Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keberhasilan pertolongan terhadap penderita gawat darurat sangat tergantung
dari kecepatan dan ketepatan dalam memberikan pertolongan. Semakin cepat pasien
ditemukan maka semakin cepat pula pasien tersebut mendapat pertolongan sehingga
terhindar dari kecacatan atau kematian. Kondisi kekurangan oksigen merupakan
penyebab kematian yang cepat. Kondisi ini dapat diakibatkan karena masalah sistem
pernafasan ataupun bersifat sekunder akibat dari gangguan sistem tubuh yang lain.
Pasien dengan kekurangan oksigen dapat jatuh dengan cepat ke dalam kondisi gawat
darurat sehingga memerlukan pertolongan segera. Apabila terjadi kekurangan oksigen 6-
8 menit akan menyebabkan kerusakan otak permanen, lebih dari 10 menit akan
menyebabkan kematian.
Data morbiditas dan mortilitas yang telah dipublikasikan menunjukkan
dimana kesulitan dalam menangani jalan napas dan kesalahan dalam tatalaksananya
justru akan memberikan hasil akhir yang buruk bagi pasien tersebut. Keenan dan Boyan
melaporkan bahwa kelalaian dalam memberikan ventilasi yang adekuat menyebabkan 12
dari 27 pasien yang sedang dioperasi mengalami mati jantung (cardiac arrest). Salah satu
penyebab utama dari hasil akhir tatalaksana pasien yang buruk yang didata oleh
American Society of Anesthesiologist (ASA) berdasarkan studi tertutup terhadap
episode pernapasan yang buruk, terhitung sebanyak 34% dari 1541 pasien dalam studi
tersebut. Tiga kesalahan mekanis, yang terhitung terjadi sebanyak 75% pada saat
tatalaksanan jalan napas yaitu : ventilasi yang tidak adekuat (38%), intubasi esofagus
(18%), dan kesulitan intubasi trakhea (17%). Sebanyak 85% pasien yang didapatkan dari
studi kasus, mengalami kematian dan kerusakan otak. Sebanyak 300 pasien (dari 15411
pasien di atas), mengalami masalah sehubungan dengan tatalaksana jalan napas yang
minimal.
Menurut Cheney et al menyatakan beberapa hal yang menjadi komplikasi
dari tatalaksana jalan napas yang salah yaitu : trauma jalan napas, pneumothoraks,
obstruksi jalan napas, aspirasi dan spasme bronkus. Berdasarkan data-data tersebut, telah
jelas bahwa tatalaksana jalan napas yang baik sangat penting bagi keberhasilan proses
operasi dan beberapa langkah berikut adalah penting agar hasil akhir menjadi baik, yaitu
: (1) anamnesa dan pemeriksaan fisik, terutama yang berhubungan dengan penyulit
dalam sistem pernapasan, (2) penggunaan ventilasi supraglotik ( seperti face mask,
Laryngeal Mask Airway/LMA), (3) tehnik intubasi dan ekstubasi yang benar, (4)
rencana alternatif bila keadaan gawat darurat terjadi. Oleh karena itu pengkajian
pernafasan pada penderita gawat darurat penting dilakukan secara efektif dan efisien dan
penatalaksanaan jalan nafas (airway management) perlu dilakukan.

B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan definisi Airway dan Breathing Manajemen ?
2. Bagaimana Anatomi dan Fisiologi Jalan Napas ?
3. Menjelaskan macam-macam gangguan pada jalan napas ?
4. Bagaimana Teknik Pengelolaan Jalan Nafas/Manajemen ?
5. Pengelolaan Jalan Nafas Dengan Alat ?
6.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Manajemen Airway dan Breathing


