Anda di halaman 1dari 58

LAPORAN STUDI KASUS MENDALAM

PENATALAKSANAAN ASUHAN GIZI PADA VERTIGO CENTRAL


DENGAN RIWAYAT HIPERTENSI DAN JANTUNG DI BANGSAL
ALAMANDA I RSUD SLEMAN

Disusun untuk Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Praktik Kerja


Lapangan Bidang Asuhan Gizi Klinik (BAGK)

Oleh :

Haifatul Alimah P07131215100

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV
JURUSAN GIZI
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1. ASSESMEN GIZI
A. ANAMNESIS
1) Identitas Subyek
Nama : Tn HS No RM : 3177xx
Umur : 63 tahun Ruang : Alamanda I
Jenis kelamin: Laki-laki Tgl Masuk : 19/1/2019
Pendidikan : SMP Tgl Kasus : 21/1/2019
Suku : Jawa Alamat : Bangunsari, Bangunkerto,
Turi, Sleman
Agama : Islam Klasifikasi alamat: Perkotaan/
Riwayat merokok: Ya/tidak Perdesaan
Jika ya, frekuensi: 2 x/hari Diagnosis medis : Vertigo central
Keterbatasan fisik: dengan riwayat hipertensi dan jantung
Gangguan penglihatan (ya/tidak),
gangguan pendengaran (ya/tidak)
Kemampuan mobilitas:
Mobilitas di sekitar rumah / mobilitas
di sekitar tempat tidur atau kursi /
tremor (parkinson).

2) Data Sosial Ekonomi


Petani salak
Pekerjaan
Penghasilan Rp. 500.000/bulan
Jumlah anggota 2 orang
keluarga
Kondisi yang Kehilangan pekerjaan (ya/tidak), kehilangan anggota
mempengaruhi keluarga (ya/tidak), trauma (ya/tidak), riwayat operasi
psikologis (ya/tidak)
Laporan Praktikum Kepaniteraan Klinik
Program Studi S1 Ilmu Gizi
Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Alma Ata Yogyakarta

3) Data Berkaitan dengan Riwayat Penyakit

Keluhan Utama Pusing, mual, muntah, nyeri ulu hati


Riwayat Penyakit Vertigo central, jantung
Sekarang
Riwayat Penyakit Hipertensi (2 tahun lalu)
Dahulu
Riwayat Penyakit Herediter (+) hipertensi
Keluarga

4) Berkaitan Dengan Riwayat Gizi


Alergi makanan Tidak ada
Masalah Nyeri ulu hati (ya/tidak), Mual (ya/tidak), Muntah (ya/tidak),
gastrointestinal Diare (ya/tidak), Konstipasi (ya/tidak ), Anoreksia (ya/tidak)
Perubahan pengecapan/penciuman (ya/tidak )
Kesehatan Sulit menelan (ya/tidak), Stomatitis (ya/tidak), Gigi lengkap
mulut (ya/tidak)
Aktifitas fisik Aktifitas SMRS: mengembangkan kebun salak
Jumlah jam tidur sehari: 6 jam
Jenis olahraga: tidak pernah
Frekuensi: -
Pengobatan Vitamin/mineral/suplemen gizi lain : -
Frekuensi dan jumlah : -
Perubahan Bertambah/berkurang: (ya/tidak), lamanya : - kg/
berat badan (minggu/bulan), disengaja/tidak disengaja.
Riwayat / pola Makan pokok 3x/hari dan 2-3x/hari selingan.
makan Makanan pokok: Nasi @100 g 3x/ hari
Lauk hewani: telur ayam 1x/minggu @60g/ 1 butir, daging
ayam @50 g 1x/minggu, daging sapi @50 g 1x/minggu, ikan
lele @ 70 g/1 potong sdg 1x/minggu, ikan nila @50 g
2x/minggu
Lauk nabati: tahu @25g/1 potong 3x/ minggu, tempe @25 g
3x/ minggu
Buah: jeruk @ 50 g 3x/minggu, pisang @100g/ 1 buah
/minggu
Sayur: bayam @100g 2x/minggu, caisin @100g 2x/minggu,
sawi @100g 2x/minggu, kubis @100g 2x/minggu.
Minum: teh manis @250 (gula pasir @ 2sdm) g 2x/hari, Susu
bendera @250 (susu @5sdm) 2x/minggu
Cemilan/snack : Singkong @150 g/ minggu, kentang @100 g/
minggu, Ubi @150 g/ 1,5 potong 1x/minggu, Roti @60 g /2
iris 1x/hari, gorengan bakwan 5x/hari @ 35 g.
Nilai Gizi dari pola makan :
E : 2333,6 kcal
P : 64,9 g
L : 111,2 g
KH : 269,9 g
Sebelumnya pasien belum pernah mendapatkan konsultasi gizi

B. ANTROPOMETRI
TB ULNA Berat Badan LILA
estimasi Ideal
167,3 cm 26,5 cm 60,5 kg 25,5 cm
Status gizi : Berdasarkan data antropometri diketahui bahwa status gizi pasien
berdasarkan LLA yang dikonversi ke IMT adalah 21,35 Kg/m2 (normal).
LLA konversi IMT = (1,01 x LLA)-4,7
= (1,01 x 25,5)-4,7
= 21,05 kg/m2
Keterangan :
LLA = Lingkar lengan atas dalam satuan cm
C. PEMERIKSAAN BIOKIMIA
Tanggal
Pemeriksaan
Peme Satuan/Nilai
Biokimi Nilai Keterangan
riksa Normal
a
an
1,6 % 0,16-1x103/uL Tinggi
19/1/2019 Monosit
0,1 % 0,045-0,44x103/uL Tinggi
Eosinofil
5,4 % 0,9-5,2x103/uL Tinggi
Limfosit
92,8 % 1,8-8x103/uL Tinggi
Neutrofil
255 mg/dl 0-200 mg/dl Tinggi
Kolesterol
58 mg/dl 41,5-66,7 mg/dl Normal
HDL Kolesterol
173 mg/dl 0-130 mg/dl Tinggi
LDL Kolesterol
D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Vital Sign :
Tanggal Satuan/Nilai
Vital sign Nilai Keterangan
Pemeriksaan Normal
22/1/2019 Tekanan darah 130/90 mmHg 110/70 mmHg Tinggi
Nadi 78x/menit 10-60x/menit Tinggi
Suhu 36ºC 36,5-37,5ºC Normal
RR 20x/menit 20-30x/menit Normal

E. ASUPAN ZAT GIZI.


Hasil Recall 24 jam diet : Rumah sakit + makanan luar RS
Tanggal : 21 /1/2019
Diet RS : BRG
Implementasi Energi (kcal) Protein (g) Lemak (g) KH (g)
1005,8 46,7 23,7 153,9
Asupan
Standar RS 1555,1 59,3 44 235,4
% Asupan/Standar RS 64,67 78,75 53,86 65,37
Keterangan Kurang Kurang Kurang Kurang

F. Terapi Medis
Interaksi dengan zat
Jenis Obat Fungsi Solusi
gizi
Inj. Omeprazol Penghambat pompa Menghambat sekresi Monitoring kadar
proton asam dan absorbsi zat besi dan
vitamin B12 dan zat besi vitamin B12 pada
terapi jangka
panjang
Inj. Citicollin mengurangi kerusakan Menngkatkan Dokter akan
jaringan otak saat otak metabolisme glukosa memberikan
cedera diotak citicolin melalui
infus ke
pembuluh darah
untuk menangani
penurunan
kemampuan
berpikir akibat
penuaan dan
penyakit
serebrovaskular
kronis.
Infus Ringer untuk mengatasi
Laktat kondisi kekurangan - -
volume darah
Infus Ranitidine Antagonis reseptor H2 absorbsi vitamin B12 Monitoring kadar
dan zat besi zat besi dan
vitamin B12 pada
terapi jangka
panjang dan
suplementasi jika
diperlukan
Infus Ecosol Untuk mengatasi
NaCl dehidrasi, menambah
kalori dan
- -
mengembalikan
keseimbangan
elektrolit.
Sumber : Helmyati, 2014
2. DIAGNOSIS GIZI

NI-1.3 :
Penurunan kebutuhan energi berkaitan dengan gangguan jantung dibuktikan oleh
riwayat sakit jantung.
NI-1.5 :
Kelebihan intake energi berkaitan dengan kurangnya pengetahuan tentang
makanan dan zat gizi dibuktikan oleh nilai zat gizi asupan dietary history adalah
energi 2333,6 kcal, protein 64,9 g, lemak 111,2 g, karbohidrat 269,9 g.
NI-5.4 :
Penurunan kebutuhan zat gizi lemak dan Na berkaitan dengan gangguan
metabolisme lemak dan riwayat Ht dibuktikan oleh kolesterol total 255 mg/dl
(tinggi), HDL kolesterol (tinggi) 58 mg/dl, LDL kolesterol 173 mg/dl (tinggi) dan
tekanan darah 130/90 mmHg (tinggi), nadi 73x/menit (tinggi).
NC-1.2 :
Kesulitan mengunyah berkaitan dengan gigi tidak lengkap dibuktikan oleh
penolakan terhadap makanan yang bertekstur keras.
NB-1.2 :
Kebiasaan makan yang salah mengenai makanan berkaitan dengan kebiasaan
makan tidak untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dibuktikan oleh ketagihan
terhadap makanan yang digoreng (gorengan) 5x/hari.
3. INTERVENSI GIZI

