Anda di halaman 1dari 15

REVOLUSI INDUSTRI 4.

0:
PUSTAKAWAN HUKUM = PENELITI DOKUMENTASI HUKUM
(Syarat dan Ketentuan Berlaku)

Farli Elnumeri1
Perpustakaan Hukum Daniel S Lev dan
Knowledge Center Yayasan Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia

Abstrak

Perkembangan teknologi informasi pada bidang hukum telah menjadi bagian yang secara
serius diikuti perkembangannya oleh pustakawan hukum. Hal ini seiring dengan tuntutan
pekerjaan yang tinggi dan kecepatan informasi yang diperlukan pemustaka, khususnya dalam
ranah konsultan hukum. Keterbukaan informasi publik dan regulasi diseminasi informasi
seperti dokumen mengenai RUU, Peraturan, dan Putusan Pengadilan yang disajikan melalui
situs internet mempermudah kerja pustakawan hukum. Perkembangan ini bukannya
menggeser peran pustakawan, namun malah meningkatkan peran pustakawan terlibat dalam
melakukan analisis data dan informasi terhadap suatu kasus dan subyek hukum, serta
menyajikannya dengan cepat dan tepat kepada pemustaka. Oleh karena itu, kemampuan
pustakawan hukum harus terus ditingkatkan seiring perkembangan yang ada karena
peningkatan peran tersebut. Kemampuan literasi informasi hukum, pengkomunikasian
dengan pemustaka, kemas ulang informasi, layanan referens dan metode penelitian hukum
berbasis teknologi informas mutlak dikuasai pustakawan hukum.

Kata kunci: Pustakawan hukum, Perpustakaan Hukum, Dokumentasi Hukum

Pendahuluan

Sejak tahun 2010-an berbagai istilah berkaitan dengan perkembangan teknologi


informasi bermunculan. Mulai dari istilah perpustakaan digital, generasi milenial dan pasca
milenial, disrupsi, dan yang cukup agresif dibahas pemerintah, yaitu Revolusi Industri 4.0.
Istilah yang oleh pemerintah dipopulerkan secara agresif dengan niat baik untuk
mempercepat daya saing ekonomi Indonesia. Dalam kolom opini ekonomi di Kompas, Istilah
industri 4.0 muncul pada Hannover Fair 2011 yang ditandai dengan revolusi digital. Industri
4.0 merupakan industri yang dominan memanfaatkan teknologi canggih dalam hal ini
teknologi canggih tersebut termasuk kecerdasan buatan, perdagangan elektronik, data
raksasa, teknologi finansial, ekonomi berbagi, hingga penggunaan robot. Secara sederhana
dalam situs asemka.com, Industri 4.0 dapat diartikan sebagai industri yang menggabungkan
teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Hal ini seiring dengan tren otomatisasi dan
pertukaran data dalam teknologi manufaktur, termasuk sistem cyber-fisik, Internet of Things
(IoT), komputasi awan dan komputasi kognitif.

Lebih lanjut Kompas menyitir pendapat Paul Krugman bahwa revolusi industri
pertama terjadi ketika ditemukannya mesin uap dan kereta api pada era 1750-1830. Revolusi
Industri kedua terjadi ketika ditemukannya listrik, alat komunikasi, kimia, dan minyak pada
era 1870-1900. Adapun Revolusi ketiga ditandai dengan ditemukannya komputer, internet,
dan telepon genggam, termasuk teknologi informasi dan mesin otomasi (1960-sekarang).

1
Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Perpustakaan Khusus, “Arah Tata Kelola Perpustakaan Khusus
di Indonesia dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0”, 5 November 2018 di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta.

