Anda di halaman 1dari 34

14

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Anak, Hak-hak Anak dan Perlindungan Hukum Terhadap

Anak

1. Pengertian Anak

Secara umum apa yang dimaksud dengan anak adalah keturunan

atau

generasi

sebagai

suatu

hasil

dari

hubungan

kelamin

atau

persetubuhan (sexual intercoss) antara seorang laki-laki dengan seorang

perempuan baik dalam ikatan perkawinan maupun diluar perkawinan.

Kemudian di dalam hukum adat sebagaimana yang dinyatakan oleh

Soerojo Wignjodipoero yang dikutip oleh Tholib Setiadi, dinyatakan

bahwa:

” kecuali dilihat oleh orang tuanya sebagai penerus generasi juga anak itu dipandang pula sebagai wadah di mana semua harapan orang tuanya kelak kemudian hari wajib ditumpahkan, pula dipandang sebagai pelindung orang tuanya kelak bila orang tua itu sudah tidak mampu lagi secara fisik untuk mencari nafkah (Tholib Setiady, 2010: 173).

Berikut

ini

merupakan

pengertian

anak

menurut

beberapa

peraturan perundang-undangan yang berlaku Di Indonesia antara lain:

1. Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak

Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai

umum 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan

belas) tahun dan belum pernah kawin.

14

15

2. Undang-Undang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

dinyatakan bahwa anak adalah setiap manusia yang berusia di

bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak

yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi

kepentingannya.

3. Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak

dinyatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18

tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

4. Convention On The Rights Of Child (1989) yang telah diratifikasi

pemerintah Indonesia melalui Keppres Nomor 39 Tahun 1990

disebutkan bahwa anak adalah mereka

kebawah.

yang berusia 18 tahun

5. UNICEF mendefinisikan anak sebagai penduduk yang berusia 0

sampai dengan 18 tahun.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, maka dapat dinyatakan bahwa

anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun (0-18 tahun).

2. Hak-hak Anak

Berikut ini merupakan hak-hak anak menurut beberapa peraturan

perundang-undangan yang berlaku Di Indonesia antara lain:

a. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak

Dalam Bab II Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang

Kesejahteraan

Anak,

kesejahteraan, yaitu:

mengatur

tentang

hak-hak

anak

atas

16

1)

Hak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan.

2)

Hak atas pelayanan.

3)

Hak atas pemeliharaan dan perlindungan.

4)

Hak atas perlindungan lingkungan hidup.

5)

Hak mendapatkan pertolongan pertama.

6)

Hak untuk memperoleh asuhan.

7)

Hak untuk memperoleh bantuan.

8)

Hak diberi pelayanan dan asuhan.

9)

Hak untuk memeperoleh pelayanan khusus.

10) Hak untuk mendapatkan bantuan dan pelayanan.

b.

Undang-Undang

Nomor

39

Tahun

1999

tentang

Hak

Asasi

Manusia

Hak anak dalam Undang-Undang ini diatur dalam Bab III

bagian kesepuluh, pasal 52-66, yang meliputi:

1)

Hak atas perlindungan

 

2)

Hak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meningkatkan

taraf kehidupannya.

 

3)

Hak atas suatu nama dan status kewarganegaraan.

 

4)

Bagi anak yang cacat fisik dan atau mental hak:

 

(a)

memperoleh

perawatan,

pendidikan,

pelatihan,

dan

 

bantuan khusus.

 
 

(b)

untuk menjamin kehidupannya sesuai dengan martabat

 

kemanusiaan,

 

(c)

berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,

 

dan bernegara.

5)

Hak untuk beribadah menurut agamanya.

 

6)

Hak untuk dibesarkan, dipelihara, dirawat, dididik, diarahkan,

dan dibimbing.

17

7)

Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.

8)

Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran.

9)

Hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial.

10) Hak

untuk

hukum.

tidak

dirampas

kebebasannya

secara

melawan

Selain itu, secara khusus dalam Pasal 66 Undang-Undang 39

Tahun 1999 tentang hak anak-anak yang dirampas kebebasannya,

yakni meliputi:

a. Hak untuk tidak dijatuhi hukuman mati atau hukuman seumur hidup.

b. Hak untuk mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan dengan memperhatikan kebutuhan pengembangan pribadi sesuai dengan usianya dan harus dipisahkan dari orang dewasa, kecuali demi kepentingannya.

c. Hak untuk memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku.

d. Hak untuk membela diri dan memperoleh keadilan di depan Pengadilan Anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang yang tertutup untuk umum.

c. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak ini, hak-hak

anak diatur dalam Pasal 4 - Pasal 18, yang meliputi:

1)

Hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi,

2)

serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Hak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status

3)

kewarganegaraan. Hak untuk beribadah menurut agamanya.

4)

Hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial.

5)

Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran.

6) Bagi anak yang menyandang cacat juga hak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga hak mendapatkan pendidikan khusus.

18

7)

Hak menyatakan dan didengar pendapatnya.

 

8)

Hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang

9)

Bagi

anak

penyandang

cacat

berhak

memperoleh

rehabilitasi,

kesejahteraan sosial.

bantuan

sosial,

dan

pemeliharaan

taraf

10) Bagi anak yang berada dalam pengasuhan orang tua/ wali, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:

a) diskriminasi;

b) eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;

c) penelantaran;

d) kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;

e) ketidakadilan; dan

f) perlakuan salah lainnya.

11) Hak untuk memperoleh perlindungan dari :

a) penyalahgunaan dalam kegiatan politik;

b) pelibatan dalam sengketa bersenjata;

c) pelibatan dalam kerusuhan sosial;

d) pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; dan

e) pelibatan dalam peperangan.

12) Hak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. 13) Setiap anak yang dirampas kebebasannya hak untuk :

a) mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa;

b) memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku; dan

c) membela diri dan memperoleh keadilan di depan

pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum. 14) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan. 15) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya.

