Anda di halaman 1dari 19

ANALISIS PETROFISIK BATUAN RESERVOIR DAN

PALEOGEOGRAFI BERDASARKAN DATA LOG DAN

SEISMIK PADA LAPANGAN “X” CEKUNGAN KUTAI

PROPOSAL TUGAS AKHIR

PADA LAPANGAN “X” CEKUNGAN KUTAI PROPOSAL TUGAS AKHIR OKTAVIANUS AGUS 072001400142 PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

OKTAVIANUS AGUS

072001400142

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2018

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

 

i

BAB I

PENDAHULUAN

1

1.1.

Latar Belakang

1

1.2

Maksud dan Tujuan

2

1.3

Judul, Lokasi, dan Waktu Penelitian

2

1.4

Batasan Masalah

2

BAB II

TEORI DASAR

3

2.1

Geologi Regional

3

 

2.1.1 Tektonik dan Struktur Geologi

3

2.1.2 Stratigrafi Cekungan Kutai

4

2.1.3 Petroleum System

7

 

2.2

Konsep Wireline Log

8

 

2.2.1 Interpretasi Kualitatif

8

2.2.2 Analisis Kuantitatif

10

 

2.4

Konsep Seismik

11

BAB III

METODE PENELITIAN

13

3.1 Tahap Persiapan

13

3.2 Tahap Analisis Data

13

3.3 Penyusunan Laporan

13

3.4 Diagram alir

14

BAB IV

HASIL YANG DIHARAPKAN

15

BAB V

RENCANA KERJA

16

DAFTAR PUSTAKA

i

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pengembangan terhadap lapangan penghasil hidrokarbon saat ini terus ditingkatkan, sehubungan dengan meningkatnya angka kebutuhan terhadap hidrokarbon tersebut, baik dibidang industri skala besar maupun untuk kebutuhan rumah tangga. Hal itu memicu setiap perusahaan penghasil hidrokarbon untuk meningkatkan produksinya. Metode logging dapat mengetahui gambaran yang lengkap dari lingkungan bawah permukaan tanah, tepatnya dapat mengetahui dan menilai batuan-batuan yang mengelilingi lubang bor tersebut. Metode ini juga dapat memberikan keterangan kedalam lapisan yang mengandung hidrokarbon serta sejauh mana penyebaran hidrokarbon pada suatu lapisan. Sebelum melakukan proses logging sangat perlu untuk mengetahui dasar-dasar well logging dan pengetahuan fisika yang luas dengan tujuan supaya dapat melakukan interpretasi dan analisa hasil rekaman data log. Petrofisika adalah ilmu-ilmu yang mempelajari sifat-sifat fisik batuan. Analisa ini sangat penting untuk mengetahui kualitas reservoir, jenis fluida, porositas dan permeabilitas dari suatu batuan atau formasi, karena hal ini hanya dapat diketahui berdasarkan sifat fisik dari batuan tersebut. Dengan cara menggunakan data log sebagai sumber utama, parameter fisika dianalisa berdasarkan ilmu petrofisika untuk mengevaluasi formasi yang dapat memberikan informasi secara akurat mengenai zona reservoir serta sejauh mana penyebaran lateral berdasarkan data seismik. Sedangkan konsep seismic 3D akan sangat membantu dalam memberikan gambaran perlapisan dan sensitif terhadap strata atau perubahan lapisan akibat struktur. Dari kedua konsep tersebut dapat mengetahui sifat-sifat fisik batuan dalam reservoir yang akan sangat membantu untuk memberikan informasi parameter geologi tentang kualitas reservoir yang diteliti guna untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi.

1

1.2

Maksud dan Tujuan

Maksud dari penelitian ini adalah untuk menerapkan konsep petrofisika dan paleogeografi dengan menggunakan data log dan data seismik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sistem pengendapan lapisan prospek reservoir dan menentukan potensi adanya hidrokarbon pada daerah penelitian serta mengetahui sejarah geografinya pada lapisan reservoir tersebut.

1.3 Judul dan Waktu Penelitian

Judul yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah ANALISIS PETROFISIK BATUAN RESERVOIR DAN PALEOGEOGRAFI BERDASARKAN DATA LOG DAN SEISMIK PADA LAPANGAN X CEKUNGAN KUTAI”. (Judul dapat berubah sesuai ketersediaan data serta persetujuan dari pemilik data). Waktu penelitian diharapkan berlangsung selama 3 bulan dari bulan September 2018 sampai November 2018.

