Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

LEUKOREA

Oleh :

Paquita Al Husna (1410070100038)

Mifta Anom Aldiles (1410070100014)

Aprillya Juwita Sabri (1410070100049)

Wahyuni Fitri (1410070100052)

Vina Suci Santika S. (1410070100053)

Preseptor:

dr. Yufi P Marsal, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR

BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD SOLOK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BAITURRAHMAH

PADANG

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan

karunia-Nya, penyusunan Refrat yang berjudul “Leukorea” dapat diselesaikan. Penulisan

kasus ini diharapkan berguna dapat bermanfaat bagi institusi pendidikan sebagai sarana

pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik di lingkungan pendidikan kesehatan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Yufi P Marsal, Sp.OG selaku

pembimbing sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan referat ini tepat waktu demi

memenuhi tugas kepaniteraan klinik. Kami menyadari masih banyak kesalahan baik

dalam segi penyusunan, pengolahan, pemilihan kata, dan proses pengetikan karena masih

dalam tahap pembelajaran. Saran dan kritik yang membangun tentu sangat kami harapkan

untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa yang akan datang. Akhir kata, semoga

refrat ini dapat berguna khususnya bagi kami sebagai penulis dan bagi pembaca pada

umumnya dalam memahami masalah yang berhubungan dengan Leukorea.

Solok, Oktober 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Leukorrhea biasa diistilahkan dengan keputihan/ flour albus/ aliran putih.

Leukorrhea merupakan suatu bentuk vaginal discharge yaitu suatu kejadian

keluarnya cairan berlebih namun bukanlah darah yang berasal dari vagina,

sedangkan keputihan sendiri merupakan istilah lazim yang digunakan masyarakat

umum untuk menyebut penyakit Candidiasis vaginal yang terjadi didaerah

kewanitaan. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya leukorrhea antara

lain informasi, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, lingkungan, pengalaman.

Informasi tentang leukorrhea patologi merupakan hal yang penting untuk

menghindari terjadinya leukorrhea fisiologi menjadi leukorrhea patologi.

Leukorrhea patologi disebabkan karena pengetahuan dan persepsi mahasiswi

yang masih kurang tentang leukorrhea patologi. Leukorrhea yaitu cairan putih yang

keluar dari liang sanggama secara berlebihan. Sampai saat ini leukorrhea belum

jelas penyebabnya bahkan persepsi wanita usia subur (WUS) belum mencakup yang

berhubungan dengan leukorrhea. Leukorrhea dapat dibedakan dalam beberapa jenis

diantaranya leukorrhea normal (fisiologis) dan leukorrhea abnormal (patologis).

Leukorrhea normal dapat terjadi pada masa menjelang dan sesudah menstruasi,

pada sekitar fase sekresi antara hari ke 10-16 menstruasi, juga

1
terjadi melalui rangsangan seksual. Leukorrhea abnormal dapat terjadi pada semua

infeksi alat kelamin.

Menurut WHO memperkirakan jumlah wanita di dunia yang pernah

mengalami keputihan sekitar 75% wanita di dunia pasti mengalami keputihan

paling tidak sekali seumur hidup dan 45% diantaranya dapat mengalami keputihan

sebanyak 2 kali atau lebih. Dan untuk wanita Indonesia yang mengalami keputihan

berjumlah 75%.

Leukorrhea bukan penyakit tetapi gejala penyakit, sebab yang pasti perlu

ditetapkan. Leukorrhea dapat disebabkan oleh adanya bakteri, seperti gonococcus,

chlamydia, trichomatis, gardenella, treponena pallidum, adanya infeksi jamur

seperti candida dan adanya infeksi parasit seperti trichomonas vaginalis, serta

adanya infeksi seperti candyloma taacuminata dan herpes.


Oleh karena itu untuk menentukan penyakit dilakukan berbagai pemeriksaan

cairan yang keluar tersebut. Leukorrhea sebagai gejala penyakit dapat ditentukan

melalui berbagai pernyataan yang mencakup kapan dimulai, berapa jumlahnya, apa

gejala penyertanya (gumpalan atau encer, ada luka disekitar alat kalamin, pernah

disertai darah, ada bau busuk, menggunakan AKDR) adakah demam, rasa nyeri

didaerah kemaluan.
1.2 Tujuan Penelitian

1.2.1 Tujuan Umum

Referat ini disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik dibagian obstetri dan

ginekologi RSUD Solok dan diharapkan agar dapat menambah pengetahuan penulis

serta sebagai bahan informasi bagi para pembaca.