A. PLANNING

1) Tujuan diet jantung, rendah garam dan rendah kolesterol :


a. Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung.
b. Menurunkan asupan lemak kolesterol pada makanan.
c. Menurunkan tekanan darah mencapai nilai normal.
d. Mempertahankan berat badan agar tetap normal.
2) Syarat / prinsip diet:
a. Energi cukup, untuk mencapai dan mempertahankan berat badan
normal.
b. Protein cukup, diberikan 10% dari total kebutuhan energi.
c. Lemak sedang, diberikan 25% dari total kebutuhan energi.
d. Kolesterol rendah, diberikan 10% dari kebutuhan energi total.
e. Karbohidrat rendah, diberikan 55% dari total kebutuhan energi.
f. Garam rendah 2-3 g/hari.
g. Memberikan makanan yang mudah cerna dan tidak menimbulkan gas.
h. Diberikan secara bertahap sesuai keadaan pasien.
i. Bentuk makanan lunak diberikan dalam porsi kecil.
3) Perhitungan kebutuhan energi dan zat gizi
a. Energi = Sesuai rumus Miflin St Jor
REE = (10 x BBI)+(6,25xTB)–(5xU)+5
= (10x60,5)+(6,25x167,3)-(5x63)+5
= 605+1045,625-315+5
= 1350,625kcal
TEE = REE x FS x FA
= 1350,625 x 1,1 x 1,11
= 1649,1 Kcal
b. Protein = 10%
= 10% x 1649,1 : 4
= 41,2g
c. Lemak = 25%
= 25% x 1649,1 : 9
= 45,8 g
d. Kolesterol = 10% x 1649,1 : 9
= 18,3 g
e. Karbohidrat = 55%
= 55% x 1649,1 : 4
= 226,7 g
4) Terapi diet, bentuk
makanan dan cara pemberian
Terapi Diet : DJRGRCHOL 1700
Bentuk Makanan : lunak
Cara Pemberian : oral
5) Rencana monitoring dan evaluasi
Yang diukur Pengukuran Evaluasi/target
Biokimia Kolesterol Dengan melihat Menurun mencapai nilai
LDL hasil laboratorium normal
HDL didalam rekam
medis
Fisik klinik Tekanan darah Dengan melihat Menurun mencapai nilai
Nadi hasil fisk klinis normal
Suhu didalam rekam
Respirasi medis
Asupan zat gizi Energi Comstock dan - Asupan baik 80-90%
Protein recall 24 hour dari makanan yang
Lemak disajikan (1533,8 kcal).
Karbohidrat - Protein sesuai
Na kebutuhan yaitu 10% dari
Kolesterol total kebutuhan
- Lemak sesuai
kebutuhan yaitu 25% dari
total kebutuhan.
Karbohidrat sesuai
kebutuhan yaitu 65% dari
kebutuhan total
-Natrium 2-3 g/hari

Menurut WNPG (2004), klasifikasi kategori tingkat kecukupan gizi (energi,


protein, lemak dan karbohidrat) adalah sebagai berikut :
Kategori Tingkat konsumsi (% AKG)
Sangat tinggi Bila tingkat kecukupan > 115%
Tinggi Bila tingkat kecukupan 106-115%
Cukup/sesuai standar Bila tingkat kecukupan 95-105%
Rendah Bila tingkat kecukupan 85-94%
Sangat rendah Bila tingkat kecukupan <85%
Sumber : WNPG, 2004

6) Rencana Konsultasi Gizi


Masalah gizi : Vertigo central dengan riwayat hipertensi dan jantung
Tujuan :
a. Pasien mampu memahami tentang diet jantung, rendah garam dan
rendah kolesterol 1700 kcal.
b. Pasien mampu memahami tujuan diet jantung, rendah garam dan rendah
kolesterol 1700 kcal.
c. Pasien mampu memahami syarat dan prinsip diet jantung, rendah garam
dan rendah kolesterol 1700 kcal.
d. Pasien mampu memahami bahan makanan yang dianjurkan dan tidak
dianjurkan.
e. Pasien mampu menerapkan diet jantung, rendah garam dan rendah
kolesterol 1700 kcal dirumah.
Sasaran : pasien dan keluarga pasien
Media:
a. Leaflet diet jantung, rendah garam dan rendah kolesterol 1700 kcal.
b. Tabel bahan penukar

Materi konseling gizi :


a. Pengertian, prinsip dan syarat diet jantung 1700 kcal.
b. Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan.
c. Pembagian menu makan dalam sehari.

d. Cara pengolahan bahan makanan.

e. Gizi seimbang dan pengaturan makan untuk pasien dengan penyakit


jantung.

Pasien sebelumnya, tidak pernah diberikan konsultasi gizi.


B. IMPLEMENTASI
1. Kajian Terapi Diet Rumah Sakit
Jenis Diet/Bentuk Makanan/Cara Pemberian : DJRGRCHOL
1700/Lunak/Oral
Energi Protein Lemak (g) KH (g)
(kcal) (g)
1630,19 34,9 46,8 244,1
Standar diet RS
Kebutuhan 1649,1 41,2 45,8 267,9
%
Standar/Kebutuhan 98,8 84,7 102,1 91,1
Keterangan Baik Cukup Baik Baik

2. Rekomendasi Diet
Terapi Diet : DJRGRCHOL 1700
Bentuk makanan : Lunak
Pemberian : Oral
STANDAR DIET RS REKOMENDASI DIET
Bubur 250g Bubur 250g
Lauk hewani 50g Lauk hewani 50g
Lauk nabati 25g Lauk nabati 75g
Sayur 75g Sayur 75g
Minyak kelapa sawit 5g Minyak kelapa sawit 5g
Minyak jagung 5g Minyak jagung 5g
Gula 8g Gula 8g
Santan 5g Santan 5g
Teh+Gula pasir 13g Teh+Gula pasir 13g
snack 80g Snack 80g
Bubur 250g Bubur 250g
Lauk hewani 50g Lauk hewani 50g
Lauk nabati 25g Lauk nabati 75g
Sayur 75g Sayur 75g
Buah 100g Minyak kelapa sawit 5g
Minyak kelapa sawit 5g Minyak jagung 5g
Minyak jagung 5g Gula 8g
Gula 8g Santan 5g
Teh+Gula pasir 13g Teh+Gula pasir 13g
Buah 100g Buah 100g
Bubur 250g Bubur 250g
Lauk hewani 50g Lauk hewani 50g
Lauk nabati 25g Lauk nabati 75g
Sayur 75g Sayur 75g
Buah 100g Minyak kelapa sawit 5g
Minyak kelapa sawit 5g Minyak jagung 5g
Minyak jagung 5g Gula 8g
Gula 8g Santan 5g
Santan 5g Teh+Gula pasir 13g
Teh+Gula pasir 13g
Energi : 1630,19 kcal (98,8%) Energi : 1649,1 kcal (100%)
Protein : 34,9 g (84,7%) Protein : 41,2 g (100%)
Lemak : 46,8 g (102,1%) Lemak : 45,8 g (100%)
Karbohidrat : 244,1 g (91,1%) Karbohidrat : 267,9 g (100%)

3. Penerapan diet berdasarkan rekomendasi


Pemesanan Diet : DJRGRCHOL 1500
Terapi Diet : DJRGRCHOL 1500
Bentuk makanan : Lunak
Pemberian : Oral
STANDAR DIET RS 1500 IMPLEMENTASI DIET
1500
Bubur 200g Bubur 200g
Lauk hewani 50g Lauk hewani 50g
Lauk nabati 25g Lauk nabati 50g
Sayur 75g Sayur 75g
Minyak kelapa sawit 5g Minyak kelapa sawit 5g
Minyak jagung 5g Minyak jagung 5g
Gula 8g Gula 8g
Santan 5g Santan 5g
Teh+Gula pasir 13g Teh+Gula pasir 13g
snack 80g Snack 80g
Bubur 200g Bubur 200g
Lauk hewani 50g Lauk hewani 50g
Lauk nabati 25g Lauk nabati 25g
Sayur 75g Sayur 75g
Buah 100g Minyak kelapa sawit 5g
Minyak kelapa sawit 5g Minyak jagung 5g
Minyak jagung 5g Gula 8g
Gula 8g Santan 5g
Teh+Gula pasir 13g Teh+Gula pasir 13g
Snack 80g Buah 100g
Bubur 200g Bubur 200g
Lauk hewani 50g Lauk hewani 50g
Lauk nabati 25g Lauk nabati 25g
Sayur 75g Sayur 75g
Buah 100g Minyak kelapa sawit 5g
Minyak kelapa sawit 5g Minyak jagung 5g
Minyak jagung 5g Gula 8g
Gula 8g Santan 5g
Santan 5g Teh+Gula pasir 13g
Teh+Gula pasir 13g
Energi : 1562,03 kcal (%) Energi : 1533,8 kcal (%)
Protein : 41,1 g (%) Protein : 51,5 g (1%)
Lemak : 42,08 g (%) Lemak : 37,3 g (%)
Karbohidrat : 239,06 g (%) Karbohidrat : 254,3 g (%)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. HIPERTENSI
A. Pengertian Hipertensi
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90
mmHg. Pada populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps, 2005).
Hipertensi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah secara terus
menerus sehingga melebihi batas normal. Tekanan darah normal 110/90
mmHg (Wexler,2002). Klasifikasi hipertensi yaitu :
a). Hipertensi primer
Suatu peningkatan persisten tekanan arteri yang dihasilkan oleh
ketidakteraturan mekanisme kontrol homeostatik normal (Sheps,
2005).
b). Hipertensi sekunder
Hipertensi persisten akibat kelainan kedua selain hipertensi esensial
(Sheps, 2005).

