Anda di halaman 1dari 6

Roh menurut beberapa tokoh agama:

Ibnu Zakariyya
Sesuatu yang agung, besar dan mulia baik nilai maupun kedudukan dalam diri manusia.
2. Ibnu Arabi
Hakikat berpikir atau kecerdasan yaitu kemampuan manusia untuk siap memperoleh ilmu.
3. Abul Qashim Muhammad bin Ahmad bin Jazyil Kalbi al-Garnathi
Menurut Jumhur pengertian ruh disini adalah ruh yang ada dalam tubuh yang kadang-kadang
disebut pula “jiwa”. Ada pula yang mengatakan sebagai ”jibril” dan sedang yang lain
menyebutnya sebagai Al-Quran.

Pengertian roh

Ruh menurut bahasa Arab adalah “Ruuh” yang artinya unsur non materi yang ada dalam jasad
yang diciptakan Tuhan sebagai penyebab adanya kehidupan.
Rasulullah pernah ditanyai dan menjawabnya dengan wahyu yang diturunkan kepadanya Dan
bila mereka bertanya kepadamu tentang roh katakanlah.
“Roh itu termasuk urusan-Ku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.(Q.S Al-
Israa:85).
Secara ringkasnya roh itu adalah daya potensial internal dalam diri manusia yang akan
mewujudkan secara aktual sebagai khalifah Allah. Tanpa ruh maka manusia tidak akan dapat
hidup.

Hubungan Roh dan Jiwa


Kata roh dan jiwa (nafs) mempunyai pengertian dan makna yang sama saja.
Nafs itu dibagi menjadi tiga yaitu
Nafs ammarah Bissu
Adalah jiwa yang banyak menyuruh atau mendorong kepada hal-hal yang berbau keburukan
Nafs lawwamah
Adalah jiwa yang suka mendorong kepada hal kebaikan
Nafs Muthmainnah
Adalah nafsu yang sudah mencapai tingkat kebijaksaan atau dikatakan juga sebagai jiwa yang
tenang.

Oleh Fadhil ZA

Manusia terdiri atas 3 unsur utama yaitu Jasad atau jasmani, Ruh dan Jiwa (Nafs) . Banyak orang
yang menyangka jiwa dan ruh itu hal sama. Didalam Al Qur’an banyak ayat yang menjelaskan
bahwa Ruh dan Jiwa (Nafs) itu tidak lah sama.

Ruh adalah bagian yang suci dan yang memberi kehidupan pada manusia , ia ditiupkan langsung
oleh Allah kedalam Rahim ibu dan memberi kehidupan pada janin yang ada didalam Rahim itu .
Allah menyatakan hal ini didalam surat As Sajdah ayat 7-9
7. Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan
manusia dari tanah. 8. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina 9.
Kemudian Dia menyempurnakan danmeniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
Ruh akan tetap berada ditubuh manusia sampai datang saat ajal yang telah ditetapkan . Jika datang
ketetapan Allah maka Malaikat Izrail akan datang mencabut Ruh keluar dari jasadnya. Selanjutnya
Ruh akan menempuh kehidupan baru dialam barzakh tanpa jasad sampai datang saat kebangkitan
nanti . Ketika terjadi peristiwa kiamat , tatkala Malaikat Israfil meniup sangkakala untuk kedua
kalinya maka semua Ruh dialam barzakh akan disatukan kembali dengan jasadnya yang baru
dipadang Mahsyar sebagaimana disebutkan didalam surat Yasin ayat 51:

51. Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya
(menuju) kepada Tuhan mereka 52. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang
membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?.” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang
Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya
Selanjutnya Ruh akan melanjutkan kehidupannya yang baru dialam akhirat dan akan diminta
pertanggung jawabanya atas apa yang telah dikerjakannya selama hidup didunia. Ruh orang yang
soleh dan beriman akan ditempatkan didalam syurga kekal selama lamanya. Sedang Ruh orang
yang kafir dan durhaka akan dibenamkan didalam Neraka jahanam kekal selama lamanya

Tidak banyak hal yang dapat kita ketahui tentang Ruh tersebut karena Ruh itu merupakan rahasia
Allah dan Kita tidak diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit sekali sebagaimana
disebutkan didalam surat Al Israak 85

85. Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-
ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Berbeda denga Ruh , Jiwa atau Nafs tumbuh dan berkembang selama hidup didunia . Dia bisa
keluar masuk tubuh manusia tanpa mendatangkan kematian pada manusia . Ketika tidur jiwa atau
nafs keluar dari tubuh berkelana mencari pengalaman sendiri , ketika jaga dia masuk kembali
kedalam tubuh memberi kesadaran pada orang yang bersangkutan sebagaimana disebutkan
didalam surat az Zumar ayat 42:

42. Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati
di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia
melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir
Jiwa bisa menjadi kuat dan sehat jika dilatih dan dirawat dengan baik, namun ia juga bisa menjadi
rusak, sakit dan lemah jika tidak dirawat dengan baik.

