Anda di halaman 1dari 1

sampai dengan PPK3 yaitu kelas A di Indonesia.

Kompetensi utama dokter spesialis bedah


(umum) adalah melakukan perawatan berbagai penyakit dan kelainan bedah emergensi,
dan bedah elektif (80%) yang harus dilakukan secara tuntas di PPK1 dan PPK2. Dengan
diberlakukannya hal-hal tersebut di atas, KIBI telah melakukan berbagai kursus nasional bagi
para peserta didik sehingga pada tahun 2012 dilakukan revisi penyempurnaan kurikulum
berbasis kompetensi yang telah ditetapkan pada tahun 2006.

A. Latar belakang

Perubahan struktur dan sistem pendidikan kedokteran berjalan sangat cepat dalam satu
dasawarsa terakhir, sejalan dengan perubahan permasalahan di bidang kedokteran dan
kesehatan yang semakin pelik dan rumit. Perkembangan di bidang kesehatan dan
pendidikan di lingkup global menuntut pemerintah melalui Konsil Kedokteran Indonesia
mengeluarkan kebijakan yang dapat dijadikan standar dalam pelaksanaan program
pendidikan dokter. Kolegium Ilmu Bedah Indonesia sebagai stake holder (pemangku
kepentingan) utama dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah di Indonesia
dituntut pula untuk dapat terus mengembangkan struktur dan sistem pendidikan yang
dapat menjawab tantangan global tersebut.

Buku Standar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia ini disusun sebagai panduan
bagi semua pemangku kepentingan di dalam penyelenggaran pendidikan dokter spesialis
bedah (umum) di berbagai program studi di Indonesia sehingga kurikulum di berbagai pusat
pendidikan memiliki kurikulum inti yang sama (90%) dengan penambahan kurikulum lokal
tidak lebih dari 10 % dari kurikulum nasional dan diselesaikan minimal dalam 8 semester
yang secara total minimal mempunyai beban 72 SKS. Oleh karena itu, buku panduan
pendidikan dokter spesialis bedah (petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis) perlu
diterbitkan oleh Ketua Program Studi sebagai penyesuaian terhadap situasi dan kondisi
dari masing-masing pusat pendidikan.

B. Landasan hukum

Pasal 24 ayat 7 Undang-undang No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran,


menyebutkan Standar Nasional Pendidikan Kedokteran untuk standar pendidikan profesi
paling sedikit memuat: Standar kompetensi lulusan, standard isi, proses, rumah sakit
pendidikan, dosen, tenaga kependidikan, pembiayaan, dan penilaian.
Menurut Penjelasan Pasal 8 c UU RI No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran:
Standar Kompetensi disusun oleh Asosiasi Institusi pendidikan kedokteran dan asosiasi
institusi pendidikan kedokteran gigi serta kolegium kedokteran dan kolegium kedokteran
gigi.
Peraturan Pemerintah No 17 tahun 2010 sebagai kelanjutan dari Undang undang No 20
tahun 2003 tentang sistim pendidikan nasional, pada pasal 188 dinyatakan peran Kolegium
sebagai Institusi penjaga mutu pendidikan profesi.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no 49 tahun 2014,
PP No 4 Tahun 2014, tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan