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM

A. Pada Masa Pemerintahan Nabi Muhammad S.A.W 1. Latar Belakang Sosial Pada masa Arab pra-Islam atau yang sering disebut masa jahiliyahsudah biasa melakukan transaksi berbau riba. Ath-Thabari menyatakan: "Pada masa jahiliyah, praktik riba terletak pada penggandaan dan kelebihan jumlah umur satu tahun. Misalnya, seorang berhutang. Ketika sudah jatuh tempo, datanglah pemberi hutang untuk menagihnya seraya berkata, Engkau akan membayar hutangmu ataukah akan memberikan tambahan (bunga) nya saja kepadaku?Jika ia memiliki sesuatu yang dapat ia bayarkan maka ia pun membayarnya. Jika tidak, maka ia akan menyempurnakannya hingga satu tahun ke depan. Jika hutangnya berupa ibnatu makhadh (anak unta yang berumur satu tahun, maka pembayarannya menjadi ibnatu labun (anak unta yang berumur dua tahun) pada tahun kedua dan seterusnya hingga ia mampu membayarnya.Begitu pula juga dalam hal hutang emas ataupun uang, berlaku riba. Sebagai pelaku ekspor impor, jazirah Arab memiliki pusat kota tempat bertransaksi yaitu kota Makkah. Kota Makkah merupakan kota suci yang setiap tahunnya dikunjungi, terutama karena disitulah terdapat bangunan suci Ka'bah. Selain itu di Ukaz terdapat pasar sebagai tempat bertransaksi dari berbagai belahan dunia dan tempat berlangsungnya perlombaan kebudayaan (puisi Arab). Oleh karena itu kota tersebut menjadi pusat peradaban baik politik, ekonomi, dan budaya yang penting.Makkah merupakan jalur persilangan ekonomi internasional, hal ini menyebabkan masyarakat Makkah memiliki peran strategis untuk berpartisipasi dalam dunia perekonomian tersebut. Mereka digolongkan menjadi tiga, yaitu:

a. para konglomerat yang memiliki modal,

b. para pedagang yang mengolah modal dan para konglomerat

c. para perampok dan rakyat biasa yang memberikan jaminan keamanan kepada para khafilah pedagang dari perantauan, mereka mendapatkan laba keuntungan sebesar sepuluh persen. Alat pembayaran yang mereka gunakan adalah koin yang terbuat dari perak, emas atau logam mulia lain yang ditiru dari mata uang Persia dan Romawi. Sampai sekarang koin tersebut masih tersimpan disejumlah museum di Timur Tengah. Dari berbagai sumber sejarah diketahui bahwa mata uang pada masa jahiliyah dan pada masa permulaan Islam, terdiri, dari dua macam: dinar dan dirham. Mata uang dirham terbuat dari perak, terdiri dari tiga jenis: Bughliyah, Jaraqiyah, dan Thabariyah. Ukurannya beragam, bughliyah beratnya 4,66 gram, Jaraqiyah beratnya 3,40 gram, dan Thabariyah beratnya 2,83 gram. Sedangkan mata uang dinarterbuat dari emas. Pada masa jahiliyah dan pada permulaan Islam, Syam dan Hijaz menggunakan mata uang dinar yang seluruhnya adalah mata uang Romawi. Mata

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

uang ini dibuat di negeri Romawi, berukiran gambar raja, bertuliskan huruf Romawi. Satudinar pada masa itu setara dengan 10 dirham. Pemikiran Ekonomi Islam diawali sejak Muhammad SAW ditunjuk sebagai seorang Rasul. Rasululah SAW mengeluarkan sejumlah kebijakan yang menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kemasyarakatan, selain masalah hukum (fiqih), politik(siyasah), juga masalah perniagaan atau ekonomi (muamalah). Masalah-masalah ekonomi umat menjadi perhatian Rasulullah SAW, karena masalah ekonomi merupakan pilar penyangga keimanan yang harus

diperhatikan.

Pada saat nabi Muhammad S.A.W melakukan hijrah ke Yastrib (Madinah), keadaan di Yastrib masih sangat kacau. Mereka belum memiliki pemimpin ataupun raja yang berdaulat serta

hukum dan pemerintahan. Keadaan kabilah-kabilah yang berada di Yastrib juga masih saling

bertikai.

Pada saat di Mekkah, Rasulullah hanya seorang pemuka agama, keadaannya berubah saat beliau hijrah ke Madinah. Rasulullah menjadi pemimpin bagi bangsa Madinah. Dibawah kepemimpinannya, Madinah berkembang cepat dan dalam waktu sepuluh tahun telah mennjadi Negara yang sangat besar dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya di seluruh jazirah Arab. Sebagai kepala dari suatu Negara yang baru terbentuk, ada beberapa hal yang segera mendapat perhatian beliau seperti :

a. Membangun masjid utama sebagai tempat untuk menjadi pusat aktivitas umat muslim

b. Merehabilitasi muhajirin Mekkah dan Madinah

c. Menciptakan kedamaian dalam Negara

d. Menegakkan hak dan kewajiban bagi warga negaranya

e. Membuat konstitusi Negara

f. Menyusun sistem pertahanan Madinah

g. Meletakkan dasar-dasar sistem keuangan Negara

Pada masa Rasulullah SAW, tidak ada tentara formal. Semua muslim yang mampu boleh jadi tentara. Mereka tidak mendapatkan gaji tetap, tetapi mereka diperbolehkan mendapatkan bagian dari harta rampasan perang. Rampasan tersebut meliputi senjata, kuda, unta, domba, dan barang- barang bergerak lainnya yang didapatkan dari perang. Situasi berubah setelah turunnya Surat Al- Anfalayat 41 : “Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, Kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad)di hari furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

Rasulullah SAW biasanya membagi seperlima (khums) dari rampasan perang tersebut menjadi tiga bagian, bagian pertama untuk beliau dan keluarganya, bagian kedua untuk kerabatnya dan bagian ketiga untuk anak yatim piatu, orang yang sedang membutuhkan dan orang yang sedang dalam perjalanan. Empat perlima bagian yang lain dibagi diantara prajurit yang ikut perang, dalam kasus tertentu beberapa orang yang tidak ikut serta dalam perang juga mendapat bagian. Penunggang kuda mendapat dua bagian, untuk dirinya sendiri dan kudanya. Pada masa Rasulullah SAW, beliau mengadopsi praktik yang lebih manusiawi terhadap tanah pertanian yang telah ditaklukkan sebagai fay‟ atau tanah dengan kepemilikan umum. Tanah-tanah ini dibiarkan dimiliki oleh pemilikinya dan penanamnya, sangat berbeda dari praktik kekaisaran Romawi dan Persia yang memisahkan tanah ini dari pemiliknya dan membagikannya kepada elit militernya dan para prajurit. Semua tanah yang dihadiahkan kepada Rasulullah SAW (iqta‟) relatif lebih kecil jumlahnya dan terdiri dari tanah-tanah yang tidak bertuan. Kebijakan ini tidak hanya membantu mempertahankan kesinambungan kehidupan administrasi dan ekonomi tanah-tanah yang dikuasai, melainkan juga mendorong keadilan antar generasi dan mewujudkan sikap egaliter. Pada tahun kedua setelah hijrah diperintahkan untuk shodaqoh fitrah, sementara zakat pada tahun ke-9 hijriah.Shodaqoh ini kemudian dengan Zakat Fitrah yang dibayarkan setiap setahun sekali pada bulan ramadhan. Besarya satu sha kurma, gandum, tepung keju, atau kismis, setengah sha gandum untuk setiap muslim, budak atau orang bebas, laki-laki atau perempuan, muda atau tua dan dibayar sebelum Shalat Idul Fitri. Pada masa Rasulullah, sumber pendapatan dibagi menjadi dua,yaitu Primer dan Sekunder:

a. Pendapatan Primer

Zakat Zakat mulai diwajibkan pada tahun ke-9 hijriah, berbeda dengan pajak dan diberlakukan tidak seperti pajak.Pengeluaran untuk zakat tidak dapat dibelanjakan untuk pengeluaran umum negara karena zakat berguna untuk membantu masyarakat yang tidak mampu. Pemerintah pusat baru hanya berhak mengambil keuntungan bila terjadi surplus (saat tidak ada orang yang berhak menerima lagi). Pada masa rasulullah, zakat dikenakan pada hal-hal berikut :

1)

a) Benda logam yang terbuat dari emas.

b) Benda logam yang terbuat dari perak.

c) Binatang ternak unta, sapi, domba, dan kambing

d) Berbagai jenis barang dagangan termasuk budak dan hewan

e) Hasil pertanian termasuk buah-buahan

f) Luqta, harta benda yang ditinggalkan musuh

g) Rikaz, harta karun

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

2) „Ushur (Bea Impor) Adalah bea impor yang dikenakan kepada semua pedagang, dibayar hanya sekali dalam setahun dan hanya berlaku terhadap barang yang nilainya lebih dari 200 dirham. Tingkat bea orang kafir zimmi adalah 5% dan pedagang muslim 2,5%. 3) „Ushr Adalah zakat yang dibebankan pada hasil pertanian

b. Pendapatan Sekunder 1) Uang tebusan untuk para tawanan perang (hanya pada kasus perang Badar, perang Hunain enam ribu tawanan dibebaskan tanpa uang tebusan).

2)

Pinjaman-pinjaman (setelah penaklukan kota Mekkah).

3)

Khumusatas rikaz, harta karun temuan pada periode sebelum Islam.

4) Amwal Fadhla, berasal dari harta benda kaum muslimin yang meninggal tanpa ahli waris,

atau berasal dari barang-barang seorang muslim yang meninggalkan negerinya. Wakaf, harta benda yang didedikasikan kepada umat islam karena allah dan pendapatannya akan didepositokan di Baitul Maal.

6) Nawaib, pajak yang jumlahnya cukup besar dan dibebankan kepada umat muslim yang kaya untuk menutupi biaya selama kondisi darurat. 7) Jizyah, pajak yang dibebankan kepada penduduk non-muslim untuk mendapatkan hak perlindungan.

8)

9) Zakat Fitrah. 10) Shadaqah, seperti qurban dan kaffarat (denda atas kesalahan yang dilakukan seorang muslim pada acara keagamaan seperti berburu pada musim haji). 11) Ghanimah, harta rampasan perang atas musuh yang kalah. 12) Fay‟, harta yang ditinggalkan oleh pemiliknya tanpa peperangan. Pada masa Rasulullah, sumber pengeluaran Negara juga dibagi menjadi dua:

5)

Kharaj, pajak tanah.

Primer

Sekunder

Biaya Pertahanan, seperti:

Bantuan untuk orang yang belajar agama di Madinah

persenjataan, unta, kuda, dan persediaan.

Penyaluran zakat dan ushr kepada yang berhak menerimanya menurut Al- Qur‟an

Hiburan untuk para delegasi keagamaan

Hiburan untuk para utusan suku dan negara serta biaya perjalanan mereka

Hadiah untuk pemerintah negara lain

Pengeluaran untuk duta-duta negara

Pembayaran denda atas mereka yang terbunuh secara

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

Pembayaran gaji untuk wali, qadi, guru, imam, muadzin, dan pejabat negara lainnya.

Pembayaran upah para sukarelawan

tidak sengaja oleh kaum muslimin

Pembebasan kaum muslimin yang menjadi budak

Pembayaran utang orang yang meninggal dalam keadaan miskin

Pembayaran tunjangan untuk orang miskin

Pembayaran utang negara

Tunjangan untuk sanak saudara Rasulullah

Bantuan untuk musafir

Persediaan darurat

Pengeluaran rumah tangga Rasulullah (hanya sejumlah kecil; 80 butir kurma dan 80 butir gandum untuk setiap istrinya )

B. Pada Masa Khulafaurrasyidin

1. Abu Bakar As-Shiddiq (632 - 634 M) Abu Bakar dilahirkan di Mekkah setelah dua setengah tahun dari tahun gajah atau lima puluh setengah tahun sebelum dimulainya hijrah. Abu Bakar temasuk suku quraisy dari bani Taim, dan selisih keturunannya sama dengan Rasulullah saw dari garis ke-7. Abu Bakar As-Shidiq mendapat kepercayaan pertama dari kalangan muslim untuk menggantikan Rasulullah saw setelah beliau wafat.Terdapat beberapa kriteria yang melekat pada diri Abu Bakar r.a sehingga kaum muslimin

mempercayainya untuk menjadikanya pemimpin Islam, diantaranya adalah terdapat ketaatan dan keilmuan yang luar biasa, faktor kesenioran diantara yang lain, dan faktor kesetiaan dalam mengikuti dan mendampingi Rasulullah saw dalam menyiarkan agama Islam. Sebelum menjadi khalifah Abu Bakar tinggal di pinggiran kota Madinah. Setelah 6 bulan, Abu Bakar pindah ke Madinah dan bersamaan dengan itu sebuah Baitul Mal dibangun. Ciri khas dari masa pemerintahan Abu bakar yang hanya 2 tahun ini adalah sebagai berikut:

a. Pasca kematian Rasulullah SAW, banyak kaum yang menjadi murtad, nabi palsu, dan pembangkangan atas zakat. Mereka beralasan bahwa mereka hanya setia pada Rasul maka ketika beliau wafat, maka selesai pula perjanjian itu. Karenanya, Abu Bakar memerangi mereka dengan yang disebut Perang Riddat (Perang Melawan Kemurtadan).

b. Pada masa Abu Bakar juga mulai dilakukannya kegiatan ekspansi ke utara mengingat pada masa itu Romawi dan Persia mulai menjadi ancaman dalam perkembangan Islam. Walaupun misi itu belum terlaksana hingga beliau wafat.

c. Pada awalnya, Abu Bakar hanya mendapat tunjangan ¾ dirham setiap harinya ditambah daging domba dan pakaian biasa. Namun ternyata kebutuhan itu tidak mencukupi keluarganya, sehingga di masa ini tunjangan khalifah dinaikan menjadi 2000 atau 2500 dirham, atau menurut riwayat lain 6000 dirham per tahun. Namun menjelang beliau wafat, ia

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

kesulitan untuk mendapatkan pendapatan negara. Akhirnya ia kembali menjual sebagian besar tanahnya untuk diserahkan pada negara. Sementara, dia juga meminta fasilitas yang selama ini ia dapatkan dari Baitul Maal diserahkan pada pengganti selanjutnya.

d. Abu Bakar pun sangat memperhatikan zakat. Ia sangat perhitungan dalammencegahterjadinya

kurang bayar atau lebih bayar zakat, sehingga ia akanmengembalikan sisanya.Misalkan jika muzzaki yang awalnya harus membayar satu ekor unta usia 1 tahun, namun pemiliknya hanya memiliki yang 2 tahun, maka petugas zakat diperintahkan untuk membayar senilai 1 tahunnya.

e. Menerangkan konsep balance budget policy pada Baitul Maal. Yang menarik dari kepemimpinan beliau adalah ketika beliau mendekati wafatnya, yaitu kebijakan internal dengan mengmbalikan kekayaan kepada Negara karena melihat kondisi Negara yang belum pulih dari krisis ekonomi. Beliau lebih mementingkan kondisi rakyatnya dari pada kepentingan individu dan keluarganya. Abu Bakar r.a meninggal pada 13H/13 Agustus 634 M dalam usia 63 tahun, dan kekhalifahanya berlangsung selama dua tahun tiga bulan sebelas hari. Jenazah Abu Bakardimakamkan disamping makam Rasulullah saw. Berkaitan dengan kebijakan fiskal masa kekhalifahan Abu Bakar r.a yaitu melanjutkan kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan oleh Rasulullah saw. Hanya saja ada beberapa kebijakan fiskal beliau yang cukup dominan dibandingkan dengan yang lainya yaitu pemberlakuan

kembali kewajiban zakat setelah banyak yang membengkangnya. Kebijakan selanjutnya adalah selektif dan kehati-hatian dalam mengelola zakat sehingga tidak dapat ditemukan penyimpangan

didalamnya.

