Anda di halaman 1dari 99

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA MASALAH UTAMA GANGGUAN
PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN PADA Tn. H
DENGAN DIAGNOSA MEDIS SKIZOFRENIA DI RUANG JIWA B
RUMKITAL Dr. RAMELAN
SURABAYA

Oleh :
AYRDHENA REZA SETIYA CITRA
NIM. 142.0014

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWARATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2017

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA MASALAH UTAMA GANGGUAN
PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN PADA Tn. H
DENGAN DIAGNOSA MEDIS SKIZOFRENIA DI RUANG JIWA B
RUMKITAL Dr. RAMELAN
SURABAYA

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan

Oleh :
AYRDHENA REZA SETIYA CITRA
NIM. 142.0014

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWARATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2017

1

SURAT PERNYATAAN

Saya bertanda tangan dibawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa

karya tulis ini saya susun tanpa melakukan plagiat sesuai dengan peraturan yang

berlaku di Stikes Hang Tuah Surabaya.

Jika kemudian hari ternyata saya melakukan tindakan plagiat saya akan

bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Stikes

Hang Tuah Surabaya.

Surabaya, 20 Juni 2017

2

selaku penguji mahasiswa : Nama : AYRDHENA REZA SETIYA CITRA NIM : 142.0014 Program Studi : D III Keperawatan Judul : Asuhan Keperawatan Jiwa Masalah Utama Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi pendengaran Pada Tn. H Dengan Diagnosa Medis Skizofrenia Di Ruang Jiwa B Rumkital Dr. maka kami menganggap dan dapat menyetujui bahwa karya tulis ini diajukan sidang guna memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar: AHLI MADYA KEPERAWATAN (AMd. HALAMAN PERSETUJUAN Setelah kami periksa dan amati. Ramelan Surabaya Serta perbaikan-perbaikan sepenuhnya. 20 Juni 2017 Ditetapkan di : STIKES Hang Tuah Surabaya Tanggal : 20 Juni 2017 3 . Kep ) Surabaya.

HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah dari:

Nama : AYRDHENA REZA SETIYA CITRA
Nim. : 142.0014
Program Studi : DIII Keperawatan
Judul KTI :Asuhan Keperawatan Jiwa Masalah Utama Gangguan
Persepsi sensori:Halusinasi pendengaran pada Tn. H
Dengan Diagnosa Medis Skizofrenia Di Ruang Jiwa
B Rumkital Dr. Ramelan Surabaya
Telah dipertahankan dihadapan dewan Sidang Karya Tulis Ilmiah Stikes Hang Tuah
Surabaya, pada:
Hari, tanggal : Selasa, 20 Juni 2017
Bertempat di : Stikes Hang Tuah Surabaya
Dan dinyatakan LULUS dan dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar AHLI MADYA KEPERAWATAN pada Prodi D-III

4

Motto dan Persembahan:
MOTTO:

Selalu jadi diri sendiri tidak peduli apa yang mereka katakan dan

jangan pernah menjadi orang lain meskipun mereka tampak lebih baik

dari Anda.

Kupersembahkan karya pertama saya untuk :

1. Orang tua saya ( Bapak Bambang setiyo Utomo dan ibu Herni pamudji )

tersayang yang selalu mendukung, mendoakan, serta menyemangati saya

dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

2. Adik (Raykhan satya jenar dan vino) yang selalu mendukung dan

memberikan semangat kepada saya selama ini.

3. Keluarga besar saya yang selalu mendukung, memberikan support, dan yang

selalu mendoakan saya agar cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan yang

sesuai.

4. Sahabat saya seperjuangan (Laili dan Datin) yang telah berjuang bersama-

sama dalam segala hal baik suka maupun duka. Dan memberikan support

selama ini.

5. Seseorang yang selalu mendukung, memberi Support dan selalu mendoakan

saya untuk sukes dalam mengerjakan karya tulis ilmah ini

5

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan

hidayah-Nya pada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini

sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Karya tulis ini disusun sebagai salah satu syarat dapat menyelesaikan

program Ahli madya Keperawatan.

Penulis menyadari bahwa keberhasilan dan kelancaran karya tulis bukan

hanya karena kemampuan penulis, tetapi banyak ditentukan oleh bantuan dari

berbagai pihak, yang telah dengan ikhlas membantu penulis demi terselesainya

penulis, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan

penghargaan yang sebesar- besarnya kepada:

1. Laksamana pertama TNI dr I.D.G.Nalendra D.I.Sp.B.,Sp.BTKV selaku Kepala

Rumkital Dr. Ramelan Surabaya, yang telah memberikan ijin dan lahan praktik

untuk menyusun karya tulis dan selama kami berada di Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Hang Tuah Surabaya.

2. Ibu Wiwiek Liestyaningrum.,M.Kep. selaku Ketua Stikes Hang Tuah Surabaya

yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk praktik di Rumkital Dr.

Ramelan Surabaya dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Hang Tuah Surabaya.

3. Ibu Dya Sustrami.,S.Kep.,Ns.,M.Kes. selaku Kepala Program Studi D-III

Keperawatan yang selalu memberikan dorongan penuh dengan wawasan

dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

6

Selaku pembimbing dan Penguji II. M. selaku Pembimbing dan penguji I. yang dengan sabar dan tulus telah memberikan arahan. 8. Bapak Shofa Chasani. S. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis hanya bisa berdo’a semoga Allah SWT membalas amal baik semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian karya tulis ilmiah ini. yang dengan tulus ikhlas telah bersedia meluangkan waktu. Ibu Lela Nurlela. Sahabat-sahabat seperjuangan tersayang dalam naungan Stikes Hang Tuah Surabaya yang telah memberikan dorongan semangat sehingga karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan. yang telah memberikan bekal bagi penulis melalui materi-materi kuliah yang telah penuh nilai dan makna dalam penyempurnaan penulisan karya tulis ilmiah ini.4. Bapak dan Ibu Dosen Stikes Hang Tuah Surabaya. 7..Kes. 6.Kep. 5. tenaga dan pikiran serta perhatian memberikan semangat dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. juga kepada seluruh tenaga administrasi yang tulus ikhlas melayani keperluan penulis selama menjalani studi dan penulisnya. terima kasih atas bantuannya. Ns. motivasi dan semangat demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini. S..Kp. 7 .

semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membaca terutama bagi Civitas Stikes Hang Tuah Surabaya. Maka dari itu saran dan kritik yang konstruktif senatiasa penulis harapkan. 20 Juni 2017 Ayrdhena reza s. Selanjutnya. penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Surabaya. Akhirnya penulis berharap.c 8 .

.......................................................................................5 Klasifikasi..3 Tujuan Penelitian ..................................................................4.....................................................................7 Pengobatan ..2 Jenis halusinasi ……………………..............4 Rentang respon Neurologi ……………………………………………......36 2...................1.......................................ix DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………..........2 Rumusan Masalah ..................1.....................................................2.......................1..2 ManfaatPraktis ............................ DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN DALAM…………………………………………………………..................................................................................2............................20 2........................... 23 2........28 2...........4 Manfaat Penelitian......................1 Pengertian……………………….12 2..........i HALAMAN PERNYATAAN............................................................................7 Penatalaksanaan…………………………………………………………...2.....8 2.........................................................1 Latar Belakang ................................................3...................................3 Tanda dan Gejala .......................................2 Tujuan Khusus..............................................................................................1......1...........3.....................................................1 Pengkajian..............2......................2 Masalah keperawatan...........3...................................18 2..................................xi BAB 1 PENDAHULUAN 1........................................................1 Tujuan Umum .....4..19 2................vii DAFTAR TABEL…………………………………………………………….............1...................................6 Tahapan ………………………………………………………………… 26 2.....................iv KATA PENGANTAR ...............ii HALAMAN PERSETUJUAN .......................................2.....19 2...........................................................................................................................4 Macam-macam Skizofrenia ..........................................................................1................................x DAFTAR SINGKATAN ………………………………................................37 vii ........5 1...............................................6 Diagnosa Banding ....28 2...........1 Konsep Dasar Skizofrenia ................................2 Konsep teori halusinasi .........................1 Pngertian skizofrenia .....3............................................4 1....................4 Implementasi......................35 2..8 2.....................................................................16 2....................................................viii DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………….4 1.....3...................2.......5 Evaluasi .............................................................................................................................................2 Etiologi .......34 2..........4 1....5 1....v DAFTAR ISI ...3 Diagnosa keperawatan................................................8 2...........10 2..............................3 Asuhan Keperawatan........1 1..........................................................28 2............3 Tanda dan gejala ……………………………………………………… 21 2................1 ManfaatTeoritis ........................3.........2....................8 Strategi perawat komunikasi ................................................................................3 1...................................................................3......17 2...13 2.....................................5 Batasan karakteristik …………………………………………………… 25 2.............iii HALAMAN PENGESAHAN ..........1...5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.......................................................................................

....................47 3.........2 Diagnosa Keperawatan..............8 mekanisme koping ....38 3................................................82 viii .1...............................68 BAB 5 KESIMPULAN 5......2 Saran ......................................................................11 Data lain-lain...........................................1.....................................4 tindakan keperawatan........3 Pohon Masalah ..............7 kebutuhan pulang .........................................................................................................................................................1 Pengkajian ....40 3............73 LAMPIRAN.................................46 3...................1 Kesimpulan ...............................1.......61 4............................................................................................1............................1......................2 faktor predisposisi .............................5 Evaluasi .......13 Daftar masalah ..........................................................49 3...........59 4............................14 Daftar diagnosis keperawatan ..2 Analisa data ......1 Pengkajian ...................BAB 3 TINJAUAN KASUS 3..............................................................1..............6 status mental …………...............3 Rencana Keperawatan.....................65 4...........47 3...............................70 5......................................48 3..............47 3....5 Rencana Keperawatan ............39 3....................................................1.........................................................................................6 Implementasi ................42 3.................49 3................................................................................................................10 pengetahuan ..50 3.................50 3..........................1...................................................................................4 Prioritas Masalah....................................................................................................4 Pemeriksaan Fisik ..........9 masalah psikososial..........47 3...12 Aspek medik ..................40 3..........................................................................48 3...........................................................................................................................1..............................................................................................................49 3..52 BAB 4 PEMBAHASAN 4..........................................................................................72 DAFTAR PUSTAKA ............................................5 Genogram ...................................................................................................................1......................................................................................................................................................1...........................38 3.................64 4...............................1 alasan masuk .........................................1.......................1.............................................

.................... 12 Tabel 2................................ 55 ix ..................................................................................3 Implementasi dan Evaluasi ......................1 SP Pasien dan SP Keluarga.....................51 Tabel 3.........1 Tabel Etiologi............. 34 Tabel 3.................. 54 Tabel 4................................. DAFTAR TABEL Tabel 2..........................................2 SP Pasien dan SP Keluarga .......................................1 Analisa Data .........................2 Rencana Asuhan Keperawatan.......... 49 Tabel 3.......................................................................

......... 34 3..................................... 50 x .......1 Rentan Respon Neurobiology ...........2 Pohon masalah halusinasi ........................................................................2 Pohon Masalah ............................................................. 40 3.............................................. DAFTAR GAMBAR 2.......1 Genogram Pasien ........................ 23 2.............................................

ADL : Activity Daily Living 15. WHO : World Health Organization 2. SOAP : Subject. N : Nadi 9. S : Suhu 10. PPGDJ: Pedoman penggolongan diagnosis gangguan jiwa 4. SP : Strategi Pelaksanaan xi . Kg : Kilogram 14. BAB : Buang Air Besar 5. Tn : Tuan 3. Cm : centimeter 13. BB : Berat Badan 12. planing 7. DS : Data Subyektif 17. DO : Data Obyektif 18. TB : Tinggi Badan 11. assesment. DAFTAR SINGKATAN 1. BAK : Buang Air Kecil 6. TD : Tekanan Darah 8. Mg : Miligram 16. Object.

..........................................................80 xii ............................................................................................77 Lampiran 3 ............................................ DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 .............74 Lampiran 2 ...................................................................................................

Salah satu halusinasi yang paling sering dijumpai yaitu halusinasi pendengaran. seperti skizofrenia mencapai sekitar 400. Di Indonesia. dengan berbagai faktor biologis.33 %). Gangguan persepsi sensori (halusinasi) merupakan salah satu masalah keperawatan yang dapat di temukan pada pasien gangguan jiwa. perabaan atau penghiduan tanpa stimulus yang nyata (Keliat dkk.1 Latar Belakang Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia. penglihatan. pengecapan.7 per 1000 penduduk. 2007). 1 . Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat. BAB I PENDAHULUAN 1. Pasien merasakan sensasi berupa suara. termasuk di Indonesia.000 orang atau sebanyak 1. Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depesi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. psikologis dan sosial dengan keanekaragaman penduduk. terdapat 57 pasien dengan skizofrenia dan terdapat 19 pasien dengan gangguan halusinasi (33. Menurut data WHO (2016). Dari data yang didapatkan di Ruang jiwa B Rumkital Surabaya mulai maret sampai bulan mei 2017. maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban Negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang.

ketakutan. hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stress. dan bingung. sedangkan pada dimensi spiritual klien mengalami kehampaan dalam hidupnya serta rutinitas yang tidak bermakna sehingga aktivitas ibadah hilang dan jarang berupaya secara spiritual untuk mensucikan diri. kurang perhatian. 2014) . Sedangkan faktor genetik dan pola asuh penelitian menunjuk bahwa anak sehat yang diasuh oleh orangtua skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Penderita halusinasi jika tidak ditangani dengan baik akan berakibat buruk bagi pasien sendiri. tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. perasaan tidak aman. berupa isi halusinasi. situasi yang menyebabkan halusinasi muncul serta respon klien jika halusinasinya . perilaku merusak diri. Adanya setres yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti buffofenon dan dimetytranferase (DMP). mudah frustasi. Pada faktor predisposisi bisa juga dikarenakan faktor perkembangan yang dimaksud adalah tugas perkembangan klien misalnya rendahnya kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil. orang lain dan lingkungan (Yosep. gelisah. frekuensi terjadinya halusinasi. keluarga. Pada penanganan pasien dengan halusinasi perawat bisa memberikan strategi keperawatan yaitu dengan membantu klien mengenal halusinasinya. Pada faktor presipitasi adanya faktor perilaku yaitu respons klien terhadap halusinasi berupa curiga. Pada dimensi sosial penderita mengalami gangguan interaksi sosial klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi di alam nyata sangat berbahaya. 2 Penyebab adanya halusinasi ada dua yaitu karena faktor predisposisi dan faktor presipitasi. waktu terjadinya halusinasi.

2. Ramelan Surabaya” 1. mengontrol halusinasi dengan cara menghardik selain itu bisa juga dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Mengkaji asuhan keperawatan jiwa masalah utama gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran pada Tn H dengan diagnosa skozofrenia di ruang jiwa B Rumkital Dr. .2 Tujuan Penelitian 1.1 Rumusan Masalah “Bagaimana asuhan keperawatan jiwa masalah utama gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran pada Tn H dengan diagnosa skozofrenia di ruang jiwa B Rumkital Dr. minum obat secara teratur dapat mengontrol halusinasinya selain cara mengalami halusinasi sangatlah penting karena dengan dukungan keluarga kepercayaan diri klien bisa kembali dan klien bisa termotivasi untuk sembuh.2 Tujuan Khusus 1. 1. 1. 2009). Ramelan Surabaya.1 Tujuan Umum Mahasiswa mampu mengidentifikasi asuhan keperawatan jiwa masalah utama gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran pada Tn H dengan diagnosa medis skizofrenia di ruang jiwa B Rumkital Dr. Ramelan Surabaya. Ramelan Surabaya.3. (Keliat. 3 muncul. melakukan aktifitas yang terjadwal bisa juga mengurangi resiko halusinasi muncul lagi. Merumuskan diagnosa keperawatan dengan masalah utama gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran pada Tn H dengan diagnosa skozofrenia di ruang jiwa B Rumkital Dr.3.

2 Secara praktis. Ramelan Surabaya. 1. 5.1 Akademis Hasil studi kasus ini merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam asuhan keperawatan jiwa dengan masalah keperawatan gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran. tugas akhir ini akan bermanfaat bagi 1. Ramelan Surabaya. 4. Ramelan Surabaya. 6.2 Manfaat Terkait dengan tujuan maka tugas akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat : 1. Mengevaluasi pasien dengan masalah utama gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran pada Tn H dengan diagnose skozofrenia di ruang jiwa B Rumkital Dr. 4 3.4. 1. Merencanakan asuhan asuhan keperawatan jiwa masalah utama gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran pada Tn H dengan diagnosa skozofrenia di ruang jiwa B Rumkital Dr. Bagi pelayanan keperawatan di rumah sakit .4. Melaksanakan asuhan asuhan keperawatan jiwa masalah utama gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran pada Tn H dengan diagnosa skozofrenia di ruang jiwa B Rumkital Dr. Mendokumentasikan asuhan asuhan keperawatan jiwa masalah utama gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran pada Tn H dengan diagnose skozofrenia di ruang jiwa B Rumkital Dr. Ramelan Surabaya.

3.4 Metode Penulisan 1. . perencanaan. Metode Metode deskriptif yaitu metode yang sifatnya mengungkapkan peristiwa atau gejala yang terjadi pada waktu sekarang yang meliputi studi kepustakaan yang mempelajari mengumpulkan. wawancara Data diambil atau diperoleh melalui percakapan baik dengan pasien. diagnosa. keluarga maupun tim kesehatan lain. membahas data dengan studi pendekatan proses keperawatan dengan langkah-langkah pengkajian. yang akan melakukan studi kasus asuhan keperawatan pada pasien Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran. 5 Hasil karya tulis ilmiah ini. dapat menjadi masukan bagi pelayanan di rumah sakit agar dapat melakukan asuhan pasien Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran dengan baik. 2. dan evaluasi. Bagi profesi kesehatan Sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang asuhan keperawatan jiwa pada pasien Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran. 1. Bagi penulis Hasil karya tulis ilmiah ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi peneliti berikutnya. Teknik Pengumpulan Data a. 2.

catatan medik perawat. reaksi. manfaat penelitian dan sistematika penulisan studi kasus. Observasi Data yang diambil melalui pemeriksaan secara langsung terhadap keadaan. Data Primer Adalah data yang diperoleh dari pasien. 3. pengesahan. Data Sekunder Adalah data yang diperoleh dari keluarga atau orang terdekat pasien. tujuan penelitian. 1. yang masing-masing bab terdiri dari sub bab berikut ini : BAB 1 : Berisi tentang latar belakang masalah. Bagian awal. Bagian inti. Studi Kepustakaan Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul studi kasus dan masalah yang dibahas. daftar isi.6 Sistematika Penulisan Supaya lebih jelas dan mudah dalam mempelajari dan memahami studi kasus dan masalah yang dibahas . sikap dan perilaku pasien yang diamati. rumusan masalah. 2. . daftar gambar dan lampiran. hasil-hasil pemeriksaan dan tim kesehatan lain. c. memuat halaman judul. daftar label. 6 b. kata pengantar.secara keseluruhan dibagi menjadi tiga bagian yaitu : 1. Sumber Data a. persetujuan pembimbing. terdiri dari lima bab. b. motto dan persembahan.

saran. terdiri dari daftar pustaka dan lampiran. 7 BAB 2 : Tinjauan pustaka. berisi tentang kesimpulan dan saran dari hasil penulisan. diagnosa. BAB 5 : Kesimpulan. berisi tentang konsep penyakit dari sudut medis dan asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah utama gangguan persepsi sensori :Halusinasi pendengaran. BAB 4 : Pembahasan berisi tentang perbandingan antara teori dengan kenyataan yang ada di lapangan. pelaksanaan dan evaluasi. BAB 3 : Tinjauan kasus berisi tentang diskripsi data hasil pengkajian. 3. . perencanaan. Bagian akhir.

dan perilaku.1 Pengertian Menurut faisal (2008). dan perilaku.2 Etiologi SKIZOFRENIA 1. Kelompok teori SOMATOGENIK. ( Marni. Dalam artian apa yang dilakukan tidak sesuai dengan pikiran dan perasaannya.1. 2015). pikiran. 2. gangguan persepsi terhadap realitas yang dimanifestasikan dengan halusinasi dan waham. Kelompok teori PSIKOGENIK. Secara spesifik skizofrenia adalah orang yang mengalami gangguan emosi. Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang berat dan banyak terdapat di masyarakat.1. ( Ayub Sani Ibrahim. 8 . Gangguan jiwa ini dapat dialami manusia sejak usia muda dan dapat berlanjut menjadi kronis. penyakit Skizofrenia atau Schizophrenia artinya kepribadian yang terpecah. yaitu teori yang mencari penyebab skizofrenia dalam kelainan badaniah.dimana skizofrenia dianggap suatu gangguan fungsional dan sebagai penyebab utamanya adalah konflik. Skizofrenia merupakan gangguan psikiatrik yang ditandai dengan disorganisasi pola pikir yang signifikan dan dimanifestasikan dengan masalah komunikasi dan kognisi. 2011). 2. perasaan. dan terkadang penurunan fungsi yang signifikan. antara pikiran.1 Konsep Skizofrenia 2. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dibahas tentang konsep teori sebagai landasan dalam karya tulis ilmiah yang meliputi : 1) konsep dasar skizofrenia. 2) konsep dasar halusinasi 3) konsep dasar asuhan keperawatan halusinasi 2. stress psikologik dan hubungan antar manusia yang mengecewakan.

konsep struktur kepribadian manusia terdiri dari Id.Konflik .Hubungan antar manusia yang mengecewakan Terdapat dua teori yaitu dari : o Teori ADOLF MEYER Teori mengatakan bahwa skizofrenia merupakan reaksi yang salah atau suatu maladaptasi. Khusus mengenai skizofrenia.Metabolisme . Ego. Oleh karena itu timbul satu disorganisasi kepribadian sehingga lama-kelamaan orang itu menjauhkan diri dari kenyataan(autisme).Keturunan . 2.Endokrin . o Teori SIGMUND FREUD Menurut Freud. Kelemahan ego yang disebabkan oleh faktor-faktor psikogenik ataupun somatic dapat menimbulkan skizofrenia.Susunan saraf pusat  Termasuk dalam kelompok penyebab PSIKOGENIK .tidak ada dasar organik .Gangguan fungsional. dan superego.Stres psikogenik . Super ego dikesampingkan sehingga Id yang berkuasa serta terjadi regresi ke fase narsisme( pleasure principal meningkat dan reality . Freud berpendapat bahwa: 1. 9  Termasuk kelompok SOMATOGENIK .

o Gangguan pikiran formal positif Yang paling sering ditemukan adalah pelanggaran asosiasi yaitu ide- ide berpindah dari subjek lainnya dan sama sekali tidak ada hubungannya atau hubungannya sama sekali tidak tepat dan hal ini tidak disadari oleh yang bersangkutan. katalepsi kaku atau lunak dan sikap tubuh yang aneh. perilaku stereotipik. Halusinasi yang paling sering terdapat adalah halusinasi auditorik(pendengaran) dapat dalam bentuk suara manusia. Kelompok sosiogenik mengatakan bahwa timbulnya skizofrenia dipengaruhi oleh faktor kemiskinan dan beban psikososial yang berat. bunyi barang-barang atau siulan. 10 principle menurun) dimana dorongan ingin dipuaskan dengan segera tanpa memperlihatkan realitas yang ada.3 Tanda dan Gejala skizofrenia 1. o Waham Waham yang sering tidak logis dan aneh (bizzar). kepatuhan yang otomotik. o Perilaku aneh Perilaku aneh yang dikelompokkan pada skizofrenia antara lain mannerism. 2.1. . ekhopraxia. negativism. Gejala positif pada skizofrenia o Halusinasi Halusinasi yang timbul pada penderita skizofrenia tanpa adanya penuruna kesadaran dan keadaan yang sedemikian merupakan gejala yang hampir tidak dijumpai pada keadaan atau penyakit lain.

Banyak penderita skizofrenia menarik diri dari kehidupan sosial dan bersikap egosentris dengan berkurangnya pembicaraan spontan atau gerakan dan tidak adanya tingkah laku yang bertujuan. o Non Responsivitas Afektif Penderita skizofrenia dengan pendataran afektif tampak kaku dalam penggambaran respon wajahnya. Perilaku tersebut digambarkan sebagai kekanak-kanakan atau bodoh. 11 2. merupakan spontanitas gerak. . o Kontak mata yang minim Pada penderita skizofrenia terutama pada tipe hebefrenik seringai- seringai wajah sangat khas disertai kontak mata yang minim. kepatuhan secara otomatis dan fleksibilitas seperti lilin. o Hilangnya gerakan ekspresif Pendataran afektif menimbulkan gambaran yang khas pada penderita skizofrenia. yang terlihat dalam bentuk kurangnya respon gerakan. termasuk gerakan-gerakan yang kurang luwes atau kaku. Gejala negatif skizofrenia o Ekspresi wajah tidak berubah Gejala-gejala seperti mutisme (Hambatan abnormal/kesukaran bersuara). dalam bentuk tampak seolah-olah kekakuan(kurang morbiditas). o Penurunan spontanitas gerak. o Afek yang tidak sesuai Bahwa yang dipikirkan dan dilakukan tidak sesuai dengan suara hati yang sedang disandangnya.

lagu suara dikatakan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya dan hati yang sedang disandangnya. gejala utama pada jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Pada saat pembicaraan. c) Skizofrenia katatonik Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun san biasanya akut serta sering di dahului oleh stress emosional. mungkin terjadi gaduh gelisah katatanik/stupor katatonik. intonasi tampak monoton. 2. Pada stupor katatonik penderita tidak menunjukkan perhatian sama sekali terhadap lingkungannya.4 Macam –Macam skizofrenia Pembagian skizofrenia yang dikutip dari maramis(2005) antara lain: a) Skizofrenia simplex Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. . waham dan halusinasi banyak sekali. b) Skizofrenia bebefrenik Permulaannya perlahan-lahan/sub akut dan sering timbul pada masa remaja/antara 15-25 tahun gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir. gangguan proses berfikir sukar ditemukan. emosinya juga sangat dangkal.1.gangguan kemauan dan adanya bebefrenik. 12 o Tidak ada lagu suara. Sedangkan pada gaduh gelisah katatonik terdapat hiperaktivitas motorik tetapi tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan oleh rangsangan dari luar.

