Anda di halaman 1dari 30

OTITIS MEDIA

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah keperawatan Dewasa II

Dosen pembimbing: Dr. UntungSujianto, S.Kp.M.Kes

Disusun oleh:

Afriana Dwi Saputri 22020115130081

Aulia Zahrani 22020115130063

Handika Kiswantoro 22020115140096

Lailatuz Zulia Ifianti 22020115130067

Naela Zulfa 22020115120025

Putwi Marinesia Nur 22020115120037

Verawati 22020115130085

Zelikha Puspita Wijayanti 22020115120053

Kelompok 2

A15.1

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2017
Otitis Media

A. DEFINISI

Otitis media adalah radang telinga tengah dan membran timpani, yang
sering terjadi akibat infeksi saluran pernapasan akut bagian atas. Umumnya hal itu
disebabkan oleh infeksi virus yang kemudian dipersulit oleh yang sekunder
infeksi bakteri.1

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga


tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi
atas otitis media supuratid dan non supuratif, dimana masing-masing memiliki
bentuk akut dan kronis. Otitis media akut termasuk kedalam jenis otitis media
supuratif. Selain itu, terdapat juga jenia otitis media spesifik, yaitu otitis media
tubuerkilosa, otitis media sifilitik, dan otitis media adhesiva.2

Otitis Media Akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh
telinga tengah, tuba eustachii, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Biasanya
terjadi karena peradangan saluran napas atas dan sering mengenai bayi dan
anak-anak. 3

Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya


dalam keadaan steril. Bila terdapat infeksi bakteri pada nasofaring dan faring,
secara alamiah terdapat mekanisme pencegahan penjalaran bakteri memasuki
telinga tengah oleh enzim pelindung dan bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba
eustachii. OMA terjadi akibat tidak berfungsinya sistem pelindung tadi. Sumbatan
atau peradangan pada tuba eustachii merupakan faktor utama terjadinya otitis
media. Pada bayi, terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba eustachii pendek,
lebar, dan letaknya agak horizontal. 4

B. EPIDEMIOLOGI

Prevalensi terjadinya otitis media di seluruh dunia untuk usia 1 tahun


sekitar 62%, sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83%. Di Amerika
Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami minimal satu episode otitis media
sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga
kali atau lebih. Di Inggris setidaknya 25% anak mengalami minimal satu
episode sebelum usia sepuluh tahun. 3

Pada penelitian terdapat 112 pasien ISPA (6-35 bulan), didapatkan


mengalami otitis media akut dan 8% sinusitis. Epidemiologi seluruh dunia
terjadinya otitis media berusia 1 tahun sekitar 62 %, sedangkan anak-anak berusia
3 tahun sekitar 83 %. Di Amerika Serikat, diperkirakan 75 % anak mengalami
otitis media minimal satu episode. Di Inggris setidaknya 25 % anak mengalami
otitis media minimal satu episode.6

C. FAKTOR RESIKO
1. Usia
Usia dibawah 5 tahun sangat berisiko terkena OMA karena pada usia
tersebut tuba Eustachius anak belum berkembang mencapai ukuran
dewasa, Tuba Eustachius lebih pendek dan letaknya lebih datar/horisontal
sehingga sekret dari nasofaring lebih mudah masuk ke telinga tengah.

2. Jenis kelamin
Jenis kelamin laik-laki sangat berisko terkena OMA dibandingkan dengan
perempan. Hal ini diduga berkaitan dengan pneumatisasi mastoid yang
lebih kecil pada laki-laki, pajanan polusi, infeksi saluran napas berulang
serta trauma yang lebih sering terjadi pada laki-laki.

3. ISPA
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dapat menyebabkan peradangan
dan mengganggu fungsi tuba Eustachius sehingga menurunkan tekanan di
telinga tengah diikuti masuknya bakteri dan virus ke dalam telinga tengah
melalui tuba Eustachius mengakibatkan peradangan dan efusi di telinga
tengah.

4. Lingkungan
Lingkungan yang padat penduduk, tinggal di lingkungan yang lembab,
banjir, dan berjamur memiliki hubungan yang signifikan terhadap
terjadinya OMA.
D. ETIOLOGI
1. Virus
Virus juga merupakan penyebab OMA. Virus dapat dijumpai tersendiri
atau bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. Virus yang paling
sering dijumpai pada anak-anak, yaitu respiratory syncytial
virus (RSV), influenza virus, atau adenovirus (sebanyak 30-40%).Kira-
kira 10-15% dijumpai parainfluenza virus, rhinovirus atau enterovirus.
Virus akan membawa dampak buruk terhadap fungsi tuba Eustachius,
menganggu fungsi imun lokal, meningkatkan adhesi bakteri, menurunkan
efisiensi obat antimikroba dengan menganggu mekanisme
farmakokinetiknya (Kerschner, 2007). Dengan menggunakan
teknik polymerase chain reaction(PCR) danvirus specific enzyme-linked
immunoabsorbent assay (ELISA), virus-virus dapat diisolasi dari cairan
telinga tengah pada anak yang menderita OMA pada 75% kasus. 7
2. Bakteri
Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut
penelitian,65-75% kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya
melalui isolasi bakteriterhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah.
Kasus lain tergolong sebagai non-patogenik karena tidak ditemukan
mikroorganisme penyebabnya. Tiga jenis bakteripenyebab otitis media
tersering adalah Streptococcus pneumoniae (40%), diikuti
olehHaemophilus influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis (10-
15%). Kira-kira 5%kasus dijumpai patogen-patogen yang lain
seperti Streptococcus pyogenes (group A beta-hemolytic), Staphylococcus
aureus, dan organisme gram negatif. Staphylococcus aureusdan organisme
gram negatif banyak ditemukan pada anak dan neonatus yang
menjalanirawat inap di rumah sakit. Haemophilus influenzae sering
dijumpai pada anak balita.Jenis mikroorganisme yang dijumpai pada orang
dewasa juga sama dengan yangdijumpai pada anak-anak. 8
E. PATOFISIOLOGI
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas
seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah
lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka
dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi
pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya
sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan
membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai
hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu
pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir
yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang
telinga.
Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat
terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung
gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat
bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar
24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat
menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45db (kisaran pembicaraan
normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat,
cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang
telinga karena tekanannya
Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa
karena beberapa hal. Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam
perkembangan. Saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal
dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.
Adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang
berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding
orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius
sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran
Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi
tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.
F. KLASIFIKASI
Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan
otitis media non supuratif, di mana masing-masing memiliki bentuk yang
akut dan kronis. Selain itu, juga terdapat jenis otitis media spesifik (seperti
otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitika) dan otitis media yang lain
adalah otitis media adhesiva. 4

Klasifikasi Berdasarkan Gejala


1. Otitis Media Supuratif
a. Otitis Media Supuratif Akut (OMA)
Otitis media akut (OMA) biasanya terjadi karena faktor pertahanan
tubuh ini terganggu.Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab
utama dari otitis media.Karena fungsi tuba Eustachius terganggu,
pencegahan invasi kuman ke telinga tengah juga terganggu, sehingga
kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan.
Selain itu, pencetus lain adalah infeksi saluran napas atas. Pada
anak, makin sering anak terkena infeksi saluran napas, makin besar
kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah
oleh karena tuba Eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak
horizontal, dan juga adenoid pada anak relatif lebih besar dibanding orang
dewasa.
OMA dalam perjalanan penyakitnya dibagi menjadi lima stadium,
bergantungpada perubahan pada mukosa telinga tengah, yaitu stadium
oklusi tuba Eustachius,stadium hiperemis atau stadium pre-supurasi,
stadium supurasi, stadium perforasi danstadium resolusi. 4
a. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Pada stadium ini, terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai
oleh retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan intratimpani
negatif di dalam telinga tengah, dengan adanya absorpsi udara.
Retraksi membran timpani terjadi dan posisi malleus menjadi lebih
horizontal, refleks cahaya juga berkurang. Edema yang terjadi pada
tuba Eustachius juga menyebabkannya tersumbat. Selain retraksi,
membran timpani kadangkadang tetap normal dan tidak ada kelainan,
atau hanya berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi tetapi
tidak dapat dideteksi. Stadium ini sulit dibedakan dengan tanda dari
otitis media serosa yang disebabkan oleh virus dan alergi. Tidak terjadi
demam pada stadium ini. 4
b. Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-supurasi
Pada stadium ini, terjadi pelebaran pembuluh darah di membran
timpani, yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis,
edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat.
Hiperemis disebabkan oleh oklusi tuba yang berpanjangan sehingga
terjadinya invasi oleh mikroorganisme piogenik. Proses inflamasi
berlaku di telinga tengah dan membran timpani menjadi kongesti.
Stadium ini merupakan tanda infeksi bakteri yang menyebabkan pasien
mengeluhkan otalgia, telinga rasa penuh dan demam. Pendengaran
mungkin masih normal atau terjadi gangguan ringan, tergantung dari
cepatnya proses hiperemis. Hal ini terjadi karena terdapat tekanan
udara yang meningkat di kavum timpani. Gejala-gejala berkisar antara
dua belas jam sampai dengan satu hari.4
c. Stadium Surpurasi
Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen
atau bernanah di telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid. Selain itu
edema pada mukosa telinga tengah menjadi makin hebat dan sel epitel
superfisial terhancur. Terbentuknya eksudat yang purulen di kavum
timpani menyebabkan membran timpani menonjol atau bulging ke
arah liang telinga luar. Pada keadaan ini, pasien akan tampak sangat
sakit, nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah
hebat. Pasien selalu gelisah dan tidak dapat tidur nyenyak. Dapat
disertai dengan gangguan pendengaran konduktif. Pada bayi demam
tinggi dapat disertai muntah dan kejang. Stadium supurasi yang
berlanjut dan tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan iskemia
membran timpani, akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa
membran timpani. Terjadi penumpukan nanah yang terus berlangsung
di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil, sehingga
tekanan kapiler membran timpani meningkat, lalu menimbulkan
nekrosis. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna
kekuningan atau yellow spot. Keadaan stadium supurasi dapat
ditangani dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil ini kita lakukan
dengan menjalankan insisi pada membran timpani sehingga nanah
akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi
pada membran timpani akan menutup kembali, sedangkan apabila
terjadi ruptur, lubang tempat perforasi lebih sulit menutup kembali.
Membran timpani mungkin tidak menutup kembali jikanya tidak utuh
lagi. 4
d. Stadium Perforasi
Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga
sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga
tengah ke liang telinga luar. Kadang-kadang pengeluaran sekret
bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkan oleh
terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman.
Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu tubuh
menurun dan dapat tertidur nyenyak. Jika mebran timpani tetap
perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah tetap berlangsung
melebihi tiga minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif
subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih
satu setengah sampai dengan dua bulan, maka keadaan itu disebut
otitis media supuratif kronik. 4
e. Stadium Resolusi
Keadaan ini merupakan stadium akhir OMA yang diawali dengan
berkurangnya dan berhentinya otore. Stadium resolusi ditandai oleh
membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani
menutup kembali dan sekret purulen akan berkurang dan akhirnya
kering. Pendengaran kembali normal. Stadium ini berlangsung
walaupun tanpa pengobatan, jika membran timpani masih utuh, daya
tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah. Apabila stadium
resolusi gagal terjadi, maka akan berlanjut menjadi otitis media
supuratif kronik. Kegagalan stadium ini berupa perforasi membran
timpani menetap, dengan sekret yang keluar secara terus-menerus atau
hilang timbul. Otitis media supuratif akut dapat menimbulkan gejala
sisa berupa otitis media serosa. Otitis media serosa terjadi jika sekret
menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran
timpani. 4
b. Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu:
a. Tipe tubotimpani (tipe aman/ jinak)
Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars
tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan
penyakit. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini
terutama patensi tuba eustachius, infeksi saluran nafas atas, pertahanan
mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan
tubuh yang rendah, di samping itu campuran bakteri aerob dan
anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi sekunder
dari epitel skuamous.
Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas:12
1) Penyakit aktif
Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya
didahului oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba
eutachius, atau setelah berenang di mana kuman masuk melalui
liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai
mukopurulen. Ukuran perforasi bervariasi dan jarang ditemukan
polip yang besar pada liang telinga luas. Perluasan infeksi ke sel-
sel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan penyakit
mukosa yang menetap harus dicurigai bila tindakan konservatif
gagal untuk mengontrol infeksi.
2) Penyakit tidak aktif
Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering
dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai
berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti
vertigo, tinitus, and atau suatu rasa penuh dalam telinga.
b. Tipe atikoantral (ganas)
Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Penyakit
atikoantral lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan
terbentuknya kantong retraksi dimana bertumpuknya keratin sampai
menghasilkan kolesteatom. Kolesteatom adalah suatu massa amorf,
konsistensi seperti mentega, berwarna putih, terdiri dari lapisan epitel
bertatah yang telah nekrotis. Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu
kolesteatom kongenital dan kolesteatom didapat.