1
Gambar 1. Revolusi Industri (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_4.0)

Perkembangan ini tentu saja berpengaruh dengan perkembangan dokumentasi hukum


di Indonesia. Penulis pada dasarnya sependapat dengan pemikiran Yanuar Nugroho (2018)
yang melihat bahwa Revolusi Industri 4.0 sebagai peluang baru dalam suatu perubahan yang
bergerak cepat, drastis, kompleks, dan berdampak luas yang sulit diprediksi. Walau dalam
keseharian memang tidak terlalu terlihat perubahannya. Dalam konteks dokumentasi hukum
perubahan secara evolusioner telah terjadi sejak akhir tahun 1990-an. Perkembangan
dokumentasi hukum dalam bentuk elektronik berdasarkan pengetahuan saya, sudah dirintis
sejak tahun 1999. Salah satu lembaga yang fokus dalam layanan informasi hukum
www.hukumonline.com Saat itu, ketika masih banyak penyajian informasi hukum dalam
bentuk tercetak, Hukumonline sudah memulainya dengan melakukan alih media besar-
besaran berbagai peraturan dan putusan penting yang dibutuhkan para profesional hukum,
khususnya yang banyak dicari advokat.

Perkembangan lainnya, saat itu, sulit sekali mencari informasi pembahasan suatu
rancangan Undang-Undang, padahal salah satu upaya mewujudkan reformasi hukum melalui
perubahan besar-besaran Undang-undang yang ketika era orde baru banyak dianggap
menghambat reformasi di Indonesia. Untuk itu, Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia
(PSHK) membuat pusat informasi legislasi yang disebut parlemen.net (www.parlemen.net).
Melalui situs ini, khususnya masyarakat yg sedang aktif mengadvokasi suatu RUU dapat
mengetahui perkembangan pembahasan RUU tersebut. Di sisi lain, PSHK aktif pula
mendorong pemerintah agar transparan dalam melakukan pembahasan RUU melalui UU
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.2

Saat ini, buah hasil perjuangan terus menerus, Setjen DPR relatif terbuka
menginformasikan berbagai pembahasan RUU. Selain itu, PID DPR juga sudah memiliki
sistem yang memudahkan kita mengakses berbagai dokumen publik yang ada di DPR.
Walau dalam berbagai hal, tetap saja cara paling cepat dengan cara meminta bantuan
pustakawan DPR RI atau staf ahli yang kebetulan kita kenal agar dokumen tersebut dapat
dengan cepat kita dapatkan. Efek dari kedua terobosan ini, lembaga-lembaga pemerintah

2
Informasi lebih lanjut mengenai hal ini dapat dipelajari melalui situs www.pshk.or.id dan www.parlemen.net

2
dan negara mulai berbenah diri berkaitan dengan diseminasi informasi peraturan yang
mereka terbitkan.

Saat ini, dalam hal penyediaan informasi Peraturan, setiap lembaga pemerintah dan
negara memiliki situs JDIH (Jaringan Dokumentasi Informasi Hukum) dan kolom peraturan
yang menyajikan berbagai peraturan yang diterbitkan setiap institusi tersebut. Koordinator
Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional (JDIHN) saat ini adalah Badan
Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kemenkumham RI. Adapun landasan hukum
keberadaan lembaga ini diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No.33 Tahun
2012.

Gambar 2. Halaman muka situs JDIHN (sumber: www.jdihn.bphn.go.id)

Adapun lembaga pemerintah dalam Kemenkumham yang bertanggungjawab


berkaitan dengan diseminasi informasi hukum lainnya adalah Direktorat Jenderal Peraturan
Perundang-Undangan. Hal ini diatur dalam Perpres Nomor 87 Tahun 2014 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan. Saat ini berbagai peraturan dapat diakses melalui situs
http://peraturan.go.id/

3
Gambar 3. Halaman muka situs peraturan.go.id (sumber: http://peraturan.go.id)

Adanya 2 (dua) institusi tingkat eselon 1 di Kemenkumham seharusnya dapat saling


menguatkan dalam kemudahan diseminasi informasi peraturan dan keterkaitan antar
peraturan. Sayangnya sampai saat ini masih berkutat sekedar menaikkan peraturan melalui
internet. JDIHN yang idealnya dapat menjadi wahana dalam pengembangan jejaring
informasi hukum ternyata hanya fokus dalam pertemuan antar Biro Hukum lembaga
pemerintah dan negara, belum banyak melibatkan perpustakaan hukum dalam mensinergikan
keterkaitan antara peraturan dan putusan dengan sumber informasi lainnya.