B. Etiologi hipertensi
Hipertensi tergantung kecepatan denyut jantung, volume sekuncup dan
TPR. Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat
rangsangan abnormal saraf atau hormon pada nodus SA (Corwin, 2000).
Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi
apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan, akibat
gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang
berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun
penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan
garam oleh ginjal. Peningkatan volume plasma akan menyebabkan
peningkatan volume diastolik akhir sehingga terjadi peningkatan volume
sekuncup dan tekanan darah. Peningkata preload biasanya berkaitan
dengan peningkatan tekanan sistolik ( Amir,2002).
Peningkatan Total Periperial Resistence yang berlangsung lama dapat
terjadi pada peningkatan rangsangan saraf atau hormon pada arteriol, atau
responsivitas yang berlebihan dari arteriol terdapat rangsangan normal.
Kedua hal tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pada
peningkatan Total Periperial Resistence, jantung harus memompa secara
lebih kuat dan dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar,
untuk mendorong darah melintas pembuluh darah yang menyempit. Hal ini
disebut peningkatan dalam afterload jantung dan biasanya berkaitan
dengan peningkatan tekanan diastolik. Apabila peningkatan afterload
berlangsung lama, maka ventrikel kiri mungkin mulai mengalami hipertrifi
(membesar). Dengan hipertrofi, kebutuhan ventrikel akan oksigen semakin
meningkat sehingga ventrikel harus mampu memompa darah secara lebih
keras lagi untuk memenuhi kebutuhan tesebut. Pada hipertrofi, serat-serat
otot jantung juga mulai tegang melebihi panjang normalnya yang pada
akhirnya menyebabkan penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup.
(Hayens, 2003).

C. Faktor Risiko Hipertensi


Faktor usia sangat berpengaruh terhadap hipertensi karena dengan
bertambahnya umur maka semakin tinggi mendapat resiko hipertensi.
Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Ini sering
disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh yang mempengaruhi
jantung, pembuluh darah dan hormon. Hipertensi pada yang berusia
kurang dari 35 tahun akan menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan
kematian prematur (Julianti, 2005).
Jenis kelamin juga sangat erat kaitanya terhadap terjadinya hipertensi
dimana pada masa muda dan paruh baya lebih tinggi penyakit hipertensi
pada laki-laki dan pada wanita lebih tinggi setelah umur 55 tahun, ketika
seorang wanita mengalami menopause. Riwayat keluarga juga merupakan
masalah yang memicu masalah terjadinya hipertensi hipertensi cenderung
merupakan penyakit keturunan. Jika seorang dari orang tua kita memiliki
riwayat hipertensi maka sepanjang hidup kita memiliki kemungkinan 25%
terkena hipertensi ( Astawan,2002 ).
Garam mengandung 40% sodium dan 60% klorida. Orang-orang peka
sodium lebih mudah meningkat sodium, yang menimbulkan retensi cairan
dan peningkatan tekanan darah (Sheps, 2000).

D. Komplikasi Hipertensi
Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak, atau
akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan
tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-
arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertropi dan menebal,
sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya berkurang.
Arteri-arteri otak yang mengalami arterosklerosis dapat melemah sehingga
meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma (Corwin, 2000).
Infark Miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang arterosklerosis
tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila
terbentuk trombus yang menghambat aliran darah melalui pembuluh darah
tersebut. Karena hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel, maka
kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat terpenuhi dan dapat
terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga
hipertropi ventrikel dapat menimbulkan perubahan-perubahan waktu
hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksia
jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan (Corwin, 2000).
Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan
tinggi pada kapiler-kepiler ginjal, glomerolus. Dengan rusaknya
glomerolus, darah akan mengalir keunit-unit fungsional ginjal, nefron akan
terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksia dan kematian. Dengan
rusaknya membran glomerolus, protein akan keluar melalui urin sehingga
tekanan osmotik koloid plasma berkurang, menyebabkan edema yang
sering dijumpai pada hipertensi kronik (Corwin, 2000).
Ensefalopati dapat terjadi terjadi terutama pada hipertensi maligna
(hipertensi yang cepat). Tekanan yang tinggi pada kelainan ini
menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke
dalam ruang intertisium diseluruh susunan saraf pusat. Neron-neron
disekitarnya kolap dan terjadi koma serta kematian (Corwin, 2000).

2. CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF)


A. Pengertian CHF
Gagal jantung kongestif (CHF) adalah keadaan patofisiologis berupa
kelainan fungsi jantung, sehingga jantung tidak mampu memompa darah
untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan atau kemampuannya
hanya ada kalau disertai peninggian volume diastolik secara abnormal.
Penamaan gagal jantung kongestif yang sering digunakan kalau terjadi
gagal jantung sisi kiri dan sisi kanan (Mansjoer, 2001).
Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk
memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan
oksigen dan nutrisi (Smeltzer & Bare, 2001).

B. Etiologi CHF (Gagal jantung)


Mekanisme yang mendasari terjadinya gagal jantung kongestif
meliputi gangguan kemampuan konteraktilitas jantung, yang menyebabkan
curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal. Tetapi pada gagal
jantung dengan masalah yang utama terjadi adalah kerusakan serabut otot
jantung, volume sekuncup berkurang dan curah jantung normal masih
dapat dipertahankan. Volume sekuncup adalah jumlah darah yang dipompa
pada setiap konteraksi tergantung pada tiga faktor: yaitu preload,
konteraktilitas, afterload.
 Preload adalah jumlah darah yang mengisi jantung berbanding
langsung dengan tekanan yang ditimbulkan oleh panjangnya regangan
serabut otot jantung.
 Konteraktillitas mengacu pada perubahan kekuatan konteraksi yang
terjadi pada tingkat sel dan berhubungan dengan perubahan panjang
serabut jantung dan kadar kalsium
 Afterload mengacu pada besarnya tekanan venterikel yang harus
dihasilkan untuk memompa darah melawan perbedaan tekanan yang
ditimbulkan oleh tekanan arteriol.
Pada gagal jantung, jika salah satu atau lebih faktor ini terganggu, maka
curah jantung berkurang (Brunner dan Suddarth 2002).
C. Penatalaksanaan Gagal Jantung
Pada px gagal jantung harus diterapkan diet seimbang yang
mengandung semua nutrient dalam jumlah yang memadai. Syarat diet
yang diberikan :
a). Energi cukup untuk mencapai berat badan normal. Diberikan dalam
porsi kecil dan sering 6 kali pemberian.
b). Kebutuhan protein cukup yaitu 0,8g/kg BB.
c). Kebutuhan lemak sedang 25% dari kebutuhan total.
d). Kebutuhan karbohidrat cukup 60-65% dari total kebutuhan.
e). Penggunaan gula murni dibatasi, hanya pada masakan
f). Serat cukup untuk menangani konstipasi.
g). Makanan mudah dicerna dan tidak menimbulkan gas.
h). Vitamin dan mineral cukup.
i). Cairan cukup, sesuai kebutuhan.
(Almatsier, 2004)
Penatalaksanaan:
a.Istirahat
b.Diit jantung, makanan lunak, rendah garam
c.Pemberian digitalis, membantu kontraksi jantung dan
memperlambatfrekuensi jantung. Hasil yang diharapkan peningkatan
curah jantung,penurunan tekanan vena dan volume darah dan
peningkatan diuresis akanmengurangi edema. Pada saat pemberian ini
pasien harus dipantauterhadap hilangnya dispnea, ortopnea,
berkurangnya krekel, dan edemaperifer. Apabila terjadi keracunan
ditandai dengan anoreksia, mual dan muntah namun itu gejala awal
selanjutnya akan terjadi perubahan irama,bradikardi kontrak ventrikel
premature, bigemini (denyut normal dan premature saling berganti), dan
takikardia atria proksimal

D. Komplikasi Gagal Jantung


1) Tromboemboli adalah risiko terjadinya bekuan vena (thrombosis vena
dalam atau deep venous thrombosis dan emboli paru atau EP) dan
emboli sistemik tinggi, terutama pada CHF berat. Bisa diturunkan
dengan pemberian warfarin.
2) Komplikasi fibrilasi atrium sering terjadi pada CHF yang bisa
menyebabkan perburukan dramatis. Hal tersebut indikasi pemantauan
denyut jantung (dengan digoxin atau β blocker dan pemberian
warfarin).
3) Kegagalan pompa progresif bisa terjadi karena penggunaan diuretik
dengan dosis ditinggikan.
4) Aritmia ventrikel sering dijumpai, bisa menyebabkan sinkop atau
sudden cardiac death (25-50% kematian CHF). Pada pasien yang
berhasil diresusitasi, amiodaron, β blocker, dan vebrilator yang ditanam
mungkin turut mempunyai peranan

