Anda di halaman 1dari 9

MID KEBIJAKAN PUBLIK

OLEH :

RISNAWATI

E21116013

ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


TUGAS MID

1. jelaskan pengertian kebijakan publik dari minimal 3 ahli


2. siklus kebijakan publik meliputi agenda setting, formulasi, implementasi, dan evaluasi
kebijakan. Jelaskan tahap-tahap tersebut
3. jelaskan siapa aktor disetiap tahap kebijakan publik
4. jenis-jenis kebijakan publik meliputi : substantive, prosedural, distributive, redistributive,
dan regulatory. Jelaskan jenis tersebut
5. tingkatan kebijakan publik terdiri lingkup nasional dan daerah. Jelaskan dan berikan
contoh.

JAWABAN

1. pengertian kebijakan publik

1. Thomas R. Dye ( 1981 )

Kebijakan publik dikatakan sebagai apa yang tidak dilakukan maupun apa yang
dilakukan oleh pemerintah. Pokok kajian dari hal ini adalah negara. Pengertian ini selanjutnya
dikembangkan dan diperbaharui oleh para ilmuwan yang berkecimpung dalam ilmu kebijakan
publik. Definisi kebijakan publik menurut Thomas R. Dye ini dapat diklasifikasikan sebagai
keputusan ( decision making ), dimana pemerintah mempunyai wewenang untuk menggunakan
keputusan otoritatif, termasuk keputusan untuk membiarkan sesuatu terjadi, demi teratasinya
suatu persoalan publik.

2. Easton ( 1969 )

Kebijakan publik diartikan sebagai pengalokasian nilai-nilai kekuasaan untuk seluruh


masyarakat yang keberadaannya mengikat. Dalam hal ini hanya pemerintah yang dapat
melakukan suatu tindakan kepada masyarakat dan tindakan tersebut merupakan bentuk dari
sesuatu yang dipilih oleh pemerintah yang merupakan bentuk dari pengalokasian nilai-nilai
kepada masyarakat.

Definisi kebijakan publik menurut Easton ini dapat diklasifikasikan sebagai suatu proses
management, yang merupakan fase dari serangkaian kerja pejabat publik. Dalam hal ini hanya
pemerintah yang mempunyai andil untuk melakukan tindakan kepada masyarakat untuk
menyelesaikan masalah publik, sehingga definisi ini juga dapat diklasifikasikan dalam bentuk
intervensi pemerintah.

3. Anderson ( 1975 )

Kebijakan publik adalah sebagai kebijakan-kebijakan yang dibangun oleh badanbadan


dan pejabat-pejabat pemerintah, dimana implikasi dari kebijakan tersebut adalah :

1) Kebijakan publik selalu mempunyai tujuan tertentu atau mempunyai tindakan-tindakan


yang berorientasi pada tujuan.

2) Kebijakan publik berisi tindakan-tindakan pemerintah.

3) Kebijakan publik merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah jadi
bukan merupakan apa yang masih dimaksudkan untuk dilakukan.

4) Kebijakan publik yang diambil bisa bersifat positif dalam arti merupakan tindakan
pemerintah mengenai segala sesuatu masalah tertentu, atau bersifat negatif dalam arti
merupakan keputusan pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu.

5) Kebijakan pemerintah setidak-tidaknya dalam arti yang positif didasarkan pada


peraturan perundangan yang bersifat mengikat dan memaksa.

4. Woll ( 1966 )

Kebijakan publik adalah sejumlah aktivitas pemerintah untuk memecahkan masalah di


masyarakat, baik secara langsung maupun melalui berbagai lembaga yang mempengaruhi
kehidupan masyarakat. Adapun pengaruh dari tindakan pemerintah tersebut adalah :

1) Adanya pilihan kebijakan yang dibuat oleh politisi, pegawai pemerintah atau yang
lainnya yang bertujuan menggunakan kekuatan publik untuk mempengaruhi kehidupan
masyarakat.

2) Adanya output kebijakan, dimana kebijakan yang diterapkan pada level ini menuntut
pemerintah untuk melakukan pengaturan, penganggaran, pembentukan personil dan
membuat regulasi dalam bentuk program yang akan mempengaruhi kehidupan
masyarakat.

3) Adanya dampak kebijakan yang merupakan efek pilihan kebijakan yang mempengaruhi
kehidupan masyarakat.Definisi kebijakan publik menurut Woll ini dapat diklasifikasikan
sebagai intervensi pemerintah ( intervensi sosio kultural ) yaitu dengan mendayagunakan
berbagai instrumen untuk mengatasi persoalan publik. Definisi ini juga dapat
diklasifikasikan sebagai serangkaian kerja para pejabat publik untuk menyelesaikan
persoalan di masyarakat.