3. Perlindungan Hukum Terhadap Anak

Dalam kaitannya dengan perlindungan hukum terhadap anak di

Indonesia, telah ditegaskan dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar

1945 bahwa “ Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh

negara”. Menindaklanjuti hal tersebut maka pemerintah telah membuat

19

berbagai peraturan perundang-undangan yang memuat mengenai hak-

hak anak. Wagiati Soetodjo dalam bukunya Hukum Pidana Anak

mengklasifikasikannya sebagai berikut:

a. Bidang hukum, melalui Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak.

b. Bidang kesehatan melalui Undang-Undang No. 9 Tahun 1960

tentang Pokok-pokok Kesehatan, diatur dalam Pasal 1, Pasal 3 ayat (1), dan Pasal 9 ayat (2).

c. Bidang pendidikan

1)

Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat (1).

2) Undang-Undang No. 12 Tahun 1954 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah, diatur dalam Pasal 19 dan Pasal 17.

d. Bidang ketenagakerjaan, melalui Ordonansi tanggal 17 Desember 1925 tentang Peraturan Pembatasan Kerja Anak dan Kerja Malam bagi Wanita jo Ordonansi tanggal 27 Februari 1926 stbl. No. 87 Tahun 1926 ditetapkan tanggal 1 Mei 1976 tentang Peraturan Mengenai Keselamatan Kerja Anak-anak dan

Orang-orang muda di atas Kapal jo Undang-Undang No. 1 Undang-Undang Keselamatan Kerja stbl. 1947 No. 208 jo Undang-Undang No. 1 Tahun 1951 yang memberlakukan Undang-Undang Kerja No. 12 Tahun 1948 di Republik Indonesia.

e. Bidang kesejahteraan sosial, melalui Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak (Wagiati Soetodjo, 2010: 67-68).

Dalam perkembangannya perlindungan terhadap anak di bidang hukum

juga ditur dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem

Peradilan Pidana Anak.

Perlindungan hukum terhadap anak di Indonesia, telah diatur

dalam berbagai peraturan perundang-undangan, namun secara khusus

diatur

dalam

Undang-Undang

Nomor

Perlindungan Anak.

Menurut pasal 1

23

Tahun

2002

tentang

nomor 2

, Undang-Undang

Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa:

20

Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan

Anak, meliputi:

a. Perlindungan di bidang Agama

1)

Perlindungan untuk beribadah menurut agamanya.

2)

perlindungan anak dalam memeluk agamanya dijamin oleh

negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, orang tua, wali, dan

lembaga sosial. Perlindungan anak dalam memeluk agamanya

meliputi pembinaan, pembimbingan, dan pengamalan ajaran

agama bagi anak.

b. Perlindungan di bidang Kesehatan

1)

Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan

upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak.

 

2)

Orang tua dan keluarga bertanggung jawab menjaga kesehatan

anak jika tidak mampu melaksanakan tanggung jawab, maka

pemerintah wajib memenuhinya.

 

3)

Negara,

pemerintah,

keluarga,

dan

orang

tua

wajib

mengusahakan agar anak yang lahir terhindar dari penyakit

yang mengancam kelangsungan hidup dan/atau menimbulkan

kecacatan

4)

Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib melindungi

anak dari upaya transplantasi organ tubuhnya untuk pihak lain.

21

Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib melindungi

anak dari perbuatan :

a) pengambilan organ tubuh anak dan/atau jaringan tubuh anak

tanpa memperhatikan kesehatan anak;

b) jual beli organ dan/atau jaringan tubuh anak; dan

c) penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai objek

penelitian tanpa seizin orang tua dan tidak mengutamakan

kepentingan yang terbaik bagi anak.

c. Perlindungan di bidang Pendidikan

1)

Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal

9 (sembilan) tahun untuk semua anak.

 

2)

Anak yang menyandang cacat fisik dan/atau mental diberikan

kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh

pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa.

 

3)

Anak yang memiliki keunggulan diberikan kesempatan dan

aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan khusus.

 

4)

Pemerintah

bertanggung

jawab

untuk

memberikan

biaya

pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus

bagi anak dari keluarga kurang mampu, anak terlantar, dan anak

yang bertempat tinggal di daerah terpencil.

 

5)

Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari

tindakan

kekerasan

yang

dilakukan

oleh

guru,

pengelola

22

 

sekolah

atau

teman-temannya

di

dalam

sekolah

yang

bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.

 

d.

Perlindungan di bidang Sosial

1)

Pemerintah

wajib

menyelenggarakan

pemeliharaan

dan

 

perawatan

anak

terlantar

dalam

hal

penyelenggaraan

pemeliharaan dan perawatan pengawasannya dilakukan oleh

Menteri Sosial.

 
 

2)

Pemerintah

dalam

menyelenggarakan

pemeliharaan

dan

 

perawatan wajib mengupayakan dan membantu anak, agar anak

dapat :

a) berpartisipasi;

 

b) bebas menyatakan pendapat dan berpikir sesuai dengan hati

nurani dan agamanya;

 

c) bebas menerima informasi lisan atau tertulis sesuai dengan

tahapan usia dan perkembangan anak;

 

d) bebas berserikat dan berkumpul;

e) bebas

beristirahat,

bermain,

berekreasi,

berkreasi,

dan

berkarya seni budaya; dan

 

f) memperoleh

sarana

bermain

yang

memenuhi

syarat

kesehatan dan keselamatan.

 
 

3)

Anak terlantar karena suatu sebab orang tuanya melalaikan

kewajibannya,

maka

lembaga,

keluarga,

atau

pejabat

yang

23

berwenang dapat mengajukan permohonan ke pengadilan untuk

menetapkan anak sebagai anak terlantar.

4)

Penetapan

pengadilan

sebagaimana

dimaksud

sekaligus

menetapkan

tempat

penampungan,

pemeliharaan,

dan

perawatan anak.

e. Perlindungan Khusus

1)

Perlindungan

khusus

bagi

anak

yang

menjadi

pengungsi

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum humaniter.

2)

Perlindungan

khusus

bagi

anak

korban

kerusuhan,

korban

bencana, dan anak dalam situasi konflik bersenjata, meliputi:

a) pemenuhan

kebutuhan

dasar,

yaitu:

pangan,

sandang,

pemukiman, pendidikan, kesehatan, belajar dan berekreasi,

jaminan keamanan, dan persamaan perlakuan; dan

 

b) pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak yang menyandang

cacat dan anak yang mengalami gangguan psikososial.

