Anda di halaman 1dari 9

STIKES NGUDI WALUYO

GAMBARAN TIPE PRE MENSTRUASI SYNDROME PADA REMAJA KELAS XI


DI SMA NEGERI 1 MIJEN DEMAK TAHUN 2014

JURNAL
KARYA TULIS

OLEH :

YUNI PRIHASTUTI
NIM : 030112A102

PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN

STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN SEMARANG

TAHUN 2013
2

GAMBARAN TIPE PRE MENSTRUASI SYNDROME PADA REMAJA DI SMA NEGERI 1 MIJEN
DEMAK
TAHUN 2014

Oleh :
Yuni Prihastuti
Program Studi Div Kebidanan Stikes Ngudi Waluyo

Abstrak
Frekuensi gejala premenstruasi syndrome (PMS) pada wanita usia subur di Indonesia sebesar 80 –
90%, dan kadang – kadang gejala tersebut sangat berat dan mengganggu kegiatan sehari-hari. Bagi remaja,
PMS dapat mengganggu aktivitas belajar di sekolah. Kondisi tersebut juga terlihat di SMA Negeri 1 Mijen
Demak. Dari 10 siswi yang diwawancarai, 6 orang diantaranya mengalami gejala premenstruasi syndrome
(PMS) menjelang menstruasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tipe premenstruasi
syndrome pada remaja kelas XI di SMA Negeri 1 Mijen Demak.
Metode penelitian observasional desain deskriptif dengan pendekatan waktu cross sectional. Jumlah
sampel 46 siswi didapatkan melalui sampling jenuh. Data diolah menggunakan uji univariat statistik
deskriptif dengan bantuan program SPSS for windows release 16.0.
Hasil Premenstruasi syndrome Tipe A (Anxiety) dialami sejumlah 35 siswi (76,1%), Tipe H
(Hyperhydration) sejumlah 38 siswi (82,6%), Tipe C (Craving) sejumlah 37 siswi (80,4%) dan
Premenstruasi syndrome Tipe D (Depression) sejumlah 36 siswi (78,3).
Kesimpulan remaja kelas XI di SMA Negeri 1 Mijen Demak mengalami tipe premenstruasi
syndrome (PMS) berat dari masing-masing gejala yang ditimbulkan pada tiap tipe Premenstruasi syndrome
(PMS). Disarankan agar mampu mengatasi gejala Premenstruasi syndrome dengan mencukupi kebutuhan
kalori, gizi khususnya vitamin B6 dan magnesium, hindari kafein, kurangi konsumsi gula, garam dan lemak,
olah raga serta hindari setres.

Kata Kunci : tipe premenstruasi syndrome anxiety, hyperhydration, craving dan depression.

Abstract
The frequency of premenstrual syndrome (PMS) is high enough in Indonesian women wich is about
80-90%, and sometimes the symptoms are very severe and interfere with daily activities. For teenager,
premenstrual syndrome can severe learning activity in school. The condition is also seen in SMAN 1 Demak
Mijen. From the 10 students interviewed, 6 of them have symptoms of premenstrual syndrome (PMS) before
menstruation. The aim of this study was to know the description about types of premenstrual syndrome in
eleventh year students at SMA Negeri 1 Mijen Demak.
The method used observational descriptive design with cross-sectional approache. The samples were
46 students obtained through saturated sampling. The data were processed by using statistics descriptive
univariate with SPSS for windows release 16.0.
The results showed that premenstrual syndrome Type A (Anxiety) was experienced by 35 students
(76.1%), Type H (Hyperhydration) was experienced by 38 students (82.6%), Type C (Craving) was
experienced by 37 students (80.4%) and premenstrual syndrome type D (Depression) was experienced by 36
students (78.3%).
The conclusions is that eleventh year students at SMA Negeri 1 Mijen Demak experience severe
premenstrual syndrome (PMS) of each symptom caused by each type of premenstrual syndrome (PMS). It is
advisable to be able to cope with the symptoms of premenstrual syndrome by fulfilling the need of calories,
and nutrients, especially vitamin B6 and magnesium, avoiding caffeine, reducing the consumption of sugar,
salt and fat, exercising and avoid stress.

Keywords : types of premenstrual syndrome, anxiety, hyperhydration, craving and depression.


3

PENDAHULUAN

Wanita memiliki tubuh yang kompleks. Mereka mengalami proses perkembangan anatomi,
fisiologis dan reproduksi selama kehidupannya, mulai masa anak-anak, remaja dan dewasa. Bersamaan
dengan itu tumbuh dan berkembang pula organ-organ tubuhnya sebagai wanita yang sempurna. Awal
kesempurnaan itu ditandai dengan datangnya menstruasi selama masa produktif sebagian wanita menjalani
proses tersebut dengan alami dan normal (Kasdu, 2008).
Menstruasi atau haid adalah proses keluarnya darah yang terjadi secara periodic atau siklus
endometrium. Keluarnya darah dari vagina disebabkan luruhnya lapisan dalam rahim yang banyak
mengandung pembuluh darah dan sel telur yang tidak dibuahi. Pada saat akan haid, sering muncul keluhan,
khususnya para wanita muda usia produktif (Kasdu, 2008).
Premenstruasi syndrome (sekumpulan gejala yang berkaitan dengan siklus menstruasi) ialah salah
satu dari sekian banyak “kerugian” terlahir sebagai perempuan. Syndrome ini mengganggu sekitar 30-40%
perempuan usia reproduksi. Kasus terberat mencederai sekitar 2% wanita berusia 26-35 tahun.
Premenstruasi syndrome (PMS) ditandai oleh gejala khas yang timbul sebelum seorang perempuan
mengalami haid. Gejala Premenstruasi syndrome (PMS) meliputi pengurangan energi, mudah marah, napsu
makan tinggi, banyak bertumbuh jerawat serta perut kembung yang termasuk dalam tipe premenstruasi
syndrome (PMS) craving (tipe C) (Arisman, 2010).
Shreeve (1989), mengemukakan bahwa zat kimia yang terlibat pada proses menstruasi dan
pramenstruasi adalah hormon. Ketidakseimbangan hormon memainkan peranan penting atas bermacam
manifestasi sindrom pramenstruasi. Kadar estrogen yang meningkat dalam darah, dapat menyebabkan
gejala-gejala depresi dan akan mengganggu proses kimia tubuh (Vivi Lutfiah, 2007).
Ketidakseimbangan hormon pada wanita yang mengalami sindrom premenstruasi dapat
mengakibatkan gejala ansietas dan depresi. Peningkatan estrogen dapat mengganggu aktivitas vitamin B6.
Vitamin tersebut merupakan antidepresan yang berfungsi sebagai pengontrol produksi serotonin yang
berperan sebagai pengendali perasaan seseorang yang termasuk dalam tipe premenstruasi syndrome (PMS)
depression (Tipe D) (Khomsan, 2006).
Menurut Lepper dan Peipert (2004) dalam Albertina, Sindrom premenstruasi dapat terjadi karena
perubahan level hormon ovarium yang menyebabkan penurunan kadar serotonin. Serotonin berfungsi
sebagai kontrol terhadap depresi dan kecemasan (Albertina, 2013). Serotonin berperan penting dalam
mengatur emosi berupa kecemasan, ketakutan, dan depresi. Serotonin termasuk dalam sistem
neurotransmitter yang terletak di batang otak. Vitamin B6 dan magnesium membantu dalam pelepasan
serotonin yang merupakan neurotransmitter penting dalam otak. Namun, sebelum serotonin di produksi,
tubuh membutuhkan tryptophan yang merupakan asam amino yang akan di ubah menjadi 5-HTP (5-
hydroxytryptophan) yang kemudian dengan bantuan vitamin B6 dan magnesium akan diubah menjadi
serotonin yang berfungsi untuk meregulasi status emosional, tidur, dan fungsi tubuh. Gejala tersebut
merupakan ciri tipe premenstruasi syndrome (PMS) anxiety (Tipe A) (Simpson dalam Albertina, 2013).
Gejala-gejala klinis yang di jumpai pada sindrom premenstruasi di bagi menurut gejala yaitu : tipe
A, H, C dan tipe D. Sekitar 80 % merupakan gangguan premenstruasi syndrome tipe A, sedangkan tipe H
sekitar 60 %, premenstruasi syndrome tipe C sebanyak 40 % dan sindrom premenstruasi tipe D sebanyak 20
% kadang kadang seorang wanita mengalami gejala gabungan misalnya tipe A dan D secara bersamaan
(Abraham. et al dalam Evi, 2008).
Tipe sindrom premenstruasi memiliki gejalanya sendiri yaitu tipe A (anxiety) ditandai dengan gejala
seperti cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil. Bahkan beberapa wanita mengalami depresi ringan
sampai sedang saat sebelum mendapat haid. Gejala ini timbul akibat tidak seimbangnya hormon estrogen
dan progesteron, dan dijumpai kadar estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan progesteron (Abraham. et
al dalam Evi, 2008).
Sindrom premenstruasi tipe H (hyperhydiration) memiliki gejala edema (pembengkakan, perut
kembung nyeri pada payudara, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum haid).
Pembengkakan ini terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel (ekstrasel) karena tingginya
asupan garam atau gula pada diet penderita. Sindrom premenstruasi tipe C (craving) ditandai dengan rasa
4