2. Umar bin Khattab (634 - 644 M) Berikut secara ringkas kebijakan di masa Umar bin Khattab:

a. Pada masa kekhalifahan Umar banyak dibangun saluran irigasi, waduk, tangki kanal, dan pintu air sebaguna untuk mendistribusikan air di ladang pertanian.

b. Hukum perdagangan juga mengalami penyempurnaan untuk menciptakan perekonomian secara sehat. Umar mengurangi beban pajak untuk beberapa barang, pajak perdagangan nabati dan kurma Syiria sebesar 50%. Hal ini untuk memperlancar arus pemasukan bahan makanan ke kota. Pada saat yang sama juga dibangun pasar agar tercipta perdagangan dengan persaingan yang bebas. Serta adanya pengawasan terhadap penekanan harga.

c. Pada masa ini, Baitul Maal menjadi lembaga yang permanen dan reguler. Jika sebelumnya Rasulullah hanya mencetuskan dan Abu Bakar meneruskan, saat ini Baitul Maal lebih dikelola secara profesional. Baitul Maal ini dipelopori karena Abu Hurairah membawa kharaj hingga 500.000 dirham. Maka dibangunlah bangunan Baitul Mal secara terpisah dan permanen di Madinah serta diseluruh provinsi. Bahkan di Mesir, Baitul Mal telah

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

mengumpulkan dana hingga 2 juta dinardan di Sawad mencapai 200 juta dinar.Harta Baitul Mal dipergunakan mulai untuk menyediakan makanan bagi para janda, anak-anak yatim, serta anak-anak terlantar, membiayai penguburan orang-orang miskin, membayarkan utang orang- orang yang bangkrut, membayar uang diyat, untuk kasus-kasus tertentu, sampai untuk pinjaman tanpa bunga untuk tujuan komersial.

d. Mendirikan Diwan Islam yang disebut Al-Divan. Al-Divan adalah kantor yang mengurusi pembayaran tunjangan-tunjangan angkatan perang dan pensiun serta tujangan lainnya secara reguler dan tepat.

e. Pengeluaran negara tidak lagi langsung dihabiskan, namun dikeluarkan secarabertahapbahkan mulai menerapkan asas surplus untuk cadangan.

f. Dana yang besar tersebut tidak serta merta melahirkan keserakahan. Tunjangan bagi khalifah hanya 5000 dirham ditambah pakaian dan tunggangan di musim haji.Bahkan Umar pernah meminjam dana Baitul Maal untuk kebutuhan pribadinya.

g. Pada masa ini, harta zakat dan ushr pertanian tetap diperuntukan bagi kaum 8Asnaf.

h. Pejabat Baitul Maal tidak bertanggung jawab terhadap gubernur, iabertanggungjawabterhadap pemerintah pusat. Maka eksekutif tidak bolehmengintervensi Baitul Maal.

i. Pada masa ini dibentuk beberapa departemen, yaitu: Departemen Pelayanan Militer, Departemen Kehakiman dan Eksekutif, Departemen Pendidikan danPengembangan Islam, dan Departemen Jaminan Sosial.

j. Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, seluruh rakyat mendapatkantunjangan dari negara. Dimana setiap warga negara mendapatkan tunjangan,makanan, dan pakaian. Prinsip yang digunakan adalah keutamaan, yaitudidasarkan pada seberapa besar mereka itu andil dalam perjalanan Islam. Maka bagi kalangan Muhajirin akan mendapatkan bagian yang lebih baik dari penduduk negeri taklukan. Sesungguhnya hal ini pernah diprotes oleh Hakim bin Hizam, karena menyebabkan para pedagang Hijaz menjadi malas dan mengganggu perekonomian. Dan saat itu, Khalifah menyadari kekeliruannya dalam mendistribusikan keuangannya sehingga sangat ingin merubahnya jika beliau masih memiliki umur. Namun beliau wafat sebelum merubahnya.

k. Kepemilikan tanah menggunakan prinisp kharaj, sehingga tidak dibagi-bagikan kepada umat muslim. Tanah itu juga dikelola oleh mereka yang ahli, sehingga lebih produktif. Perampasan tanah tanpa mempertimbangkan produktifitasnya adalah bentuk perampasan hak publik. Bagi tanah-tanah yang tidak dikelola akan diambil alih oleh negara.

l. Ushr atau pajak perdagangan di masa ini dikembangkan bagi pedagang kafirharbi (negeri yang tidak tunduk pada umat muslim) sebesar 10%.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

m. Sedekah non-Muslim, disini hanya Bani Taghlib Kristen yang membayar karena mereka ikut berperang dengan gagah berani. Mereka enggan membayar Jizyah karena merasa gengsi dan bukan musuh islam sendiri. Karenanya mereka boleh memberi sedekah dua kali lipat dengan syarat tidak membaptis anak mereka. Anak-anak mereka diberi kebebasan untuk agama yang mereka anut. Khalifah Umar juga membentuk komite yang terdiri dari Nassab ternama untuk membuat laporan sensus penduduk Madinah sesuai dengan tingkat kepentingan dan kelasnya. KhalifahUmar menetapkan beberapa peraturan sebagai berikut:

a. Wilayah Irak yang ditaklukan menjadi muslim, sedangkan bagian yang berada dibawah perjanjian damai tetap dimiliki oleh pemilik sebelumnya dan kepemilikannya tersebut dapat dialihkan.

b. Kharaj (pajak yang dibayarkan oleh pemilik-pemilik tanah negara taklukan), dibebankan pada semua tanah yang termasuk kategori pertama, meskipun pemilik tersebut kemudian memeluk Islam dengan demikian tanah seperti itu tidak dapat dikonversi menjadi tanah ushr.

c. Bekas pemilik tanah diberi hak kepemilikan, sepanjang mereka memberi kharaj dan jizyah (pajak yang dikenakan bagi penduduk non muslim sebagai jaminan perlindungan oleh negara)

d. Sisa tanah yang tidak ditempati atau ditanami (tanah mati) atau tanah yang diklaim kembali bila ditanami oleh muslim diperlakukan sebagai tanah ushr.

e. Di Sawad, kharaj dibebankan sebesar satu dirham atau satu rafiz (satu ukuran lokal) gandum dan barley (sejenis gandum) dengan anggapan tanah tersebut dapat dilalui air. Harga yang lebih tinggi dikenakan kepada ratbah (rempah atau cengkih) dan perkebunan,

f. Di Mesir, menurut sebuah perjanjian Amar, dibebankan dua dinar, bahkan hingga tiga irdabb gandum, dua qist untuk setiap minyak, cuka, dan madu dan rancangan ini telah disetujui Khalifah.

g. Perjanjian Damaskus (Syiria) menetapkan pembayaran tunai, pembagian tanah dengan muslim. Beban per kepala sebesar satu dinar dan beban satu jarib (unit berat) yang diproduksi per jarib (ukuran) tanah.

3. Utsman bin Affan (644-656 M) Utsman bin Affan r.a atau Utsman bin Affan bin Abi Al-As bin Umayah bin Umawy Al- Quraisy, dipanggil Abu Abdullah, dan mendapat gelar Zu Al-Nuirain (pemilik dua cahaya) dan beliau adalah khalifah yang ketiga dari pemerintahan khulafaurrasyidin dan merupakan seorang dari beberapa orang terkaya diantara sahabat nabi. Kekayaannya membantu terwujudnya Islam dibeberapa peristiwa penting. Dalam sejarah, pada awal pemerintahannya hanyamelanjutkan dan mengembangkan kebijakan yang sudah diterapkan oleh khalifah Umar binKhatab r.a. tetapi,

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

ketika menemukan kesulitan, dia mulai menyimpang dari kebijakan yang telah diterapkan oleh pendahulunya yang terbukti lebih fatal darinya dan juga bagi Islam. Permasalahan Ekonomi dimasa khalifah Usman bin Affan r.a semakin rumit, sejalan dengan semakin luasnya wilayah Negara Islam. Pemasukan Negara dari zakat, jizyah, dan juga rampasan perang semakin besar. Pada enam tahun pertama kepemimpinannya, Balkh, Kabul, Ghazni Kerman, dan Sistan ditaklukan. Untuk menata pendataan baru, kebijakan Umar bin khatab diikuti. Tidak lama kemudian, Islam mengakui empat kontrak dagang setelah Negara-negara tersebut ditaklukan, lalu tindakan efektif diterapkan dalam rangka pengembangan sumber daya alam. Aliran air digali, jalan dibangun, pohon-pohon, buah-buahan ditanam dan keamanan perdagangan diberikan dengan cara pembentukan organisasi kepolisian tetap. Dilaporkan untuk mengamankan zakat dari gangguan dan masalah pemeriksaan kekayaan yang tidak jelas oleh beberapa pengumpul yang nakal, khalifah Usman bin Affan mendelegasikan kewenangan kepada para pemilik untuk menaksirkan kepemilikannya sendiri. Dalam hubungannya dengan zakat, dalam sambutan Ramadhan biasanya beliau mengingatkan, “lihatlah, bulan pembayaran zakat telah tiba. Barang siapa yang memiliki property dan hutang biarkan dia untuk mengurangi dari pada yang ia milikinya, apa yang dia hutang dan membayar zakat untuk property yang masih tersisa”, ia juga mengurangi zakat dari pensiun. Tabri menyebutkan ketika menjadi khalifah, Usman bin affan menaikan pensiunan sebesar seratus dirham, tetapi tidak ada rincianya. Dia juga menambahkan santunan dengan pakaian, selain itu ia memperkenalkan kebiasaan membagikan makanan di masjid untuk orang- orang menderita, pengembara, dan orang miskin. Untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan dan kelautan, meningkatkan dana pesiun dan membangun diwilayah taklukan baru, dibutuhkan dana tambahan. Untuk itu Usman bin affan r.a membuat beberapa perubahan administrasi tingkat atas dan mengganti guberbur Mesir, Busra, Assawad, dan lain-lain digantikan dengan orang-orang baru.Tidak ada perubahan yang signifikan pada situasi ekonomi secara keseluruhan salama enam tahun berakhir kekhalifahan Usman bin affan, namun ada hal-hal yang dilakukan oleh khalifah Usman bin Affan, diantaranya:

a. Pembentukkan Armada Laut

b. Pembuatan irigasi air, pembangunan jalan-jalan dan pengaturan administrasi negara

c. Pergantian pejabat demi peningkatan pemasukkan Baitul Maal

d. Menjadikan masjid sebagai tempat membagikan makanan bagi kaum miskin dan musafir

e. Pembagian tunjangan bagi masyarakat mengikuti prinsip keutamaan dibanding kesamarataan

f. Pembentukan oraganisasi kepolisian permanen untuk menjaga keamanan perdagangan.

g. Pembangunan gedung pengadilan, guna menegakkan hukum.

h. Membangun pelabuhan pertama Islam di Afrika Utara

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

i. Kebijakan pembagian lahan luas milik raja Persia kepada individu dan hasilnya mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan masa pemerintahan Umar bin khatab r.a dari 9 juta menjadi 50 juta dirham. Utsman meninggal terbunuh dalam intrik politik, mengingat banyak yang menganggap beliau bersikap nepotisme dengan mengangkat saudara-saudaranya sebagai pejabat negara.

4. Ali bin Abi Thalib (656 662M) Ali bin Abi Thalib dengan suara bulatnya terpilih sebagai khalifah untuk menggantikan Utsman bin Affan. Setelah menjadi khalifah, Ali bin Abi thalib menempatkan kembali kondisi Baitul Maal pada posisi sebelumnya antara lain:

a. Memecat beberapa pajabat yang diangkat Utsman bin Affan r.a,

b. Membagikan tanah yang dibagikan Utsman kepada keluarganya tanpa alasan yang benar,

c. Memberikan tunjangan kepada muslimin berupa tunjangan yang diambil dari Baitul Maal,

d. Mengatur kembali tata laksana pemerintahan untuk mengembalikan kepentingan umat serta

e. Memindah pusat pemerintahan ke Kuffah dari Madinah. Khalifah Ali memiliki konsep yang jelas tentang pemerintahan, administrasi umum dan masalah-masalah yang berkaitan dengannya. Konsep ini dijelaskan dalam suratnya yang ditujukan kepada Malik Ashter bin Harith. Surat itu antara lain mendeskripsikan tugas, kewajiban dan tanggung jawab penguasa, menyusun prioritas dalam melakukan dispensasi dalam keadilan,

control atas pejabat tinggi dan staf, menjelaskan kebaikan dan kekurangan jasa, hakim, abdi hukum, pengurangan pegawai administrasi dan pengadaan bendahara

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, terdapat beberapa kebijakkan antara lain :

a. Pembuatan SOP (Standar OperatingProcedure) administrasi oleh Malik Asther bin Haris

b. Pembatalan perjanjian Sawad yang sebelumnya dibuat di masa Umar bin Khattab

c. Menghukum Koruptor

d. Mengambil alih perkebunan kolega Utsman yang diberikan Utsman sebelumnya

e. Pembagian tunjangan bagi rakyat dilakukan setiap hari kamis dan administrasi tuntas pada hari sabtu

f. Pendistribusian seluruh pendapatan yang ada pada Baitul Maal berbeda dengan Umar yang menyisihkan untuk cadangan.

g. Pengeluaran angkatan laut dihilangkan.

h. Adanya kebijakan pengetatan anggaran.

i. Dan hal yang sangat monumental adalah pencetakan mata uang sendiri atas nama pemerintahan Islam, dimana sebelumnya kekhalifahan Islam menggunakan mata uang dinar dari Romawi dan dirham dari Persia. Instabilitas politik yang begitu tinggi di masa ini menyebabkah hanya bertahan 6 tahun saja.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

C. Pada Masa Pasca Khulafaurrasyidin 1. Pada Masa Bani Umayyah (41 H/661 750 M) Diantara khalifah Bani Umayyah yang memberikan kontribusi kemajuan dalam bidang ekonomi adalah:

a. Khalifah Muawiyah Ibn Abi Sufyan Pada masa pemerintahannya, beliau mendirikan dinas pos beserta dengan berbagai fasilitasnya, menerbitkan angkatan perang, mencetak uang, dan mengembangkan adil (hak sebagai jabatan professional).

b. Khalifah Abdul Malik Marwan Beliau mencetak mata uang tersendiri dengan memakai kata-kata dan tulisan arab serta tetap mencantumkan kalimat basmalah. Saat itu beliau memerintahkan untuk pembuatan dirhamyang dicap dengan kata-kata “Allah adalah satu, Allah adalah abadi.” Beliau juga memerintahkan untuk membuang semua gambar-gambar manusia (raja/pahlawan) atau binatang dan menggantikan dengan tulisan/bacaan seperti tahlil,tahmid, dan sebagainya. Mata uang yang lain pada waktu itu yang namanya terpatri di mata uang tersebut. Mata uang itu disebut sikkah. Dalam islam dikenal dua jenis mata uang yang utama, yaitu dinar emas dan dirham perak. Selain kedua mata uang tersebut terdapat mata uang pecahan yang disebut maksur seperti qitha dan miqtal. Pada tahun keempat hijrah, dunia islam mengalami krisis mata uang emas dan perak. maka kemudian dibuatlah mata uang dari tembaga yang dikenal dengan fulus.

c. Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz Beliau menerapkan kembali ajaran Islam secara utuh menyeluruh. Beliau bersifat melindungi dan meningkatkan kemakmuran taraf hidup masyarakat menyeluruh. Bahkan pemerintahan menyantuni ahli dzimmah (non-muslim yang tidak boleh diperangi) yang tidak mampu dari harta Baitul Maal bukan zakat. Pada masa Bani Umayyah terdapat prinsip-prinsip dasar sistem ekonomi islam, diantaranya:

a. Kebebasan Individu

b. Hak terhadap harta

c. Ketidaksamaan ekonomi dalam batas yang wajar

d. Kesamaan sosial

e. Jaminan sosial

f. Distribusi kekayaan secara meluas Napak tilas perjalanan pemerintahan Daulah Umayyah berakhir pada bulan Jumadil Awal

tahun 132 H/ 749 M ketika khalifah Marwan bin Muhammad dibunuh oleh pasukan Bani

Abbasiyah.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

2. Pada Masa Bani Abbasiyah (132-232 H / 750 847 M)

a. Harun al-Rasyid Para sejarawan berpendapat bahwa pada masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid adalah masa keemasan peradaban muslim. Kondisi tersebutbertolak belakang dengan eropa.Ekonomi imperium Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan seperti industri kain linen di Mesir, sutra di Syria dan Irak, kertas dari Samarkand, serta berbagai produk pertanian seperti gandum dari Mesir dan kurma dari Iraq. Industrialisasi yang muncul di perkotaan ini,mengakibatkan urbanisasi tak dapat dibendung lagi. Selain itu, perdagangan barang tambang juga semarak. Emas yang ditambang dari Nubia, dan Sudan Barat melambungkan perekonomian Abbasiyah. Sejalan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah, Dinasti Tang di Cina juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga hubungan perdagangan antara keduanya menambah semaraknya kegiatan perdagangan dunia.Komoditas yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar Asia dan Eropa. Sehingga industri di bidang penenunan seperti kain, bahan-bahan sandang lainnya dan karpet berkembang pesat. Industri lain yang juga berkembang pesat adalah pecah belah, keramik dan parfum. Disamping itu juga berkembang indurstri kertas yang dibawa ke Samarkand oleh para tawanan perang Cina tahun 751 M.Komoditas lain yang berorientasi komersial selain logam, kertas, tekstil, pecah belah, hasil laut, dan obat-obatan adalah budak-budak. Mereka setelah dibeli oleh tuannya dipekerjakan seperti di lading pertanian, perkebunan, dan pabrik. Namun bagi pemerintah, budak-budak direkrut sebagai anggota militer demi pertahanan negara. Sebagai alat tukar, para pelaku pasar menggunakan mata uang dinardan dirham. Penggunaan mata uang ini secara ekstensif mendorong tumbuhnya perbankan. Hal inidisebabkan para pelaku ekonomi yang melakukan perjalanan jauh, sangat berisiko jika membawa kepingan-kepingan uang tunai. Sehingga bagi para pedagang yang melakukan perjalanan digunakanlah sistem yang dalam perbankan modern disebut Cek, yang waktu itu dinamakan Shakk. Dengan adanya sistem ini pembiayaan menjadi fleksibel, artinya uang bisa didepositokan disatu bank di tempat tertentu, kemudian bisa ditarik atau dicairkan lewat cek di bank yang lain. Kemajuan ekonomi dan kemakmuran rakyat pada masa ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

1) Relatif stabilnya kondisi politik sehingga mendorong iklim yang kondusif bagi aktivitas perekonomian.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

2) Tidak adanya ekspansi ke wilayah-wilayah baru sehingga kondisi ini dimanfaatkan oleh masyarakat guna meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. 3) Besarnya arus permintaan untuk kebutuhan-kebutuhan hidup baik yang bersifat primer, sekunder, atau tersier telah mendorong pelaku ekonomi untuk memperbanyak kuantitas persediaan barang-barang dan jasa. 4) Besarnya arus permintaan akan barang tersebut disebabkan meningkatnya jumlah penduduk, terutama di wilayah perkotaan yang menjadi basis pertukaran aneka macam komoditas komersial. 5) Luasnya wilayah kekuasaan mendorong perputaran dan pertukaran komoditas menjadi ramai. Terutama wilayah-wilayah bekas jajahan Persia dan Byzantium yang menyimpan

potensi ekonomi yang besar. Jalur transportasi laut serta kemahiran para pelaut muslim dan ilmu kelautan atau navigasi.

