Anda di halaman 1dari 16

Kasus 2

HIV/AIDS

1. Prevalensi Penderita HIV di Dunia Tahun 2016 (Internasional)


Pada tahun 2016, ada sekitar 1,8 juta infeksi HIV baru - sebuah penurunan dari
2,1 juta infeksi baru pada tahun 2015. Wanita muda sangat beresiko, dengan 59% infeksi
baru di kalangan remaja berusia 15-24 terjadi di antara kelompok ini. Apalagi, meski
sudah berjalan di 69 negara yang menyaksikan penurunan baru
Beberapa negara masih mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan pada
infeksi HIV baru Sejak 2010, jumlah tahunan infeksi baru di kawasan Eropa Timur dan
Asia Tengah, misalnya, telah naik sebesar 60% yang mengkhawatirkan.

1
2. Pengertian
Kehamilan ditandai dengan berhentinya haid, mual yang timbul pada pagi hari
(morning sickness), pembesaran payudara dan pigmentasi puting, pembesaran
abdomen yang progresif. Tanda-tanda absolut kehamilan adalah gerakan janin, bunyi
jantung janin, dan terlihatnya janin melalui pemeriksaan sinar-X atau USG.
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi sel-
sel sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak fungsinya. selama infeksi
berlangsung, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah, dan orang menjadi lebih rentan
terhadap infeksi. Tahap yang lebih lanjut dari infeksi HIV adalah acquired
immunodefiency syndrome (AIDS). Hal ini dapat memekan waktu 10-15 tahun untuk
orang yang terinfeksi HIV hingga berkembang menjadi AIDS, obat antiretroviral
dapat memperlambat proses lebih jauh.
AIDS (acquired immunodefiency syndrome) adalah penyakit retrovirus
epidemik menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang pada kasus berat
bermanifestasi sebagai depresi berat imunitas seluler, dan mengenai kelompok risiko
tertentu, termasuk pria homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan obat intravena,
penderita hemofilia, dan penerima transfusi darah lainnya, hubungan seksual dari
individu yang terinfeksi virus tersebut. (Kamus Kedokteran Dorlan, 2002)
Ibu hamil yang positif mengidap HIV berpotensi menularkan virus tersebut
kepada bayi, baik pada masa kehamilan, persalinan, maupun pada saat menyusui.
Dokter kandungan biasanya akan memberikan berbagai jenis obat antivirus khusus,
salah satunya adalah obat ARV (antiretroviral) untuk menekan jumlah virus. Jika ibu
mengonsumsi obat-obatan secara rutin selama kehamilan hingga hari persalinan nanti,
maka risiko penularan bisa ditekan sampai tinggal 7 persen. Karena itu penting bagi
ibu hamil untuk melakukan tes HIV, agar virus HIV dapat terdeteksi lebih awal,
sehingga program pencegahan HIV pun bisa dilakukan secepatnya.
Dalam proses melahirkan, bayi akan terkena darah dan cairan Miss V ketika
melewati saluran rahim yang dapat menjadi cara virus HIV dari ibu masuk ke dalam
tubuhnya. Karena itu, ibu hamil pengidap HIV disarankan untuk tidak melahirkan
secara normal melalui Miss V karena risiko bayi tertular lebih besar. Beberapa
kondisi yang juga dapat mendukung penularan HIV ke bayi pada saat persalinan

2
adalah air ketuban yang pecah terlalu awal, bayi mengalami keracunan ketuban dan
kelahiran prematur.
Bila ibu ingin melahirkan secara normal, peluang bayi tidak tertular pun masih
ada. Namun, ada persyaratannya, yaitu:

 Telah mengonsumsi obat antivirus mulai dari usia kehamilan 14 minggu atau
kurang.
 Jumlah viral load kurang dari 10.000 kopi/ml. Viral load adalah jumlah partikel
virus dalam 1 ml atau 1 cc darah. Ibu akan berpotensi tinggi menularkan virus ke
bayi dan mengalami komplikasi HIV jika ditemukan jumlah partikel virus yang
banyak dalam darah ibu.
 Proses melahirkan harus berlangsung secepat mungkin, dan bayi harus segera
dibersihkan setelah keluar.

