Anda di halaman 1dari 3

Nama: Antonius Sadulia

Prodi: Filsafat

Sem. : 2

Tugas: Hermenutika Kitab Suci

Dosen Pengampuh

Artikel

“Peralihan Sabat ke Minggu”


(Petrus Maria Handoko, CM)

I. Ringkasan Artikel
Artikel ini ditulis oleh Petrus Maria Handoko CM, seorang imam kongregasi misi,
untuk menjawab sebuah pertanyaan dari Kristoforus T. Forus, yakni:

“Mengapa perayaan hari Sabat diubah menjadi Sunday (hari pertama dalam
seminggu)? Apakah perubahan itu dilakukan supaya sekadar berbeda dari
perayaan orang Yahudi?

Pertama, perlu dicermati bahwa kesamaa bunyi antara Sabat dan Sunday tidak
membuat keduanya sama. Kata shabbat (Ibrani) berarti berhenti bekerja atau
beristirahat.

Kedua, perintah Allah kepada Israel, “Kuduskanlah hari Sabat” (Kel.20:8), tak
boleh dimengerti sebagai pengudusan hari ketujuh, tetapi harus dimengerti dalam
konteks karya penciptaan Allah. Allah bekerja selama enam hari dan beristirahat pada
hari ketujuh (Kej.2:2). Apa yang dilakukan Allah harus menjadi teladan bagi manusia.
Oleh karena itu manusia juga harus beristirahat dari pekerjaan dan menguduskan hari
ketujuh tersebut. Istirahat pada hari ketujuh mempunyai makna yang lebih mendalam
daripada sekadar “berhenti bekerja”. Sebab Allah terus berkarya seperti yang ditegaskan
oleh Yesus ketika membicarakan perintah Sabat, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang,
maka Aku pun bekerja juga” (Yoh.5:17). Maka, istirahat Allah tak menunjuk kepada
Allah yang tidak aktif, tetapi kepada Allah yang seakan menikmati hasil ciptaan-Nya
yang “sungguh amat baik” (Kej.1:31), terutama kepada manusia ciptaan-Nya yang
istimewa yang menjadi mahkota segala ciptaan. Oleh karena itu yang dimaksud dengan
istirahat Allah disini berarti Allah menikmati karya-Nya yang begitu indah.

Ketiga, mengenang karya penyelamatan Allah, “pembebasan dari perbudakan


Mesir” (Ul.5:12-15). Allah yang beristirahat pada hari ketujuh sama dengan Allah yang
membebaska Israel dari penindasan Firaun. Dalam karya penyelamatan itu Allah
menampilkan diri sebagai mempelai pria yang menghadapi mempelai wanita (bdk. Hos.
2:16-24; Yer. 2:2; Yes. 54: 4-8).

Keempat, motivasi “mengenang karya Allah”. Inilah yang mendorong Gereja


Para Rasul dengan cepat memindahkan istirahat khusus dari hari ketujuh (Sabat) di hari
pertama (Minggu, Sunday), karena Kristus bangkit pada hari Minggu. Maka hari
Minggu mengingatkan para murid pada pembebasan sempurna yang dilakukan Kristus
melalui, sengsara dan kebangkitan-Nya. Karya pembebasan ini juga dipandang sebagai
karya pembaruan cinta lama yang sudah dirusak oleh dosa. Misteri penciptaan mencapai
kepenuhan dalam misteri Paskah, yaitu wafat dan kebangkitan Kristus.

Kelima, sudah sejak zaman para Rasul, perayaan hari Sabat dipindahkan ke hari
Minnggu, “pada hari pertama dalam Minggu itu, ketika kami berkumpul untuk
memecah roti,” (Kis. 20:7). Para Rasul juga menyebut hari Minggu sebagai hari Tuhan
(why. 1: 10), karena pada hari itu mereka mengenang akan kebangkitan Kristus. Ketika
Gereja semakin menemukan kesadaran jati diri sebagai murid-murid Yesus, mereka
menguduskan hari Minggu. Maka mereka akhirnya beralih dari hari Sabat ke hari
Minggu, atau dari Hari Tuhan (Dies Domini) ke hari Minggu atau hari Kristus (Dies
Christi).

II. Analisa
Penjelasan yang dipaparka oleh Pastor Petrus Maria Handoko CM ini sudah
sangat bagus dan kritis. Akan tetapi, setelah melihat prinsip-prinsip penafsiran Kitab
Suci yang saya dapat dalam mata kuliah Hermeneutika Kitab Suci, menurut saya
penjelasan dari pstor ini belum terlalu lengkap masih ada hal-hal yang perlu untuk
ditambahkan agar penjelasan ini dapat lebih baik dan lebih bagus lagi.
Pertama, kita harus mengetahui bahwa, dan menjelaskan hal ini dalam konteks
kita sebagai orang Kristen, bukan sebagai orang Yahudi. Hari Sabat sesuai yang telah
dikatakan dalam Kitab Ulangan 5:12-15, merupaka pengenangan akan karya
penyelamatan Allah. Sebagai orang Kristen yang percaya akan Yesus Kristus sebagai
Anak Allah yang diutus Bapa untuk menyelamatkan manusia, kita tentu tahu bahwa
iman kita telah digenapi lewat Perjanjian Baru. Orang Yahudi, tidak percaya bahwa
Yesuslah yang mereka nantikan sebagai penyelamat yang dijanjikan Allah dalam Kitab
Suci Perjanjian Lama, yang menjadi kitab suci orang Yahudi. Oleh karena itu orang
Yahudi masih berada dalam penantian akan penyelamt yang dijanjikan Allah tersebut.
Dan karena itu juga karya penyelamatan Allah yang mereka rasakan satu-satunya adalah
pembebasan dari perbudakan Mesir itulah paskah Yahudi.
Kita sebaggai orang Kristen yang percaya akan Yesus Kristus sebagai
penyelamat yang dijanjikan Allah dalam perjanjian lama. Hal itu berarti apa yang
dikatakan dalam Kitab Suci perjanjian lama telah digenapi dalam Kitab Suci Perjanjian
Baru yakni dalam Diri Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Dia yang dijanjikan Allah
sebagai penyelamat umat manusia dari dosa-dosanya. Dan yang menjadi puncak dari
karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus yakni pada peristiwa kebangkitan
dari Yesus yang dikenal sebagai Paskah Kristen. Peristiwa kebangkitan Yesus Kristus
sesuai yang dikatakan dalam Kitab Suci “setelah hari Sabat lewat menjelang
menyinsingnya fajar pada hari pertama Minggu itu...” (Mat. 28:1; Mrk. 16:1), maka
yang menjadi hari pertama dalam seminggu adalah hari Minggu. Dari sinilah salah satu
sebab mengapa peralihan sabat dari hari Sabtu ke hari Minggu.
Berikutnya,