Anda di halaman 1dari 5

A.

Pengertian dan penyebab penyakit Cikungunnya

Chikungunya disease atau demam Chikungunya adalah satu di antara penyakit tular vektor
(nyamuk) yang saat ini banyak terjadi di Indonesia tidak hanya di daerah perkotaan tetapi
banyak juga di daerah pedesaan. Penyebab penyakit ini adalah sejenis virus, yaitu Alphavirus
(famili Togaviridae) dan ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti. Jenis Aedes albopictus juga
dilaporkan dapat menularkan penyakit ini.

Istilah chikungunya berasal dari bahasa Swahili Afrika, yang berarti (posisi tubuh)
melengkung, hal ini mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi
hebat (arthralgia) pada lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang.
Chikungunya dikenal juga sebagai Chicken guinea, Chicken gunaya and Chickungunya.
Adanya kata Chicken juga sering menimbulkan salah persepsi. Chikungunya ini bersifat self
limiting, karena dapat membatasi diri sendiri dan akan sembuh sendiri.

Penyebab

Penyebab penyakit ini adalah virus chikungunya , yang dikenal dengan nama Alphavirus dari
famili Togaviridae dan ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Masa
inkubasi virus adalah 2-4 hari, dan gejala klinis dapat berlangsung selama 3-10 hari. Gejala
ini bisa hilang sendiri, namun rasa nyeri masih tertinggal selama berhari-hari sampai
berbulan-bulan.
Gejala utama terkena penyakit Chikungunya adalah demam tinggi, sakit perut, mual, muntah,
sakit kepala, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah terutama di badan dan tangan.
Gejala ini menyerupai Demam Berdarah Dengue, tetapi pada Chikungunya tidak terjadi
perdarahan hebat, renjatan (Schok) ataupun kematian. Seringkali demam ini dikatakan
sebagai flu tulang karena satu di antara gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal,
ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang.
Demam chikungunya dapat menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa. Di
daerah endemis, seringkali penderita secara mendadak akan mengalami demam tinggi selama
lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari. Pada anak kecil dimulai dengan
demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata
biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Pada anak yang lebih besar, demam biasanya
diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Pada
orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan, dan menimbulkan kelumpuhan
sementara karena rasa sakit bila berjalan. Namun demikian, Chikungunya tidak menyebabkan
kematian dan kelumpuhan.
Seseorang yang terserang penyakit ini setelah sehat akan membentuk antibodi yang akan
membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian,
kecil kemungkinan bagi mereka untuk kena lagi.

B. Masa Inkubasi Penyakit

Masa inkubasi dari dari demam chikungkunya adalah 2-4 hari. Manifestasi penyakit
berlangsung 3-10 hari. Virus ini termasuk self limiting disiase atau hilang dengan sendirinya.
Namun rasa nyeri, masih tertinggal dalam hitungan minggu sampai hitungan bulan.Nyeri
sendi pada pada penderita dewasa umumnya lebih berat dari pada ank-anak.
 Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-
ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-
tanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam.
 Pada anak remaja, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi,
serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening.
 Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai
menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-
kadang timbul rasa mual sampai muntahai bulan. Nyeri sendi pada penderita
dewasa umumnya lebih berat dari pada ank-anak.

Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama 3 hari dengan tanpa atau
sedikit sekali dijumpai pendarahan otak atau shok. Masih banyak anggapan orang di kalangan
masyarakat, bahwa demam Chikungunya atau flu tulang atau demam tulang sebagai penyakiy
yang berbahaya sehingga membuat panik. Tidak jarang pula orang menyakini bahwa
penyakit ini dapat mengakibatkan kelumpuhan. Sewaktu virus berkembang dalam darah,
penderita merasa nyeri pada tulang-tulangnya terutama seputar persendian sehingga tidak
berani menggerakan anggota tubuh. Belum ada vaksin maupun obat khusus untuk
Chikungunya, cukup minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit, istirahat yang
cukup dan makan dan minum yang cukup seta bergizi.

Bagi penderita sangat dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat
dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Setelah lewat lima hari, demam akan
berangsur-angsur reda, rasa ngilu maupun nyeri pada persendian dan otot berkurang, dan
penderitanya akan sembuh seperti semula.