Ibu yang memiliki viral load yang tinggi biasanya akan diberikan infus berisi
obat zidovudine pada saat melahirkan normal. Namun, ibu tetap perlu mendiskusikan
kepada dokter kandungan mengenai pemilihan metode persalinan. Jika angka viral
load ibu berada di atas 4000 kopi/ml, maka dokter akan menyarankan ibu untuk
melahirkan secara caesar.

3. Faktor Resiko

Faktor resiko MTCT selama kehamilan:

 Viral load ibu yang tinggi (HIV / AIDS baru atau lanjutan)
 Infeksi virus, bakteri, maupun parasit melaui plasenta (khususnya malaria)
 Infeksi menular seksual
 Malnutrisi maternal (secara tidak langsung)

Faktor resiko MTCT selama persalinan:

 Viral load ibu yang tinggi (HIV / AIDS baru atau lanjutan)
3
 Pecahnya ketuban > 4 jam sebelum persalinan dimulai
 Prosedur persalinan invasif
 Janin pertama pada kehamilan multipel
 Korioamnionitis

Faktor resiko MTCT selama masa menyusui:

 Viral load ibu yang tinggi (HIV / AIDS baru atau lanjutan)
 Lama menyusui
 Pemberian ASI dengan pemberian makanan pengganti yang awal
 Abses payudara / puting yang terinfeksi
 Malnutrisi maternal
 Penyakit oral bayi (mis: trust atau luka mulut)

Kehamilan bisa berbahaya bagi wanita dengan HIV atau AIDS selama
persalinan dan melahirkan. Ibu sering akan mengalami masalah-masalah sebagai
berikut:
a. Keguguran
b. Demam, infeksi dan kesehatan menurun.
c. Infeksi serius setelah melahirkan, yang sukar untuk di rawat dan mungkin
mengancam jiwa ibu.
d. Melahirkan

4. Manifestasi Klinis Infeksi HIV


Periode inkubasi dari paparan virus hingga timbul gejala klinis adalah
beberapa hari hingga minggu, dengan rata rata adalah 2 minggu hingga 4 minggu.
Sedangkan, serokonversi untuk antibodi dari HIV pada umumnya terjadi dalam waktu
tiga hingga enam minggu setelah infeksi.Pada saat gejala dan tanda klinis penyakit
muncul, infeksi awal ditandai oleh
- Demam
- Malaise
- eritema makulopapular rash
- myalgia
- arthralgia

4
- sakit kepala
- fotofobia dan limfadenopati
- Jika secara bersamaan didapatkan penurunan tajam dari jumlah CD4+
absolut, infeksi opportunistic bisa terjadi yaitu candidiasis oral, candidiasis
pulmonary atau esophageal, lesi persisten herpes simplex atau zoster,
condyloma accuminata, tuberculosis paru, pneumonia cytomegalovirus,
retinitis atau penyakit gastrointestinal, molluscum contagiosum,
Pneumocystis jiroveci pneumonia, toxoplasmosis dan lain lain.
- Penyakit neurologis juga sering terjadi, dan rata rata sebagian penderita
timbul gejala gangguan susunan saraf pusat. Sindroma tersebut bisa
dikatakan sebagai Acute Retroviral Syndrome, yang mana sering terjadi
dalam beberapa minggu awal setelah infeksi HIV, sebelum tes antibodinya
menjadi bernilai positif.