3)

Perlindungan

khusus

bagi

anak

yang

berhadapan

dengan

hukum, anak yang berkonflik dengan hukum dan anak korban

tindak pidana, meliputi:

a) perlakuan

atas

anak

secara

manusiawi

martabat dan hak-hak anak;

sesuai

dengan

b) penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini;

c) penyediaan sarana dan prasarana khusus;

24

d)

penjatuhan

sanksi

yang

tepat

untuk

kepentingan

yang

terbaik bagi anak;

 

e)

pemantauan

dan

pencatatan

terus

menerus

terhadap

perkembangan anak yang berhadapan dengan hukum;

f) pemberian

jaminan

untuk

mempertahankan

hubungan

dengan orang tua atau keluarga; dan

g) perlindungan

dari

pemberitaan

identitas

melalui

media

massa dan untuk menghindari labelisasi.

4)

Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban tindak

pidana meliputi:

 

a)

upaya rehabilitasi, baik dalam lembaga maupun di luar

 

lembaga;

 

b)

upaya

perlindungan

dari

pemberitaan

identitas

melalui

 

media massa dan untuk menghindari labelisasi;

 

c)

pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi

 

ahli, baik fisik, mental, maupun sosial; dan

 
 

d)

pemberian

aksesibilitas

untuk

mendapatkan

informasi

 

mengenai perkembangan perkara.

5)

Perlindungan khusus bagi anak dari kelompok minoritas dan

terisolasi dilakukan melalui penyediaan prasarana dan sarana

untuk

dapat

melaksanakan

menikmati

budayanya

sendiri,

ajaran

agamanya

sendiri,

dan

bahasanya sendiri.

mengakui

dan

menggunakan

25

6)

Perlindungan

khusus

bagi

anak

yang

dieksploitasi

secara

ekonomi dan/atau seksual, meliputi:

 

a) penyebarluasan

dan/atau

sosialisasi

ketentuan

peraturan

perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan

anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual;

b) pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi; dan

 

c) pelibatan berbagai instansi pemerintah, perusahaan, serikat

pekerja,

lembaga

swadaya

masyarakat,

dan

masyarakat

dalam

penghapusan

eksploitasi

terhadap

anak

secara

ekonomi dan/atau seksual.

7)

Perlindungan

khusus

bagi

anak

yang

menjadi

korban

penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif

lainnya (napza), dan terlibat dalam produksi dan distribusinya,

dilakukan melalui upaya pengawasan, pencegahan, perawatan,

dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat.

 

8)

Perlindungan khusus bagi anak korban penculikan, penjualan,

dan perdagangan anak dilakukan melalui upaya pengawasan,

perlindungan,

pencegahan,

perawatan,

dan

rehabilitasi

oleh

pemerintah dan masyarakat.

 

9)

Perlindungan

khusus

bagi anak

korban kekerasan meliputi

kekerasan fisik, psikis, dan seksual dilakukan melalui upaya :

a) penyebarluasan

dan

sosialisasi

ketentuan

peraturan

perundang-undangan yang melindungi anak korban tindak

26

kekerasan;

dan

pemantauan,

pelaporan,

dan

pemberian

sanksi.

10) Perlindungan

khusus

bagi

anak

yang

menyandang

cacat

dilakukan melalui upaya :

a) perlakuan anak secara manusiawi sesuai dengan martabat

dan hak anak;

b) pemenuhan kebutuhan-kebutuhan khusus; dan

c) memperoleh perlakuan

yang sama dengan anak lainnya

untuk

mencapai

integrasi

pengembangan individu.

sosial

sepenuh

mungkin

dan

11) Perlindungan khusus bagi anak korban perlakuan salah dan

penelantaran

dilakukan

melalui

pengawasan,

pencegahan,

perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat.

B. Tinjauan mengenai Tindak Pidana Anak

1. Pengertian Tindak Pidana Anak

Tindak pidana anak adalah tindak pidana yang dilakukan oleh

anak-anak.

Tindak pidana anak dapat dihubungkan dengan istilah

Juvenile Deliquency, yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan

beragam istilah, yaitu kenakalan anak, kenakalan remaja, kenakalan

pemuda, taruna tersesat, ataupun jalin quersi anak. Secara etimologis

dapat

dijabarkan

bahwa

Juvenile

berarti

“anak”

sedangkan

Deliquency

berarti

“kejahatan”.

Dengan

demikian

Juvenile

27

Deliquency”

adalah

“Kejahatan

Anak

”,

sedangkan

apabila

menyangkut subjek atau pelakunya, maka Juvenile Deliquency berarti

penjahat anak atau anak jahat (Tholib Setiady, 2010: 176).

Romli

Atmasasmita

yang

dikutib

oleh

Wagiati

Soetodjo

menyebutkan bahwa yang dimaksud juvenile delinquency adalah:

Setiap perbuatan atau tingkah laku seseorang anak di bawah umur 18 tahun dan belum kawin yang merupakan pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku serta dapat membahayakan perkembangan pribadi si anak yang bersangkutan (Wagiati Soetodjo, 2010: 11).

Selain itu, Dr. Fuad Hasan dalam Sudarsono juga merumuskan

bahwa

juvenile

delinquency,

adalah

perbuatan

anti

sosial

yang

dilakukan oleh anak remaja yang bilamana dilakukan orang dewasa

dikualifikasikan sebagai tindak pidana (Sudarsono, 2004: 11). Kartini

Kartono dalam Tholib Setiady juga merumuskan bahwa yang dikatan

sebagai juvenile delinquency adalah:

Perilaku jahat/dursila, atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologi) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial sehingga mereka itu mengembangkan bentuk pengabaian tingkah laku yang menyimpang (Tholib Setiady, 2010: 177).

A Qiram SM dalam Rusli Muhammad dan Hanafi menyatakan

bahwa tingkah laku orang dewasa adalah tingkah laku yang sempurna,

sedangkan perangai anak si anak apabila diselidiki adalah merupakan

suatu kritik nilai saja, karena dalam proses pertumbuhan ke masa

remaja, sedang dalam proses mencari identitas diri (Rusli Muhammad

dan Hanafi, 1994: 91). Dalam proses pencarian jati diri tersebut,

28

terkadang anak-anak tidak dapat mengendalikan diri sehingga mudah

melakukan kenakalan yang menjurus pada tindak kejahatan.

2. Bentuk Tindak Pidana Anak

Menurut Sudarsono, norma-norma hukum yang sering dilanggar

oleh anak-anak remaja pada umumnya adalah pasal-pasal tentang:

a. Kejahatan-kejahatan kekerasan

b.

1)

Pembunuhan

Penganiayaan

2)

Pencurian

1)

2)

Pencurian biasa Pencurian dengan pemberatan

c. Penggelapan

d. Penipuan

e. Pemerasan

f. Gelandangan

g. Anak sipil

h. Remaja dan narkotika (Sudarsono, 2004: 32).

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dinyatakan bahwa

tindak pidana anak merupakan salah satu dari pelanggaran terhadap

pasal 489, 490, 492, 497, 503, 505, 514, 517, 518, 519, 526, 531, 532,

536, dan 540, yaitu:

a. Pelanggaran keamanan umum, seperti:

1)

Mabuk di muka umum dan merintangi lalu lintas, menganggu

ketertiban, atau mengancam keamanan orang lain.

2)

Menyebabkan kebakaran di muka umum.

b. Melakukan pelanggaran terhadap ketertiban, meliputi:

1)

Membuat

kegaduhan,

keramaian

sehingga

mengaganggu

masyarakat.

2)

Menggelandang.

 

29

3)

Penadah.

4)

Pemalsuan.

5)

Perusakan informasi di muka umum.

c. Melakukan pelanggaran kesusilaan, meliputi:

1)

Menyanyikan lagu, berpidato, dan menyebarkan tulisan yang

melangggar kesusilaan di muka umum.

2)

Mabuk di muka umum.

3.

Macam-macam

Kenakalan

Anak

dan

Sebab-sebab

Kenakalan

Anak

a. Macam-macam Kenakalan Anak

Sri Widowati Wiratmo Soekito yang dikutib oleh Tholib

Setiady mengatakan bahwa pada umumnya terdapat empat macam

kenakalan anak-anak (remaja) yaitu:

1)

Delik kriminal yang dilakukan anak-anak (para remaja)

2) Delik lain yang tidak dicantumkan dalam peraturan- peraturan yang berlaku bagi orang dewasa 3) Pre-deliquency atau pelanggaran terhadap norma educatif 4) Anak-anak yang berada (in need of care and protection) atau memberikan ketentuan-ketentuan kesejahteraan anak (Tholib Setiady, 2010: 179).

Dr. Wagiati Soetodjo, S.H., M.S yang dikutib oleh Tholib

Setiady, menyatakan bahwa gejala kenakalan anak (remaja) akan

terungkap apabila kita meneliti bagaimana cirri-ciri khas atau cirri

umum yang amat menonjol pada tingkah laku dari anak-anak puber

tersebut, antara lain:

30

1) Rasa harga diri yang semakin menguat dan gengsi yang terlalu besar serta kebutuhan untuk memamerkan diri, sementara lingkungan masyarakat dewasa ini sedang demam materiil di mana orang mendewakan kehidupan luk atau kemewahan, sehingga anak-anak muda usia yang

emosi dan mentalnya belum matang serta dalam situasi labil maka dengan mudah ia ikut terjangkit nafsu serakah dunia materiil. Apabila anak tidak mampu mengendalikan emosi-emosi yang semakin menekan, kemudian pengawasan dan pendidikan dari orangtua kurang, maka akan mudah sekali anak muda (remaja) terjerumus dengan melakukan kriminal misalnya mencuri, menodong, dan menggarong demi mendapatkan penghasilan tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga dan cucuran keringat. 2) Energi yang berlimpah-limpah memanifestasikan diri dalam bentuk keberanian yang condong melebih-lebihkan kemampuan diri sendiri misalnya terefleksi pada kesukaan anak muda untuk kebut-kebutan di jalan raya.

3)

misalnya dengan jalan mabuk-mabukan minuman keras. 4) Corak hidupnya bercorak asocial dan keluar daripada dunia objektif kearah dunia subjektif sehingga ia tidak lagi suka pada kegunaan-kegunaan teknis yang sifatnya pragmatis, melainkan lebih suka bergerombol dengan kawan sebaya. 5) Pencarian suatu identitas kedewasaan cenderung melepaskan diri dari identitas maupun identifikasi lama dan mencari aku “ideal” sebagai identitas baru serta substitusi identifikasi yang lama (Tholib Setiady, 2010:

Senang mencari perhatian dengan jalan menonjolkan diri,

181-182).

Hal-hal

tersebut,

dapat

dimengerti

dimana

fase

remaja

merupakan fase transisi dimana tingkah laku

anti sosial yang

potensial

menimbulkan

kehilangan

kontrol dan

kendali emosi.

Apabila

tidak

diiringi

dengan

tanpa

adanya

pembinaan

dan

pengawasan yang tepat dari semua pihak, anak gejala kenakalan ini

akan menjadi tindakan-tindakan yang mengarah kepada tindakan

yang bersifat kriminalitas.

31

Lebih tegas lagi dinyatakan oleh Adler yang dikutib oleh

Tholib

Setiady,

yang

menyatakan

bahwa

tingkah

laku

yang

menjurus kepada masalah juvenile delinquency menurutnya adalah:

1) Kebut-kebutan di jalananan mengganggu keamanan lalu

lintas yang membahayakan jiwa sendiri dan orang lain. 2) Perilaku ugal-ugalan, berandal, urakan yang mengacaukan ketentraman lingkungan sekitarnya. Tingkah laku ini bersumber pada kelebihan energi dan dorongan primitif yang tidak terkendali serta kesukaan menteror lingkungan. 3) Perkelahian antar geng, antar kelompok, antar sekolah, antar suku (tawuran), sehingga kadang-kadang membawa korban jiwa.

Membolos sekolah lalu bergelandang sepanjang jalan atau bersembunyi di tempat-tempat terpencil sambil melakukan eksperimen bermacam-macam kedurjanaan dan tindakan a-susila.

5) Kriminalitas anak, remaja dan adolesens antara lain berupa perbuatan mengancam, intimidasi, memeras, mencuri, mencopet, merampas, menjambret, menyerang, merampok, menganggu, menggarong, melakukan pembunuhan dengan jalan menyembelih korbannya, mencekik, meracun, tindak kekerasan, dan pelanggaran lainnya. 6) Berpesta pora sambil mabuk-mabukkan, melakukan hubungan seks bebas atau orgi (mabuk-mabukan yang menimbulkan keadaan kacau balau) yang menganggu sekitarnya.

7)

4)

Perkosaan (Tholib Setiady, 2010: 180-181).

b. Sebab-sebab Kenakalan Anak

Kenakalan remaja dapat terjadi karena beberapa sebab, hal

tersebut timbul karena ada motivasi dari remaja itu sendiri. Dalam

Kamus Besar Bahasa Indonesia, motivasi adalah dorongan yang

timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk

melakukan suatu perbuatan dengan tujuan tertentu. Motivasi juga

sering diartikan sebagai usaha-usaha yang menyebabkan seseorang

32

atau kelompok tertentu tergerak untuk melakukan suatu perbuatan

karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau membuat

kepuasan dengan perbuatannya (Tim Penyusun, 2008: 1043).

Motivasi tersebut dapat berbentuk

motivasi intrinsik dan

motivasi ekstrinsik. Dr Wagiati Soetodjo dalam Tholib Setiady,

menyatakan bahwa motivasi motivasi intrinsik adalah dorongan

atau

keinginan

pada

diri

seseorang

yang

tidak

perlu

disertai

perangsang dari luar, sedangkan motivasi ektrinsik adalah dorongan

yang datang dari luar diri seseorang (Tholib Setiady, 2010: 182).

Selanjutnya Romli Atmasamita, menyatakan bahwa:

1)

Yang termasuk motivasi intrinsik dari kenakalan remaja

a) Faktor intelegensia

b) Faktor usia

c) Faktor kelamin

d) Faktor kedudukan anak dalam keluarga

2)

Yang termasuk motivasi ektrinsik dari kenakalan remaja

a) Faktor keluarga

b) Faktor pendidikan dan sekolah

c) Faktor pergaulan anak

d) Pengaruh mass-media (Tholib Setiady, 2010, 183-189).

C. Jenis Pidana dan Tindakan Bagi Anak Nakal

Berdasarkan ketentuan Pasal 69 Undang-Undang No. 11 tahun 2012

Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dinyatakan bahwa seorang anak

dapat dijatuhi pidana setelah berumur 14 tahun, sedangkan anak yang

belum berusia 14 tahun hanya dapat dikenai tindakan. Selanjutnya jenis

pidana dan tindakan yang dapat dijatuhkan bagi anak nakal, yakni:

33

1. Jenis Pidana Bagi Anak Nakal

Selanjutnya dalam Pasal 71 Undang-Undang No. 11 Tahun 2012

tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, anak dapat dijatuhi pidana

sebagai berikut:

a. Pidana Pokok

1)

pidana peringatan

2)

pidana dengan syarat:

a) pembinaan di luar lembaga

b) pelayanan masyarakat, atau

c) pengawasan.

3)

pelatihan kerja

4)

pembinaan dalam lembaga, dan

5)

penjara.

b. Pidana tambahan terdiri atas:

1)

perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana,

2)

atau pemenuhan kewajiban adat.

Selanjutnya

apabila

dalam

hukum

materiil

diancam

pidana

kumulatif berupa penjara dan denda, pidana denda diganti dengan

pelatihan

kerja.

Pelaksanaan pidana

yang

dijatuhkan kepada

Anak

dilarang melanggar harkat dan martabat anak.

2. Tindakan Bagi Anak Nakal

Tindakan yang dapat dijatuhkan kepada anak menurut Pasal 82

ayat (1) Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan

Pidana Anak, meliputi:

1)

pengembalian kepada orang tua/Wali

2)

penyerahan kepada seseorang

3)

perawatan di rumah sakit jiwa

4)

perawatan di LPKS

34

5) kewajiban mengikuti pendidikan formal dan/atau pelatihan yang diadakan oleh pemerintah atau badan swasta 6) pencabutan surat izin mengemudi; dan/atau g. perbaikan akibat tindak pidana.

D. Tinjauan Mengenai Pembinaan Anak Pidana

1. Pengertian Anak Pidana

Anak Pidana termasuk dalam anak didik pemasyarakatan selain

anak negara dan anak sipil. Menurut Undang-Undang No 12 Tahun

1995

tentang

Pemasyarakatan,

Anak

Pidana

yaitu

anak

yang

berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di LAPAS Anak

paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun.

2. Pembinaan Anak Pidana

Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 12 Tahun 1995

tentang Pemasyarakatan, dinyatakan bahwa:

Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan, dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka inti dari pemasyarakatan berarti

pembinaan

terhadap

WBP

supaya

nantinya

dapat

kembali

ke

masyarakat dengan baik (Nashriana, 2011: 153). Guna melaksanakan

pembinaan tersebut diperlukan suatu sistem, yang dinamakan sistem

pemasyarakatan.

Selanjutnya dalam Pasal 2 dinyatakan bahwa:

Sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak

35

mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.

sistem

pemasyarakatan

juga

berfungsi

untuk

menyiapkan

Warga

Binaan Pemasyarakatan agar dapat berintegrasi secara sehat dengan

masyarakat,

sehingga

dapat

berperan

kembali

sebagai

anggota

masyarakat yang bebas dan bertanggung jawab.

Pembinaan terhadap anak Pidana, menurut ketentuan dalam

Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana

Anak dilakukan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Proses

Pembinaan

terhadap

narapidana

yang

dalam

Undang-Undang

Pemasyarakatan menggunakan istilah Warga Binaan Pemasyarakatan

(WBP). dimulai sejak yang bersangkutan masuk ke dalam Lembaga

Pemasyarakatan.

Pembinaan yang dilaksanakan dalam

sistem

pemasyarakatan

tidak terlepas dari instansi pelaksananya. Pembinaan yang dilakukan

hanya

dapat

diberikan

kepada

narapidana

bukan

kepada

tahanan,

karena di samping kasusnya belum tuntas dan belum memperoleh

keputusan dari pengadilan yang mempunyai ketetapan hukum yang

tetap

dan

ia

juga

masih

dalam

proses

penyidikan

dan

berstatus

tersangka.

 
 

Menurut

Peraturan

Pemerintah

No

31

tahun

1999

Tentang

Pembinaan

dan

Pembibingan

Warga

Binaan

Pemasyarakatan,

Pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan

kepada

Tuhan

Yang

Maha

Esa,

intelektual,

sikap

dan

36

perilaku,

profesional, kesehatan jasmani dan rohani Narapidana dan Anak Didik

Pemasyaraktan.

Menurut Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.

M. 02-PK.04. 10 Tahun 1990 Tentang Pola Pembinaan Narapidana/

Tahanan, Pembinaan dan Pola Pembinaan ini meliputi:

a. Pelayanan Tahanan ialah segala kegiatan yang dilaksanakan dari

mulai penerimaan sampai dengan tahap pengeluaran tahanan.

b. Pembinaan Narapidana dan Anak didik ialah semua usaha yang

ditujukan

untuk

memperbaiki

dan

meningkatkan

akhlak

(budi

pekerti) para narapidana dan anak didik yang berada di dalam

Lembaga Pemasyarakatan/Rutan (intramural treatment).

Dalam

ketentuan

Bab

IV

mengenai

Metode

Pembinaan

dinyatakan bahwa metode pembinaan/bimbingan meliputi :

a. Pembinaan berupa interaksi langsung yang sifatnya kekeluargaan

antara pembina dengan yang dibina (warga binaan pemasyara-

katan).

b. bersifat

Pembinaan

persuasif

edukatif

yaitu

berusaha

merubah

tingkah lakunya melalui keteladanan dan memperlakukan adil di

antara

sesama

mereka

sehingga

menggugah

hatinya

untuk

melakukan

hal-hal

yang

terpuji,

menempatkan

warga

binaan

pemasyarakatan

sebagai

manusia

yang

memiliki

potensi

dan

37

memiliki harga diri dengan hak-hak dan kewajibannya yang sama

dengan manusia lainnya.

c. Pembinaan berencana, terus menerus dan sistematis.

Berdasarkan Peraturan pemerintah No 31 tahun 1999 tentang

pembinaan

dan

pembibingan

Warga

Binaan

Pemasyarakatan,

dijelaskan dalam Pasal 15 ayat (1) bahwa, Pelaksanaan pembinaan

Anak Didik Pemasyarakatan dilakukan oleh Pembina Pemasyarakatan.

Selanjutnya dalam Pasal 19 meliputi:

a. Pembinaan tahap awal meliputi:

1) masa pengamatan, pengenalan dan penelitian lingkungan paling lama 1 (satu) bulan; 2) perencanaan program pembinaan kepribadian dan kemandirian;

3)

pelaksanaan program pembinaan kepribadian dan kemandirian;

4)

dan penilaian pelaksanaan program pembinaan tahap awal.

b. Pembinaan tahap lanjutan meliputi:

1)

perencanaan program pembinaan lanjutan;

2)

pelaksanaan program pembinaan lanjutan;

3)

penilaian pelaksanaan program pembinaan lanjutan; dan

4)

perencanaan dan pelaksanaan program asimilasi.

c. Pembinaan tahap akhir meliputi:

1)

perencanaan program integrasi;

2)

pelaksanaan program integrasi; dan

3)

pengakhiran pelaksanaan pembinaan tahap akhir.

Selanjutnya dalam Keputusan Menteri Kehakiman No: M. 02-

PK.04.10 Tahun 1990 Tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan,

dijelaskan secara lebih lanjut mengenai tahap-tahap pembinaan bagi

anak didik pemasyarakatan berdasarkan lamanya pidana/ masa pidana

yang meliputi:

a. Proses pembinaan bagi anak didik yang masa pembinaannya melebihi 1 (satu) tahun, melalui 6 (enam) tahap :

38

1) Tahap pertama, dimulai sejak diterima dan didaftar hingga enam bulan pertama. 2) Tahap kedua, dimulai sejak berakhirnya tahap pertama hingga akhir enam bulan kedua. 3) Tahap ketiga, dimulai sejak berakhirnya tahap kedua hinqga

akhir enam bulan ketiga. 4) Tahap keempat, dimulai sejak berakhirnya tahap ketiga hingga akhir enam bulan keempat. 5) Tahap kelima, dimulai sejak akhir tahap keempat hingga akhir enam bulan kelima. 6) Tahap keenam, dimulai sejak berakhirnya tahap kelima hingga:

(a)

anak didik/anak negara mencapai batas umur 18 tahun.

(b)

anak didik/anak sipil mencapai batas umur 21 tahun.

b. Proses pembinaan bagi anak didik yang sisa masa pidananya lebih satu tahun ada 4 (empat) tahap:

1) Tahap pertama, sejak diterima sampai sekurang-kurang-nya 1/3 bagian dari masa pidana yang sebenarnya. 2) Tahap kedua, sejak 1/3 sampai sekurang-kurangnya 1/2 dari masa pidana vang sebenarnya. 3) Tahap ketiga, sejak 1/2 sampai 2/3 dari masa pidana yang sebenarnya.

4)

c. Proses pembinaan bagi anak didik yang sisa pidananya sampai dengan 1 (satu) tahun ada tiga tahap :

1) Tahap pertama, sejak diterima sampai sekurang-kurangnya 1/2 dari masa pidana sebenarnya sebenarnya. 2) Tahap kedua, sejak 1/2 sampai sekurang-kurangnya 2/3 dari

masa pidana sebenarnya. 3) Tahap ketiga, sejak 2/3 masa pidana yang sebenarnya sampai selesai.

Tahap keempat, sejak 2/3 sampai selesai masa pidana-nya.

Selanjutnya dalam peraturan ini, juga diatur mengenai wujud

pembinaan yang diberikan kepada anak didik pemasyarakatan, yang

meliputi pembinaan:

a. Umum: pemberantasan tiga buta (buta aksara, buta angka dan buta bahasa). b. Mental spiritual: pendidikan agama, PMP, kepribadian/ budi pekerti. c. Sosial budaya: etika pergaulan, seni lukis, seni tari, seni suara dan seni karawitan. d. Latihan ketrampilan : kursus menjahit/merenda/ menjahit/memasak/menganyam, kepramukaan, pembinaan generasi muda dan sebagainya.

39

e. Rekreasi : olah raga, catur, hiburan dan kunjungan keluarga.