2. Otitis Media Non Supuratif


Disebut juga otitis media serosa, otitis media efusi, otitis media
sekretoria, otitis media mucois (glue ear).Otitis media serosa adalah
keadaan terdapatnya secret yang nonpurulen di telinga tengah, sedangkan
membrane timpani utuh.Adanya cairan di telinga tengah dengan
membrane timpani yang utuh disebut otitis media dengan efusi.Apabila
efusi tersebut encer disebut otitis media serosa dan apabila efusi tersebut
kental seperti lem disebut otitis media mukoid (glue ear). Otitis media
serosa terjadi terutama akibat transudat yang mengalir dari pembuluh
darah ke telinga tangah yang sebagian besar terjadi akibat adanya
perbedaan tekanan hidrostatik, sedangkan pada otitis media mukoid, cairan
yang ada ditelinga tengah timbul akibat sekresi aktif dari kelenjar dan kista
yang terdapat pada mukosa telinga tengah, tuba Eustachius dan rongga
mastoid. Faktor utama yang berperan adalah terganggunya tuba
Eustachius. Factor lain dapat berupa hipertrofi adenoid, adenoiditis,
sumbing palatum (cleft-palate), tumor di nasofaring, barotraumas,
sinusitis, rhinitis, defisiensi imunologik atau metabolic, dan juga alergik.
Otitis media serosa dapat dibagi menjadi dua jenis :
a. Otitis Media Serosa Akut
Merupakan keadaan terbentuknya secret di telinga secara tiba-tiba
yang disebabkan oleh gangguan fungsi tuba. Penyebabnya antara lain
sumbatan tuba (barotrauma), virus, alergi dan idiopatik.Gejala yang
menonjol biasanya pendengaran yang berkurang, selain itu ada rasa
tersumbat pada telinga atau suara sendiri terdengar lebih nyaring atau
berbeda pada telinga yang sakit.Kadang terasa seperti ada cairan yang
bergerak di dalam telinga dengan perubahan posisi.Rasa nyeri
relative.Vertigo kadang dalam bentuk ringan.Dengan otoskop terlihat
retraksi membrane timpani.Kadang tampak gelembung udara atau
permukaan cairan dalam kavum timpani.Tuli konduktif dapat
dibuktikan dengan garpu tala.Pengobatan dapat dengan
medikamentosa dan pembedahan.Dapat diberikan tetes hidung
(vasokontriktor lokal), anti histamine, serta perasat valsava.Bila gejala
masih menetap setelah 1–2 minggu, dilakukan miringotomi, dan
apabila belum mebaik dengan miringotomi dapat ditambahkan
pemasangan pipa ventilasi (Grommet).
b. Otitis Media Serosa Kronis
Pada keadaan kronis secret terbentuk secara bertahap tanpa rasa nyeri
dengan gejala-gejala pada telinga yang berlangsung lama.Otitis media
kronik lebih sering terjadi pada anak-anak, sedangkan otitis media
serosa akut lebih sering pada orang dewasa.Otitis media serosa kronik
dapat juga terjadi sebagai gejala sisa dari OMA yang tidak sembuh
sempurna. Penyebab lain diduga adanya hubungan dengan infeksi
virus, keadaan alergi atau gangguan mekanis pada tuba.Gejala klinis
yang menonjol adalah perasaan tuli, oleh karena adanya secret yang
kental.Pada otoskopi terlihat membrane timpani utuh, retraksi, suram,
kuning kemerahan atau keabu-abuan.Pengobatan yang harus
dilakukan adalah mengeluarkan secret dengan miringotomi dan
memasang pipa ventilasi. Pengobatan dengan medikamentosa
dianjurkan selama 3 bulan, apabila tidak berhasil baru dilakukan
tindakan operasi.

