Anda di halaman 1dari 8

92

SEBARAN KASUS KUSTA BARU BERDASARKAN FAKTOR
LINGKUNGAN DAN SOSIAL EKONOMI DI KECAMATAN KONANG
DAN GEGER KABUPATEN BANGKALAN

DISTRIBUTION OF NEW LEPROSY BY ENVIRONMENTAL FACTORS
AND SOCIO ECONOMIC IN DISTRIC KONANG AND GEGER DISTRICT
BANGKALAN

Sri Nurcahyati1, Hari Basuki N2, Arief Wibowo2

Info Artikel Abstrak
Latar Belakang: Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang
Sejarah Artikel: menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Tujuan: Mengetahui sebaran kasus
Diterima 30 Mei 2016 kusta baru berdasarkan faktor lingkungan dan sosial ekonomi dengan kejadian
Disetujui 10 Juni 2016 kusta di Kecamatan Konang dan Geger Kabupaten Bangkalan. Metode: Jenis
Dipublikasikan 16 Juni penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol. Kelompok kasus dan
2016 kontrol masing-masing sebanyak 55 responden. Hasil: Analisis bivariat
menunjukkan jenis lantai (p=0.846), ventilasi (p= 0.000), pencahayaan (p=0.430),
kelembaban (p=0.176), sumber air (p=0.000), pendidikan (p=0.391), pekerjaan
Kata Kunci:
(p=0.206), pendapatan (p=0.511), kepadatan hunian (p=0.037) dan waktu tempuh
Sebaran, kusta baru, terhadap pelayanan kesehatan (p=0.000). Analisis multivariat menunjukkan
lingkungan, sosial sumber air (p=0.012), dan waktu tempuh terhadap pelayanan kesehatan (p=0.014).
ekonomi, waktu Pola sebaran kasus kusta menunjukan bahwa kasus kusta cenderung mengelompok
tempuh terhadap dengan pusat koordinat 113.04-7.04472 yang berada di Desa Durun Timur.
pelayanan kesehatan Simpulan dan saran: Terdapat hubungan antara sumber air dan waktu tempuh
terhadap pelayanan kesehatan dengan kejadian kusta di Kecamatan Konang dan
Keywords: Geger Kabupaten Bangkalan. Penelitian selanjutnya sebaiknya terkait sumber
Distribution, new air yang digunakan oleh masyarakat sehingga dapat diketahui sumber
leprosy, environment,
penularan kusta.
social economic,
traveling time to health
care Abstract
Background: The Leprosy is the one of the infectious disease that pose a very
complex problem. Objectives: To determine the distribution of leprosy new cases
on based on environment factor and social economi in district Konang and
Geger of Bangkalan. Methods: Observational analytic using research design
case control, is comparing people who have leprosy (cases) with people who do
not suffer from leprosy (control). The number of cases as many as 55 cases and
55 for control group. Results: Bivariate analysis showed type of flooring
(p=0.846), ventilation (p=0.000), lighting (p=0.430), humidity (p=0.176), water
resources (p=0.000), working (p=0,206), income (p=0.511), residential density
(p=0.037) and travel time to health care (p=0.000). Multivariate analysis
showed water resources (p=0.012) and travel time to health care (p=0.014).
The result of spatial analysis their showing that leprosy cases tend to cluster
with center coordinates (113.04-7.04472). Conclusions and suggestions: There
was the relationship between environment factor (ventilation, water resources)
and travel time to health care in Konang and Geger of Bangkalan district.
Future studies should be to examine water sources used by the public so they
can know the source of leprosy.