2. Siklus kebijakan publik

a) Penyusunan Agenda (Agenda Setting)


Penyusunan agenda (Agenda Setting) adalah sebuah fase dan proses yang sangat
strategis dalam realitas kebijakan publik. Sebelum kebijakan ditetapkan dan
dilaksanakan, pembuat kebijakan perlu menyusun agenda dengan memasukkan dan
memilih masalah-masalah mana saja yang akan dijadikan prioritas untuk dibahas.
Masalah-masalah yang terkait dengan kebijakan akan dikumpulkan sebanyak mungkin
untuk diseleksi. Dalam proses inilah memiliki ruang untuk memaknai apa yang disebut
sebagai masalah publik dan prioritas dalam agenda publik dipertarungkan. Jika sebuah
isu berhasil mendapatkan status sebagai masalah publik, dan mendapatkan prioritas
dalam agenda publik, maka isu tersebut berhak mendapatkan alokasi sumber daya
publik yang lebih daripada isu lain. Dalam agenda setting juga sangat penting untuk
menentukan suatu isu publik yang akan diangkat dalam suatu agenda pemerintah.
b) Formulasi Kebijakan (Policy Formulating)
Masalah yang sudah masuk dalam agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para
pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari
pemecahan masalah yang terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai
alternatif atau pilihan kebijakan yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu
masalah untuk masuk dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan
masing-masing alternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil
untuk memecahkan masalah.
c) Implementasi Kebijakan (Policy Implementation)
Pada tahap inilah alternatif pemecahan yang telah disepakati tersebut kemudian
dilaksanakan. Pada tahap ini, suatu kebijakan seringkali menemukan berbagai kendala.
Rumusan-rumusan yang telah ditetapkan secara terencana dapat saja berbeda di
lapangan. Hal ini disebabkan berbagai faktor yang sering mempengaruhi pelaksanaan
kebijakan.
Kebijakan yang telah melewati tahap-tahap pemilihan masalah tidak serta merta
berhasil dalam implementasi. Dalam rangka mengupayakan keberhasilan dalam
implementasi kebijakan, maka kendala-kendala yang dapat menjadi penghambat harus
dapat diatasi sedini mungkin.
d) Penilaian/ Evaluasi Kebijakan (Policy Evaluation)
Secara umum evaluasi kebijakan dapat dikatakan sebagai kegiatan yang menyangkut
estimasi atau penilaian kebijakan yang mencakup substansi, implementasi dan dampak.
Dalam hal ini , evaluasi dipandang sebagai suatu kegiatan fungsional. Artinya, evaluasi
kebijakan tidak hanya dilakukan pada tahap akhir saja, melainkan dilakukan dalam
seluruh proses kebijakan. Dengan demikian, evaluasi kebijakan bisa meliputi tahap
perumusan masalh-masalah kebijakan, program-program yang diusulkan untuk
menyelesaikan masalah kebijakan, implementasi, maupun tahap dampak kebijakan.