Jiwa bisa mencapai derajat yang tinggi dan mulia , biasa juga jatuh kederajat yang amat hina ,
lemah tidak berdaya. Jiwa (Nafs) manusia secara umum cenderung mengikuti hawa nafsu yang
hina dan perbuatan mungkar sebagaimana disebutkan didalam surat Yusuf 53

53. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang
Jiwa yang kuat mampu menahan diri dari keinginan yang hina dan rendah sebagaimana disebutkan
didalam surat An Naziaat 40-41

40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, 41. maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).
Tugas utama kita adalah menjaga dan merawat jiwa agar tetap bersih dan kuat sampai datang saat
ajal nanti. Mereka yang tidak mampu menjaga jiwanya dan membiarkan dalam keadaan kotor
bergelimang dosa dan maksiat pasti akan menderita didunia dan akhirat kelak. Sebaliknya mereka
yang dapat menjaga jiwanya tetap bersih , kuat dan sehat , insya Allah akan mendapat kebahagiaan
hidup didunia dan akhirat. Allah telah menegaskan hal ini didalam surat as syam 7-10

7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya 8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya 9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa
itu, 10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya

Dari penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa manusia terdiri atas tiga unsur yang menjadi satu
yaitu Jasad, Ruh dan Jiwa. Jasad manusia diciptakan dari tanah . setelah datang kematian akan
kembali ketanah pula. Jasad manusia tidak akan hidup tanpa Ruh .
Ruh berasal dari Allah bersifat netral dan suci ia memberi kehidupan pada manusia selama hidup
didunia. Ruh hanya keluar dari tubuh ketika datang saat ajal yang telah ditetapkan Allah.

Jiwa merupakan bagian dari ruh yang bisa keluar masuk tubuh manusia tanpa menimbulkan
kematian bagi manusia. Jiwa merupakan kesadaran manusia yang bisa tumbuh berkembang
menjadi kuat sehat atau menjadi lemah dan sakit. Kwalitas hidup seseorang tergantung pada
keadaan jiwanya ini.

Jika jiwa keluar dari tubuh maka orang yang bersangkutan akan hilang kesadarannya , ia tidak bisa
diajak berkomunikasi seperti biasa. Ia hadir berupa tubuh yang kosong dari kesadaran, ia bergerak
kesana kemari tanpa kesadaran. Apa saja yang dilakukan tidak bisa dipertanggung jawabkan .
Pandangan matanya kosong tanpa makna.

Orang yang jiwanya lemah kadang kala jiwanya dapat dipaksa keluar oleh bangsa jin dan
posisinya dan posisi jiwanya digantikan oleh jin yang memasuki tubuh nya itu. Dalam kondisi ini
biasanya kita kenal dengan istilah kesurupan. Orang yang kesurupan jin berbicara dan bertindak
sesuai perilaku jin yang memasukinya.
Orang yang jiwanya sakit dan lemah juga amat rawan mendapat gangguan dari bangsa jin , yang
berupa bisikan bisikan atau penampakan yang menyebabkan seseorang jadi linglung, bingung,
ketakutan dan sering melakukan hal hal yang diluar control dan kendali dirinya .

Orang yang jiwanya sehat dan kuat tidak bisa diinterfensi oleh bangsa jin, bahkan jin takut pada
orang yang berjiwa kuat ini. Kita bisa memiliki jiwa yang sehat dan kuat dengan melakukan
latihan dan bimbingan yang diberikan Allah dan Rasulullah , antara lain

 Lakukan shalat dengan benar dan khusuk.


 Perbanyak mengerjakan shalat sunah yang dianjurkan seperti sunah rawatib, tahajud dll
 Mengerjakan puasa sunah yang dianjurkan Rasulullah
 Berzikir pada Allah didalam hati setiap saat dimanapun berada
 Rutin membaca qur’an setiap hari dengan memahami maknanya.
 Memperbanyak amal saleh seperti infak, sedekah, menolong sesama dll
 Menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang Allah seperti zinah, mabuk, judi , dll
Dengan jiwa yang sehat dan kuat insya Allah kita akan mendapatkan kesejahteraan hidup didunia
maupun akhirat .

Popularity: 1% [?]

Pertama : Nafsu Ammarah Bissu' .

Nafsu ini sangat berbahaya apabila melekat pada diri seseorang manusia sebab ia suka
mengarahkan manusia kepada perbuatan dan perilaku yang dilarang agama.

Firman Allah S.W.T. maksudnya : “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan),
kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi
rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Surah Yusof ayat 53)

Nafsu yang paling jahat dan paling zalim. Jika berbuat kejahatan, dia berbangga dengan
kejahatannya. Kalau terpaksa susah kerana kejahatannya, dia sanggup. Jika ada orang
mengingatkannya tentang kejahatannya, dia akan menjawab, “Siapa yang cuba nak mengalang
tindakan ku akan menanggung akibatnya!” Bayangkanlah, kalau orang macam ini jadi pemimpin dan
berkuasa.