P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555
Korespondensi :
1 Mahasiswa Pascasarjana Departemen Epidemiologi Universitas Airlangga Surabaya. E-mail: sri_noer18@yahoo.com
2 Staf Pengajar Departemen Biostatistik Universitas Airlangga Surabaya

Penelitian ini 2015 angka penemuan kasus baru kusta dilaksanakan dari bulan Mei-Juni 2016.000. Puskesmas Geger Kabupaten Bangkalan. Meskipun penyakit kusta determinan dalam menularkan dan saat ini dapat disembuhkan bukan berarti memunculkan suatu penyakit. Tahun Provinsi Jawa Timur.000 mempengaruhi terjadinya kusta serta kasus penduduk. Hal ini disebabkan benarnya.77 per 100. kusta pada tahun 2014 merupakan yang sehingga perlu diketahui faktor apa saja yang terendah yaitu sebesar 7. Jurnal Wiyata. sebesar 32. dimana adalah semua kasus kusta baru yang tercatat target untuk target penemuan kasus baru kusta di buku register Puskesmas Konang dan < 5 per 100. Penelitian Hal ini disebabkan karena dari tahun ke tahun terdahulu menyatakan bahwa lingkungan masih ditemukannya sejumlah kasus baru1.. Penelitian ini Pamengkasan3. pelayanan kesehatan. Vol.000 dan telah mencapai target < 10 per 100. dan tidak menderita kusta (kontrol).000. 93 Sri Nurcahyati | Sebaran Kasus Kusta Baru ….0004. Berdasarkan HL. terutama terkait kondisi rumah berpengaruh Selama periode tahun 2010-2014. menular maupun tidak menular5. Kelompok kontrol perilaku merupakan faktor paling dominan dalam penelitian ini adalah desa yang tidak terdapat penderita kusta yang berada di P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555 . sebesar 5.000 penduduk2. Lingkungan merupakan faktor ditimbulkannya. Sumenep. Jumlah kasus kusta baru di dilakukan di Kecamatan Konang dan Kabupaten Bangkalan dari tahun 2011-2015 Kecamatan Geger Kabupaten Bangkalan cenderung mengalami penurunan. 3 No. dan kasus kusta baru di status kesehatan seseorang yaitu faktor Puskesmas Geger sebanyak 21 kasus genetik. sedangkan angka prevalensi kusta baru yang ada di Kabupaten Bangkalan. perilaku dan sehingga besar sampel untuk kelompok kasus lingkungan.000 penduduk setiap tahunnya. angka penemuan kasus kusta baru maupun Angka penemuan kasus baru kusta di prevalensi kusta mengalami penurunan sejak Kabupaten Bangkalan masih tinggi dan lebih tahun 2011. 1 Tahun 2016 PENDAHULUAN terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan. Angka penemuan kasus baru dari target indikator yaitu > 5 per 100. terhadap kejadian kusta6. control (kasus kontrol) yaitu dengan Penemuan kasus kusta baru di Kabupaten membandingkan orang yang mempunyai Bangkalan tahun 2014 merupakan urutan ke penyakit kusta (kasus) dengan orang yang empat setelah Sampang. Blum terdapat Kasus kusta baru di Puskesmas Konang empat faktor yang berkontribusi terhadap sebanyak 34 kasus. METODE PENELITIAN Kabupaten Bangkalan merupakan Jenis penelitian yang digunakan salah satu wilayah yang ada di Jawa Timur adalah observasional analitik dengan dengan angka penemuan baru kasus > 5 per menggunakan rancangan penelitian case 100. Penyakit kusta sampai saat ini masih oleh karena itu lingkungan sehat dan perilaku ditakuti oleh masyarakat.73 per 100.8 per 100. Faktor lingkungan dan faktor sebanyak 55 responden. baik penyakit Indonesia sudah terbebas dari masalah kusta. Lingkungan merupakan salah satu karena masih kurangnya pengetahuan maupun faktor paling penting dan berpengaruh positif pemahaman serta kepercayaan yang keliru terhadap terwujudnya status kesehatan terhadap penyakit kusta dan cacat yang masyarakat. Angka tersebut Kelompok kasus dalam penelitian ini masih kurang dari target nasional. keluarga termasuk sehat perlu diupayakan dengan sebenar- juga petugas kesehatan.