Sindroma yang muncul akibat ketidakmampuan tubuh dalam melawan infeksi,


atau melawan reaktivasi infeksi yang dorman, antara lain adalah:

a. Kelelahan hebat, yang terkadang disertai dengan pusing, sakit kepala


b. Demam terus menerus yang juga disertai dengan keringat di malam hari yang
berlebihan
c. Berat badan menurun hingga 10 kg, yang bukan disebabkan oleh diet maupun
peningkatan aktivitas fisik
d. Pembesaran kelenjar di leher, lengan dan di lipat paha
e. Pertumbuhan warna keunguan pada kulit atau mukosa membrane (didalam
mulut, anus dan hidung)
f. Batuk kering ringan yang kontinyu yang bukan berasal dari asap rokok, atau
bisa akibat flu yang tidak juga sembuh.
g. Diare kronis
h. Leukoplakia oral yang disertai dengan sakit tenggorokan
i. Perdarahan dari rongga tubuh yang terbuka yang tidak jelas penyebabnya serta
mudah memar
j. Sesak nafas yang progresif

5
Seluruh wanita yang terdiagnosis HIV akan membutuhkan konseling, evaluasi
dan penanganan penyakit menular sexual, pap smear, darah lengkap, kimia darah,
antibodi toxoplasma, panel hepatitis, dan foto thorax. Selain itu, seluruh pasien perlu
mendapatkan tawaran untuk vaksinasi hepatitis B, influenza dan pneumococus
(DeCherney et al., 2005).

5. Stadium HIV
Infeksi HIV memilikin 4 stadium sampai nantinya menjadi AIDS, yaitu:
a. Stadium I,Ibu dengan HIV positif tidak akan menunjukkan gejala klinis yang
berarti sehingga ibu akan tampak sehat seperti orang normal dan mampu
melakukan aktifitasnya seperti biasa.
b. Stadium II, Sudah mulai menunjukkan gejala yang ringan seperti terjadi
penurunan berat badan kurang dari 10%,infeksi yang berulang pada saluran nafas
san kulit.
c. Stadium III,Ibu dengan HIV sudah tampak lemah,gejala dan infeksi sudah mulai
bermunculan dan ibu akan mengalami penurunan berat badan yang lebih berat
,diare yang tidak kunjung sembuh ,demam yang hilang timbul, dan mulai
mengalami infeksi jamur pada rongga mulut bahkan infeksi sudah menjalar
sampai ke paru-paru.
d. Stadium IV,Pasien akan menjadi AIDS aktivitas akan banyak dilakukan di tempat
tidur karena kondisi dan keadaan sudah mulai lemah ,serta infeksi mulai
bermunculan di mana-mana dan cenderung berat.

6. ETIOLOGI

a. Faktor risiko untuk tertular HIV pada bayi dan anak adalah:

1) Bayi yang baru lahir dari ibu dengan pasangan biseksual

2) Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan berganti

3) Bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya penyalah guna obat intravena

4) Bayi atau anak yang mendapatkan transfusi darah atau produk darah berulang

5) Anak yang terpapar pada infeksi HIV dari kekerasaan seksual (perlakuan salah
seksual)

6
6) Anak remaja dengan hubungan seksual berganti - gantian pasanga.

b. Cara penularan

Penularan HIV dari ibu kepada bayinya dapat melalui :

a. Dari ibu kepada anak dalam kandungan (antepartum)

Ibu hamil yang terkena HIV dapat menularkan virus tersebut ke bayi yang
dikandungnya. Cara transmisi dapat terjadi melalui plasenta (intrauterin)
intrapartum, yaitu pada waktu bayi terpapar dengan darah ibu.

b. Selama persalinan (intrapartum)

Selama persalinan bayi dapat tertular darah atau cairan servik ovaginal yang
mengandung HIV melalui paparan trakeobronkial atau tertelan pada jalan lahir.

c. Bayi baru lahir terpajan oleh cairan tubuh ibu yang terinfeksi

Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan
aspirasi lambung pada bayi yang dilahirkan. Besarnya paparan pada jalan lahir
sangat dipengaruhi dengan adanya kadar HIV pada cairan vagina ibu, cara
persalinan, ulkus serviks atau vagina, perlukaan dinding vagina, infeksi cairan
ketuban, ketuban pecah dini, persalinan prematur, penggunaan elektrode pada
kepala janin, penggunaan vakum atau forsep, episiotomi dan rendahnya kadar
CD4 pada ibu. Ketuban pecah dari 4 jam sebelum persalinan akan meningkatkan
resiko transmisi antepartum sampai dua kali lipat dibandingkan jika ketuban
pecah kurang dari 4 jam sebelum persalinan.