1. Definisi Manajemen Airway
Airway management ialah memastikan jalan napas terbuka. Tindakan paling
penting untuk keberhasilan resusitasi adalah segera melapangkan saluran pernapasan
dengan tujuan untuk menjamin jalan masuknya udara ke paru secara normal sehingga
menjamin kecukupan oksigenasi jaringan (American Society of Anesthesiologists,
2013).
Menurut Bingham (2008), airway management adalah prosedur medis yang
dilakukan untuk mencegah obstruksi jalan napas untuk memastikan jalur nafas
terbuka antara paru-paru pasien dan udara luar. Hal ini dilakukan dengan membuka
jalan nafas atau mencegah obstruksi jalan napas yang disebabkan oleh lidah, saluran
udara itu sendiri, benda asing, atau bahan dari tubuh sendiri, seperti darah dan cairan
lambung yang teraspirasi.
2. Definisi Manajemen Breathing
Bernapas adalah usaha seseorang secara tidak sadar/otomatis untuk melakukan
pernafasan. Tindakan ini merupakan salah satu dari prosedur resusitasi jantung paru
(RJP). Untuk menilai seseorang bernafas secara normal dapat dilihat dari berapa kali
seseorang bernapas dalam satu menit, secara umum;
1. Frekuensi/jumlah pernapasan 12-20x/menit (dewasa), anak (20-30x/menit), bayi
(30-40x/menit)
2. Dada sampai mengembang
Pernapasan dikatakan tidak baik atau tidak normal jika terdapat keadaan berikut ini:
1. Ada tanda-tanda sesak napas: peningkatan frekuensi napas dalam satu menit
2. Ada napas cuping hidung (cuping hidung ikut bergerak saat bernafas)
3. Ada penggunaan otot-otot bantu pernapasan (otot sela iga, otot leher, otot perut)
4. Warna kebiruan pada sekitar bibir dan ujung-ujung jari tangan
5. Tidak ada gerakan dada
6. Tidak ada suara napas
7. Tidak dirasakan hembusan napas
8. Pasien tidak sadar dan tidak bernapas
Tindakan-tindakan ini dapat dilakukan bila pernapasan seseorang terganggu:
1. Cek pernapasan dengan melihat dada pasien dan mendekatkan pipi dan telinga ke hidung
dan mulut korban dengan mata memandang ke arah dada korban (max 10 detik)
2. Bila korban masih bernapas namun tidak sadar maka posisikan korban ke posisi mantap
(posisikan tubuh korban miring ke arah kiri) dan pastikan jalan napas tetap terbuka; segera
minta bantuan dan pastikan secara berkala (tiap 2 menit) di cek pernapasannya apakah korban
masih bernapas atau tidak.
Jika korban bernapas tidak efektif (bernapas satu-satu, ngap-ngap, atau tidak
bernapas):
1. Aktifkan sistem gawat darurat (bila ada orang lain minta orang lain untuk mencari atau
menghubungi gawat darurat)
2. Buka jalan napas dengan menengadahkan kepala korban dan menopang dagu korban
(head tilt dan chin lift)
3. Pastikan tidak ada sumbatan dalam mulut korban; bila ada sumbatan dapat dibersihkan
dengan sapuan jari-balut dua jari anda dengan kain dan usap dari sudut bibir sapu ke dalam
dan ke arah luar
4. Berikan napas buatan dengan menarik napas biasa lalu tempelkan bibir anda ke bibir
korban dengan perantaraan alat pelindung diri (face mask, face shield) lalu hembuskan
perlahan >1 detik sambil jari tangan anda menutup hidung korban dan mata anda melihat ke
arah dada korban untuk menilai pernapasan buatan yang anda berikan efektif atau tidak
(dengan naiknya dada korban maka pernapasan buatan dikatakan efektif)
5. Berikan nafas buatan 2x lalu periksa denyut nadi korban (menggunakan jari telunjuk dan
jari tengah raba bagian tengah jakun, lalu geser ke arah samping hingga teraba lekukan di
pinggir jakun tersebut) didaerah leher seperti pada gambar; bila tidak ada denyut maka masuk
ke langkah CPR
6. Bila ada denyut nadi maka berikan napas buatan dengan frekuensi 12x/menit/1 tiap 5
detik sampai korban sadar dan bernapas kembali atau tenaga paramedis datang; dan selalu
periksa denyut nadi korban apakah masih ada atau tidak setiap 2 menit.