1.4 Batasan Masalah

Pada penelitian ini memfokuskan pada analisis lapisan prospek mencakup data log dan data seismik yang nantinya akan menghasilkan tentang penentuan sistem pengendapan pada Lapangan “X” menggunakan metode petrofisika sehingga pada akhirnya digunakan untuk mengetahui keadaan paleogeografi pada formasi tersebut.

2

BAB II TEORI DASAR

2.1 Geologi Regional Secara fisiografis, Cekungan Kutai berbatasan di sebelah utara dengan Tinggian Mangkalihat, Zona Sesar Bengalon, dan Sangkulirang. Di sebelah selatan berbatasan dengan Zona Sesar Adang yang bertindak sebagai zona sumbu cekungan sejak akhir Paleogen hingga sekarang (Moss dan Chamber, 1999). Di sebelah barat berbatasan dengan Central Kalimantan Range yang dikenal sebagai Kompleks Orogenesa Kuching, berupa metasedimen kapur yang telah terangkat dan telah terdeformasi. Di bagian timur berbatasan dengan Selat Makassar.

2.1.1 Tektonik dan Struktur Geologi Cekungan Kutai di sebelah utara berbatasan dengan Bengalon dan Zona Sesar Sangkulirang, di selatan berbatasan dengan Zona Sesar Adang, di barat dengan sedimen-sedimen Paleogen dan metasedimen Kapur yang terdeformasi kuat dan terangkat dan membentuk daerah Kalimantan Tengah, sedangkan di bagian timur terbuka dan terhubung dengan laut dalam dari Cekungan Makassar bagian Utara (Allen dan Chambers, 1998). Cekungan Kutai dapat dibagi menjadi fase pengendapan transgresif Paleogen dan pengendapan regresif Neogen. Fase Paleogen dimulai dengan ekstensi pada tektonik dan pengisian cekungan selama Eosen dan memuncak pada fase longsoran tarikan post-rift dengan diendapkannya serpih laut dangkal dan karbonat selama Oligosen Akhir. Fase Neogen dimulai sejak Miosen Bawah sampai sekarang, menghasilkan progradasi delta dari Cekungan Kutai sampai lapisan Paleogen. Pada Miosen Tengah dan lapisan yang lebih muda di bagian pantai dan sekitarnya berupa sedimen klastik regresif yang mengalami progradasi ke bagian timur dari Delta Mahakam secara progresif lebih muda menjauhi timur. Sedimen-sedimen yang mengisi Cekungan Kutai banyak terdeformasi oleh lipatan-lipatan yang subparalel dengan pantai. Intensitas perlipatan semakin berkurang ke arah timur, sedangkan lipatan di daerah dataran pantai dan lepas pantai terjal, antiklin yang sempit

3

dipisahkan oleh sinklin yang datar. Kemiringan cenderung meningkat sesuai umur lapisan pada antiklin. Lipatan-lipatan terbentuk bersamaan dengan sedimentasi berumur Neogen. Banyak lipatan-lipatan yang asimetris terpotong oleh sesar-sesar naik yang kecil, secara umum berarah timur, tetapi secara lokal berarah barat. Pada Kala Oligosen (Tersier Awal) Cekungan Kutai mulai turun dan terakumulasi sedimen-sedimen laut dangkal khususnya mudstone, batupasir sedang dari Formasi serpih Bogan dan Formasi Pamaluan. Pada awal Miosen, pengangkatan benua (Dataran Tinggi Kucing) ke arah barat dari tunjaman menghasilkan banyak sedimen yang mengisi Cekungan Kutai pada formasi delta-delta sungai, salah satunya di kawasan Sangatta. Ciri khas sedimen-sedimen delta terakumulasi pada Formasi Pulau Balang, khususnya sedimen dataran delta bagian bawah dan sedimen batas laut, diikuti lapisan-lapisan dari Formasi Balikpapan yang terdiri atas mudstone, bataulanau, dan batupasir dari lingkungan pengendapan sungai yang banyak didominasi substansi gambut delta plain bagian atas yang kemudian membentuk lapisan-lapisan batubara pada endapan di bagian barat kawasan Pinang. Subsidence yang berlangsung terus pada waktu itu kemungkinan tidak seragam dan meyebabkan terbentuknya sesar-sesar pada sedimen-sedimen. Pengendapan pada Formasi Balikpapan dilanjutkan dengan akumulasi lapisan-lapisan Kampung Baru pada kala Pliosen. Selama Kala Pliosen, serpih dari serpih Bogan dan Formasi Pamaluan yang sekarang terendapkan sampai kedalaman 2000 meter, menjadi kelebihan tekanan dan tidak stabil, menghasilkan pergerakan diapir dari serpih ini melewati sedimen-sedimen diatasnya menghasilkan struktur antiklin-antiklin rapat yang dipisahkan oleh sinklin lebih datar melewati Cekugan Kutai dan pada kawasan Pinang terbentuk struktur Kerucut Pinang dan Sinklin Lembak.