6)

7) Etos kerja ekonomi para khalifah dan pelaku ekonomi dari golongan Arab memang sudah terbukti dalam sejarah sebagai ekonom yang tangguh. Hal ini didorong oleh kenyataan bahwa perdagangan sudah menjadi bagian hidup orang Arab.

D. Pada masa Ekonomi Klasik

1. Fase Pertama Fase pertama merupakan fase abad awal sampai dengan abad ke-5 Hijriyah atau abad ke-11 Masehi yang dikenal sebagai fase dasar-dasar ekonomi Islam yang dirintis oleh para fuqaha, diikuti oleh sufi dan kemudian filosof. Tokoh-tokoh pemikir ekonomi Islam pada fase pertama ini antara lain diwakili oleh:

a. Zain bin Ali (10 80 H / 699 738 M) Beliau berpandangan bahwa penjualan suatu barang secara kredit dengan harga yang lebih tinggi daripada harga tunai merupakan salah satu bentuk transaksi yang sah dan dibenarkan selama transaksi tersebut dilandasi oleh prinsip saling ridha antar kedua pihak.

b. Abu Hanifah (80 150 H / 699 767 M) Transaksi yang sangat populer saat itu adalah Bai‟ assalam, yaitu menjual barang yang akan dikirimkan kemudian, sedangkan pembayaran dilakukan secara tunai pada waktu yang disepakati. Abu hanifah meragukan keabsahan transaksi tersebut yang dapat mengarah kepada perselisihan. Beliau mencoba menghilangkan perselisihan tersebut dengan merinci lebih khusus apa yang harus diketahui dan dinyatakan dengan jelas di dalam akad, seperti jenis komoditi, mutu, dan kuantitas serta waktu dan tempat pengiriman. Beliau juga membebaskan orang yang memiliki utang dari zakat jika utangnya menutupi seluruh harta miliknya. Beliau juga menolak mengesahkan bagi hasil (muzara‟ah) dalam kasus tanah yang tidak menghasilkan apa-apa, untuk melindungi pihak yang lemah.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

c. Al-Awza’i (88-157H / 707-774 M) Abdurrahman Al-Awza‟i berasal dari Beirut, hidup sezaman dengan Abu Hanifa. Ia menegakkan kebebasan akad untuk memudahkan orang dalam bertransaksi. Ia mengizinkan bagi hasil (mudharabah) dari modal yang diajukan, baik dalam bentuk tunai atau pun. Sementara para ahli fiqh lainnya bersikeras menetapkan bahwa modal itu dalam bentuk tunai.

d. Abu Yusuf ( 113 182 H / 731 798 M ) Beliau merupakan murid dari imam Abu Hanifah. Kitabnya al-Kharaj, sempat menjadi panduan manual perpajakan pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Istilah “Al-Kharaj” sendiri dalam perspektif Abu Yusuf mengandung dua makna: Pertama, makna yang berdimensi umum yaitu al-amwal al-ammah (keuangan publik), atau sumber pendapatan negara.Kedua, makna yang berdimensi khusus terlihat ketika beliau menyebutkan sewa tanah atau kompensasi atas pemanfaatan tanah. Abu Yusuf mengusulkan dalam kitabnya al-Kharāj, bahwa pajak atas tanah pertanian diganti dengan zakat pertanian, sehingga perhitungannya tidak berdasarkan harga tanahnya tetapi dikaitkan dengan jumlah hasil panennya. Begitu pula dengan pajak perniagaan digantikan dengan sistem zakat perniagaan. Menurut Abu Yusuf, harta yang diperoleh dari hasil pajak tanah (kharāj) tidak layak digabungkan dengan harta yang diperoleh dari hasil zakat. Karena harta hasil pajak tanah adalah harta ”rampasan” untuk seluruh kaum muslimin, sedangkan harta zakat diperuntukkan bagi mereka yang disebutkan Allah dalam al-Qur‟an. Pendapat Abu Yusuf yang mirip dengan aliran fisiokratisme yang dimotori oleh Francis Quesnay (1694-1774 M), adalah pendapatnya yang kontroversial dalam analisis ekonomi tentang masalah pengendalian harga (tas‟ir). Ia menentang penguasa yang menetapkan harga. Abu Yusuf menyatakan dalam kitab al-Kharāj, “tidak ada batasan tertentu tentang murah dan mahal yang dapat dipastikan. Hal tersebut ada yang mengaturnya. Prinsipnya tidak bisa diketahui. Murah bukan karena melimpahnya makanan. Murah dan mahal merupakan ketentuan Allah. Kadang-kadang makanan berlimpah, tetapi tetap mahal dan kadang-kadang makanan sangat sedikit tetapi murah.” Namun di sisi lain, Abu Yusuf juga tidak menolak peranan permintaan dan penawaran dalam penentuan harga. Abu Yusuf menegaskan bahwa sumber ekonomi berada pada dua tingkatan; tingkatan pertama meliputi unsur-unsur alam (antara lain air dan tanah). Unsur-unsur ini paling kuat dan berproduksi secara mandiri. Tingkatan kedua ialah tenaga kerja. Tingkatan yang kedua ini berperan kurang maksimal dan tidak rutin seperti perbaikan dan pemanfaatan tanah, membuat sistem irigasi dan lain-lain.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

e. Asy-Syaibani (132 189 H / 750 804 M) Dalam kitabnya Al-Ikhtisab fi ar Rizq al-Mustathab atau dikenal juga kitab Al-Kasb, Asy- Syaibani membahas pendapatan dan belanja rumah tangga. Beliau mendefinisikan kerja (al- kasb) sebagai pencarian dalam memperoleh harta melalui berbagai cara yang halal.Dalam ekonomi Islam, aktivitas demikian termasuk aktivitas produksi atau segala aktivitas yang menghasilkan barang dan jasa dengan cara yang halal. Islam memandang bahwa suatu barang atau jasa mempunyai nilai-guna jika mengandung kemaslahatan. Sementara, kemaslahatan hanya bisa dapat dicapai dengan memelihara 5 unsur pokok kehidupan, yaitu; agama (Ad- n), jiwa (An-Nafs), akal (Al-„Aql), keturunan (An-Nasl) dan harta (Al-Māl). Asy-Syaibani menegaskan bahwa kerja (yang menjadi unsur utama produksi) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan, karena menunjang pelaksanaan ibadah kepada Allah, dan karenanya hukum bekerja adalah wajib. Ia mengklasifikasikan jenis pekerjaan ke dalam 4 hal, yakni sewa-menyewa (ijarah), perdagangan (tijarah), pertanian (zira‟ah), dan industri (shina‟ah). Di antara keempat usaha perekonomian tersebut, ia lebih mengutamakan pertanian memproduksi berbagai kebutuhan dasar manusia yang sangat menunjang dalam melaksanakan berbagai kewajibannya. Asy-Syaibani juga memiliki konsep spesialisasi dan distribusi pekerjaan (division of labour). Ia menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan yang lain. Seseorang tidak akan menguasai semua pengetahuan yang dibutuhkan sepanjang hidupnya, dan kalaupun manusia berusaha keras maka usia akan membatasi usahanya. Oleh karena itu, Allah memberi kemudahan pada setiap orang untuk menguasai pengetahuan salah satu atau beberapa saja diantaranya, sehingga manusia dapat bekerja sama dalam memenuhi kebutuhannya.

f. Yahya bin Adam Al-Qarashi (203 H / 818 M) Karya Yahya bin Adam yaitu Kitab Al-Kharaj yang membahas mengenai ekonomi publik.

g. Abu Ubaid (224 H / 828 M) Pembahasan keuangan publik Islam dalam karya Abu Ubaid,al-Amwal, diawali dengan judul “Hak pemimpin terhadap rakyatnya dan hak rakyat terhadap pemimpinnya”.Menurutnya, jika kepentingan individu berbenturan dengan kepentingan publik, maka kepentingan publik mesti didahulukan. Apabila dievaluasi dari sisi filosofi hukum, akan nampakbahwa Abu Ubaid menekankan keadilan sebagai prinsip utama.

h. Ahmad bin Hanbal (164-241 H / 780-855 M) Salah satu pendapat Imam Ahmad bin Hanbal terkait dengan persoalan ekonomi adalah kecamannya terhadap pembelian dari penjual yang menurunkan harga komoditi dalam rangka untuk menghalangi orang untuk membeli komoditi yang sama dari pesaingnya

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

i. Ibnu Miskawih (421 H / 1030 M) Beliau menegaskan bahwa logam yang dapat dijadikan sebagai mata uang adalah logam yang dapat diterima secara universal melalui konvensi, yakni tahan lama, mudah dibawa, tidak mudah rusak, dikehendaki orang dan orang senang melihatnya.

j. Al-Mawardi (450 H / 1058 M) Abu Al-Hasan Al-Mawardi menulis Al-Ahkan As-Sulthaniyyah, sebagai rujukan utama untuk masalah pengawasan pasar, hubungan pertanian dan perpajakan

k. Ibnu Hazm (456 H / 1064 M) Abu Muhammad Ibnu Hazm adalah seorang ahli hukum besar dengan pendekatan unik untuk hukum Islam, dan menolak penalaran analogis (qiyas) serta (ihtisan). Ia adalah satu- satunya ahli hukum besar yang menolak penyewaan lahan pertanian. Hal ini menyisakan dua opsi untuk lahan tersebut, apakah digarap sendiri atau masuk ke dalam pengaturan bagi hasil dengan penggarap atau pengolah.

l. Nizam Al-Mulk Ath-Thusi (408-485H/1018-1093M) Nizam Al-Mulk menyadari sepenuhnya mengenai 3 arah faktor-faktor kemakmuran, produktivitas, dan efisiensi. Mengamankan kesejahteraan dapat meningkatkan lebih besar produktivitas yang diharapkan efisiensi. Menurut Nizam Al-Mulk, stabilitas nasional dapat dicapai dengan memastikan bahwa kebutuhan pokok masyarakat dipenuhi secukupnya. Negara harus bisa menjamin ketersediaan pasokan yang cukup selama terjadi serangan hama atau gagal panen. Nizam Al-Mulk menegaskan bahwa persamaan hak dalam kesempatan melakukan kegiatan ekonomi adalah persyaratan awal untuk mencapai persamaan sosial. Upaya ekonomi untuk mencapai tujuan ini mencakup manajemen zakat yang efektif, bangunan pondok dan rumah untuk rakyat miskin, dan tersedianya lapangan kerja bagi rakyat sesuai kapasitas dan imbalannya. Tentang pajak, Nizam Al-Mulk tidak menyangkal bahwa sistem pajak yang baik menjadi basis keuangan yang sehat. Walaupun demikian, ia percaya bahwa keuangan yang sehat bukanlah segala-galanya untuk menghindari kesulitan nasional. Terkait dengan persoalan pajak tanah, Nizam Al-Mulk merekomendasikan pembatalan dari pembebanan (charge) oleh tuan tanah terhadap petani yang tidak dapat memenuhi kewajibannya membayar pajak. Dalam pandangannya, tuan tanah hanyalah sebatas pengumpul pajak, bahkan mereka tidak mempunyai hak untuk menetapkan jumlah pajak karena hal tersebut merupakan hak mutlak pemerintah. Dalam hal ini, Nizam Al-Mulk ingin mengurangi kekuasaan dan hak mutlak para tuan tanah, dan menjadikan pemerintah menjadi lebih berkuasa.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

2. Fase Kedua Fase kedua yang dimulai pada abad ke-11 sampai dengan abad ke-15 Masehi dikenal sebagai fase cemerlang karena meninggalkan warisan intelektual yang sangat kaya. Para cendekiawan muslim di masa ini mampu menyusun suatu konsep tentang bagaimana umat melaksanakan kegiatan ekonomi yang seharusnya berdasarkan landasan Al-Qur‟an dan As-Sunnah. Tokoh-tokoh pemikir ekonomi Islam pada fase kedua ini antara lain diwakili oleh:

a. Al-Ghazali (451-505 H / 1055-1111 M) Beliau menuangkan pemikirannya dalam kitab Ilhya‟ Ulum Ad-Din,Al-Mustashfa fi „ilmi Al-Ushul dan Mizan Al- „Amal. Menurutnya, kesejahteraan (maslahah) dari suatu masyarakat tergantung pada pencarian dan pemeliharaan 5 tujuan dasar, yakni agama (Ad-Din), Jiwa (An- Nafs), akal (Al- „aql), keturunan (An-Nasl) dan harta (Al-Mal). Beliau mendefinisikan aspek ekonomi dari fungsi kesejahteraan sosialnya dalam kerangka sebuah hierarki utilitas individu dan sosial, yakni mulai dari pemenuhan kebutuhan pokok (dharuriyyat), kebutuhan biasa (hajiyyat) dan kemewahan (tahsiniyyat). Al-Ghazali menganggap kerja sebagai bagian dari ibadah seseorang. Bahkan secara khusus, ia memandang bahwa produksi barang-barang kebutuhan dasar sebagai kewajiban sosial (fardh kifāyah). Dalam hal ini, pada prinsipnya, negara harus bertanggung jawab dalam menjamin kebutuhan masyarakat terhadap barang-barang kebutuhan pokok. Al-Ghazali juga menganalisa hukum permintaan dan penawaran. Ia mengatakan bahwa jika petani tidak mendapatkan pembeli bagi produk-produknya, maka ia akan menjualnya pada harga yang sangat rendah.Tentang laba, Al-Ghazali menyatakan bahwa pengurangan marjin keuntungan dengan mengurangi harga akan menyebabkan peningkatan penjualan, dan karenanya terjadi peningkatan laba.

b. Al-Kasani (578-1182 M) Abu Bakr bin Mas‟ud Al-Kasani adalah seorang ahli hukum Islam terkemuka MazhabHanafi yang menganalisis beberapa isu ekonomi dalam karyanyaBada‟i Ash- Shanā‟i‟.Diskusinya tentang pembagian keuntungan dan liabilitas atas kerugian dalamkontrakmudharabah,jelas dan tepat. Keuntungan dari modal yang diserahkan pada ukurannya terhadap risiko dan ketidakpastian, membuat pemodal bertanggung jawab atas kerugian, jika kerugiannya ada. Al-Kasani juga menjelaskan sifat sewa, ia mendefiniskan sewa sebagai harga manfaat yang mengalir dari penggunaan barang-barang sewaan.

c. Ibnu Taimiyah ( 661 728 H / 1263 1328 M ) Beliau mencetuskan tiga Teori Keadilan, yaitu Upah yang adil (berdasarkan kesepakatan pekerja dengan pemberi kerja),Harga yang adil (harga yang terbentuk karena bertemunya supply dan demand), dan Laba yang adil (laba yang dihasilkan tanpa merugikan orang lain).

