Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH VIROLOGI POLIO

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kuliah Virologi Dosen : Eem Hayati, S.Pd., M. Kes

MAKALAH VIROLOGI “ POLIO ” Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kuliah Virologi Dosen : Eem

Disusun :

Dewi Permatasari

[1611E1012]

Istiqomah

[1611E10]

Iwan Sopwana

[1611E10]

Meli Indriani

[1611E10]

M. Agung Pratama

[1611E10]

Kelompok 1 D3A-Analis Kesehatan

SEKOLAH TINGGI ANALIS BAKTI ASIH BANDUNG

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Virologi dan manfaatnya untuk masyarakat.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang Virologi dan manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Bandung, November 2018 Penyusun,

Kelompok 1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI ..........................................................................................................

ii

BAB I ......................................................................................................................

1

PENDAHULUAN ..................................................................................................

1

  • 1.1 Latar Belakang .....................................................................................................

1

  • 1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................................

2

  • 1.3 Tujuan

2

BAB II

3

PEMBAHASAN

3

  • 2.1 Pengertian Penyakit Polio dan Imunisasi Polio

...................................................

3

  • 2.2 Bentuk dan Struktur Anatomi Virus Polio

...........................................................

5

Replikasi

  • 2.3 ..............................................................................................................

5

  • 2.4 Patogenesis .........................................................................................................

6

Epidemiologi

  • 2.5 .......................................................................................................

7

  • 2.6 Diagnosis Laboratorium

......................................................................................

8

  • 2.7 Pencegahan .........................................................................................................

9

2.8

2.9

Waktu Pemberian Imunisasi Polio Menurut Kebijakan Pemerintah

..................

9

Tujuan Pemberian Imunisasi Polio

....................................................................

10

  • 2.10 Manfaat Imunisasi Polio

....................................................................................

11

  • 2.11 Jadwal Pemberian Vaksin Polio

.........................................................................

12

  • 2.12 Cara Pemberian Vaksin Polio

............................................................................

13

  • 2.13 Efek Samping dan Cara

Mengatasinya ..............................................................

14

BAB III ................................................................................................................. PENUTUP ............................................................................................................

16

16

  • 3.1 Kesimpulan ........................................................................................................

16

3.2

Saran

.................................................................................................................

16

DAFTAR PUSTAKA

..........................................................................................

17

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1 Latar Belakang

Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen. Penyakit ini dapat menyerang pada semua kelompok umur, namun yang paling rentan adalah kelompok umur kurang dari 3 tahun. Gejala meliputi demam, lemas, sakit kepala, muntah, sulit buang air besar, nyeri pada kaki, tangan, kadang disertai diare. Kemudian virus menyerang dan merusak jaringan syaraf, sehingga menimbulkan kelumpuhan yang permanen (Matondang, 2005). Penyakit polio pertama terjadi di Eropa pada abad ke-18, dan menyebar ke Amerika Serikat beberapa tahun kemudian. Penyakit polio menjadi terus meningkat dan rata-rata orang yang menderita penyakit polio meninggal, sehingga jumlah kematian meningkat akibat penyakit ini. Penyakit polio menyebar luas di Amerika Serikat sampai ke negara Indonesia (Miller, 2004). Pada tahun 1923 1953, vaksin polio telah diperkenalkan dan diberikan, tetapi angka kematian penyakit polio masih tinggi. Pada data Statistik menunjukkan suatu kemunduran di negara-negara Eropa. Dan ketika vaksin polio banyak tersedia di Eropa banyak orang bertanya tentang manfaat dan efektivitas vaksin polio, karena banyak warga disana menggunakan vaksin polio tetapi masih terserang polio (Heymann, 2004). Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah penyakit melalui pemberian kekebalan tubuh harus dilaksanakan secara terus-menerus, meyeluruh dan dilaksanakan sesuai standar sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan dan memutus mata rantai penularan. Salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah poliomielitis. Poliomielitis adalah penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh satu dari 3 virus yang berhubungan yaitu virus polio tipe 1, 2 atau 3. secara klinis penyakit polio adalah

anak dibawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu akut (acute flaccid paralysis = AFP). Sedangkan vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG, DPT, Campak, dan melalui mulut seperti vaksin polio (Hidayat,

2005).