lapar ingin mengonsumsi makan yang manis-manis (biasanya coklat) dan karbohidrat sederhana (biasanya
gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap gula dalam jumlah banyak,timbul gejala
hipoglikemia seperti kelelahan,jantung berdebar, pusing kepala yang terkadang sampai pingsan (Abraham.
et al dalam Evi, 2008).
Sindrom premenstruasi tipe D (depression) ditandai dengan gejala depresi, ingin menangis, lemah,
gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang- kadang
muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya premenstruasi syndrom tipe D berlangsung
bersamaan dengan sindrom premenstruasi tipe A, hanya sekitar 3 % dari seluruh tipe sindrom premenstruasi
benar-benar murni tipe D (Abraham. et al dalam Evi, 2008).
Studi tentang sindrom premenstruasi yang dilakukan oleh Mahin et al pada tahun 2011 di Iran,
ditemukan sebanyak 98,2% mahasiswi yang berusia 18-27 tahun mengalami gejala sindrom premenstruasi.
Gejala yang dirasakan berupa gejala fisik dan psikologis yang memengaruhi aktivitas sehari-hari, penurunan
minat belajar dan fungsi sosial terganggu. Adapun penelitian yang dilakukan oleh American College of
Obstetricians and Gynecologists (ACOG) pada tahun 2011 di Srilanka, diperoleh hasil bahwa remaja yang
mengalami sindrom premenstruasi sekitar 65,7%. Gejala yang sering muncul adalah perasaan sedih dan
tidak berpengharapan sebesar 29,6%.
Angka kejadian PMS cukup tinggi, yaitu hampir 75% wanita usia subur di seluruh dunia mengalami
PMS. Frekuensi gejala prementruasi cukup tinggi pada wanita Indonesia yaitu 80 – 90%, dan kadang –
kadang gejala tersebut sangat berat dan mengganggu kegiatan sehari-hari. Seperti yang kita ketahui, PMS ini
disebabkan oleh berlakunya ketidakseimbangan hormon – hormon di dalam tubuh seorang wanita
(Pudiastuti, 2012).
Berdasarkan data dari Divisi Imunoendokrinologi Reproduksi Departemen Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSCM, PMS merupakan kondisi medis umum yang
memengaruhi hubungan wanita, aktivitas sosial, produktivitas kerja, dan kualitas hidup. Berbagai gejala
emosional yang paling umum dialami wanita saat pra-haid meliputi perasaan mudah tersinggung sebanyak
48% dan timbul suatu kecemasan ketika menghadapi PMS, kurang berenergi atau lemas 45%, dan mudah
marah 39%. Gejala fisik yang paling umum dialami wanita meliputi kram atau nyeri perut 51%, nyeri sendi,
otot atau punggung 49%, nyeri pada payudara 46%, dan perut kembung 43% (Wahyuni, 2010).
Penelitian di Indonesia prevalensi PMS pada siswi SMA di Surabaya adalah 39,2% mengalami
gejala berat dan 60,8% mengalami gejala ringan (Christiany, 2006). Sekitar 80 % sampai 95% perempuan
antara 16 sampai 45 tahun mengalami gejala – gejala PMS yang dapat menganggu (Wijaya 2008).
Hasil penelitian Ratih, dkk menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri berusia 16-19 tahun
sebanyak 40 orang (50,60%), dan ada sebanyak 42 orang (53,20%) remaja putri di kelurahan Kedungwuni
Timur Pekalongan mengalami premenstruasi syndrome (Ratih, 2012).
Berdasarkan data yang diperoleh, pada tahun 2013 sebanyak 55,49 % remaja putri kelas XI SMA
Negeri 1 Mijen Demak menjelang atau saat menstruasi datang ke ruang UKS dengan keluhan yang dialami
yaitu pusing, nyeri perut, perut terasa kembung, perasaan lelah. Nilai tersebut besarannya hampir signifikan
dengan tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2012 sebanyak 53,87%, dan 56,12% di tahun 2011.
Dari wawancara yang dilakukan kepada 10 siswi remaja kelas XI SMA Negeri 1 Mijen Demak 6
diantaranya menyatakan bahwa setiap menjelang menstruasi mereka mengalami perubahan perasaan, rasa
lelah, nyeri pada payudara, pusing, perut kembung, gangguan konsentrasi, merasa khawatir, mudah
tersinggung, gelisah, tidak tenang yang menghilang beberapa hari setelah menstruasi. Pernyataan tersebut
menunjukkan adanya kejadian premenstruasi syndrome (PMS) yang dialami oleh remaja kelas XI. Maka
dari itu peneliti tertarik untuk meneliti “Gambaran Tipe Premenstruasi Syndrome pada Remaja kelas XI
di SMA Negeri 1 Mijen Demak”.
5

