Anda di halaman 1dari 7

Rumah Lamin adalah identitas

masyarakatDayak di Kalimantan Timur. Rumah


Laminmempunyai panjang sekitar 300 meter,
lebar 15 meter, dan tinggi kurang lebih 3
meter. Rumah Lamin juga dikenal sebagai rumah
panggung yang panjang dari sambung
menyambung.
PAKAIAN

Pakaian adat Kalimantan Timur antara lain


Kustin, Sapei Sapaq, Dayak Ngaju, Bulan Kurung,
Bulang Burai King, dan Takwo

BAHASA
Bahasa pengantar masyarakat Kalimantan Timur
umumnya menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa
Banjar. Persebaran Bahasa Banjar ke Kalimantan Timur
karena besarnya jumlah perantauan Suku
Banjar asal Kalimantan Selatan sehingga Bahasa Banjar
digunakan sebagai bahasa sehari-hari khususnya di Kota
Samarinda dan Kota Balikpapan. Penutur Bahasa
Jawa dan Bahasa Bugis juga cukup besar di Kalimantan
Timur karena banyaknya pendatang asal Pulau
Jawa dan Pulau Sulawesi yang mendiami Kalimantan
Timur.
Suku Bangsa[sunting | sunting sumber]
Artikel utama: Suku bangsa di Kalimantan Timur
Etnis paling dominan di Kalimantan Timur yaitu
etnis Jawa (30,24%) yang menyebar di hampir seluruh
wilayah terutama daerah transmigrasi hingga daerah
perkotaan. Etnis terbesar kedua yaitu Bugis (20,81%)
yang banyak menempati kawasan pesisir dan perkotaan.
Etnis terbesar ketiga adalah Banjar (12,45%) yang cukup
dominan di Kota Samarindadan Balikpapan. Kalimantan
Timur merupakan tujuan utama migran asal Pulau
Jawa, Sulawesi dan Kalimantan Selatan.
Di urutan keempat yaitu Etnis Dayak (9,94%) yang
menempati daerah pedalaman. Etnis Kutai (7,80%) yang
mendiami Kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Kutai Barat
berada di urutan kelima. Di urutan keenam hingga
sepuluh berturut-turut yaitu
etnis Toraja (2,21%), Paser (1,89%), Sunda (1,57%), Mad
ura (1,32%) dan Suku Buton (1,25%) serta suku-suku
lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.

Agama[sunting | sunting sumber]


Sensus penduduk tahun 2015 menunjukkan bahwa
masyarakat di Kalimantan Timur didominasi oleh
penganut agama Islam. Selain agama Islam juga terdapat
berbagai agama lain yang diakui di Indonesia
yakni Kristen Protestan, Katolik, Buddha dan Hindu.
Agama di Kalimantan Timur [40]
Agama Percent
Islam   85.57%
Kristen Protestan   9.41%
Katolik   4.17%
Buddha   0.49%
Hindu   0.28%
Konghucu   0.05%
Kaharingan   0.03

Tari Gantar adalah salah satu


tarian pergaulan para muda-mudi yang berasal
dari suku Dayak Benuaq dan suku Dayak Tanjung
di Kalimantan timur. Dalam tarian ini para penari
menggunakan sebuah tongkat serta bambu
pendek sebagai properti menarinya

Mandau yang merupakan senjata tradisional suku dayak ini


dipergunakan oleh Raja-Raja atau kepala suku saja. Karena mandau
dipercaya merupakan senjata keramat yang sangat dipelihara dan
dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Mandau yang sejenis dengan
parang, memiliki panjang ½ meter.

Ciri khas yang melekat pada senjata tradisional ini yaitu pada ukiran-
ukiran pada bilahnya yang tidak terlalu tajam. Banyak juga ditemui
mandau dengan ukiran tambahan lubang pada bilahnya dengan
ditutupi dengan tembaga dengan tujuan memperindah bilah mandau.

Nasi Kuning Khas Kalimantan Timur

Nasi Kuning adalah salah satu jenis varian


menu makanan yang terbuat dari nasi. Di
Indonesia, nasi kuning ini sangat umum
ditemukan di Kalimantan Timur, terutama di
pagi hari untuk sarapan. Rasanya enak dan
dengan harga yang murah. Nasi Kuning khas
Kalimantan Timur ini terbuat dari beras yang
dimasak dengan rempah-rempah sepeperti
antara lain kunyit, santan dan lainnya.

Kuliner Nasi Kuning disajikan dengan berbagai


macam lauk seperti telur, ikan, ayam, atau
daging lainnya. Tidak lupa kerupuk sebagai
tambahan yang wajib. Ciri khas warna kuning
pada nasi berasal dari warna kunyit yang
diparut dan dicampurkan dengan rempah
lainnya. Sehingga membuat Nasi Kuning
memiliki rasa yang enak dibanding nasi putih
biasa. Nasi kuning ini biasanya digunakan untuk
acara selamatan berupa nasi tumpeng maupun
acara formal lainnya.

Gambus

Gambus
Gambus adalah alat musik petik sejenis gitar berdawai 6 yang tidak jauh berbeda dengan
mandolin. Gambus ini awalnya berasal dari Timur Tengah yang kemudian dibawa oleh
pedagang melayu sampai ke pesisir Kalimantan Timur.