1. Gejala negatif terdiri dari kelambatan psikomotor. kadang-kadang satu idea belum selesai diutarakan. gejala-gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi dua kelompok. b. pasif dan tidak ada inisiatif. Keadaan ini dinamakan “ Blocking “ biasanya berlangsung beberapa detik saja. serta buruknya perawatan diri dan fungsi sosial. penurunan aktivitas. e) Skizofrenia Residual Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia denga riwayat sedikitnya suatu episode psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang kearah gejala negative yang lebih menonjol.disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. kemiskinan pembicaraan ekspresi nonverbal yang menurun. sudah timbul idea lain. Gejala primer a. tidak timbul idea lagi. Gangguan proses pikiran(bentuk.5 Kriteria dan klasifikasi skizofrenia Sementara itu menurut bleuler yang dikutip dari Maramis (2005). 2.langkah dan isi pikiran) Pada skizofrenia inti gangguan memang terdapat pada proses pikiran yang terganggu terutama ialah asosiasi. Seseorang dengan skizofrenia juga mempunyai kecenderungan untuk menyamanakan hal-hal. penumpulan afek. 13 d) Skizofrenia paranoid Merupakan gejala yang agak berlainan dengan jenis –jenis yang lain dalam jalannya penyakit dan berjalan constant. kadang –kadang pikiran seakan-akan berhenti.yaitu : 1. Gejala lainnya yang mencolok yaitu waham primer . tetapi kadang-kadang sampai beberapa hari. Gangguan efek dan emosi Gangguan ini pada skizofrenia mungkin berupa : .

maka dua hal yang berlawanan mungkin terdapat bersama-sama. 4. Parathimi : apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira. pada penderita timbul rasa sedih atau marah. 2. . seumpamanya mencintai dan membenci satu orang yang sama atau menangis dan tertawa tentang suatu hal yang sama ini dinamakan ambivalensi pada efek. sehingga kelihatan seperti dibuat-buat seperti sedang bermain sandiwara. Yang penting juga pada skizofrenia ialah hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik(emotionalrapport). misalnya sesudah membunuh anaknya penderita menangis berhari-hari mulutnya tertawa. Kadang-kadang emosi dan efek serta ekspresinya tidak mempunyai kesatuan. Kedangkalan efek dan emosi (emotional blunting). Paramimi: penderita merasa senang dan gembira. akan tetapi menangis. 14 1. 3. Karena terpecah belahnya kepribadian. Emosi yang berlebihan.

Gejala sekunder a. Halusinasi Pada skizofrenia. tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan. Paling sering pada skizofrenia ialah halusinasi cita rasa (gustatorik) atau halusinasi singgungan (Taktik). d. b. dapat diikuti dan merupakan cara bagi penderita untuk menerangkan gejala-gejala skizofrenia lain. 15 c. Gangguan kemauan Banyak penderita dengan skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan mereka tidak dapat mengambil keputusan. meskipun alasan itu tidak jelas atau tepat atau mereka menganggap hal itu biasa saja dan tidak perlu diterangkan. Halusinasi penglihatan agak jarang pada skizofrenia lebih sering pada psikosa akut yang berhubungan dengan sindroma otak organik. Waham Pada skizofrenia waham sering tidak logis sama sekali dan sangat bizar Mayer –gross membagi waham dalam 2 kelompok: Waham primer timbul secara tidak logis kedengarannya. Gejala psikomotor Gejala ini juga dinamakan gejala-gejala katatonik atau gangguan perbuatan kelompok gejala ini oleh Bleuker dimasukkan kedalam kelompok gejala skizofrenia yang sekunder sebab didapat juga pada penyakit lain. halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran dan hal ini merupakan suatu gejala yang hampir tidak dijumpai pada keadaan lain. Mereka selalu memberikan alasan. . 2.

kepribadiannya utuh dan relative berfungsi baik. gambarannya sangat mirip dengan gejala skizofrenia Walaupun satu fase aktif skizofrenia dapat dimulai dengan kebingungan. adanya disorientasi atau gangguan daya ingat memberi petunjuk kuat bahwa gangguan tersebut adalah gangguan mental organic. Gangguan skizoafektif Gejala mood ( alam perasaan) muncul serempak pada skizofrenia. tetapi lamanya kurang dari enam bulan. . inkoherensi. halusinasi.6 Diagnosis Banding Diagnosis banding skizofrenia : 1. dan efek yang tumpul atau tidak serasi. 3. Sindrom Waham Organik akibat amfetamin atau feksiklidin. Psikosis reaksi singkat Gejala berlangsung kurang dari 1 bulan sebagai akibat stress psikososial. Gangguan Delusional Delusi yang sistematis. 2.tanpa halusinasi mencolok ataupun gejala skizofrenia lain. 5. Gangguan Mental Organik Seringkali menunjukkan gejala yang menyerupai skizofrenia. 16 2. 4.1. tetapi delusi dan halusinasi harus terdapat selama tanpa gejala mood (alam perasaan mencolok selama fase tertentu) penyakit itu. Gangguan Skizofreniform Gejala mungkin identik dengan skizofrenia. Deteriorasi lebih ringan dan prognosis lebih baik. 6. Gangguan Afektif berat Pada Afektif berat. perkembangan waham atau halusinasi timbul sesudah suatu periode gangguan afektif.misalnya didapatkan waham.

yaitu: a. 9. 8. 2. Gangguan Kepribadian. Tingkat ditemukan tanda psikotik yang mencolok dan terdapat fungsi bertingkat rendah dan konstan yang tidak bersifat deteriorasi. maka diagnosis dapat dibuat serentak. Retardasi Mental Menunjukkan gangguan intelek perilaku dan suasana perasaan yang mirip skizofrenia. Psikofarmaka Obat antipsikotik yang beredar dipasaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu antipsikotik generasi pertama dan apsikotik generasi kedua.7 Pengobatan Menurut Luana (2007) pengobatan skizofrenia terdiri dari dua macam. Bila hal ini berlaku atau diterima kalangan tersebut. Gangguan Obsesif Kompulsif Hipokondriasis. hendaknya keadaan itu tidak dinyatakan sebagai bukti terdapatnya gangguan psikosis.Fobia Hipokondriasis lebih jarang lagi gangguan fobik sering mempunyai ide berlebihan sehingga gejalanya sukar dibedakan dengan waham. Umumnya tanpa gejala psikotik dan jika ada. 11. Gangguan perkembangan Pervasif Diagnosis ini dibuat jika muncul diantara usia 30 bulan dan 12 tahun. jika terdapat skizofrenia. 10. cenderung berlangsung transien (sementara) dan tidak mencolok. 17 7. nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian . APG 1 bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik. Kepercayaan atau penghayatan dari kelompok agama atau tradisi atau kebudayaan tertentu.1. mesokortikal. Sulit dibedakan dari halusinasi atau waham.

2. hipoaktif. Beri pertnyaan langsung jika menginginkan informasi.8 Strategi Komunikasi Perawat Menurut Linda Carman (2007) perawat perlu memiliki strategi komunikasi dalam menghadapi pasien dengan skizofrenia. Bersikap netral ketika klien menolak kontak. 2. fluhenazine. Beri pertanyaan terbuka ketika memandu klien melalui suatu pengalaman. Catat dan beri komentar kepada klien tentang perubahan yang halus dalam ekspresi perasaan. seperti mempertahankan kontak mata. membantah . menarik diri.antara lain: 1. senyum. Jangan menghakimi. gunakan metode non verbal. Berfokus pada apa yang sedang terjadi disini saat ini. peningkatan berat badan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Setelah hubungan terbina. 3. perawat diperbolehkan menyentuh klien dengan syarat klien siap dengan kehadiran perawat. haloperidol dan pimozide. atau menggunakan ekspresi positif. 18 lama dapat memberikan efek samping berupa gangguan ekstrapiramidal. Pada awalnya. 7. 5.1. Minta klarifikasi jika klien berbicara secara umum tentang : mereka: . dengan kalimat sederhana selama interaksi yang singkat dan sering. 6. obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis. waham dan halusinasi. 4. atau menggunakan logika untuk menunjukkan kekeliruan. 8. APG 1 dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg diantaranya adalah trifluoperazine. Bicara singkat. dan bicarakan tentang aktivitas yang didasarkan pada kenyataan.

1997) dalam Damaiyanti (2015).2005).2 Konsep Teori 2. 10. ( Marni. ( Marni. 2015). . tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan. Jika perlu.2. sampaikan penerimaan pada klien meskipun beberapa pikiran dan persepsi klien yang tidak dipahami oleh orang lain. Halusinasi adalah penginderaan tanpa rangsangan eksternal yang berhubungan dengan salah satu jenis indera tertentu yang khas (Kaplan dan saddaock. Jika perlu. Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptive individu yang berada dalam rentang neuro biologi (Stuart dan laraia. Klien tidak mampu memberi respon secara akurat . Salah satu bentuk perilaku yang berhubungan dengan gangguan orientasi adalah halusinasi.1 Pengertian Gangguan orientasi realiti adalah ketidakmampuan klien menilai dan merespon pada realitis. identifikasi apa yang tidak dipahami perawat tanpa menyangkal klien. 2.sehingga tampak perilaku yang sukar dimengerti dan mungkin menakutkan. Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata artinya klien menginterpretasikan sesuatu yang tanpa stimulus (rangsangan) dari luar.2000). Halusinasi adalah gerakan penyerapan(persepsi) panca indera tanpa ada rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem panca indera terjadi pada saat kesadaran individu penuh /baik (Depkes.klien tidak bisa membedakan rangsangan internal dan eksternal. 19 9. 2015).

c. Penderita merasa mengecap sesuatu. Halusinasi penciuman (Olfaktorik) Halusinasi ini biasanya berupa mencium sesuatu bau tertentu dan dirasakan tidak enak. Optik) Lebih sering terjadi pada keadaan delirium(penyakit organik).2 jenis-jenis halusinasi Menurut Yosep (2007) halusinasi terdiri dari delapan jenis. Biasanya suara tersebut ditujukan pada penderita sehingga tidak jarang penderita bertengkar dan berdebat dengan suara-suara tersebut. biasanya bersamaan dengan halusinasi penciuman. e. 20 2. Biasanya sering muncul bersamaan dengan penurunan kesadaran. melambangkan rasa bersalah pada penderita.2. d. Halusinasi gastorik lebih jarang dari halusinasi gusatorik.penjelasan secara detail mengenai karakteristik dari setiap jenis halusinasi adalah sebagai berikut: a. Halusinasi perabaan (faktil) . Bau dilambangkan sebagai pengalaman yang dianggap penderita sebagai suatu kombinasi moral. akustik) Paling sering dijumpai dapat berupa bunyi mendenging atau suara bising yang tidak mempunyai arti. tetapi lebih sering terdengar sebagai sebuah kata atau kalimat yang bermakna. Halusinasi penglihatan(visual. menimbulkan rasa takut akibat gambaran-gambaran yang mengerikan. Halusinasi pengecapan (gustatorik) Walaupun jarang terjadi. Halusinasi pendengaran (auditif. b.

f. f. Halusinasi seksual. Halusinasi kinistetik. ini termasuk halusinasi raba. Ketawa sendiri. Menggerakkan bibir tanpa suara.2. Senyum sendiri.3 Tanda dan Gejala Menurut Damaiyanti dan Iskandar ( 2012). . 2. e. Misalnya “Phantom phenomenom “ atau tungkai yang diamputasi selalu bergerak-gerak (phantom limb). Penderita merasa badannya bergerak-gerak dalam suatu ruang anggota badannya bergerak-gerak. h. b. 21 Merasa diraba. ditiup atau sepertiada ulat yang bergerak dibawah kulit. g. Berusaha untuk menghindari orang lain. Bicara sendiri. d. e. Sering pada skizofrenia dalam keadaan toksik tertentu akibat pemakaian obat tertentu. Menarik diri dari orang lain. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata. Penderita merasa diraba dan diperkosa sering pada skizofrenia dengan waham kebesaran terutama mengenai organ-organ. Halusinasi visceral Timbulnya perasaan tertentu didalam tubuhnya. pernapasan dan tekanan darah. Terutama pada keadaan delirium toksis dan skizofrenia. Respon verbal yang lambat. i. disentuh. j. Terjadi peningkatan denyut jantung. Pergerakan mata yang cepat. perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut: a. g. c.

s. p. x. r. Bertindak merusak diri. o. u. w. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori. Agitasi dan kataton. Perilaku panic. 22 k. v. tempat dan orang. . Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat. Ekspresi muka tegang. t. Tidak dapat mengurus diri. q. Tampak tremor dan berkeringat. orang lain dan lingkungan. n. Mudah tersinggung. Sulit berhubungan dengan orang lain. m. Ketakutan. Biasa terdapat disorientasi waktu. l. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik. Curiga dan bermusuhan. Jengkel dan marah.

Hubungan 4. Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas kewajaran. Perilaku aneh sesuai dan tidak biasa 5. Reaksi emosi 3. Distorsi pikiran 1. Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan. Perilaku 3. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan. Persepsi (pikiran kotor) pikiran/delusi akurat ilusi 2. 2. 5. Dengan kata lain individu tersebut dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah tersebut.4 Rentan Respon Neurobiologis Menurut Stuart Sudeen (1989) dalam Muhith (2015) rentang respon klien ditinjau dari interaksinya dengan lingkungan sosial merupakan suatu kontinum yang terbentang antara respon adaptif dengan maladatif sebagai berikut : Respon adaptif Respon maladatif 1. Isolasi sosial 4.2. respon adaptif : 1.1 rentang respon menurut Struart dan Sundeen (1998) dalam Muhith (2015) a. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman ahli. Halusinasi 3. 3. b. Gangguan 2. Perilaku dengan berlebihan atau disorganisasi pengalaman kurang 4. Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan. Respon psikososial . 23 2. 4. Konsisten 2. Menarik diri sosial Gambar 2. Respon adaptif Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima norma-norma sosial budaya yang berlaku. Pikiran logis 1.

24

1. Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan

gangguan.

2. Ilusi adalah miss interpretasi atau penilaian yang salah tentang

penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena

rangsangan panca indera.

3. Emosi berlebihan atau berkurang.

4. Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi

batas kewajaran.

5. Menarik diri adalah percobaan untuk menghindari interaksi dengan

orang lain.

c. Repon maladaptif

Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang

menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan, adapun respon

maladaptif meliputi :

1. Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun

tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan sosial.

2. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang

tidak reality atau tidak ada.

3. Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati.

4. Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu yang tidak teratur.

5. Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan diterima

sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu kecelakaan yang negatif

mengancam.

25

2.2.5 BATASAN KARAKTERISTIK GANGGUAN PERSEPSI SENSORI

:HALUSINASI

Batasan karakteristik klien dengan gangguan persepsi sensori: Halusinasi menurut

NANDA -1(2012) yaitu :

a. Perubahan dalam pola perilaku,

b. Perubahan dalam kemampuan menyelesaikan masalah,

c. Perubahan dalam ketajaman sensori,

d. Perubahan dalam respon yang biasa terhadap stimulus,

e. Disorientasi,

f. Halusinasi,

g. Hambatan komunikasi,

h. Irritabilitas,

i. Konsentrasi buruk,

j. Gelisah,

k. Distorsi sensori,

26

2.2.6 Tahapan Halusinasi

Menurut yosep (2010) tahapan halusinasi ada empat fase,yaitu :

Tahap Karakteristik Perilaku klien
Tahap 1
1. Memberi rasa nyaman a. Mengalami a. Tersenyum,
tingkat ansietas sedang ansietas,kesepian, tertawa sendiri
secara umum halusinasi rasa bersalah dan b. Menggerakkan
merupakan sesuai ketakutan bibir tanpa suara
kesenangan b. Mencoba berfokus c. Pergerakan mata
pada pikiran yang yang cepat
dapat d. Respon verbal
menghilangkan yang lambat
ansietas e. Diam dan
c. Pikiran dan berkonsentrasi
pengalaman sensori
masih ada dalam
kontrol kesadaran
non psikotik
Tahap II a. Pengalaman sensori a. Terjadi
1. Menyalahkan menakutkan peningkatan
2. Tingkat kecemasan b. Merasa dilecehkan denyut jantung,
berat secara umum oleh pengalaman pernapasan dan
halusinasinmenyebab sensori tersebut tekanan darah
kan rasa aktivitas c. Mulai merasa b. Perhatikan dengan
kehilangan kontrol lingkungan
d. Menarik diri orang berkurang
lain non psikotik c. Konsentrasi
terhadap
pengalaman
sensori
d. Kehilangan
kemampuan
membedakan
halusinasi dengan
realitas
Tahap III a. Klien menyerah dan a. Perintah halusinasi
1. Mengontrol menerima ditaati
2. Kecemasan berat pengalaman sensori b. Sulit berhubungan
pengalaman (halusinasi) dengan orang lain
halusinasi tidak dapat b. Isi halusinasi c. Perhatian terhadap
ditolak lagi menjadi aktraktif lingkungan
c. Kesepian bila berkurang, hanya
pengalaman sensori beberapa detik
berakhir psikotik d. Tidak mampu
mengikuti perintah

Agitasi atau kataton d. maka intervensi utama difokuskan untuk membantu klien memasuki dan mempertahankan sosialisasi yang penuh arti dalam kemampuan klien. termasuk semua (staf administrasi. Farmakoterapi Obat –obatan untuk terapi halusinasi berupa anti psikotik. haloperidol. Alternatif : 1) Terapi modalitas Semua sumber daya di rumah sakit disarankan untuk menggunakan komunikasi yang terapeutik. 27 dari perawat. pembantu kesehatan.2.7 Penatalaksanaan a. Resiko tinggi oleh halusinasi menciderai 2. Perilaku panik 1. Klien panik c. dan lain-lain. Terapi psikososial Karakteristik utama dari halusinasi adalah rusaknya kemampuan untuk membentuk dan mempertahankan hubungan sesama manusia. 2) Terapi kelompok Terapi kelompok adalah psikoterapi yang dilakukan pada klien bersama-sama dengan jalan aukusi yang diarahkan oleh seseorang yang tertatih. 3) Terapi keluarga . b. tampak tremor dan berkeringat Tahap IV a. mahasiswa dan petugas intalasi). Tidak mampu berespon terhadap lingkungan 2. Klien sudah dikuasai b.

b. 3. Pernah mengalami trauma masa lalu yang sangat mengganggu. Perawat membekali keluarga dengan pendidikan tentang kondisi klien dan kepedulian pada situasi keluarga.3. b. c. Menurunkan konflik kecemasan. tanggal dirawat. c. d. 28 Tujuan dari terapi keluarga : a. Biasanya klien pernah mengalami gangguan jiwa dan kurang berhasil dalam pengobatan. mendengar atau melihat sesuatu. penolakan dan kekerasan dalam keluarga. . 2. membanting peralatan rumah. Alasan masuk Alasan klien datang di rsj. Klien dengan gangguan orientasi bersifat heriditer.3 konsep dasar asuhan keperawatan pasien dengan halusinasi 2. 4. tanggal pengkajian. jenis kelamin. biasanya klien sering berbicara sendiri. Fisik Tidak mengalami keluhan fisik. suka berjalan tanpa tujuan.menarik diri. Meningkatkan kesadaran keluarga terhadap kebutuhan masing – masing keluarga. d. Pernah mengalami aniaya fisik. Meningkatkan pertanyaan kritis. Identitas klien Meliputi nama. umur. 2.1 Pengkajian 1. Menggambarkan hubungan peran yang sesuai dengan tumbuh kembang. Faktor predisposisi a. nomor rekam medis.

Pembicaraan . Konsep diri 1. Kegiatan ibadah Klien biasanya menjalankan ibadah di rumah sebelumnya. c. saat dirawat peran klien terganggu. b. d. saat sakit ibadah terganggu atau sangat berlebihan. Genogram Pada genogram biasanya terlihat ada anggota keluarga yang mengalami kelainan jiwa. 3. Biasanya penampilan diri yang tidak rapi. 29 5. b. Mental a. Psikososial a. 2. Peran diri: klien menyadari peran sebelum sakit. pola komunikasi klien terganggu begitupun dengan pengambilan keputusan dan pola asuh. Ideal diri : tidak menilai diri. 3. 4. Hubungan sosial : klien kurang di hargai dilingkungan dan keluarga. Gambaran diri : klien biasanya mengeluh dengan keadaan tubuhnya. 2. ada bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai. Identitas diri: klien biasanya mampu menilai identitasnya. 5. Harga diri : klien memiliki harga diri yang rendah sehubungan dengan sakitnya. Spiritual 1. tidak serasi atau cocok dan berubah dari biasanya. Nilai dan keyakinan Biasanya klien dengan sakit jiwa dipandang tidak sesuai dengan norma agama dan budaya.

tertawa sendiri. tidak dapat memusatkan perhatian. 30 Tidak terorganisir dan bentuk yang maladaptif seperti kehilangan. berbelit-belit. 6. Tidak berhubungan. b. berbelit. curiga. dan mudah tersinggung. c. ketidakmampuan klien sering membuat lingkungan takut dan merasa aneh terhadap klien. tidak terkait dengan pembicaraan. Afek : afek sering tumpul. d. merusak. Halusinasi apa yang terjadi dengan klien. 5. . tidak dapat membedakan nyata atau tidak nyata. ekspresi muka tegang. tidak sesuai dan ambivalen. kataton dan beberapa gerakan yang abnormal. menarik diri dan menghindar dari orang lain. datar. Persepsi a. takut. Data yang terkait tentang halusinasi lainnya yaitu berbicara sendiri dan tertawa sendiri. impulsif. 4. Alam perasaan Berupa suasana emosi yang memanjang akibat dari faktor presipitasi misalnya sedih dan putus asa disertai apatis. bermusuhan. Aktifitas motorik Meningkat atau menurun. 7. tidak logis. Proses pikir Biasanya klien tidak mampu mengorganisir dan menyusun pembicaraan logis dan koheren. Interaksi selama wawancara Selama berinteraksi dapat dideteksi sikap klien yang tampak komat-kamit.

Klien berulang kali waktu. 14 Kebutuhan persiapan pulang : a. Ketidakmampuan memproses stimulus internal dan eksternal melalui proses informasi dapat menimbulkan waham. sukar menyelesaikan tugas. 11. klien sibuk dengan halusinasi dan cenderung tidak memperhatikan diri termasuk tidak peduli makanan karena tidak memiliki minat dan kepedulian. tidak mudah tertarik. Tingkat konsentrasi dan berhitung : kemampuan mengorganisasi dan konsentrasi terhadap realitas eksternal. 13. 10. 9. mengalami masalah dalam memberikan perhatian. sukar berkonsentrasi pada kegiatan atau pekerjaan dan mudah mengalihkan perhatian. Kemampuan penilaian : klien mengalami ketidakmampuan dalam mngambil keputusan. Daya tilik diri : klien mengalami ketidakmampuan dalam mengambil keputusan. Tingkat kesadaran : biasanya klien akan mengalami disorientasi terhadap orang. . Mudah lupa. penilaian terhadap lingkungan dan stimulus. Menilai dan mengevaluasi diri sendiri. Makan keadaan berat. permisi untuk satu hal. klien kurang mampu menjalankan peraturan yang telah disepakati. melaksanakan keputusan merasa kehidupan sangat sulit. menanyakan apakah tugasnya sudah dikerjakan dengan baik. 31 8. penilaian terhadap lingkungan dan stimulus. tempat dan waktu. 12. Memori : terjadi gangguan daya ingat jangka panjang maupun jangka pendek. situasi ini sering mempengaruhi motivasi dan insiatif klien. membuat rencana termasuk memutuskan. menilai dan mengevaluasi diri sendiri. Isi pikir : keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien.

e. tidak sesuai dan tidak diganti. dan data yang diambil dari hasil catatan tim kesehatan lain sebagai data sekunder. Data subjektif ialah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini diperoleh melalui wawancara perawat kepada klien dan keluarga. Data yang langsung didapat oleh perawat disebut sebagai data primer. 32 b. f. 2009) . Kemudian data yang diperoleh dapat dikelompokkan menjadi dua macam sebagai berikut : a. BAK dan BAB : observasi kemampuan klien untuk BAK dan BAB serta kemampuan klien untuk membersihkan diri. chlorpromazine(CPZ)Triflnuperazin (TFZ) dan anti Parkinson trihenski phenidol(THP). Mandi : biasanya klien mandi berulang-ulang atau tidak mandi sama sekali. Pemeliharaan kesehatan : pemeliharaan kesehatan klien selanjutnya. Berpakaian : biasanya tidak rapi. biasanya istirahat klien terganggu bila halusinasinya datang. Istirahat : observasi tentang lama dan waktu tidur siang dan malam. Aktifitas dalam rumah : klien tidak mampu melakukan aktivitas didalam rumah seperti menyapu. b. g. c. d. 15 Aspek medis Obat yang diberikan pada klien halusinasi biasanya diberikan antipsikotik seperti haloperidol(HLP). Format/data fokus pengkajian pada klien dengan gangguan persepsi sensori halusinasi (Keliat & Akemat. triplofrazine arkine. Data ini didapatkan melalui observasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat. Data objektif ialah data yang ditemukan secara nyata. peran keluarga dan sistem pendukung sangat menentukan.