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

Tentang mekanisme pasar, Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa “naik dan turunnya harga tidak selalu diakibatkan oleh kebijakan para penguasa atau pihak-pihak tertentu. Terkadang hal tersebut disebabkan oleh kekurangan produksi atau penurunan impor barang-barang yang diminta.Tentang uang, Ibnu Taimiyyah menyebutkan 2 fungsi uang, yaitu sebagai pengukur nilai dan media pertukaran. Ia juga menyatakan bahwa volume uang yang beredar harus sesuai dengan proporsi jumlah transaksi yang terjadi. Hal ini untuk menjamin harga yang adil. Ia menganggap bahwa nilai intrinsik mata uang harus sesuai dengan daya beli di pasar. Ia menyatakan bahwa penciptaan mata uang dengan nilai nominal yang lebih besar dari pada nilai intrinsiknya, akan menyebabkan terjadinya penurunan nilai mata uang serta menimbulkan inflasi dan perilaku pemalsuan mata uang.

d. Ibnu Al-Qayyim (691-751 H/1292-1350 M) Ibnu Al-Qayyim, adalah seorang ahli hukum Islam terkemuka dan pemikiran sosial. Ia banyak menguraikan pandangan gurunya, Ibnu Taimiyyah, dan menunjukkan wawasan analitisnya dalam diskusi tentang masalah ekonomi. Ibnu Al-Qayyim mengidentifikasi 2 fungsi utama uang, yaitu sebagai alat tukar dan sebagai standar nilai. Ia juga mengobservasi secara signifikan bahwa gangguan fungsi uang ini terjadi ketika orang mulai mencari uang untuk kepentingan sendiri.

e. Asy-Syathibi ( 790 H / 1388 M ) Karya bersejarah Asy-Syathibi tentang prinsip-prinsip hukum Islam, Al-Muwāfaqāt fīUshūl Asy-Syarī‟ah, bukanlah sebuah risalah tentang ekonomi. Beliau mengklasifikasikan tiga tingkatan kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan dasar (dharuriyat), kebutuhan biasa (hajiyyat), dan kemewahan (tahsiniyyat).

f. Ibnu Khaldun ( 732 808 H / 1332 1404 M ) Karya monumentalnya adalah Al-Muqaddimah. Menurut beliau, produksi adalah aktivitas manusia yang diorganisasikan secara sosial dan Internasional. Menurutnya, faktor produksi yang utama adalah tenaga kerja manusia. Teorinya tentang produksi agregat merupakan embrio suatu teori perdagangan Internasional. Dengan kegiatan produksi yang dilakukan secara bersama-sama pada suatu daerah tertentu, maka hasil produksinya dapat diekspor ke daerah lain yang membutuhkannya, sehingga terjadilah perdagangan antar daerah. Teori nilai, Ibnu Khaldun mengukur nilai suatu produk sama dengan jumlah tenaga kerja yang dikandungnya. Pendapatnya ini sangat mirip dengan teori nilai dari Adam Smith tiga abad kemudian.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

g. Al-Maqrizi (766-845 H /1364-1441 M)

Al-Maqrizi melakukan studi kasus tentang uang dan kenaikan harga-harga yang terjadi secara periodik dalam keadaan kelaparan dan kekeringan. Al-Maqrizi mengidentifikasi 3 sebab dari peristiwa ini, yaitu korupsi dan administrasi yang buruk, beban pajak yang berat terhadap para penggarap, dan kenaikan pasokan mata uang fulus. Membahas penyebab ketiga, ia menekankan bahwa emas dan perak adalah satu-satunya jenis uang yang dapat dijadikan sebagai standar nilai, dalam hal sifatnya dan kesesuaiannya dengan syari;ah. Nilai emas dan perang jarang naik dalam ukuran yang besar, meskipun nilai fulus melambung tinggi.

3. Fase Ketiga Fase ketiga yang dimulai pada tahun 1446 hingga 1932 Masehi merupakan fase tertutupnya pintu ijtihad yang mengakibatkan fase ini dikenal juga sebagai fase stagnasi. Pada fase ini, para ulama hanya menulis catatan-catatan para pendahulunya dan mengeluarkan fatwa yang sesuai dengan aturan standar bagi masing-masing mazhab.Tokoh-tokoh pemikir ekonomi Islam pada fase ini antara lain diwakili oleh:

a. Shah Waliullah Ad-Dahlawi (1114 1176 H / 1703 1763 M) Pada abad terakhir dari sejarah Islam, kita mendapatkan penjelasan yang sangat jelas dari pemikiran ekonomi Islam dalam karya-karya Shah Waliullah dari Delhi, terutama karyanya Hujjatullāh Al-Bālighah. Poin paling penting dari pemikirannya adalah sosial ekonomi memiliki pengaruh yang mendalam terhadap moralitas sosial. Transaksi yang melibatkan bunga memiliki pengaruh yang merusak karena hal ini menyebabkan masyarakat berlomba- lomba dalam memperoleh kemewahan dan kekayaan.Shah Waliullah membahas perlunya pembagian dan spesialisasi kerja, kelemahan dari sistem barter, dan keuntungan dari penggunaaan uang sebagai alat tukar dalam konteks evolusi masyarakat dari primitif ke negara maju.

b. Muhammad Abduh ( 1266 1323 H / 1849 1905 M ) Muhammad Abduh mewajibkan kepada pemerintah untuk ikut campur tangan dalam urusan perekonomian, demi kemaslahatan publik, yaitu apakah dengan membangun pabrik industri dan perusahaan, atau dengan menentukan harga barang perdagangan, atau memberikan hak keadilan kepada para buruh dengan cara menaikkan gaji minimum mereka, atau dengan cara mengurangi jam kerja mereka, atau dengan cara kedua-duanya secara bersamaan.Bagi Muhammad Abduh, ekonomi merupakan sikap moderat dalam pengeluaran/belanja. Artinya, pemilik harta tidak boleh terlalu boros dalam pengeluaran dan belanja, dan juga tidak boleh terlalu hemat atau terlalu pelit mengeluarkan harta, tapi harus dipilah dan dipilih mana yang paling utama kemudian diurut kepada hal yang lebih utama.Menurutnya, kekayaan yang tidak dilandasi oleh iman benar-benar telah membawa

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

pemiliknya hanyut dalam kesenangan dan mengabaikan orang lain yang seharusnya disantuni sebagaimana dalam surat Al-Ma‟un.

c. Muhammad Iqbal ( 1289 1357 H / 1873 1938 M ) Sang “Penyair Dari Timur” ini memang memiliki pemikiran yang berkisar tentang hal-hal teknis dalam ekonomi, tetapi lebih pada konsep-konsep umum yang mendasar. Ia mencontohkan respon Islam terhadap Kapitalisme Barat dan reaksi ekstrim Komunisme Uni Soviet, dengan menggarisbawahi kelemahan dari kedua sistem tersebut, dan menampilkan sikap yang lebih baik dengan mengambil jalan tengah sebagaimana yang telah disediakan oleh Islam. Beliau menganggap bahwa pembentukkan keadilan sosial merupakan salah satu bagian dari tugas pemerintahan Islam, dan memandang zakat sebagai potensi yang efektif untuk menciptakan masyarakat yang adil.

E. Pada Masa Kontemporer

1. Muhammad Abdul Mannan Beliau mendefinisikan ilmu ekonomi Islam sebagai sebuah ilmu sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi bagi suatu masyarakat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam. Ekonomi Islam itu berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi barang jasa di dalam kerangka masyarakat Islam yang di dalamnya jalan hidup islami ditegakkan sepenuhnya.

2. Muhammad Nejatullah Siddiqi Menurut beliau yang membedakan perekonomian Islam dan sistem-sistem ekonomi modern adalah bahwa di dalam suatu kerangka Islam, kemakmuran, dan kesejahteraan ekonomimerupakansarana untuk mencapai tujuan spiritual dan moral.

3. Mohzer Kahf Beliau memandang ekonomi sebagai suatu bagian dari agama oleh karena itu, per definisi berhubungan dengan kepercayaan dan perilaku manusia, maka ekonomi haruslah merupakan salah satu aspek agama.Kahf memandang positif peranan pemerintah dalam perencanaan dan kebijakan,dan ia mengutib tiga tujuan kebijakan pemerintah:

a. Maksimalisasi tingkat penggunaan sumber-oleh karena semua sumber adalah hadiah dari Tuhan untuk manusia.

b. Minimalisasi distributive gap.

c. Regulasi agen ekonomi guna menjamin ditargetkannya rules of the game.

4. Muhammad Baqir As-Sadr Menurutnya, ekonomi Islam adalah cara atau jalan yang dipilih oleh Islam untuk dijalani dalam rangka mencapai kehidupan ekonominya dan dalam memecahkan masalah ekonomi praktis sejalan dengan konsepnya tentang keadilan.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

Ekonomi islam adalah doktrin karena ia membicarakan semua aturan dasar dalam kehidupan ekonomi dihubungkan dengan ideologinya mengenai keadilan (sosial).Demikian pula sistem ekonomi Islam adalah sebuah doktrin pula karena menurut Sadr ia berhubungan dengan pertanyaan apa yang seharusnya berdasar pada kepercayaan, hukum, sentimen, konsep dan definisi islam yang diambil dari sumber-sumber islam.

F. Kontribusi Ekonomi Islam Kepada Dunia Teori ekonomi Islam sebenarnya bukan ilmu baru atau sesuatu yang diturunkan secara mendasar dari teori ekonomi yang ada sekarang. Sejarah membuktikan para pemikir Islam merupakan penemu atau peletak dasar semua bidang ilmu. Penyebaran Ekonomi Islam yang terjadi, berkontribusi besar terhadap perkembangan ekonomi modern. Eropa banyak mendapatkan banyak ilmu pengetahuan bersumber dari dunia Islam. Dalam bidang ilmu ekonomi, beberapa pengetahuan terindikasi disalin oleh ilmuwan Eropa diantaranya adalah :

1. Diadopsinya kata credit yang dalam ekonomi konvensional dikatakan berasal dari credo (pinjaman atas dasar kepercayaan). Credo sebenarnya berasal dari bahasa Arab qa-ra-do yang secara fiqh berarti meminjamkan uang atas dasar kepercayaan.

2. Teori Pareto Optimum diambil dari kitab Nahjul Balaghah Imam Ali.

3. Bar Hebrareus, pendeta Syriac Jacobite Church menyalin beberapa bab Ihya Ulumuddin Al- Ghazali.

4. Gresham Law dan Oresme Treatise diambil dari kitab Ibnu Taimiyah.

5. Pendeta Gereja Spanyol Ordo Dominican Raymond Martini menyalin banyak bab dari Tahafut al- Falasifa, Maqasid al-Falasifa, al-Munqid, Mishkat al-anwar, dan Ihya-nya Al-Ghazali.

6. St. Thomas menyalin banyak bab dari Al-Farabi (St. Thomas yang belajar di Ordo Dominican mempelajari ide-ide Al-Ghazali dari Bar Hebraeus dan Martini).

7. Bapak Ekonomi Barat, Adam Smith (1776 M), dengan bukunya The Wealth of Nation diduga banyak mendapat inspirasi dari buku Al-Amwal nya Abu Ubaid (838 M) yang dalam bahasa Inggrisnya adalah persis judul bukunya Adam Smith, The Wealth.

8. Adam Smith yang dikenal sebagai bapak ilmu ekonomi, dalam bukunya The Wealth Of Nations, volume 5 menjelaskan bahwa perekonomian yang maju ketika itu adalah perekonomian Arab.

9. Pada tahun 1429 angka Arab dilarang untuk digunakan oleh pemerintah Italia. Sedangkan pernyataan Luca Paciolli, ahli matematika yang sering dikaitkan dengan akuntansi. Bahwa setiap transaksi harus dicatat dua kali di sisi sebelah kredit dan debit, atau diawali dengan menulis kredit terlebih dahulu kemudian debit. Hal ini memunculkan dugaan bahwa Paciolli menerjemahkan hal tersebut dari bangsa Arab yang menulis dari sisi kanan.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

Sedangkan beberapa bentuk pengelola ekonomi barat yang sama digunakan Islam adalah :

1. Syirkat (partnership/join venture)

2. Suftaja (bill of exchange)

3. Hawal (letters of credit)

4. Funduq (specialized large scale commercial institutions and market which development developed in to virtual stock exchange)

5. Dur-ul tiraz (pabrik yang dijalankan oleh negara)

6. Mauna (private bank)

7. Wilatil hisba (polisi ekonomi)

G. Mahzab-Mahzab dalam Ekonomi Islam

1. Mahzab Iqtishaduna Mazhab ini dipelopori oleh Baqir As-Sadr dengan bukunya yang fenomenal Iqtishaduna (ekonomi kita). Mazhab ini berpendapat bahwa ilmu ekonomi (economics) tidak pernah bisa sejalan dengan Islam. Ekonomi tetap ekonomi, dan Islam tetap Islam. Keduanya tidak akan pernah dapat disatukan karena keduanya berasal dari filosofi yang saling kontradiktif. Yang satu anti- Islam, yang lainnya Islam.

2. Mahzab Mainstream Pelopor mahzab ini adalah Umar Chapra, Abdul Manan, dan Nejatullah Shidiqi. Mazhab kedua ini berbeda pendapat dengan mazhab pertama. Mazhab yang lebih dikenal dengan mazhab mainstream ini justru setuju dengan ekonomi konvensional tetapi tetap harus ada pembenahan. Menurut mereka pengembangan ekonomi Islam tidak berarti harus membuang semua hasil analisis ekonomi konvensional. Mahzab ini juga setuju bahwa masalah ekonomi muncul karena sumber daya yang terbatas yang dihadapkan pada keinginan manusia yang tidak terbatas.

3. Mazhab Alternatif-Kritis Pelopor mazhab ini adalah Timur Kuran (Ketua Jurusan Ekonomi di University of Southern California), Jomo (Yale, Cambridge, Harvard, Malaya), Muhammad Arif, dan lain-lain. Mazhab ini adalah sebuah mazhab yang kritis. Mereka mengkritik mahzab pertama yang menurut mereka berusaha mengemukakan sesuatu yang baru tetapi sebenarnya sudah ditemukan orang lain. Selain itu, mereka juga mengkritik mahzab kedua yang menurut mereka hanya jiplakan dari ekonomi konvensional dengan menghilangkan riba dan memasukkan zakat. Menurut pendapat mereka ekonomi Islam harus berdiri diatas kaki sendiri dan prinsip sendiri. Mereka yakin bahwa Islam pasti benar, tetapi ekonomi Islam belum tentu benar karena ekonomi Islam adalah hasil tafsiran manusia atas Al-Qur‟an dan Sunnah, sehingga nilai kebenarannya tidak mutlak. Proposisi dan teori yang diajukan oleh ekonomi Islami harus selalu diuji kebenarannya sebagaimana yang dilakukan terhadap ekonomi konvensional.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

BAB III FIQH MUAMALAH

A. Pengertian Fiqh Muamalah merupakan gabungan dari dua kalimat bahasa arab yaitu al-fiqh yang secara etimologis berarti paham dan secara terminologis berarti bagian. Sedangkan al-mu‟amalah berarti saling bertindak/beramal. Secara keseluruhan Fiqh muamalah yaitu aturan-aturan Allah swt yang ditujukan untuk mengatur kehidupan manusia dalam urusan keduniaan dan sosial masyarakat.

B. Pembagian Fiqh

Fiqh mencakup dua bidang permasalahan pokok:

1. Bagian ibadah, membahas mengenai : taharah, shalat, zakat, puasa, haji, sumpah, nadzar, kurban,

aqiqah , khitan, aktifitas sejenis terkait dengan hubungan seseorang dengan Tuhannya.

2. Bagian muamalat, mencakup kitab-kitab tentang : nikah, thalaq, jual beli, terkait peradilan, kejahatan dan saksi, hibah, waqaf, dan lainnya yang terkait dengan hubungan antar manusia atau dengan masyarakat luas Pembagian menurut Al Fikri :

1. Al-muamalah al-Madiyah : adalah muamalah yang mengkaji segi objeknya, yaitu benda.

2. Al-Muamalah Al-Adabiyah : mengkaji aturan-aturan Allah SWT yang berkaitan dengan aktivitas manusia yang ditinjau dari segi subjeknya, yakni manusia sebagai pelakunya. Pembagian fiqh muamalah menurut Ibn Abidin :

1. Fiqh Maliyah (hukum kebendaan); yaitu aturan yang mengatur hal-hal yang terkait dengan kehartabendaan.

2. Munakahat (hukum perkawinan); yaitu aturan yang mengatur hal-hal yang terkait dengan perkawinan.

3. Fiqh Murafa‟at (hukum acara); yaitu hal-hal yang mengatur tentang tata cara beracara di depan pengadilan.

4. Amanat dan „ariyat (pinjaman); yaitu aturan yang berkaitan dengan aktivitas pinjam meminjam.

5. Tirkah (harta peninggalan); yaitu aturan yang berkaitan dengan pengurusan harta waris.

C. Sumber Hukum Fiqh Sumber-sumber hukum fiqh adalah :

1. Al-Quran Adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman.

2. Hadist Adalah seluruh perkataan, perbuatan, dan persetujuan nabi Muhammad.Fungsi hadist:

a. mempertegas hukum dalam Al-Quran.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

b. Memperjelas hukum dalam Al-Quran.

c. Menetapkan hukum yang belum ada di Al-Quran.

3. Ijtihad

Adalah sebuah usaha untuk menetapkan hukum berdasar Al-Quran dan Al hadist.

Macam ijtihad:

a. ijma‟ (kesepakatan para ulama‟)

b. Qiyas (diumpamakan dengan suatu hal yang mirip)

c. Maslahah mursalah (untuk kemaslahatan umat)

d. „urf (kebiasaan).

Macam macam Tauhid :

a. Tauhid Rubbubiyah

Adalah kita yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa cuma Allah swt yang ; menghidupkan,

mematikan, menciptakan, memberi rizki, mengelola, mengatur dan menguasai alam semesta.

Lihat (Qs.Yunus :31) & (Qs.Luqman :25).

b. Tauhid Uluhiyah

Adalah sebuah keyakinan bahwa Allah swt adalah satu-satunya zat yang memiliki dan

manguasai langit, bumi, dan seisinya. Lihat (Qs. Muhammad :19).

c. Tauhid Asma wa Sifat

Berarti keyakinan bahwa Allah swt adalah ESA dalam nama-nama dan sifatmya. Lihat (Qs.Al-

Isra‟ :110).

D. Norma Akad

1. Pengertian

Secara etimologis, akad berasal dari kata al-„Aqd yang perikatan, perjanjian,

pertalian.Sedangkan pengertian akad menurut terminologis terdapat definisi yang beragam.

Seperti yang dikemukakan oleh Ibnu „Abidin dalam kitabnya radd al-Muhtar „ala ad-Dur al-

Mukhtar yang dikutip oleh Nasrun Haroen. Definisi akad yakni : Pertalian ijab (pernyataan

melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat

yang akan memiliki akibat hukum terhadap obyek perikatan.