Hal ini menyulitkan perpustakaan hukum, dalam hal ini perpustakaan hukum yang
dikelola pemerintah untuk mengembangkan manajemen pengetahuan di bidang hukum serta
literasi informasi hukum bagi masyarakat. Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian serius
para pustakawan hukum pemerintah. Asumsinya, Perpustakaan merupakan garda terdepan
melayani kebutuhan informasi masyarakat. Tidak hanya untuk kepentingan pemustaka utama
pada institusinya, namun perpustakaan harus siap pula ketika ada permintaan kebutuhan
informasi dari masyarakat. Biasanya, perpustakaan menjadi harapan terakhir ketika terjadi
kebuntuan pemustaka tersebut dalam mendapatkan literatur yang diperlukannya.

4
Gambar 4. Anggota JDIHN (Sumber: http://jdihn.bphn.go.id)

Perubahan lain dalam berkaitan dengan sumber informasi utama pada bidang hukum,
yaitu diseminasi informasi putusan pengadilan. Saat ini, Mahkamah Agung RI dan
Mahkamah Konstitusi RI dengan cukup baik memberikan kemudahan akses masyarakat
dalam mencari putusan peradilan. Putusan yang sampai ditingkat Mahkamah Agung RI dapat
diakses melalui http://putusan.mahkamahagung.go.id/

Gambar 5. Halaman muka Direktori Putusan di Mahkamah Agung RI


(Sumber: http://putusan.mahkamahagung.go.id)

5
Begitu pula putusan pengadilan tingkat pertama maupun pengadilan tinggi dapat diakses
melalui situs setiap pengadilan tersebut.

Gambar 6. Halaman muka Sistem Informasi Penelusuran Perkara di Pengadilan Negeri


Jakarta Pusat (Sumber: http://pn.jakartapusat.go.id)

Perkembangan Saat Ini

Sampai saat ini, keterlibatan pustakawan hukum melalui perpustakaan relatif variatif.
Untuk pustakawan hukum swasta, dalam hal ini yang bergerak pada lembaga riset dan
advokasi, firma hukum, dan konsultan hukum, berbagai inovasi seiring dengan
perkembangan teknologi informasi dan kebutuhan pemustaka setiap institusi mereka, secara
aktif dikembangkan oleh para pustakawan hukum. Misalkan, contohnya di Perpustakaan
Hukum Daniel S Lev. Karena adanya kebutuhan pemustaka, dalam hal ini peneliti untuk
melihat dan mengetahui berbagai putusan pengadilan yang dikategorikan sebagai
yurisprudensi dan putusan penting, maka pengelola perpustakaan mencoba membuat
terobosan dengan membuat pangkalan data Yurisprudensi dan Putusan Penting. Mungkin
bagi sebagian pihak menganggap bahwa apa yang ada di putusan.mahkamahagung.go.id
sudah memadai. Namun, karena ada kebutuhan dari para peneliti hukum, maka pengelola
perpustakaan hukum Daniel S Lev mencoba membuat pangkalan data Yurisprudensi dan
Putusan Penting.

Keunikannya adalah sumber dokumen putusan yurisprudensi dan putusan penting


berasal dari Buku Yurisprudensi terbitan Mahkamah Agung RI, Varia Peradilan, berbagai
buku yang membahas suatu putusan atas subyek tertentu, dan berbagai hasil penelitian yang
mengulas suatu putusan tertentu. Dengan demikian, pangkalan data ini diharapkan dapat
dipertanggungjawabkan dokumen serta indeks yang ada pada pangkalan data tersebut.
Pangkalan data dapat diakses melalui http://putusan.digilev.web.id/ atau terlebih dahulu
melalui http://danlevlibrary.net/koleksi/

6
7
Gambar 7-10. Pangkalan Data Yurisprudensi dan Putusan Penting yang dikelola
Perpustakaan Hukum Daniel S Lev (Sumber: http://www.danlevlibrary.net)