Baik (Skor ≥ 50) 42 (76.1) Laki-laki 26 (47.3) Tabel 2 menunjukkan bahwa Pendidikan Berisiko 50 (90.4) 49 (89.2) Tidak kedap air 21 (38.3) 32 (58.5) syarat (< 40% Usia > 15 tahun 37 (67. Distribusi faktor lingkungan fisik sampling unitnya adalah desa yang tidak terdapat kasus kusta baru. Vol.7) 23 (41.4) HASIL PENELITIAN ( ≥ 10% luas Distribusi karakteristik responden lantai) disajikan dalam Tabel 1. serta sumber air yang mengalami kusta merupakan responden yang beresiko. dan kelembaban tidak Mayoritas responden yang memenuhi syarat. Jurnal Wiyata. Besar sampel untuk mempunyai pendidikan yang beresiko.8) Sumber air Pengetahuan Berisiko 43 (78.5) 15 (27. berkelompok (cluster sampling) dengan Tabel 2.8) Kasus Kontrol (intensitas cahaya Variabel (n=55) (n=55) ≥ 60 lux) n (%) n (%) Kelembaban Umur Tidak memenuhi 36 (65.6) 6 (10.7) Tidak berisiko 12 (21.5) 40 (72.6) syarat ( < 10% menggunakan purely spatial analysis. 1 Tahun 2016 wilayah Kecamatan Konang dan Geger berada dalam kategori kurang dan Kabupaten Bangkalan.9) 46 (83.2) 23 (41. Pencahayaan Tidak memenuhi 37 (67. luas lantai) Memenuhi syarat 11 (20) 31 (56.6) mayoritas responden yang mengalami kusta Tidak berisiko 5 (9..5) Baik (skor ≥ 50) 8 (14.8) 47 (85. 3 No.2) (40% -70%) Perempuan 29 (52.1) pencahayaan. kelompok kontrol sebanyak 55 responden. Kebersihan perorang mayoritas responden Sampel yang dipilih untuk kelompok kontrol yang mengalami kusta berada dalam kategori dengan menggunakan tehnik sampel random baik. antara lain mempunyai rumah Kurang (Skor <50) 13 (23.5) 27 (49.2) Tabel 1.4) mempunyai lingkungan dengan kondisi yang Kebersihan/orang tidak baik.1) 9 (16. Karakteristik responden syarat (intensitas cahaya < 60 lux) Kusta Memenuhi syarat 18 (32.5) Kurang (skor <50) 47 (85.3) 47 (85. Responden yang mengalami kusta mempunyai usia > 15 tahun dan berjenis jika ditinjau dari faktor sosial ekonomi kelamin perempuan.5) dan > 70%) Jenis kelamin Memenuhi syarat 19 (34. Analisis sebaran kasus kusta baru Kedap air menggunakan SaTScan. Kusta Kasus Kontrol Analisis bivariabel yang digunakan Variabel (n=55) (n=55) untuk analisis adalah menggunakan uji chi n (%) n (%) square dan analisis multivariabel dilakukan Jenis lantai dengan menggunakan uji regresi logistik 34 (61.2) 8 (14.9) Usia ≤ 15 tahun 18 (32.7) 23 (41. ventilasi.3) 32 (58.8) 32 (58.5) 28 (50.8) ganda.9) dengan lantai yang tidak kedap air. untuk mengetahui Ventilasi cluster atau pengelompokan kasus Tidak memenuhi 44 (80) 24 (43. Pengetahuan sebagian menunjukkan bahwa mayoritas responden besar responden yang mengalami kusta mempunyai pekerjaan yang P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555 .7) 8 (14. 94 Sri Nurcahyati | Sebaran Kasus Kusta Baru ….