2. Dasar akad dalam hukum Islam

Firman Allah dalam Al Qur‟an Surat Al Maidah ayat 1 yakni:

Firman Allah dalam Al Qur‟an Surat Al Maidah ayat 1 yakni: Artinya :“Hai orang -orang yang

Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. dihalalkan bagimu binatang

ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”(QS : Al-Maidah:1)

Dalam kaidah fiqh dikemukakan yakni hukum asal dalam transaksi adalah keridlaan kedua belah pihak yang berakad, hasilnya adalah berlaku sahnya yang diakadkan. Maksud keridlaan tersebut yakni keridlaan dalam transaksi yang merupakan prinsip. Oleh karena itu, transaksi barulah sah apabila didasarkan kepada keridlaan kedua belah pihak.

3. Rukun akad

a. Orang yang berakad (Aqid)

b. Sesuatu yang diakadkan (ma‟qud „alaih ): harus memenuhi empat syarat :

1)

barang harus ada ketika akad

2)

maq‟ud alaih harus sesuai dengan ketentuan syara‟

3)

dapat diberikan waktu akad

4)

maq‟ud alaih harus diketahui oleh pihak yang berakad

c. Mauhud „al-aqd : adalah tujuan atau maksud pokok mengadakan akad.

d. Shighat (ijabqobul) : dapat berupa lafadz, perbuatan, isyarat,ataupun dengan tulisan.

4. Syarat akad

a. Syarat terjadinya akad (segala sesuatu yang disyaratkan untuk terjadinya akad secara syara‟. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, akad menjadi batal).

b. Syarat sah akad (segala sesuatu yang disyaratkan syara‟ untuk menjamin dampak keabsahan akad, jika tidak terpenuhi maka akad tersebut rusak).

c. Syarat pelaksanaan akad meliputi kepemilikan dan kekuasaan

d. Syarat kepastian hukum (luzum)

Dasar dalam akad adalah kepastian. Di antara syarat luzum dalam jual-beli adalah terhindarnya dari beberapa khiyar jual-beli, seperti khiyar syarat, khiyaraib, dan lain-lain.

5. Alat akad

a. Akad dengan lafadz (ucapan) : akad dengan lafadz yang dipakai untuk ijab dan qobul harus jelas dan tidak ambigu, harus bersesuaian antar ijab dan qobul, dan shighat ijab dan qobul harus sungguh-sungguh atau tidak ragu-ragu.

b. Akad dengan tulisan (kitab) : dengan alasan berjauhan tempat maka ijabqobul boleh dilakukan dengan cara kitab, dengan syarat tulisan tesebut harus jelas, tampak, dan dapat dipahami oleh kedua pihak.

c. Akad dengan isyarat. Bagi orang-orang tertentu ijabqobul tidak bisa dilakukan dengan ucapan dan tulisan. Maka dibuatlah kaedah “isyarat orang bisu sama dengan ucapan lidah”.

d. Akad dengan perbuatan : akad tidak diucapkan tapi dapat ditunjukkan melalui perbuataan saling meridhai.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

E.

Transaksi

Dalam ushul fiqh dikenal dua kaedah hukum asal dalam syariat. Yakni dalam ibadah itu semua

tidak boleh kecuali ada ketentuannya dalam Al-Quran dan Hadist, sedangkan dalam muamalah itu

semua diperbolehkan kecuali ada larangannya.

Transaksi yang dilarang Haram zatnya/haram li- dzatihi (objek transaksinya). Haram selain zatnya/haram li ghairihi
Transaksi yang
dilarang
Haram
zatnya/haram li-
dzatihi (objek
transaksinya).
Haram selain
zatnya/haram li
ghairihi (Cara
bertransaksinya)
Tidak sah/tidak
lengkap akadnya
1.Tadlis
1. Rukun tidak terpenuhi
2. Ikhtikar
2. Syarat tidak terpenuhi
3. Bai‟ najasy
4. Taghrir/gharar
3. Terjadi ta‟alluq
4. Terjadi 2 in 1
5. Riba

Penyebab terlarangnya sebuah transaksi disebabkan :

1. Haram zatnya / haram li-dzatihi.

Karena obyek yang ditransaksikan itu dilarang walaupun jual belinya sah, contoh: minuman

keras, narkoba, bangkai, daging babi, darah dan lain-lain.

2. Haram selain zatnya / haram li-ghairihi, terdiri dari :

a. Tadlis

Adalah informasi yang tidak lengkap (asymetric information). Transaksi dimana salah

satu pihak tidak mengetahui informasi yang diketahui pihak lain. Tadlis dapat terjadi dalam

kuantitas, kualitas, harga, dan waktu penyerahan.

b. Ikthtikar ( rekayasa pasar dalam penawaran)

Adalah terjadi apabila produsen mengambil keuntungan diatas keuntungan normal dengan

cara mengurangi supply sehingga harga akan naik.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

c. Bai najasy (rekayasa pasar dalam permintaan) Adalah terjadi apabila produsen menciptakan permintaan palsu, seolah-olah ada banyak permintaan terhadap suatu produk sehingga harga jual akan naik.

d. Gharar (taghrir) Adalah terjadinya incomplete information karena adanya ketidakpastian dari kedua belah pihak yang bertransaksi.

e. Riba

Adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis, baik transaksi hutang piutang maupun jual beli. Ada beberapa macam riba :

1) Riba Qardh : Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh). 2) Riba Jahiliyyah : Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan. 3) Riba Fadhl : Pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi. 4) Riba Nasi‟ah : Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba nasi‟ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.

3. Haram karena tidak sah akadnya

a. Rukun akad tidak terpenuhi

b. Syarat sah akad tidak terpenuhi

c. Terjadinya ta‟aluq (berlakunya suatu akad tergantung akad berikutnya) Apabila kita dihadakan pada dua akad yang saling berkaitan, di mana akad yang satu tergantung pada akad yang lain. Contoh : Indri menjual mobil kepada Rina seharga Rp. 80 juta dengan cara dicicil, dengan syarat Rina akan membayar cicilan tersebut jika mobil lama Rina sudah laku terjual.

d. Terjadinya 2 in 1 (satu transaksi diwadahi dua akad sekaligus) Kondisi di mana suatu transaksi diwadahi oleh dua akad sekaligus, sehingga terjadi ketidakpastian (gharar) mengenai akad mana yang harus digunakan/berlaku. Contoh : akad sewa beli.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

F. Khiyar (Hak Pilih)

1. Pengertian Khiyar

Secara etimologis khiyar berarti pilihan, sedangkan secara terminologis khiyar adalah hak pilih bagi salah satu atau kedua belah pihak yang melaksanakan transaksi untuk melangsungkan atau membatalkan transaksi yang disepakati, disebabkan hal-hal tertentu.

2. Dasar Hukum

a. Al-Quran

disebabkan hal-hal tertentu. 2. Dasar Hukum a. Al-Quran Artinya : “ Hai orang -orang yang beriman,

Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil kecuali dengan jalan perniagaan berlaku dengan suka sama suka diantara kamu ( QS : an-Nisa‟:29)

b. Hadist

sama suka diantara kamu ( QS : an- Nisa‟:29) b. Hadist Artinya : “Dua orang yang

Artinya : “Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar selama belum

berpisah. Jika keduanya benar dan jelas maka keduanya diberkahi dalam jual beli mereka. Jika mereka menyembunyikan dan berdusta, maka akan dimusnahkanlah keberkahan jual beli mereka”. (HR.Bukhori Muslim)

3. Macam-macam Khiyar

a. Khiyar Syarat adalah hak pilih bagi kedua belah pihak untuk meneruskan atau membatalkan perjanjian selama jangka waktu tertentu.

b. Khiyar majlis adalah hak masing-masing pihak untuk meneruskan atau membatalkan perjanjian selama masih berada dalam satu majlis (tempat) perjanjian.

c. Khiyar Ru‟yah adalah hak pilih bagi pihak-pihak yang melakukan perjanjian pada objek tertentu yang belum ia lihat untuk membatalkannya apabila ia telah melihat objek tersebut.

d. Khiyar „Aib adalah hak pilih untuk membatalkan perjanjian apabila tersingkap adanya cacat pada objek perjanjian.

e. Khiyar Ta‟yin adalah hak yang dimiliki oleh orang yang menyelenggarakan akad (terutama pembeli) untuk menjatuhkan pilihan di antara tiga sifat barang yang ditransaksikan. Pembeli diberikan hak pilih (ta‟yin) untuk mendapatkan barang yang terbaik menurut penilaiannya sendiri tanpa mendapatkan tekanan dari manapun juga.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

G. Jenis Akad

1. Pinjam meminjam (‘Ariyah) dan Qarad

a. Pinjam Meminjam (‘Ariyah) Menurut etimologi, „ariyah diambil dari kata „ari yang berarti datangdanpergi. Menurut Syarkhasyi dan ulama Malikiyah, „ariyah merupakan pemilikan atas manfaat (suatu benda) tanpa pengganti. Menurut ulama Syafi‟iyah dan Hambaliyah, „ariyah adalah pembolehan (untuk mengambil) manfaat tanpa mengganti. Akad ini berbeda dengan hibah, karena „ariyah dimaksudkan untuk mengambil manfaat dari suatu benda, sedangkan hibah mengambil manfaat benda tersebut.

Landasan ‘Ariyah

1)

2)

Al – Qur’an

benda tersebut. Landasan ‘Ariyah 1) 2) Al – Qur’an Artinya: “ (QS. Al-Maidah: 2) As –

Artinya:

(QS. Al-Maidah: 2) As Sunnah Dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Anas, dinyatakan bahwa Rasulullah Saw. telah meminjam kuda dari Abu Thalhah, kemudian beliau mengendarainya.Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang jayyid dari Shafwan Ibn Umayyah, dinyatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah meminjam perisai dari Shafwan bin Umayyah pada waktu Perang Hunain. Shafwan bertanya, „Apakah engkau merampasnya, ya Muhammad?‟ Nabi menjawab, „Cuma meminjam dan aku bertanggung jawab.‟

tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.

Dan

Rukun ‘Ariyah

Rukun „ariyah menurut jumhur ulama fiqh terdiri dari empat, yaitu:

1)

Mu‟ir (peminjam),

2)

Musta‟ir (yang meminjamkan),

3)

Mu‟ar (barang yang dipinjam), dan

4)

Sighat, yakni sesuatu yang menunjukkan kebolehan untuk mengambil manfaat, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Syarat ‘Ariyah Ulama fiqh mensyaratkan dalam akad „ariyah sebagai berikut:

1)

Mu‟ir berakal sehat,

2)

Pemegangan barang oleh peminjam,

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

3) Barang (musta‟ar) dapat dimanfaatkan tanpa merusak zatnya, jika musta‟ar tidak dapat

b.

dimanfaatkan, akad tidak sah.

Qarad

Secara etimologi, qarad berarti potongan. Menurut istilah, seperti yang dikemukakan

oleh ulama Hanafiyah, qarad merupakan sesuatu yang diberikan seseorang dari harta

mitsil(yang memiliki perumpamaan) untuk memenuhi kebutuhannya.

Pengertian lainnya menurut istilah yaitu, qarad adalah akad tertentu dengan

membayarkan harta mitsil kepada orang lain supaya membayar harta yang sama kepadanya.

Landasan Syara’

1) As Sunnah

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Majah dan Ibn Hibban yang artinya:

“Dari Ibn Mas‟ud bahwa Rasulullah Saw. bersabda, Tidak ada seorang muslim yang

menukarkan kepada seorang muslim qarad dua kali, maka seperti sedekah sekali.

Dalam hadits lain, yang diriwayatkan oleh Muslim, yang artinya:

“Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw. telah bersabda, “barang siapa melepaskan dari

seorang muslim satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah

melepaskan dia dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa memberi

kelonggaran kepada seorang yang kesusahan, niscaya Allah akan memberi kelonggaran

baginya di dunia dan akhirat, dan barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, niscaya

Allah menutupi (aib)nya di dunia dan di akhirat. Dan Allah selamanya menolong

hamba-Nya, selama hamba-Nya mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

2)

Ijma’

Kaum muslimin sepakat bahwa qarad dibolehkan dalam Islam. Hukum qarad

adalah dianjurkan (mandhub) bagi muqrid dan mubah bagi muqtarid.

2. Akad Pertukaran

Jual Beli (Al-bai’)

Secara etimologis jual beli berasal dari bahasa arab Al-bai‟ yang berarti menjual, mengganti,

dan menukar sesuatu dengan yang lain. Sedangkan secara terminologis jual beli adalah saling

menukar harta denga harta melalui cara tertentu.

Dasar hukumJual Beli (Al-bai’):

melalui cara tertentu. Dasar hukumJual Beli (Al- bai’) : Artinya: “ Allah telah menghalalkan jual be

Artinya: “

Allah

telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba

(QS : al-Baqarah:275)

”.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

Rukun Jual Beli:

Orang yang berakad (penjual dan pembeli)

Shighat (lafal ijab dan qobul)

Barang yang dibeli

Nilai tukar pengganti barang

Jenis akad pertukaran:

a. Berdasarkan perbandingan harga jual dan harga beli :

1)

Al musawwamah

2)

Transakasi jual beli dengan harga yang bisa ditawar, dimana si penjual tidak memberitahukan si pembeli harga pokok/pasar dari barang tersebut dan berapa keuntungan yang diperolehnya. Si pembeli pun bebas menawar harga barang yang akan di belinya. Al Tauliah

3)

Transaksi jual beli dengan harga pokok dimana si penjual tidak mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan barangnya. Al Murabahah Perjanjian jual beli dengan harga pasar ditambah dengan laba buat si penjual, dimana pembeli mengetahui dengan pasti nilai dari harga pasar dari barang tersebut dan nilai

tambahan dari si penjual.

b. Berdasarkan jenis barang pengganti

1)

Al Mughayadah

2)

Pemilik dana menentukan syarat dan pembatasan kepada pengeloladan pengguna dana tersebut dengan jangka waktu, tempat, jenis usaha, dsb. Al Mutlaq

3)

Pemilik dana memberikan keleluasaan penuh kepada pengelola untuk mempergunakan dana tersebut dalam usaha yang dianggapnya baik dan menguntungkan. As Sharf

Transaksi pertukaran antara emas dengan perak atau pertukaran valuta asing, dimana uang asing dipertukarkan dengan mata uang domestik atau mata uang asing lainnya.

c. Berdasarkan waktu penyerahan

1)

Bithaman Ajil

Menjual dengan harga asal ditambah dengan margin keuntungan yang telah disepakati dan dibayar secara kredit. RukunBithaman Ajil:

a) Ada orang yang berakad atau al-mutu al-muta‟aqidain (pembeli dan penjual).

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

b) Ada sighat (lafaz ijabdan qabul).

c) Adanya barang yang dibeli.

d) Ada nilai tukar pengganti barang.

2)

Bai As Salam Perjanjian jual beli dengan cara pemesanan barang dengan spesifikasi tertentu yang dibayar di muka dan penjual harus menyediakan barang tersebut dan diantarkan kepada si

pembeli dengan tempat dan waktu tertentu. Biasanya barang komoditi / hasil pertanian. Rukun Salam:

a) Muslim (pembeli/pemesan)

b) Muslam ilaih (penjual/penerima pesanan)

c) Muslam fih (barang yang dipesan)

d) Ra‟s al-mal (harga pesanan)

e) Shighat ijab qabul (ucapan serah terima)

3)

Bai‟u Al Istisna Perjanjian jual beli dengan cara memesan barang yang bukan komoditi atau barang pertanian tapi barang yang dibuat dengan mesin dan keahlian khusus. Barang tersebut dipesan dan dibuat sesuai ketentuan yang diminta si pembeli, dibayar di muka dan bisa dengan cicilan atau langsung tunai apabila barang pesanan tersebut sudah selesai dan siap

digunakan oleh pembelinya. Rukun Istishna:

a) Shani‟ (produsen/pembuat)

b) Mustashni‟ (pemesan/pembeli)

c) Mashnu‟ (barang yang dipesan)

d) Ra‟s al-mal (harga yang dibayarkan)

e) Shighat ijab qabul (ucapan serah terima)

3. Akad Bersyarikat

a. Musyarakah (Syirkah) Terjadi kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. Para pihak yang bekerjasama memberikan kontribusi modal. Kuntungan dan resiko akan ditanggung bersama. Landasan Syirkah 1) Al – Qur’an

ditanggung bersama. Landasan Syirkah 1) Al – Qur’an Artinya: “ Mereka bersekutu dalam yang sepertiga.” (QS.

Artinya: “

Mereka bersekutu dalam yang sepertiga.” (QS. An-Nisa‟: 12)

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance 2017 Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang -orang yang berserikat itu sebagian

Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu

sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagiaan yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan amat sedikitlah mereka ini.” (QS. As-Shad : 24)

2) As Sunnah Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Hakim yang artinya: “Dari Abu Hurairah yang dirafa‟kan kepada Nabi Saw. bahwa Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. berfirman, “Aku adalah yang ketiga pada dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati temannya, Aku akan keluar dari persekutuan tersebut apabilasalah seorang mengkhianatinya.” (HR. Abu Dawud dan Hakim dan menyahihkan sanadnya) Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang artinya:“Kekuasaan Allah senantiasa berada pada dua orang yang bersekutu selama keduanya tidak berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim) 3) Ijma’

Artinya:

Umat Islam sepakat bahwa syirkah dibolehkan.