  • 1.2 Rumusan Masalah

    • 1. Apa yang dimaksud Polio ?

    • 2. Siapa saja yang harus diberikan imunisasi supaya tidak terkena penyakit polio ?

    • 3. Dimana dilakukan imunisasi Polio ?

    • 4. Mengapa harus dilakukan imunisasi Polio ?

    • 5. Kapan saja harus dilakukan imunisasi supaya tidak terkena penyakit Polio ?

    • 6. Bagaimana cara penanganan penyakit Polio ?

  • 1.3 Tujuan

    • 1. Mahasiswa dapat mengerti tentang definisi polio

    • 2. Mahasiswa dapat mengerti tentang pemberian polio berdasarkan kebijakan pemerintah tahun 2004, 2010, 2014

    • 3. Mahasiswa dapat mengerti tentang tujuan pemberian imunisasi polio

    • 4. Mahasiswa dapat mengerti tentang manfaat imunisasi polio

    • 5. Mahasiswa dapat mengerti tentang jadual pemberian imunisasi polio

    • 6. Mahasiswa dapat mengerti tentang cara pemberian imunisasi polio

    • 7. Mahasiswa dapat mengerti tentang efek samping dan cara mengatasi polio

  • BAB II PEMBAHASAN

    • 2.1 Pengertian Penyakit Polio dan Imunisasi Polio

    Polio

    Penyakit polio merupakan penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus polio (poliomyelitis). Yang terkena adalah anak dibawah umur 15 th yang menderita lumpuh layu akut. Penyebaran penyakit ini melalui kotoran manusia (tinja) yang terkontaminasi. Kelumpuhan dimulai dengan gejala

    demam,nyeri otot,dan kelumpuhan pada minggu pertama sakit. Kematian bisa terjadi karena kelumpuhan otot pernafasan yang tidak ditangani segera (Depkes,

    2016).

    Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen. Penyakit ini dapat menyerang pada semua kelompok umur, namun yang peling rentan adalah kelompok umur kurang dari 3 tahun. Jenis-jenis Polio antara lain :

    Non-Paralisis Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh. Polio Paralisis Spinal Strain polio virus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai. Polio Bulbar Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Gejala meliputi demam, lemas, sakit kepala, muntah, sulit buang air besar, nyeri pada kaki, tangan, kadang disertai diare. Kemudian virus menyerang dan merusakkan jaringan syaraf , sehingga menimbulkan kelumpuhan yang permanen. Penyakit polio pertama terjadi di Eropa pada abad ke-18, dan menyebar ke Amerika Serikat beberapa tahun kemudian. Penyakit polio juga

    menyebar ke negara maju belahan bumi utara yang bermusim panas. Penyakit polio menjadi terus meningkat dan rata-rata orang yang menderita penyakit polio meninggal, sehingga jumlah kematian meningkat akibat penyakit ini. Penyakit polio menyebar luas di Amerika Serikat tahun 1952, dengan penderita 20,000 orang yang terkena penyakit ini (Miller,N.Z, 2004).

    menyebar ke negara maju belahan bumi utara yang bermusim panas. Penyakit polio menjadi terus meningkat dan
    menyebar ke negara maju belahan bumi utara yang bermusim panas. Penyakit polio menjadi terus meningkat dan

    Gambar 1. Anak dengan Polio dan Tanda tanda Polio Sumber : Depkes 2005

    Imunisasi Polio

    • Depkes, 2005

    Imunisasi adalah suatu usaha untuk meningkatkan kekebalan aktif seseorang terhadap suatu penyakit dengan memasukkan vaksin dalam tubuh bayi atau anak. Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi

    awaluntuk mencapai kadar kekebalan diatas ambang perlindungan.

