Anda di halaman 1dari 8

LO PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan Kultur Mikrobiologi Jamur

Diagnosis kandidiasis ditentukan berdasarkan gejala klinis yang menyebar dan tidak

mudah dibedakan dari infectious agent yang telah ada. Diagnosis laboratorium dapat dilakukan

melalui pemeriksaan spesimen mikroskopis, biakan, dan serologi. Tujuan pemeriksaan

laboratorium adalah untuk menemukan C. albicans di dalam bahan klinis baik dengan pemeriksaan

langsung maupun dengan biakan. Bahan pemeriksaan bergantung pada kelainan yang terjadi, dapat

berupa kerokan kulit atau kuku, dahak atau sputum, sekret bronkus, urin, tinja, usap mulut, telinga,

vagina, darah, atau jaringan. Cara mendapatkan bahan klinis harus diusahakan dengan cara steril

dan ditempatkan dalam wadah steril, untuk mencegah kontaminasi jamur dari udara. Identifikasi

spesies dapat dilakukan dengan uji morfologi dan kultur jamur untuk spesifikasi dan uji

sensitivitas. Pemeriksaan ini tidak disarakan untuk digunakan sebagai diagnosis karena tingginya

kolonisasi. Diagnosis pada lesi Kandida juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan histologi

terhadap sayatan spesimen hasil biopsi.

Pemeriksaan yang sering digunakan untuk mendeteksi adanya perkembangan candida pada

rongga mulut yaitu Kultur hasil swab lesi yang dicurigai kandidiasis. Media kultur yang dipakai

untuk biakan C. albicans adalah Sabouraud dextrose agar/SDA dengan atau tanpa

antibiotik,ditemukan oleh Raymond Sabouraud (1864-1938) seorang ahli dermatologi

berkebangsaan Perancis. Pemeriksaan kultur dilakukan dengan mengambil sampel cairan atau

kerokan sampel pada tempat infeksi, kemudian diperiksa secara berturutan menggunakan

Sabouraud’s dextrose broth kemudian Sabouraud’s dextrose agar plate. Pemeriksaan kultur darah

sangat berguna untuk endokarditis kandidiasis dan sepsis. Kultur sering tidak memberikan hasil
yang positif pada bentuk penyakit diseminata lainnya. Sabouraud’s dextrose broth/SDB berguna

untuk membedakan C. albicans dengan spesies jamur lain seperti Cryptococcus, Hasenula,

Malaesezzia. Pemeriksaan ini juga berguna mendeteksi jamur kontaminan untuk produk farmasi.

Pembuatan SDB dapat ditempat dalam tabung atau plate dan diinkubasi pada suhu 37oC selama

24-48 jam, setelah 3 hari tampak koloni C. albicans sebesar kepala jarum pentul, 1-2 hari kemudian

koloni dapat dilihat dengan jelas. Koloni C. albicans berwarna putih kekuningan, menimbul di atas

permukaan media, mempunyai permukaan yang pada permulaan halus dan licin dan dapat agak

keriput dengan bau ragi yang khas. Pertumbuhan pada SDB baru dapat dilihat setelah 4-6 minggu,

sebelum dilaporkan sebagai hasil negatif. Jamur dimurnikan dengan mengambil koloni yang

terpisah, kemudian ditanam seujung jarum biakan pada media yang baru untuk selanjutnya

dilakukan identifikasi jamur. Pertumbuhan C. albicans dan jamur lain/C. dublinensis pada SDB

dapat dilihat pada Gambar di berikut ini.

Sabouraud’s dextrose agar plate/SDA plate direkomendasikan untuk sampel atau bahan klinis yang

berasal dari kuku dan kulit. Media ini selektif untuk fungi dan yeast melihat pertumbuhan dan

identifikasi C. albicans yang mempunyai pH asam/pH. Penambahan antibiotika membuat media


ini lebih selektif yang bertujuan untuk menekan bakteri yang tumbuh bersama jamur di dalam

bahan klinis. Pada sampel positif Candida albican dilihat dari adanya koloni Candida albican

berbentuk bulat atau lonjong dengan permukaan halus, berwarna putih kekuningan dan

berbau ragi pada media agar miring SDA ( Saboraud Dextrose Agar ).