Jenis Syirkah :

1) Musyarakah Muwafadhah adalah kerja sama dengan percampuran modal yang sama besarnya. Syirkah muwafadhah mengharuskan :

a) Keidentikan penyertaan modal dari setiap anggota.

b) Setiap anggota menjadi wakil bagi partner lainnya.

c) Pembagian keuntungan dan kerugian berdasarkan atas besarnya modal masing- masing.

2) Musyarakah Al-Inan adalah kerja sama dengan percampuran modal yang tidak mesti sama porsinya. Cirinya :

a) Besarnya modal tidak harus sama.

b) Setiap anggota punya hak untuk aktif dalam pengelolaan usaha, ia juga dapat

menggugurkan haknya.

c) Keuntungan dan kerugian didasarkan atas porsi modal atau atas dasar negosiasi lainnya.

Contoh Syirkah Inan : PT, Koperasi, Bank, Leasing, Joint Venture, dsb.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

b.

3) Musyarakah Abdanadalah kerja sama atau percampuran tenaga atau profesionalisme antara 2 pihak atau lebih. Contoh : kerja sama antara 2 penjahit membuka toko jahit dan mengerjakan pesanan secara bersama. 4) Musyarakah Wujuhadalah kerja sama atau percampuran antara pihak pemilik dana dengan pihak lain yang memiliki kredibilitas ataupun kepercayaan. Hanya mengandalkan wujuh (wibawa dan nama baik) para anggotanya. Pembagian keuntungan didasarkan atas negosiasi. Mudharabah Akad kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengusaha (mudharib) untuk melakukan suatu usaha bersama. Keuntungan yag diperoleh dibagi antara keduanya dengan perbandingan nisbah yang disepakati. Landasan Hukum

1)

Al – Qur’an

nisbah yang disepakati. Landasan Hukum 1) Al – Qur’an Artinya: “ Allah ” Dan orang -orang

Artinya: “

Allah

Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia (QS. Al-Muzammil: 20)

di muka bumi mencari sebagian karunia (QS. Al-Muzammil: 20) Artinya: “Apabila teleh ditunaikan sholat, bertebaranlah

Artinya: “Apabila teleh ditunaikan sholat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan ”

carilah karunia Allah

(QS. Al-Jumu‟ah: 10)

bumi dan ” carilah karunia Allah (QS. Al - Jumu‟ah: 10) 2) 3) Artinya: “Tidak ada

2)

3)

Artinya: “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari ”

As Sunnah Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Majah dari Shuhaib, bahwa Nabi Saw. bersabda, “Tiga perkara yang mengandung berkah adalah jual-beli yang ditangguhkan, melakukan qiradh (memberi modal kepada orang lain), dan yang mencampurkan gandum dengan jelas untuk keluarga, bukan untuk diperjualbelikan.” (HR. Ibn Majah dari Shuhaib) Ijma’ Adanya riwayat yang menyatakan bahwa jemaah dari sahabat menggunakan harta anak yatim untuk mudharabah, dan perbuatan tersebut tidak ditentang oleh sahabat lainnya.

Tuhanmu

(QS. Al-Baqarah: 198)

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

c.

RukunMudharabah

1)

Orang yang berakad (al-aqidani),

2)

Modal (ma‟qud alaih), dan

3) Sighat.

SyaratMudharabah

1)

2) Modal harus ada (bukan berupa utang), jelas, berupa uang, dan diberikan kepada pengusaha,

3)

Jenis-jenis Mudharabah 1) Mudharabah mutlak (al-muthlaq)adalah penyerahan modal seseorang tanpa memberikan batasan. 2) Mudharabah terikat (al-muqayyad)adalah penyerahan modal seseorang kepada pengusaha dengan memberikan batasan berupa persyaratan-persyaratan tertentu terkait pekerjaan. Muzara’ah Kerja sama antara pemilik sawah dengan penggarap dengan benih yang dimiliki oleh penggarap. Landasan Hukum Terdapat perbedaan pendapat tentang dalil yang mendasari adanya muzara‟ah/mukhabarah. Imam Hanafi, Jafar, dan Imam Syafi‟i tidak mengakui keberadaan muzara‟ah dan menganggapnya fasid. Alasan yang dikemukakan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir Ibn Abdullah, bahwa Rasulullah Saw. melarang mukhabarah. Demikian pula dalam hadits Ibn Umar yang juga diriwayatkan oleh Muslim bahwa Rasulullah Saw. melarang muzara‟ah. Golongan ini berpendapat bahwa kerja sama Nabi dengan orang Khaibar dalam mengelola tanah bukan termasuk mukharabah atau muzara‟ah, melainkan pembagian atas hasil tanaman tersebut dengan membaginya, seperti dengan sepertiga atau seperempat dari hasilnya yang didasarkan anugerah (tanpa biaya) dan kemaslahatan. Hal ini dibolehkan. Abu Yusuf dan Muhammad (sahabat Imam Abu Hanifah), Imam Malik, Ahmad, Abu Dawud Azh-Zhahiri berpendapat bahwa muzara‟ah dibolehkan. Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Jama‟ah dari Ibn Umar bahwa Nabi Saw. bermuamalah dengan ahli Khaibar dengan setengah dari seustau yang dihasilkan dari tanaman, baik buah- buahan maupun tumbuh-tumbuhan.

Orang yang melakukan akad ahli dalam mewakilkan,

Laba harus memiliki ukuran dan merupakan bagian yang umum.

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

d.

Syarat Muzara’ah

1)

2) Tanaman atau benih (lebih baik) disediakan oleh pemilik tanah dan diserahkan kepada pekerja,

3)

4) Tanaman yang dihasilkan harus jelas dan ditetapkan ukuran di antara keduanya, seperti

Aqid (orang yang berakad) adalah mumayyiz,

Tanahnya jelas, dan apabila ditanami akan menghasilkan,

sepertiga, setengah, dan lain-lain Terdapat waktu yang ditetapkan.

5)

Musyaqah Secara etimologi, musyaqah adalah salah satu bentuk penyiraman. Menurut terminologi, musyaqah berarti suatu akad dengan memberikan pohon kepada penggarap agar dikelola dan hasilnya dibagi di antara keduanya. Pengertian lainnya adalah, penyerahan pohon kepada orang yang akan mengurusnya, kemudian diberi sebagian dari buahnya. Menurut ulama Syafi‟iyah, musyaqah berarti mempekerjakan orang lain untuk menggarap kurma atau pohon anggur, dengan perjanjian dia akan menyiram dan mengurusnya, kemudian buahnya untuk mereka berdua. Rukun Musyaqah:

1)

Dua orang yang berakad (al-aqidani),

2)

Objek musyaqah, biasanya adalah pohon yang berbuah,

3)

Buah (hasil),

4)

Penggarap melakukan pekerjaan,

5)

Sighat.

SyaratMusyaqah:

1)

Ahli dalam akad,

2)

Menjelaskan bagian penggarap,

3)

Membebaskan pemilik dari pohon,

4)

Hasil dari pohon dibagi antara dua orang yang berakad,

5)

Sampai batas akhir.

Perbedaan antara Musyaqah dan Mazara’ah Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa masyaqah sama dengan muzara‟ah, kecuali dalam empat perkara:

1) Jika salah seorang yang menyepakati akad tidak memenuhi akad, dalam musyaqah, ia harus dipaksa, sedangkan dalam muzara‟ah, ia tidak boleh dipaksa,

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

2) Jika waktu musyaqah habis, akad diteruskan sampai berbuah tanpa pemberian upah,

3)

sedangkan dalam muzara‟ah, jika waktu habis, pekerjaan diteruskan dengan pemberian upah, Waktu dalam musyaqah ditetapkan berdasarkan istihsan, sebab dapat diketahui dengan

4)

tepat, sedangkan waktu dalam muzara‟ah terkadang tidak menentu, Jika pohon diminta oleh selain pemilik tanah, penggarap diberi upah. Sedangkan dalam

muzara‟ahjika diminta sebelum menghasilkan sesuatu, penggarap tidak mendapatkan apa-apa.

4. Akad Memberi Izin (Wakalah) Wakalah secara etimologis berarti pemeliharaan atau pendelegasian. Sedangkan secara terminologis wakalah adalah akad pemberian kuasa dari seseorang (muwakkil) kepada penerima kuasa (wakil) untuk melaksanakan suatu tugas (taukil) atas nama muwakkil (pemberi kuasa). Dasar hukum wakalah:

atas nama muwakkil (pemberi kuasa). Dasar hukum wakalah: Artinya: “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan

Artinya: “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS:An-Nisa: 35) Rukun Wakalah:

a. Al-Muwakkil (orang yang mewakilkan/melimpahkan kuasa)

b. Al-Wakil (orang yang menerima perwakilan)

c. Al-Muwakkil fih (sesuatu yang diwakilkan)

d. Shighat ijab (ucapan serah terima)

5. Akad Memberi Kepercayaan a. Al Kafalahadalah jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua / yang ditanggung. Rukun kafalah:

1)

Pihak penjamin/penanggung (kafil)

2)

Pihak yang berhutang (makful 'anhu 'ashil)

3)

Pihak yang berpiutang (makful lahu)

4)

Obyek jaminan (makful bih)

odul Ekonomi Islam-Basic & Advance

2017

Jenis kafalah:

1) Kafalah bi al-mal, adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan utang. Bentuk

kafalah ini merupakan sarana yang paling luas bagi bank untuk memberikan jaminan

kepada para nasabahnya dengan imbalan/fee tertentu.

Kafalah bi al-nafs, adalah jaminan diri dari si penjamin.

2)

3) Kafalah bi al-taslim, adalah jaminan yang diberikan untuk menjamin pengembalian

barang sewaan pada saat masa sewanya berakhir. Jenis pemberian jaminan ini dapat

dilaksanakan oleh bank untuk keperluan nasabahnya dalam bentuk kerjasama dengan

perusahaan, leasing company. Jaminan pembayaran bagi bank dapat berupa

deposito/tabungan, dan pihak bank diperbolehkan memungut uang jasa/fee kepada

nasabah tersebut.

4)

Kafalah al-munjazah, adalah jaminan yang tidak dibatasi oleh waktu tertentu dan untuk

tujuan/ kepentingan tertentu. Dalam dunia perbankan, kafalah model ini dikenal dengan

bentuk performance bond (jaminan prestasi).

5)

Kafalah al-mu‟allaqah, Bentuk kafalah ini merupakan penyederhanaan dari kafalah al-

munjazah, di mana jaminan dibatasi oleh kurun waktu tertentu dan tujuan tertentu pula.

b. Al Hiwalah adalah alih utang piutang yaitu memindahkan utang dari tanggungan orang yang

berhutang menjadi tanggungan orang yang berkewajiban membayar utang.

Rukun hiwalah:

1)

Muhil (Orang yang memindahkan utang)

2)

Muhal (orang yang berkewajiban melaksanakan hiwalah)

3)

Muhtal (orang yang menerima hiwalah atas hiwalah muhil)

4)

Adanya utang

5)

Ijab dan qobul

Menurut Hanifiyah,hiwalah dibagi dua, yaitu :

1) Hiwalah muthlaqah adalah perbuatan seseorang yang memindahkan utangnya kepada

orang lain dengan tidak ditegaskan sebagai pemindahan utang.

2) Hiwalah muqayyadah adalah perbuatan seseorang yang memindahkan utangnya dengan

mengaitkan piutang yang ada padanya.

c. Al Ji’alah adalah tanggung jawab dalam bentuk janji memberikan imbalan upah tertentu

secara sukarela terhadap orang yang berhasil melakukan pekerjaan atau yang belum pasti

berhasil.

Rukun Ji‟alah:

1)

Shighat

3)

Jenis pekerjaan

2)

Orang yang menjanjikan upahnya

4)

Upah

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

6. Ijarah Secara etimologis ijarah berarti upah,sewa, jasa atau imbalan. Sedangkan secara terminologis ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu dengan adanya pembayaaran upah (ujrah), tanpa diikuti pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. Dasar Hukum:

pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. Dasar Hukum: Artinya: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata:

Artinya: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS Al-Qasas: 26) Rukun Ijarah:

a. Mu‟jir (orang yang menyewakan)

b. Musta‟jir (orang yang menyewa)

c. Ma‟qud alaih (obyek sewa)

d. Shighat (ijabqabul)

Jenis akad Ijarah:

Dilihat dari sisi obyeknya, akad ijarah dibagi menjadi:

a. Ijarah Manfaat (Al-Ijarah ala al-Manfa‟ah), seperti sewa menyewa rumah, kendaraan, dll.

b. Ijarah yang bersifat pekerjaan (Al-Ijarah ala al-a‟mal); dengan cara mempekerjakan

seseorang untuk melakukan sesuatu. Ijarah Muntahiya Bi al-tamlik Adalah akad sewa yang diakhiri yang dikhiri dengan kepemilikan penyewa atas barang yangdisewa melalui akad yang dilaksanakan kedua belah pihak.

7. Wadiah (Titipan) Secara etimologis, wadi‟ah adalah bentuk masdar dari fi‟il madi wada‟a yang berarti meninggalkan atau meletakkan, yaitu meletakkan sesuatu kepada orang lain untuk dipelihara atau dijaga. Sedangkan secara terminologis wadi‟ah adalah memberikan kekuasaan kepada orang lain untuk menjaga hartanya dengan terang-terangan atau dengan isyarat semakna dengan itu. Dasar Hukum:

kep ada orang lain untuk menjaga hartanya dengan terang-terangan atau dengan isyarat semakna dengan itu. Dasar

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak

menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”(QS.An-Nisa‟: 58) Rukun Wadiah:

a.

mudi (orang yang menitipkan)

b.

wadii‟ (penerima titipan)

c.

obyek yang dititipkan

d.

Sighat (ijab qabul)

Jenis Wadi‟ah:

a. Wadi‟ah Yad Amanah (kepercayaan) dimana penerima titipan tidak boleh memanfaatkan barang titipan tersebut sampai diambil kembali.

b. Wadi‟ah Yad Dhamanah (simpanan yang dijamin) dimana titipan yang selama belum dikembalikan kepada penitip dapat dimanfaatkan oleh si penerima titipan. Apabila pemanfaatan tersebut diperoleh keuntungan maka seluruhnya menjadi hak penerima titipan.

8. Gadai (Rahn) Secara etimologi, rahn berarti tetap dan lama atau pengekangan dan keharusan. Menurut terminologi, rahn berarti penahanan terhadap suatu barang dengan hak sehingga dapat dijadikan sebagai pembayaran dari barang tersebut. Landasan Rahn

a. Al – Qur’an

Artinya:

“Apabila

kamu

Landasan Rahn a. Al – Qur’an Artinya: “Apabila kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai),

dalam

perjalanan

(dan

bermuamalah

tidak

secara

tunai),

sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, hendaklah ada barang tanggungan

yang dipegang.” (QS. Al-Baqarah: 283)

b. As Sunnah Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang artinya: “Dari Siti Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah membeli makanan dengan menggadaikan baju besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rukun Rahn

a. Rahin (orang yang memberikan jaminan),

b. Al-murtahin (orang yang menerima),

c. Al-marhun (jaminan), dan

d. Al-marhun bih (utang).

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

BAB IV LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH

A. Perbankan Konvensional dan Perbankan Syariah Bank diartikan sebagai sebuah lembaga intermediasi keuangan umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan menerbitkan promes atau yang dikenal sebagai banknote. Kata bank berasal dari bahasa Italia banca berarti tempat penukaran uang. Sedangkan menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Berdasarkan operasionalnya, bank terbagi menjadi dua jenis yaitu bank konvensional dan bank syariah.

1. Bank Konvensional Pengertian kata “konvensional” menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah “menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan”. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “berdasarkan kesepakatan umum” seperti adat, kebiasaan, kelaziman. Berdasarkan pengertian itu, bank konvensional adalah bank yang dalam operasionalnya menerapkan metode bunga, karena metode bunga sudah ada terlebih dahulu, menjadi kebiasaan dan telah dipakai secara meluas dibandingkan dengan metode bagi hasil. Bank konvensional pada umumnya beroperasi dengan mengeluarkan produk-produk untuk menyerap dana masyarakat antara lain tabungan, simpanan deposito, simpanan giro; menyalurkan dana yang telah dihimpun dengan cara mengeluarkan kredit antara lain kredit investasi, kredit modal kerja, kredit konsumtif, kredit jangka pendek; dan pelayanan jasa keuangan antara lain kliring, inkaso, kiriman uang, Letter of Credit, dan jasa-jasa lainnya seperti jual beli surat berharga, bank draft, wali amanat, penjamin emisi, dan perdagangan efek. Bank konvensional dapat memperoleh dana dari pihak luar, misalnya dari nasabah berupa rekening giro, deposit on call, sertifikat deposito, dana transfer, saham, dan obligasi. Sumber ini merupakan pendapatan bank yang paling besar. Pendapatan bank tersebut, kemudian dialokasikan untuk cadangan primer, cadangan sekunder, penyaluran kredit, dan investasi. Bank konvensional contohnya bank umum dan BPR.