3. DIABETES MELITUS
A. Pengertian Diabetes Melitus
Diabetes adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan terjadinya
resistensi insulin, sekresi insulin yang tidak memadai, atau gabungan
keduanya. Manifestasi klinis gangguan tersebut adalah hiperglikemia.
Pasien diabetes diklasifikasikan ke dalam 2 kelompok, yaitu diabetes tipe
1 yang disebabkan oleh defisiensi absolut insulin, dan diabetes tipe 2
didefinisikan adanya resistensi insulin dengan meningkatnya kompensasi
sekresi insulin yang tidak memadai.
Wanita yang mengalami diabetes selama masa kehamilan
dikelompokkan sebagai diabetes gestasional. Sehingga diabetes melitus
(DM) adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia
yang dikaitkan dengan masalah metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein dan dapat menimbulkan komplikasi kronik seperti gangguan
mikrovaskular, makrovaskular, dan neuropati (Dipiro, 2007).
B. Pengertian Diabetes Melitus Tipe II
Diabetes Mellitus (DM) Tipe II merupakan penyakit hiperglikemi
akibat insensivitas sel terhadap insulin. Kadar insulin mungkin sedikit
menurun atau berada dalam rentang normal. Karena insulin tetap
dihasilkan oleh sel-sel beta pankreas, maka diabetes mellitus tipe II
dianggap sebagai non insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)
(Corwin, 2001).
C. Etiologi Diabetes Melitus tipe II
Menurut Smeltzer & Bare (2002) DM tipe II disebabkan kegagalan
relatif sel β dan resisten insulin. Resisten insulin adalah turunnya
kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan
perifer dan untuk menghambat produksi glikosa oleh hati. Sel β tidak
mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi
defensiensi relatif insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya
sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan
glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel β
pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa.

D. Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe II


Beberapa faktor yang diketahui dapat mempengaruhi DM tipe II
(Smeltzer & Bare, 2002) antara lain:
a. Kelainan genetik Diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga
yang mengidap diabetes, karena gen yang mengakibatkan tubuh tak
dapat menghasilkan insulin dengan baik.
b. Usia, Umumnya penderita DM tipe II mengalami perubahan fisiologi
yang secara drastis, DM tipe II sering muncul setelah usia 30 tahun
keatas dan pada mereka yang berat badannya berlebihan sehingga
tubuhnya tidak peka terhadap insulin.
c. Gaya hidup stress, Stres kronis cenderung membuat seseorang makan
makanan yang manis-manis untuk meningkatkan kadar lemak seretonin
otak. Seretonin ini mempunyai efek penenang sementara untuk
meredakan stresnya. Tetapi gula dan lemak berbahaya bagj mereka
yang beresiko mengidap penyakit DM tipe II.
d. Pola makan yang salah Pada penderita DM tipe II terjadi obesitas
(gemuk berlebihan) yang dapat mengakibatkan gangguan kerja insulin
(resistensi insulin). Obesitas bukan karena makanan yang manis atau
kaya lemak, tetapi lebih disebabkan jumlah konsumsi yang terlalu
banyak, sehingga cadangan gula darah yang disimpan didalam tubuh
sangat berlebihan. Sekitar 80% pasien DM tipe II adalah mereka yang
tergolong gemuk.
E. Manifestasi Diabetes Melitus Tipe II
Seseorang yang menderita DM tipe II biasanya mengalami peningkatan
frekuensi buang air (poliuri), rasa lapar (polifagia), rasa haus (polidipsi),
cepat lelah, kehilangan tenaga, dan merasa tidak fit, kelelahan yang
berkepanjangan dan tidak ada penyebabnya, mudah sakit berkepanjangan,
biasanya terjadi pada usia di atas 30 tahun, tetapi prevalensinya kini
semakin tinggi pada golongan anak-anak dan remaja. Gejala-gejala
tersebut sering terabaikan karena dianggap sebagai keletihan akibat kerja,
jika glukosa darah sudah tumpah kesaluran urin dan urin tersebut tidak
disiram, maka dikerubuti oleh semut yang merupakantanda adanya gula
(Smeltzer & Bare, 2002).
F. Komplikasi Diabetes Melitus Tipe II
DM tipe II bisa menimbulkan komplikasi. Komplikasi menahun DM
merajalela ke mana-mana bagian tubuh. Selain rambut rontok, telinga
berdenging atau tuli, sering berganti kacamata (dalam setahun beberapa
kali ganti), katarak pada usia dini, dan terserang glaucoma (tekanan bola
mata meninggi, dan bisa berakhir dengan kebutaan), kebutaan akibat
retinopathy, melumpuhnya saraf mata terjadi setelah 10-15 tahun. Terjadi
serangan jantung koroner, payah ginjal neuphropathy, saraf-saraf lumpuh,
atau muncul gangrene pada tungkai dan kaki, serta serangan stroke. Pasien
DM tipe II mempunyai risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan
penyakit pembuluh darah otak 2 kali lebih besar, kematian akibat penyakit
jantung 16,5% dan kejadian komplikasi ini terus meningkat.
Kualitas pembuluh darah yang tidak baik ini pada penderita diabetes
mellitus diakibatkan 20 faktor diantaranya stress, stress dapat merangsang
hipotalamus dan hipofisis untuk peningkatan sekresi hormonhormon
kontra insulin seperti ketokelamin, ACTH, GH, kortisol,dan lain-lain.
Akibatnya hal ini akan mempercepat terjadinya komplikasi yangburuk
bagi penderita diabetes mellitus (Nadesul, 2002).
G. Perubahan yang Terjadi pada Penderita DM II
- Perubahan Fisiologi
Setiap penderita DM tipe II yang mengalami perubahan fisik terdiri dari
sering buang air, merasa lapar,mersa haus, berkeringat dingin, luka lama
sembuh, gemetaran dan pusing, sehingga menimbulkan ketakutan atau
stress (Nadesul,2002).
- Perubahan Psikologi
Hidup dengan DM tipe II dapat memberikan beban psikologi bagi
penderita maupun anggota keluarganya. Respon emosional negatif
terhadap diagnosa bahwa seseorang mengidap penyakit DM tipe II dapat
berupa penolakan atau tidak mau mengakui kenyataan, cemas, marah,
merasa berdosa dan depresi (Darmono, 2007).

H. Penatalaksanaan Diabetes Melitus


Tujuan utama pada penatalaksanaan DM adalah menormalkan aktivitas
insulin dan kadar glukosa darah Beberapa prinsip pengelolahan penderita
diabetes melitus adalah
1. Edukasi kepada pasien, keluarga dan masyarakat agar menjalankan
perilaku hidup sehat
2. Diet (nutrisi) yang sesuai dengan kebutuhan pasien, dan pola makan yang
sehat
3. Olah raga seperti aerobik (berenang, bersepeda, jogging, jalan cepat)
paling tidak tiga kali seminggu, setiap 15-60 menit sampai berkeringat dan
terengah-angah tanpa membuat nafas menjadi sesak atau sesuai dengan
petunjuk dokter
Obat-obat yang berkhasiat menurunkan kadar gula darah, sesuai dengan
petunjuk dokter.
.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Monitoring, Evaluasi dan Tindak Lanjut