d. Bayi tertular dari pemberian ASI

Transmisi pascapersalinan sering terjadi melelui pemberian ASI (air susu ibu).
ASI diketahui banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak.
Konsentrasi median sel yang terinfeksi HIV pada ibu yang terkena HIV adalah
1/104 sel, partikel virus ini dapat ditemukan pada componen sel dan non sel
ASI. Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi risiko transmisi HIV melalui
ASI antara lain mastitis atau luka diputing, lesi dimucosa mulut bayi,
prematuritas dan respon imun bayi. Penularan HIV melalui ASI diketahui
merupakan faktor penting penularan paska persalinan dan meningkatkan risiko
transmisi dua kali lipat.

7
7. Patofisiologi Ibu Hamil Dengan HIV/AIDS
HIV mempunyai target sel utama yaitu sel limfosit T4, yang mempunyai
reseptor CD4. Setelah masuk ke dalam tubuh, HIV akan menempel pada sel yang
mempunyai molekul CD4 pada permukaannya. Molekul CD4 ini mempunyai afinitas
yang sangat besar terhadap HIV, terutama terhadap molekul gp 120 dari selubung
virus. Diantara sel tubuh yang memiliki CD4, sel limfosit T memiliki molekul CD4
yang paling banyak. Oleh karena itu, infeksi HIV dimulai dengan penempelan virus
pada limfosit T. Setelah penempelan, terjadi diskontinuitas dari membran sel limfosit
T yang disebabkan oleh protein gp41 dari HIV, sehingga seluruh komponen virus
harus masuk ke dalam sitoplasma sel limfosit-T, kecuali selubungnya.5
Setelah masuk ke dalam sel, akan dihasilkan enzim reverse transcriptase.
Dengan adanya enzim reverse transcriptase, RNA virus akan diubah menjadi suatu
DNA. Karena reverse transcriptase tidak mempunyai
mekanismeproofreading (mekanisme baca ulang DNA yang dibentuk) maka terjadi
mutasi yang tinggi dalam proses penerjemahan RNA menjadi DNA ini. Dikombinasi
dengan tingkat reproduktif virus yang tinggi, mutasi ini menyebabkan HIV cepat
mengalami evolusi dan sering terjadi resistensi yang berkelanjutan terhadap
pengobatan.
Bersamaan dengan enzim reverse trancriptase, akan dibentuk RNAse. Akibat
aktivitas enzim ini, maka RNA yang asli dihancurkan. Sedangkan seuntai DNA yang
tadi telah terbentuk akan mengalami polimerisasi menjadi dua untai DNA dengan
bantuan enzim polymerase. DNA yang terbentuk ini kemudian pindah dari sitoplasma
ke dalam inti sel limfosit T dan menyisip ke dalam DNA sel penjamu dangan bantuan
enzim integrase, dan DNA ini disebut sebagai provirus. Provirus yang terbentuk ini
tinggal dalam keadaan laten atau dalam keadaan replikasi yang sangat lambat,
tergantung pada aktivitas dan diferensiasi sel penjamu (T-CD4) yang diinfeksinya,
sampai kelak terjadi suatu stimulasi yang dapat memicu DNA ini untuk keluar dari
DNA inang dan menjadi aktif, serta selanjutnya terjadi replikasi dalam kecepatan
yang tinggi. Keadaan laten ini dapat berlangsung selama 1 sampai 12 tahun dari
infeksi awal HIV dan dalam keadaan ini pasien tidak mempunyai gejala
(asimptomatik). Pada stadium laten ini, HIV dan respon imun anti HIV dalam tubuh
pasien dalam keadaan steady state.2,5.

