Anda di halaman 1dari 5

Apilkasi Geodesi Satelit

TUGAS KULIAH

Troposferic Delay Correction

Nama Mahasiswa : Taufiq Rifai


NRP : 3311850010008
Dosen : M. Nurcahyadi, ST, M.Sc, D.Sc

Program Magister Teknik Geomatika


Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan & Kebumian
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
2018
Dasar Teori
Sistem Koordinat Global Geodetik
Sistem koordinat ini mengacu pada permukaan suatu bentuk ellipsoida tertentu dan tergantung
juga pada ukuran, bentuk dan orientasi tiga dimensi ellipsoida. Dalam sistem koordinat
geodetik, model permukaan bumi didekati dengan model ellipsoida sebagai model permukaan
referensi. Posisi suatu titik pada sistem koordinat geodetik ditentukan oleh lintang geodetik
(L), bujur geodetik (B) dan tinggi di atas permukaan ellipsoida (h), seperti dijelaskan sebagai
berikut :
1. Lintang geodetik (L) dari suatu titik adalah sudut lancip yang dibentuk oleh normal
ellipsoida yang melalui titik tersebut dengan bidang ekuator (-900≤L≤+900).
2. Bujur geodetik (B) adalah sudut yang dibentuk antara meredian lokal dengan meredian
referensi, yaitu meredian Greenwich (00≤B≤1800E dan -1800W≤B≤00 ).
3. Tinggi suatu titik di atas ellipsoida (h) dihitung sepanjang normal ellipsoida yang
melalui titik tersebut.

Sistem Koordinat Global Kartesian 3 Dimensi


Sistem koordinat kartesian tiga dimensi terdiri dari tiga sumbu pada arah X, Y, dan Z. Pada
sistem koordinat kartesian tiga dimensi, posisi suatu titik ditentukan oleh harga X, Y, dan Z
dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Titik pusat sistem koordinat kartesian tiga dimensi terletak pada pusat bumi
2. Sumbu Z adalah garis dalam arah Conventional Terrestrial Pole (CTP)
3. Sumbu X adalah arah perpotongan meredian Greenwich atau meredian nol CZM
(Conventional Zero Meridian) yang ditetapkan oleh BIH (Burau International de
l’Heure) dan bidang ekuator
4. Sumbu Y adalah garis pada bidang ekuator yang tegak lurus pada sumbu X dan Z
dengan mengikuti kaidah tangan kanan

Geometrik Koordinat Kartesian dan Geodetik

Local east, north, up (ENU) coordinates


Dalam banyak aplikasi penargetan dan pelacakan, sistem koordinat Lokal East, North,dan Up
jauh lebih intuitif dan praktis daripada koordinat ECEF atau Geodetic. Koordinat ENU lokal
dibentuk dari pesawat yang bersinggungan dengan permukaan bumi yang ditetapkan ke lokasi
tertentu dan karenanya kadang-kadang dikenal sebagai "Local Tangent" atau "geodetik lokal"

Earth Centered Earth Fixed and East, North, Up coordinates.

Transformasi dari Lintang, Bujur, Tinggi ke X,Y,Z


X=(Rnp+h)*cos lintang *cos bujur
Y=(Rnp+h)*cos lintang*sin bujur
Z=[Rnp(1-e2)+h)*sin lintang
Rnp=a / sqrt(1-e2 sin2 lintang)

Transformasi dari X,Y,Z ke Lintang, Bujur, Tinggi


Lintang=atan2[(z+h/b*sin3 t) / p-h/a*cos3 t]
Bujur=atan2(Y/X)
Tinggi = (p / cos Lintang)-n
P=sqrt(X2 + Y2 )
H=a2-b2
N=a / sqrt(1-e2 sin2 Lintang)
T=atan2(za/pb)