Dalam konteks berjejaring, apabila secara kelembagaan sudah ada Jaringan


Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH), untuk pengembangan profesionalisme pengelola
informasi dan dokumentasi hukum saat ini sudah berdiri Asosiasi Pekerja Informasi Hukum
Indonesia (APIHI). Keunikan asosiasi ini merupakan pengembangan dari jaringan milis
hukum perpushukum-net. Milis ini bersifat tertutup, karena hanya pekerja informasi hukum
saja yang dapat tergabung dalam milis ini. Apabila pekerja informasi hukum tersebut tidak
lagi bekerja pada institusi hukum, maka anggota tersebut mengundurkan diri atau dikeluarkan
dari milis.

8
Milis ini dibentuk berangkat dari kesulitan para pengelola informasi hukum dalam
mengakses berbagai informasi hukum yang dibutuhkan para pemustakanya. Mulai dari
Peraturan, putusan pengadilan, berita, buku, paper, dan literatur lainnya yang diperlukan
pemustakanya. Informasi yang dibagi mulai dari pertukaran dokumen, informasi link suatu
situs yang dibutuhkan, nomor kontak petugas yang diperkirakan memiliki akses terhadap
suatu dokumen, sampai bertanya apakah suatu peraturan sudah dicabut atau belum. Seiring
makin meningkat ketergantungan pemustaka, dalam hal ini umumnya advokat, pekerja
informasi saat ini sudah setingkat kerumitan kerjanya seperti peneliti hukum.

Pekerja informasi hukum tidak lagi hanya berkutat melakukan pencarian, pengolahan dan
penyajian dokumen yang diperlukan pemustakanya. Saat ini pekerja informasi hukum sudah
aktif terlibat dalam melakukan riset-riset yang diperlukan berkaitan dengan kasus maupun
program yang dihadapi kliennya. Dengan demikian, seiring dengan kemajuan teknologi
informasi, bagi pekerja informasi hukum peran mereka makin strategis.

Perkembangan Ke Depan

Perubahan merupakan suatu hal yang selalu terjadi dalam kehidupan manusia.
Perubahan pada ranah perpustakaan hukum tidak terlepas dari perkembangan teknologi
informasi yang terus terjadi. Apabila akhir abad 20, perpustakaan mulai aktif
memperkenalkan internet sebagai bagian dari layanan yang mempermudah pemustaka untuk
mengakses informasi, maka pada era 2010-an sampai saat ini berbagai istilah bermunculan
seiring dengan pemanfaatan dan ketergantungan internet yang makin menjadi. Salah satu
istilah yang muncul adalah adanya revolusi industri 4.0. Istilah ini beriringan dengan istilah
disrupsi yang sebenarnya istilah lama yang didaur ulang.

Bagaimana perpustakaan hukum melihat perkembangan yang terjadi? Apabila


memerhatikan alur cerita sejak akhir tahun 90-an, relatif bidang perpustakaan hukum
mengikuti perkembangan yang terjadi dengan segala varian.

TERCETAK ALIH MEDIA DIGITAL

Secara lebih mudah dipahami berkaitan dengan perkembangan teknologi web yang
disampaikan Wardiyono (2018) dalam paparan presentasinya di Semiloka Nasional
Kepustakawanan Indonesia 2018 di Malang.

Web 0 Library 0 tradisional


Web 1 Library 1.0 www - 2001 a. Memanfaatkan fitur Web 1.0 dalam penyampaian
layanan
b. Jasa dan produk masih fisik dan tradisional
c. Fokus tampilan isi (statik)
d. Informasi satu arah, pemustaka hanya baca.
e. Pustakawan sebagai mediator penulis dengan pembaca.
f. Model layanan linear, hirarkis, mudah ditebak (siklus
tradisional)

