Anda di halaman 1dari 19

ANALISIS PETROFISIK BATUAN RESERVOIR DAN

PALEOGEOGRAFI BERDASARKAN DATA LOG DAN

SEISMIK PADA LAPANGAN “X” CEKUNGAN KUTAI

PROPOSAL TUGAS AKHIR

OKTAVIANUS AGUS
072001400142

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2 Maksud dan Tujuan 2
1.3 Judul, Lokasi, dan Waktu Penelitian 2
1.4 Batasan Masalah 2
BAB II TEORI DASAR 3
2.1 Geologi Regional 3
2.1.1 Tektonik dan Struktur Geologi 3
2.1.2 Stratigrafi Cekungan Kutai 4
2.1.3 Petroleum System 7
2.2 Konsep Wireline Log 8
2.2.1 Interpretasi Kualitatif 8
2.2.2 Analisis Kuantitatif 10
2.4 Konsep Seismik 11

BAB III METODE PENELITIAN 13


3.1 Tahap Persiapan 13
3.2 Tahap Analisis Data 13
3.3 Penyusunan Laporan 13
3.4 Diagram alir 14
BAB IV HASIL YANG DIHARAPKAN 15
BAB V RENCANA KERJA 16
DAFTAR PUSTAKA

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengembangan terhadap lapangan penghasil hidrokarbon saat ini terus
ditingkatkan, sehubungan dengan meningkatnya angka kebutuhan terhadap
hidrokarbon tersebut, baik dibidang industri skala besar maupun untuk kebutuhan
rumah tangga. Hal itu memicu setiap perusahaan penghasil hidrokarbon untuk
meningkatkan produksinya.
Metode logging dapat mengetahui gambaran yang lengkap dari lingkungan
bawah permukaan tanah, tepatnya dapat mengetahui dan menilai batuan-batuan yang
mengelilingi lubang bor tersebut. Metode ini juga dapat memberikan keterangan
kedalam lapisan yang mengandung hidrokarbon serta sejauh mana penyebaran
hidrokarbon pada suatu lapisan. Sebelum melakukan proses logging sangat perlu
untuk mengetahui dasar-dasar well logging dan pengetahuan fisika yang luas dengan
tujuan supaya dapat melakukan interpretasi dan analisa hasil rekaman data log.
Petrofisika adalah ilmu-ilmu yang mempelajari sifat-sifat fisik batuan.
Analisa ini sangat penting untuk mengetahui kualitas reservoir, jenis fluida,
porositas dan permeabilitas dari suatu batuan atau formasi, karena hal ini hanya dapat
diketahui berdasarkan sifat fisik dari batuan tersebut. Dengan cara menggunakan data
log sebagai sumber utama, parameter fisika dianalisa berdasarkan ilmu petrofisika
untuk mengevaluasi formasi yang dapat memberikan informasi secara akurat
mengenai zona reservoir serta sejauh mana penyebaran lateral berdasarkan data
seismik. Sedangkan konsep seismic 3D akan sangat membantu dalam memberikan
gambaran perlapisan dan sensitif terhadap strata atau perubahan lapisan akibat
struktur. Dari kedua konsep tersebut dapat mengetahui sifat-sifat fisik batuan dalam
reservoir yang akan sangat membantu untuk memberikan informasi parameter
geologi tentang kualitas reservoir yang diteliti guna untuk meningkatkan produksi
minyak dan gas bumi.

1
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari penelitian ini adalah untuk menerapkan konsep petrofisika dan
paleogeografi dengan menggunakan data log dan data seismik.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sistem pengendapan lapisan
prospek reservoir dan menentukan potensi adanya hidrokarbon pada daerah
penelitian serta mengetahui sejarah geografinya pada lapisan reservoir tersebut.

1.3 Judul dan Waktu Penelitian


Judul yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah “ANALISIS
PETROFISIK BATUAN RESERVOIR DAN PALEOGEOGRAFI
BERDASARKAN DATA LOG DAN SEISMIK PADA LAPANGAN X
CEKUNGAN KUTAI”. (Judul dapat berubah sesuai ketersediaan data serta
persetujuan dari pemilik data).
Waktu penelitian diharapkan berlangsung selama 3 bulan dari bulan
September 2018 sampai November 2018.