Penyakit ini sulit menyerang penderita yang sama. Tubuh penderita akan membentuk
antibodi yang akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini kemudian hari.
Dngan demikian kecil kemungkinan terkena lagi.

C. Gejala klinis chikungunya

Gejala terkena penyakit Chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam tinggi,
diikuti dengan linu dipersendian. Bahkan, salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa
pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang – tulang atau biasa disebut sebagai
demam tulang atau flu tulang. Gejala-gejalanya memang mirip dengan infeksi virus dengue
dengan sedikit perbedaan pada hal-hal tertentu. Virus ini dipindahkan dari satu penderita ke
penderita lain melalui nyamuk Aedes aegypti.

Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis.
Secara mendadak penderitaa mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal
pula istilah demam lima hari. Gejala demam Chikungunya mirip dengan demam berdarah
dengue yaitu demam tinggi, menggigil, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, nyeri sendi
dan otot serta bintik – bintik merah di kulit terutama badan dan lengan. Bedanya dengan
demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan (syok)
maupun kematian.

D. Patofisiologi

Demam Chikungunya mempunyai masa inkubasi (periode sejak di gigit nyamuk


pembawa virus hingga menimbulkan gejala) sekitar 2 hingga 4 hari. Pada saat virus masuk ke
dalam sel secara endositosis virus tersebut menuju sitoplasma dan reticulum endoplasma. Di
dalam sitoplasma terjadi proses sintesis DNA dan sistesis RNA virus sedangkan di dalam
reticulum endoplasma terjadi proses sintesis protein virus. Setelah masa inkubasi tersebut
virion matang di sel endothelial di limfonodi, sumsum tulang,limfa dan sel kuffer, lalu virus
tersebut di keluarkan melewati sel membrane maka virus beredar dalam darah.
Demam chikungunya salah satunya dapat menginfekasi sel hati sehingga sel hati
mengalami degenerasi dan dapat menyebabkan nekrosis pada sel hati tersebut yang akan
mempengaruhi metabolisme pada sel hati yang mempengaruhi peningkatan bilirubin
sehingga seseorang yang mengalami demam ini biasanya terdapat ikterus.
Gejala yang paling menonjol pada kasus ini adalah nyeri pada setiap persendian
(poliarthralgia) terutama pada sendi lutut, pergelangan kaki dan tangan, serta sendi-sendi
tulang punggung. Radang sendi yang terjadi menyebabkan sendi susah untuk digerakkan,
bengkak dan berwarna kemerahan.Itulah sebabnya postur tubuh penderita menjadi seperti
membungkuk dengan jari-jari tangan dan kaki menjadi tertekuk.
Gejala lain adalah munculnya bintik-bintik kemerahan pada sebagian kecil anggota
badan, serta bercak-bercak merah gatal di daerah dada dan perut. Muka penderita bisa
menjadi kemerahan dan disertai rasa nyeri pada bagian belakang bola mata. Meskipun gejala
penyakit itu bisa berlangsung 3-10 hari (kemudian sembuh dengan sendirinya), tetapi tidak
dengan nyeri sendinya yang bisa berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

E. Cara Penularan

Penularan penyakit chikungunya terjadi apabila penderita yang sakit digigit oleh nyamuk
penular, kemudian nyamuk penular tersebut mengigit orang lain. Virus menyerang semua
usia, baik anak-anak maupun dewasa. Selain manusia, primata lainnya yang diduga dapat
menjadi sumber penularan seperti pada uji hemaglutunasi inhibisi,mamalia,tikus,kelelawar,
dan burung juga bisa mengandung antibodi terhadap virus chikungunya.

Seseorang yang telah dijangkiti penyakit ini tidak dapat menularkan penyakitnya itu
kepada orang lain secara langsung. Proses penularan hanya berlaku pada nyamuk pembawa.
Masa inkubasi dari demam chikungunya berlaku di antara satu hingga tujuh hari, biasanya
berlaku dalam waktu dua hingga empat hari. Manifestasi penyakit berlangsung tiga sampai
sepuluh hari.