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan yaitu observasional dengan desain deskriptif dengan pendekatan
cross sectional (Notoatmojo, 2010).

B. Definisi Operasional
Hasil Skala
Variabel
Ukur Data
Pre Skor Nominal
menstruasi terendah 0
syndrome dan skor
tertinggi 5.
0 – 2,5 =
tipe ringan
2,6 – 5 =
tipe berat

C. Populasi dan Sampel


Populasi pada penelitian ini adalah remaja putri kelas XI yang mengalami premenstruasi syndrome
berjumlah 46 siswi. Total sampel yang digunakan adalah 46 responden. Teknik pengambilan sampel
yang digunakan adalah sampling jenuh.

D. Analisa Data
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel
penelitian (Notoatmojo, 2010).

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Tabel 1 Distribusi Frekuensi PMS Tipe A (Anxiety) pada remaja kelas XI SMA Negeri 1 Mijen
Demak Tahun 2014
PMS Tipe A (Anxiety) Frekuensi Persentase (%)
Berat 35 76,1
Ringan 11 23,9
Jumlah 46 100

Tabel 2 Distribusi Frekuensi PMS tipe H (Hyperhydration) pada remaja kelas XI SMA Negeri 1
Mijen Demak Tahun 2014
PMS Tipe H (Hyperhydration) Frekuensi Persentase (%)
Berat 38 82,6
Ringan 8 17,4
Jumlah 46 100
6

Tabel 3 Distribusi Frekuensi PMS Tipe C (Craving) pada remaja kelas XI SMA Negeri 1 Mijen
Demak Tahun 2014
PMS Tipe C (Craving) Frekuensi Persentase (%)
Berat 37 80,4
Ringan 9 19,6
Jumlah 46 100

Tabel 4 Distribusi Frekuensi PMS Tipe D (Depression) pada remaja kelas XI SMA Negeri 1
Mijen Demak Tahun 2014
PMS Tipe D Frekuensi Persentase (%)
(Depression)
Berat 36 78,3
Ringan 10 21,7
Jumlah 46 100