    • Ranuh dkk, 2007

    Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kesehatan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak iaterpapar antigen yang serupa tidak pernah terjadi penyakit.

    • Menurut keputusan Menkes RI 2014

    Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

    Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu

    Gambar 2. Pekan Imunisasi Nasional 2016 Sumber : Kemenkes RI 2016

    • 2.2 Bentuk dan Struktur Anatomi Virus Polio

    Virus polio adalah virus RNA cukup sederhana dari keluarga Picornaviridae virus. Sebuah partikel virus polio (virion) pada dasarnya merupakan untai RNA dikelilingi oleh kapsid. Kapsid memiliki reseptor pada permukaannya yang membantu virus mengenali dan mengikat untuk menargetkan neuron motor dalam tubuh inang. Struktur virus polio pertama kali ditemukan pada tahun 1985 adalah salah satu struktur virus pertama yang pernah ditemukan.

    • 2.3 Replikasi Tahap-tahap replikasi sebagai berikut :

      • 1. Satu virus polio mendekati sebuah sel saraf melalui aliran darah.

      • 2. Reseptor-reseptor sel saraf menempel pada virus.

    3.

    Capsid (kulit protein) dari virus pecah untuk melepaskan RNA (materi genetik) ke dalam sel.

    • 4. RNA polio bergerak menuju sebuah ribosom-stasiun perangkai protein pada sel.

    • 5. RNA polio menduduki ribosom dan memaksanya untuk membuat lebih banyak RNA dan capsid polio.

    • 6. Capsid dan RNA polio yang baru bergabung untuk membentuk virus polio baru.

    • 7. Sel inang membengkak dan meledak, melepaskan ribuan virus polio baru kembali ke aliran darah.

    Dari sel tidak diketahui dengan jelas hanya sebagian kecil dari partikel virus baru yang disintesis merupakan virion yang matang dan infektif.

    2.4

    Patogenesis

    Masa inkubasi polio biasanya 7-14 hari dengan rentang 3-35 hari. Manusia merupakan satu-satunya reservoir dan merupakan sumber penularan. Virus ditularkan antar manusia melalui rute oro fekal. Penularan melalui secret faring dapat terjadi bila keadaan hygiene sanitasinya baik sehingga tidak memungkinkan terjadinya penularan oro fekal. Makanan dan bahan lain yang tercemar dapat menularkan virus, walaupun jarang terjadi. Cara penularan ini disebut droplet infection per-oral. Jika virus sudah masuk ke dalam mulut, virus tersebut akan masuk ke dalam kelenjar getah bening kemudian akan menuju peredaran darah dan akan menyebar ke usus dan dapat pula menyebar ke otak, sehingga dapat ditemukan dalam liquor dan menyebabkan kelumpuhan. Virus dapat lebih cepat lagi sampai ke otak apabila pada anak-anak dilakukan operasi tonsillectomi, maka pembuluh darah terpotong pada waktu operasi sehingga virus dapat langsung masuk ke pembuluh darah dan langsung ke otak.

    Pada umumnya virus dapat ditemukan dalam swab tenggorokan dan tinja sebelum gejala klinik pertama timbul. 1 minggu setelah gejala klinik timbul pada umumnya virus sudah menghilang dari tenggorokan tetapi masih ada di dalam

    tinja. Virus masih terdapat di dalam tinja setelah beberapa bulan penderita sembuh dari penyakit. Penularan melalui serangga belum bisa dibuktikan.

    Pada masa akhir inkubasi dan masa awal gejala. Para penderita polio sangat poten untuk menularkan penyakit. Setelah terpajan dari penderita, virus polio dapat ditemukan pada secret penderita 36 jam kemudian dan masih bisa ditemukan sampai satu minggu, serta pada tinja dalam waktu 72 jam sampai 3-6 minggu atau lebih.