B. Anatomi dan Fisiologi Jalan Napas


Respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O²) yang dibutuhkan tubuh
untuk metabolisme sel dan karbondioksida (CO²) yang dihasilkan dari metabolisme
tersebut dikeluarkan dari tubuh melalui paru. Saluran pernapasan terbagi atas beberapa
bagian yaitu:
1. Saluran Nafas Bagian Atas
a. Rongga hidung
Merupakan fungsi utama dari selaput lendir respirasi (terdiri
dari: Psedostrafied ciliated columnar epithelium) yang berfungsi menggerakkan
partikel partikel halus kearah faring sedangkan partikel yang besar akan disaring
oleh bulu hidung, sel golbet dan kelenjar serous yang berfungsi melembabkan
udara yang masuk, pembuluh darah yang berfungsi menghangatkan udara). Ketiga
hal tersebut dibantu dengan concha. Kemudian udara akan diteruskan ke:
b. Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius).
c. Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal
lidah).

d. Laringofaring (terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan).


Normalnya, manusia akan berusaha bernapas melalui hidung, dan pada keadaan
tertentu akan bernapas melalui mulut. Udara yang masuk akan mengalami proses
penghangatan dan pelembapan. Pada korban yang tidak sadar, lidah akan terjatuh
kebelakang rongga mulut. hal ini dapat menyebabkan gangguan pada airway.
Lidah pada bayi lebih besar secara relatif sehingga lebih mudah menyumbat
airway.
2. Saluran Nafas Bagian Bawah
a. Laring: Terdiri dari Tulang rawan krikoid, Selaput/pita suara, Epilotis, Glotis.
b. Trakhea: Merupakan pipa silider dengan panjang ± 11 cm, berbentuk ¾ cincin
tulang rawan seperti huruf C. Bagian belakang dihubungkan oleh membran
fibroelastic menempel pada dinding depan usofagus. Pada bayi, trakea berukuran
lebih kecil, sehingga tindakan mendongakan kepala secara berlebihan
(hiperekstensi) akan menyebabkan sumbatan pada airway.
c. Bronkhi: Merupakan percabangan trakhea kanan dan kiri. Tempat percabangan ini
disebut carina. Brochus kanan lebih pendek, lebar dan lebih dekat
dengan trachea. Bronchus kanan bercabang menjadi: lobus superior, medius,
inferior. Brochus kiri terdiri dari : lobus superior daninferior
d. Epiglotis: Trakea dilindungi oleh sebuah flap berbentuk daun yang berukuran
kecil yang dinamakan epiglotis. Normalnya, epiglotis menutup laring pada saat
makanan atau minuman masuk melalui mulut, sehingga akan diteruskan ke
esofagus. Tetapi, pada keadaan tertentu seperti trauma atau penyakit, refleks ini
tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, sehingga dapat terjadi masuknya
benda padat atau cair ke laring yang dapat mengakibatkan tersedak.
3. Alveoli
Terdiri dari: membran alveolar dan ruang interstisial. Membran alveolar:
a. Small alveolar cell dengan ekstensi ektoplasmik ke arah rongga alveo
b. Large alveolar cell mengandung inclusion bodies yang menghasilkan surfactant.
c. Anastomosing capillary, merupakan system vena dan arteri yang saling
berhubungan langsung, ini terdiri dari : sel endotel, aliran darah dalam
rongga endote
d. Interstitial space merupakan ruangan yang dibentuk oleh: endotel kapiler, epitel
alveoli, saluran limfe, jaringan kolagen dan sedikit serum. Aliran pertukaran gas:
Proses pertukaran gas berlangsung sebagai berikut: alveoli epitel alveoli «
membran dasar « endotel kapiler « plasma « eitrosit. Membran « sitoplasma
eritrosit « molekul hemoglobin. Surfactant: Mengatur hubungan antara cairan dan
gas. Dalam keadaan normal surfactant ini akan menurunkan tekanan permukaan
pada waktu ekspirasi, sehingga kolaps alveoli dapat dihindari.
4. Sirkulasi Paru
Mengatur aliran darah vena-vena dari ventrikel kanan ke arteri pulmonalis dan
mengalirkan darah yang bersifat arterial melaului vena pulmonalis kembali
ke ventrikel kiri.
5. Bronkus dan paru
Merupakan jalinan atau susunan bronhus bronkhiolus, bronkhiolus
terminalis, bronkhiolus respiratoty, alveoli, sirkulasi paru, syaraf, sistem limfatik
.Pada alveolus akan terjadi pertukaran oksigen dengan karbondioksida.
6. Rongga dan Dinding Dada
Rongga ini terbentuk oleh:
a. Otot-otot interkostalis
b. Otot -otot pektoralis mayor dan minor
c. Otot- otot trapezius
d. Otot-otot seratus anterior/posterior
e. Kosta- kosta dan kolumna vertebralis
f. Kedua hemi diafragma, yang secara aktif mengatur mekanik respirasi.