mempunyai p<0.2) 45 (81.9) Geger Kabupaten Bangkalan Tidak berisiko 1 (1.8) terhadap kejadian kusta yaitu sumber air Tabel 4 menunjukkan sebagian besar (OR=5. Analisis bivariabel faktor Variabel lingkungan fisik dan sosial (n=55) (n=55) n (%) n (%) ekonomi di Kecamatan Pekerjaan Konang dan Kecamatan Berisiko 54 (98.8) 5 (9.25.0) kandidat orang penghuni Ventilasi 0.8) 10 (18. n (%) n (%) Waktu tempuh Tabel 6 menunjukkan variabel yang ≥ 15 menit 45 (81.037 Kandidat terhadap pelayanan kesehatan disajikan hunian dalam Tabel 4.2) bermakna yang merupakan faktor risiko < 15 menit 10 (18. 95 Sri Nurcahyati | Sebaran Kasus Kusta Baru …. Distribusi faktor sosial ekonomi kepadatan hunian dan waktu tempuh.1) Penelitian value (α<0. P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555 . Waktu 0.0) Sumber air 0. 3 No.000 Kandidat menempati ruang Pencahayaan 0.2) 39 (70. dan mempunyai hunian yang tidak regresi logistik adalah variabel yang padat (Tabel 3).000 12 (21.1) Tahun 2015 Pendapatan < Rp 500.176 Kandidat (setiap orang 33 (60.9) Variabel p Multivariabel ≥ Rp 500.000.000 Kandidat penghuni Pendidikan 0.25) Kepadatan hunian Jenis Lantai 0.0) 44 (80. Hasil analisis kejadian kusta dipengaruhi oleh kedua faktor menggunakan Chi square untuk mengetahui tersebut dalam waktu bersamaan.430 Tidak masuk < 8 m2/orang) kandidat Tidak padat Kelembaban 0. Tabel 3. Jurnal Wiyata. mempunyai pendapatan <Rp variabel yang akan masuk ke dalam analisis 500. Kusta Kasus Kontrol Tabel 5.208 Kandidat Distribusi faktor geografi yang Pendapatan 0.494). Distribusi waktu tempuh terhadap pelayanan kesehatan Hasil analisis regresi logistik faktor Kusta risiko kejadian kusta di Kecamatan Konang Kasus Kontrol dan Kecamatan Geger dapat dilihat pada Variabel (n=55) (n=55) Tabel 6. 1 Tahun 2016 berisiko.8) 16 (29.2) 50 (90. kelembaban..391 Tidak masuk menempati ruang kandidat ≥ 8 m2/orang) Pekerjaan 0. Variabel hubungan antara variabel terikat dengan yang paling dominan pertama adalah sumber variabel bebas dapat dilihat pada Tabel 5. sumber air.519 yang berarti bahwa 51.000 43 (78.0) 11 (20.846 Tidak masuk Padat (setiap 22 (40. air setelah itu variabel waktu tempuh terhadap Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa pelayanan kesehatan. Vol.927) dan waktu tempuh terhadap responden yang mengalami kusta mempunyai pelayanan kesehatan (OR=5.511 Tidak masuk kandidat ditinjau dari waktu tempuh responden Kepadatan 0.000 Kandidat tempuh Tabel 4. yaitu variabel ventilasi. pekerjaan.9% selama ≥ 15 menit. Nilai R2 waktu tempuh terhadap pelayanan kesehatan adalah 0.