Nafsu amarah tidak dapat dikawal dgn sempurna oleh hati. Sekiranya hati tidak dapat meminta
bantuan ilmu, hikmah kebijaksanaan dan akal, hati akan binasa. Justeru itu, seseorang itu mudah
terjerumus ke arah perbuatan yang melanggar syariat, tidak beradab, tidak berperi kemanusiaan,
bertindak mengikut sesuka hati, zalim serta pelbagai keburukan dan bencana kepada diri serta
persekitaran.

Susah nak tegur orang yang yang sebegini kerana tidak peka dengan kesilapan atau kesalahan
yang dilakukan. Keras kepala! Nafsu ammarah menduduki tahap paling rendah dalam kehidupan
manusia, malah sebenarnya lebih rendah daripada binatang. Ini kerana binatang tidak mempunyai
akal, sedangkan manusia mempunyai akal. Minta Allah jauhkan kita dari nafsu amarah.

Kedua : Nafsu Lawwamah.

Nafsu ini adalah nafsu yang sudah mengenal baik dan buruk. Nafsu tercela kerana kelalaian
tuannya melaksanakan peraturan-peraturan Allah.

Nafsu ini mengarahkan pemiliknya untuk menentang kejahatan, tetapi suatu saat jika ia lalai
beribadah kepada Allah S.W.T, maka ia akan terjerumus kepada dosa. Orang yang memiliki nafsu
ini tidak tetap pendirian untuk menjalankan ketaatan dan meninggalkan perbuatan dosa.

Firman Allah S.W.T. maksudnya : “(Tetapi) kerana mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka,
dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-
tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan
dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali
sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka,
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Surah al-Maidah ayat 13)

Orang yang memiliki nafsu lawwamah sebegini memiliki jiwa menyesali perbuatan salah lakunya
dan berinisiatif untuk kembali ke landasan yang benar.

Contohnya semalam melakukan dosa dan perkara maksiat yang dilarang di sisi agama . Hari ini dia
sedar akan kesilapannya kerana terlalu mengikut nafsu, lalu ia insaf dan bertekad untuk tidak
mengulanginya lagi. Orang yang banyak dikuasai nafsu lawwamah juga mudah membaiki diri dan
mudah terima teguran org lain.

Ia juga tidak mudah hanyut dalam kesesatan yang membinasakan diri baik dalam kehidupan dunia
mahupun akhirat. Selain dari itu, nafsu lawwamah juga sering memikirkan baik buruk, halal haram,
betul salah, berdosa ataupun tidak dalam segala tindakan. Jelas nafsu Lawwamah ini lebih baik dari
nafsu amarah bissu'.

Ketiga : Nafsu Mutmainnah

Nafsu ini adalah nafsu yang membuat pemiliknya tenang dalam ketaatan. Nafsu ini telah mendapat
rahmat Allah S.W.T. dan manusia yang mendapatkan nafsu ini akan mendapat reda Allah S.W.T. di
dunia dan akhirat. Orang ini akan mendapat "husnul Khatimah" di akhir hidupnya sebagai pintu
menuju syurga Allah S.W.T.

Firman Allah S.W.T.: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas
lagi diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam
surga-Ku.” (Surah al-Fajr ayat 27-30)

Orang yang memiliki nafsu mutmainnah dapat mengawal nafsu syahwat dengan baik dan sentiasa
cenderung melakukan kebaikan. Juga mereka mudah bersyukur dan qanaah di mana segala
kesenangan hidup tidak membuat dia lupa diri, menerima anugerah Ilahi seadanya dan kesusahan
yang dialami pula tidak menjadikan dirinya gelisah. Ini disebabkanhatinya ada ikatan yang kuat
kepada Allah. Mereka juga mudah reda dengan ketetapan dan ujian Allah.
Imam Al-Ghazali meletakkan nafsu ini di tahap yang tertinggi dalam kehidupan manusia. Semoga
Allah S.W.T. golongkan kita dalam nafsu yang hebat ini.

Sahabat yang dikasihi,


Marilah sama-sama kita didik hati dan jiwa kita kepada nafsu mutmainnah iaitu nafsu yang terbaik
dan yang paling dicintai Allah.

Nafsu ini adalah nafsu yang paling di redai Allah. Keredaan tersebut terlihat pada anugrah yang
diberikan-Nya berupa senantiasa berzikir, ikhlas, mempunyai karomah, dan memperoleh kemuliaan,
sementara kemuliaan yang diberikan Allah S.W.T itu bersifat universal, ertinya jika Allah
memuliakannya, siapa pun tidak akan boleh enghinakannya, demikian pula sebaliknya orang yang
dihinakan oleh Allah S.W.T, siapa pun tidak boleh memuliakannya.