C. Macam-macam Gangguan Jalan Napas


1. Obstruksi jalan nafas dibagi menjadi 2 berdasarkan derajat sumbatan :
a. Obstruksi total
Keadaan dimana jalan nafas menuju paru-paru tersumbat total, sehingga
tidak ada udara yang masuk ke paru-paru. Terjadi perubahan yang akut berupa
hipoksemia yang menyebabkan terjadinya kegagalan pernafasan secara cepat.
Sementara kegagalan pernafasan sendiri menyebabkan terjadinya kegagalan
fungsi kardiovaskuler dan menyebabkan pula terjadinya kegagalan SSP dimana
penderita kehilangan kesadaran secara cepat diikuti dengan kelemahan motorik
bahkan mungkin pula terdapat renjatan (seizure). Bila tidak dikoreksi dalam
waktu 5 – 10 menit dapat mengakibatkan asfiksia (kombinasi antara hipoksemia
dan hipercarbi), henti nafas dan henti jantung.
b. Obstruksi parsial
Sumbatan pada sebagian jalan nafas sehingga dalam keadaan ini udara
masih dapat masuk ke paru-paru walaupun dalam jumlah yang lebih sedikit.
Bila tidak dikoreksi dapat menyebabkan kerusakan otak. Hal yang perlu
diwaspadai pada obstruksi parsial adalah Fenomena Check Valve yaitu udara
dapat masuk, tetapi tdk keluar.
2. Obstruksi jalan nafas berdasarkan penyebab
Keadaan yang harus diwaspadai adalah :
a. Trauma
Trauma dapat disebabkan oleh karena kecelakaan, gantung diri, atau kasus
percobaan pembunuhan. Lokasi obstruksi biasanya terjadi di tulang rawan sekitar,
misalnya aritenoid, pita suara dll.
a) Trauma maksilofasial
Trauma pada wajah membutuhkan mekanisme pengelolaan airway
yang agresif. Contoh mekanisme penyebab cedera ini adalah
penumpang/pngemudi kendaraan yang tidak menggunakan sabuk pengaman
dan kemudian terlempar mengenai kaca depan dan dashboard. Trauma pada
daerah tengah wajah dapat menyebabkan fraktur-dislokasi dengan gangguan
pada nasofaring dan orofaring.
b) Trauma leher
Cedera tumpul atau tajam pada leher dapat menyebabkan kerusakan
pada laring atau trakhea yang kemudian meyebabkan sumbatan airway atau
perdarahan hebat pada sistem trakheobronkial sehingga sebegra memerlukan
airway definitif. Cedera leher dapat menyebabkan sumbatan airway parsial
karena kerusakan laring dan trakea atau penekanan pada airway akibat
perdarahan ke dalam jaringan lunak di leher.
c) Trauma laringeal
Meskipun fraktur laring merupakan cedera yang jarang terjadi, tetapi
hal ini daat menyebabkan sumbatan airway akut.
b. Benda asing, dapat tersangkut pada:
a) Laring
Terjadinya obstruksi pada laring dapat diketahui melalui tanda-tanda
sebagai berikut, yakni secara progresif terjadi stridor, dispneu, apneu,
disfagia, hemopsitis, pernafasan dengan otot-otot nafas tambahan, atau dapat
pula terjadi sianosis.
b) Trakea
Benda asing di dalam trakea tidak dapat dikeluarkan, karena tersangkut
di dalam rima glotis dan akhirnya tersangkut dilaring dan menimbulkan gejala
obstruksi laring
c) Bronkus
Biasanya akan tersangkut pada bronkus kanan, oleh karena
diameternya lebih besar dan formasinya dilapisi oleh sekresi bronkhus.