1.2.2 Tujuan Khusus

Tujuan penulisan dari referat ini adalah untuk mengetahui definisi, klasifikasi,

etiologi, gambaran klinis, patofisiologis, diagnosis, penatalaksanaan, dan diskusi

mengenai leukorea.

1.3 Metode Penulisan

Referat ini dibuat dengan metode tinjauan kepustakaan yang merujuk pada berbagai

literatur.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Leukorea

Pengertian leukorea (white discharge, flour albus, keputihan) adalah nama gejala

yang diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital yang tidak berupa

darah yang sering dijumpai pada penderita ginekologi.

Keputihan adalah keluarnya cairan lendir berwarna putih kekuningan keruh pada

permukaan vulva. Penyakit ini menyebabkan keluhan yang sering dijumpai pada wanita, yaitu

rasa gatal dan panas, serta bau yang tidak sedap. Keputihan ini disebabkan oleh Candida

albicans. Keputihan karena Candida albicans ini disebut Candidiasis vaginalis. Dalam

keadaan normal, vagina memproduksi cairan yang berwarna bening, tidak berbau, tidak

berwarna, jumlahnya tak berlebihan dan tidak disertai gatal. Keputihan merupakan

keluhan yang paling sering ditemukan pada perempuan. Keputihan dapat terjadi pada

keadaan yang normal (fisiologis), namun dapat juga merupakan gejala dari suatu kelainan

yang harus diobati (patologis).

2.2 Epidemiologi

Secara epidemiologi, fluor albus patologis dapat menyerang wanita dari

usia muda, usia produktif, tua, dan tidak mengenal tingkat pendidikan, ekonomi

dan sosial budaya. Meskipun kasus ini, lebih banyak dijumpai pada wanita dengan

tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah. Fluor albus patologis sering

disebabkan oleh infeksi salah satunya bakteri vaginosis (BV) yang merupakan

penyebab tersering (40%-50%), vulvovaginal candidiasis (VC), 80-90%

disebabkan oleh candida albican, trichomoniasis (TM) disebabkan oleh

trichomoniasis vaginale, angka kejadiannya sekitar 5%-20% dari kasus infeksi


vagina.

2.3 Klasifikasi Leukorea

Leukorea terbagi menjadi dua yaitu:

1. Leukorea Fisiologis

Secara umum, individu tidak memiliki keluhan hanya merasa tidak nyaman dengan

keluarnya cairan/ sekret tidak berwarna/ jernih, tidak berbau, tidak gatal dan tidak ada nyeri

saat berkemih maupun senggama. Tabel dibawah ini menjelaskan leukorea normal.

Gambar 1. Vaginal discharge/ leukorea fisiologis

2. Leukorea Patologis

I. Radang pada vagina :

a. Vaginosis Bakterial

Individu dengan VB akan mengeluh adanya vaginal discharge/ duh tubuh vagina

yang ringan / sedang berwana abu-abu dan berbau amis (fishy). Bau dirasakan lebih

menusuk setelah senggama dan mengakibatkan darah menstruasi berbau abnormal.


Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina membuat rasa gatal dan terbakar yang relatif

ringan. Nyeri abdomen, nyeri saat berhubungan atau saat berkemih jarang terjadi.

Sekitar 50% penderita VB bersifat asimtomatik.

Pada pemeriksaan sangat khas, adanya duh tubuh vagina bertambah, warna abu-

abu homogen, viskositas rendah/ normal, bau amis, jarang berbusa. Duh tubuh

melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan tipis, pH sekret vagina

berkisar 4,5 – 5,5. Pada pemeriksaan kolposkopi, tidak terlihat dilatasi pembuluh

darah dan tidak ditemukan penambahan densitas pembuluh darah pada dinding

vagina.

Gambar 2. Vaginosis Bakterial

b. Kandidiasis

Keluhan yang menonjol adalah rasa gatal, terbakar/ panas sering kali disertai

dengan iritasi vagina, disuria (nyeri saat berkemih) atau keduanya. Cairan vagina

yang keluar berwarna putih seperti susu yang bergumpal-gumpal (“cottage

cheeselike”), tidak berbau dan pH sekret vagina <4,5. Pada pemeriksaan dalam,

seringkali memperlihatkan eritema dinding vulva dan vagina, kadang-kadang dengan

plak yang menempel. Sedangkan pada laki-laki, biasa mengeluh rasa gatal dan

kemerahan pada penis.