9
Web 2 Library 2.0 Interaktif – a. Pencetus:Michael Casey tahun 2005:
2005 http://www.librarycrunch.com
b. Aplikasi dari interaksi, kolaborasi, multimedia berbasis
web dalam layanan dan koleksi perpustakaan.
c. Information-driven social media pendekatan ke
pemustaka.
d. The library is everywhere, tersedia dalam berbagai
gawai dan terintegrasi dengan layanan di luar
perpustakaa (portal, e-learning, e-commerce)
e. Konsep layanan 7/24 yaitu layanan setiap saat.
f. The library has no barriers: sumber informasi selalu
siap dan tersedia diakses tanpa hambatan.
g. The library invites participation; budaya partisipasi
pemustaka, serta memanaatkan tools seperti wikis,
blogs, RSS, dan Social bookmarking systems.
h. Flexible ‘best of breed’ systems: (bekerja bersama
dalam pengembangan layanan)

Web 3 Library 3.0 Semantik/inte a. Penggunaan teknologi baru: web semantik, komputasi
legent awan, perangkat selular; pencarian gabungan untuk
fasilitas pengembangan organisasi informasi melalui
kolaborasi transparan antar pengguna, ahli, dan
pustakawan.
b. Organisasi Informasi seperti Resource Description
Framework (RDF), format data grafik dan Ontology
Web language (OWL).
c. Adanya standard Protocol and RDF Query Languange.
d. Tidak ada aplikasi mutlak (killer aplication)
e. Prinsip Library 3.0 : The Library is intelligent
(menghasilkan pengetahuan baru), The Library is
organised (jaringan informasi tidak terorganisir menjadi
pengetahuan sistematis), the library is a federated
network of information pathways (mengintegrasikan
saluran informasi, format dan lingkungan berbeda), the
library is apomediated (memberi panduan kepada
informasi yang dibutuhkan), the library is “my library”
(seperti layanan FB, memungkinkan personalisasi
layanan, produk dan ruang perpustakaan secara virtual)
f. Manajemen pengetahuan menjadi bagian tidak
terpisahkan.

Web 4 Library 4.0 simbiosis a. Sistem pencarian terdistribusi (federated search)


dan teknologi pencarian lebih advance (berjejaring)
b. Memanfaatkan komputasi awan, konektivitas
layanan dan daya tampung tidak terbatas.
c. Membaca, menulis, dan mengeksekusi karya secara
bersamaan, web saling terhubung, kecerdasan web
d. Data berbasis kecerdasan, data masif, kesadaran
konteks dan ruang kreatif tanpa batas.
e. Kata kunci berkaitan dengan Library 4.) berkaitan

10
dengan kecerdasan (intelligent), makerspace,
context-aware technology, open source, big data,
cloud service, augmented reality, state off the art
display dan Librarian 4.0.

Dari seluruh perkembangan yang ada, fenomena yang cukup banyak berpengaruh
yaitu adanya kerja sama dalam suatu konsorsium antar firma hukum dengan firma hukum
negara lain. Firma hukum saling berkolaborasi karena perkembangan perusahaan dan industri
yang sudah lagi tidak melihat batas antar negara. Cukup banyak pengusaha Indonesia yang
membangun kerajaan bisnisnya di negara lain. Begitu pula banyak pengusaha negara lain
yang membangun gurita bisnisnya di Indonesia. Berhubung setiap negara memiliki regulasi
yang berbeda-beda sedangkan klien firma hukum besar umumnya pengusaha multi nasional
akhirnya perkembangan saat ini mereka saling membangun konsorsium firma hukum. Dari
sudut manajemen diharapkan memudahkan para konsultan hukum dalam memberikan jasa
advokasi hukumnya. Mulai dari penanganan perjanjian usaha, komunikasi dengan pemerintah
setempat, pengadilan setempat, dan apabila terjadi pelanggaran perjanjian.

Kondisi ini tentu berpengaruh dengan layanan informasi para pengelola informasi hukum
pada firma hukum tersebut. Pemustaka mereka tidak lagi terbatas hanya advokat atau
konsultan hukum yang berada di kantornya saja, namun juga sudah meluas untuk
membangun relasi dengan pengelola informasi hukum yang ada pada jaringan firma hukum
tersebut. Dampaknya adalah peningkatan kemampuan dan pengetahuan pustakawan hukum
untuk memelajari kondisi hukum negara mitra firma hukumnya beserta aturan main yang
berkembang, baik itu dalam diseminasi informasi serta aturan terkait lainnya.