3. Otitis Media Adhesiva


Otitis media adhesive adalah keadaan terjadinya jaringa fibrosis di
telinga tengah sebagai akibat proses peradangan yang berlangsung lama
sebelumnya. Keadaan ini dapat merupakan komplikasi dari otitis media
supuratif maupun non supuratif yang menyebabkan rusaknya telinga
tengah.Saat penyembuhan terbentuk jaringan fibrotic yang menyebabkan
perlengketan.Pada kasus yang berat dapat juga terjadi angkilosis pada
tulang-tulang pendengaran.
Gejala klinik pendengaran berkurang dengan adanya riwayat
infeksi telinga sebelumnya, terutama diwaktu masih kecil.Pada otoskopi,
gambaran membrane timpani dapat bervariasi mulai dari sikatrik minimal,
suram sampai retraksi berat, disertai bagian-bagian yang atrofi atau
‘timpanosklerosis plaque’ (bagian membrane timpani yang menebal
berwarna putih seperti lempeng kapur).

G. MANIFESTASI KLINIS
1. Otitis Media Supuratif Akut (OMA)
Gejala dan tanda klinik lokal atau sistemik dapat terjadi secara
lengkap atau sebagian, baik berupa otalgia, demam, gelisah, mual,
muntah, diare, serta otore, apabila telah terjadi perforasi membran
timpani. Pada pemeriksaan otoskopik juga dijumpai efusi telinga
tengah.7 Terjadinya efusi telinga tengah atau inflamasi telinga
tengah ditandai dengan membengkak pada membran timpani atau
bulging, mobilitas yang terhad pada membran timpani, terdapat cairan
di belakang membran timpani, dan otore. 8

2. Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK)


a. Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan
encer) tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan
oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada
OMSK tipe jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau
busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah
oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret
biasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan
infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar
setelah mandi atau berenang. Pada OMSK stadium inaktif tidak
dijumpai adannya sekret telinga. Sekret yang sangat bau, berwarna
kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk
degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih,
mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga
tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara
luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya
jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya
kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa
nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.
b. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran.
Biasanya di jumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran.
Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi
sangat hebat, karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat
menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila tidak
dijumpai kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai
bahwa rantai tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi
dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran
lebih dari 30 db. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak
perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem
pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna
biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang
pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai
penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus
diinterpretasikan secara hati-hati. Penurunan fungsi kohlea biasanya
terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi
toksin melalui jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel labirin
tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya labirinitis
supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat
menggambarkan sisa fungsi kokhlea.
c. Otalgia (nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada
merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat
karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya
ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya
durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan
abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya
otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda berkembang
komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau
trombosis sinus lateralis.
d. Vertigo

Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius


lainnya. Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya
fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo
yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak
atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya
karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan
labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran
infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo.
Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum.

H. KOMPLIKASI
Sebelum adanya antibiotik, OMA dapat menimbulkan komplikasi,
mulai dari abses subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. Sekarang
semua jenis komplikasi tersebut didapat pada otitis media supuratif
kronik.12 Komplikasi OMA terbagi kepada komplikasi intratemporal
(perforasi membran timpani, mastoiditis akut, paresis nervus fasialis,
labirinitis, petrositis), ekstratemporal (abses subperiosteal), dan
intracranial (abses otak, tromboflebitis).7

I. PENCEGAHAN
Terdapat beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya OMA :
Mencegah ISPA pada bayi dan anak-anak, menangani ISPA dengan
pengobatan adekuat, menganjurkan pemberian ASI minimal enam bulan,
menghindarkan pajanan terhadap lingkungan merokok, dan lain-lain. 8
J. DIAGNOSIS
Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut:8
1. Penyakitnya muncul mendadak (akut)
2. Ditemukannya tanda efusi di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan
adanya salah satu di antara tanda berikut: menggembungnya gendang
telinga, terbatas /tidak adanya gerakan gendang telinga, adanya bayangan
cairan di belakang gendang telinga, cairan yang keluar dari telinga;
3. Adanya tanda / gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan
dengan adanya salah satu di antara tanda berikut: kemerahan pada
gendang telinga, nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas
normal.
Beberapa teknik pemeriksaan dapat digunakan untuk menegakkan
diagnosis OMA, seperti otoskop, otoskop pneumatik, timpanometri, dan
timpanosintesis. Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang
menggembung, perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan atau
agak kuning dan suram, serta cairan di liang telinga. 9
Jika konfirmasi diperlukan, umumnya dilakukan dengan otoskopi
pneumatik. Gerakan gendang telinga yang berkurang atau tidak ada sama
sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini meningkatkan
sensitivitas diagnosis OMA.Namun umumnya diagnosis OMA dapat
ditegakkan dengan otoskop biasa.
Untuk mengkonfirmasi penemuan otoskopi pneumatik dilakukan
timpanometri.Timpanometri dapat memeriksa secara objektif mobilitas
membran timpani dan rantai tulang pendengaran.Timpanometri merupakan
konfirmasi penting terdapatnya cairan di telinga tengah. Timpanometri juga
dapat mengukur tekanan telinga tengah dan dengan mudah menilai patensi
tabung miringotomi dengan mengukur peningkatan volume liang telinga
luar. Timpanometri punya sensitivitas dan spesifisitas 70-90% untuk deteksi
cairan telinga tengah, tetapi tergantung kerjasama pasien. 9
Timpanosintesis, diikuti aspirasi dan kultur cairan dari telinga tengah,
bermanfaat pada anak yang gagal diterapi dengan berbagai antibiotika, atau
padaimunodefisiensi. Timpanosintesis merupakan standaremas untuk
menunjukkan adanya cairan di telinga tengahdan untuk mengidentifikasi
patogen yang spesifik.9
1. Pemeriksaan Audiologi
Evaluasi audiometri dan pembuatan audiogram nada murni untuk
menilai hantaran tulang dan udara penting untuk mengevaluasi tingkat
penurunan pendengaran dan untuk menentukan gap udara dan tulang.
Audiometri tutur berguna untuk menilai ‘speech reception threshold‘ pada
kasus dengan tujuan untuk memperbaiki pendengaran.
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli
konduktif.Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural, beratnya
ketulian tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta
keutuhan dan mobilitas sistim penghantaran suara ditelinga tengah.Untuk
melakukan evaluasi ini, observasi berikut bias membantu:
a. Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari
15-20 dB
b. Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli
konduktif 30-50 dB apabila disertai perforasi.
c. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran di belakang membran
yang masih utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB.
d. Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapun
keadaan hantaran tulang, menunjukan kerusakan kohlea parah.
Pemeriksaan audiologi pada OMSK harus dimulai oleh penilaian
pendengaran dengan menggunakan garpu tala dan test Barani.
Audiometri tutur dengan masking adalah dianjurkan, terutama pada tuli
konduktif bilateral dan tuli campur