    Virus polio dapat menyerang semua usia dengan tingkat kelumpuhan yang bervariasi. Kelumpuhan yang terjadi hanya sekitar 1% saja. Dari semua kelumpuhan, hanya 90% akan sembuh dengan sendirinya dan sekitar 10% akan mengalami kelumpuhan tetap. Angka kelumpuhan pada bayi lebih kecil daripada orang dewasa.

    2.5 Epidemiologi

    Polio tersebar di seluruh dunia terutama di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika. Kasus terakhir virus polio 3 terjadi di Sri Lanka pada tahun 1993, virus polio 1 dan polio 3 di Jawa Tengah, Indonesia pada tahun 1995, dan virus Polio 1 di Thailand pada tahun 1997.

    India salah satu Negara endemic polio, juga menularkan penyakit ini ke Cina dan Syria pada tahun 1999, ke Bulgaria pada tahun 2001, serta ke Lebanon pada 2003. Menurut penyelidikan WHO dan Depkes RI, virus polio liar di Indonesia pada tahun 2005 berasal dari sudan atau Nigeria yang berada di Arab Saudi. Virus tersebut ditularkan ke Negara lain melalui jamaah haji, jemaah umroh, dan tenaga kerja lainnya.

    Bayi dan anak adalah golongan usia yang sering terserang polio. Penderita polio sebanyak 70-80% di daerah endemic adalah anak berusia kurang dari 3 tahun, dan 80-90% adalah balita. Kelompok yang rentan tertular adalah anak yang tidak diimunisasi, kelompok minoritas, para pendatang musiman, dan anak-anak yang tidak terdaftar.

    Data terakhir sampai Juni 2007 terdapat 243 kasus polio liar pada tahun 2007. Negara penyumbang terbesar adalah Nigeria sebanyak 114 kasus, India sebanyak 82 kasus, dan Korea Utara sebanyak 13 kasus. Indonesia yang pernah mencatat 303 kasus pada tahun 2005 menurun hingga menjadi hanya 2 kasus pada tahun 2006 dan tidak ada kasus pada tahun 2007.

    Kasus polio di Indonesia pada tahun 2005 terjadi pertama kali di Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat yang dengan cepat menyebar ke Provinsi Banten, DKI, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung. Data terakhir melaporkan secara total terdapat 295 kasus polio 1 yang tersebar di 10 Provinsi dan 22 kabupaten/ kota di Indonesia.

    • 2.6 Diagnosis Laboratorium Penyakit polio dapat didiagnosis dengan 3 cara yaitu :

      • ViralI solation

    Polio virus dapat dideteksi dari faring pada seseorang yang diduga terkena penyakit polio. Pengisolasian virus diambil dari cairan cerebrospinal adalah diagnostik yang jarang mendapatkan hasil yang akurat. Jika poliovirus terisolasi dari seseorang dengan kelumpuhan yang akut, orang tersebut harus diuji lebih lanjut menggunakan uji oligonucleotide atau pemetaan genomic untuk menentukan apakah virus polio tersebut bersifat ganas atau lemah.

    • Uji Serologi

    Uji serologi dilakukan dengan mengambil sampel darah dari penderita. Jika pada darah ditemukan zat antibody polio maka diagnosis bahwa orang tersebut terkena polio adalah benar. Akan tetapi zat antibody tersebut tampak netral dan dapat menjadi aktif pada saat pasien tersebut sakit.

    • Cerebrospinal Fluid (CSF)

    CSF di dalam infeksi polio virus pada umumnya terdapat peningkatan jumlah sel darah putih yaitu 10-200 sel/mm3 terutama adalah sel limfositnya. Dan kehilangan protein sebanyak 40-50 mg/100 ml.