D. Teknik Pengelolaan Jalan Nafas/Manajemen


Airway Manajemen airway/jalan napas merupakan salah satu ketrampilan khusus
yang harus dimiliki oleh dokter atau petugas kesehatan yang bekerja di Unit Gawat
Darurat. Manajemen jalan napas memerlukan penilaian, mempertahankan dan
melindungi jalan napas dengan memberikan oksigenasi dan ventilasi yang efektif.
a) Pengelolaan Jalan Nafas dengan Mengeluarkan benda asing dari jalan nafas Teknik
Mengeluarkan Benda Asing Pada Pasien Dewasa Sadar
(a) Manuver Heimlich/Abdominal Thrust (hentakan pada perut), langkah – langkah
sebagai berikut:
1. Langkah 1
 Memastikan pasien/korban tersedak, tanyakan” apakah anda tersedak ?”
 Jika pasien/korban mengiyakan dengan bersuara dan masih dapat bernafas serta
dapat batuk, mintalah pasien/korban batuk sekeras mungkin agar benda asing
dapat keluar dari jalan napas
 Bila jalan napas pasien/korban tersumbat, dia tidak dapat berbicara, bernapas,
maupun batuk dan wajah pasien/korban kebiruan (sumbatan total). Penolong
harus segera melakukan langkah berikutnya.
2. Langkah 2
 Bila pasien/korban berdiri penolong berdiri di belakang pasien/korban, bila
pasien/korban duduk penolong berlutut dan berada di belakang pasien/korban.
 Letakkan satu kaki di antara kedua tungkai pasien/korban

Gambar 3. Abdominal Thrust


3. Langkah 3
 Lingkarkan lengan anda pada perut pasien/korban dan cari pusar
 Letakkan 2 jari di atas pusar
 Kepalkan tangan yang lain
 Tempatkan sisi ibu jari kepalan tangan pada dinding abdomen di atas dua jari
tadi  Minta pasien/korban membungkuk dan genggam kepalan tangan anda
dengan tangan yang lain
 Lakukan hentakan ke arah dalam dan atas (sebanyak 5 kali )
 Periksa bilamana benda asing keluar setiap 5 kali hentakan
 Ulangi abdominal thrust sampai benda asing keluar atau pasien/korban tidak
sadar
(b) Chest Thrust (Hentakkan Dada)
Langkahnya sama dengan Manuver Heimlich bedanya pada peletakan sisi ibu
jari kepalan tangan pada pertengahan tulang dada pasien/korban dan hentakan
dilakukan hanya ke arah dalam serta posisi kepala pasien/korban menyandar di
bahu penolong.
Teknik Pertolongan Sumbatan Benda Asing Pada Pasien Dewasa Tidak Sadar
1) Langkah 1
Posisikan pasien/korban terlentang di alas yang datar dan keras.
2) Langkah 2
 Buka jalan napas pasien/korban dengan head tilt-chin lift
 Periksa mulut pasien/korban untuk melihat bilamana tampak benda asing.
 Untuk memeriksa jalan nafas terutama di daerah mulut, dapat dilakukan
teknik Cross Finger yaitu dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk
yang disilangkan dan menekan gigi atas dan bawah. Kegagalan membuka
nafas dengan cara ini perlu dipikirkan hal lain yaitu adanya sumbatan jalan
nafas di daerah faring atau adanya henti nafas (apnea).