1.4 Batasan Masalah


Pada penelitian ini memfokuskan pada analisis lapisan prospek mencakup
data log dan data seismik yang nantinya akan menghasilkan tentang penentuan
sistem pengendapan pada Lapangan “X” menggunakan metode petrofisika sehingga
pada akhirnya digunakan untuk mengetahui keadaan paleogeografi pada formasi
tersebut.

2
BAB II
TEORI DASAR

2.1 Geologi Regional


Secara fisiografis, Cekungan Kutai berbatasan di sebelah utara dengan
Tinggian Mangkalihat, Zona Sesar Bengalon, dan Sangkulirang. Di sebelah selatan
berbatasan dengan Zona Sesar Adang yang bertindak sebagai zona sumbu cekungan
sejak akhir Paleogen hingga sekarang (Moss dan Chamber, 1999). Di sebelah barat
berbatasan dengan Central Kalimantan Range yang dikenal sebagai Kompleks
Orogenesa Kuching, berupa metasedimen kapur yang telah terangkat dan telah
terdeformasi. Di bagian timur berbatasan dengan Selat Makassar.

2.1.1 Tektonik dan Struktur Geologi


Cekungan Kutai di sebelah utara berbatasan dengan Bengalon dan Zona Sesar
Sangkulirang, di selatan berbatasan dengan Zona Sesar Adang, di barat dengan
sedimen-sedimen Paleogen dan metasedimen Kapur yang terdeformasi kuat dan
terangkat dan membentuk daerah Kalimantan Tengah, sedangkan di bagian timur
terbuka dan terhubung dengan laut dalam dari Cekungan Makassar bagian Utara
(Allen dan Chambers, 1998).
Cekungan Kutai dapat dibagi menjadi fase pengendapan transgresif Paleogen
dan pengendapan regresif Neogen. Fase Paleogen dimulai dengan ekstensi pada
tektonik dan pengisian cekungan selama Eosen dan memuncak pada fase longsoran
tarikan post-rift dengan diendapkannya serpih laut dangkal dan karbonat selama
Oligosen Akhir. Fase Neogen dimulai sejak Miosen Bawah sampai sekarang,
menghasilkan progradasi delta dari Cekungan Kutai sampai lapisan Paleogen. Pada
Miosen Tengah dan lapisan yang lebih muda di bagian pantai dan sekitarnya berupa
sedimen klastik regresif yang mengalami progradasi ke bagian timur dari Delta
Mahakam secara progresif lebih muda menjauhi timur. Sedimen-sedimen yang
mengisi Cekungan Kutai banyak terdeformasi oleh lipatan-lipatan yang subparalel
dengan pantai. Intensitas perlipatan semakin berkurang ke arah timur, sedangkan
lipatan di daerah dataran pantai dan lepas pantai terjal, antiklin yang sempit

3
dipisahkan oleh sinklin yang datar. Kemiringan cenderung meningkat sesuai umur
lapisan pada antiklin. Lipatan-lipatan terbentuk bersamaan dengan sedimentasi
berumur Neogen. Banyak lipatan-lipatan yang asimetris terpotong oleh sesar-sesar
naik yang kecil, secara umum berarah timur, tetapi secara lokal berarah barat.
Pada Kala Oligosen (Tersier Awal) Cekungan Kutai mulai turun dan
terakumulasi sedimen-sedimen laut dangkal khususnya mudstone, batupasir sedang
dari Formasi serpih Bogan dan Formasi Pamaluan. Pada awal Miosen, pengangkatan
benua (Dataran Tinggi Kucing) ke arah barat dari tunjaman menghasilkan banyak
sedimen yang mengisi Cekungan Kutai pada formasi delta-delta sungai, salah
satunya di kawasan Sangatta. Ciri khas sedimen-sedimen delta terakumulasi pada
Formasi Pulau Balang, khususnya sedimen dataran delta bagian bawah dan sedimen
batas laut, diikuti lapisan-lapisan dari Formasi Balikpapan yang terdiri atas
mudstone, bataulanau, dan batupasir dari lingkungan pengendapan sungai yang
banyak didominasi substansi gambut delta plain bagian atas yang kemudian
membentuk lapisan-lapisan batubara pada endapan di bagian barat kawasan Pinang.
Subsidence yang berlangsung terus pada waktu itu kemungkinan tidak seragam dan
meyebabkan terbentuknya sesar-sesar pada sedimen-sedimen. Pengendapan pada
Formasi Balikpapan dilanjutkan dengan akumulasi lapisan-lapisan Kampung Baru
pada kala Pliosen. Selama Kala Pliosen, serpih dari serpih Bogan dan Formasi
Pamaluan yang sekarang terendapkan sampai kedalaman 2000 meter, menjadi
kelebihan tekanan dan tidak stabil, menghasilkan pergerakan diapir dari serpih ini
melewati sedimen-sedimen diatasnya menghasilkan struktur antiklin-antiklin rapat
yang dipisahkan oleh sinklin lebih datar melewati Cekugan Kutai dan pada kawasan
Pinang terbentuk struktur Kerucut Pinang dan Sinklin Lembak.