Gambar 3. Candidiasis Vulvovagina

c. Trikomoniasis

Trikomoniasis pada wanita, yang diserang terutama dinding vagina. Dapat bersifat

akut dan kronik. Pada kasus akut, terlihat sekret vagina seropurulen berwarna

kekuning-kuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak (malodorous), berbusa, rasa gatal

dan dapat disertai disuria. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab. Kadang

terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak sebagai granulasi

berwarna merah yang dikenal sebagai strawberry apperance dan disertai dispareunia,

pendarahan pascakoitus dan pendarahan intermenstrual. Bila sekret, banyak yang

keluar dapat timbul iritasi pada lipat paha atau sekitar genitalia eksterna. Pada kasus

kronik, gejala lebih ringan dan biasanya sekret vagina tidak berbusa.

Gambar 4. Trikomoniasis Vaginalis


II. Radang pada serviks uteri

a. Klamidiasis

Infeksi klamidia tidak menimbulkan keluhan pada 30%-50% kasus dan dapat

menetap selama beberapa tahun. Penderita mengeluh keluar cairan purulen dari

vagina, bercak darah atau pendarahan pascasanggama. Pada pemeriksaan serviks,

tampak erosi, rapuh dan terdapat cairan mukopurulen berwarna kuning-hijau. Bila

tidak segera ditangani, klamidia dapat menyebabkan penyakit radang panggul yaitu

terjadinya nyeri kronisk2 akibat infeksi pada uterus dan saluran tuba. Radang

panggul dapat menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik.

Gambar 5. Chlamydia cervicitis

b. Gonorea

Sebagian besar wanita dengan gonorea memiliki gejala yang asimtomatik. Jika

memiliki gejala, biasanya gejalanya ringan dan tidak spesifik. Gejalanya antara lain

disuria, kadang-kadang poliuria, kadang timbul rasa nyeri pada punggung bawah.

Pada pemeriksaan dalam didapatkan labia mayora dapat bengkak, merah dan nyeri

tekan. Kadang kelenjar bartholini ikut meradang dan terasa nyeri saat berjalan /

duduk. Pada uretra, didapatkan orifisium uretra eksternum tampak merah, edema dan

ada sekret mukopurulen. Sedangkan, pada pemeriksaan serviks, tampak merah

dengan erosi dan sekret purulen.


Gambar 11. Gonorea

2.4 Gejala Leukorea

Gejala klinis dari leukorea atau keputihan antara lain:

1. Gatal, berbau, dan berbuih.

2. Sekret vagina bertambah banyak.

3. Bergumpal, campur darah

4. Dispareunia / sakit pada waktu koitus.

5. Disuria / rasa panas saat kencing.

2.5 Penyebab Leukorea

Penyebab keputihan atau leukorea dapat dikategorikan sebagai berikut:

a. Konstitusional

Penyebab leukorea atau keputihan secara konstitusional ditemukan pada keadaan


anemia, nefritis dan pada bendungan umum (decompensatio cordis, serosis,

hepatitis).

b. Kelainan endokrin

Seperti pada fungsional bleeding (kadar estrogen tinggi). Pada kehamilan (karena

hidraemia dan pengaruh endokrin).

c. Infeksi

Penyebab leukorea atau keputihan oleh karena infeksi antara lain:

 Vultasi–vulvo vaginitis.

 Vaginitas (kolpitis).

 Servivitis.

 Salpingitis

d. Penyebab lain

Penyebab lain leukorea atau keputihan antara lain:

1. Corpus allienum : possarium, rambut kemaluan, rambut wol, kain atau kapas.

2. Alat- alat atau obat- obat kontrasepsi.

3. Fitula (Fistula vesicovaginalis, Fistula Fectovaginalis).(Manuaba, 2001).


2.6 Patofisiologi Leukorea

Vagina

Ekosistem vagina Terganggu


-estrogen
-bacteri lactobacillus

Asam Laktat Menurun

Pertahanan Alamiah pada


Vagina Menurun

Tumbuh jamur dan


kuman-kuman lainya
pada vagina

Fluor Albus (leukia)

Vagina merupakan organ reproduksi wanita yang sangat rentan terhadap

infeksi. Hal ini disebabkan batas antara uretra dengan anus sangat dekat, sehingga

kuman penyakit seperti jamur, bakteri, parasit, maupun virus mudah masuk ke liang

vagina. Infeksi juga terjadi karena terganggunya keseimbangan ekosistem di vagina.