B. Pembahasan
1. Premenstruasi Syndrome (PMS) tipe A (Anxiety)
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar remaja kelas XI di SMA Negeri 1
Mijen Demak yang diteliti, menyatakan mudah marah dan mudah tersinggung menjelang
menstruasi, merasa tidak dapat menyelesaikan masalah dengan baik, merasa setres, merasa banyak
pikiran, gelisah, sedih dan cemas. Dan dari 46 remaja yang diteliti 35 diantaranya mengalami
premenstruasi syndrome (PMS) tipe A (Anxiety) berat atau sebesar 76,1% yaitu menyatakan
mengalami semua gejala dari premenstruasi syndrome (PMS) tipe A (Anxiety) dan hanya beberapa
remaja yang mengalami premenstruasi syndrome (PMS) tipe A (Anxiety) ringan yang menyatakan
mengalami sebagian gejala yang ditimbulkan yaitu sebanyak 11 siswi atau sebesar 23,9%. Angka
kejadian tersebut besarannya lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil temuan Abraham. et al
dalam Evi tahun 2008 yaitu sekitar 80 %. Ketidakseimbangan hormon merupakan salah satu
penyebab dari terjadinya Premenstruasi Syndrome Anxiety (tipe A) yaitu tingginya hormon estrogen
dibanding dengan hormon progesteron (Pudiastuti, 2012). Selain itu juga disebabkan oleh adanya
defisiensi dari vitamin B6 dan magnesium (American standart assosiation-DSM IV).
2. Premenstruasi syndrome tipe H (Hyperhydration)
Penyebab dari Premenstruasi syndrome tipe H (Hyperhydration) hampir sama dengan
penyebab dari Premenstruasi syndrome (PMS) tipe A (Anxiety). Namun yang membedakan adalah
proses kinerja dari penyebab Premenstruasi syndrome tipe H (Hyperhydration) yang menimbulkan
gejala yang berbeda. Dari hasil penelitian, diperoleh pernyataan bahwa banyak remaja kelas XI di
SMA Negeri 1 Mijen Demak yang mengalami rasa sakit pada punggung, sendi dan otot, merasa
berat badannya meningkat, payudaranya terasa nyeri atau bengkak, bengkak pada tangan atau kaki
dan perutnya kembung. Pada Premenstruasi syndrome (PMS) tipe H (Hyperhydration) ini banyak
faktor yang mempengaruhinya mulai dari ketidakseimbangan hormon, defisisensi vitamin B6,
magnesium dan konsumsi gula yang berlebih (Evi, 2008)
3. Premenstruasi syndrome (PMS) tipe C (Craving)
Mudah lapar serta adanya keinginan mengonsumsi cokelat atau gula, timbul gejala kelelahan,
jantung bedebar, pusing, bahkan sampai pingsan setelah mengkonsumsi makanan manis dalam
jumlah banyak adalah merupakan gejala dari premenstruasi syndrome (PMS) tipe C (Craving)
(Pudiastuti, 2012)
Dari hasil penelitian sebanyak 37 siswi atau sebesar 80,4% dari 46 siswi yang diteliti
mengalami premenstruasi syndrome (PMS) tipe C (Craving) berat. Dengan gejala yang dialami
yaitu merasa mudah lapar menjelang menstruasi, ingin mengkonsumsi makanan yang manis, cepat
lelah, pusing dan jantung terasa berdebar-debar. Dan sebanyak 9 siswi atau sebesar 19,6%
mengalami gejala ringan yang hanya mengalami beberapa gejala dari semua gejala yang
ditimbulkan oleh premenstruasi syndrome (PMS) tipe C (Craving). Penyebab dari timbulnya gejala
7