Gambar 4. Cross Finger


 Bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing dalam rongga mulut
dilakukan pembersihan manual dengan sapuan jari (finger sweep).
Gambar 5. Finger Sweep
3) Langkah 3
 Evaluasi pernapasan pasien/korban dengan melihat, mendengar dan
merasakan
 Bila tidak ada napas, lakukan ventilasi
 Bila jalan napas tersumbat, reposisi kepala dan lakukan ventilasi ulang
4) Langkah 4
Bila jalan napas tetap tersumbat, lakukan 30 kompresi dada (posisi tangan
untuk kompresi dada sama dengan RJP dewasa)
5) Langkah 5
Ulangi langkah 2-4 sampai ventilasi berhasil (ventilasi berhasil bila terjadi
pengembangan dinding dada)
6) Langkah 6
 Evaluasi nadi, tanda-tanda sirkulasi ketika jalan napas bebas
Jika nadi tidak teraba, perlakukan sebagai henti jantung, lanjutkan RJP
30:2
 Jika nadi teraba, periksa pernapasan
 Jika tidak ada napas, lakukan bantuan napas 10-12x/menit (satu tiupan
tiap 5-6 detik) dengan hitungan satu ribu, dua ribu, tiga ribu, empat ribu,
tiup. Ulangi sampai 12 kali
 Jika nadi dan napas ada, letakkan pasien/korban pada posisi recovery
 Evaluasi nadi, tanda-tanda sirkulasi dan pernapasan tiap beberapa menit
Teknik Pertolongan Sumbatan Benda Asing Pada Anak Dibawah 1
tahun.
Berikut langkah-langkah manuver tepukan punggung dan hentakan dada
pada bayi:
 Posisikan bayi pada posisi menengadah dengan telapak tangan yang
berada di atas paha menopang belakang kepala bayi dan tangan lainnya
menekan dada bayi.
 Lakukan manuver hentakkan (chest thrust) pada dada sebanyak lima kali
dengan menggunakan jari tengah dan telunjuk tangan sejajar dengan
putting susu bayi.
 untuk Anak dibawah 1 tahun c. Lalu, balikkan bayi sehingga bayi berada
pada posisi menelungkup dan lakukan tepukan di punggung (back blow)
dengan menggunakan pangkal telapak tangan sebanyak lima kali

Gambar 6. Chest thrust


 Kemudian, dari posisi menelungkup, telapak tangan penolong yang bebas
menopang bagian belakang kepala bayi sehingga bayi berada di antara kedua
tangan kita (tangan satu menopang bagian belakang kepala bayi, dan satunya
menopang mulut dan wajah bayi).
 Lakukan tepukan pada punggung bayi sebanyak 5 kali, lalu kembali lakukan
manuver hentakan/dorongan pada dada bayi dengan posisi telungkup.
b) Pengelolaan Jalan Nafas Secara Manual
Pada pasien yang tidak sadar, penyebab tersering sumbatan jalan napas yang terjadi
adalah akibat hilangnya tonus otot-otot tenggorokan. Dalam kasus ini lidah jatuh ke
belakang dan menyumbat jalan napas ada bagian faring. Letakkan pasien pada posisi
terlentang pada alas keras ubin atau selipkan papan kalau pasien diatas kasur. Jika
tonus otot menghilang, lidah akan menyumbat faring dan epiglotis akan menyumbat
laring. Lidah dan epiglotis penyebab utama tersumbatnya jalan nafas pada pasien
tidak sadar. Untuk menghindari hal ini dilakukan beberapa tindakan, yaitu:
 Perasat kepala tengadah-dagu diangkat (head tilt-chin lift manuver)
Perasat ini dilakukan jika tidak ada trauma pada leher. Satu tangan penolong
mendorong dahi kebawah supaya kepala tengadah, tangan lain mendorong dagu
dengan hati-hati tengadah, sehingga hidung menghadap keatas dan epiglotis
terbuka, sniffing position, posisi hitup.
 Perasat dorong rahang bawah (jaw thrust manuver)
Pada pasien dengan trauma leher, rahang bawah diangakat didorong kedepan pada
sendinya tanpa menggerakkan kepala leher. Karena lidah melekat pada rahang
bawah, maka lidah ikut tertarik dan jalan nafas terbuka. Dalam melakukan teknik
membebaskan jalan nafas agar selalu diingat untuk melakukan proteksi Cervical-
spine terutama pada pasien trauma/multipel trauma.
Dalam melakukan teknik membebaskan jalan nafas agar selalu diingat untuk
melakukan proteksi Cervical-spine terutama pada pasien trauma/multipel trauma.