2.1.2 Stratigrafi Cekungan Kutai Stratigrafi di daerah ini juga terdiri dari siklus transgresi dan regresi. Di sini fasa regresi jauh lebih mendominasi. Cekungan ini dimulai Tersier Bawah, mungkin Eosen, dengan suatu transgresi yang segera diikuti oleh regresi yang mengisi cekungan ini pada seluruh Tersier dan Kuarter. Data stratigrafi menunjukkan bahwa cekungan diisi dari barat ke timur secara progradasi dengan sumbu ketebalan

4

sedimen maximum, diendapkan pada setiap jenjang Tersier yang bergeser secara progresif ke arah timur menumpang di atas sedimen laut dalam yang tipis dari Selat Makasar. Gerard dan Oesterle (1973) mengintepretasikan endapan dalam fasa regresif ini sebagai delta. Di sini fasies prodelta, delta front, delta plain terdapat dalam urutan vertikal secara berganti-ganti dan merupakan nenek moyang Delta Mahakam yang sekarang. Delta tersebut berprogradasi ke arah laut, akan tetapi beberapa kali ditransgresi sehingga memberikan siklus kecil. Salah satu progradasi yang jauh ke timur terjadi di Awal Miosen, dimana kompleks delta mencapai pinggiran paparan. Setiap fasa regresi siklus kecil ini mengendapkan lapisan pasir reservoir. Di muka delta ini terbentuk terumbu pinggiran paparan (shelf-edge-reefs) sebelum lereng kontinen outer shelf. Di dalam siklus regresi besar ini dapat dibedakan antara Formasi Pulubalang, Formasi Balikpapan dan Formasi Kampung Baru, yang berumur dari Miosen sampai Pliosen.

5

Gambar 2.1 Stratigrafi Cekungan Kutai (Satyana,1999) 6

Gambar 2.1 Stratigrafi Cekungan Kutai (Satyana,1999)

6

1.

Grup Pamaluan

Batupasir kuarsa dengan sisipan batulempung, serpih, batugamping, dan batulanau, berlapis sangat baik. Formasi pamaluan merupakan batuan paling bawah yang tersingkap di lembar ini dan bagian atas formasi ini berhubungan menjari dengan Formasi Bebuluh. Tebal Formasi ini kurang lebih 2000 meter.

2. Grup Bebuluh

Batugamping terumbu dengan sisipan batugamping pasiran dan serpih. Foraminifera besar yang jumpai antara lain : Lepidocycilina Sumatroenis, Myogipsina Sp, Operculina Sp,mununjukan umur Miosen Awal sampai Miosen Tengah. Lingkungan pengendapan laut dangkal dengan ketebalan sekitar 300 m. Formasi Babuluh tertindih selaras oleh Formasi Pulu Balang

3. Grup Pulu Balang

Perselingan antara Greywacke dan batupasir kuarsa dengan sisipan batugamping, batulempung, batubara, dan tuff dasit. Di sungai Loa Haur, mengandung Foraminifera besar antara lain Austrotrilina howhici, Brelis Sp, Lepidocycilina Sp, Myogipina Sp, menunjukan umur Miosen Tengah dengan

lingkungan pengendapan laut dangkal.

4. Grup Balikpapan

Perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan batulanau, serpih, batugamping dan batubara. Batugamping pasiran mengandung Fosil menunjukan

umur Moisen Akhir bagian bawah Miosen Tengah bagian atas

5. Grup Kampung Baru

Batupasir kuarsa dengan sisipan lempung, serpih, lanau, dan lignit, pada umumnya lunak mudah hancur, berumur Miosen Akhir - Plestosen. Lingkungan pengendapan delta laut dangkal, tebal lebih dari 500 m. Formasi ini menindih selaras dan setempat tidak selaras terhadap Formasi Balikpapan.