Perlakuan

dan perlindungan terhadap anak-anak di lembaga

pemasyarakatan merupakan masalah yang sangat penting, yakni dengan

pemberian perlakuan dan perlindungan yang baik selama berada di

dalam lingkungan lembaga pemasyarakatan, hal ini dikarenakan bahwa

pada dasarnya perlakuan dan perlindungan tersebut menyangkut soal

fisik dan psikis dari orang yang bersangkutan terlebih dalam hal anak-

anak. Disamping fungsinya yang penting, perlakuan dan perlindungan

ini juga merupakan suatu masalah yang sangat kompleks di dalam

menentukan

masa

depan

anak-anak

tersebut.

Lingkungan

akan

mempengaruhi jiwanya yang sedang berkembang kearah kedewasaan

dan akan membentuk kepribadian bagi masa depannya. Di dalam

menjalani

masa

perkembangannya

maka

lembaga

pemasyarakatan

sangat diperlukan untuk dapat menciptakan suasana dan keadaan yang

baik dalam memperlakukan dan memberikan perlindungan kepada

anak-anak

tersebut,

sehingga

anak-anak

di

dalam

lembaga

pemasyarakatan akan dapat berkembang dengan baik dan menjadi

orang yang patut di tiru yang pada akhirnya dapat diterima kembali

dengan baik dalam masyarakat sebagai warga masyarakat.

Selanjutnya

perlu

untuk

diketahui

bahwa

dalam

masa

perkembangan si anak maka faktor lingkungan ataupun faktor keluarga

perluk untuk diperhatikan. Para petugas yang berpengalaman mendidik

anak-anak dalam lembaga pemasyarakatan berupaya untuk merubah

40

sifat dan tingkah laku si anak dimaksud. Sewaktu anak sedang berada

dalam penahanan hendaknya anak dimaksud

diperlakukan sebagai

seorang anak dan jangan sampai menimbulkan kesan terhadap si anak

bahwa dirinya adalah seorang penjahat atau seorang anak nakal.

Kita sadari bahwa sesuai dengan keberadaan Negara Indonesia

sebagai

negara

kesatuan

yang

berdasarkan

Pancasila

wajib

memperlakukan anak dan memberikan perlindungan, demikian pula

halnya dalam lembaga pemasyarakatan para petugas pemasyarakatan

wajib memperlakukan dan melindungi anak yang

sedang menjalani

hukuman mengingat hal-hal sebagai berikut:

a. setiap orang adalah manusia meskipun ia telah berbuat sesat dengan

melakukan

perbuatan

yang

bertentangan

dengan

hukum

yang

berlaku akan tetapi kita janganlah memperlakukan mereka dengan

tindakan yang dapat menyebarkan permusuhan.

b. Sebagai seorang anak yang sedang menjalani hukuman di lembaga

pemasyarakatan nantinya setelah selesai menjalani hukumannya

harus

dapat

dikembalikan

ke

masyarakat

dan

harus

diterima

kembali sebagai warga masyarakat yang berguna. Jangan samapai

anak tersebut nantinya merasa terbuang dan merasa dikucilkan oleh

masyarakat.

c. Anak yang berada di dalam lingkungan lembaga pemasyarakatan

hanyalah menjalani pidana

yang dijatuhkan saja dengan tanpa

kehilangan kemerdekaan untuk bergerak

41

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa

sistem pembinaan terhadap

anak-anak di lembaga pemasyarakatan

adalah sistem pemasyarakatan yang bertujuan tidaklah semata-mata

untuk

menghukum

anak

melainkan

memberikan

bimbingan

dan

pengarahan yang benar agar si anak tidak menjadi terganggu jiwa dan

mentalnya di dalam menjalani hukumannya. Berhasil atau tidaknya

anak-anak menjalani hukuman dalam lembaga pemasyarakatan agar

menjadi manusia yang baik dan berguna untuk masyarakat tidaklah

tergantung hanya dari keterampilan para petugas pemasyarakatan dan

lengkapnya

sarana pembinaannya melainkan juga tergantung pada

pihak-pihak

yang

lainnya

yang

harus

ikut

serta

dan

ikut

bertanggungjawab

atas

pembinaan

anak-anak

tersebut.

Hal

ini

diutarakan

dengan

harapan

supaya

anak-anak

di

dalam

lembaga

pemasyarakatan tersebut akan menjadi manusia dan warga negara yang

baik serta sebagai generasi penerus perjuangan bangsa dari negeri kita

tercinta (Tholib Setiady, 2010: 213-214).

3. Hak-hak Anak Pidana

Hak-hak anak pidana diatur dalam Pasal 22 ayat (1) Undang-

Undang No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, yang menyatakan

bahwa

seorang

anak

pidana

memperoleh

hak-hak

sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 14 Kecuali huruf g, dengan demikian hak-hak

anak tersebut meliputi:

a.

melakukan

kepercayaannya;

ibadah

sesuai

dengan

agama

atau

42

b. mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani;

c. mendapatkan pendidikan dan pengajaran;

d. mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak;

e. menyampaikan keluhan;

f. mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang;

g. menerima kunjungan keluarga, penasihat hukum, atau orang tertentu lainnya;

h. mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi);

i. mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga;

j. mendapatkan pembebasan bersyarat;

k. mendapatkan cuti menjelang bebas; dan

l. mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Dalam

Undang-Undang 39

Tahun 1999 tentang

Hak Asasi

Manusia, hak anak-anak yang dirampas kebebasannya diatur dalam

Pasal 66, yakni meliputi:

a.

Hak untuk tidak dijatuhi hukuman mati atau hukuman seumur

hidup.

b.

Hak untuk mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan dengan

memperhatikan kebutuhan pengembangan pribadi sesuai dengan

usianya dan harus dipisahkan dari orang dewasa, kecuali demi

kepentingannya.

c.

Hak untuk memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara

efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku.

d.

Hak untuk membela

diri

dan memperoleh

keadilan di depan

Pengadilan Anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang

yang tertutup untuk umum.

43

Selanjutnya berdasarkan ketentuan yang temuat dalam Pasal 16

ayat (3) Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan

anak dinyatakan bahwa penangkapan, penahanan, atau tindak pidana

penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang

berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir. Selain itu,

dalam Pasal 17 dijelaskan lebih lanjut mengenai hak dari anak yang

dirampas kebebasannya, yakni meliputi:

a. Mendapatkan

perlakuan

secara

manusiawi

dipisahkan dari orang dewasa;

dan

penempatannya

b. Memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif

dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku; dan

c. Membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak

yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk

umum.