    • 2.7 Pencegahan

    Dalam World Health Assembly tahun 1998 yang diikuti oleh sebagian besar negara di penjuru dunia dibuat kesepakatan untuk melakukan Eradikasi Polio (Erapo) tahun 2000, artinya dunia bebas polio tahun 2000. Program Eropa pertama yang dilakukan adalah :

    • Melakukan cakupan imunisasi yang tinggi dan menyeluruh

    • Pemberian imunisasi polio yang sesuai dengan rekomendasi WHO adalah diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu. Kemudian diulang usia 1½ tahun, 5 tahun, dan usia 15 tahun

    • Survailance Acute Flaccid Paralysis atau penemuan penderita yang dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah 15 tahun harus diperiksa tinjanya untuk memastikan karena polio atau bukan

    • Melakukan Mopping Up, artinya pemberian vaksinasi massal di daerah yang ditemukan penderita polio terhadap anak di bawah 5 tahun tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya

    • 2.8 Waktu Pemberian Imunisasi Polio Menurut Kebijakan Pemerintah

    Jadwal Pemberian Imunisasi Polio sesuai kebijakan tahun 2004. Menurut Depkes RI (2005:5), imunisasi Polio diberikan melalui mulut pada bayi umur 0-11 bulan sebanyak 4 kali dengan jarak waktu pemberian 4 minggu. Jadwal pemberian imunisasi Polio tersebut sejalan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1059/Menkes/SK/IX/2004 yang menyatakan bahwa pemberian imunisasi polio pertama bisa dilaksanakan sejak bayi baru lahir dan untuk imunisasi polio yang berikutnya diberi jarak 1 bulan

    atau 4 minggu. Jadwal pemberian imunisasi Polio tersebut juga sesuai dengan rekomendasi WHO (dalam Achmadi, 2006:88) yang menyatakan bahwa pemberian vaksin Polio dianjurkan semuda mungkin. WHO merekomendasikan sejumlah empat kali pemberian yaitu, ketika bayi baru lahir atau at birth, yang kedua dan seterusnya diberikan ketika bayi berumur enam minggu, 10 minggu, dan 14 minggu terutama pada daerah endemik polio dan negara yang dikategorikan sebagai recently polio endemic seperti Indonesia. Dikeluarkanya SK MenKes No.723/MENKES/ SKAT/2007 tanggal 19 Juni 2007 tentang Penyelenggaraan Pilot Projek IPV di Propinsi D.I.Yogyakarta. Dan dikeluarkannya Izin Edar/Lisensi dari Badan POM nomor DK10459702543A1 tanggal 1 September 2004 untuk penggunaan vaksin IPV, dengan nama IMOVAX POLIO, di Indonesia. Izin edar berlaku sampai dengan 1 September 2009. Permenkes RI Nomor 42 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan imunisasi.

    Vaksinasi di Posyandu --> Gratis karena 100% disubsidi pemerintah. Jadwal imunisasi ini mengikuti aturan UCI (Universal Child Immunization) yang tujuannya mengejar cakupan imunisasi sesegera mungkin, 5 vaksin (dasar) sebelum anak berusia 1 tahun.

    • a. Hepatitis B : diberikan saat lahir (dg uniject), umur 2, 3, 4 bulan (bersamaan dengan DTP Combo), harus diberikan dalam 12 jam pertama. Aman diberikan pada semua bayi di atas 1.500 gram. (dulu batasnya berat lahir 2.000 gram).

    • b. Polio oral : diberikan saat lahir (pulang dari Rumah Sakit), umur 2, 3, 4 bulan.

    • c. BCG : diberikan saat usia 1 bulan.

    • d. DTP Combo Hepatitis B : diberikan umur 2, 3, 4 bulan.

    • e. Campak : diberikan pada usia 9 bulan.

    • 2.9 Tujuan Pemberian Imunisasi Polio

    Adapun tujuan dari imunisasi yang diungkapkan oleh beberapa sumber diantaranya :

    Tujuan diberikan imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit tertentu (Hidayat, 2005). Menurut Depkes RI (2005), tujuan pemberian imunisasi adalah untuk mencegah penyakit dan kematian bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh wabah yang sering muncul. Pemerintah Indonesia sangat mendorong pelaksanaan program imunisasi sebagai cara untuk menurunkan angka kesakitan, kematian pada bayi, balita/anak-anak pra sekolah. Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya. Jadi tujuan utama imunisasi polio adalah untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit polimielitis. Oleh karena itu sudah jelas bahwa manfaat imunisasi polio adalah mencegah penyakit polio atau lumpuh layu. Baik perindividu maupun secara luas pada masyarakat. Karena apabila sebagian besar terimunisasi maka yang lain juga akan terlindungi dari penularan.