2.1.2 Stratigrafi Cekungan Kutai


Stratigrafi di daerah ini juga terdiri dari siklus transgresi dan regresi. Di sini
fasa regresi jauh lebih mendominasi. Cekungan ini dimulai Tersier Bawah, mungkin
Eosen, dengan suatu transgresi yang segera diikuti oleh regresi yang mengisi
cekungan ini pada seluruh Tersier dan Kuarter. Data stratigrafi menunjukkan bahwa
cekungan diisi dari barat ke timur secara progradasi dengan sumbu ketebalan

4
sedimen maximum, diendapkan pada setiap jenjang Tersier yang bergeser secara
progresif ke arah timur menumpang di atas sedimen laut dalam yang tipis dari Selat
Makasar.
Gerard dan Oesterle (1973) mengintepretasikan endapan dalam fasa regresif ini
sebagai delta. Di sini fasies prodelta, delta front, delta plain terdapat dalam urutan
vertikal secara berganti-ganti dan merupakan nenek moyang Delta Mahakam yang
sekarang. Delta tersebut berprogradasi ke arah laut, akan tetapi beberapa kali
ditransgresi sehingga memberikan siklus kecil. Salah satu progradasi yang jauh ke
timur terjadi di Awal Miosen, dimana kompleks delta mencapai pinggiran paparan.
Setiap fasa regresi siklus kecil ini mengendapkan lapisan pasir reservoir. Di muka
delta ini terbentuk terumbu pinggiran paparan (shelf-edge-reefs) sebelum lereng
kontinen outer shelf.
Di dalam siklus regresi besar ini dapat dibedakan antara Formasi Pulubalang,
Formasi Balikpapan dan Formasi Kampung Baru, yang berumur dari Miosen sampai
Pliosen.

5
Gambar 2.1 Stratigrafi Cekungan Kutai (Satyana,1999)

6
1. Grup Pamaluan
Batupasir kuarsa dengan sisipan batulempung, serpih, batugamping, dan
batulanau, berlapis sangat baik. Formasi pamaluan merupakan batuan paling bawah
yang tersingkap di lembar ini dan bagian atas formasi ini berhubungan menjari
dengan Formasi Bebuluh. Tebal Formasi ini kurang lebih 2000 meter.
2. Grup Bebuluh
Batugamping terumbu dengan sisipan batugamping pasiran dan serpih.
Foraminifera besar yang jumpai antara lain : Lepidocycilina Sumatroenis,
Myogipsina Sp, Operculina Sp,mununjukan umur Miosen Awal sampai Miosen
Tengah. Lingkungan pengendapan laut dangkal dengan ketebalan sekitar 300 m.
Formasi Babuluh tertindih selaras oleh Formasi Pulu Balang
3. Grup Pulu Balang
Perselingan antara Greywacke dan batupasir kuarsa dengan sisipan
batugamping, batulempung, batubara, dan tuff dasit. Di sungai Loa Haur,
mengandung Foraminifera besar antara lain Austrotrilina howhici, Brelis Sp,
Lepidocycilina Sp, Myogipina Sp, menunjukan umur Miosen Tengah dengan
lingkungan pengendapan laut dangkal.
4. Grup Balikpapan
Perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan batulanau, serpih,
batugamping dan batubara. Batugamping pasiran mengandung Fosil menunjukan
umur Moisen Akhir bagian bawah – Miosen Tengah bagian atas
5. Grup Kampung Baru
Batupasir kuarsa dengan sisipan lempung, serpih, lanau, dan lignit, pada
umumnya lunak mudah hancur, berumur Miosen Akhir - Plestosen. Lingkungan
pengendapan delta laut dangkal, tebal lebih dari 500 m. Formasi ini menindih selaras
dan setempat tidak selaras terhadap Formasi Balikpapan.