Ekosistem vagina merupakan lingkaran kehidupan yang dipengaruhi oleh dua unsur

utama, yaitu estrogen dan bakteri Lactobacillus atau bakteri baik. Di sini estrogen

berperan dalam menentukan kadar zat gula sebagai simpanan energi dalam sel

tubuh(glikogen). Glikogen merupakan nutrisi dari Lactobacillus, yang akan

dimetabolisme untuk pertumbuhannya. Sisa metabolisme kemudian menghasilkan

asam laktat, yang menentukan suasana asam di dalam vagina, dengan pH dikisaran

3,8-4,2. Dengan tingkat keasaman ini, Lactobacillus akan subur dan bakteri patogen

akan mati Di dalam vagina terdapat berbagai macam bakteri, 95% Lactobacillus,5%

patogen. Dalam kondisi ekosistem vagina seimbang, bakteri patogen tidak akan

mengganggu.

Bila keseimbangan itu terganggu,misalnya tingkat keasaman menurun,

pertahanan alamiah akan turun,dan rentan mengalami infeksi. Ketidak seimbangan

ekosistem vagina disebabkan banyak faktor. Di antaranya kontrasepsi oral, penyakit

diabetes melitus, antibiotika, darah haid, cairan sperma,penyemprotan cairan ke dalam

vagina (douching), dan gangguan hormon seperti saat pubertas, kehamilan, atau

menopause. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan tumbuhnya jamur dan kuman-

kuman yang lain. Padahal adanya flora normal dibutuhkan untuk menekan tumbuhan

yang lain itu untuk tidak tumbuh subur. Jika keasaman dalam vagina berubah maka

kuman-kuman lain dengan mudah akan tumbuh sehingga akibatnya bisa terjadi

infeksi yang akhirnya menyebabkan fluor albus, yang berbau, gatal, dan menimbulkan

ketidaknyamanan. Begitu seorang wanita melakukan hubungan seks, maka wanita

tersebut terbuka sekali terhadap kuman-kuman yang berasal dari luar. Karena itu

fluor albus pun bisa didapat dari kuman penyebab penyakit kelamin yang mungkin

dibawa oleh pasangan seks wanita tersebut.


2.7 DIAGNOSIS

Anamnesis

1.Usia

Harus dipikirkan kaitannya dengan pengaruh estrogen. Bayi wanita atau pada wanita

dewasa, keputihan yang terjadi mungkin karena pengaruh estrogen yang tinggi dan

merupakan keputihan yang fisiologis. Wanita dalam usia reproduksi harus dipikirkan

kemungkinan suatu penyakit menular seksual (PMS) dan penyakit infeksi lainnya.

Pada wanita dengan usia yang lebih tua harus dipikirkan kemungkinan terjadinya

keganasan terutama kanker serviks.

2. Metode Kontrasepsi

Yang dipakai pada penggunaan kontrasepsi hormonal dapat meningkatkan sekresi

kelenjar serviks. Keadaan ini dapat diperberat dengan adanya infeksi jamur.

Pemakaian IUD juga dapat menyebabkan infeksi atau iritasi pada serviks yang

meragsang sekresi kelenjar serviks menjadi meningkat.

3.Kontak Seksual

Untuk mengantisipasi keputihan akibat PMS seperti gonorea, kondiloma akuminata,

herpes genitalis, dan sebagainya. Hal yang perlu ditanyakan adalah kontak seksual

terakhir dan dengan siapa dilakukan.

4.Perilaku

Pasien yang tinggal di asrama atau bersama dengan teman-temannya kemungkinan

tertular penyakit infeksi yang menyebabkan terjadinya keputihan cukup besar.

Contoh kebiasaan yang kurang baik adalah tukar menukar peralatan mandi atau

handuk.

5. Menanyakan kepada pasien kemungkinan hamil atau menstruasi. Pada kedua

keadaan ini keputihan yang terjadi biasanya merupakan hal yang fisiologis.
6. Masa Inkubasi

Bila keputihan timbulnya akut dapat diduga akibat infeksi atau pengaruh zat kimia

ataupun pengaruh rangsangan fisik.

7.Sifat Keputihan

Hal yang harus ditanyakan adalah jumlah, bau, warna, dan konsistensinya,

keruh/jernih, ada/tidaknya darah, frekuensinya dan telah berapa lama kejadian

tersebut berlangsung Hal ini perlu ditanyakan secara detail karena dengan

mengetahui hal – hal tersebut dapat diperkirakan kemungkinan etiologinya.