Resiko perilaku kekerasan (pada diri sendiri. Gangguan Persepsi sensori :Halusinasi. pengecapan. b.orang lain.3. lingkungan dan verbal). perabaan. Waktu halusinasi : …………………………………………………………… Frekuensi halusinasi : …………………………………………………………… Situasi halusinasi : …………………………………………………………… Respon klien : …………………………………………………………… Masalah keperawatan klien: Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi 2. Isolasi sosial.penglihatan.2 Masalah keperawatan a. Pohon masalah . c. dan penghidu) Jelaskan : Jenis halusinasi : …………………………………………………………… Isi halusinasi : ……………………………………………………………. 33 Persepsi : Halusinasi : ( pendengaran .

orang lain.dan verbal) Effect Gangguan persepsi sensori : Halusinasi Core problem Isolasi sosial Causa 2.3 Diagnosa keperawatan . 34 Resiko perilaku kekerasan (diri sendiri.3. lingkungan.

b. Sp 2 1. Rencana keperawatan Menurut keliat dan Akemat (2009) rencana keperawatan pada pasien dengan gangguan persepsi sensori : Halusinasi adalah : 1. Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi. dan verbal). Sp 1 pasien 1. Mengidentifikasi jenis halusinasi pasien. 3. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan bercakap-cakap dengan orang lain dalam jadwal kegiatan harian. Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. 5. orang lain. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien. Mengajarkan pasien menghardik halusinasi. Pasien a. 2. Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian. Resiko perilaku kekerasan ( diri sendiri. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi 2. 8. Mengidentifikasi respon pasien terhadap halusinasi. . Isolasi sosial 3. 4. 2. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. 3. 7. 6. Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien. 35 Adapun diagnosa keperawatan klien yang muncul klien dengan gangguan persepsi sensori :halusinasi adalah sebagai berikut : 1. Mengidentifikasi isi halusinasi pasien. lingkungan.

2. Melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara patuh minum obat. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai penggunaan obat secara teratur. 5. Melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap. Melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara melaksanakan kegiatan terjadwal. 3. 3. d. waktu. Menganjurkan pasien memasukkan penggunaan obat secara teratur ke dalam jadwal kegiatan harian.3. Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan(kegiatan yang bisa dilakukan pasien di rumah). respon klien terhadap halusinasi. situasi. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan kebiasaan di rumah dalam jadwal kegiatan harian. 2. 3. Melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. frekuensi. Sp 4 1. Sp 3 1. 4. Bina hubungan saling percaya (BHSP).3. 2. 6. 2. Identifikasi. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.5 Evaluasi . 2. perawat harus lebih dulu melakukan : 1. 36 c. Hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah tindakan keperawatan yang akan dilakukan implementasi pada klien gangguan persepsi sensori : Halusinasi dilakukan secara interaksi dalam melaksanakan tindakan keperawatan.4 Implementasi Implementasi adalah pelaksanaan keperawatan oleh klien.

37 Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi dilakukan sesuai dengan tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi dua yaitu evaluasi proses dan evaluasi formatif. .

pasien beragama islam. BAB 3 TINJAUAN KASUS Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan jiwa masalah utama gangguan persepsi sensori: Halusinasi pendengaran dengan diagnosis medis Skizofrenia maka penulis menyajikan suatu kasus yang penulis amati mulai tanggal 29 Mei 2017 sampai dengan 31 Mei 2017. Pasien mendengar suara seringkali dan suara itu muncul pada siang hari.suara yang menyuruh pasien untuk shalat. bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. pasien mendengar suara saat pasien sendirian. 38 . Keluhan utama : Pasien mengatakan mendengar suara.H berusia 32 tahun. pada saat pasien mendengar suara itu pasien hanya menutupi kedua telinga dengan bantal dan diam.1 Pengkajian Ruangan rawat : Ruang Jiwa B Tanggal dirawat 14 april 2017 3. Suara bisikan itu datang pada siang hari secara berturut-turut.1 Identitas Pasien Pasien adalah seorang laki-laki bernama “ Tn.2 Alasan Masuk Pasien mengatakan masuk rumah sakit pada tanggal 12 april 2017 alasan masuk pasien mumukul budhe dan tantenya dan mendengar suara bisikan menyuruh pasien shalat dan meminta maaf sama budhe dan tantenya. Jenis suara laki-laki.pendidikan terakhir pasien STM.Register 48-xx-xx sebagai berikut : 3. Pekerjaan pasien adalah pegawai pabrik mie. Anamnesa diperoleh dari pasien dan file no.1.1. pasien masih bicara sendiri. pasien tinggal didaerah Surabaya. Pasien MRS tanggal 14 april 2017 3.

Masalah keperawatan : .5 oC b. 39 3. Masalah keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan e.penatalaksanaan terapi infektif d.3 Faktor predisposisi a. Ukur : TB : 160 cm BB : 65 kg c. pasien pernah pulang ke rumah tapi pengobatan sebelumnya kurang berhasil karena pasien tidak kontrol dan putus minum obat. b. Keluhan Fisik : Tidak ada keluhan fisik Masalah keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan . Pasien mengatakan tidak mempunyai masa lalu yang tidak menyenangkan.4 Pemeriksaan Fisik a.resiko perilaku kekerasan . riwayat gangguan jiwa di masa lalu Pasien mengatakan pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu. Tanda Vital : TD : 130/80 N: 80 x/menit S: 36. c. Pasien mengatakan “anggota keluarga tidak ada yang mengalami seperti saya ini.1. pasien mengatakan pernah memukul budhe dan tantenya 6 tahun yang lalu.” Dalam rekam medis didapatkan tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa atau pernah dirawatdi rumah sakit jiwa.1. pengobatan sebelumnya Pengobatan kurang berhasil karena pasien jarang kontrol dan jarang minum obat karna pasien bosan. Masalah keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan 3.

Dalam keluarga pasien tidak ada anggota keluarga yang memiliki sakit yang sama. Masalah keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan . GENOGRAM X 32 Keterangan : : laki-laki : perempuan x : meninggal x : orang terdekat : tinggal satu rumah : klien : cerai Penjelasan : Pasien mengatakan anak kedua dari empat bersaudara.klien tinggal bersama ibu. 40 3.1.ayah dan kakaknya.5 Psikososial a.

Ideal diri : pasien sering mengatakan ingin cepat pulang karena ingin meminta maaf pada budhe dan tantenya. Konsep Diri a. Identitas : pasien mengatakan seorang laki-laki berusia 32 tahun dan belum menikah. Orang yang berarti : pasien mengatakan orang yang berarti adalah kedua orang tua. Dan bisa memberi upah kepada orang tuanya. Gambaran diri : saat ditanya bagian tubuh mana yang disukai. Peran : pasien mengatakan pasien adalah anak kedua dari empat bersaudara. Spiritual . Harga diri : pasien mengatakan merasa malu pada kakaknya gajinya lebih besar dari kakaknya. c. b. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : saat pengkajian pasien dapat berinteraksi dengan baik dan berespon baik. Hubungan Sosial a. e. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat : SMRS : Pasien mengatakan aktif dalam kegiatan gotong royong. tangan dan kaki. 41 b. d. pasien mengatakan menyukai semua anggota tubuhnya terutama bagian muka. b. d. Masalah keperawatan: tidak ada masalah keperawatan 4. c. pasien sebagai anak. MRS : selama di rumah sakit pasien aktif mengikuti kegiatan TAK dan membantu temannya saat temannya membutuhkan bantuan. Masalah Keperawatan : Gangguan konsep diri : Harga diri rendah c.

Masalah Keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan c. Nilai dan keyakinan : Pasien mengatakan bahwa dirinya adalah seorang agama islam.1. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3. pasien terlihat saat ngobrol ingin segera pergi. 42 a. Aktivitas Motorik Pasien terlihat lesu saat duduk ketika berbicara dengan orang lain. Masalah Keperawan : Hambatan Komunikasi Verbal 3.6 Status Mental a. sikat gigi 2 kali dalam sehari dan memakai sabun”. Masalah Keperawatan : penurunan aktivitas motorik . Pasien tidak mampu memulai pembicaraan tanpa diberi rangsang stimulus. b. Pembicaraan Pasien berbicara dengan nada lambat dan lama menjawab pertanyaan dari perawat. Kegiatan ibadah : pasien mengatakan selama dirawat pasien tidak pernah beribadah. Penampilan Pasien mengatakan “selalu mandi 2 kali dalam sehari.

43 4. Masalah Keperawatan : Ansietas 5. suara itu muncul saat pasien menyendiri. Alam Perasaan Pasien merasa ketakutan saat suara itu muncul dan khawatir saat mendengar suara laki-laki yang mengatakan sesuatu. Proses Pikir Saat melakukan wawancara pasien tidak mengalami gangguan proses pikir. . Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 6. Persepsi halusinasi Pasien mengatakan mendengar suara yang mengatakan menyuruh pasien untuk shalat. saat ditanya pasien kooperatif dan jawaban singkat. Interaksi selama wawancara Ketika melakukan wawancara dengan pasien. respon pasien saat mendengar suara-suara tersebut pasien menutup kedua telinga dengan bantal dan diam saja. Masalah Keperawatan : Gangguan sensori persepsi: Halusinasi pendengaran 8. pasien sering menunduk kontak mata kurang.suara itu seringkali muncul saat siang hari. Afek Ketika sedang dilakukan wawancara pertama kali pada tanggal 29 mei 2017 afek atau ekspresi pasien terlihat sesuai dengan stimulus dan keadaan. Masalah Keperawatan : Hambatan interaksi sosial 7. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan .

Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 10. hari dan tanggal berapa sekarang. Tingkat Kesadaran Pada saat wawancara pasien tidak dapat menjawab dimana dia berada. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 12. saat di tanya Bu L tadi pagi sebelum makan sikat gigi dulu atau makan dulu langsung sikat gigi? Pasien menjawab” sikat gigi dulu langsung makan”. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 13. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan . Isi Pikir Ketika melakukan wawancara pasien tidak mengalami gangguan proses pikir dan tidak mengalami waham. 44 9. Tingkat Konsentrasi dan berhitung Pasien mampu membaca dan berhitung dengan baik. Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir 11. Kemampuan Penilaian Pasien mampu mengambil keputusan sederhana. Memori Saat dikaji pasien mampu mengingat dan menceritakan kejadian sebelum masuk rumah sakit dan sampai masuk rumah sakit jiwa dan siapa yang membawa kerumah sakit. Misalnya .

Masalah Keperawatan :. Daya Tilik Diri Saat ditanya apakah pasien tahu pasien sakit apa sehingga pasien dibawa kesini pasien menjawab dia tidak sakit dan ingin segera pulang. dan ganti pakaian dengan mandiri tanpa ada paksaan dari perawat dan bantuan dari perawat. Kegiatan hidup sehari-hari a. Kemampuan Pasien memenuhi / menyediakan kebutuhan Pasien mampu memenuhi kebutuhan makanan dan pakaian secara mandiri dan untuk kebutuhan lainnya sudah dari pihak rumah sakit. makan. Tidur .1. Saat makan pasien tidak memisahkan diri. Masalah Keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan d. Nutrisi Pasien mengatakan “selama saya disini. kebersihan . BAB/BAK. Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir 3.7 Kebutuhan Pulang 1. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan b. Pola makan pasien 3 kali sehari habis setiap kali makan. Perawatan Diri Pasien mengatakan bahwa pasien mandi. Tidak ada masalah keperawatan 2. 45 14. saya puas dengan pemberian makanannya”.

Masalah Keperawatan : koping keluarga inefektif 5.9 Masalah Psikososial dan Lingkungan a. . Masalah Keperawatan : Ketidakpatuhan 4. Pasien memiliki sistim pendukung Pasien mengatakan tidak ada system pendukung dari keluarga. spesifik: saat dikaji pasien mengatakan bahwa keluarganya tidak pernah menjenguknya. Masalah dengan dukungan kelompok. Pasien mengatakan “saat dirumah jarang minum obat.00 s/d 16.8 Mekanisme Koping Saat dikaji pasien mengatakan kalau ada masalah selalu dipendam. pasien hanya diam Masalah Keperawatan : koping individu inefektif 3. 46 Tidur siang : 13.1.00 Tidur malam : 20. Tetapi pasien memiliki system pendukung yaitu perawat dan teman-temannya. dikarenakan keluarga tidak pernah menjenguk beberapa bulan ini.00 s/d 05. hanya ingat saja”.00 Masalah Keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan 3.1. Apakah pasien menikmati saat bekerja kegiatan yang menghasilkan atau hobi Pasien mengatakan “menikmati dengan hobinya” Masalah Keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan 3. Kemampuan Pasien Pasien mampu dalam mengantisipasi kebutuhan diri sendiri namun belum mampu untuk mengatur penggunaan obat.

g.10 Pengetahuan Kurang Tentang Pasien mengatakan tidak tau apa yang dialami pada sakitnya dan pasien juga tidak tau jenis obat yang diberikan. spesifik : pasien mengatakan bahwa dirinya bekerja di pabrik e. Masalah berhubungan dengan lingkungan. Masalah Keperawatan : Gangguan pemeliharaan kesehatan. Masalah Keperawatan : Defisit Pengetahuan Koping 3.1.12 Aspek Medik Diagnosa Medik : Skizofrenia Terapi Medik : Noprenia 2 mg (1-0-1) Hexymer 2 mg ( 1-0-1) Merlopam 2 mg (0-0-1/2) . Masalah ekonomi. Masalah dengan perumahan.1. 47 b. Masalah dengan pelayanan kesehatan. Masalah dengan pendidikan. 3. spesifik : pasien ke rumah sakit jik sakit dan memelihara kesehatannya . spesifik : tidak ada masalah dalam perumahan f.11 Data Lain – Lain Tidak ditemukan data penunjang lainnya 3.1. spesifik: pasien mengatakan kenal dengan teman-temannya satu kamar c. Masalah dengan pekerjaan. spesifik : pasien lulusan STM d. spesifik : pasien termasuk dari keluarga yang berkecukupan.

Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran 9.13 Daftar Masalah Keperawatan 1. Hambatan interaksi sosial 8. penatalaksanaan terapi infektif 3. ketidakpatuhan 11.14 Daftar Diagnosis Keperawatan 1. Ansietas 7. 48 3. Hambatan komunikasi verbal 5.1. resiko perilaku kekerasan 2. Gangguan proses pikir 10.1. koping keluarga inefektif 12. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran . penurunan aktifitas motorik 6. koping individu inefektif 3. gangguan konsep diri : Harga diri rendah 4.

Bicara nglantur . DO: a. Mulut komat kamit c. Bicara sendiri b. H Nirm: 48-XX-XX Ruangan: RUANG 6 – B Tabel 3. Suara itu seringkali muncul saat siang hari. suara-suara itu muncul saat pasien sedang sendirian. respon pasien saat mendengar suara.2 Analisa Data Nama: Tn.suara tersebut menutup kedua telinga dengan bantal dan diam. 49 3.1 Analisa Data TGL DATA MASALAH TTD 29 Mei 2016 DS: pasien mengatakan Halusinasi Ayrdhena sering mendengar suara-suara pendengaran yang menyuruh pasien shalat.

H.2 : Pohon Masalah Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran Tn. 50 3. .3 Pohon Masalah efec : Resiko Mencederai diri/orang lain/lingkungan Perubahan sensori persepsi : Halusinasi pendengaran problem : isolasi sosial : Menarik diri Gambar 3.

29 mei Gangguan Sp 1 pasien : Sp 1 pasien : Sp 1 pasien : 2017 persepsi sensori Pasien mampu : Halusinasi 1. Menjelaskan isi jenis. Menanyakan mendengar suara. Menanyakan . frekuensi .frekuensi halusinasinya 2. Pasien mampu mengatakan berapa kali 5. 5. Menjelaskan halusinasinya respon frekuensi halusinasinya halusinasinya 5.4 Rencana Keperawatan Nama : Tn. Membina mengidentifikasi pendengaran saling percaya berinteraksi hubungan saling halusinasinya dengan dengan baik percaya mengetahui 2. RM : 48 xx xx Ruangan : Ruang Jiwa B Tabel 3. Pasien mampu serta respon mengetahui 3. Menjelaskan halusinasinya 2.2 Rencana keperawatan NO TANGGAL DIAGNOSA PERENCANAAAN INTERVENSI RASIONAL KEPERAWATAN TUJUAN KRITERIA 1. Pasien mampu 1. Menanyakan isi jenis halusinasi halusinasinya 3.waktu. Bina hubungan 1. H No. Menanyakan 4. Menjelaskan halusinasinya jenis respon halusinasinya halusinasinya 4.isi. Pasien mampu menjelaskan jenis 3. 51 3. Pasien mampu merespon 4.

fokus berbicara cara berbicara mengontrol perhatian pasien akan dengan orang dengan orang halusinasi beralih dari halusinasi lain. lain dengan cara ke percakapan yang bercakap-cakap dilakukan dengan orang dengan orang lain. Memberikan dengan orang lain. Bina hubungan saling percaya 1. Menanyakan halusinasinya menjelaskan waktu waktu mendengar halusinasinya suara-suara 2. Membina orang lain. lain. Ketika mengontrol 2. Pasien mampu pasien bercakap-cakap halusinasi mengontrol 2. dengan cara halusinasi dengan cara untuk terjadi distraksi. Pasien mampu 6. 30 mei Sp 2 pasien : 2017 1. Menjelaskan suara halusinasinya waktu 6. Pasien mampu Bercakap-cakap dengan berinteraksi 1. Dapat percaya halusinasi. 52 6. . Dapat dengan baik hubungan saling membantu mengontrol 2.

Melatih pasien dengan baik tidak akan mengalami percaya mengontrol banyak waktu luang halusinasi 2. 2. 31 mei Sp 3 : 2017 1. 53 3. pasien hubungan saling 2. Bina hubungan saling percaya 1. Pasien mampu Dengan beraktifitas 1. Pasien mampu sendiri yang sering kali dengan cara mengontrol mencetuskan halusinasi. Memberikan melakukan halusinasi cara untuk aktivitas dengan cara mengontrol /kegiatan yang melakukan halusinasi terjadwal aktivitas/kegiata dengan cara n yang terjadwal melakukan aktivitas terjadwal . Membina berinteraksi secara terjadwal.

54 .

Pasien mampu berjabat tangan . Mengidentifikasi menutup kedua frekuensi telinga dengan Ayrdhena halusinasi bantal.H RUANGAN : VI-B Tabel 3. pasien 3. Pasien 2017 saling percaya mengatakan “selamat pagi mbak. respon dari Pasien pada halusinasi saat mendengar suara tersebut 5. Mengidentifikasi mengatakan jenis dari mendengar halusinasi suara laki-laki yang menyuruh 4. Mengidentifikasi saya Tn.H DX TGL KEPERAWATAN IMPLEMENTASI EVALUASI TT 29 Halusinasi SP 1 S: Mei Pendengaran 1.5 Implementasi dan Evaluasi NAMA : Tn. Pasien mampu menyebutkan namanya . Pasien mampu cara menjelaskan . Implementasi dan Evaluasi Asuhan keperawatan Jiwa gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran pada Tn.H asal isi dari halusinasi kota Surabaya. Mengidentifikasi mendengar waktu halusinasi suara tersebut pada siang hari 7. 54 3. Melatih pasien dan pada saat mengontrol pasien halusinasi dengan sendirian cara menghardik O: . Bina hubungan .3. nama 2.pasien mengatakan 6. Mengidentifikasi untuk shalat.

suara- cakap dengan suara.saya sudah coba . Pasien dapat menjawab isi dari halusinasinya . Pasien dapat menjawab frekuensi halusinasi . Pasien dapat menjawab respon dari halusinasinya . Pasien 2017 halusinasi hubungan saling mengatakan pendengaran percaya “selamat pagi mbak dhena. Pasien dapat menjawab waktu halusinasi itu muncul . Pasien dapat melakukan cara menghardik halusinasi P: lanjut sp 2 30 Gangguan SP 2 S: Mei persepsi sensori: 1. 2. Pasien dapat membina hubungan saling percaya . Membina . saya mengontrol kadang masih halusinasi dengan mendengar cara bercakap. Pasien mampu cara menghardik halusinasinya A: . 55 halusinasinya . Melatih cara Baik.

Pasien mengatakan “ begitu ya mbak. acara kemarin pak. 56 orang lain. Pasien mampu mengontrol halusinasi dengan berbicara dengan temannya untuk menghilangkan suaranya A: sp 2 . tapi suara itu kadang masih muncul jika saat sendirian. saya coba ya. bapak/ibu ayo bercakap-cakap dengan saya. Pasien mampu memperagakan cara menghardik halusinasi. . saya sedang berhalusinasi” Pasien mengatakan “iya mbak saya akan latihan cara mengontrol halusinasi dengan cara bercakap- cakap”. O: .

Suara itu berkurang mbak”. Pasien mengatakan “kegiatan saya selama di sini bangun jam 06.00 pagi”. Melatih kadang-kadang mengontrol suara itu muncul halusinasi dengan mbak. baik mbak dhena.00 merapikan tempat tidur. O: . jam 08. cara melakukan saya sudah coba aktivitas terjadwal acara yang kemarin yaitu bicara dengan pasien lain.00 nonton Tv dan sosialisasi dengan pasien lain. Membina Pasien 2017 Halusinasi hubungan saling mengatakan” pendengaran percaya selamat pagi. 57 berhasil P : lanjut sp 3 31 Gangguan SP 3 S: Mei persepsi sensori: 1.00 mandi.30 sarapan pagi dan minum obat jam 07.setelah itu jam 06. kadang juga cuci baju jam 11.00 makan siang lalu minum obat. sudah mbak. 2. saya akan melakukan kegiatan merapikan tempat tidur setiap hari jam 06. Pasien dapat mengingat nama saya dan . “iya mbak.

58 pasien menjawab dengn benar sebutan nama saya . Pasien mampu dan menerapkan cara ketiga pada saat mendengar suara tersebut A: . Pasien dapat membina hubungan saling percaya . Pasien mau mengikuti kegiatan apapun contoh mengikuti kegiatan TAK P: . Evaluasi sp 1 s/d 3 Lanjutkan sp 4 dengan cara mengontrol halusinasi dengan minum obat .

Dimana Halusinasi timbul karena pasien jika mempunyai masalah hanya diam dan dipendam sendiri. Menurut data yang didapat pasien sudah dua kali dirawat di RS. dan evaluasi. Yang pertama pasien dirawat di Rumah Sakit Menur Pemprov Jawa Timur sekitar 4 tahun yang lalu. Ramelan Surabaya yang meliputi pengkajian. 4. pelaksanaan. Dalam tinjauan pustaka disebutkan jika pasien dengan perilaku kekerasan mengakibatkan Halusinasi Pendengaran. Obat hal tersebut didukung oleh pernyataan pasien kalau pasien selama di rumah sakit jarang minum obat.1 Pengkajian Pada tahap pengumpulan data. kemudian pasien 59 . kemudian pasien masuk di ruang jiwa B Rumkital Dr. Ramelan Surabaya pada tanggal 14 April 2017 dengan Diagnosa Medis Skizofrenia pengobatan yang didapat tidak efektif karena pasien tidak mau minum obat dan keluarga tidak mendukung. penulis tidak mengalami kesulitan karena penulis telah megadakan perkenalan dan menjelaskan maksud penulis yaitu untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien sehingga pasien terbuka dan mengerti serta kooperatif. perencanaan. BAB 4 PEMBAHASAN Dalam pembahasan ini penulis akan menguraikan tentang kesenjangan yang terjadi tinjauan pustaka dan tinjauan kasus dalam asuhan keperawatan jiwa masalah utama Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran dengan Diagnosa Medis Skizofrenia di ruang jiwa B Rumkital Dr.

hal ini . dan tekanan darah 11. Respon verbal yang lambat 7. 60 sering menyendiri dan melamun. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik 12. Ketawa sendiri 4. Menarik diri dari orang lain 8. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat Dari beberapa kesenjangan tinjauan pustaka maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa perilaku pasien yang muncul pada tinjauan kasus. Menggerakkan bibir tanpa suara 5. jengkel dan marah 16. Pada tanda dan gejala dalam tinjauan pustaka masalah yang dituliskan menurut Hamid (2000) dalam Damaiyanti (2012) perilaku pasien yang terkait dengan Halusinasi adalah sebagai berikut : 1. Tidak dapat membedakan yang nyata dan yang tidak nyata 10. Senyum sendiri 3. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori 13. disitulah dapat menyebabkan pasien Halusinasi Pendengaran. Terjadi peningkatan denyut jantung. Pergerakan mata yang cepat 6. Mudah tersinggung. pernapasan. Ekspresi muka tegang 15. Berusaha untuk menghindari orang lain 9. Bicara sendiri 2. Sulit berhubungan dengan orang lain 14.

Dari beberapa kesenjangan antara tinjauan kasus dan teori. suka menyendiri Pasien sering menyendiri.2 Diagnosa Keperawatan Berdasarkan hasil pengkajian pada tinjauan kasus. didapatkan data fokus pasien sering mendengar bisikan seorang laki – laki yang mengarah ke agama islam. 4. maka dapat disimpulkan bahwa hampir semua yang terdapat dalam tinjauan teori ada beberapa yang muncul pada tinjauan kasus dengan sedikit dinamika yang lebih komplek. hal ini sesuai dengan teori menurut Nanda (2012) bahwa batasan karakteristik keperawatan pasien dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi adalah perubahan dalam respon yang biasa dalam stimulus dan halusinasi. Sehingga munculnya diagnosa keperawatan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran. 2. Menarik diri dari orang lain Pasien suka terlihat menyendiri didalam kamar karena malas berinteraksi dengan orang lain. bahwa tanda dan gejala pasien Halusinasi adalah sebagai berikut : 1. Senyum sendiri. saat dikaji respon pasien mengajak orang lain bercakap – cakap. . Pada saat muncul bisikan tersebut pasien hanya menutup telinga tetapi bisa mendengar suara tersebut. Bisikan itu muncul pada saat pasien sendiri. senyum – senyum sendiri merasa didatangi seorang laki – laki dan mendengar bisikan mengarah ke agama islam. 61 sesuai dengan teori menurut Hamid (2000) dalam Damaiyanti (2012).

membunuh orang lain. orang lain. Pasien mengatakan sering mendengar suara itu pada saat siang hari. karena budhe dan tantenya menyuruh pasien untuk sholat merasa didatangi seorang laki – laki dan mendengar bisikan yang mengarah ke agama islam. pasien saat menyendiri. bahkan merusak lingkungan. . Pola kesulitan dalam keluarga kekacauan. Resiko perilaku kekerasan. muncul karena pasien mengatakan minder karena pasien tidak bisa memberi upah kepada orang tuanya. muncul karena pasien memukul budhe dan tantenya karena pasien di ajak shalat dan masuk ke agama islam. Dari pohon masalah didapatkan masalah keperawatan didapatkan masalah keperawatan sebagai berikut : 1. Harga diri rendah. didapatkan data fokus pasien ekspresi muka tegang. orang lain. 2. 62 Berdasarkan data pengkajian pada tinjauan kasus. Dalam situasi ini pasien dapat melakukan bunuh diri. pasien menanggapi dengan cara langsung menutup kedua telinga dengan bantal. hal ini sesuai dengan teori menurut Jaya (2015) bahwa akibat pasien yang mengalami Halusinasi dapat kehilangan kontrol dirinya sehingga bisa membahayakan diri sendiri. Gangguan persepsi sensori: Halusinasi pendengaran. dan lingkungan) hal ini terjadi jika halusinasi sudah sampai fase IV dimana pasien mengalami panik dan perilakunya dikendalikan oleh halusinasinya. Pasien benar – benar kehilangan kemampuan penilaian realitas terhadap lingkungan. 3. muncul karena pasien mengatakan mendengar suara bisikan-bisikan yang menyuruh pasien untuk shalat. maupun merusak lingkungan (resiko mencederai diri. usia 32 tahun sehingga munculnya diagnosa keperawatan Resiko Perilaku Kekerasan. menunjukkan pesan kemarahan pada budhe sama tantenya.

. hari dan tanggal berapa sekarang. 11. 10. Pasien mengatakan “saat dirumah jarang minum obat. dikarenakan keluarga tidak pernah menjenguk beberapa bulan ini. pasien sering menunduk kontak mata kurang. 5. Tetapi pasien memiliki system pendukung yaitu perawat dan teman-temannya. Defisit pengetahuan koping: Pasien mengatakan tidak tau apa yang dialami pada sakitnya dan pasien juga tidak tau jenis obat yang diberikan. pasien terlihat saat ngobrol ingin segera pergi. Penurunan aktivitas motorik: Pasien terlihat lesu saat duduk ketika berbicara dengan orang lain. Gangguan proses pikir: Pada saat wawancara pasien tidak dapat menjawab dimana dia berada. 63 4. Koping keluarga inefektif: Pasien mengatakan tidak ada system pendukung dari keluarga. Ansietas: Pasien merasa ketakutan saat suara itu muncul dan khawatir saat mendengar suara laki-laki yang mengatakan sesuatu. Ketidakpatuhan: Pasien mampu dalam mengantisipasi kebutuhan diri sendiri namun belum mampu untuk mengatur penggunaan obat. 7. saat ditanya pasien kooperatif dan jawaban singkat. 8. 6. Hambatan interaksi sosial: Ketika melakukan wawancara dengan pasien. Pasien tidak mampu memulai pembicaraan tanpa diberi rangsang stimulus. Hambatan komunikasi verbal: Pasien berbicara dengan nada lambat dan lama menjawab pertanyaan dari perawat. 9. hanya ingat saja”.

jika dalam tinjauan pustaka terdapat 3 masalah keperawatan utama yang mengacu pada pohon masalah untuk tinjauan kasus tidak karena banyak beberapa faktor pendukung munculnya masalah tambahan dalam pengambilan masalah keperawatan. Dalam penegakan diagnosa terdapat kesenjangan dalam masalah keperawatan.3 Perencanaan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran setelah berinteraksi diharapkan pasien dapat menunjukkan tanda – tanda percaya pada perawat. menunjukkan rasa saling senang. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi 2. Resiko perilaku kekerasan ( diri sendiri. Maka dalam tinjauan kasus dan tinjauan pustaka berbeda karena dalam tinjauan kasus malah keperawatan yang muncul lebih kompleks. ekspresi wajah bersahabat. misalnya seperti harga diri rendah yang menyebabkan pasien selalu minder kepada kakaknya karena kakaknya bisa memberi upah kepada orang tuanya. Isolasi sosial 3. ada kontak mata. . Namun dari 11 masalah keperawatan diatas. dan verbal). orang lain. 64 Terdapat 11 masalah keperawatan dalam tinjauan kasus tetapi didalam tinjauan pustaka terdapat 3 masalah yang muncul yaitu: Adapun diagnosa keperawatan klien yang muncul klien dengan gangguan persepsi sensori :halusinasi adalah sebagai berikut : 1. lingkungan. 4. kami ambil 1 masalah utama tunggal yang kami tetapkan untuk dilakukan rencana dan tindakan keperawatan yaitu Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran.

yang biasa dilakukan perawat setelah menggunakan rencana tidak tertulis yaitu apa yang difikirkan. kerugian minum obat. mau menyebutkan nama. situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi. sedih. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran setelah berinteraksi diharapkan pasien menyebutkan isi. takut. warna. 65 mau berjabat tangan. dosis dan efek samping. 4. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaaran pasien dapat mendemostrasikan bercakap – cakap dengan orang lain. jengkel). hal ini sesuai dengan teori menurut Keiliat (2006). hal ini sesuai teori menurut Keliat (2006). hal ini sesuai dengan teori menurut Keiliat (2006). menjawab salam. dirasakan itu yang dilaksanakan. hal ini sesuai dengan teori Keliat (2006). setelah berinteraksi pasien menyebutkan cara mengontrol halusinasinya dengan menghardik halusinasinya. cemas. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran setelah berinteraksi diharapkan pasien menyebutkan manfaat minum obat. senang. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan . respon pasien saat halusinasi muncul (marah. nama. setelah berinteraksi pasien menyebutkan tindakan yang bisa dilakukannya untuk mengontrol halusinasinya.4 Tindakan keperawatan Tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan pada situasi nyata implementasi sering kali jauh lebih berbeda dengan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan. waktu frekuensi. mau mengungkapkan masalah yang dihadapi.

Sesuai dengan teori. Pada pelaksanaan SP 1 pasien tidak ada hambatan yang terjadi saat hasil wawancara respon pasien secara verbal dari mulai perkenalan pasien mengatakan “ pagi mbak. nama saya Tn. isi. namun direncana tindakan menggunakan tujuan umum dan tujuan khusus. Untuk asumsi penulis pasien mampu mengontrol halusinasi dengan cara menghardik dan pasien kooperatif. frekuensi. di implementasi menggunakan strategi pelaksanaan sesuai dengan kriteria keperawatan. mengidentifikasi jenis. Dalam pertemuan pertama pasien mau menyebutkan nama dan asalnya lalu pasien juga mendengar suara bisikan seseorang yang menyuruhnya untuk shalat. dan mengajarkan pasien cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian. respon. Pasien menjawab” pergi- pergi!kamu tidak nyata. H biasa dipanggil H”. kemudian oleh penulis ditanyakan tentang halusinasi pasien. 66 perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih dibutuhkan dan sesuai dengan keadaan pasien saat ini. saya tidak mau dengar dan kamu tidak nyata. selanjutnya menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik ke dalam jadwal kegiatan. waktu. . Kemudian dokumentasi semua tindakan yang telah dilaksanakan beserta respon pasien. bisikan itu muncul ketika pasien tidak sedang beraktifitas atau tidak sedang sendirian saat mendengar suara bisikan itu pasien hanya diam. pasien menjawab “ mendengar suara yang menyuruh shalat dan mengarah ke agama. pada saat akan melaksanakan tindakan perawatan membuat kontrak/ janji terlebih dahulu dengan pasien yang isinya menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran serta yang diharapkan pasien. Pada tanggal 29 mei 2017 dilakukan SP 1 yang isinya mencakup: perawat membina hubungan saling percaya dengan pasien.

pasien mampu mempraktekkannya. Untuk asumsi penulis. . Secara obyektif pasien tampak antusias dalam menceritakan kegiatan dan pasien tampak tenang. pasien mampu mempraktekkan dari mulai cara menghardik sampai dengan cara bercakap-cakap dengan temannya. pasien mampu mempraktekkan cara memasukkan kegiatan yang terjadwal sesuai yang perawat ajarkan. Pada tanggal 31 mei 2017 dilakukan SP 3 yang isinya mencakup : mengevaluasi latihan bercakap-cakap dengan temannya. Untuk asumsi penulis. Secara obyektif pasien bisa menyebutkan cara pertama mengontrol halusinasi. Saat suara itu muncul saya akan menerapkan kegiatan yang diajarkan oleh perawat agar suara itu cepat hilang dan pergi. Pasien mengatakan kepada perawat kegiatannya saat bangun tidur merapikan tempat tidur. melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan(kegiatan yang biasa dilakukan pasien setiap hari). dan menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dan di dalam pelaksanaan pasien mampu mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan teman sekamar saat halusinasi itu muncul “saya mendengar suara-suara ayo kita berbincang-bincang “. menganjurkan pasien memasukkan kegiatan menghardik dan bercakap-cakap. mandi dan mencuci baju. 67 Pada tanggal 30 mei 2017 dilakukan SP 2 yang isinya mencakup : pasien mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.

Pada waktu dilaksanakan evaluasi SP 1 pasien dapat mengerti jenis. Untuk SP 2 pasien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. isi. situasi yang dapat menimbulkan halusinasi pasien. frekuensi. 68 4. Pada akhir evaluasi semua tujuan dapat dicapai karena adanya kerjasama yang baik antara pasien dan perawat. Evaluasi dilakukan terus-menerus . Sedangkan pada tinjauan kasus evaluasi dapat dilakukan karena dapat diketahui keadaan pasien dan masalahnya secara langsung. Pada tinjauan teori evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada pasien. pasien mampu menghardik halusinasi. pasien dapat mengendalikan halusinasi dengan cara melakukan kegiatan. Pasien cukup kooperatif dan mampu berlatih apa yang diajarkan oleh perawat. pasien dapat mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap – cakap dengan orang lain. pasien dapat memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian. SP 3 pasien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. Pasien cukup kooperatif dan mampu berlatih apa yang di ajarkan oleh perawat.5 Evaluasi Belum dapat dilaksanakan karena merupakan kasus semu. Pasien kooperatif dan mampu berlatih apa yang diajarkan oleh perawat. waktu. H sudah selesai dengan harapan masalah teratasi. respon pasien terhadap halusinasi. pasien dapat memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian. pasien mampu memasukkan cara menghardik kedalam kegiatan harian. Hasil evaluasi pada Tn.

. dilakukan setiap hari selama pasien di rawat di ruang jiwa B. 69 pada respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Pada tinjauan kasus. evaluasi dapat dilakukan karena dapat diketahui keadaan pasien dan masalah secara langsung. Evaluasi dapat dilakukan menggunakan pendekatan SOAP.