2. Bank Syariah Menurut Undang-undang No. 10 Tahun 1998, Bank syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

Bank syariah muncul di Indonesia pada awal tahun 1990-an. Pemrakarsa pendirian bank syariah di Indonesia dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18 20 Agustus 1990. Dan Bank syariah pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat. Akte pendirian PT. Bank Muamalat ditandangani pada tanggal 1 November 1991 yang diikuti dengan kemunculan UU No. 7 tahun 1992 mengenai Bank umum dan BPR . kemudian pada tahun 1998 muncul UU No. 10 th 1998 yang memperbolehkan bank konvensional untuk membuka cabang syariah. Penentuan harga bagi bank syariah didasarkan pada kesepakatan antara bank dengan nasabah penyimpan dana sesuai dengan jenis simpanan dan jangka waktunya, yang akan menentukan besar kecilnya porsi bagi hasil yang akan diterima penyimpan. Dalam rangka menjalankan kegiatannya, bank syariah harus berlandaskan pada Al-quran dan hadist. Bank syariah mengharamkan penggunaan harga produknya dengan bunga tertentu. Bagi bank syariah, bunga bank adalah riba.

a. Syarat transaksi sesuai syariah Dalam perbankan syariah dianjurkan untuk melakukan transaksi-transaksi seperti berikut

ini:

1)

Tidak mengandung unsur kedzaliman

2)

Tidak menggunakan Riba

3)

Tidak membahayakan pihak sendiri atau pihak lain

4)

Tidak ada penipuan (gharar)

5)

Tidak mengandung unsur judi (maysir)

b. Prinsip Dasar Bank Syariah Bagi masyarakat modern, aktivitas keuangan dan perbankan dipandang sebagai wahana untuk membawa kepada setidaknya 2 ajaran dalam al-Quran :

1)

Prinsip Al Ta‟awun

2)

Merupakan prinsip untuk saling membantu dan bekerja sama antara anggota masyarakat dalam kebaikan. “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…”(QS. Al-Maidah:2) Prinsip menghindari Al Iktinaz Seperti membiarkan uang menganggur dan tidak berputar dalam transaksi yang bermanfaat bagi masyarakat umum. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamunsaling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…”(QS. 4:29)

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

c. Prinsip Operasional Bank Syariah

1)

Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah).

2)

Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah).

3)

Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah).

4)

Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan (ijarah).

5)

Pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).

d. Ciri-ciri Bank Syariah Bank syariah mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan bank konvensional, yaitu :

1) Beban biaya yang disepakati bersama pada waktu akad perjanjian diwujudkan dalam bentuk jumlah nominal, yang besarnya tidak kaku dan dapat dilakukan dengan kebebasan untuk tawar-menawar dalam batas wajar. Beban biaya tersebut hanya dikenakan sampai batas waktu sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak. 2) Penggunaan presentase dalam hal kewajiban untuk melakukan pembayaran selalu dihindari, karena presentase bersifat melekat pada sisa utang meskipun batas waktu perjanjian telah berakhir. 3) Di dalam kontrak-kontrak pembiayaan proyek, bank syariah tidak menerapkan perhitungan berdasarkan keuntungan yang pasti yang dimuka, karena pada hakekatnya yang mengetahui tentang ruginya suatu proyek yang dibiayai bank hanyalah Allah swt.

Pengerahan dana masyarakat dalam bentuk deposito tabungan oleh penyimpan dianggap

4)

sebagai titipan (al-wadiah) sedangkan bagi bank dianggap sebagai titipan yang diamanatkan sebagai penyertaan dana pada proyek-proyek yang dibiayai bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariah sehingga pada penyimpan tidak dijanjikan imbalan yang pasti. 5) Dewan Pengawas (DPS) bertugas untuk mengawasi operasionalisasi bank dari sudut

syariah. Selain itu manajer dan pimpinan bank islam harus menguasai dasar-dasar muamalah islam. Fungsi kelembagaan bank syariah selain menjembatani antar pihak pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana, juga mempunyai fungsi khusus yaitu fungsi amanah, artinya berkewajiban menjaga dan bertanggung jawab atas keamanan dana yang disimpan dan siap sewaktu-waktu apabila dana diambil oleh pemiliknya.

6)

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

e. Produk Bank Syariah 1) Produk Penghimpunan Dana (financing)

Sumber dana bank syariah dapat diperoleh dari tiga sumber yaitu giro, tabungan, dan deposito. Prinsip operasional yang diterapkan dalam penghimpunan dana masyarakat adalah wadiah dan mudharabah.

a) Wadiah Dari segi bahasa diartikan sebagai meninggalkan, meletakkan atau meletakan sesuatu pada orang lain untuk dipelihara dan dijaga. Secara teknis berarti titipan murni, dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip kehendaki. Landasan hukum :

Al-Quran “sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat (titipan) kepada yang berhak menerimanya”(QS. An-Nisa:58).

Al-Hadist Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Sampaikanlah amanat (tunaikan) amanat kepada orang yang berhak menerimanya dan jangan membalas khianat kepada orang yang telah mengkianati” (HR Abu Daud dan menurut Tirmidzi hadis ini Hasan sedangkan Imam Hakim mengkategorikan sahih). Prinsip wadiah yang diterapkan pada giro adalah wadiah yad dhamanah. Pihak yang dititipi (bank) bertanggung jawab atas keutuhan harta titipan. Bank boleh memanfaatkan harta titipan. Implikasi hukumnya sama dengan qardh, dimana nasabah bertindak sebagai yang meminjamkan uang, dan bank bertindak sebagai yang dipinjami. Prinsip wadiah yang lain adalah wadiah yad amanah, yaitu harta titipan tidak boleh dimanfaatkan oleh yang dititipi. Keuntungan dan kerugian menjadi hak dan kewajiban bank (pemilik dana dapat diberi bonus tanpa perjanjian). Bank dapat mengenakan biaya administrasi untuk memutupi biaya yang benar-benar terjadi.

b) Mudharabah Dalam mengaplikasi prinsip mudharabah, penyimpan bertindak sebagai shahibul maal (pemilik modal) dan bank sebagai mudharib (pengelola). Hasil usaha ini akan dibagi hasilkan berdasarkan nisbah yang disepakati. Rukun mudharabah terpenuhi sempurna jika ada mudharib, ada pemilik dana, ada usaha yang dibagi hasilkan, ada nisbah, da nada ijab Kabul. Prinsip mudharabah ini diaplikasikan pada produk tabungan berjangka dan deposito berjangka.

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance 2017 2) Berdasarkan kewenangan yang diberikan pihak penyimpan dana, prinsip

2)

Berdasarkan kewenangan yang diberikan pihak penyimpan dana, prinsip mudharabah dibagi menjadi:

Mudharabah mutlaqah Penerapan mudharabah mutlaqah dapat berupa tabungan mudharabah dan deposito mudharabah. Berdasarkan prinsip ini tidak ada pembatasan bagi bank dalam menggunakan dana yang dihimpun.

Mudharabah Muqayyadah Jenis mudharabah ini merupakan simpanan khusus (restriced investment) dimana pemilik dana dapat menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank. Produk Penyaluran Dana (funding) Dalam menyalurkan dana pada nasabah, secara garis besar produk pembiayaan syariah terbagi ke dalam tiga kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya yaitu :

Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.

Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa.

Transaksi pembiayaan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.

a) Jual beli (ba‟i) Prinsip jual-beli dilaksanakan sehubungan dengan adanya perpindahan kepemilikan barang atau benda (transfer of property). Tingkat keuntungan bank ditentukan di depan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual. Ciri-ciri transaksi jual beli:

Jual beli dengan pembayaran tunai di awal meliputi jual beli tunai dan salam.

Jual beli dengan pembayaran bertahap/dicicil meliputi murabahah dan istisnha.

Jual beli dengan penyerahan barang di awal meliputi jual beli tunai dan murabahah.

Jual beli dengan penyerahan barang di akhir meliputi salam dan istisnha.

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

b) Murabahah Murabahah bi tsaman ajil atau lebih dikenal sebagai murabahah berasal dari kata ribhu (keuntungan) adalah transaksi jual-beli di mana bank menyebut jumlah keuntungannya. Bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Pembiayaan ini merupakan bentuk pembiayaan berprinsip jual beli yang pada dasarnya merupakan penjualan dengan keuntungan (margin) tertentu yang ditambahkan di atas biaya perolehan. Pembayarannya bisa tunai maupun ditangguhkan dan dicicil (bi tsaman ajil). Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah keuntungan. Kedua pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran. Harga jual dicantumkan dalam akad jual-beli dan jika telah disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad. Dalam transaksi ini barang diserahkan segera setelah akad sedangkan pembayaran dilakukan secara tangguh.

c) Salam Salam adalah transaksi jual beli di mana barang yang diperjualbelikan belum ada. Oleh karena itu barang diserahkan secara tangguh sedangkan pembayaran dilakukan tunai. Bank bertindak sebagai pembeli, sementara nasabah sebagai penjual. Sekilas transaksi ini mirip jual beli ijon, namun dalam transaksi ini kuantitas, kualitas, harga, dan waktu penyerahan barang harus ditentukan secara pasti. Dalam praktek perbankan, ketika barang telah diserahkan kepada bank, maka bank akan menjualnya kepada rekanan nasabah atau kepada nasabah itu sendiri secara tunai atau secara cicilan. Harga jual yang ditetapkan bank adalah harga beli bank dari nasabah ditambah keuntungan. Dalam hal bank menjualnya secara tunai biasanya disebut pembiayaan talangan (bridging financing). Sedangkan dalam hal bank menjualnya secara cicilan, kedua pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran. Harga jual dicantumkan dalam akad jual-beli dan jika telah disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad. Umumnya transaksi ini diterapkan dalam pembiayaan barang yang belum ada seperti pembelian komoditi pertanian oleh bank untuk kemudian dijual kembali secara tunai atau secara cicilan. Ketentuan umum Salam:

Pembelian hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jelas seperti jenis, macam, ukuran, mutu dan jumlahnya.

Apabila hasil produksi yang diterima cacat atau tidak sesuai dengan akad maka nasabah (produsen) harus bertanggung jawab dengan cara antara lain mengembalikan dana yang telah diterimanya atau mengganti barang yang sesuai dengan pesanan.

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

Mengingat bank tidak menjadikan barang yang dibeli atau dipesannya sebagai persediaan (inventory), maka dimungkinkan bagi bank untuk melakukan akad salam kepada pihak ketiga (pembeli kedua) seperti bulog, pedagang pasar induk atau rekanan. Mekanisme seperti ini disebut dengan paralel salam.

d) Istishna Istishna merupakan salah satu bentuk jual beli dengan pemesanan yang mirip dengan salam. Perbedaannya, dalam istisnha pembayaran dapat di muka, dicicil sampai selesai, atau di belakang, serta istisnha biasanya diaplikasikan untuk industri dan barang manufaktur. Ketentuan umum:

Spesifikasi barang pesanan harus jelas seperti jenis, macam ukuran, mutu dan jumlah. Harga jual yang telah disepakati dicantumkan dalam akad istishna dan tidak boleh berubah selama berlakunya akad. Jika terjadi perubahan dari kriteria pesanan dan terjadi perubahan harga setelah akad ditandatangani, maka seluruh biaya tambahan tetap ditanggung nasabah.

maka seluruh biaya tambahan tetap ditanggung nasabah. e) Sewa (ijarah) Ijarah adalah suatu akad dimana terjadi

e) Sewa (ijarah) Ijarah adalah suatu akad dimana terjadi pemindahan hak guna atas suatu barang dan atau jasa atas pembayaran upah sewa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri dengan perkataan lain ijarah adalah mengambil manfaat atas suatu barang dengan jalan penggantian sewa atas upah sejumlah tertentu. Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahaan manfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama saja dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada objek transaksinya. Bila pada jual beli objek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah objek transaksinya adalah jasa.

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance 2017 Pada akhir masa sewa, bank dapat saja menjual barang yang disewakannya

Pada akhir masa sewa, bank dapat saja menjual barang yang disewakannya kepada nasabah. Karena itu dalam perbankan syariah dikenal ijarah muntahhiyah bittamlik (sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan). Harga sewa dan harga jual disepakati pada awal perjanjian.

Harga sewa dan harga jual disepakati pada awal perjanjian. f) Bagi hasil (syirkah) Produk pembiayaan syariah

f) Bagi hasil (syirkah) Produk pembiayaan syariah yang didasarkan prinsip bagi hasil adalah :

Musyarakah Bentuk umum dari usaha bagi hasil adalah musyarakah (syirkah atau syarikah atau serikat atau kongsi). Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerjasama untuk meningkatkan nilai asset yang mereka miliki secara bersama-sama. Termasuk dalam golongan musyarakah adalah semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Secara spesifik bentuk kontribusi dari pihak yang bekerjasama dapat berupa dana, barang perdagangan (trading asset), kewiraswastaan (entrepreneurship), kepandaian (skill), kepemilikan (property), peralatan (equipment) , atau intangible asset (seperti hak paten atau goodwill), kepercayaan/reputasi (credit worthiness) dan barang-barang lainnya yang dapat dinilai dengan uang. Dengan merangkum seluruh kombinasi dari bentuk kontribusi masing-masing pihak dengan atau tanpa batasan waktu menjadikan produk ini sangat fleksibel.

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

Ketentuan umum:

Semua modal disatukan untuk dijadikan modal proyek musyarakah dan

dikelola bersama-sama. Setiap pemilik modal berhak turut serta dalam menentukan kebijakan usaha yang dijalankan oleh pelaksana proyek. Pemilik modal dipercaya untuk menjalankan proyek musyarakah tidak boleh melakukan tindakan seperti :

Menggabungkan dana proyek dengan harta pribadi.

Menjalankan proyek musyarakah dengan pihak lain tanpa ijin pemilik modal lainnya.

Memberi pinjaman kepada pihak lain.

Setiap pemilik modal dapat mengalihkan penyertaan atau di¬gantikan oleh pihak lain.

Setiap pemilik modal dianggap mengakhiri kerjasama apabila:

Menarik diri dari perserikatan.

Meninggal dunia.

Menjadi tidak cakap hukum.

 Meninggal dunia.  Menjadi tidak cakap hukum.  Biaya yang timbul dalam pelaksanaan proyek dan

Biaya yang timbul dalam pelaksanaan proyek dan jangka waktu proyek harus diketahui bersama. Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan sedangkan kerugian dibagi sesuai dengan porsi kontribusi modal. Proyek yang akan dijalankan harus disebutkan dalam akad. Setelah proyek selesai nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati untuk bank. Mudharabah Secara spesifik terdapat bentuk musyarakah yang popular dalam produk perbankan syariah yaitu mudharabah. Mudharabah adalah bentuk kerjasama antara dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (shahibul maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

perjanjian pembagian keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerjasama dengan kontribusi 100% modal dari shahibul maal dan keahlian dari mudharib.

100% modal dari shahibul maal dan keahlian dari mudharib. Transaksi jenis ini tidak mensyaratkan adanya wakil

Transaksi jenis ini tidak mensyaratkan adanya wakil shahibul maal dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus bertindak hati- hati dan bertanggung jawab untuk setiap kerugian yang terjadi akibat kelalaian. Sedangkan sebagai wakil shahibul maal dia diharapkan untuk mengelola modal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba optimal. Perbedaan yang esensial dari musyarakah dan mudharabah terletak pada besarnya kontribusi atas manajemen dan keuangan atau salah satu diantara itu. Dalam mudharabah modal hanya berasal dari satu pihak, sedangkan dalam musyarakah modal berasal dari dua pihak atau lebih. musyarakah dan mudharabah dalam literatur fiqih berbentuk perjanjian kepercayaan (uqud al amanah) yang menuntut tingkat kejujuran yang tinggi dan menjunjung keadilan. Karenanya masing-masing pihak harus menjaga kejujuran untuk kepentingan bersama dan setiap usaha dari masing-masing pihak untuk melakukan kecurangan dan ketidakadilan pembagian pendapatan betul-betul akan merusak ajaran Islam. Ketentuan umum :

Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku pengelola modal; harus diserahkan tunai, dapat berupa uang atau barang yang dinyatakan nilainya dalam satuan uang. Apabila modal diserahkan secara bertahap, harus jelas tahapannya dan disepakati bersama. Hasil dan pengelolaan modal pembiayaan mudharabah dapat diperhitungkan dengan dua cara, yaitu perhitungan dari pendapatan proyek (revenue sharing) dan perhitungan dari keuntungan proyek (profit sharing). Hasil usaha dibagi sesuai dengan persetujuan dalam akad, pada setiap bulan atau waktu yang disepakati. Bank selaku pemilik modal

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

menanggung seluruh kerugian kecuali akibat kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah, seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan dana. Bank berhak melakukan pengawasan terhadap pekerjaan namun tidak berhak mencampuri urusan pekerjaan/usaha nasabah. Jika nasabah cidera janji dengan sengaja misalnya tidak mau membayar kewajiban atau menunda pembayaran kewajiban, dapat dikenakan sanksi administrasi.

g) Akad pelengkap Untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan, biasanya diperlukan juga akad pelengkap. Akad pelengkap ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, namun ditujukan untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan. Meskipun tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, dalam akad pelengkap ini dibolehkan untuk meminta pengganti biaya-biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini. Besarnya pengganti biaya ini sekedar untuk menutupi biaya yang benar-benar timbul.