MONITORING DAN EVALUASI KESIMPULAN & TINDAK
LANJUT
TGL DIAGNOSIS
Antropometri Biokimia Fisik dan klinis Asupan (ASSESMEN, DIAGNOSIS GIZI,
INTERVENSI GIZI
21/1/2019 Vertigo - LILA= 25,5 - LDL kolesterol=173  TD: 171/101  Energi : A : Status gizi pasien diketahui dari
mmHg
Awal central cm mg/dl 1015,5kcal (65%) perhitungan LLA yang
- Total Kolesterol=250  N : 102x/menit
dengan - Ulna= 26,5  Protein : 55,3g dikonversi ke IMT adalah
kasus  R :20 x/menit
mg/dl  t : 36,60C (74,3%)
hipertensi, cm normal yaitu 21,05 kg/m2.
- HDL Kolesterol = 55  Keluhan  Lemak : 43,2g
jantung dan - LLA yang B : berdasarkan data biokimia,
mg/dl gastrointestinal (97,4%)
gejala stroke dikonversi ke  KH : 104,9 g pasien kadar LDL kolesterol
sudah tidak ada
IMT= (43,8%) adalah 173 mg/dl (Tinggi), total
Terdapat  Na :216,8 mg
21,35 kg/m2 kolesterol adalah 250 mg/dl
kesulitan
-BBI=60,5kg (Tinggi) dan HDL Kolesterol 55
mengunyah
mg/dl (Tinggi).
dikarenakan
C : tekanan darah px tinggi yaitu
gigi pasien tidak
171/101 mmHg, keluhan
lengkap
gastrointestinal tidak ada,
terdapat kesulitan mengunyah.
D : asupan energi kurang, protein
kurang, lemak baik, KH
tergolong kurang dan Natrium
cukup (secara keseluruhan
asupan pasien kurang).
Diagnosis Gizi :
NI-1.3 :
Penurunan kebutuhan energi
berkaitan dengan gangguan jantung
dibuktikan oleh riwayat sakit
jantung.
NI-1.5 :
Kelebihan intake energi berkaitan
dengan kurangnya pengetahuan
tentang makanan dan zat gizi
dibuktikan oleh nilai zat gizi
asupan dietary history adalah
energi 2333,6 kcal, protein 64,9 g,
lemak 111,2 g, karbohidrat 269,9 g.
NI-5.4 :
Penurunan kebutuhan zat gizi
lemak dan Na berkaitan dengan
gangguan metabolisme lemak dan
riwayat Ht dibuktikan oleh LDL
kolesterol adalah 173 mg/dl
(Tinggi), total kolesterol adalah
250 mg/dl (Tinggi) dan HDL
Kolesterol 55 mg/dl (Tinggi).
dan tekanan darah 171/101 mmHg
(tinggi), nadi 102x/menit (tinggi).
NC-1.2 :
Kesulitan mengunyah berkaitan
dengan gigi tidak lengkap
dibuktikan oleh penolakan terhadap
makanan yang bertekstur keras.
NB-1.2 :
Kebiasaan makan yang salah
mengenai makanan berkaitan
dengan kebiasaan makan tidak
untuk memenuhi kebutuhan zat gizi
dibuktikan oleh ketagihan terhadap
makanan gorengan 5x/hari.
Intervensi Gizi :
Terapi diet : DJRGRCHOL 1700,
Bentuk makanan : lunak kombinasi
cincang. Cara pemberian : oral
Terapi diet RS : BRG 1500
Bentuk makanan : Lunak
Cara pemberian : oral
Implementasi terapi diet yang
diberikan:
Terapi diet : DJRGRCHOL 1500,
Bentuk makanan : bubur biasa
cincang.
Cara pemberian : oral
22/1/2019 Vertigo - LILA= 25,5 - LDL kolesterol=173  TD: 130/90  Energi : 1005,8 A : Status gizi pasien diketahui dari
central cm mg/dl mmHg perhitungan LLA yang
Monev I kcal (70%)
- Total Kolesterol=250  N : 78x/menit
dengan - Ulna= 26,5  Protein : 46,7g dikonversi ke IMT adalah
 R :20x/menit
mg/dl  t : 360C (113,3%)
hipertensi, cm normal yaitu 21,05 kg/m2.
- HDL Kolesterol = 58  Keluhan  Lemak : 23,7g
jantung dan - LLA yang B : berdasarkan data biokimia,
mg/dl gastrointestinal (51,7%)
gejala stroke dikonversi ke  KH : 153,9 g pasien kadar LDL kolesterol
sudah tidak ada
IMT= (95%) adalah 173 mg/dl (Tinggi), total
21,35 kg/m2 Terdapat  Na :254,6 mg kolesterol adalah 250 mg/dl
-BBI=60,5kg kesulitan (Tinggi) dan HDL Kolesterol 58
mengunyah mg/dl (Tinggi).
dikarenakan C : tekanan darah px tinggi yaitu
gigi pasien tidak 130/90 mmHg, keluhan
lengkap gastrointestinal tidak ada,
terdapat kesulitan mengunyah.
D : asupan energi kurang, protein
baik, lemak kurang, KH
tergolong baik dan Natrium
cukup (secara keseluruhan
asupan pasien kurang).
Diagnosis Gizi :
NI-1.3 :
Penurunan kebutuhan energi
berkaitan dengan gangguan jantung
dibuktikan oleh riwayat sakit
jantung.
NI-5.4 :
Penurunan kebutuhan zat gizi lemak
dan Na berkaitan dengan gangguan
metabolisme lemak dan riwayat Ht
dibuktikan oleh LDL kolesterol=173
mg/dl (tinggi), Total Kolesterol=250
mg/dl (tinggi), HDL Kolesterol = 58
mg/dl dan tekanan darah 130/90
mmHg (tinggi), nadi 78x/menit
(tinggi).
NC-1.2 :
Kesulitan mengunyah berkaitan
dengan gigi tidak lengkap
dibuktikan oleh penolakan terhadap
makanan yang bertekstur keras.
NB-1.2 :
Kebiasaan makan yang salah
brkaitan dengan kebiasaan makan
tidak untuk memenuhi kebutuhan
zat gizi dibuktikan oleh ketagihan
terhadap gorengan 5x/hari.
Intervensi Gizi :
Terapi diet : DJRGRCHOL 1700,
Bentuk makanan : lunak kombinasi
cincang.
Cara pemberian : oral
Implementasi terapi diet yang
diberikan:
Terapi diet : DJRGRCHOL 1500,
Bentuk makanan : lunak kombinasi
cincang. Cara pemberian : oral
23/1/2019 Hipertensi, - LILA= 25,5 - HDL kolesterol=50  TD : 150/90  Energi : A : Status gizi pasien diketahui dari
mmHg
Monev II jantung dan cm mg/dl 1371,7kcal perhitungan LLA yang
- LDL kolesterol=150  N : 72x/menit
gejala stroke - Ulna= 26,5  R :22x/menit (120,2%) dikonversi ke IMT adalah
mg/dl  t : 360C  Protein : 44,8
cm normal yaitu 21,03 kg/m2.
- Total Cholesterol=205
- LLA yang - Keluhan (91,9%) B : berdasarkan data biokimia,
mg/dl  Lemak : 34,9g
dikonversi ke - GDS =205 mg/dl gastrointestinal pasien kadar LDL kolesterol
(131,2%)
IMT= sudah tidak ada. adalah 150 mg/dl (Tinggi), total
 KH : 224g
21,35 kg/m 2 -Terdapat kolesterol adalah 205 mg/dl
(119,5%)
-BBI=60,5kg kesulitan  Na :254,6 mg (tinggi), HDL kolesterol 50
mengunyah mg/dl (tinggi) dan GDS 205
dikarenakan gigi mg/dl (tinggi).
pasien tidak C : tekanan darah px tinggi yaitu
lengkap 150/90 mmHg, Keluhan
gastrointestinal sudah tidak ada.
Terdapat kesulitan mengunyah
dikarenakan gigi pasien tidak
lengkap.
D : asupan energi, protein, lemak,
KH dan Na tergolong baik (ada
peningkatan dari hari
sebelumnya).
Diagnosis Gizi :
NI-5.4 :
Penurunan kebutuhan zat gizi
lemak berkaitan dengan gangguan
metabolisme lemak dan natrium,
riwayat Ht dibuktikan oleh
kolesterol total 205 mg/dl (tinggi),
HDL kolesterol (tinggi) 50 mg/dl,
LDL kolesterol 150 mg/dl (tinggi)
150/90 mmHg dan nadi 72x/menit.
NC-1.2 :
Kesulitan mengunyah berkaitan
dengan gigi tidak lengkap
dibuktikan oleh penolakan terhadap
makanan yang bertekstur keras.
NI-53.2 :
Intake karbohidrat berlebih
berkaitan dengan gangguan
metabolisme karbohidrat
dibuktikan dengan nilai
laboratorium GDS 205 mg/dL.
NB-1.2 :
Kebiasaan makan yang salah
brkaitan dengan kebiasaan makan
tidak untuk memenuhi kebutuhan
zat gizi dibuktikan oleh ketagihan
terhadap gorengan 5x/hari.
Intervensi Gizi :
Terapi diet : DMDJRGRCHOL
1900 kcal.
Bentuk makanan : lunak kombinasi
cincang.
Cara pemberian : oral
Implementasi terapi diet RS:
Terapi diet : DMDJRGRCHOL
1500 kcal.
Bentuk makanan : lunak kombinasi
cincang.
Cara pemberian : oral
Tindak lanjut:
Terapi diet : DMDJRGRCHOL
1500 kcal.
Bentuk makanan : lunak kombinasi
cincang.
Cara pemberian : oral
24/1/2019 Diabetes - LILA= 25,5 - HDL kolesterol=58  TD : 170/100  Energi : A : Status gizi pasien diketahui dari
melitus cm mg/dl mmHg perhitungan LLA yang
Monev 1370,5kcal
- LDL kolesterol=120  N : 73x/menit
III dengan - Ulna= 26,5  R :20x/menit (51,6%) dikonversi ke IMT adalah
mg/dl  t : 36,60C  Protein : 45g
hipertensi, cm normal yaitu 21,05 kg/m2.
- Total Cholesterol=200
jantung dan - LLA yang - Keluhan (91,5%) B : berdasarkan data biokimia,
mg/dl  Lemak : 35,7g
gejala stroke dikonversi ke - GDS =205 mg/dl gastrointestinal pasien kadar LDL kolesterol
(128,2%)
IMT= sudah tidak ada. adalah 120 mg/dl (Tinggi), total
 KH : 250g
21,35 kg/m2 -Terdapat kolesterol adalah 200 mg/dl
(107,1%)
-BBI=60,5kg kesulitan  Na : 250,4 mg (Tinggi), HDL kolesterol 58
mengunyah mg/dl (Tinggi) dan GDS 205
dikarenakan gigi mg/dl (Tinggi).
pasien tidak C : tekanan darah px tinggi yaitu
lengkap 170/100 mmHg, Keluhan
gastrointestinal sudah tidak ada.
Terdapat kesulitan mengunyah
dikarenakan gigi pasien tidak
lengkap.
D : asupan energi, protein, lemak,
KH dan Na tergolong baik
(cenderung tetap dari hari
sebelumnya).
Diagnosis Gizi :
NI-53.2 :
Intake karbohidrat berlebih
berkaitan dengan gangguan
metabolisme karbohidrat
dibuktikan dengan nilai
laboratorium GDS 205 mg/dL.
NI-5.4 :
Penurunan kebutuhan zat gizi
lemak dan Natrium berkaitan
dengan gangguan metabolisme
lemak, riwayat Ht dibuktikan oleh
kolesterol total 200 mg/dl (tinggi),
HDL kolesterol 58 mg/dl (tinggi),
LDL kolesterol 120 mg/dl (tinggi)
tekanan darah tinggi yaitu 171/100
mmHg dan nadi 73x/menit.
NC-1.2 :
Kesulitan mengunyah berkaitan
dengan gigi tidak lengkap
dibuktikan oleh penolakan terhadap
makanan yang bertekstur keras.
NB-1.2 :
Kebiasaan makan yang salah
brkaitan dengan kebiasaan makan
tidak untuk memenuhi kebutuhan
zat gizi dibuktikan oleh ketagihan
terhadap gorengan 5x/hari.
Intervensi Gizi :
Terapi diet : DMDJRGRCHOL
1900 kcal.
Bentuk makanan : lunak kombinasi
cincang.
Cara pemberian : oral
Implementasi terapi diet RS:
Terapi diet : DMDJRGRCHOL
1500 kcal.
Bentuk makanan : lunak kombinasi
cincang.
Cara pemberian : oral
Tindak lanjut:
Terapi diet : DMDJRGRCHOL
1500 kcal.
Bentuk makanan : lunak kombinasi
cincang.
Cara pemberian : oral
Pada hari ketiga monev pasien
diberikan edukasi gizi tanpa leaflet
yang berkaitan dengan penyakit
jantung, hipertensi dan diabetes
melitus. Edukasi kepada pasien
berisi tentang makanan yang
dianjurkan dan tidak dianjurkan,
asupan gula yang berbeda dari
orang normal (tidak memiliki
diabetes melitus) dan cara
pengolahan bahan makanan yang
baik untuk penderita diabetes
melitus.
B. Pembahasan
Dihadapkan pada subyek berusia 63 tahun dengan diagnosis medis vertigo
central dengan riwayat hipertensi dan jantung. Pada hari berikutnya setelah
diintervensi diagnosis juga memiliki penyakit diabetes melitus. Pasien tidak
mengalami penurunan nafsu makan, hanya saja pada awal skrining pasien
berisiko untuk malnutrisi dengan asupan saat recall rendah. Masalah
gastrointestinal yang dimiliki pasien adalah mual, kesulitan mengunyah akibat
gigi yang sudah tidak lengkap. Pasien juga mengeluhkan bahwa sayuran
jarang dihabiskan karena teksturnya masih keras sehingga pasien tidak mampu
untuk memakannya.