    • 2.10 Manfaat Imunisasi Polio Adapun manfaat imunisasi polio adalah :

    a)

    Untuk Anak

    Mencegah

    penderitaan

    yang

    disebabkan

    oleh

    penyakit,

    dan

    kemungkinan cacat atau kematian.

    • b) Untuk Keluarga Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.

    • c) Untuk Negara

    Memperbaiki tingkat kesehatan, mencipatakn bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembentukan negara (Marimbi, 2010).

    • 2.11 Jadwal Pemberian Vaksin Polio

    Waktu Pemberian Imunisasi

    1)

    Imunisasi Polio I

    : Segera setelah bayi lahir

    2)

    Imunisasi Polio II

    : Usia 2 bulan

    3)

    Imunisasi Polio III

    : Usia 4 bulan

    4)

    Imunisasi Polio IV

    : Usia 18 bulan 2 tahun

    5)

    Imunisasi Polio V

    : SD kelas I (usia 5 tahun)

    Jumlah Pemberian Bisa lebih dari jadwal yang telah ditentukan, mengingat adanya imunisasi polio massal. Namun jumlah yang berlebihan ini tak akan berdampak buruk. Ingat, tak ada istilah overdosis dalam imunisasi. Pemberian imunisasi 2 kali dengan interval 1 bulan akan memberikan kekebalan rongga usus selama 100 hari.

    Usia Pemberian Imunisasi polio diberikan sebanyak empat kali dengan selang waktu tidak kurang dari satu bulan. Saat lahir (0 bulan), dan berikutnya di usia 2, 4, 6 bulan.

    Dilanjutkan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin polio selalu dibarengi dengan vaksin DPT.

    • 2.12 Cara Pemberian Vaksin Polio

      • Cara pemberian vaksin polio adalah :

    Cara pemberian imunisasi polio bisa lewat suntikan (Inactivated Poliomyelitis Vaccine/IPV), atau lewat mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV). Di Indonesia yang digunakan adalah OPV, karena lebih aman.

    Dilanjutkan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin polio selalu dibarengi
    Dilanjutkan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin polio selalu dibarengi

    Gambar 3. Cara Pemberian IPV Sumber : Depkes 2005

    • OPV diberikan dengan meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis. Imunisasi ini jangan diberikan pada anak yang lagi diare berat.

    Gambar 4. Oral Polio Vaccine Sumber : Depkes 2005 2.13 Efek Samping dan Cara Mengatasinya Efek

    Gambar 4. Oral Polio Vaccine Sumber : Depkes 2005

    • 2.13 Efek Samping dan Cara Mengatasinya Efek samping dari imunisasi polio adalah :

      • Biasanya tidak terdapat efek samping yang berati. Jarang sekali terjadi kelumpuhan akibat vaksin polio ini dengan perbandingan 1 / 1.000.000 dosis.

      • Sebagian kecil anak setelah mendapatkan vaksin OPV akan mengalami gejala pusing, diare ringan, nyeri otot.

      • Khusus pada vaksin polio IPV efek samping yang bisa muncul berupa: Sedikit bengkak dan kemerahan di tempat suntikan. Pengerasan kulit pada tempat suntikan, yang biasanya cepat hilang. Kadang-kadang terjadi peningkatan suhu (demam) beberapa jam setelah injeksi (Matondang, 2005).

    Berikut adalah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi efek samping dari imunisasi (Matondang, 2005) :

    • Memberikan ASI sesering mungkin. Kandungan ASI memiliki zat yang dapat menggurangi peningkatan suhu badan.