2.1.3 Petroleum System


Batuan induk utama terdiri dari Formasi Pamaluan, Pulau Balang, dan
Balikpapan. Formasi Pamaluan, kandungan material organiknya cukup (1-2%), tetapi
hanya terdapat di bagian utara dari Cekungan Kutai. Pada Formasi Bebulu terdapat

7
kandungan material organik yang cukup dengan HI di atas 300. Formasi Balikpapan
merupakan batuan induk yang terbaik di Cekungan Kutai karena kandungan material
organiknya tinggi dengan HI lebih besar dari 400 dan matang. Formasi ini
ketebalannya mencapai lebih dari 3000 m, sehingga diperkirakan mampu
menghasilkan hidrokarbon dalam jumlah yang cukup banyak
Batuan reservoir terdapat pada formasi Kiham Haloq, Balikpapan, dan
Kampung Baru, tetapi yang produktif hanya Formasi Balikpapan dan Kampung Baru
(Hadipandoyo, et al., 2007). Porositas permukaan pasir literanitik berkisar <5% -
25% dengan permeabilitas <10 mD - 200 mD.
Seal yang ada pada cekungan ini berasal dari serpih dan dijumpai hampir di
semua formasi yang berumur Miosen. Kelompok Balikpapan dan Formasi Kampung
Baru memiliki serpih yang sangat potensial sebagai seal.
Migrasi vertikal dari dapur Paleogen matang terjadi melalui jaringan sesar-
sesar menuju ke reservoar yang berumur Miosen Tengah dan Atas. Migrasi lateral
dari areal dapur matang oleh reservoar lapisan kemiringan ke timur menuju trap
stratigrafi ataupun struktur.
Jenis perangkap didominasi oleh perangkap struktur khususnya tutupan
(closure) four-way yang diikat oleh sesar. Perangkap stratigrafi menjadi perangkap
yang penting namun lebih sulit diidentifikasi keberadaannya bila dibandingkan
dengan perangkap struktur. Kombinasi dari perangkap struktur dan stratigrafi lebih
umum ditemukan pada Cekungan Kutai.

2.2 Konsep Wireline Log


Wireline Log adalah suatu kegiatan perekaman data-data sifat fisik batuan di
dalam lubang bor pada kedalaman tertentu. Adapun sifat-sifat fisik yang diukur
adalah kelistrikan, radioaktifitas, dan kecepatan suara pada batuan (Asquith &
Gibson, 1982).

8
2.2.1 Interpretasi Kualitatif
Interpretasi secara kualitatif bertujuan untuk identifikasi lapisan batuan
cadangan, lapisan hidrokarbon, serta perkiraan jenis hidrokarbon. Untuk suatu
interpretasi yang baik, maka harus dilakukan dengan menghubungkan beberapa log.
A. Konsep Elektrofasies
Elektrofasies adalah set kurva log yang menunjukkan karakteristik suatu
lapisan yang dapat dibedakan dengan yang lainnya.
Secara umum pengunaan GR log ini dikarenakan log ini sangat efektif dalam
pengukuran kadar mineral lempung dalam batuan. Karakteristik dari kurva log GR
telah banyak diteliti yang dibandingkan dengan kenampakan sampel batuan intinya
(Core), banyak terjadi interpretasi bentuk kurva log GR serta karakter fasies
pengendapannya, secara garis besar karakter dan pola log GR dapat dibedakan
menjadi:
a. Bentuk Bell
Pada bentuk ini akan terlihat kenaikan volume shale secara gradual,
menunjukkan perubahan dominasi besar butiran misalnya dari batupasir ke shale atau
merupakan aspek penghalusan keatas (finning upward).
b. Bentuk Funnel (Cleaning Up Trend)
Nilai kurva akan naik secara gradual, hal ini juga menunjukkan dominasi
yang berubah misalnya dari shale kearah sand (coarsening upward). Kurva log ini
menunjukkan fasies pengendapan di laut dangkal dengan energi pengendapan yang
mulai naik serta butiran yang mengkasar.
c. Bentuk Blok atau Silinder (Boxcar Trend)
Bentuk log ini merupakan bentuk dengan karakter GR yang relatif stabil,
berupa nilai kurva log GR yang rendah, dan tajam.
d. Bow Trend (Symmetrical Trend)
Bentuk karakteristik dari kurva GR ini menunjukkan adanya penurunan kadar
shale dilanjutkan kenaikan kembali.
e. Bentuk Tidak Teratur (Irregular Trend)
Bentuk kurva pada jenis ini memperlihatkan adanya agradasi dari shale dan
lanau.