Perkembangan paling terlihat dari kondisi yang ada adalah pada struktur organisasi dan
istilah unit kerja yang berkaitan dengan pengelolaan informasi. Dapat dikatakan, hanya
sedikit yang bertahan menyebutkan kata perpustakaan sebagai unit yang mengelola informasi
hukum di lembaga tersebut. Contoh paling sederhana mengikuti perkembangan teknologi
informasi yang terjadi, struktur organisasi pun berubah. Misalkan,

1. Beberapa industri yang berkaitan dengan penyediaan informasi hukum, misalkan


www.hukumonline.com mengembangkan struktur yang namanya Direktur Teknologi
Informatika (Chief Technology Officer).
2. Perpustakaan berubah nama sesuai dengan pemahaman masing-masing pengelola
informasi dan pimpinannya. Hal ini terjadi karena menganggap citra perpustakaan
terlalu sempit hanya mengelola buku dan terbitan serial saja. Padahal ruang lingkup
kerja pengelola informasi hukum dapat dikatakan kebutuhannya sebagai peneliti
dokumentasi hukum Misalkan: Divisi Knowledge Center, Knowledge Management,
dan lain-lain.

Hal ini perlu menjadi perhatian bersama, karena gara-gara istilah berdampak pula
terhadap keberadaan perpustakaan hukum pada instansi pemerintah dan lembaga negara.
Seperti yang disampaikan pada awal paparan, tidak banyak perpustakaan hukum yang terlibat
dalam diseminasi informasi hukum, seperti peraturan dan putusan pengadilan pada
Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.

Dalam banyak literatur yang terjadi, seperti yang dikemukakan Connell (2018)
pustakawan hukum diharapkan dapat mendampingi perubahan-perubahan yang terjadi.

11
Pemanfaatan artificial intelligence dan perkembangan automasi dalam ranah hukum menjadi
perhatian utama para pustakawan hukum. Logika sederhananya sebagai berikut:

Kebutuhan Pustakawan Vendor Pustakawan Pustakawan


Informasi menentukan menyiapkan menggunakan menyajikan
Hukum rancangan informasi untuk kepada
bagaimana yang pemenuhan pemustaka dan
(Dokumen
informasi dibutuhkan permintaan mendampingi
dan
tersebut diolah pustakawan Pemustaka pemanfaatannya
Analisis)

Kemampuan Pustakawan Hukum

Berangkat dari perkembangan yang ada, kemampuan pustakawan hukum harus terus diasah
dan aktif mengikuti perkembangan yang ada. Perkembangan yang terjadi pada ranah hukum,
kajian dokumentasi hukum, dan perkembangan teknologi informasi yang menyangkut
pengelolaan dokumentasi dan informasi hukum merupakan ranah yang perlu diikuti secara
terus-menerus. Selain itu, di luar kewajiban berkaitan dengan kemampuan bahasa Inggris dan
penguasaan komputer, kemampuan kepustakawanan utama yang perlu dikuasai dengan baik,
yaitu:

1. Kemampuan Literasi Informasi di bidang Hukum, mulai dari mengidentifikasi,


memilah, melakukan penelusuran informasi, mengolah informasi hukum, dan
menyajikan informasi hukum agar dapat dimanfaatkan mitra pustakawan. Kemampuan
literasi informasi ini termasuk pula kemampuan mendampingi pemustaka agar dapat
paham dan menerapkan kemampuan literasi informasi di bidang hukum.
2. Kemampuan untuk berkomunikasi dan merekomendasikan berbagai literatur yang
dibutuhkan pemustakanya.
3. Kemampuan berkaitan dengan kemas ulang informasi pada ranah hukum, seperti
melakukan ringkasan eksekutif suatu peraturan dan putusan pengadilan, penyajian
informasi berita berkaitan dengan perkembangan hukum atas suatu subyek tertentu, dan
lain-lain.
4. Kemampuan yang berkaitan dengan penelitian dokumentasi hukum, dalam hal ini
kemampuan untuk melakukan analisis data, manajemen data dan informasi hukum,
serta penyajiannya. Termasuk pula berbagai metode penelitian hukum, khususnya bagi
firma hukum besar dan sekolah hukum.