B.PemeriksaanFisik

Pemeriksaan fisik secara umum harus dilakukan untuk mendeteksi adanya

kemungkinan penyakit kronis, infeksi saluran kemih dan infeksi lainnya yang

mungkin berkaitan dengan keputihan. Pemeriksaan yang kusus harus dilakukan

adalah pemeriksaan genitalia yang meliputi : inspeksi dan palpasi genitalia eksterna;

pemeriksaan spekulum untuk melihat vagina dan serviks; pemeriksaan pelvis

bimanual untuk menilai cairan dinding vagina, dalam pemeriksaan hindari

kontaminasi dengan lendir serviks.

C. Pemeriksaan Penunjang

Beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah:

1) Penentuan pH dengan indikator pH (3,0–4,5)

2) Penilaian Sediaan Basah

Penilaian diambil untuk pemeriksaan sediaan basah dengan KOH 10%, dan

pemeriksaan sediaan basah dengan garam fisiologis. Trikomonas vaginalis akan

terlihat jelas dengan garam fisiologis sebagai parasit berbentuk lonjong dengan
flagelanya dan gerakannya yang cepat. Sedangkan kandida albikans dapat dilihat

jelas dengan KOH 10% tampak sel ragi (blastospora) atau hifa semu. Vaginitis

nonspesifik yang disebabkan Gardnerella vaginalis pada sediaan dapat ditemukan

beberapa kelompok basil, lekosit yang tidak seberapa banyak, dan banyak sel-sel

epitel yang sebagian besar permukaannya berbintik-bintik. Sel-sel ini disebut clue

cell yang merupakan ciri khas infeksi Gardnerella vaginalis.

3) Pewarnaan Gram

Neisseria gonorrhea memberikan gambaran adanya gonokokkus intra dan

ekstraseluler. Gardnerella vaginalis memberikan gambaran batang – batang

berukuran kecil gram negatif yang tidak dapat dihitung jumlahnya dan banyak sel

epitel dengan kokobasil, tanpa ditemukan laktobasil.

4) Kultur

Pemeriksaan kultur akan dapat ditemukan kuman penyebab secara pasti, tetapi

seringkali kuman tidak tumbuh sehingga harus hati-hati dalam penafsiran.

5) Pemeriksaan Serologis

Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mendeteksi herpes genitalis dan human

papiloma virus dengan pemeriksaan ELISA.

6) Tes Pap Smear

Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi adanya keganasan pada serviks.

2.8 Penatalaksanaan

A. Preventif

Pencegahan dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:


a. Memakai alat pelindung. Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan

tertularnya penyakit karena hubungan seksual, salah satunya dengan

menggunakan kondom.Kondom dinilai cukup efektif dalam mencegah penularan

PHS.
b. Pemakaian obat atau cara profilaksis. Pemakaian antiseptik cair untuk

membersihkanvagina pada hubungan yang dicurigai menularkan penyakit

kelamin relatif tidak adamanfaatnya jika tidak disertai dengan pengobatan

terhadap mikroorganisme penyebab penyakitnya. Pemakaian obat antibiotik

dengan dosis profilaksis atau dosisyang tidak tepat juga akan merugikan karena

selain kuman tidak terbunuh jugaterdapat kemungkinan kebal terhadap obat jenis

tersebut. Pemakain obatmengandung estriol baik krem maupun obat minum

bermanfaat pada pasienmenopause dengan gejala yang berat.


c. Pemeriksaan dini. Kanker serviks dapat dicegah secara dini dengan

melakukan pemeriksaan pap smear secara berkala. Dengan pemeriksaan pap

smear dapat diamatiadanya perubahan sel-sel normal menjadi kanker yang

terjadi secara berangsur-angsur, bukan secara mendadak.

B. Kuratif

Terapi leukorea harus disesuaikan dengan etiologinya

a. Parasit.
Pada infeksi trikomonas vaginalis diberikan metronidazol 3x250 mg

peroralselama 10 hari. Karena sering timbul rekurens, maka dalam terapi harus

diperhatikanadanya infeksi kronis yang menyertainya, pemakaian kondom dan

pengobatan pasangannya. Selain itu dapat juga digunakan sediaan klotrimazol

1x100 mgintravaginal selama 7 hari.


b. Jamur.
Pada infeksi kandida albikans dapat diberikan mikostatin 10.000 unitintravaginal

selama 14 hari. Untuk mencegah timbulnya residif tablet vaginalmikostatin ini


dapat diberikan seminggu sebelum haid selama beberapa bulan. Obatlainnya

adalah itrakonazol 2x200 mg peroral dosis sehari


c. Bakteri.
1. Untuk gonokokkus dapat diberikan: tetrasiklin 4x250 mg peroral/hari

selama10 hari atau dengan kanamisin dosis 2 gram IM. Obat lainnya

adalahsefalosporin dengan dosis awal 1 gram selanjutnya 2x500 mg/hari

selama 2hari. Sedangkan pada wanita hamil dapat diberikan eritromisin

4x250 mg peroral/hari selama 10 hari atau spektinomisin dosis 4 gram IM.