Kodingan Transformasi dari Lintang, Bujur, Tinggi ke X,Y,Z dan Transformasi dari X,Y,Z ke
Lintang, Bujur, Tinggi
% Program Koordinat Lintang, Bujur, Tinggi ke X, Y, Z
Lintang=-7.264111;
Bujur=112.768233;
Tinggi=6;
Tinggi_geoid=-23.0581;
% Parameter elliposid wgs 84
a=6378137.0;
b=6356752.314245;
Inverse_flattening=298.257223563;
% mencari Koodinat X, Y, Z
e2=(a^2-b^2)/a^2;
disp(['e2= ' num2str(e2)]);
Liverpool=sin(Lintang);
Rnp=a/sqrt(1-e2*Liverpool*Liverpool);
disp(['Rnp= ' num2str(Rnp)]);
X=(Rnp+Tinggi)*cos(Lintang)*cos(Bujur);
disp(['X= ' num2str(X)]);
Y=(Rnp+Tinggi)*cos(Lintang)*sin(Bujur);
disp(['Y= ' num2str(Y)]);
Z=[Rnp*(1-e2)+Tinggi]*sin(Lintang);
disp(['Z= ' num2str(Z)]);
% X,Y,Z ke Lintanng, bujur , tinggi
h=a^2-b^2; %parameter
disp(['h = ' num2str(h)]);
p=sqrt(X^2+Y^2); %parameter
disp(['p = ' num2str(p)]);
t=atan2(Z*a,p*b); %parameter
disp(['t = ' num2str(t)]);
sint=sin(t);
disp(['sint = ' num2str(sint)]);
cost=cos(t);
disp(['cost = ' num2str(cost)]);
lintang=atan2(Z+h/b*sint^3,p-h/a*cost^3);
disp(['lintang = ' num2str(lintang)]);
n=a/sqrt(1.0-e_kuadrat*sin(lintang)*sin(lintang));
Bujur=atan2(Y,X);
disp(['Bujur = ' num2str(Bujur)]);
tinggi=(p/cos(lintang))-n;
disp(['tinggi = ' num2str(tinggi)]);

Transformasi X,Y,Z ke ENU


ENU Easting = -X*sin bujur+Y*cos bujur
ENU Northing = -X*cos bujur*sin lintang-Y*sin bujur*sin lintang+Z*cos lintang
ENU Up = X*cos bujur*cos lintang+Y*sin bujur*cos lintang+Z*sin lintang

Transformasi ENU ke X,Y,Z


X=ENU Easting*sin bujur-ENU Northing*cos bujur*sin lintang+ENU Up*cos bujur*cos
lintang
Y=ENU Easting*cos bujur-ENU Northing*sin bujur*sin lintang+ENU Up*sin bujur*cos
lintang
Z=ENU Northing*cos lintang+ENU Up*sin lintang

Kodingan Transformasi X,Y,Z ke ENU dan Transformasi ENU ke X,Y,Z


% Menghitung X,Y,Z to enu
enu_e=-X*s1+Y*c1;
disp(['enu_e= ' num2str(enu_e)]);
enu_n=-X*c1*s2-Y*s1*s2+Z*c2;
disp(['enu_n= ' num2str(enu_n)]);
enu_u=X*c1*c2+Y*s1*c2+Z*s2;
disp(['enu_u= ' num2str(enu_u)]);
% Menghitung enu to X,Y,Z
pos_X=enu_e*s1-enu_n*c1*s2+enu_u*c1*c2;
disp(['pos_X= ' num2str(pos_X)]);
pos_Y=enu_e*c1-enu_n*s1*s2+enu_u*s1*c2;
disp(['pos_Y= ' num2str(pos_Y)]);
pos_Z=enu_n*c2+enu_u*s2;
disp(['pos_Z= ' num2str(pos_Z)]);

Menghitung Azimuth dan Elevasi


Elevasi =atan([u/sqrt(e2+n2 )])
Azimuth=atan(e/n)

Kodingan Azimuth dan Elevasi


% Elevasi
Bayern_Munchen=sqrt(enu_u^2+enu_e^2);
EL=atan(enu_u/Bayern_Munchen);
disp(['EL= ' num2str(EL)]);
% Azimuth
Azimuth=atan(enu_e/enu_n);
disp(['Azimuth = ' num2str(Azimuth)]);

menghitung troposferik propagation delay


ft(h,el) = 2.47(1-2.3*10-5 h)5 / sin elevasi+0.0121

kodingan troposferik propagation delay


Tropo_Delay_Zenith=2.47;
Zenith=1/2.3*10^-5;
disp(['Zenith= ' num2str(Zenith)]);
Tropo_Scale_Height=Zenith;
if (Tinggi_geoid<0)
d=1;
else if (Tinggi_geoid>Tropo_Scale_Height)
d=0;
else
(Tinggi_geoid==Tropo_Scale_Height)
d=1-Tinggi_geoid/Tropo_Scale_Height;
end
end
Tropospheric_Propagation_Delay=Tropo_Delay_Zenith*d^5/(sin(EL)+0.01221);
disp(['Tropospheric Propagation Delay= '
num2str(Tropospheric_Propagation_Delay)]);