Kemampuan lainnya tentu saja akan terus berkembang seiring dengan meningkatnya
peran pustakawan hukum dalam manajemen data, informasi, dan pengetahuan pada lembaga
induknya. Makin besar harapan yang disampaikan pimpinan lembaga induknya, maka
berdampak terhadap kebutuhan keahlian yang dimiliki oleh pustakawan hukum. Tinggal
pustakawan hukum dapat menunjukan eksistensi dan tingkat keberhasilannya dalam
berkontribusi terhadap lembaga induknya. Harapannya, makin mendapat apresiasi yang baik
dari pimpinan, berkorelasi dengan peningkatan kesejahteraan pustakawan hukum.

12
Beberapa Catatan

Umumnya, ketika memasuki wilayah pekerjaan ini, hampir sama seperti subyek lain
adalah apa saja yang akan ditangani dalam ranah hukum ini. Hal ini relatif hampir sama
seperti yang dikemukakan Aycock (2013) lulusan ilmu perpustakaan negara lain ketika
memasuki dunia hukum akan meraba-raba apa yang akan mereka tangani. Kondisi kerjanya
juga tidak berbeda, yaitu kebanyakan hanya terdiri satu atau dua orang saja yang bekerja
mengelola dokumentasi hukum. Istilah populernya One Person Librarian atau Pustakawan
Tunggal.

Pustakawan hukum di Indonesia tidak terlihat eksistensinya dan lemah pencitraannya


sebagai mitra strategis dalam pembaharuan hukum di Indonesia. Hal ini dikarenakan
lemahnya pustakawan hukum dalam merespon secara langsung terhadap isu-isu strategis
berkaitan dengan dokumentasi hukum di Indonesia. Putusan Pengadilan Cibinong yang
berhubungan dengan tata persuratan sehingga divonis bersalah seorang saksi ahli dari IPB,
kasus bocornya surat yang bersifat rahasia, maupun isu-isu strategis lainnya tidak pernah
direspon pustakawan hukum.Padahal kalau dari pembicaraan yang berkembang dilingkungan
komunitas pustakawan hukum, sebenarnya banyak ide bagus yang dapat menjadi kontribusi
kepada pemangku kebijakan dalam pengelolaan dokumentasi hukum di Indonesia. Dari
konteks sejarah kajian, dari awal 1970-an, diskusi mengenai dokumentasi hukum.

Catatan lain yang perlu menjadi pertimbangan bersama agar Revolusi Industri 4.0
berdampak positif bagi kemajuan hukum di Indonesia adalah adanya kerja sama dan
kolaborasi antara Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional (JDIHN) selaku
forum kerja sama lembaga yang bertanggung jawab atas pengelolaan informasi hukum (Biro
Hukum) dan lembaga yang berhubungan dengan dokumentasi dan informasi hukum
(perpustakaan) dengan Asosiasi Pekerja Informasi Hukum Indonesia (APIHI) selaku wadah
bagi pengelola dokumen dan informasi.