2.1.3 Petroleum System Batuan induk utama terdiri dari Formasi Pamaluan, Pulau Balang, dan Balikpapan. Formasi Pamaluan, kandungan material organiknya cukup (1-2%), tetapi hanya terdapat di bagian utara dari Cekungan Kutai. Pada Formasi Bebulu terdapat

7

kandungan material organik yang cukup dengan HI di atas 300. Formasi Balikpapan merupakan batuan induk yang terbaik di Cekungan Kutai karena kandungan material organiknya tinggi dengan HI lebih besar dari 400 dan matang. Formasi ini ketebalannya mencapai lebih dari 3000 m, sehingga diperkirakan mampu menghasilkan hidrokarbon dalam jumlah yang cukup banyak Batuan reservoir terdapat pada formasi Kiham Haloq, Balikpapan, dan Kampung Baru, tetapi yang produktif hanya Formasi Balikpapan dan Kampung Baru (Hadipandoyo, et al., 2007). Porositas permukaan pasir literanitik berkisar <5% - 25% dengan permeabilitas <10 mD - 200 mD. Seal yang ada pada cekungan ini berasal dari serpih dan dijumpai hampir di semua formasi yang berumur Miosen. Kelompok Balikpapan dan Formasi Kampung Baru memiliki serpih yang sangat potensial sebagai seal. Migrasi vertikal dari dapur Paleogen matang terjadi melalui jaringan sesar- sesar menuju ke reservoar yang berumur Miosen Tengah dan Atas. Migrasi lateral dari areal dapur matang oleh reservoar lapisan kemiringan ke timur menuju trap stratigrafi ataupun struktur. Jenis perangkap didominasi oleh perangkap struktur khususnya tutupan (closure) four-way yang diikat oleh sesar. Perangkap stratigrafi menjadi perangkap yang penting namun lebih sulit diidentifikasi keberadaannya bila dibandingkan dengan perangkap struktur. Kombinasi dari perangkap struktur dan stratigrafi lebih umum ditemukan pada Cekungan Kutai.

2.2 Konsep Wireline Log Wireline Log adalah suatu kegiatan perekaman data-data sifat fisik batuan di dalam lubang bor pada kedalaman tertentu. Adapun sifat-sifat fisik yang diukur adalah kelistrikan, radioaktifitas, dan kecepatan suara pada batuan (Asquith & Gibson, 1982).

8

2.2.1 Interpretasi Kualitatif

batuan

cadangan, lapisan hidrokarbon, serta perkiraan jenis hidrokarbon. Untuk suatu interpretasi yang baik, maka harus dilakukan dengan menghubungkan beberapa log.

A. Konsep Elektrofasies Elektrofasies adalah set kurva log yang menunjukkan karakteristik suatu lapisan yang dapat dibedakan dengan yang lainnya. Secara umum pengunaan GR log ini dikarenakan log ini sangat efektif dalam pengukuran kadar mineral lempung dalam batuan. Karakteristik dari kurva log GR telah banyak diteliti yang dibandingkan dengan kenampakan sampel batuan intinya (Core), banyak terjadi interpretasi bentuk kurva log GR serta karakter fasies pengendapannya, secara garis besar karakter dan pola log GR dapat dibedakan menjadi:

a. Bentuk Bell Pada bentuk ini akan terlihat kenaikan volume shale secara gradual, menunjukkan perubahan dominasi besar butiran misalnya dari batupasir ke shale atau merupakan aspek penghalusan keatas (finning upward).

b. Bentuk Funnel (Cleaning Up Trend) Nilai kurva akan naik secara gradual, hal ini juga menunjukkan dominasi

yang berubah misalnya dari shale kearah sand (coarsening upward). Kurva log ini menunjukkan fasies pengendapan di laut dangkal dengan energi pengendapan yang mulai naik serta butiran yang mengkasar.

c. Bentuk Blok atau Silinder (Boxcar Trend)

Bentuk log ini merupakan bentuk dengan karakter GR yang relatif stabil, berupa nilai kurva log GR yang rendah, dan tajam.

d. Bow Trend (Symmetrical Trend) Bentuk karakteristik dari kurva GR ini menunjukkan adanya penurunan kadar

shale dilanjutkan kenaikan kembali.

e. Bentuk Tidak Teratur (Irregular Trend) Bentuk kurva pada jenis ini memperlihatkan adanya agradasi dari shale dan

lanau.