1. Antropometri
Tinggi badan diukur dengan menggunakan estimasi dari panjang
ulna yaitu 26,5 cm sehingga didapatkan tinggi badan 167,3 cm. Sedangkan
berat badan menggunakan tinggi badan yang dikurangi 100 dan dikurangi
10% atau rumus perhitungan BBI dari Brocca. Untuk melihat pasien
obesitas dapat digunakan rumus konversi LILA ke IMT.
IMT=(1,01xLLA)-4,7
Berdasarkan hasil perhitungan konversi LILA ke IMT, status gizi
pasien dikategorikan normal (IMT= 21,05 kg/m2).
Pada kasus ini, pasien tidak mengalami penurunan berat badan,
hanya saja kebiasaan makan tinggi kalori saat sebelum masuk rumah sakit
sangat tinggi. Konsumsi gula yang tidak pernah ditakar dengan sendok
juga menjadi penyebab pasien kini menderita diabetes melitus. Hal ini
berkaitan dengan proses metabolisme yang menurun pada usia lanjut, bila
tidak diimbangi dengan peningkatan aktifitas fisik atau penurunan jumlah
makanan, sehingga kalori yang berlebih akan diubah menjadi lemak yang
mengakibatkan kegemukan. Selain kegemukan secara keseluruhan,
kegemukan pada bagian perut lebih berbahaya karena berhubungan
dengan risiko jantung koroner. Kegemukan meningkatka penyakit jantung
koroner 1-3 kali, 1,5 kali hipertensi, diabetes melitus 2,9 kali dan penyakit
empedu 1-6 kali (Adriani dan Bambang, 2012).

2. Biokimia
Dari hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan angka tidak normal
(tinggi) pada awal pengambilan data adalah total kolesterol yaitu 255
mg/dl, LDL kolesterol yaitu 173 mg/dl, monosit yaitu 1,6%, eosinofil yaitu
0,1%, limfosit yaitu 5,4% dan neutrofil yaitu 92,8%. Sedangkan pada saat
kasus diikuti didapatkan hasil laboratorium sebagai berikut :
Tanggal
Pemeriksaan
Peme Satuan/Nilai
Biokim Nilai Keterangan
riksa Normal
ia
an
250 0-200 mg/dl Tinggi
20/1/2019 Kolesterol mg/dl
173 0-130 mg/dl Tinggi
LDL mg/dl
Kolester
ol
205 0-200 mg/dl Tinggi
23/1/2019 Kolesterol mg/dl
50 mg/dl 41,5-66,7 mg/dl Tinggi
HDL
Kolester
ol
150 0-130 mg/dl Tinggi
LDL mg/dl
Kolester
ol
GDS 205 100-110 mg/dl Tinggi
mg/dl

3. Fisik Klinis
Tanda fisik klinis yang diamati adalah vital sign (tekanan darah, nadi,
dan suhu). Pada awal kasus didapatkan hasil fisik klinis yaitu :
Tanggal Satuan/Nilai
Vital sign Nilai Keterangan
Pemeriksaan Normal
20/1/2019 Tekanan 171/101 mmHg 110/70 mmHg Tinggi
darah
Nadi 102x/menit 10-60x/menit Tinggi
Suhu 36,6ºC 36,5-37,5ºC Normal
RR 20x/menit 20-30x/menit Normal

Secara umum tanda fisik klinis pasien dikategorikan tinggi. Kelainan


fungsi diastolik berupa gangguan relaksasi yang disebabkan pengurangan
complience jantung pada permulaan diastole, karena pada usia 20-80 tahun
terjadi pengurangan 5% pengisian ventrikel pada permulaan diastole.
Asupan makanan tinggi natrium juga menebabkan meningkatnya tekanan
darah pasien (Adriani dan Bambang, 2012). Pada saat kasus diikuti
didapatkan hasil fisik klinis sebagai berikut :
Tanggal Satuan/Nilai
Vital sign Nilai Keterangan
Pemeriksaan Normal
22/1/2019 Tekanan 130/90 mmHg 110/70 mmHg Tinggi
darah
Nadi 78x/menit 10-60x/menit Tinggi
Suhu 36ºC 36,5-37,5ºC Normal
RR 20x/menit 20-30x/menit Normal
23/1/2019 Tekanan 150/90 mmHg 110/70 mmHg Tinggi
darah
Nadi 72x/menit 10-60x/menit Tinggi
Suhu 36ºC 36,5-37,5ºC Normal
RR 22x/menit 20-30x/menit Normal
24/1/2019 Tekanan 170/100 mmHg 110/70 mmHg Tinggi
darah
Nadi 73x/menit 10-60x/menit Tinggi
Suhu 36,6ºC 36,5-37,5ºC Normal
RR 20x/menit 20-30x/menit Normal

4. Dietary/Asupan Makan
Tujuan diet pada kasus ini adalah untuk memberikan makanan
secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung, menurunkan asupan lemak
kolesterol pada makanan., menurunkan tekanan darah mencapai nilai
normal, menurunkan kadar lipid agar menjadi normal, memberikan cukup
energi. Terapi diet yang diberikan DJ RG RCHOL 1700 Kcal. Diberikan
diet jantung karena pasien memiliki risiko dan riwayat untuk terkena
serangan janntung sewaktu-waktu. Diberikan diet rendah garam karena
pasien memiliki riwayat hipertensi herediter dari ibunya sehingga
pengaturan asupan natrium dibatasi. Diberikan diet rendah kolesterol
karena membatasi asupan makanan yang mengandung tinggi kolesterol
seperti goreng-gorengan yang merupakan kebiasaan pasien mengkonsumsi
makanan tersebut. Namun saat monev hari kedua diet yang diberikan
berubah menjadi DMDJRGRCHOL 1900 Kcal, hal ini disebabkan karena
pada pasien HS diketahui memiliki kadar gula darah yang tinggi dan
didiagnosis dokter memiliki penyakit diabetes melitus. Diberikan diet
diabetes melitus karena mempertahankan kadar glukosa darah agar normal
dan memberikan cukup energi untuk mempertahankan berat badan normal.
Sehingga dibutuhkan pengaturan makanan yang tepat untuk pasien
tersebut (RSCM, 2004). Asupan makan pasien setelah diikuti sebagai
kasus diketahui sebagai berikut :

Asupan hari I : 22/1/2019


Lemak
Implementasi Energi (kcal) Protein (g) KH (g)
(g)
Asupan makanan 1005,8 46,7 23,7 153,9
Kebutuhan gizi 1533,8 51,5 37,3 254,3
% Asupan/Kebutuhan 65,5 90,6 63,5 60,5
Keterangan Kurang Baik Kurang Kurang

Asupan hari II : 23/1/2019


Lemak
Implementasi Energi (kcal) Protein (g) KH (g)
(g)
Asupan makanan 1371,7 44,8 34,9 224
Kebutuhan gizi 1533,8 51,5 37,3 254,3
% Asupan/Kebutuhan 89,4 86,9 93,5 88
Keterangan Cukup Cukup Baik Cukup