Upaya untuk mengatasi hal ini sebenarnya cukup banyak, walau kembali lagi ke para
pustakawan hukum, apakah berkenan meluangkan sedikit waktunya dalam pengembangan
dokumentasi hukum di Indonesia atau sudah puas dengan kenyataan yang ada. Setidaknya,
untuk pustakawan hukum yang sudah mapan, dapat melakukan aktivitas sebagai berikut:

13
1. Pustakawan hukum yang sudah yakin nggak kemana-mana lagi untuk sekolah hukum
(S1 Hukum). Hal ini penting karena berbagai profesi pada bidang hukum,
mensyaratkan S1 Hukum (cover buku)
2. Bergabung dan aktif bersama-sama pengembangan diri dan pencitraan profesi melalui
asosiasi pustakawan hukum (Asosiasi Pekerja Informasi Hukum Indonesia APIHI).
Agar profesi ini eksis dan berkembang sesuai dengan kemajuan peradaban, harus
dilakukan bersama-sama dan saling berbagi pengetahuan agar tidak tertinggal dan
dapat bertukar informasi dalam upaya menjalankan tugas tugasnya sebagai
pustakawan hukum.
3. Aktif menulis baik secara ilmiah maupun populer berkaitan dengan dokumentasi
hukum di Indonesia. Sedikit sekali artikel dokumentasi hukum yang ditulis oleh
praktisi dan akademisi berkaitan dengan dokumentasi hukum di Indonesia.

Penutup

Secara umum, penulis berpendapat bahwa Revolusi Industri 4.0 berdampak baik bagi
pustakawan hukum dengan syarat Pustakawan hukum harus dapat terus mengikuti
perkembangan Teknologi Informasi yang terjadi berkaitan dengan dokumentasi hukum dan
aktif berkolaborasi dengan TI dan dunia riset dokumentasi hukum. Perannya tidak lagi hanya
“sekedar penjaga pengetahuan” namun menjadi peneliti dokumentasi hukum yang
berkontribusi dalam pembaharuan hukum di Indonesia.

Selain itu, berkaitan dengan pentingnya kolaborasi dengan berbagai profesi yang
berkaitan dengan manajemen dokumentasi informasi hukum perlu dipertimbangkan adanya
jabatan fungsional pengelola informasi (spesialis informasi) yang merupakan gabungan atas
seluruh jabatan fungsional yang berhubungan dengan informasi. Misalkan pustakawan,
arsiparis, pranata komputer, pranata kehumasan, dan jabatan fungsional lainnya. Dengan
demikian, perluasan ranah jabatan fungsional ini akan memperluas kesempatan PNS untuk
mengembangkan karirnya tanpa tersekat atas besar kecil ruang lingkup unit kerjanya.

DAFTAR PUSTAKA

Apa itu Industri 4.0 ? Dan Apa Saja Elemen yang Harus Ada? Diakses Jumat, 2 November
2018 https://mobnasesemka.com/apa-itu-industri-4-0/
Aycock, Anthony.(2013). The Accidental Law Librarian, Information Today: New Jersey.
Dyszlewski, Nicole P. Dan Pickering, Laura A.(2018). 9 Strategies for Improving the Legal
Internship Experience at Your Office, Rhode Island Bar Journal, Jan/Feb,Westlaw.
Kompas.(2018). Revolusi Industri 4.0, Kompas, edisi 10 April 2018, p.1
Nugroho, Yanuar.(2018). Peluang Baru di Era Baru, Kompas, edisi 14 Mei 2018, p.7.
Peraturan Presiden (2012). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012
tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional.
Peraturan Presiden (2014). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014
tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

14
Undang-Undang.(2011). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.
Wardiyono.(2018, September). Organisasi Informasi di Perpustakaan: Perkembangan Masa
Depan dalam Era Ilmu Informasi, presentasi disampaikan dalam Seminar Nasional dan
Lokakarya Nasional Kepustakawanan Indonesia 2018, belum dipublikasikan, Malang.
Wikipedia Indonesia.(2018). Industri 4.0. diunduh 4 November 2018
https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_4.0
Yasin, Muhammad.(2014). Asosiasi Pustakawan dan Pekerja Informasi Hukum: Bermula dari
Mailing List, Hukumonline.com,
https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5390353213a61/asosiasi-pustakawan-dan-
pekerja-informasi-hukum--bermula-dari-mailing-list
Younghee Noh.(2015). Imagining Library 4.0: Creating a Model for Future Libraries, The
Journal of Academic Librarianship, Vol.41, Issue 6, Nov.2015,p.786-797.

15