pada premenstruasi syndrome (PMS) tipe C (Craving) ini hampir sama dengan tipe premenstruasi
syndrome (PMS) yang lainnya yaitu adanya defisiensi dari vitamin B6, dan magnesium. Namun
yang membedakan dan merupakan faktor utama penyebab dari timbulnya gejala pada tipe
premenstruasi syndrome (PMS) tipe C (Craving) ini adalah meningkatnya pengeluaran hormon
insulin di dalam tubuh, terlalu banyak mengkonsumsi garam, setres, dan kurang konsumsi omega 6
atau magnesium (Pudiastuti, 2012).
4. Premenstruasi syndrome (PMS) tipe D (Depression)
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar remaja kelas XI di SMA Negeri 1
Mijen Demak menyatakan mengalami gejala seperti perasaan ingin menangis, susah tidur, depresi,
bingung dan sukar berkonsentrasi. Pada premenstruasi syndrome (PMS) tipe D (Depression) ini
gejala yang ditimbulkan hampir sama dengan premenstruasi syndrome (PMS) tipe A (Anxiety).
Menurut pudiastuti (2012), Gejala yang ditimbulkan premenstruasi syndrome (PMS) tipe D
(Depression) yaitu berupa ingin menangis, gangguan tidur, lemah, depresi, bingung, pelupa, sampai
ingin bunuh diri.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar remaja kelas XI di SMA Negeri 1
Mijen Demak menyatakan menglami gejala seperti perasaan ingin menangis, susah tidur, depresi,
bingung dan sukar berkonsentrasi. Dan dari 46 remaja yang diteliti, sebanyak 36 siswi atau sebesar
78,3% mengalami gejala premenstruasi syndrome (PMS) tipe D (Depression) berat dan 10 siswi
atau sebesar 21,7% . Dikatakan mengalami premenstruasi syndrome (PMS) tipe D (Depression)
berat karena semua gejala yang ditimbulkan dialami oleh remaja kelas XI di SMA Negeri 1 Mijen
Demak yang diteliti. Angka kejadian tersebut cukup tinggi dibandingkan dengan hasil temuan
Abraham. et al dalam Evi pada tahun 2008 yang hanya sebanyak 20 % dari sampel yang diteliti.

SIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat disampaikan peneliti adalah sebagian besar remaja kelas XI di SMA
Negeri 1 Mijen Demak mengalami tipe premenstruasi syndrome (PMS) berat dari masing-masing gejala
yang ditimbulkan pada tiap tipe Premenstruasi syndrome (PMS).
1. Premenstruasi syndrome Tipe A (Anxiety) dialami sejumlah 35 siswi (76,1%) dari 46 responden
yang diteliti.
2. Premenstruasi syndrome Tipe H (Hyperhydration) sejumlah 38 siswi (82,6%) dari 46 responden
yang diteliti.
3. Premenstruasi syndrome Tipe C (Craving) sejumlah 37 siswi (80,4%) dari 46 responden yang
diteliti.
4. Premenstruasi syndrome Tipe D (Depression) sejumlah 36 siswi (78,3%), dari 46 responden yang
diteliti.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah disampaikan, maka saran yang dapat disampaikan dari
peneliti adalah sebagai berikut :
1. Bagi Remaja
Untuk remaja yang mengalami premenstruasi syndrome, dapat mengatasi gejala yang
ditimbulkan oleh tiap tipe premenstruasi syndrome dengan cara :
a. Tipe Anxiety : mengkonsumsi makanan berserat, memastikan makanan yang dikonsumsi cukup
akan gizi khususnya kebutuhan akan vitamin B6 dan magnesium dan mengurangi kopi.
b. Tipe Hyperhydration : mengurangi konsumsi gula, garam, dan membatasi minum.
c. Tipe Craving : diet rendah garam dan membatasi makanan berkalori tinggi yang terlalu manis
seperti cokelat, gula, dan es krim.
d. Tipe Depression : mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 kacang-kacngan, beras
merah, kedelai, dan magnesium (sayuran hijau segar dan buah-buahan).
8

2. Bagi sekolah tempat penelitian


Menambah wawasan dan pengetahuan kepada remaja khususnya remaja putri tentang cara
mengatasi gejala yang ditimbulkan dari tiap tipe pada premenstruasi syndrome melalui penyuluhan
dan dengan menambah referensi buku tentang kesehatan reproduksi sebagai sarana membaca
diperpustakaan.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Kepada peneliti selanjutnya, untuk dapat diteliti lebih lanjut tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya gejala premenstruasi syndrome secara lebih mendalam.
4. Bagi institusi pendidikan
Sebagai bahan acuan atau referensi tentang kebijakan yang berkaitan dengan kesehatan
reproduksi tentang premenstuasi syndrome khususnya tipe-tipe pada premenstuasi syndrome .