927 1.104 Konstanta 0. Durin Timur. Genteng Kecamatan Konang dan 113. Klaster primer Kelompok desa dengan 3-5 kasus kusta baru dengan pusat koordinat 113.517 0. bahwa kasus kusta cenderung mengelompok Dabung. . Batokaban. Konang.. Jurnal Wiyata. . 96 Sri Nurcahyati | Sebaran Kasus Kusta Baru …. Kompol. -6.494 1. Vol. dan baru yaitu Desa Pakes.343 0. 2) dan membentuk dua klaster. Cangkarman. Kecamatan Konang dan Geger dapat dilihat Pola sebaran dalam analisis spasial pada Gambar 1 berikut : dikenal sebagai pola spasial.000 Desa Kampak. Pola spasial diklasifikasikan dalam tiga jenis yaitu mengelompok.04. Batokaban. Togubeng. 0.96483 sebanyak 8 Kanegarah. Peta sebaran kasus kusta baru di Timur 2. Klaster sekunder dengan pusat Laok.012 Waktu tempuh(≥ 15 menit) 5. 0.983. 3 No.-7. Tabel 7. Pakes Berdasarkan Gambar 1 menunjukkan 112. Durin Gambar 1.04472 an Bangkalan Tahun 2015 4.489 – 23. Batokab 28 Kecamatan Geger Kabupaten 7.594 0. Banyoneng Dajah. Banyoneng Pakes.519 Kepadatan hunian . Durin Barat dan Galis Dajah.481 Ventilasi . Tegarpriyah. Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan Kombangan. 0. sebanyak 28 kasus tersebar di desa Durin 3) Kelompok desa dengan 6-8 kasus kusta Timur.04.983.04472 yaitu Desa Konang. Analisis multivariabel faktor risiko kejadian kusta di Kecamatan Konang dan Kecamatan Geger Kabupaten Bangkalan Tahun 2015 Variabel OR 95%CI p value R2 Sumber air (sungai) 5. Geger. dan Lerpak. Hasil analisis spasial kasus kusta Keterangan : baru di Kecamatan Konang dan Kecamatan Geger Kabupaten  = 1 Dot = 1 Kasus Bangkalan Tahun 2015 = Desa dengan 1-2 kasus kusta baru = Desa dengan 3-5 kasus kusta baru Klaster Lokasi Jumlah Koordin = Desa dengan 6-8 kasus kusta baru Kasus at Pusat = Desa bebas kusta Primer 1. 4) Kelompok bebas kusta yaitu Desa koordinat 112.723 Kelembaban .403 – 21. Genteng. acak dan teratur.014 Pekerjaan . Batobella dan Sebaran kasus kusta baru di Campor. bahwa terdapat empat kelompok.193 .- 3.96483 yaitu desa Sambiyan. Untuk mengetahui pola sebaran kasus kusta digunakan metode analisis Purely Spatial Analysis menggunakan Discrete Poisson Model. Bandung. P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555 . 0. Konang 5. . 0. yaitu : 1) Sekund Banyonen 8 - er g Laok Kelompok desa dengan 1-2 kasus kusta baru 6. . Genteng. 1 Tahun 2016 Tabel 6.

kepadatan hunian. kondisi sosial ekonomi. Berbagai faktor risiko dapat 112. dan waktu tempuh terhadap pelayanan kesehatan berhubungan pencahayaan. dan dengan kejadian kusta di Kecamatan Konang ketinggian. Peta pusat koordinat klaster kasus daripada responden yang mempunyai rumah kusta baru di Kecamatan Konang dengan ventilasi memenuhi syarat9. -6. Keterangan : Hasil penelitian di Kabupaten Pliwali Mandar menunjukkan bahwa responden yang = Pusat koordinat klaster primer mempunyai rumah dengan ventilasi yang = Pusat koordinat klaster sekunder tidak memenuhi syarat mempunyai risiko mengalami kusta 3. 1 Tahun 2016 kasus.. kelembaban. 97 Sri Nurcahyati | Sebaran Kasus Kusta Baru …. pekerjaan. Hunian yang padat memungkinkan terjadinya kontak serumah dengan pasien kusta. ventilasi. status gizi.4 kali lebih tinggi Gambar 2. Dibuktikan dengan analisis dan uraian tentang data penyakit terbentuknya dua klaster.96483 dengan jumlah penduduk dikelompokkan kedalam 2 kelompok faktor sebanyak 6. Ventilasi yang tidak memenuhi syarat juga merupakan faktor risiko kejadian kusta. persebaran. Untuk mendeteksi lingkungan P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555 . di desa Durin Timur pada pusat koordinat perilaku. sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Kabupaten Parigi7 dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat8 yang menyatakan bahwa responden yang mempunyai hunian yang padat mempunyai peluang mengalami kejadian kusta 6-7 kali lebih tinggi daripada responden dengan hunian yang memenuhi syarat. kelembaban.688 jiwa dan jumlah kasus risiko yaitu faktor kependudukkan dan sebanyak 8 kasus. ekonomi. faktor lingkungan.010 jiwa dan jumlah kasus tersebut dimana masing-masing variabel sebanyak 28 kasus. suhu. merupakan suatu mengelompok. yaitu klaster primer secara geografis berkenaan dengan dan klaster sekunder.983. sosial.04. 3 No. Jurnal Wiyata. sumber air. dan Kecamatan Geger Kabupaten Analisis spasial adalah salah satu Bangkalan Tahun 2015 cara pendataan dalam upaya untuk Berdasarkan Gambar 2 menunjukkan manajemen lingkungan dan merupakan bahwa kasus kusta baru di Kecamatan bagian dari pengelolaan (manajemen) Konang dan Kecamatan Geger cenderung penyakit berbasis wilayah. lingkungan. Klaster primer terletak kependudukan.04472 dengan jumlah penduduk penyakit dan hubungan antar variabel sebanyak 6. Faktor kependudukan meliputi jenis kelamin. Koordinat pusat kasus dapat dilihat dan Kecamatan Geger. kepadatan hunian. Kluster sekunder terletak dapat menjadi faktor risiko terjadinya di desa Banyoneng Laok pada pusat koordinat penyakit kusta. PEMBAHASAN status imunisasi. Hasil penelitian ini pada Gambar 2. umur.-7. Hasil penelitian menunjukkan Faktor risiko lingkungan meliputi ventilasi. Vol. kasus kejadian 113. lantai rumah.