2. Gardnerella vaginalis dapat diberikan clindamycin 2x300 mg peroral/

hariselama 7 hari. Obat lainnya metronidazole 3x250 mg peroral/hari selama

7hari (untuk pasien dan suaminya).


3. Klamidia trakomatis diberikan tetrasiklin 4x500 mg peroral/hari selama 7

± 10 hari.
4. Treponema pallidum diberikan Benzatin Penisilin G 2,4 juta unit IM

dosistunggal atau Doksisiklin 2x200 mg peroral selama 2 minggu.

d. Virus.

1. Virus Herpes tipe 2: dapat diberikan obat anti virus dan simtomatis

untuk mengurangi rasa nyeri dan gatal, serta pemberian obat topikal larutan

neutralred 1% atau larutan proflavin 0,1%.

2. Human papiloma virus: pemberian vaksinasi mungkin cara pengobatan

yangrasional untuk virus ini, tetapi vaksin ini masih dalam penelitian.

3. Kondiloma akuminata dapat diobati dengan menggunakan suntikan

interferonsuatu pengatur kekebalan. Dapat diberikan obat topikal podofilin 25%

atau podofilotoksin 0,5% di tempat dimana kutil berada. Bila

kondiloma berukuran besar dilakukan kauterisasi.

e. Vaginitis lainnya.

1. Vaginitis atropika.
Pengobatan yang diberikan adalah pemberian kremestrogen dan obat peroral

yaitu stilbestrol 0,5 mg/hari selama 25 hari persiklus atau etinil estradiol

0,01 mg/hari selama 21 hari persiklus.

2. Vaginitis kronis/rekurens.

Perlu diperhatikan semua faktor predisposisitimbulnya keluhan leukorea serta

pengobatan pada pasangannya. Bila padakultur ditemukan hasil positif sebaiknya

diberikan pengobatan sebelummenstruasi selama 3 bulan berturut-turut dengan

clotrimazole 1x100 mgintravaginal selama 5 hari atau ketokonazole 2x200 mg

dimulai hari pertama haid.

3. Vaginitis alergika

Pengobatan pada kasus ini adalah dengan menghindarialergen penyebabnya,

misalnya terhadap tissue, sabun, tampon, pembalutwanita. Pada kasus yang

dicurigai vaginitis alergika tetapi tidak diketahui penyebabnya dapat diberikan

antihistamin.

4. Vaginitis psikosomatis

Untuk mengobati pasien ini perlu pendekatan psikologis bahwa ia sebenarnya

tidak menderita kelainan yang berarti dan haltersebut timbul akibat konflik

emosional. Pendekatan yang memandang pasien sebagai manusia seutuhnya yang

tidak terlepas dari lingkungannyaharus dipikirkan

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Leukorrhea atau keputihan merupakan cairan bukan darah yang keluar berlebihan dari

vagina. Leukorrhea merupakan suatu gejala yang timbul. Leukorrhea harus dibedakan antara

yang fisiologis atau patologis. Leukorrhea patologis paling banyak disebabkan oleh infeksi,

selain itu juga dapat disebabkan oleh kelainan kongenital, benda asing, menopause, kanker,

penyakit diabetes melitus, kehamilan dan penggunaan obat-obatam (antibiotik,

kortikosteroid).

Penegakkan diagnosis harus melalui beberapa tahap. Dalam anamnesis harus

terungkap apakah leukorrhea ini patologis atau fisiologis. Dalam pemeriksaan fisik harus

dapat diketahui sifat cairan, kemungkinan benda asing, ulkus dan neoplasma. Pemeriksaan

penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan dengan mikroskop, pH, Pap Smear,

kultus dan tes resistensi. Pengolaan leukorrhea harus tuntas, selain terapi pada penderita

pasangan seksual juga harus diperiksa karena penyebab terbesar infeksi adalah karena

hubungan seksual.