F. Penanganan dan Pengobatan

Seringkali penderita chikungunya meyakini bahwa penyakit ini dapat mengakibatkan


kelumpuhan, karena rasa nyeri pada tulang-tulangnya terutama di seputar persendian
sehingga tidak berani menggerakkan anggota tubuh. Tetapi sesungguhnya hal ini karena
keengganan si penderita melakukan gerakan karena rasa ngilu pada persendian.
Karena vaksin untuk pencegahan ataupun obat khusus untuk Chikungunya belum ada, maka
penanganannya cukup dengan minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit. Selain
itu yang penting adalah cukup istirahat, minum dan makanan bergizi. Rasa ngilu pada
persendian dapat dihilangkan dengan obat penghilang rasa sakit dan vitamin untuk penguat
daya tahan tubuh.

 Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan mengendalikan nyamuk Aedes aegypti dan Ae.
albopictus si pembawa virus, untuk memutus rantai penularan. Karena vektor chikungunya
sama dengan vektor demam berdarah dengue, maka upaya pencegahan ini berlaku juga untuk
mencegah penularan demam berdarah.

Pencegahan yang murah dan efektif untuk memberantas nyamuk ini adalah dengan
cara 3M yaitu menguras, menyikat dan menutup tempat-tempat penampungan air bersih, bak
mandi, vas bunga dan sebagainya, paling tidak seminggu sekali, karena nyamuk tersebut
berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari. Halaman
atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda-benda yang memungkinkan menampung
air bersih, terutama pada musim hujan. Pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari,
mulai pagi hari sampai sore, agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga
terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat.Dengan demikian, tercipta lingkungan
yang tidak ideal bagi nyamuk tersebut.
G. Epidemiologi penyakit
 Orang
Pada anak kecil baik laki-laki maupun perempuan dimulai dengan demam mendadak,
kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah
disertai tanda-tanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam.
Pada anak remaja pria dan wanita, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan
sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening.
Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai
menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang
timbul rasa mual sampai muntahai bulan. Nyeri sendi pada penderita dewasa
umumnya lebih berat dari pada ank-anak
 Waktu

 Tempat

Tempat perindukan larva nyamuk aedes agypthy antara lain di bak mandi, drum,
tempat penampungan air dispenser, tempat penampungan air refrigator, ban bekas,
vas bunga, talang rumah, kolam ikan hias yang tidak di gunakan lagi, dan di kolam.
Sedangkan untuk larva nyamuk aedes albopictus antara lain di lubang-lubang pohon,
lobang potongan bambu, ketiak daun serta kulit buah-buahan yang berlekuk
(kelapa,durian,coklat,dll), di bak air, ember.
 Faktor resiko
1. Keadaan Tempat Penampungan Air (TPA)
Nyamuk Aedes berkembangbiak (tempat berinduk) di tempat penampungan dan baran-
barang lain yang memungkinkan air tergenang yang tidak beralaskan tanah (Depkes RI,
2007).
2. Keberadaan Jentik

Keberadaan jentik yang berada di lingkungan rumah seperti berada di botol dan kaleng
bekas, cangkir plastik dan lain-lain akan menyebabkan penyebaran penyakit Chikungunya
karena jentik-jentik tersebut akan berkembangbiak menjadi pupa dan nyamuk dewasa
(Oktisari, 2008).
3. Kepadatan Hunian

Kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara
luas lantai dengan jumlah penghuni ≥8 m2/orang dan kepadatan penghuni tidak
memenuhi syarat kesehatan bila diperoleh hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah
penghuni <8 m2/orang. Suatu rumah dikatakan padat bila anggota keluarga yang tinggal
dalam ruangan dengan ukuran luas minimal 8 m2 digunakan lebih dari dua orang. (Depkes
RI, 2006).
4. Kebiasaan menguras Tempat Penampungan Air (TPA) seperti bak mandi atau
tempat-tempat penampungan air sekurang-kurangnya satu minggu sekali untuk mencegah
tempat perindukan nyamuk Aedes (Depkes RI, 2007).

5. Kebiasaan mengubur barang bekas tempat perkembangbiakan nyamuk selain di


Tempat Penampungan Air juga pada barang bekas yang memungkinkan air hujan
tergenang yang tidak beralaskan tanah seperti, kaleng bekas, ban bekas, botol, tempurung
kelapa, plastik dan lain-lain yang dibuang sembarangan tempat (Depkes RI, 2007).
6. Kebiasaan menggantung pakaian, mengamati pakaian yang menggantung pada
dinding ruangan yang merupakan tempat yang disenangi nyamuk Aedes untuk beristirahat
(Santoso, 2011).