Pada media agar miring SDA ( Saboraud Dextrose Agar ) dapat juga ditumbuhi koloni

selain Candida albican yang memberikan hasil positif palsu pada pemeriksaan Makroskopis,

sehingga pada pemeriksaan mikroskopis tidak ditemukan adanya hifa ataupun blastospora

Candida albican. Tumbuhnya koloni selain Candida albican dapat dipengaruhi oleh kurang

sterilnya media pertumbuhan jamur, suhu inkubator yang tidak teratur, durasi inkubasi jamur pada

media SDA yang terlampau lama dan dapat juga karena kontaminasi saat pengambilan sampel.

(Vivi, 2016)

2. Pemeriksaan Radiografi Panoramic

Teknik radiografi yang berperan dalam mengenali periodontitis salah satunya adalah teknik

ronsen panoramik. Foto panoramik merupakan foto ronsen ekstra oral yang menghasilkan

gambaran yang memperlihatkan struktur fasial termasuk mandibula dan maksila beserta struktur

pendukungnya. Foto panoramik dikenal juga dengan panorex atau orthopantomogram dan menjadi

sangat popular di kedokteran gigi karena teknik yang simple, gambaran mencakup seluruh gigi

dan rahang dengan dosis radiasi yang rendah. Struktur periodontal yang teridentifikasi dalam

radiografi meliputi lamina dura, tulang alveolar, ruang ligamen periodontal dan sementum.
Data klinis dan radiografi sangat penting dalam mendiagnosis penyakit periodontal.

Radiografi akan sangat membantu dalam evaluasi jumlah tulang yang ada, kondisi alveolar crests,

kehilangan tulang pada daerah furkasi, lebar dari ruang ligamen periodontal. Peranan radiografi

selain dalam mengenali penyakit periodontal.juga berperan untuk: melihat panjang dan morfologi

akar gigi, rasio mahkota dengan akar gigi, melihat sinus maksilaris, gigi impaksi, supernumerary

dan missing teeth.

Keterbatasan radiografi, yaitu :

1. Radiografi konvensional memberikan gambar dua dimensi. Sedangkan gigi merupakan

objek tiga dimensi yang kompleks. Akibat dari gambar yang tumpang tindih, detail bentuk tulang

menjadi tidak terlihat.

2. Radiografi tidak memperlihatkan permulaan dari penyakit periodontal. Setidaknya 55 –

60 % demineralisasi terjadi dan tidak terlihat pada gambaran radiografi

3. Radiografi tidak memperlihatkan kontur jaringan lunak dan tidak merekam perubahan

jaringan – jaringan lunak pada periodonsium. Oleh karena itu, pemeriksaan klinis yang teliti

dikombinasi dengan pemeriksaan radiografi yang tepat dapat memberikan data adekuat untuk

diagnosis keberadaan dan penyebaran dari penyakit periodontal.


Adapun seleksi kasus yang memerlukan gambaran panoramik dalam penegakan diagnosa

diantaranya seperti:

1. Adanya lesi tulang atau ukuran dari posisi gigi terpendam yang menghalangi gambaran pada

intra-oral.

2. Melihat tulang alveolar dimana terjadi poket lebih dari 6 mm.

3. Untuk melihat kondisi gigi sebelum dilakukan rencana pembedahan.

4. Foto rutin untuk melihat perkembangan erupsi gigi molar tiga tidak disarankan.

5. Rencana perawatan orthodonti yang diperlukan untuk mengetahui keadaan gigi atau benih gigi.

6. Mengetahui ada atau tidaknya fraktur pada seluruh bagian mandibula.

7. Rencana perawatan implan gigi untuk mencari vertical height.


3. Pengukuran laju alir saliva

Pasien pada scenario mengeluhkan mulut terasa terbakar. Mulut terasa terbakar dapat

disebabkan karena rendahnya laju saliva/ hiposalivasi, sehingga bisa dipertimbangkan untuk

melakukan pemeriksn penunjang Pengukuran laju alir saliva. Salivary flow rate dapat memberikan

informasi yang penting untuk diagnosis oleh karena itu fungsi kelenjar sebaiknya dinilai melalui

teknik pengukuran ini yang disebut sialometri. Salivary flow rate dapat dilihat melalui

pengumpulan saliva yang ada dalam rongga mulut ke dalam suatu tabung atau diambil langsung

dari kelenjar saliva mayor disebut whole saliva.