Interpretasi

secara

kualitatif

bertujuan

untuk

identifikasi

lapisan

9

B. Konsep Sekuen Stratigrafi

Sekuen stratigrafi secara sederhana dapat diartikan sebagai cabang stratigrafi yang mempelajari paket-paket sedimen yang dibatasi oleh bidang ketidakselarasan atau bidang lain yang korelatif dengan bidang ketidakselarasan tersebut. 2.2.2 Analisis Kuantitatif Suatu analisis menggunakan data wireline log secara kuntitatif mengenai pengamatan bentuk kuantitatif defleksi kurva dengan menggunakan rumus perhitungan. Hal yang dapat dihasil kan melalui metode ini meliputi dari nilai porositas batuan, permeabilitas batuan, saturasi hidrokarbon maupun kandungan shale dalam reservoir. Parameter yang dihitung dalam analisis ini meliputi Volume Shale (Vshale), Porositas (Ø), saturasi air (SW), Permeabilitas (K). a.Volume Shale (Vshale) Perhitungan Volume Shale diperoleh dari Log Gamma Ray (GR). Lapisan yang mempunya sisipan berupa shale maupun serpih menggunakan persamaan :

sisipan berupa shale maupun serpih menggunakan persamaan : Dimana : GR : Nilai GR pada lapisan

Dimana :

GR : Nilai GR pada lapisan tersebut

GRmax

: Nilai GR paling maksimum, sama dengan base line

GR min

: Nilai GR saat defleksi minimum

b.Porositas Penentuan harga porositas pada lapisan reservoir menggunakan gabungan harga porositas dari dua kurva yang berbeda, yaitu porositas densitas (ØD) yang merupakan hasil dari perhitungan kurva RHOB dan porositas neutron (ØN) yang di baca pada kurva NPHI. Kurva RHOB yang mengukur berat jenis matriks batuan reservoar biasanya dikalibrasikan pada berat jenis matriks batuan (batugamping = 2.71 dan batupasir =

10

2.65) serta diukur pada lumpur pemboran yang digunakan dalam pemboran (ρf), setelah itu kurva ini baru bisa menunjukan harga porositas.

c. Permeabilitas Permeabilitas adalah kemampuan batuan untuk meloloskan fluida. Permeablitas dikontrol oleh ukuran dari pori, satuan permeabilitas yang digunakan adalah darcy atau millidarcys. Relative permeability adalah rasio antara permeabilitas efektif fluida saturasi, dan permeability 100% merupakan permeabilitas absolut.

d. Saturasi air (SW)

Saturasi air (SW) adalah jumlah dari volume pori di batuan yang disebebkan oleh formation water. Hidrokarbon saturation biasanya ditentukan oleh perbedaan

antara kesatuan dan water saturation.

oleh perbedaan antara kesatuan dan water saturation. 2.3 Konsep Seismik Bumi sebagai medium rambat gelombang

2.3 Konsep Seismik Bumi sebagai medium rambat gelombang seismik tersusun dari perlapisan batuan yang memiliki sifat fisis yang berbeda-beda, terutama sifat fisis densitas batuan (ρ) dan cepat rambat gelombang (v). Sifat fisis tersebut adalah sifat fisis yang mempengaruhi refleksivitas seismik. Dengan berdasar konsep tersebut sehingga dapat dilakukan perkiraan bentuk lapisan/struktur bawah permukaan. Penerapan konsepnya kemudian disebut sebagai Impedansi Akustik, dimana sebagai karekteristik akustik suatu batuan dan merupakan perkalian antara densitas dan cepat rambat gelombang pada medium, yang dinyatakan sebagai :

rambat gelombang pada medium, yang dinyatakan sebagai : Apabila terdapat dua lapisan batuan yang saling berbatasan

Apabila terdapat dua lapisan batuan yang saling berbatasan dan memiliki perbedaan nilai impedansi akustik, maka refleksi gelombang seismik dapat terjadi pada bidang batas antara kedua lapisan tersebut. Besar nilai refleksi yang terjadi kemudian dinyatakan sebagai Koefisien Refleksi :

11

Koefisien refleksi menunjukkan perbandingan amplitudo (energi) gelombang pantul dan gelombang datang, dimana semakin besar

Koefisien refleksi menunjukkan perbandingan amplitudo (energi) gelombang pantul dan gelombang datang, dimana semakin besar amplitudo seismik yang terekam maka semakin besar koefisien refleksinya.

12

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan dilakukan studi literatur dan pengumpulan data. Studi literatur dilakukan dengan mempelajari teori-teori serta konsep-konsep yang berkaitan dengan penelitian, sedangkan pengumpulan data-data yang didapat terdiri dari data sumur serta data seismik.