8
Virus HIV menempel pada sel limfosit T4 yang
mempunyai reseptor Cd4

RNA virus masuk ke dalam sel limfosit T4

Terbentuk DNA provirus dengan bantuan enzim


reverse transcriptase

DNA provirus masuk kedalam inti sel dan berikatan dengan


DNA sel dengan bantuan enzim integrase

DNA provirus membentuk RNA yang terinfeksi dan


menghasilkan protein

RNA virus dan protein pindah kepermukaan sel


yang baru dan masih imatur

Terbentuk virus HIV baru dibantu enzim protease


virus HIV dan mereplikasi diri dengan cepat

Infeksi Opotunisik

Patofisiologi penularan Virus HIV/AIDS

8. Penularan HIV dari Ibu kepada Bayinya


Penularan ini dapat terjadi dalam 3 periode:
a. Periode kehamilan
Selama kehamilan, kemungkinan bayi tertular HIV sangat kecil. Hal
ini disebabkan karena terdapatnya plasenta yang tidak dapat ditembus oleh
virus itu sendiri. Oksigen, makanan, antibodi dan obat-obatan memang

9
dapat menembus plasenta, tetapi tidak oleh HIV. Plasenta justru melindungi
janin dari infeksi HIV. Perlindungan menjadi tidak efektif apabila ibu:
1) Mengalami infeksi viral, bakterial, dan parasit (terutama malaria) pada
plasenta selama kehamilan.
2) Terinfeksi HIV selama kehamilan, membuat meningkatnya muatan
virus pada saat itu.
3) Mempunyai daya tahan tubuh yang menurun.
4) Mengalami malnutrisi selama kehamilan yang secara tidak langsung
berkontribusi untuk terjadinya penularan dari ibu ke anak.
b. Periode persalinan
Pada periode ini, resiko terjadinya penularan HIV lebih besar jika
dibandingkan periode kehamilan. Penularan terjadi melalui
transfusifetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi
dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses
persalinan, maka semakin besar pula resiko penularan terjadi. Oleh karena itu,
lamanya persalinan dapat dipersingkat dengan section caesaria.Faktor yang
mempengaruhi tingginya risiko penularan dari ibu ke anak selama proses
persalinan adalah:Lama robeknya membran.
1) Chorioamnionitis akut (disebabkan tidak diterapinya IMS atau infeksi
lainnya).
2) Teknik invasif saat melahirkan yang meningkatkan kontak bayi dengan darah
ibu misalnya, episiotomi.
3) Anak pertama dalam kelahiran kembar
c. Periode Post Partum
Cara penularan yang dimaksud disini yaitu penularan melalui ASI. Risiko
penularan melalui ASI tergantung dari:
1) Pola pemberian ASI, bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif akan
kurang berisiko dibanding dengan pemberian campuran.
2) Patologi payudara: mastitis, robekan puting susu, perdarahan putting susu
dan infeksi payudara lainnya.
3) Lamanya pemberian ASI, makin lama makin besar kemungkinan infeksi.
4) Status gizi ibu yang buruk.

10
9. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Penunjang pada Pasien dengan Ibu Hamil dan Melahirkan dengan HIH/
AIDS
a. Pada Ibu Hamil
Tes-tes saat ini tidak membedakan antara antibody ibu/bayi, dan bayi dapat
menunjukkan tes negatif pada usia 9 sampai 15 bulan. Penelitian mencoba
mengembangkan prosedur siap pakai yang tidak mahal untuk membedakan
respons antibody bayi dan ibu.
1) Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih
bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk
mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau
perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human
Immunodeficiency Virus (HIV)
a) Serologi
- Tes antibody serum: Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan
ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnose
- Tes blot western: Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency
Virus (HIV)
- Sel T limfosit: Penurunan jumlah total
- Sel T4 helper: Indikator system imun (jumlah <200>, T8 ( sel supresor
sitopatik ), Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada
sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun. P24 ( Protein
pembungkus HIV)
- Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
- Kadar Ig: Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau
mendekati normal
- Reaksi rantai polymerase: Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit
pada infeksi sel perifer monoseluler.
- Tes PHS: Kapsul hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif
b) Neurologis
 EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
 Tes Lainnya