menunjukkan bahwa kasus kusta cenderung mengelompok dan membentuk dua klaster SIMPULAN Pengelompokan kasus kusta yang terjadi 1. Selain itu juga wilayah tersebut Penelitian selanjutnya diharapkan juga masih sulit untuk akses terhadap dapat melakukan penelitian yang lebih pelayanan kesehatannya.04471. Jurnal Wiyata. sumber air untuk kegiatan sehari-hari Berdasarkan hasil analisis bersumber dari sungai. ekonomi dengan kejadian kusta baru di Berdasarkan pengamatan di lokasi Kecamatan Konang dan Geger dimana untuk variabel sumber air dan waktu Kabupaten Bangkalan. Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan. Terdapat hubungan antara sumber air menunjukkan bahwa potensi penularan kusta (sungai) dan waktu tempuh terhadap terhadap masyarakat yang tinggal di daerah pelayanan kesehatan dengan kejadian dimana kluster (primer dan sekunder) berada kusta baru di Kecamatan Konang dan cenderung lebih besar jika dibandingkan Geger Kabupaten Bangkalan. disimpan dan Berdasarkan pengamatan selama penelitian ditampilkan dengan cepat sesuai dengan masyarakat masih banyak yang menggunakan yang diharapkan10. 3 No. Vol. Dengan GIS data yang baru pada daerah endemik yang kurang jelas ada riwayat kontak dengan penderita kusta13. pompa air tanah dan juga Geographic Information System (GIS) yang PDAM. Hal yang digunakan oleh masyarakat. Sumber air merupakan salah satu merupakan suatu sistem yang mampu faktor lingkungan yang diduga kuat menjadi mengolah. infeksi seperti kusta karena penderita lama 2. dan menganalisis data.. Kementerian Kesehatan RI Direktorat Penundaan pengobatan dapat mengakibatkan Jenderal Pengendalian Penyakit Dan bertambahnya jumlah penderita baru penyakit Penyehatan Lingkungan. sumber penularan di daerah-daerah endemik.04. Kemenkes RI. memperbaiki. Karena kondisi jalan komprehensif terkait penelitian sumber air yang memang masih bebatuan dan tanah. 1 Tahun 2016 yang rentan penyakit dapat dilakukan Sumber air bersih adalah sumber air dengan menggunakan teknologi yang berasal dari sumber mata air dan sumur penginderaan jauh (remote sensing) dan yang terlindungi. Tidak terdapat hubungan antara sosial luar kluster yang lain11. Akses menuju pelayanan 1. Sebaran kasus kusta baru cenderung menunjukkan bahwa daerah tersebut mengelompok dengan pusat koordinat merupakan daerah yang memang wilayah 113. Profil Pengendalian dapat menjadi sumber penularan12. 98 Sri Nurcahyati | Sebaran Kasus Kusta Baru …. dengan masyarakat yang tinggal di daerah di 2. penyandang kusta dalam mencari pengobatan. tempuh terhadap pelayanan kesehatan 3. Jakarta. Dirjen P2PL. Pedoman Nasional kesehatan yang sulit menyebabkan kesulitan Program Pengendalian Penyakit Kusta. 2015. 2012. dengan tingkat kesulitan untuk sumber air serta wilayah tersebut jauh dari pelayanan SARAN kesehatan. Kementrian Kesehatan RI Direktorat P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555 . Sehingga akses menuju pelayanan kesehatan REFERENSI semakin sulit. khususnya data hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus spasial secara cepat. dihasilkan dapat diolah. memperbaharui. relatif curuh hujannya tinggi dan lama. sehingga ini juga diperparah dengan kondisi iklim yang bisa diketahui sumber penularan kusta.-7.