DAFTAR PUSTAKA
Albertina, Alen. (2013). Tingkat Kecemasan pada Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian
Mahasiswi yang Mengalami Sindrom kesehatan (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka
Premenstruasi di Asrama Lili Universitas Cipta.
Advent Indonesia Bandung. Bandung : Nursalam. (2005). Konsep dan penerapan
Universitas Advent Indonesia metodologi penelitian ilmu keperawatan:
Al-mighwar, Muhammad. (2006). Psikologi pedoman skripsi, tesis dan instrumen
Remaja (Petunjuk bagi Guru dan Orang penelitian (edisi pertama). Jakarta: Salemba
Tua). Bandung : Pustaka Setia. medika.
Arisman, Dr. (2010). Gizi dalam daur kehidupan. Omar, Mohsin, Muthupalaniappen, Idris, Amin &
Jakarta: EGC. Shamsudin. (2009). Premenstrual Symptoms
Aris, S. (2011). Statistik untuk Penelitian and Remedies Practiced by Malaysian
Kesehatan. Yogjakarta : Nuha Medika Women Attending A Rural Primary Care
Brunner dan Suddart (2001). Buku Ajar Clinic. Malaysia : African Journal of
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC. Primary Health Care & Family Medicine.
Eny Kusmiran. (2011). Kesehatan Reproduksi Patricia o.chocano-Bedoya, John E.Manson,
Remaja Dan Wanita. Jakarta: Salemba Susan E. Hankinson, Susan R. Johnson, Lisa
Medika Chasan-Taber, Alayne G. Ronnenberg,
Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Carol Bigelow and Elizabeth R. Bortone-
Multivariate dengan Program SPSS. Johnson. Intake Of Selected Minerals And
Semarang: UNDIP Press. Risk Of Premenstrual Syndrome. Am. J.
Hidayat, Azis Alimul. (2007). Pusat keperawatan Epidemiol. 2012.
& teknik penulisan ilmiah. Jakarta: Salemba Proverawati & Siti, M. (2009). Menarch
Medika Menstruasi Pertama Penuh Makna.
Kasdu, Dini. (2008). Solusi Problem Wanita Yogyakarta: Nuha Medika.
Dewasa. Jakarta: Puspa Warna. Pudiastuti, Ratna Dewi. (2012). 3 Fase Penting
Khomsan, A. (2006). Sehat Dengan Makanan Pada Wanita. Jakarta: PT Elex Media
Berkhasiat. Jakarta: Kompas Media Komputindo.
Nusantara. Rosandi, Eva. (2009). Faktor-Faktor yang
Lustyk, Beam, Miller, and Olson. (2006). Mempengaruhi Terjadinya Gejala
Relationships Among Perceived Stress, Premenstruasi Sindrom. Universitas
Premenstrual Symptomatology and Pembangunan Nasional “Veteran”.
Spiritualwell-Being Inwomen. Journal of Sugiyono. (2003). Statistika untuk penelitian.
Psychology and Theology. Bandung: Alfabeta
Muhammad, A.M. (2006). Psikologi Remaja. Suharsimi, A. (2010). Prosedur Penelitian Suatu
Bandung : CV Pustaka Setia Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta
Nerendra. (2005). Tumbuh kembang anak dan Utamadi & Hidayati. 2009. Website Untuk remaja
remaja. Jakarta: IDAI Indonesia, Available Online :
http//www.geocities.com, 26 Mei 2009
9

Vivi Lutfiah. (2007). Hubungan Konsumsi


Pangan Sumber Kalsium dengan Keluhan
Menstruasi Pada Remaja Program Studi
Gizi Masyarakat dan Sumberdaya
Keluarga. Bogor : Institut Pertanian Bogor.