11
 Sinar X dada : menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari
PCV tahap lanjut atau adanya komplikasi lain; tes fungsi pulmonal
untuk deteksi awal pneumonia interstisial; Scan gallium; biopsy;
branskokopi. Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari
PCP tahap lanjut atau adanya komplikasi lain
 Tes Fungsi Pulmonal
 Deteksi awal pneumonia interstisial
 Skan Gallium Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk
pneumonia v lainnya.
 Biopsis
 Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi
 Bronkoskopi / pencucian trakeobronkial Dilakukan dengan biopsy
pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
c) Tes Antibodi
 Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan
kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak
menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa
seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya
terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut
seropositif.
 Western Blot Assay: Mengenali antibody Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas
Human Immunodeficiency Virus (HIV)
 Indirect Immunoflouresence: Pengganti pemeriksaan western blot
untuk memastikan seropositifitas.
 Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA ): Mendeteksi protein
dari pada antibody

10. Penatalaksanaan Medis


a. Pendeteksian HIV.

12
1) pemeriksaan P24 antigen capture assay dengan kadar yang sangat rendah.
2) pemerikasaan kultur HIV atau kultur plasma kuantitatif untuk mengevaluasi
efek anti virus, dan pemeriksaan viremia plasma untuk mengukur beban virus
(viral burden).

Antibody yang ditimbulkan oleh infeksi HIV terjadi sejak infeksi berusia
2-3 bulan. Antibody ini akan masuk melalui plasenta menuju janin.Infeksi
langsung pada janin mulai sejak usia 13 minggu dengan mekanisme yang tidak
diketahui. Infeksi ini disebut sebagai infeksi vertical karena berlangsung semasih
intrauterin. Cara infeksi lainnya pada bayi adalah saat pertolongan persalinan
karena melalui jalan lahir dengan cairannya yang penuh dengan virus HIV.

3) Pemberian ZDV intravena (i.v) dimulai 3 jam sebelum tindakan seksio


sesarea, dan dilanjutkan setalah bayi dilahirkan. ZDV i.v harus diberikan
selama persalinan dan setelah bayi lahir pada persalinan pervaginam. Hal yang
juga penting dilakukan adalah meminimalkan kontak bayi terhadap darah ibu.
Hal ini dapat dilakukan dengan dengan menghindari pemeriksaan invasif, serta
persalinan dengan vakum maupun forsep. Semua bayi yang dilahirkan dari
wanita dengan HIV positif harus memdapat pengobatan anti HIV untuk
mencegah penularan HIV. Pengobatan minimal dengan pemberian ZDV
selama 6 minggu, terkadang juga dengan pemberian obat tambahan lainnya.
4) ACOG merekomendasikan untuk melakukannya pada usia kehamilan 38
minggu, dilihat dari keaadaan klinik yang diperkirakan paling baik serta
menghindari pecahnya ketuban.
5) Pada wanita yang telah dijadwalkan untuk dilakukan tindakan seksio sesarea,
pemberian ZDV harus dimulai 3 jam sebelum tindakan operatif, sesuai dengan
standar dosis rekomendasi. Pengobatan antiretroviral lain yang digunakan
selama kehamilan harus tetap dilanjutkan pada saat mendekati saat persalinan,
dan selama persalinan berlangsung.
6) Penurunan minimum penularan HIV, direkomenndasikan pemberian regimen
ZDV profilaksis menurut PACTG 076.
7) Tingkat plasma HIV-1 RNA harus dimonitor selama kehamilan sesuai dengan
standar pelaksanaan infeksi HIV pada dewasa.
8) Protokol peberian zidofudin untuk penderita AIDS.

13
Zidovudin, 5x100 mg per oral mulai kehamilan 14-34 minggu kehailan dan dilanjutkan
selama kehamilan. Ditambah Zidovudin intrapartum (loading dose) 2 mg/kg (IV)
dilanjutkan dengan pemberian infus 1 mg/kg dan Zidovudin sirup diberiakan untuk
bayi baru lahir dengan dosis 2 mg/kg setiap 6 jam untuk 6 minggu pertama kehidupan.