1 Tahun 2016 Jenderal Pengendalian Penyakit Dan 9. Oskam. Vol. Masyarakat. 2012. Akses pelayanan kesehatan dan Population-Based Cohort Study in kejadian malaria di Provinsi Bengkulu. Kora. Arifuddin. Tarmizi. Risk 12. L. M. 2007. Apsari. Laporan Penderita Kusta di Kabupaten Polewali Tahunan Penyakit Kusta Di Jawa Timur.R. 10. B. Jakarta. Ilmu Kesehatan Semarang.R. dan L. R.O. dan H..A Program Pascasarjana Fakultas Van Mosseveld. Jurnal Wiyata.. Faktor Risiko Lingkungan dan Perilaku 3. Adi. P. Tesis. dengan Kejadian Kusta di Kabupaten 8. Dinkes Provinsi Jatim.E. Analisis Spasial Surabaya Sebaran Kasus Tuberkulosis Paru 4.. Profil Ditinjau Dari Faktor Lingkungan Dalam Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Dan Luar Rumah Di Kabupaten Bangkalan. Sari. P. Ambarita. Indonesia.H. Klatser. Bakker. Program Bangkalan. Hatta.N. Sarana Parigi Barat Kabupaten Parigi Moutong.S Kwenang. 3 No.T. KESMAS 4(3) Penyakit Kusta Di Wilayah Kerja Puskesmas Saumlaki Kabupaten Maluku Tenggara Barat Tahun 2010-2011. Air Bersih dan Karakteristik Masyarakat Healthy Tadulako 2(1).C.D Kabupaten Klaten. W. 2006. Pascasarjana Universitas Diponegoro 5.. A. S. Notoatmodjo. 2015. Analisis Spasial Rineka Cipta.R.I.A.S. A. Kedokteran UGM. Prinsip-prinsip Dasar..E. 11. 99 Sri Nurcahyati | Sebaran Kasus Kusta Baru …. Tesis. dan H. Kesehatan 23. Faber. 2015. Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan. Ruswanto. P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555 . dan H.G. Media Penelitian dan Pengembangan 7. 2016. Yogyakarta. Herawanto. Patmawati. Endemis Di Desa Air Panas Kecamatan Hubungan Kondisi Fisik Rumah. Faktor Risiko Kejadian Tapin Kalimantan Selatan. Leprosy review 77(1). Mandar. B. M. D. Dinkes Bangkalan. Noriatifah.M. Solikhah. Leptospirosis dan Faktor Risikonya di 6. 2015. A. Semarang. Bangkalan. 2010. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia 9(4). Analisis Risiko High 13. 2016. Penyehatan Lingkungan.A. dan N. A. 2010.M. Sitorus. Jakarta. P..O.M. Buletin Penelitian Kesehatan 43. Setiani.P. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Factors for Developing Leprosy-A 2014.