2. PemeriksaanRadiologi
Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis
nilai diagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan
audiometri. Pemerikasaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid
yang tampak sklerotik, lebih kecil dengan pneumatisasi lebih sedikit
dibandingkan mastoid yang satunya atau yang normal. Erosi tulang,
terutama pada daerah atik member kesan kolesteatom Proyeksi radiografi
yang sekarang biasa digunakan adalah:
a. Proyeksi Schuller, yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi
mastoid dariarah lateral danatas. Foto ini berguna untuk pembedahan
karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan segmen. Pada keadaan
mastoid yang skleritik, gambaran radiografi ini sangat membantu ahli
bedah untuk menghindari dura atau sinus lateral.
b. Proyeksi Mayer atau Owen, diambil dari arah dan anterior telinga
tengah. Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik
sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai
struktur-struktur.
c. Proyeksi Stenver, memperlihatkan gambaran sepanjang pyramid
petrosusdan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius
interna, vestibulum dan kanalis semisirkularis. Proyeksi ini
menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat
menunjukan adanya pembesaran akibat kolesteatom.
d. Proyeksi Chause III, memberi gambaran atik secara longitudinal
sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik.
Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan
tulang oleh karena kolesteatom, ada atau tidak tulang-tulang
pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada kanalis semi
sirkularis horizontal. Keputusanu ntuk melakukan operasi jarang
berdasarkan hanya dengan hasil X-ray saja. Pada keadaan tertentu
seperti bila dijumpai sinus lateralis terletak lebih anterior menunjukan
adanya penyakit mastoid. CT-scan merupakan pemeriksaan dasar
untuk menentukan komplikasi intra ternporal dengan sensitifitas lebih
dari 90%. 2 Pemeriksaan dengan MRI dapat digunakan untuk melihat
kelainan pembuluh darah.

3. Bakteriologi
Walapun perkembangan dari OMSK merupakan lanjutan dari mulainya
infeksi akut, bakteriologi yang ditemukan pada sekret yang kronis berbeda
dengan yang ditemukan pada otitis media supuratif akut. Bakteri yang
sering dijumpai pada OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa,
Stafilokokus aureus dan Proteus. Sedangkan bakteripada OMSA
Streptokokus pneumonie, H. influensa, dan Morexellakataralis. Bakteri
lain yang dijumpai pada OMSK E. Coli, Difteroid, Klebsiella, danbakteri
anaerob adalah Bacteriodes sp. Infeksi telinga biasanya masuk melalui
tuba dan berasal dari hidung, sinus parasanal, adenoid atau faring. Dalam
hal ini penyebab biasanya adalah pneumokokus, streptokokus, atau
hemofilius influenza. Tetapi pada OMSK keadaan ini agak berbeda.
Karena adanya perforasi membran timpani, infeksi lebih sering berasal
dari luar yang masuk melalui perforasi tadi.

K. PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan OMA adalah mengurangi gejala dan rekurensi.
Pada fase inisial penatalaksanaan ditujukan pada penyembuhan gejalayang
berhubungan dengan nyeri dan demam dan mencegah komplikasi supuratif
seperti mastoiditis atau meningitis. 9
Diagnosis yang tidak tepat dapat menyebabkan pasien diterapi dengan
antibotik yang sebenarnya kurang tepat atau tidak perlu. Hal ini dapat
menyebabkan meningkatnya resistensi antibiotik, sehingga infeksi menjadi
lebih sulit diatasi. 9
Penatalaksanaan OMA di bagian THT-KL RSUP Dr.M.Djamil Padang
tergantung pada stadium penyakit yaitu:
Stadium Oklusi :tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba
eustachius. Diberikan obat tetes hidung HCLefedrin 0,5% dalam larutan
fisiologik untuk anak <I2 thn dan HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik
untuk anak yang berumur >12 thn atau dewasa dan pemberian antibiotik. 6
1. Stadium Presupurasi : analgetika, antibiotika (biasanyagolongan
ampicillin atau penisilin) dan obat tetes hidung.Bila membran timpani
sudah hiperemi difus sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotik
yang diberikan ialah penisilin atau eritromisin. Jika terdapar-
resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunalat atau
sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin IM agar
konsentrasinya adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan minimal
selama 7 hari. Pada anak diberikan ampisilin 4x50-100 mg/KgBB,
amoksisilin 4x40 rng/KgBB /hari' atau eritromisin 4x40 mglkgBB/hari.
2. Stadium Supurasi : diberikan antibiotika dan obat-obatsimptomatik.
Dapat juga dilakukan miringotomi bilamembran timpani menonjol dan
masih utuh untukmencegah perforasi. Selain itu, analgesic juga perlu
diberikan agar nyeri dapat berkurang
3. Stadium Perforasi : Diberikan H2O2 3% selama 3-5hari dan diberikan
antibiotika yang adekuat sampai 3 minggu 3-5 hari serta antibiotik
yang adekuat sampai 3 minggu
4. Stadium resolusi biasanya akan tampak secret mengalir keluar. Pada
keadaan ini dapat dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu. Namun, bila
masih keluar secret diduga telah terjadi mastoiditid. Pada stadium
resolusi harus di follow up selama 1-3 bulan unutk memastikan tidak
terjadi OM Serosa