Asupan hari III : 24/1/2019


Lemak
Implementasi Energi (kcal) Protein (g) KH (g)
(g)
Asupan makanan 1370,5 45 35,7 250
Kebutuhan gizi 1533,8 51,5 37,3 254,3
% Asupan/Kebutuhan 89,3 87,3 95,7 98,3
Keterangan Cukup Cukup Baik Baik
Asupan pasien diketahui mengalami peningkatan dan penurunan, hal tersebut
dikarenakan bahan makanan dalam menu yang disediakan rumah sakit hampir
sama, sehingga membuat pasien bosan. Disis lain pasien juga tidak memiliki gigi
yang lengkap sehingga makanan dengan tekstur keras seperti wortel tidak
dimakan oleh pasien. Monitoring dan evaluasi dilakukan selama 3 hari yaitu dari
tanggal 22 /1/2019 sampai 24 /1/2019. Berikut asupan makanan pasien selama 3
hari di monev berdasarkan grafik 1, 2, dan 4.
Grafik 1. Asupan energi, protein, lemak dan karbohidrat selama monev 3 hari

Berdasarkan grafik 1, dapat disimpulkan asupan energi pada monev hari pertama
ke hari kedua terjadi peningkatan, hal ini disebabkan karena penyajian pada hari
kedua sesuai dengan pasien cara pengolahan yang dicincang halus membuat
pasien menghabiskan makanan yang disajikan sehingga asupan energi cenderung
naik, namun pada hari ketiga monev asupan energi berkurang dikarenakan pada
saat penyajian makanan tidak disajikan dengan cara pengolahan sebelumnya
hanya dicincang kasar sehingga pasien enggan menghabiskan makanan yang
disajikan. Sedangkan pada asupan protein diketahui bahwa terjadi penurunan.
Pada monev hari pertama ke hari kedua terjadi penurunan dikarenakan lauk yang
merupakan sumber protein dicampurkan dengan sayuran yang membuat pasien
susah untuk mengunyah, namun pasien juga berkata bahwa bosan dengan
makanan yang disajikan karena kurang variatif. Pada asupan lemak terjadi
peningkatan dari monev hari pertama ke hari kedua dan ketiga mengalami
penigkatan yang baik, asupan lemak terkontrol dengan baik karena selama
dirumah sakit pasien tidak mengkonsumsi makanan yang berlemak banyak
(gorengan) dari luar rumah sakit sehingga asupan lemak tetap terjaga dan dalam
kategori baik. Pada asupan karbohidrat juga mengalami peningkatan yang
signifikan terlihat dari asupan makan pasein untuk selalu menghabiskan bubur
yang disajikan, hal ini dikarenakan juga motivasi pasien yang tinggi untuk segera
sembuh dan ingin segera pulang.
Diagnosa Medis dan Diagnosa Gizi
Selama studi kasus, terjadi perubahan diagnosa medis yang signifikan.
Begitu juga dengan diagnosa gizi menjadi :
Diagnosis gizi pada awal kasus :
NI-1.3 :
Penurunan kebutuhan energi berkaitan dengan gangguan jantung dibuktikan oleh
riwayat sakit jantung.
NI-1.5 :
Kelebihan intake energi berkaitan dengan kurangnya pengetahuan tentang
makanan dan zat gizi dibuktikan oleh nilai zat gizi asupan dietary history adalah
energi 2333,6 kcal, protein 64,9 g, lemak 111,2 g, karbohidrat 269,9 g.
NI-5.4 :
Penurunan kebutuhan zat gizi lemak dan Na berkaitan dengan gangguan
metabolisme lemak dan riwayat Ht dibuktikan oleh kolesterol total 255 mg/dl
(tinggi), HDL kolesterol (tinggi) 58 mg/dl, LDL kolesterol 173 mg/dl (tinggi)
dan tekanan darah 130/90 mmHg (tinggi), nadi 73x/menit (tinggi).
NC-1.2 :
Kesulitan mengunyah berkaitan dengan gigi tidak lengkap dibuktikan oleh
penolakan terhadap makanan yang bertekstur keras.
NB-1.2 :
Kebiasaan makan yang salah mengenai makanan berkaitan dengan kebiasaan
makan tidak untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dibuktikan oleh ketagihan
terhadap makanan yang digoreng (gorengan) 5x/hari.

Diagnosis gizi akhir kasus :


NI-53.2 :
Intake karbohidrat berlebih berkaitan dengan gangguan metabolisme karbohidrat
dibuktikan dengan nilai laboratorium GDS 205 mg/dL.
Pada Saat kasus diikuti, terjadi perubahan diagnosis gizi pada pasien HS,
perubahan diagnosis terjadi pada hari kedua monev yaitu tanggal 23 Desember
2016.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN

a. Berdasarkan hasil skrining diketahui bahwa hasil skrining didapatkan skor


3 sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien berisiko untuk malnutrisi.
b. Berdasarkan data assessment antropometri diketahui status gizi pasien
berdasarkan perhitungan LLA yang dikonversi ke IMT adalah 21,35 yang
berarti normal.
c. Berdasarkan data biokimia pada terakhir kasus diketahui bahwa nilai HDL
kolesterol adalah 58 mg/dl (tinggi), LDL kolesterol 120 mg/dl (tinggi),
total kolesterol 200 mg/dl (tinggi) dan GDS adalah 205 mg/dl (tinggi).
d. Berdasarkan data fisik klinis akhir kasus diketahui nilai TD adalah
170/100 mmHg (tinggi), Nadi 73x/menit (tinggi), suhu 36,6ºC dan RR
20x/menit.
e. Berdasarkan data asupan makanan pasien diketahui asupan energi dari hari
pertama ke hari kedua terjadi peningkatan sebanyak 23% dan hari kedua
ke hari ketiga terjadi penurunan 0,1%. Sedangkan pada asupan protein
diketahui pada kari pertama ke hari kedua terjadi penurunan sebanyak
3,7% dan pada hari kedua ke hari ketiga meningkat lagi sebanyak 0,4%.
Pada asupan lemak diketahui terjadi peningkatan yang signifikan dari
monev hari pertama ke hari kedua diketahui meningkat sebanyak 30% dan
pada hari kedua ke hari ketiga terjadi peningkatan sebanyak 2,2%. Pada
asupan karbohidrat diketahui meningkat sangat baik yaitu dari asupan hari
pertama ke hari kedua sebanyak 27% dan pada hari kedua ke hari ketiga
terjadi peningkatan sebanyak 10%, sedangkan asupan natrium cenderung
tetap terkontrol, hal itu dikarenakan pengaturan makan pasien saat dirumah
sakit berbeda dari pengaturan makan pasien saat dirumah.
f. Berdasarkan data medis pada awal kasus diketahui bahwa pasien
didiagnosis vertigo central dan hipertensi dengan riwayat jantung.
Berdasarkan diagnosis akhir pasien didiagnosis diabetes melitus, riwayat
jantung dan hipertensi.

g. Berdasarkan diagnosis gizi pada awal kasus diketahui


Diagnosis gizi pada awal kasus :
NI-1.3 :
Penurunan kebutuhan energi berkaitan dengan gangguan jantung
dibuktikan oleh riwayat sakit jantung.
NI-1.5 :
Kelebihan intake energi berkaitan dengan kurangnya pengetahuan tentang
makanan dan zat gizi dibuktikan oleh nilai zat gizi asupan dietary
history adalah energi 2333,6 kcal, protein 64,9 g, lemak 111,2 g,
karbohidrat 269,9 g.
NI-5.4 :
Penurunan kebutuhan zat gizi lemak dan Na berkaitan dengan gangguan
metabolisme lemak dan riwayat Ht dibuktikan oleh kolesterol total
255 mg/dl (tinggi), HDL kolesterol (tinggi) 58 mg/dl, LDL kolesterol
173 mg/dl (tinggi) dan tekanan darah 130/90 mmHg (tinggi), nadi
73x/menit (tinggi).
NC-1.2 :
Kesulitan mengunyah berkaitan dengan gigi tidak lengkap dibuktikan oleh
penolakan terhadap makanan yang bertekstur keras.
NB-1.2 :
Kebiasaan makan yang salah mengenai makanan berkaitan dengan
kebiasaan makan tidak untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dibuktikan
oleh ketagihan terhadap makanan yang digoreng (gorengan) 5x/hari.
Diagnosis gizi pada saat kasus diikuti :
NI-53.2 :
Intake karbohidrat berlebih berkaitan dengan gangguan metabolisme
karbohidrat dibuktikan dengan nilai laboratorium GDS 205 mg/dL.
Pada Saat kasus diikuti, terjadi perubahan diagnosis gizi pada pasien HS,
perubahan diagnosis terjadi pada hari kedua monev yaitu tanggal 23 /
1/2019
NI-5.4 :
Penurunan kebutuhan zat gizi lemak dan Na berkaitan dengan gangguan
metabolisme lemak dan riwayat Ht dibuktikan oleh kolesterol total
255 mg/dl (tinggi), HDL kolesterol (tinggi) 58 mg/dl, LDL kolesterol
173 mg/dl (tinggi) dan tekanan darah 130/90 mmHg (tinggi), nadi
73x/menit (tinggi).
NI-1.3 :
Penurunan kebutuhan energi berkaitan dengan gangguan jantung
dibuktikan oleh riwayat sakit jantung.
NC-1.2 :
Kesulitan mengunyah berkaitan dengan gigi tidak lengkap dibuktikan oleh
penolakan terhadap makanan yang bertekstur keras.

