Anda di halaman 1dari 1

lembaga yang mengatur perihal mengenai pendidikan bedah pada tahun 1967, yaitu Majelis

Nasional Penilai Ahli Bedah (MNPAB); bersamaan dengan berdirinya organisasi profesi ahli
bedah (Ikatan Ahli Bedah Indonesia, disingkat IKABI). Pada tahun 1977, Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bersama Departemen
Kesehatan, Majelis Ahli, Ikatan Dokter Indonesia dan Perhimpunan Dokter Ahli merumuskan
Sistem Pendidikan Tinggi Bidang Kedokteran (scientific curriculum) yang diterapkan pada
Katalog Program Studi Ilmu Bedah 1978. Pada perkembangan selanjutnya, MNPAB disebut
Kolegium Ilmu Bedah Indonesia (KIBI). Mulai pada tahun 1980, pendidikan dokter spesialis
bedah lebih mengarah pada suatu pendidikan formal bernuansa akademik (university
based) yang diwarnai nuansa akademik yang tidak lama kemudian mengacu ke suatu bentuk
pendidikan yang berorientasi pada masalah (problem based learning). Oleh karena itu, KIBI
menyusun Katalog Pendidikan Bedah Tahun 1992, kemudian direvisi pada tahun 1997, dan
penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis bedah dilakukan oleh universitas melalui
fakultas kedokteran dan rumah sakit pendidikan. Oleh karena itu disusunlah silabus dan
kurikulum pendidikan dokter spesialis bedah oleh KIBI dan program studi Pendidikan Dokter
Spesialis Bedah di berbagai universitas di Indonesia.

Pendidikan ilmu bedah mengalami perubahan pesat sejak ditetapkannya Undang-


undang no 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Melalui undang-undang ini,
Kolegium Ilmu Bedah Indonesia sebagai lembaga independen di bidang profesi bedah
menetapkan standar kompetensi dokter spesialis bedah dan pendidikan bedah di
Indonesia, menyusun kurikulum pendidikan bedah di tingkat nasional, melakukan regulasi
berkenaan dengan penerapan kurikulum, melakukan evaluasi, membina dan mendorong
pusat–pusat pendidikan untuk maju dan berkembang dalam penyelenggaraan program
pendidikan bedah di Indonesia. Dengan demikian KIBI menetapkan sistem pendidikan dokter
spesialis bedah berbasis kompetensi (competence based) dengan sistem modul pada tahun
2006.

Selain itu terdapat pula perubahan pesat di dalam pendidikan spesialis dari berbagai
cabang keilmuan di dalam ilmu bedah, yaitu ilmu bedah ortopedi, urologi, ilmu bedah
plastik, ilmu bedah kardiotoraks, serta ilmu bedah anak dan pendidikan subspesialis, yaitu
bedah digestif, bedah onkologi, kepala dan leher, serta bedah vaskular. Perkembangan ini
telah mendorong peran dokter spesialis bedah (umum) memiliki kompetensi utama pada
bedah emergensi, baik trauma, maupun non trauma dan berbagai kompetensi bedah elektif
pada kasus-kasus penyakit bedah yang secara insidensi sangat tinggi dan dapat dilakukan di
semua kelas rumah sakit. Hal ini menyebabkan perubahan signifikan di dalam sistem
pelayanan bedah oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di berbagai fasilitas
kesehatan di Indonesia yang telah terbagi menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan tingkat I, II,
dan III.

Demikian pula dengan telah diterapkannya Sistem Jaminan Kesehatan Nasional dan Sistem
Rujukan Nasional pada tahun 2014 telah mengubah strategi dan pola pelayanan bedah
spesialis dan subspesialis. Dalam hal ini KIBI telah menetapkan bahwa seorang dokter spesialis
bedah umum memiliki peran mulai PPK 2 yaitu di rumah sakit kelas D, C, dan B,