 Penatalaksanaan Pasien Hamil dengan HIV/AIDS


a. Antepartum
- Konseling
- Pemeriksaan penunjang
- ART
b. Intrapartum
- Universal precaution
c. Pasca persalinan
- Mencegah pemberian ASI

Asuhan keperawatan pada ibu hamil dan melahirkan dengan HIV/AIDS

1. Risiko infeksi berhubungan dengan imunosupresi

2. Keletihan b/d kelesuhan fisologis

3. Ansietas berhubungan dengan Ancaman pada status terkini

Intervensi

Diagnosa Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi


1 Setelah dilakukan asuhan 1. Monitor tanda-tanda infeksi baru.
keperawatan selama 3x24 jam R/ Untuk pengobatan dini
diharapkan risiko infeksi dapat 2. Gunakan teknik aseptik pada setiap
teratasi dengan kriteria hasil : tindakan invasif. Cuci tangan sebelum
1. Tidak ada tanda infeksi meberikan tindakan.
baru R/ Mencegah pasien terpapar oleh kuman
2. Lab tidak ada infeksi patogen yang diperoleh di rumah sakit.
oportunis 3. Anjurkan pasien metoda mencegah
3. tanda vital dalam batas terpapar terhadap lingkungan yang patogen.
normal R/ Mencegah bertambahnya infeksi
4. tidak ada luka atau 4. Kumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai
eksudat. order.

14
R/ Meyakinkan diagnosis akurat dan
pengobatan
5. Atur pemberian antiinfeksi sesuai order
R/ Mempertahankan kadar darah yang
terapeutik

Diagnosa Tujuan dan Kriterian Hasil Intervensi (NIC)


(NOC)
2. Setelah dilakukan intervensi Manajemen Energi (0180)
selama 3 x 24 jam keletihan 1. Kaji status fisiologis klien yang
klien berkurang dengan kriteria menyebabkan kelelahan sesuai
hasil: dengan konteks usia
1. Gangguan aktivitas R: Mengetahui intervensi lanjut yang
sehari-hari tidak ada tepat untuk klien.
2. Penurunan energi tidak 2. Monitor intake/asupan nutrisi
ada. R: mengetahui sumber energi yang
3. Gangguan aktivitan adekuat.
fisik tidak ada 3. Monitor/ catat waktu dan lama
4. Sakit kepala tidak ada. istirahat klien.
5. Kelelahan tidak ada. Terapi Aktivitas (4310)
1. Kaji kemampuan klien dalam
beraktivitas.
2. Bantu klien untuk mengidentifikasi
aktivitas yang bermakna.
3. Bantu klien untuk mengidentifikasi
dan memperoleh sumber sumber
yang dibutuhkan untuk aktivitas-
aktivitas yang diinginkan.
4. Ciptakan lingkungan yang aman dan
nyaman.

15
Tanggal No Tujuan dan kriteria hasil
diagnosa
04/05/2016 3 Tujuan :
Tingkat ansietas klien menurun Setelah dilakukan tindakan 1x24 jam

Kriteria Hasil:
1.perasaan gelisah menurun
2.wajah tidak tegang
3.dapat mengungkapkan semua rasa takut secara lisan
4. dapat mengungkapkan semua rasa cemas secara lisan

Jam tindakan keperawatan dan hasil


1.Kaji tanda kecemasan
-dorong verbalisasi kecemasan ,persepsi,dan ketakutan klien
-dengarkan klien
-bantu klien identifikasi situasi yang memicu kecemasan
2.Ciptakan atmosfer rasa aman untuk meningkatkan kepercayaan
3.Dorong keluarga untuk mendampingi klien dengan cara yang tepat
4.Berikan informasi faktual mengenai diagnosis,perawatan dan prognosis
5. Anjur kan pasien untuk mengguna kan teknik relaksasi.
-berikan lingkungan yang tenang
-sikap yang tenang dan posisi yang nyaman
-berikan tehnik membayangkan,pemusatan,pemfokusan
-berikan sentuhan
-ajarkan klien untuk tehnik nafas dalam

16