3.2 Tahap Analisis Data Pada tahap tersebut data-data telah terkumpul dianalisis, dengan tahapan-

tahapan sebagai berikut :

1. Analisis log sumur baik secara kulitatif maupun kuantitatif

2. Melakukan korelasi pada setiap data log sumur.

3. Melakukan pemetaan terhadap struktur bawah permukaan

4. Pembuatan peta SSR, Ispoach serta Net Pay.

5. Melakukan interpretasi terhadap sejarah geografinya.

3.3 Penyusunan Laporan

Merupakan tahap terakhir, penyusunan laporan disusun berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan dan yang telah dianalisis. Laporan ini harus disusun dengan menggunakan metodologi penulisan laporan yang baik dan benar.

13

3.4 Diagram Alir

Tahap Persiapan

(Studi Pustaka)

3.4 Diagram Alir Tahap Persiapan (Studi Pustaka) Data Log Geologi Regional D a t a S
3.4 Diagram Alir Tahap Persiapan (Studi Pustaka) Data Log Geologi Regional D a t a S
Data Log
Data Log

Geologi Regional

Data Seismik

Data Log Geologi Regional D a t a S e i s m i k S
S t r a t i g r a f i Struktur Geologi
S t r a t i g r a f i Struktur Geologi

Stratigrafi

Struktur Geologi

S t r a t i g r a f i Struktur Geologi Analisis Analisis Kualitatif
S t r a t i g r a f i Struktur Geologi Analisis Analisis Kualitatif

Analisis

Analisis

Kualitatif

Kuantitatif

(Korelasi

( Data

stratigrafi dan

petrofisik,

Analisis

Penentuan

Elektrofasies)

Vsh, Porositas,

dan Sw)

Peta SSR dan

Net Isopach

Interpretasi

Struktur (Well

Seismic Tie,

Picking

Horizon)

Penentuan

Peta Depth

OWC

Structure

Seismic Tie, Picking Horizon) Penentuan Peta Depth OWC Structure 14 Peta Net Pay Paleogeografi
14 Peta Net Pay Paleogeografi

14

Peta Net Pay Paleogeografi
Peta Net Pay
Paleogeografi

BAB IV HASIL YANG DIHARAPKAN

Dari hasil analisis data log dan data seismik dengan menggunakan konsep petrofisika ini dapat menentukan lapisan yang mengandung cadangan minyak bumi yang berpotensi sebagai reservoir dan mengetahui keadaan geografi yang terjadi pada masa lampau.

15

BAB V RENCANA KERJA

SEPTEMBER 2018 OKTOBER 2018 NOVEMBER 2018 DESEMBER 2018
SEPTEMBER 2018
OKTOBER 2018
NOVEMBER 2018
DESEMBER 2018

16

DAFTAR PUSTAKA

Allen, G.P., dan J.L. Chambers, 1998, Sedimentation in the Modern and Miocene Mahakam Delta, IPA. Asquith & Gibson, 1982, Basic Well Log Analysis For Geologist, American

Association Of Petroleum Geologists ,USA.

GERARD, J. & OESTERLE, H. 1973. Facies study of the offshore Mahakam area.

Proc.

Indonesian

Petrol.

Assoc.

2nd

Ann. Conv.,

Jakarta June 1973.

Probably the first account of the geology of the delta.

Hadipandoyo, S., Setyoko, J., Suliantara, Guntur, A., Riyanto, H., Saputro, H.H.,

Harahap, M.D., Firdaus, N., 2007, Kualifikasi Sumberdaya Hidrokarbon

Indonesia,

Pusat

Penelitian

dan

Pengembangn

Mineral “LEMIGAS”, Jakarta

Energi

dan

Sumberdaya

Moss, S.J. dan J.L.C. Chambers, 1999, Tertiary facies architecture in the Kutai

Basin, Kalimantan, Indonesia, Journal of Asian Earth Sciences, Elsevier,

UK, Vol. 17, Hal. 157-181.

Satyana,

A.H.,

Nugroho,

D.,

Surantoko,

I,

1999,

Tectonic

Controls

on

The

Hydrocarbon Habitats of The Barito, Kutai and Tarakan Basin, Eastern

Kalimantan,

Indonesia;

Major

Dissimilarities,

Journal

of

Asian

Earth

Sciences Special Issue Vol. 17, No. 1-2, Elsevier Science, Oxford 99-120