Selain

memperoleh

hak-hak

diatas,

seorang

anak

yang

berhadapan dengan hukum juga hak mendapatkan perlindungan khusus

seperti yang yang diatur dalam ketentuan Pasal 64 Undang-Undang No.

23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yakni:

a. Perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan

hak-hak anak.

b. Penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini;

c. penyediaan sarana dan prasarana khusus;

44

d. penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik bagi

anak;

e. pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan

anak yang berhadapan dengan hukum;

f. pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang

tua atau keluarga; dan

g. perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan

untuk menghindari labelisasi.

Secara lebih lanjut, dalam Pasal 4 (1) Undang-Undang No 11

Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak , dinyatakan bahwa

anak yang sedang menjalani masa pidana berhak untuk:

a. mendapat pengurangan masa pidana;

b. memperoleh asimilasi;

c. memperoleh cuti mengunjungi keluarga;

d. memperoleh pembebasan bersyarat;

e. memperoleh cuti menjelang bebas;

f. memperoleh cuti bersyarat; dan

g. memperoleh hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

E. Tinjauan Mengenai Petugas Pemasyarakatan

Petugas pemasyarakatan yang melakukan pembinaan terhadap warga

binaan

pemasyarakatan

adalah

Pembina

pemasyarakatan.

Pembina

pemasyarakatan menurut Pasal 1 angka 4 Peraturan Pemerintah No. 31

Tahun

1999

tentang

Pembinaan

Pemasyarakatan,

adalah

pembinaan

narapidana

petugas

dan

anak

dan

Pembimbingan

Warga

Binaan

pemasyarakatan

yang

didik

pemasyarakatan

melaksanakan

di

LAPAS.

45

Selanjutnya dalam pelaksanakan pembinaan, Kepala LAPAS menetapkan

petugas pemasyarakatan yang bertugas sebagai wali narapidana dan anak

didik pemasyarakatan.

Kemudian

menurut

Keputusan Menteri

Kehakiman

No.

M. 02-

PK.04.10 Tahun 1990 Tentang Pola Pembinaan Narapidana/ Tahanan,

Pembina adalah:

a. Pegawai pemasyarakatan yang melakukan pembinaan secara langsung

terhadap narapidana, anak negara dan tahanan (intramural treatment).

b. Mereka yang terdiri dari perorangan, kelompok atau organisasi yang

secara

langsung

maupun

mendukung

pembinaan

(intramural treatment).

tidak

langsung

narapidan,

anak

ikut

melakukan

atau

negara

dan

tahanan

F. Tinjauan Mengenai Lembaga Pemasyarakatan

Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) adalah unit pelaksana teknis

pemsyarakatan

yang menampung,

merawat

dan membina

narapidana.

Dapat dikatakan juga bahwa LAPAS adalah merupakan sarana pembinaan

narapidana dalam sistem pemasyarakatan (Tolib Setiady, 2010 : 137).

Lembaga Pemasyarakatan menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 1995

tentang Pemasyarakatan, yang selanjutnya disebut LAPAS adalah tempat

untuk

melaksanakan

pembinaan

Narapidana

dan

Anak

Didik

Pemasyarakatan. Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) merupakan ujung

tombak

pelaksanaan

asas

pengayoman,

yang

merupakan

tempat

46

pelaksanaan pembinaan melalui pendidikan, rehabilitasi, dan reintegrasi

(Dwidja Prayitno, 2009: 103).

Lembaga Pemasyarakatan (disingkat LP atau LAPAS) adalah

tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik

pemasyarakatan di Indonesia. Sebelum dikenal istilah lapas di Indonesia,

tempat tersebut di sebut dengan istilah penjara. Lembaga Pemasyarakatan

merupakan

Unit

Pelaksana

Teknis

di

bawah

Direktorat

Jenderal

Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (dahulu

Departemen

Kehakiman).

Penghuni

Lembaga

Pemasyarakatan

bisa

narapidana (napi) atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bisa juga

yang statusnya masih tahanan, maksudnya orang tersebut masih berada

dalam proses peradilan dan belum ditentukan bersalah atau tidak oleh

hakim. Pegawai negeri sipil yang menangangi pembinaan narapidana dan

tahanan

di

lembaga

pemasyarakatan

di

sebut

dengan

Petugas

Pemasyarakatan, atau dahulu lebih di kenal dengan istilah sipir penjara.

Konsep pemasyarakatan pertama kali digagas oleh Menteri Kehakiman

Sahardjo

pada

tahun 1962,

dimana

disebutkan

bahwa

tugas

jawatan

kepenjaraan bukan hanya melaksanakan hukuman, namun tugas yang jauh

lebih berat adalah mengembalikan orang-orang yang dijatuhi pidana ke

dalam masyarakat. Pada tahun 2005, jumlah penghuni LP di Indonesia

mencapai 97.671 orang, lebih besar dari kapasitas hunian yang hanya untuk

68.141 orang. Maraknya peredaran narkoba di Indonesia juga salah satu

penyebab

terjadinya

over

kapasitas

pada

tingkat

hunian

LAPAS

(http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Pemasyarakatan,

tanggal 10 Januari 2013).

G. Tinjauan Mengenai Over Capacity

Diakses

47

pada

Over capacity terjadi karena laju pertumbuhan penghuni LAPAS

tidak

sebanding

dengan

sarana

hunian

LAPAS.

Prosentase

input

narapidana baru jauh melebihi output narapidana sangat tidak seimbang,

dengan

perbandingan

input

narapidana

baru

jauh

melebihi

output

narapidana yang selesai menjalani masa pidana penjaranya dan keluar dari

Lembaga Pemasyarakatan (Angkasa, 2010: 213).

Kelebihan hunian (over crowding) dalam Lapas sangat berpotensi

membawa berbagai dampak yang bersifat negatif. Diantaranya perkelahian

antara sesama narapidana maupun antara napi dan petugas, berbagai bentuk

kekerasan, banyaknya pelarian narapidana, kualitas makanan, lingkungan

dan kesehatan yang buruk. Dengan tingkat keadatan penghuni dalam

Lembaga

Pemasyarakatan

akan

mengakibatkan

pembinaan

narapidana

tidak dapat dilaksanakan dengan baik disbanding apabila tingkat kepadatan

tidak terlalu besar (Dwidja Prayitno, 2009: 121).