3. Aktor-aktor kebijakan publik :

a. LEGISLATIF(LEGISLATOR)
Legislatif berhubungan dengan tugas politik sentral dalam pembuatan peraturan dan
pembentukan dalam pembuatan peraturan dan pembentukan kebijakan dalam suatu
sistem politik.Legislatif ditunjuk secara formal yang mempunyai fungsi
memutuskan keputusan-keputusan politik secara bebas. Dalam melakukan
penetapan perundangan, parlemen mempunyai peran sentral dalam
mempertimbangkan, meneliti, mengoreksi sampai menyebarluaskan kebijakan
kepada. Di Negara-negara komunis, legislatifnya hanya melakukan ratifikasi atau
konfirmasi atas keputusan yang telah dibuat oleh pejabat tinggi dalam partai
komunis
b. EKSEKUTIF (PRESIDEN)
Presiden sebagai kepala eksekutif mempunyai peran yang sangat pengting dalam
pembuatan kebijakan public. Keterlibatan presiden dalam pembuatan kebijakan
dapat dilihat dalam komisi-komisi presidensial atau dalam rapat-rapat kabinet.
Dalam beberapa kasus, presiden terlibat secara personal dalam pembuatan
kebijakan. Selain keterlibatan secara langsung, kadangkala presiden juga
membentuk kelompok-kelompok atau komisi-komisi penasehat yang terdiri dari
warga Negara swasta maupun pejabat-pejabat yang ditunjuk untuk menyelidiki
kebijakan tertentu dan mengembangkan usulan-usulan kebijakan.
c. YUDIKATIF
Lembaga yudikatif mempunyai kekuasaan yang cukup besar untuk mempengaruhi
kebijakan publik melalui pengujian kembali suatu undang-undang atau peraturan .
(melalui peninjauan yudisial dan penafsiran undang-undang).Tinjauan yudisial
merupakan kekuasaan pengadilan untuk menentukan apakah tindakan-tindakan
yang diambil oleh eksekutif atau legislatif sesuai dengan konstitusi atau tidak. Bila
keputusan-keputusan terseut bertentangan dengan konstitusi, maka yudikatif
berhak membatalkan atau menyatakan tidak sah terhadap peraturan perundangan
yang sudah ditetapkan.
d. INTANSI ADMINISTRASI
Meskipun terdapat suatu doktrin dalam ilmu politik bahwa intansi administrasi
hanya dipengaruhi kebijakan yang ditentukan oleh pemerintah, namun saat ini
diakui bahwa politik dan administrasi dapat berbaur dan intansi administrasi sering
terlibat dalam pengembangan kebijakan public. Konsep administrasi baru New
PublicAdministratian (George Frederickson:1980) tidak lagi membahas dikotomi
administrasi public dengan politik. Dalam masyarakat pasca-industri seperti saat ini
dimana keberagaman (pluralitas) menjadi hal yang lumrah, teknis dan kompleksitas
maslah kebijakan pun bertambah luas sehingga memungkinkan adanya penyerahan
kekuasaan yang lebih luas secara foramal pada intansi administrasi terkait. Hal
inilah yang memberikan kesempatan yang lebih luas kepada intansi administrasi
untuk menjadi actor dalam kebijakan.
e. KELOMPOKAN KEPENTINGAN
Hampir di semua sistem politik di dunia, kelompok kepentingan mempunyai fungsi
mempertemukan kepentingan “warga tertentu” yang tidak hanya mengemukakan
tuntunan dalam dukungan tetapi juga memberikan alternatif bagi tindakan
kebijakan.Mereka member banyak informasi kepada pejabat public, yang bahkan
seringkali pada hal-hal yang bersifat teknis, mengenai sifat dan akibat yang dapat
ditimbulkan dari suatu usulan kebijakan. Dalam hal ini mereka memberikan
rasionalitas pembuatan kebijakan.Kelompok kepentingan merupakan sumber
utama pemertintah dalam memproses kebijakan publik.
f. PARTAI POLITIK
Selain berfikir untuk memperoleh kekuasaan partai politik juga berusaha
menghasilkan kebijakan publik yg menguntungkan bagi konsistuensinya, manakala
mereka memenang kan pemilihan. Ketika partai politik sudah duduk diparlemen,
mereka sering memberikan suara yang berhubungan dengan posisi kebijakan partai,
hal ini menunjukkan posisi tawar yang cukup besar ketika mereka mengusulkan
kebijakan-kebijakan.Pada masyarakat pascamodern seperti saat ini umumnya partai
politik menerapkan fungsi seperti saat ini umumnya partai politik menerapkan
fungsi sebagai “kumpulan kepentingan”, yaitu mereka berusaha untuk mengubah
permintaan khusus dari kelompok kepentingan menjadi usulan kebijakan atau
bahkan alternatif kebijakan.
g. WARGA NEGARA (INDIVIDU)
Meskipun tugas untuk membuat kebijakan biasanya diberikan kepada pejabat
publik, namun dalam beberapa kejadian warga Negara sebagai individu masih
mempunyai peluang untuk berpartisipasi secara langsung dalam pembuatan
kebijakan.Dalam tataran normatif demokratik, warga Negara mempunyai
kewajiban untuk didengarkan dan pejabat mempunyai kewajiban untuk
mendengarkan.