Maka penulis dapat menarik kesimpulan dan sekaligus saran yang dapat beramanfaat dalam meningkatakan mutu Asuhan Keperawatan pasien dengan Diagnosa Medis Skizofrenia dengan Masalah Utama Gangguan Persepsi Sensorik : Halusinasi Pendengaran. Dengan melakukan tindakan perencanaan dengaan SPTK ( Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan) dari SP 1 hingga SP 3 pasien yaitu : 70 . Ramelan Surabaya. Didapatkan data fokus pasien mendengar suara bisikan dan memukul tante dan budhenya. 3. 2. BAB 5 PENUTUP Setelah penulis melakukan pengamatan dan melaksanakan Asuhan Keperawatan Jiwa Masalah Utama Gangguan Persepsi Sensorik : Halusinasi Pendengaran pada Tn. Ramelan Surabaya. Pada pengkajian pasien didapatkan adanya resiko perilaku kekerasan dan pasien mengalami Gangguan Persepsi Sensorik : Halusinasi Pendengaran. maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. 5. Masalah keperawatan yang muncul adalah Gangguan Persepsi Sensorik : Halusinasi Pendengaran.1 Kesimpulan Dari hasil uraian yang telah menguraikan Asuhan Keperawatan Jiwa Masalah Utama Gangguan Persepsi Sensorik : Halusinasi Pendengaran pada Tn. H dengan Diagnosa Medis Skizofrenia di Rumah Sakit Dr. H dengan Diagnosa Medis Skizofrenia di Rumah Sakit Dr.

bercakap-cakap dengan orang lain dengan cara “ membersihkan tempat tidur. Pada pelaksanaan hari senin 29 Mei 2017 SP 1 pasien mampu melakukan apa yang diperintahkan oleh perawat seperti cara menghardik halusinasinya dengan cara “ menutup telinga dan mengatakan kamu tidak nyata pergi saja “. Sp 3 pasien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik kedalam kegiatan harian. pasien dapat memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian. isi halusinasi. mengajarkan pasien menghardik halusinasi. pasien dapat mengendalikan halusinasi dengan cara melakukan kegiatan. Pasien cukup kooperatif selama 1x pertemuan. Pada pelaksanaan hari Selasa. pasien dapat memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian. 71 SP 1 pasien : pasien dapat mengidentifikasi jenis halusinasi pasien. . Pasien cukup kooperatif selama satu kali pertemuan SP 2 pasien : pasien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. respon pasien terhadap halusinasi pasien. frekuensi halusinasi pasien. waktu halusinasi pasien. situasi yang dapat menimbulkan halusinasi pasien. 30 Mei 2017 sp 2 pasien mampu melakukan apa yang diperintahkan oleh perawat seperti cara melaksanakan membuat jadwal kegiatan pasien dari bangun sampai tidur lagi. pasien dapat mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.

72 5.H dengan Diagnosa Medis Skizofrenia di ruang Jiwa B Rumkital dr. b. c. Bagi peneliti Hasil studi kasus ini. dapat menjadi masukan bagi pelayanan di Rumah Sakit agar dapat melakukan asuhan keperawatan pasien Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran. Bagi profesi kesehatan Sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Asuhan keperawatan Jiwa Masalah Utama Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran pada Tn. Bagi pelayanan keperawatan di rumah sakit Hasil studi kasus ini. dapat menjadi salah satu rujukan bagi peneliti berikutnya yang akan melakukan studi kasus pada Asuhan Keperawatan Jiwa Masalah Utama Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi pada Tn.2 Saran Berdasarkan kesimpulan diatas.tugas akhir ini akan bermanfaat a. 2. Akademis Hasil studi kasus ini merupakan sumbangan ilmu bagi pengetahuan khususnya dalam hal asuhan keperawatan pada pasien Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran. .H dengan Diagnosa Medis Skizofrenia di Ruang Jiwa B Rumkital dr. penulis memberikan saran sebagai berikut : 1.Ramelan Surabaya. Secara praktis. Ramelan Surabaya.

DAFTAR PUSTAKA Afnuazi. Karen A. M. Anna. Buku Kedokteran: ECG Ballard.Kep.Kep). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa edisi 2. Kj. 2011. Buku Kedokteran EGC Prabowo.Yogyakarta.1. Eko. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Sani. Ns Ridhyalla. Bandung: PT. 2007. Yogyakarta : salemba Medika 73 . Jakarta. (K)). M.Kp. 2014. 2012. Yogyakarta: Nuha Medika Yosep. Buku Ajar Asuahn keperawatan Jiwa. Sp. 2005.App. Keperawatan Kesehatan Jiwa Psikiatrik.(2011). Gosyen Publishing Akemat. (S. (Prof. Jakarta. Ns. Skizofrenia Spliting Personality. 2002. Jakarta. S.(2011).Refika Aditama Direja. Komunikasi Terapeutik dalam Keperawatan Jiwa.). Mukhripah. 2015.Kp. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.Sc). Dr.Kes). (DR. Asuhan Keperawatan Jiwa. Tangerang: Jelajah Nusa Keliat. H. Bandung: PT Refika Aditama Ibrahim. Budi. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.. (S. Ayub. (S. Buku Kedokteran: ECG Damaiyanti. Ahs.

Menanyakan jenis halusinasi d. Menjelaskan respon halusinasi e. H Hari/tanggal : Senin/29 Mei 2016 Pertemuan : Ke-1 Masalah Keperawatan : Halusinasi pendengaran A.Lampiran 1 STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN Pada pasien Halusinasi pendengaran Nama Pasien : Tn. Menjelaskan frekuensi halusinasi f. Menanyakan waktu halusinasi 74 . Membina hubungan saling percaya b. Menjelaskan jenis halusinasi d. Menjelaskan isi halusinasi c. Tujuan khusus a. bicara ngelantur 2. mulut komat kamit c. Proses Keperawatan 1. Keadaan umum pasien a. Diagnosa keperawatan Gangguan persepsi sensori: Halusinasi pendengaran 3. Menanyakan respon halusinasi e. Menanyakan frekuensi halusinasi f. Tindakan keperawatan a. Pasien bicara sendiri b. Bina hubungan saling percaya b. Menjelaskan waktu halusinasi 4. Menanyakan isi halusinasi c.

Fase Orientasi “Selamat pagi bapak. bagaimana?” . apa sama seperti apa yang bapak lakukan biasanya?. bagaimana kalau kita besok saya Tanya lagi mengenai suara-suara yang sering bapak dengar. Bapak namanya siapa ? suka dipanggil siapa ? “ bagaimana perasaan bapak hari ini ? Apakah boleh saya bicara sebentar sama bapak ? Baiklah bapak. Saya dari mahasiswa Stikes Hangtuah Surabaya. jadi kalau suara itu muncul bapak Cuma diam dan menutup kedua telinga ya pak?” terus apalagi yang bapak lakukan selain kedua hal itu?” “ oh jadi cuman itu aja ya pak”. oh jadi sama saja ya pak” “ gini pak kalau suara itu tetap muncul bapak bisa melakukan seperti yang biasanya bapak lakukan.Oke”. dua kali itu saat kapan saja?” “ jadi cuman siang sama malam” “biasanya kalau malam hari jika suara itu muncul apa yang bapak lakukan?. 75 B. bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang halusinasi bapak ? berapa lama bapak punya waktu untuk berbincang-bincang dengan saya? Bagaimana kalau 15-20 menit saja?” setuju?. perkenalkan nama saya ayrdhena bisa di panggil dhena. Besok bapak mau berbincang-bincang dimana? Bagaimana kalau di gazebo saja? C. “ terus dalam satu hari berapa kali suara itu muncul?” “ oh dua kali ya pak. Saya praktek disini selama 3 hari. Fase kerja “apakah bapak mendengar suara tanpa ada wujudnya? Apa yang dikatakan bayangan itu ? apakah suara itu sering muncul? Pada saat apa suara itu terdengar ? apa yang dikatakan suara itu ? apa yang bapak lakukan saat suara itu muncul ? “ apa yang bapak lakukan saat suara itu muncul?” “ oh begitu ya pak.

76 D. Fase terminasi “Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang ?” Apa yang bapak lakukan jika mendengar suara tersebut? Kapan suara itu muncul? Apa terus-terusan suara itu muncul? “kalau bayangan itu muncul bagaimana kalau kita besok bertemu lagi untuk belajar cara pertama menghardik halusinasi itu ? Kira-kira kita besok bertemu jam berapa? Bagaimana kalau pukul 10.00 WIB? Besok bapak mau berbincang-bincang dimana? Bagaimana kalau di gazebo saja? .

77 .

Lampiran 2 STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN Pada pasien Halusinasi pendengaran Nama Pasien : Tn. Keadaan umum pasien a. Dapat mengontrol halusinasi dengan berbicara dengan orang lain. 4. Tindakan keperawatan a. Memberikan cara untuk mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Pasien bicara sendiri b. B. H Hari/tanggal : Selasa/30 Mei 2016 Pertemuan : Ke-2 Masalah Keperawatan : Halusinasi pendengaran A. Diagnosa keperawatan Gangguan persepsi sensori: Halusinasi pendengaran 3. Fase Orientasi “Selamat siang pak”bagaimana kabar bapak hari ini?”apa bapak masih ingat saya ? nama saya siapa pak ? Bagaimana perasaan bapak hari ini?” apakah bapak masih ingat dengan saya? Bagaimana kalau kita berbicara lagi seperti kemarin ? bagaimana kalau kita sekarang bicara cara mengontrol halusinasi yang kedua 77 . Proses Keperawatan 1. Bina hubungan saling percaya b. Membina hubungan saling percaya b. Bicara nglantur 2. Tujuan khusus a. mulut komat kamit c.

bagaiaman kalau besok kita bertemu lagi untuk belajar dan latihan mengontrol halusinasi cara yang ketiga? Kira-kira kita besok bertemu jam berapa? Bagaimana kalau .’begitu ya pak. cobalah kedua cara ini kalau bapak mendengar suara itu? “baiklah bapak. dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain ! caranya jika bapak mulai mendengar suara-suara langsung bapak cari teman untuk diajak ngobrol. contohnya begini bapak . katakan “kak ayo ngobrol dengan aku. Coba bapak lakukan sperti yang saya tadi lakukan. Minta teman untuk ngobrol dengan bapak. ayo ngobrol degan saya! Atau kalau bapak dirumah misalnya kakak.” “Kita ngobrolnya dimana Pak? Disini saja ya seperti kemarin. begitu pak. Fase Kerja “ bapak masih ingat dengan saya ! apa yang bapak rasakan sekarang? Apa bapak masih mendengar suara-suara? Apakah bapak sudah dipakai cara yang kita latih kemarin? Apa berkurang suara-suaranya ? sekarang kita lakukan cara yang kedua ya pak. Fase Terminasi “Bagaimana perasaan bapak setelah kita belajar dan berbincang bersama? Sudah ada berapa cara yang tadi bapak pelajari untuk mencegah suara itu? Bagus. Bagus ! coba sekali lagi! Bagus ! nah latih terus ya pak! Bapak dapat mengajak perawat atau pasien lain untuk bercakap-cakap D.” C. 78 “berapa lama bapak mau berbincang-bincang dengan saya? Bagaimana jika 15 menit.” tolong saya mulai mendengar suara-suara. Ya . aku sedang mendengar suara-suara.

79 pukul 10.00 WIB ? “Besok bapak mau berbincang-bincang dimana? Bagaimana kalau di gazebo depan saja ya pak?” .

Membina hubungan saling percaya B. Tindakan keperawatan A. Proses Keperawatan 1. H Hari/tanggal : Rabu/31 Mei 2016 Pertemuan : Ke-3 Masalah Keperawatan : Halusinasi pendengaran A. Mulut komat. “sesuai dengan janji kita kemarin. Keadaan umum pasien a. Lampiran 3 STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN Nama Pasien : Tn. Bina hubungan saling percaya b. Fase Orientasi “Selamat siang pak”bagaimana perasaan bapak hari ini? masih ingat dengan saya! “ bagaimana perasaan bapak hari ini ! apakah suara-suara masih muncul? Apakah sudah dilakukan dua cara yang kita latih kemarin. Bicara nglantur 2. B. hari ini kita akan belajar cara yang ketiga untuk mencegah halusinasi yaitu melakukan kegiatan terjadwal. Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktivitas/ kegiatan yang terjadwal 4. Tujuan khusus a. 3. Diagnosa keperawatan Gangguan persepsi sensori: Halusinasi pendengaran.kamit c. Memberikan cara untuk mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktivitas terjadwal. Pasien bicara sendiri b.” 80 .

terkadang juga cuci baju jam 11.30 sarapan pagi dan minum obat jam 07. setelah itu jam 06. kegiatan saya jam 06. kegiatan yang saya sukai mencuci baju dan merapikan tempat tidur mbak”. Fase terminasi “Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap cara yang ketiga untuk mencegah suara itu muncul ! Sudah ada berapa cara yang bapak pelajari untuk mencegah suara itu muncul ? coba lakukan sesuai jadwal ya pak.00 makan siang lalu minum obat.” “Kita ngobrolnya dimana Pak? bagaimana kalau di gazebo depan lagi seperti kemarin pak” C. Baiklah bapak. Fase Kerja “apa saja yang biasa bapak lakukan ? pagi –pagi yang bapak lakukan”. Kegiatan bapak selama pagi sampai malam itu ngapain saja?.00 . 81 berapa lama bapak mau berbincang-bincang dengan saya? Bagaimana jika 15-20 menit. Dari kegiatan pagi sampai malam kegiatan apa yang bapak sukai?.00 mandi.” Ohh begitu ya pak berarti bapak banyak kegiatan ya setiap harinya. terus jam berikutnya apa? Wah banyak sekali kegiatannya ! Mari kita latih kegiatan hari ini ! Bagus sekali jika bapak lakukan untuk mencegah suara tersebut muncul.00 merapikan tempat tidur. “apa saja yang biasa bapak lakukan ? pagi –pagi yang bapak lakukan. Kira- kira kita besok bertemu jam berapa? Bagaimana kalau pukul 10. bagaimana kalau besok kita bertemu lagi untuk membahas cara minum obat. D.

82 WIB ? “Besok bapak mau bercakap-cakap dimana? Bagaimana kalau disini lagi ya pak?”sampai jumpa besok .