h. Intervensi yang diberikan oleh pasien adalah


 Terapi diet : DJRGRCHOL 1700
Cara pemberian secara oral dan dalam bentuk lunak kombinasi cincang
 Implementasi terapi diet RS :
Hari pertama monev
Terapi diet : DJRGRCHOL 1500
Bentuk makanan : lunak kombinasi cincang
Cara pemberian : oral
Hari kedua monev
Rekomendasi terapi diet RS:
Terapi diet : DJRGRCHOL 1500 kcal.
Bentuk makanan : lunak kombinasi cincang.
Cara pemberian : oral
Tindak lanjut:
Terapi diet : DJRGRCHOL 1500 kcal.
Bentuk makanan : lunak kombinasi cincang.
Cara pemberian : oral
Hari ketiga monev
Rekomendasi terapi diet RS:
Terapi diet : DMDJRGRCHOL 1900 kcal.
Bentuk makanan : lunak kombinasi cincang.
Cara pemberian : oral
Tindak lanjut:
Terapi diet : DMDJRGRCHOL 1500 kcal.
Bentuk makanan : lunak kombinasi cincang.
Cara pemberian : oral
i. Berdasarkan monitoring, data antropometri tidak dimonitoring, pada data
biokimia yaitu HDL kolesterol, LDL kolesterol dan total kolesterol. Pada
data fisik/klinis yaitu kesulitan mengunyah, tekanan darah, nadi, suhu dan
RR.
j. Pada kasus ini tidak dilakukan konsultasi gizi, namun edukasi gizi tanpa
leaflet.
2. SARAN
a) Bagi Rumah sakit :
- Makanan yang diberikan harus bervariasi macamnya, contonya pada
sayuran harus lebih bervariasi lagi.
b) Bagi mahasiswa :
- Harus lebih detail dalam menyusun asuhan gizi mendalam supaya kasus
yang diambil lebih jelas untuk dibaca.
- Dapat memberikan edukasi gizi dan konsultasi gizi pada awal monitoring
atau saat pertengahan monitoring.
c) Bagi pasien :
- Pasien dapat menerapkan diet DMDJRGRCHOL di rumah dan
diaplikasikan dalam bentuk makanan yang lengkap (makanan pokok, lauk
hewani, lauk nabati, sayuran).
- Konsultasi gizi dapat dilakukan hari pertama monev atau hari kedua
monev.
- Terapi diet DMDJRGRCHOL 1500 kcal dapat ditingkatkan menjadi diet
DMDJRGRCHOL 1900 kcal sesuai kemampuan pasien.
d) Bagi keluarga pasien :
- Membantu agar pasien mau menaati diet yang diberikan dan memberikan
makanan hanya yang dianjurkan dari rumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Adriani, M., Wirjatmadi, B. 2012. Peranan Gizi dalam Siklus Kehidupan.


Jakarta : Kencana.
Almatsier, S., RSCM. 2004. Penuntun Diet. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Amir, M. 2002. Hidup Bersama Penyakit Hipertensi Asam Urat, Jantung
Koroner.
Astawan, M. 2002. Cegah Hipertensi dengan Pola Makan. PT. Gramedia.
Corwin, E. J. 2001. Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Corwin,E,J. 2001. Buku saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Dipiro, J,T. 2006. Pharmacotheraphy : A Pathophysiologic Approach, Seventh
Edition. Mc-Graw Hill. Hal 268
Dipiro, J. T., et al. 2007. Pharmacotherapy Handbook. USA : The MC. Graw Hill
Company.
Ditjen Bina Farmasi dan Alkes. 2005. Pharmaseutical Care Untuk Penyakit
Diabetes Melitus. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
Fatmah. 2005. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT Rajagrafindo
Persada.
Fatmah. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Edisi revisi. Jakarta : PT
Rajagrafindo Persada.
Hartono, A. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta : EGC.
Hayens., B. 2003. Buku pintar menaklukkan Hipertensi. Jakarta : Ladang Pustaka.
Jakarta : PT. Intisari Media Utama
Helmyati, S. 2014. Interaksi Obat dan Makanan. Yogyakarta : UGM Press.
Julianti, E.D, Nurjana, dan Soetrisno. 2005. Bebas Hipertensi dengan terapi jus.
Jurnal Perpustakaan Sekolah. 1 (1), April :1 – 10.
Sheps. 2005. Mengatasi tekanan darah tinggi. Jakarta : Intisari Mediatama
Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan
Medikal. Jakarta : EGC.
Waspadji, S. 2007. Penatalaksanaan DM terpadu. Semarang : Fakultas ilmu
kesehatan.
Waterburry, L. 2000. Buku Saku Hematologi. Jakarta : EGC.
Wexler, 2002. Hipertensi ; Encylopedia of Nursing and Alied Health. Diakses
pada kamis, 22 Desember 2016 melalui
http;//www.findarticles.com/p/article/mi.
Lampiran: (hasil recall 24 jam, dokumentasi sisa makan, form skrining)

LAMPIRAN 1. HASIL RECALL

Recall : Monev 1
Tanggal : 22 /1/2019

Waktu Menu Energi Protein Lemak KH (g)


(kcal) (g) (g)
Pagi Bubur biasa
(07.00) Fuyunghai putel
Tempe bb terik 251,45 11,675 5,925 38,475
Sayur bobor bayam, jipang,
kemangi
Selingan Buah melon
251,45 11,675 5,925 38,475
(10.00)
Siang Bubur biasa
(12.30) Rolade tuna bb tomat
251,45 11,675 5,925 38,475
Sop tahu loncang sledri
Tumis kacang panjan wortel
Selingan Buah pisang
251,45 11,675 5,925 38,475
(14.30)
Sore Bubur biasa
(17.30) Teriyaki ayam
Tempe bb kuning 251,45 11,675 5,925 38,475
Ca bunga kol, wortel,
loncang (nyemek)
Total Asupan 1005,8 46,7 23,7 153,9
% Asupan/kebutuhan 65,5 90,6 63,5 60,5

Recall : Monev II
Tanggal : 23 /1/2019

Waktu Menu Energi Protein Lemak KH (g)


(kcal) (g) (g)
Pagi Bubur biasa
(07.00) Telur kukus cetak bb bali
Terik tahu nyemek 342,925 11,2 8,725 56
Ca brokoli, wortel, sawi
putih, loncang
Selingan Buah
342,925 11,2 8,725 56
(10.00)
Siang Bubur biasa
(12.30) Tempe bb bacem
342,925 11,2 8,725 56
Sayur lodeh kacang panjang,
jipang
Selingan Buah
342,925 11,2 8,725 56
(14.30)
Sore Bubur biasa
(17.30) Ayam ungkep laos
342,925 11,2 8,725 56
Kare tahu kuah
Oseng wortel buncis, wortel
Total Asupan 1371,7 44,8 34,9 224
% Asupan/kebutuhan 89,4 86,9 93,5 88

Recall : Monev III


Tanggal : 24/1/2019
Waktu Menu Energi Protein Lemak KH (g)
(kcal) (g) (g)
Pagi Bubur biasa
(07.00) Tim telur bb tomat
342,625 11,25 8,95 62,5
Tempe bb bali
Sup gambar, wortel, misoa
Selingan Buah
342,625 11,25 8,95 62,5
(10.00)
Siang Bubur biasa
(12.30) Ayam bb bakar
342,625 11,25 8,95 62,5
Bakmoy tahu loncang sledri
Cajipang, kacang panjang
Selingan Bolu sukade
342,625 11,25 8,95 62,5
(14.30)
Sore Bubur biasa
(17.30) Gurameh asam manis
342,625 11,25 8,95 62,5
Tempe ungkep
Setup wortel
Total Asupan 1370,5 45 35,7 250
% Asupan/kebutuhan 89,3 87,3 95,7 98,3

LAMPIRAN GAMBAR
Porsi /1/2019malam
Porsi /1/2019pagi Porsi /1/2019siang
Gambar tidak tersedia

Komstok 22 /1/2019 malam

Komstok 22 /1/2019 siang

Komstok 24 /1/2019 pagi Komstok 24 /1/2019 malam


Komstok 24 /1/2019 siang
LAMPIRAN DAFTAR MENU

Tanggal 22 /1/2019 (Siklus menu II)


Makan pagi Makan siang Makan malam
Bubur biasa Bubur biasa Bubur biasa
Fuyunghai putel Rolade tuna bb tomat Teriyaki ayam
Tempe bb terik Sop tahu loncang sledri Tempe bb kuning
Sayur bobor bayam, Tumis kacang panjan Ca bunga kol, wortel,
jipang, kemangi wortel loncang (nyemek)

Tanggal 23 /1/2019 (Siklus menu III)


Makan pagi Makan siang Makan malam
Bubur biasa Bubur biasa Bubur biasa
Telur kukus cetak bb bali Tempe bb bacem Ayam ungkep laos
Terik tahu nyemek Sayur lodeh kacang Kare tahu kuah
Ca brokoli, wortel, sawi panjang, jipang Oseng wortel buncis,
putih, loncang wortel

Tanggal 24 /1/2019 (Siklus menu IV)


Makan pagi Makan siang Makan malam
Bubur biasa Bubur biasa Bubur biasa
Tim telur bb tomat Ayam bb bakar Gurameh asam manis
Tempe bb bali Bakmoy tahu loncang Tempe ungkep
Sup gambar, wortel, sledri Setup wortel
misoa Cajipang, kacang panjang