9
B. Konsep Sekuen Stratigrafi
Sekuen stratigrafi secara sederhana dapat diartikan sebagai cabang stratigrafi
yang mempelajari paket-paket sedimen yang dibatasi oleh bidang ketidakselarasan
atau bidang lain yang korelatif dengan bidang ketidakselarasan tersebut.
2.2.2 Analisis Kuantitatif
Suatu analisis menggunakan data wireline log secara kuntitatif mengenai
pengamatan bentuk kuantitatif defleksi kurva dengan menggunakan rumus
perhitungan. Hal yang dapat dihasil kan melalui metode ini meliputi dari nilai
porositas batuan, permeabilitas batuan, saturasi hidrokarbon maupun kandungan
shale dalam reservoir.
Parameter yang dihitung dalam analisis ini meliputi Volume Shale (Vshale),
Porositas (Ø), saturasi air (SW), Permeabilitas (K).
a.Volume Shale (Vshale)
Perhitungan Volume Shale diperoleh dari Log Gamma Ray (GR). Lapisan
yang mempunya sisipan berupa shale maupun serpih menggunakan persamaan :

Dimana :
GR : Nilai GR pada lapisan tersebut
GRmax : Nilai GR paling maksimum, sama dengan base line
GR min : Nilai GR saat defleksi minimum
b.Porositas
Penentuan harga porositas pada lapisan reservoir menggunakan gabungan
harga porositas dari dua kurva yang berbeda, yaitu porositas densitas (ØD) yang
merupakan hasil dari perhitungan kurva RHOB dan porositas neutron (ØN) yang di
baca pada kurva NPHI.
Kurva RHOB yang mengukur berat jenis matriks batuan reservoar biasanya
dikalibrasikan pada berat jenis matriks batuan (batugamping = 2.71 dan batupasir =

10
2.65) serta diukur pada lumpur pemboran yang digunakan dalam pemboran (ρf),
setelah itu kurva ini baru bisa menunjukan harga porositas.
c. Permeabilitas
Permeabilitas adalah kemampuan batuan untuk meloloskan fluida.
Permeablitas dikontrol oleh ukuran dari pori, satuan permeabilitas yang digunakan
adalah darcy atau millidarcys. Relative permeability adalah rasio antara permeabilitas
efektif fluida saturasi, dan permeability 100% merupakan permeabilitas absolut.
d. Saturasi air (SW)
Saturasi air (SW) adalah jumlah dari volume pori di batuan yang disebebkan
oleh formation water. Hidrokarbon saturation biasanya ditentukan oleh perbedaan
antara kesatuan dan water saturation.

2.3 Konsep Seismik


Bumi sebagai medium rambat gelombang seismik tersusun dari perlapisan
batuan yang memiliki sifat fisis yang berbeda-beda, terutama sifat fisis densitas
batuan (ρ) dan cepat rambat gelombang (v). Sifat fisis tersebut adalah sifat fisis yang
mempengaruhi refleksivitas seismik. Dengan berdasar konsep tersebut sehingga
dapat dilakukan perkiraan bentuk lapisan/struktur bawah permukaan. Penerapan
konsepnya kemudian disebut sebagai Impedansi Akustik, dimana sebagai
karekteristik akustik suatu batuan dan merupakan perkalian antara densitas dan cepat
rambat gelombang pada medium, yang dinyatakan sebagai :

Apabila terdapat dua lapisan batuan yang saling berbatasan dan memiliki
perbedaan nilai impedansi akustik, maka refleksi gelombang seismik dapat terjadi
pada bidang batas antara kedua lapisan tersebut. Besar nilai refleksi yang terjadi
kemudian dinyatakan sebagai Koefisien Refleksi :

11
Koefisien refleksi menunjukkan perbandingan amplitudo (energi) gelombang
pantul dan gelombang datang, dimana semakin besar amplitudo seismik yang
terekam maka semakin besar koefisien refleksinya.