Ada berbagai macam metode pengumpulan whole saliva termasuk draining, suction,

spitting, and absorbent (sponge) methods. Metode spitting adalah metode yang paling sering

dilakukan. Pada metode ini, pasien diinstruksikan untuk mengumpulkan saliva dalam mulut

kemudian diludahkan ke dalam tabung setiap 60 detik selama 5-15 menit. Metode ini dapat

dilakukan melalui saliva stimulated dan unstimulatedKelenjar saliva yang tidak terstimulasi

berperan dominan sehingga mempengaruhi keseluruhan rongga mulut dan melindungi kavitas

rongga mulut. Individu normal ditemukan mengeluhkan rasa kering pada rongga mulut pada waktu

unstimulated whole saliva berkurang sebesar 40-50%. Pemeriksaan unstimulated whole saliva

dapat memberikan penilaian kapasitas fungsional dari kelenjar saliva. Untuk menjamin

terkumpulnya saliva unstimulated, pasien diinstruksikan untuk menghindari makan, minum,

merokok, mengunyah permen karet dan perawatan oral hygiene 90 menit sebelum dilakukan

pemeriksaan sialometri. Pasien juga diinstruksikan untuk tidak melakukan banyak aktivitas dan

bicara sebelum dilakukan pemeriksaan ini.3,7 Nilai unstimulated whole saliva yang kurang dari

0,1 mL/menit dan stimulated whole saliva yang kurang dari 0,7 mL/menit merupakan penanda

terjadinya hipofungsi kelenjar saliva yang dihubungkan dengan xerostomia (Nur, 2017).
4. Pemeriksaan Kadar Darah Gula dalam Darah

Pada scenario dari hasil anamnesis didapatkan hasil polyuria, polifagi, dan polidipsi yang

merupakan gejala penyakit sistemik diabetes mellitus. Cara diagnosis diabetes melitus dapat

dilihat dari peningkatkan kadar glukosa darahnya. Terdapat beberapa kriteria diagnosis Diabetes

Melitus berdasarkan nilai kadar gula darah, berikut ini adalah kriteria diagnosis berdasarkan

American Diabetes Association tahun 2010:

1. Gejala klasik DM dengan glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/ dl (11.1 mmol/L). Glukosa darah

sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan

terakhir. Gejala klasik adalah: poliuria, polidipsia dan berat badan turun tanpa sebab.

2. Kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/ dl (7.0 mmol/L).Puasa adalah pasien tak mendapat kalori

sedikitnya 8 jam.

3. Kadar glukosa darah 2 jam PP ≥ 200 mg/ dl (11,1 mmol/L). Tes Toleransi Glukosa Oral

dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 gr glukosa

anhidrus yang dilarutkan ke dalam air. Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal

atau DM, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok Toleransi Glukosa Terganggu (TTGO)

atau Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT) tergantung dari hasil yang dipeoleh : TGT : glukosa

darah plasma 2 jam setelah beban antara 140- 199 mg/dl (7,8-11,0 mmol/L) GDPT : glukosa darah

puasa antara 100 – 125 mg/dl (5,6-6,9 mmol/L)


ADA (American Diabetes Association)., 2010. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus.

Diabetes Care Vol.33: S62-9.

I. W. Getas, I. G. Ayu, N. Danuyanti, I. Ayu, and W. Widiartini, “Hubungan Perilaku

Hygiene dan Sanitasi Terhadap Tingkat Kandidiasis dari Hasil Pemeriksaan Urine Wanita

Penderita Diabetes Mellitus di Puskesmas Narmada Kecamatan Narmada, Lombok Barat,” Media

Bina Ilm., vol. 7, no. 1978, pp. 5–

10, 2013.

Nur Asmi Usman, Iwan Hernawan | Tata Laksana Xerostomia Oleh Karena Efek

Penggunaan Amlodipine: Laporan Kasus. Insisiva Dental Journal, Vol. 6 No. 2 Bulan November Tahun

2017

Vivi Keumala Mutiawati Pemeriksaan Mikrobiologi Pada Candida Albicans.JURNAL KEDOKTERAN

SYIAH KUALA Volume 16 Nomor 1 Agustus 2016