4. Jenis-jenis kebijakan publik

a. Substantive

Suatu kebijakan dilihat dari substansi masalah yang dihadapi oleh pemerintah.
Misalnya : kebijakan pendidikan, kebijakan ekonomi, dan Iain-lain. substantive
adalah kebijakan mengenai apa yang ingin dilakukan oleh pemerintah yang
mengalokasikan keuntungan dan kerugian maupun biaya dan manfaatnya langsung
kepada masyarakat. substantive Yaitu kebijakan yang menyangkut apa yang akan
dilakukan oleh pemerintah. Sebagai contoh dalam pembuatan suatu kebijakan
publik, meskipun ada Instansi/Organisasi Pemerintah yang secara fungsional
berwenang membuatnya, misalnya Undang-undang tentang Pendidikan, yang
berwenang membuat adalah Departemen Pendidikan Nasional, tetapi dalam
pelaksanaan pembuatannya, banyak instansi/organisasi lain yang terlibat, baik
instansi/organisasi pemerintah maupun organisasi bukan pemerintah, yaitu antara
lain DPR, Departemen Kehakiman, Departemen Tenaga Kerja, Persatuan Guru
Indonesia (PGRI), dan Presiden yang mengesyahkan Undang-undang tersebut.
Instansi-instansi/ organisasi-organisasi yang terlibat tersebut disebut policy
stakeholders.
b. ProceduralPolicy.
kebijakan prosedural merupakan kebijakan yang berkaitan dengan bagaimana
sesuatu akan dilakukan, atau siapa yang akan diberi kewenangan untuk mengambil
tindakan. Contoh kebijakan prosedural adalah undang-undang atau peraturan atau
ketetapan yang mengatur mengenai pembentukan suatu badan administratif tertentu
serta kewenangan dan proses yang dimilikinya. Misalnya, UU BPJS.
c. DistributivePolicy.
Suatu kebijakan yang mengatur tentang pemberian pelayanan/keuntungan
kepada individu-individu, kelompok-kelompok, atau perusahaan-perusahaan.
Adalah kebijakan dan program-program yang dibuat oleh pemerintah dengan tujuan
untuk mendorong kegiatan di sektor swasta atau kegiatan-kegiatan masyarakat yang
membutuhkan intervensi pemerintah dalam bentuk subsidi atau sejenisnya dimana
kegiatan tersebut tidak akan berjalan tanpa adanya campur tangan pemerintah
tersebut.
Merupakan suatu kebijakan yang memberikan barang dan jasa kepada anggota
organisasi, termasuk juga membagikan biaya barang/jasa diantara anggota
organisasi. Misalnya kebijakan pemerintah dalam pendidikan dan pembangunan
jalan raya.
d. Kebijakan Redistributif (redistributive)
Kebijakan redistributif adalah kebijakan atau program yang dibuat oleh
pemerintah dengan tujuan dapat meredistribusikan kekayaan, hak kepemilikan, dan
nilai-nilai yang lain diantara berbagai klas sosial masyarakat atau etnisitas di dalam
masyarkat.
e. kebijakan Protektif Regulasi (Protective regulatory)
Kebijakan atau program-program yang bersifat protektif dibuat oleh pemerintah
dengan maksud untuk melindungi masyarakat dengan mengatur apa yang boleh
dan tidak boleh dilakukan oleh sektor swasta
Aktivitas-aktivitas yang dapat merugikan atau membahayakan masyakarat tidak
akan diijinkan untuk dijual di pasar oleh sektor swasta. Kondisi yang
dipertimbangan sangat diperlukan untuk melindungi kepentingan masyarakat harus
diatur oleh pemerintah.

5. Tingkatan kebijakan publik terdiri lingkup nasional dan daerah

a. lingkup nasional

Dijalankan oleh pemerintah pusat dan kebijakan tersebut dibuat semata-mata untuk
kepentingan masyarakat secara keseluruhan di suatu negara dalam hal ini adalah
Indonesia .
Contoh Kebijakan lingkup nasional adalah konsitusi tertinggi bangsa indonesia yakni
UUD 1945, dimana UUD 1945 merupakan Yang dapat mempengaruhi seluruh
kehidupan bangsa Indonesia . kebijakan tersebut merupakan landasan utama bagi
pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan kehidupan berbangsa negara semua lini
dan bagian yang ada dalam negara indonesia harus patuh terhadap kebijakan itu

b. Kebijakan lingkup daerah

Adalah kebijakan yang dibuat oleh legislator/ pembuat kebijakan di daerah, dalam
hal ini DPRD dan bisa juga kepala daerah dalam lingkup wilayahnya dengan tujuan untuk
memenuhi tuntutan/kebutuhan masyarakat daerah tersebut.

Contohnya adalah Perda kab. Luwu Timur terkait pendidikan gratis muali dari
jenjang SD samap SMA/SMK merupakan salah satu bentuk kebijakan lingkup daerah
sebab kebijakan tersebut tidak berlaku di daerah di luar kabupaten Luwu Timur.

Sumber :Lumainsteivan.wordpress.com

http://www.gurupendidikan.co.id/10-pengertian-kebijakan-publik-menurut-para-ahli-
terlengkap/

http://retorics.blogspot.co.id/2015/02/tahap-tahap-kebijakan-publik-public.html?m=1

http://sefniyowanita.blogspot.co.id/2016/10/jenis-jenis-kebijakan_2.html?m=1