    • Mendekap bayi, dengan memberikan dekapan dari anda dapat meningkatkan zat antinyeri sehingga menurunkan rasa sakitnya.

    • Jangan menggunakan bedong atau selimbut tebal, gunakan baju yang mudah menyerap keringat.

    • Kompres menggunakan air hangat sehingga menurunkan resiko kejang-kejang ketimbang menggunakan air dingin.

    • Memberikan kompresan air hangat untuk mengurangi pembengkakan pasca suntikan. Kebanyakan bayi merasa nyeri ketika bekas suntikan tersentuh sehingga membuat tidak nyaman.

    • Berikan pijatan halus agar bayi merasa nyaman.

    • Gunakan selalu alat pengukur panas (termometer) untuk melihat perkembangan peningkatan atau penurunan suhu tubuhnya.

    • Pada umumnya kenaikan suhu badan bayi anda akan meningkat berkisar 38 - 40 derajat celcius, panas badan anda akan menurun dengan sendirinya dalam waktu 1-2 hari. Ketika bayi anda mengalami panas melebihi 38 derajat celcius dapat diberikan obat penurun panas yang sesuai dengan anjuran dokter.

    • Bila panas tidak kunjung turun dan mempunyai riwayat kejang dan gejala lainnya juga tidak berangsur membaik maka dapat berkonsultasi dengan dokter untuk diberikan penangananya.

    • 3.1 Kesimpulan

    BAB III

    PENUTUP

    Dari pembahasan masalah di atas dapat di simpulkan :

    • Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen, Jenis polio ada 3 yaitu Polio Non-Paralisis, Polio Paralisis Spinal, Polio Bulbar.

    • Gejala polio meliputi demam, lemas, sakit kepala, muntah, sulit buang air besar, nyeri pada kaki/tangan, kadang disertai diare. Kemudian virus menyerang dan merusakkan jaringan syaraf, sehingga menimbulkan kelumpuhan yang permanen.

    • Pencegahan polio antara lain melakukan cakupan imunisasi yang tinggi dan menyeluruh, Pekan Imunisasi Nasional yang telah dilakukan Depkes tahun 1995, 1996, dan 1997, Survailance Acute Flaccid Paralysis, melakukan Mopping Up.

    • 3.2 Saran

    Berdasarkan kesimpulan di atas maka di sarankan bagi setiap ibu agar selalu memperhatikan kesehatan bayinya yaitu harus selalu aktif ke posyandu atau tenaga kesehatan terdekat untuk di beri imunisasi karena dengan di beri imunisasi dapat mencegah bayi dalam berbagai macam penyakit.

    DAFTAR PUSTAKA

    Aziz. 2009. Asuhan Neonatus, Bayi, dan Balita. Jakarta : EGC. Fakultas kedokteran universitas indonesia. 2002. Kapita Selecta Kedokteran jilid 2. Jakarta : Media Acucaliptus. Gendrowahyuhono, dkk. 2010. Artikel Eradikasi Polio dan IPV. Media Litbang Kesehatan Vol. XX No 4 Tahun 2010. Indonesia, Ditjen PP & PL Depkes RI. 2005. Pedoman Teknis Imunisasi Tingkat Puskesmas. Dirjen PP & PL Depkes RI : Jakarta. KEMENKES RI. 2016. Buku Saku Pedoman Bagi Kader Kesehatan. Kemenkes RI : Jakarta. Miller. 2004. Imunisasi Polio. Bandung : FFT. Matondang. 2005. Pengertian Imunisasi Polio, Jenis, Jadwal, dan Kontra Indikasi Imunisasi Polio. Jakarta : UIY. Nurdianasari, Nesti. 2012. KTI Tingkat Pengetahuan Ibu tentang imunisasi polio. Surakarta : EGC. Sumijatun, sulisweati dkk. 2005. Konsep dasar keperawatan komunitas. Jakarta : EGC. Ranuh. 2007. Pedoman Imunisasi di Indonesia Satgas Imunisasi - Ikatan Dokter Indonesia. Jakarta : EGC.