Hiwalah (Alih Utang-Piutang) Hiwalah adalah transaksi mengalihkan utang piutang. Dalam praktek perbankan syariah fasilitas hiwalah lazimnya untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya. Bank mendapat ganti biaya atas jasa pemindahan piutang. Untuk mengantisipasi resiko kerugian yang akan timbul, bank perlu melakukan penelitian atas kemampuan pihak yang berutang dan kebenaran transaksi antara yang memindahkan piutang dengan yang berutang. Katakanlah seorang supplier bahan bangunan menjual barangnya kepada pemilik proyek yang akan dibayar dua bulan kemudian. Karena kebutuhan supplier akan likuiditas, maka ia meminta bank untuk mengambil alih piutangnya. Bank akan menerima pembayaran dari pemilik proyek.

likuiditas, maka ia meminta bank untuk mengambil alih piutangnya. Bank akan menerima pembayaran dari pemilik proyek.

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

Rahn (Gadai) Tujuan akad rahn adalah untuk memberikan jaminan pembayaran kembali

kepada bank dalam memberikan pembiayaan. Barang yang digadaikan wajib memenuhi kriteria :

Milik nasabah sendiri.

Jelas ukuran, sifat, dan nilainya ditentukan berdasarkan nilai riil pasar.

Dapat dikuasai namun tidak boleh dimanfaatkan oleh bank. Atas izin bank,

nasabah dapat menggunakan barang tertentu yang digadaikan dengan tidak mengurangi nilai dan merusak barang yang digadaikan. Apabila barang yang digadaikan rusak atau cacat, maka nasabah harus bertanggungjawab. Apabila nasabah wanprestasi, bank dapat melakukan penjualan barang yang digadaikan atas perintah hakim. Nasabah mempunyai hak untuk menjual barang tersebut dengan seizin bank. Apabila hasil penjualan melebihi kewajibannya, maka ke-lebihan tersebut menjadi milik nasabah. Dalam hasil penjualan tersebut lebih kecil dari kewajibannya, nasabah menutupi keku¬rangannya.

Qardh Qardh adalah pinjaman uang. Aplikasi qardh dalam perbankan biasanya dalam empat hal, yaitu : Sebagai pinjaman talangan haji, dimana nasabah calon haji diberikan pinjaman talangan untuk memenuhi syarat penyetoran. Biaya perjalanan haji. Nasabah akan melunasinya sebelum keberangkatannya ke haji. Sebagai pinjaman tunai dari produk kartu kredit syariah, dimana nasabah diberi keleluasaan untuk menarik uang tunai milik bank melalui ATM. Nasabah akan mengembalikannya sesuai waktu yang ditentukan. Sebagai pinjaman kepada pengusaha kecil, menurut perhitungan bank akan memberatkan si pengusaha bila diberikan pembiayaan dengan skema jual beli, ijarah, atau bagi hasil. Sebagai pinjaman kepada pengurus bank, dimana bank menyediakan fasilitas ini untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan pengurus bank. Pengurus bank akan mengembalikannya secara cicilan melalui pemotongan gajinya.

Wakalah (Perwakilan) Wakalah dalam aplikasi perbankan terjadi apabila nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan jasa tertentu, seperti pembukuan L/C, inkaso dan transfer uang. Bank dan nasabah yang dicantumkan dalam akad pemberian kuasa harus cakap hukum. Khusus untuk pembukaan L/C, apabila dana nasabah ternyata tidak cukup, maka penyelesaian L/C (settlement L/C)

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

dapat dilakukan dengan pembiayaan murabahah, salam, ijarah, mudharabah, atau musyakarah. Kelalaian dalam menjalankan kuasa menjadi tanggung jawab bank, kecuali kegagalan karena force majeure menjadi tanggung jawab nasabah. Apabila bank yang ditunjuk lebih dari satu, maka masing-masing bank tidak boleh bertindak sendiri-sendiri tanpa musyawarah dengan bank yang lain, kecuali dengan seizin nasabah. Tugas, wewenang dan tanggung jawab bank harus jelas sesuai kehendak nasabah bank. Setiap tugas yang dilakukan harus mengatasnamakan nasabah dan harus dilaksanakan oleh bank. Atas pelaksanaan tugasnya tersebut, bank mendapat pengganti biaya berdasarkan kesepakatan bersama. Pemberian kuasa berakhir setelah tugas dilaksanakan dan disetujui bersama antara nasabah dengan bank.

Kafalah (Garansi Bank) Garansi bank dapat diberikan dengan tujuan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban pembayaran. Bank dapat mempersyaratkan nasabah untuk menempatkan sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai rahn. Bank dapat pula menerima dana tersebut dengan prinsip wadi‟ah. Bank mendapatkan pengganti biaya atas jasa yang diberikan. Ada lima jenis kafalah yaitu:

Kafalah bin Nafs. Yaitu akad yang memberikan jaminan atas diri seseorang yang dihormati dan disegani.

Kafalah bin Maal. Yaitu jaminan pembayaran barang/ pelunasan hutang.

3)

Kafalah bin Taslim. Yaitu akad yang biasa dilakukan untuk menjamin pengembalian atas barang yang disewa pada masa sewa berakhir.

Kafalah Al Munjazah. Yaitu jaminan mutlak yang tidak dibatasi oleh jangka waktu dan untuk kepentingan/ tujuan tertentu.

Kafalah Al Muallaqah. Yaitu penyederhanaan dari kafalah al munjazah baik

oleh industri perbankan asuransi. Produk jasa Perbankan (service) Bank syariah dapat melakukan berbagai pelayanan jasa perbankan kepada nasabah dengan mendapat imbalan berupa sewa atau keuntungan. Jasa perbankan tersebut antara lain berupa :

a) Sharf (Jual Beli Valuta Asing) Pada prinsipnya jual-beli valuta asing sejalan dengan prinsip sharf. Jual beli mata uang yang tidak sejenis ini, penyerahannya harus dilakukan pada waktu yang sama (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual beli valuta asing ini.

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

b) ljarah (Sewa)

Jenis kegiatan ijarah antara lain penyewaan kotak simpanan (safe deposit box) dan jasa tata-laksana administrasi dokumen (custodian). Bank dapat imbalan sewa dari jasa tersebut.

f. Dewan Pengawas Syariah Unsur yang membedakan bank syariah dan bank konvensional adalah keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas mengawasi operasionalisasi bank dan produk-produk agar sesuai dengan ketentuan syariah. DPS biasanya diletakan pada posisi setingkat Dewan Komisaris pada setiap bank. Dewan Pengawas Syariah yaitu Dewan Yang bersifat independen. Yang dibentuk oleh Dewan Syariah Nasional dan ditempatkan pada bank yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah dengan tugas yang diatur oleh Dewan Syariah Nasional. Dewan Pengawas Syariah wajib mengikuti fatwa Dewan Syariah Nasional. Berdasarkan Keputusan Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia No:

03 Tahun 2000 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Anggota Dewan Pengwas Syariah (DPS) pada Lembaga Keuangan Syariah didefinisikan bahwa : “Dewan Pengawas Syariah (DPS) adalah bagian dari lembaga keuangan syariah yang bersangkutan, yang penempatannya atas persetujuan Dewan Syariah Nasional (DSN).”

Faktor

Bank Konvensional

Bank Syariah

Fungsi dan Kegiatan Bank

Sebagai penghimpun dana masyarakat dan meminjamkan kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit dengan imbalan bunga

Sebagai penyedia jasa pembayaran

Sebagai penerima dana titipan nasabah

Sebagai manajer investor

Sebagai investor

Sebagai penyedia jasa pembayaran selama tidak bertentangan dengan syariah

Sebagai pengelola dana kebajikan, ZIS

Mekanisme dan

antiriba

Tidak

dan

Antiriba dan anti maysir

Obyek Usaha

antimaysir

Prinsip Dasar

Bebas nilai

(prinsip

Tidak bebas nilai (prinsip syariah islam)

Operasi

materialis)

Uang sebagai komoditi

Uang sebagai alat tukar dan

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

 

Bunga

bukan komoditi

 

Bagi hasil, jual beli, sewa

Proritas Pelayanan

Kepentingan pribadi

 

Kepentingan publik

 

Orientasi

Keuntungan

Tujuan sosial-ekonomi Islam, keuntungan

Bentuk

Bank komersial

 

Bank komersial,

bank

 

pembangunan, bank universal atau multi-purpose

Evaluasi Nasabah

pengembalian

Kepastian

Lebih hati-hati partisipasi dalam resiko

karena

pokok

dan

bunga

(creditworthiness

dan

 

collateral)

Hubungan Nasabah

Terbatas debitor-kreditor

Erat sebagai mitra usaha

 

Sumber Likuiditas Jangka Pendek

Pasar uang, bank sentral

Terbatas

Pinjaman yang

Komersial

dan

Komersial dan nonkomersial, berorientasi laba dan nirlaba

diberikan

nonkomersial,

berorientasi

laba

 

Lembaga Penyelesai Sengketa

Pengadilan, arbitrase

 

Pengadilan,

badan

arbitrase

 

syariah nasional

 

Risiko Usaha

Risiko bank tidak terkait langsung dengan debitur, risiko debitur tidak terkait langsung dengan bank

Kemungkinan terjadi negative spread

Dihadapi bersama antara bank dan nasabah dengan prinsip keadilan dan kejujuran

Tidak mengenal negative spread

Struktur Organisasi Pengawas

Dewan komisaris

 

Dewan

Komisaris,

Dewan

 

Pengawas

Syariah,

Dewan

 

Syariah Nasional

Investasi

Halal dan haram

 

Halal

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 6 tahun 2004 pasal 27, tugas, wewenang, dan tanggung jawab Dewan Pengawas Syariah adalah :

a) Memastikan dan mengawasi kesesuian kegiatan operasional bank terhadap fatwa yang dikeluarkan oleh DSN.

b) Menilai aspek syariah terhadap pedoman operasional dan produk yang dikeluarkan bank.

c) Memberikan opini dari aspek syariah terhadap pelaksanaan operasional bank secara keseluruhan dalam laporan publikasi bank.

d) Mengkaji jasa dan produk baru yang belum ada fatwa untuk dimintakan fatwa ke DSN.

e) Menyampaikan laporan hasil pengawasan syariah sekurang-kurangnya setiap enam bulan

kepada direksi, komisaris, DSN, dan Bank Indonesia. Jadi secara umum tugas dan fungsi dari Dewan Pengawas Syariah dalam bank syariah adalah melakukan pengawasan dan pengarahan atas aktivitas bank syariah agar sesuai dengan aturan dan prinsip syariah yang ditetapkan dalam fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional, serta melaporkan hasil pengawasannya kepada Dewan Syariah Nasional. Perbandingan sistem bungadan sistem bagi hasil adalah:

NO

Sistem Bunga

Sistem Bagi Hasil

1.

Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus selalu untung untuk pihak bank

Penentuan besarnya resiko bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung atau rugi.

2.

Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang(modal) yang dipinjamkan

Besarnya rasio (nisbah) bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh

3.

Tidak tergantung pada kinerja usaha. Jumlah pembayaran bunga tidak mengikat meskipun jumlah keuntungan berlipat ganda saat keadaan ekonomi baik

Tergantung pada kinerja usaha. Jumlah pembagian bagi hasil meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.

4.

Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama.

Tidak ada agama yang meragukan keabsahan bagi hasil

5.

Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi

Bagi hasil tergantung kepada keuntungan proyek yang dijalankan. Jika proyek itu tidak mendapatkan keuntungan maka kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.

Sumber : Bank Syariah: dari teori ke praktek, Syafi‟i Antonio,M, 2001

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

B. Lembaga Keuangan Syariah Non-Bank 1. Asuransi Syariah Asuransi Syariah menurut definisi Dewan Syariah Nasional adalah usaha untuk saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk asset dan taba‟ru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko/bahaya tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah.

a. Prinsip-prinsip Asuransi Syariah 1) Saling membantu dan bekerjasama “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS. Al-Maidah:2) “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong sesamanya.” (HR. Abu Daud) “Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud) Saling melindungi dari berbagai macam kesusahan dan kesulitan Seperti membiarkan uang menganggur dan tidak berputar dalam transaksi yang bermanfaat bagi masyarakat umum. „Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…‟ (QS. 4 :29) Saling bertanggung jawab Menghindari unsur gharar, maysir dan riba Islam menekankan aspek keadilan, suka sama suka dan kebersamaan menghadapi resiko dalam setiap usaha dan investasi yang dirintis. Aspek inilah yang menjadi tawaran konsep untuk menggantikan gharar, maysir dan riba yang selama ini terjadi di lembaga konvensional.

b. Tata Cara dan Operasional Asuransi Syariah Akad antara perusahaan dengan peserta menggunakan akad mudharabah dengan semangat saling menanggung (takaful), dan bukan berdasarkan akad pertukaran (tadabbuli). Unsur dalam konsep al-mudharabah ini ialah :

2)

3)

4)

1) Perusahaan menginvestasikan dan mengusahakan ke dalam proyek dalam bentuk :

musyarakah, murabahah dan wadi‟ah. 2) Menanggung resiko usaha secara bersama-sama dengan prinsip bagi hasil yang telah disepakati.

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

3) Pembagian hasil atas keuntungan dari investasi dilakukan setelah penyelesaian klaim manfaat takaful dari peserta yang mengalami musibah.

4)

Pengelolaan dan investasinya tidak bertentangan dengan syariat Islam.

c. Jenis dan Produk Asuransi Syariah Asuransi syariah terdiri dari 3 jenis, yaitu :

1)

Takaful Individu Produk tabungan dari takaful individu antara lain :

a) Takaful Dana Investasi Merupakan suatu jaminan dana dalam mata uang rupiah maupun dollar Amerika Serikat bagi ahli warisnya jika nasabah meninggal dunia lebih awal ataupun sebagai

bekal hari tuanya.

b) Takaful Dana Haji Merupakan suatu perlindungan dana untuk perorangan yang menginginkan dan merencanakan pengumpulan dana dalam mata uang rupiah maupun dollar Amerika Serikat.

c) Takaful Dana Siswa Merupakan suatu jaminan dana pendidikan sampai sarjana dalam mata uang rupiah maupun dollar Amerika Serikat.

d) Takaful Dana Jabatan Merupakan suatu jaminan santunan dalam mata uang rupiah maupun dollar Amerika Serikat bagi ahli warisnya jika nasabah meninggal dunia lebih awal ataupun tidak bekerja lagi dalam masa perjanjian.

e) Takaful al-Khairat Individu Merupakan suatu jaminan santunan bagi ahli warisnya jika nasabah meninggal dunia dalam masa perjanjian.

f) Takaful Kecelakaan Diri Individu Merupakan suatu jaminan santunan bagi ahli warisnya jika nasabah meninggal dunia akibat kecelakaan dalam masa perjanjian.

g) Takaful Kesehatan Individu Merupakan suatu jaminan dana santunan rawat inap, operasi bagi perorangan jika nasabah sakit dalam masa perjanjian.

Modul Ekonomi Islam-Basic& Advance

2017

2)

Takaful Group Produk takaful group antara lain:

a) Tabungan al-Khairat dan Tabungan Haji Merupakan suatu program bagi karyawan yang ingin menunaikan ibadah haji yang pendanaannya melalui iuran bersama dengan keberangkatan bergilir.

b) Tabungan Kecelakaan Siswa Merupakan suatu jaminan bagi siswa, mahasiswa atau pesertanya dari resiko kecelakaan yang berakibat cacat total tetap maupun sebagian atau meninggal dunia.

c) Takaful Wisata dan Perjalanan Merupakan suatu jaminan bagi peserta biro perjalanan dan wisata / travel ke dalam

maupun luar negeri dari resiko cacat total tetap maupun sebagian atau meninggal dunia.

d) Takaful Kecelakaan Diri Kumpulan Merupakan suatu jaminan santunan karyawan pada perusahan, organisasi atau perkumpulan lainnya.

e) Takaful Majlis Ta‟lim Merupakan suatu jaminan penyediaan santunan bagi ahli waris jama‟ah, jika nasabah meninggal dunia dalam masa perjanjian.

f) Takaful Pembiayaan Merupakan suatu jaminan pelunasan hutang, jika nasabah meninggal dunia dalam masa perjanjian.

3)

Takaful Umum

a) Takaful Kebakaran Merupakan suatu perlindungan terhadap kerugian maupun kerusakan pada kebakaran dari sumber percikan api, sambaran petir, ledakan, dan kejatuhan pesawat, maupun

bencana alam.

b) Takaful Kendaraan Bermotor Merupakan suatu perlindungan sebagian atau seluruh kendaraan terhadap kerugian maupun kerusakan akibat dari kecelakaan, pencurian serta tanggung jawab hukum pihak ketiga.Untuk kerugian akibat huru-hara, pemogokan umum, serta kecelakaan diri pengemudi dan penumpang akan dikenakan tambahan premi.

c) Takaful Rekayasa Merupakan suatu perlindungan terhadap kerugian maupun kerusakan pada pekerjaan pembangunan. Perlindungan ini meliputi alat-alat, konstruksi mesin / baja serta tanggung jawab pihak ketiga.