Gambar 8: Teknik Head Tilt-Chin Lift

Gambar 9: Teknik Jaw Thrust

E. Pengelolaan Jalan Nafas Dengan Alat


Hilangnya tonus otot jalan nafas bagian atas pada pasien yang tidak sadar atau
dianestesi menyebabkan lidah dan epiglotis jatuh kebelakang kearah dinding
posterior faring. Mengubah posisi kepala atau jaw thrust merupakan teknik yang
disukai untuk membebaskan jalan nafas. Untuk mempertahankan jalan nafas bebas,
jalan nafas buatan (artificial airway) dapat dimasukkan melalui mulut atau hidung
untuk menimbulkan adanya aliran udara antara lidah dengan dinding faring bagian
posterior (Gambar 11). Pasien yang sadar atau dalam anestesi ringan dapat terjadi
batuk atau spasme laring pada saat memasang jalan nafas artifisial bila refleks laring
masih intact.

(a) Oropharyngeal Airway (OPA)


Pemasangan oral airway kadang-kadang difasilitasi dengan penekanan refleks
jalan nafas dan kadang-kadang dengan menekan lidah dengan spatel lidah. Oral
airway dewasa umumnya berukuran kecil (80 mm/Guedel No 3), medium (90
mm/Guedel no 4), dan besar (100 mm/Guedel no 5). Alat bantu napas ini hanya
digunakan pada pasien yang tidak sadar bila angkat kepala-dagu tidak berhasil
mempertahankan jalan napas atas terbuka. Alat ini tidak boleh digunakan pada
pasien sadar atau setengah sadar karena dapat menyebabkan batuk dan muntah.
Jadi pada pasien yang masih ada refleks batuk atau muntah tidak diindikasikan
untuk pemasangan OPA.

Gambar 12. Pemasangan OPA


Setelah pemasangan OPA, lakukan pemantauan pada pasien. Jagalah agar
kepala dan dagu tetap berada pada posisi yang tepat untuk menjaga patensi jalan
napas. Lakukan penyedotan berkala di dalam mulut dan faring bila ada sekret,
darah atau muntahan.
Perhatikan hal-hal berikut ini ketika menggunakan OPA :
 Bila OPA yang dipilih terlalu besar dapat menyumbat laring dan
menyebabkan trauma pada struktur laring.
 Bila OPA terlalu kecil atau tidak dimasukkan dengan tepat dapat menekan
dasar lidah dari belakang dan menyumbat jalan napas.
 Masukkan dengan hati-hati untuk menghindari terjadinya trauma jaringan
lunak pada bibir dan lidah.
(b) Nasopharyngeal Airway (NPA)
Panjang nasal airway dapat diperkirakan sebagai jarak antara lubang hidung ke
lubang telinga, dan kira-kira 2-4 cm lebih panjang dari oral airway. Disebabkan
adanya resiko epistaksis, nasal airway tidak boleh digunakan pada pasien yang
diberi antikoagulan atau anak dengan adenoid. Juga, nasal airway jangan
digunakan pada pasien dengan fraktur basis cranii. Setiap pipa yang dimasukkan
melalui hidung (nasal airway, pipa nasogastrik, pipa nasotrakheal) harus
dilubrikasi. Nasal airway lebih ditoleransi daripada oral airway pada pasien
dengan anestesi ringan

Gambar 13: Pemasangan Nasofaringeal Airway


(c) Face Mask Design dan Teknik
Penggunaan face mask dapat memfasilitasi pengaliran oksigen dari sistem
breathing ke pasien dengan pemasangan face mask dengan rapat (gambar 15).
Lingkaran dari face mask disesuaikan dengan bentuk muka pasien. Face mask
yang transparan dapat mengobservasi uap gas ekspirasi dan muntahan. Ventilasi
yang efektif memerlukan jalan nafas yang bebas dan face mask yang rapat/tidak
bocor. Teknik pemasangan face mask yang tidak tepat dapat menyebabkan
reservoir bag kempis walaupun klepnya ditutup, hal ini menunjukkan adanya
kebocoran sekeliling face mask. Sebaliknya, tekanan sirkuit breathing yang tinggi
dengan pergerakan dada dan suara pernafasan yang minimal menunjukkan
adanya obstruksi jalan nafas.
Gambar 14. Teknik memegang face mask dengan satu tangan