Pada tahun 2004, American Academy of Pediatrics dan the American


Academy of Family Physicians mengeluarkan rekomendasi
penatalaksanaan OMA.Petunjuk rekomendasi ini ditujukan pada anak usia
6 bulan sampai12 tahun. Pada petunjuk ini direkomendasikan bayi
berumur kurang dari 6 bulanmendapat antibiotika, dan pada anak usia 6-23
bulan observasi merupakan pilihan pertama pada penyakit yang tidak berat
atau diagnosis tidak pasti, antibiotika diberikan bila diagnosis pasti atau
penyakit berat. Pada anak diatas 2 tahun mendapat antibiotika jika
penyakit berat.Jika diagnosis tidak pasti, atau penyakit tidak beratdengan
diagnosis pasti observasi dipertimbangkan sebagai pilihan terapi.9

1. Observasi
Penanganan OMA dengan menunggu dan melihat (observasi)
secara bermakna menurunkan penggunaan antibiotik pada populasi urban
yang datang ke instalasi gawat darurat.Metoda menunggu dan melihat
menurunkan penggunaanan tibiotik pada 56% anak usia 6 bulan sampai
12 tahun dengan OMA.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan McCormick dkk,2009
dalam (Munilson, dkk, 2014) menunjukkan kepuasan orang tuasama
antara grup yang diterapi dengan observasi tanpa mendapat antibiotik
dengan yang mendapat antibiotic pada penanganan OMA. Dibanding
dengan observasi saja,pemberian antibiotik segera berhubungan dengan
penurunan jumlah kegagalan terapi dan memperbaiki kontrol gejala
tetapi meningkatkan efek samping yang disebabkan antibiotik dan
persentase yang lebih tinggi terhadap strain multidrug resistant
S.pneumoniae di nasofaring pada hari kedua belas kunjungan.9
Indikasi untuk protokol observasi adalah: tidak ada demam, tidak
ada muntah, pasien atau orang tua pasien menyetujui penundaan
pemberian antibiotik. Kontra indikasi relatif protokol observasi adalah
telah mendapat lebih dari 3 seri antibiotik dalam 1 tahun ini,pernah
mendapat antibiotik dalam 2 minggu terakhir,terdapat otorea.9
Pilihan observasi ini mengacu pada penundaan pemberian
antibiotik pada anak terpilih tanpa komplikasi untuk 72 jam atau lebih,
dan selama waktu itu, penatalaksanaan terbatas pada analgetik dan
simtomatislain. Pemberian antibiotik dimulai jika pada hari ketiga gejala
menetap atau bertambah. 9
Faktor-faktor kunci dalam menerapkan strategi observasi adalah:
metoda untuk mengklasifikasi derajat OMA, pendidikan orang tua,
penatalaksanaan gejala OMA, akses ke sarana kesehatan, dan
penggunaan regimen antibiotik yang efektif jika diperlukan. Jika hal
tersebut diperhatikan, observasi merupakan alternative yang dapat
diterima untuk anak dengan OMA yang tidak berat.
Penggunaan metoda observasi secara rutin untuk terapi OMA dapat
menurunkan biaya dan efek samping yang ditimbulkan oleh antibiotik
dan menurunkan resistensi kuman terhadap antibiotik yang umum
digunakan.
2. Terapi Simtomatis
Penatalaksanaan OMA harus memasukkanpenilaian adanya
nyeri.Jika terdapat nyeri, harusmemberikan terapi untuk mengurangi
nyeri tersebut. Penanganan nyeri harus dilakukan terutama dalam 24jam
pertama onset OMA tanpa memperhatikan penggunaan antibiotik.
Penanganan nyeri telinga padaOMA dapat menggunakan analgetik
seperti:asetaminofen, ibuprofen, preparat topikal
sepertibenzokain, naturopathic agent, homeopathic agent,analgetik
narkotik dengan kodein atau analog, dan timpanostomi / miringotomi
Antihistamin dapat membantu mengurangigejala pada pasien
dengan alergi hidung.Dekongestanoral berguna untuk mengurangi
sumbatan hidung.Tetapibaik antihistamin maupun dekongestan tidak
memperbaiki penyembuhan atau meminimalisir komplikasi dari OMA,
sehingga tidak rutin direkomendasikan.
Dasar pemikiran untuk menggunakan kortikosteroid dan
antihistamin adalah:obat tersebut dapat menghambat sintesis atau
melawan aksi mediator inflamasi, sehingga membantu meringankan
gejala pada OMA. Kortikosteroid dapat menghambat perekrutan leukosit
dan monosit ke daerahyang terkena, mengurangi permeabilitas
pembuluhdarah, dan menghambat sintesis atau pelepasan mediator
inflamasi dan sitokin.
3. Terapi Antibiotic
Antibiotik direkomendasikan untuk semua anakdi bawah 6 bulan, 6
bulan-2 tahun jika diagnosis pasti,dan untuk semua anak besar dari dua
tahun dengan infeksi berat (otalgia sedang atau berat atau suhu
tubuhlebih dari 39oC)
Jika diputuskan perlunya pemberian antibiotik, lini pertama adalah
amoksisilin dengan dosis 80-90mg/kg/hari. Pada pasien dengan penyakit
berat dan bila mendapat infeksi β-laktamase
positif Haemophilusinfluenzae dan Moraxella catarrhalis terapi dimulai
dengan amoksisilin-klavulanat dosis tinggi (90mg/kg/hari untuk
amoksisilin, 6,4 mg/kg/hari klavulanat dibagi 2 dosis). Jika pasien alergi
amoksisilin dan reaksialergi bukan reaksi hipersensitifitas (urtikaria
atauanafilaksis), dapat diberi cefdinir (14 mg/kg/hari dalam1 atau 2
dosis), cefpodoksim (10 mg/kg/hari 1 kali/hari)atau cefuroksim (20
mg/kg/hari dibagi 2 dosis).Padakasus reaksi tipe I (hipersensitifitas),
azitromisin (10mg/kg/hari pada hari 1 diikuti 5 mg/kg/hari untuk 4
harisebagai dosis tunggal harian) atau klaritromisin (15mg/kg/hari dalam
2 dosis terbagi). Obat lain yang bisa digunakan eritromisin-sulfisoksazol