12
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tahap Persiapan


Pada tahap persiapan dilakukan studi literatur dan pengumpulan data. Studi
literatur dilakukan dengan mempelajari teori-teori serta konsep-konsep yang
berkaitan dengan penelitian, sedangkan pengumpulan data-data yang didapat terdiri
dari data sumur serta data seismik.

3.2 Tahap Analisis Data


Pada tahap tersebut data-data telah terkumpul dianalisis, dengan tahapan-
tahapan sebagai berikut :
1. Analisis log sumur baik secara kulitatif maupun kuantitatif
2. Melakukan korelasi pada setiap data log sumur.
3. Melakukan pemetaan terhadap struktur bawah permukaan
4. Pembuatan peta SSR, Ispoach serta Net Pay.
5. Melakukan interpretasi terhadap sejarah geografinya.

3.3 Penyusunan Laporan


Merupakan tahap terakhir, penyusunan laporan disusun berdasarkan data-data
yang telah dikumpulkan dan yang telah dianalisis. Laporan ini harus disusun dengan
menggunakan metodologi penulisan laporan yang baik dan benar.

13
3.4 Diagram Alir

Tahap Persiapan

(Studi Pustaka)

Geologi Regional Data Log Data Seismik

Stratigrafi Struktur Geologi Analisis Analisis


Interpretasi
(Studi (Studi Pustaka) Kualitatif Kuantitatif
Struktur (Well
Pustaka) (Korelasi ( Data
Seismic Tie,
stratigrafi dan petrofisik,
Picking
Analisis Penentuan
Horizon)
Elektrofasies) Vsh, Porositas,
dan Sw)

(Studi Pustaka)
Peta SSR dan Penentuan Peta Depth
Net Isopach OWC Structure

(Studi Pustaka)

Peta Net Pay

Perhitungan
Cadangan
Paleogeografi
Minyak Bumi

14
BAB IV
HASIL YANG DIHARAPKAN

Dari hasil analisis data log dan data seismik dengan menggunakan konsep
petrofisika ini dapat menentukan lapisan yang mengandung cadangan minyak bumi
yang berpotensi sebagai reservoir dan mengetahui keadaan geografi yang terjadi
pada masa lampau.

15
BAB V
RENCANA KERJA

SEPTEMBER 2018 OKTOBER 2018 NOVEMBER 2018 DESEMBER 2018

16
DAFTAR PUSTAKA

Allen, G.P., dan J.L. Chambers, 1998, Sedimentation in the Modern and Miocene
Mahakam Delta, IPA.
Asquith & Gibson, 1982, Basic Well Log Analysis For Geologist, American

Association Of Petroleum Geologists ,USA.

GERARD, J. & OESTERLE, H. 1973. Facies study of the offshore Mahakam area.

Proc. Indonesian Petrol. Assoc. 2nd Ann. Conv., Jakarta June 1973.

Probably the first account of the geology of the delta.

Hadipandoyo, S., Setyoko, J., Suliantara, Guntur, A., Riyanto, H., Saputro, H.H.,

Harahap, M.D., Firdaus, N., 2007, Kualifikasi Sumberdaya Hidrokarbon

Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangn Energi dan Sumberdaya

Mineral “LEMIGAS”, Jakarta

Moss, S.J. dan J.L.C. Chambers, 1999, Tertiary facies architecture in the Kutai

Basin, Kalimantan, Indonesia, Journal of Asian Earth Sciences, Elsevier,

UK, Vol. 17, Hal. 157-181.

Satyana, A.H., Nugroho, D., Surantoko, I, 1999, Tectonic Controls on The

Hydrocarbon Habitats of The Barito, Kutai and Tarakan Basin, Eastern

Kalimantan, Indonesia; Major Dissimilarities, Journal of Asian Earth

Sciences Special Issue Vol. 17, No. 1-2, Elsevier Science, Oxford 99-120