Gambar 15. Face mask dewasa


Gambar 16. Difficult airway dapat diatasi dengan teknik memegang dengan dua
tangan
Pada situasi yang sulit, diperlukan dua tangan untuk mendapatkan jaw thrust
yang adekuat dan face mask yang rapat. Karena itu diperlukan seorang asisten
untuk memompa bag (gambar 16).
(d) Laryngeal Mask Airway (LMA)
LMA memiliki kelebihan istimewa dalam menentukan penanganan kesulitan
jalan nafas. LMA memberikan alternatif untuk ventilasi selain face mask atau TT.
Kontraindikasi untuk LMA adalah pasien dengan kelainan faring (misalnya
abses), sumbatan faring, lambung yang penuh (misalnya kehamilan, hernia
hiatal), atau komplians paru rendah (misalnya penyakit restriksi jalan nafas) yang
memerlukan tekanan inspirasi puncak lebih besar dari 30 cm H2O. Walaupun
LMA tidak sebagai penganti untuk trakheal intubasi, LMA membuktikan sangat
membantu terutama pada pasien dengan jalan nafas yang sulit (yang tidak dapat
diventilasi atau diintubasi) disebabkan mudah untuk memasangnya dan angka
keberhasilannya relatif besar (95- 99%)

Gambar 17. Pemasangan LMA


(e) Intubasi dengan Endotrakeal Tube (ETT)
ETT telah dimodifikasi untuk berbagai penggunaan khusus. Pipa yang lentur,
spiral, wire – reinforced TT (armored tubes), tidak kinking dipakai pada operasi
kepala dan leher, atau pada pasien dengan posisi telungkup. Jika pipa lapis baja
menjadi kinking akibat tekanan yang ekstrim (contoh pasien bangun dan
menggigit pipa), lumen pipa akan tetutup dan pipa TT harus diganti

Gambar 18. Endotrakeal Tube


(f) Combitube Pipa kombinasi esophagus – tracheal (ETC)
terbuat dari gabungan 2 pipa, masingmasing dengan konektor 15 mm pada ujung
proksimalnya. Meskipun pipa kombinasi masih rerdaftar sebagai pilihan untuk
penanganan jalan nafas yang sulit dalam algoritma Advanced Cardiac Life
Support, biasanya jarang digunakan oleh dokter anestesi yang lebih suka
memakai LMA atau alat lain untuk penanganan pasien dengan jalan nafas yang
sulit

Gambar 19. Pemasangan Combitude


(g) Pengelolaan Jalan Nafas Dengan Pengisapan Benda Cair (suctioning)
Bila terdapat sumbatan jalan nafas oleh benda cair. Pengisapan dilakukan dengan
alat bantu pengisap (pengisap manual atau dengan mesin)
(h) Pengelolaan Jalan Nafas dengan Tindakan Operasi
Metode bedah untuk manajemen jalan napas mengandalkan membuat sayatan
bedah dibuat di bawah glotis untuk mencapai akses langsung ke saluran
pernapasan bagian bawah, melewati saluran pernapasan bagian atas. Manajemen
jalan napas bedah sering dilakukan sebagai upaya terakhir dalam kasus di mana
Orotracheal dan intubasi nasotrakeal tidak mungkin atau kontraindikasi.
Manajemen jalan napas bedah 18 juga digunakan ketika seseorang akan
membutuhkan ventilator mekanik untuk jangka waktu lama. Metode bedah untuk
manajemen jalan napas termasuk cricothyrotomy dan trakeostomi.
Cricothyrotomy adalah sayatan dilakukan melalui kulit dan membran krikotiroid
untuk membangun jalan napas paten selama situasi yang mengancam jiwa
tertentu, seperti obstruksi jalan napas oleh benda asing, angioedema, atau trauma
wajah besar. Cricothyrotomy hampir selalu dilakukan sebagai jalan terakhir
dalam kasus di mana Orotracheal dan intubasi nasotrakeal tidak mungkin atau
kontraindikasi. Cricothyrotomy lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan
daripada tracheostomy, tidak memerlukan manipulasi tulang belakang leher dan
berhubungan dengan komplikasi yang lebih sedikit. Tracheostomy adalah
pembukaan operasi dibuat dari kulit leher ke trakea. Sebuah tracheostomy di
mana seseorang akan perlu berada di ventilator mekanik untuk jangka waktu
lama. Keuntungan dari tracheostomy termasuk risiko kurang dari infeksi dan
kerusakan trakea seperti trakea stenosis.