(50 mg/kg/harieritromisin) atau sulfametoksazol-trimetoprim (6-
10mg/kg/hari trimethoprim)
Alternatif terapi pada pasien alergi penisilin yang diterapi untuk
infeksi yang diketahui atau didugadisebabkan penisilin
resistan S.pneumoniae dapatdiberikan klindamisin 30-40 mg/kg/hari
dalam 3 dosisterbagi.Pada pasien yang muntah atau tidak tahan obatoral
dapat diberikan dosis tunggal parenteral ceftriakson50 mg/kg.
Hoberman dkk menunjukkan bahwa terapi dengan amoksisilin-
klavulanat selama 10 hari pada anakusia 6 – 23 bulan dapat menurunkan
waktu penyembuhan gejala dan tanda infeksi akut pada pemeriksaan
otoskop (Munilson, dkk, 2014). Demikian juga hasil penelitianTahtinen
dkk pada anak 6 – 35 bulan menunjukkan keuntungan pada anak yang
diterapi dengan antibiotic dibandingkan dengan placebo. 9
Jika pasien tidak menunjukkan respon pada terapi inisial dalam 48-
72 jam, harus diperiksa ulanguntuk mengkonfirmasi OMA dan
menyingkirkan penyebab lain. Jika OMA terkonfirmasi pada pasien
yangpada awalnya diterapi dengan observasi, harus dimulai pemberian
antibiotik.Jika pasien pada awalnya sudahdiberi antibiotik, harus diganti
dengan antibiotik linikedua, seperti amoksisilin-klavulanat dosis
tinggi,sefalosporin, dan makrolid.Waktu yang optimum dalam terapi
OMA masih kontroversi
Terapi jangka pendek (3 hariazitromisin, 5 hari antibiotik lain)
adalah pilihan untukanak umur diatas 2 tahun dan terapi paket penuh (5
hariazitromisin, 7-10 hari antibiotik lain) lebih baik untukanak yang lebih
muda. Terdapat beberapakeuntungan dari terapi jangka pendek yaitu:
kurangnyabiaya, efek samping lebih sedikit, komplian lebih baik
danpengaruh terhadap flora komensal dapat diturunkan.
4. Terapi Bedah
Terapi pembedahan perlu dipertimbangkanpada anak dengan OMA
rekuren, otitis media efusi(OME), atau komplikasi supuratif seperti
mastoiditisdengan osteitis.Beberapa terapi bedah yang digunakanuntuk
penatalaksanaan OMA termasuk timpanosintesis,miringotomi, dan
adenoidektomi.
Timpanosintesis adalah pengambilan cairandari telinga tengah
dengan menggunakan jarum untukpemeriksaan mikrobiologi.Risiko dari
prosedur iniadalah perforasi kronik membran timpani, dislokasitulang-
tulang pendengaran, dan tuli sensorineuraltraumatik, laserasi nervus
fasialis atau korda timpani (Hoberman, et al, 2011) dalam (Munilson,
dkk, 2014).Oleh karena itu, timpanosintesis harus dibatasi pada:anak
yang menderita toksik atau demam tinggi, neonates risiko tinggi dengan
kemungkinan OMA, anak di unitperawatan intensif, membran timpani
yangmenggembung (bulging) dengan antisipasi rupture spontan (indikasi
relatif), kemungkinan OMA dengankomplikasi supuratif akut, OMA
refrakter yang tidakrespon terhadap paket kedua antibiotik.
Timpanosintesisdapatmengidentifikasipatogen pada 70-80%
kasus.Walaupun timpanosintesisdapat memperbaiki kepastian diagnostik
untuk OMA, tapitidak memberikan keuntungan terapi disbanding
antibiotik sendiri. Timpanosintesis merupakan prosedur yang invasif,
dapat menimbulkan nyeri, dan berpotensimenimbulkan bahaya sebagai
penatalaksanaan rutin. 9
Gambar. 1 Timpanoplasti
Miringotomi adalah tindakan insisi padamembran timpani untuk
drainase cairan dari telingatengah. Pada miringotomi dilakukan
pembedahan kecildi kuadran posterior-inferior membran
timpani.Untuktindakan ini diperlukan lampu kepala yang terang,
corongtelinga yang sesuai, dan pisau khusus (miringotom)dengan ukuran
kecil dan steril.14Miringotomi hanya dilakukan pada kasus-kasusterpilih
dan dilakukan oleh ahlinya. Disebabkan insisibiasanya sembuh dengan
cepat (dalam 24-48 jam),prosedur ini sering diikuti dengan pemasangan
tabungtimpanostomi untuk ventilasi ruang telinga tengah. 10
Indikasi untuk miringotomi adalah terdapatnyakomplikasi
supuratif, otalgia berat, gagal dengan terapiantibiotik, pasien
imunokompromis, neonatus, danpasien yang dirawat di unit perawatan
intensif tengah.
Adenoidektomi efektif dalam menurunkan risiko terjadi otitis
media dengan efusi dan OMA rekuren, pada anak yang pernah
menjalankan miringotomi dan insersi tuba timpanosintesis, tetapi hasil
masih tidak memuaskan.Pada anak kecil dengan OMA rekuren yang
tidak pernah didahului dengan insersi tuba, tidak dianjurkan
adenoidektomi, kecuali jika terjadi obstruksi jalan napas dan rinosinusitis
rekuren.8
Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah
operasi.Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah
merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan.Bila
terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya dilakukan
tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. Ada beberapa
jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK
dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain
mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy), mastoidektomi
radikal, mastoidektomi radikal dengan modifikasi, miringoplasti,
timpanoplasti dan pendekatan ganda timpanoplasti (Combined approach
tympanoplasty). 10
Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara permanen,
memperbaiki membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya
komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta
memperbaiki pendengaran. 10

Gambar 2. Alogaritma Penatalaksanaan OMSK. 10


Sedangkan pada OMSK: OMSK benigna tenang: keadaaninitidak
memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan mengorek
telinga, air jangan masuk ketelingasewaktumandi, dilarang berenang dan
segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas
memungkinkan sebaiknya dilakukan operasire konstruksi (Miringoplasti,
timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan
pendengaran.
OMSK benigna aktif, prinsip pengobatan OMSK adalah
pembersihan liang telinga dan kavum timpani sertapemberianantibiotika.
1. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan (toilet telinga)
Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai
untuk perkembangan mikroorganisme, karenasekrettelingamerupakan
media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme. Cara
pembersihan liang telinga (toilet telinga): 11
a. Toilet telinga secara kering (dry mopping).
b. Toilet telinga secara basah (syringing).
c. Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet)
2. Pemberian Antibiotika topical
Antibiotika topikal yang dapat dipakai adalah Polimiksin B atau
polimiksin E, Neomisin dan Kloramfenikol. Polimiksin B atau
polimiksin E bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif,
Pseudomonas, E. Koli Klebeilla, Enterobakter, tetapi resisten terhadap
gram positif, Proteus dan.B.fragilis. Ia bersifat toksik terhadap ginjal
dan susunan saraf. Neomisin merupakan obat bakterisid pada kuman
gram positif dan negatif serta menyebabkan toksik terhadap ginjal dan
telinga. 11

3. Pemberian antibiotic sistemik


Pemilihan antibiotic sistemik untuk OMSK jugasebaiknyaberdasarkan
kultur kuman penyebab. Pemberian antibiotic tidak lebih dari 1
minggu dan harus disertai pembersihan secret profus.
DAFTAR PUSTAKA

1. Best Practice Journal. (2012). Otitis Media: a common childhood illness.


46.pages 25-29

2. Ghanie, Abla. 2010. Penatalaksanaan Otitis Media Akut pada Anak.


Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher.
Hal. 1-18. Palembang:Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah
Sakit Umum Pendidikan Mohammad Hoesin Palembang. Diambil pada 17
Mei 2017 dari: http://eprints. unsri.ac.id/ 858/1/Penatlaksanaan _OMA
_pada_anak.pdf
3. Husni, T. T. (2011). Hubungan Infeksi Saluran Pernapasan Akut dengan Otitis
Media Akut Pada Anak Bawah Lima Tahun di Puskesma Kuta Alam Kota
Banda Aceh. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, Volume 11 Nomor 3.

4. Djaafar ZA 2007, Kelainan Telinga Tengah, Buku Ajar Ilmu Kesehatan telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher.: Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

5. Abidin, T. (2010).Otitis Media.Universitas Muhammadiyah Jakarta:


Jakarta.
6. Ghanie, A. (2010). Penatalaksanaan Otitis Media Akut Pada Anak. Jurnal
Kedokteran THT-KL, 1-2.

7. Buchman, C.A., Levine, J.D., Balkany, T.J., 2003. Infection of the Ear. In: Lee,
K.J., ed. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 8th ed. USA:
McGraw-Hill Companies, Inc., 462-511.
8. Kerschner, J.E., 2007. Otitis Media. In: Kliegman, R.M., ed. Nelson Textbook of
Pediatrics. 18th ed. USA: Saunders Elsevier, 2632-2646.

9. Munilson, Jacky, dkk.2014. Penatalaksanaan Otitis Media Akut. Padang:


Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Diambil pada 17 Mei
2017 dari: http://repository.unand. ac.id/18807/1/ Penatalaksanaan%
20otitis%20 media%20akut_repositori.pdf.
10. Alkatiri, Fairuziah. 2016. Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan Otitis
Media Supuratif Kronis.ISM, Vol. 5, No. 1, Januari-April.Hal- 100-105.
Diambil pada 17 Mei 2017 dari: http://isain smedis.id /index php/ ism
/articl e/viewFile/42/42
11. Nursiah S. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan Kepekaan Terhadap
Beberapa Antibiotika di Bagian THT FK USU/RSUP. H. Adam Malik
Medan. Medan: FK USU. 2003.
12. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan mastoid.
Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT.
Edisi 6. Jakarta: EGC, 1997: 88-118

13. Helmi.Komplikasi otitis media supuratif kronis dan mastoiditis. Dalam:


Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung
tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001. h. 63-73

14. Doenges, M. E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan (edisi ketiga). Jakarta:


EGC.