Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Abses otak adalah nanah atau pus yang terkumpul dalam otak. Pus ini
terbentuk karena infeksi pada jaringan otak. Infeksi ini bisa diakibatkan invasi
bakteri atau mikroorganisme pathogen yang lain ke dalam otak atau di bawa darah
dari organ lain sehingga sampai di otak. Abses otak merupakan komplikasi yang
dikaitkan dengan beberapa bentuk meningitis. Abses otak adalah komplikasi yang
meningkat pada pasien yang sistem imunnya disupresi baik karena terapi atau
penyakit.
Abses otak paling sering terjadi pada usia antara 20 dan 50 tahun, tetapi,
telah ditemukan pada setiap usia. Pasien-pasien datang dengan nyeri kepala dan
tanda-tanda neurologis fokal yang bervariasi tergantung pada lokasi abses. Tanda-
tanda peningkatan tekanan intrakranial (khususnya mual, muntah, dan penurunan
kesadaran) merupakan hal yang paling sering ditemukan.
Proses penyakit abses otak harus diketahui, baik penyebab maupun gejala
bahkan komplikasinya. Sehingga, tenaga kesehatan khususnya perawat perlu
memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai manifestasi klinis dan respon pasien
terhadap penyakit yang diderita dan untuk menghindari resiko komplikasi yang
lebih tinggi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi fisiologi otak?
2. Apa yang dimaksud abses otak?
3. Bagaimana etiologi abses otak?
4. Bagaimana manifestasi klinis abses otak?
5. Bagaimana penatalaksanaan medis abses otak?
6. Bagaimana patofisiologi abses otak?
7. Apa komplikasi abses otak?
8. Apa prognosis abses otak?
9. Bagaimana pencegahan abses otak?
10. Bagaimana hasil penelitian berkaitan dengan abses otak?

1
11. Bagaimana pemberian asuhan keperawatan abses otak?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Persarafan II
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui anatomi fisiologi sistem otak
2. Untuk mengetahui yang dimaksud abses otak
3. Untuk mengetahui etiologi abses otak
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis abses otak
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis abses otak
6. Untuk mengetahui patofisiologi abses otak
7. Untuk mengetahui komplikasi abses otak
8. Untuk mengetahui prognosis abses otak
9. Untuk mengetahui pencegahan abses otak
10. Untuk mengetahui hasil penelitian berkaitan dengan abses otak
11. Untuk mengetahui pemberian asuhan keperawatan abses otak
1.3 Manfaat
Mahasiswa lebih memahami dan mengerti secara mendalam
mengenai anatomi fisioligi otak, definisi, etiologi, patofisiologi,
komplikasi, manifestasi klinis, penatalaksanaan medis, komplikasi,
prognosis, pencegahan, hasil penelitian, dan pemberian asuhan
keperawatan pada pasien dengan abses otak.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 ANATOMI FISIOLOGI OTAK


A. OTAK
Otak manusia berisi
hampir 98% jaringan saraf
tubuhatau sekitar 10 miliar
neuron yang menjdi kompleks
secara kesatuan fungsional.
Kisaran berat otak seekitar 1,4
kg dan mempunyai volume
sekitar 1200cc (71 in.3). ada
pertimbangan variasi akan
besarnya ukuran otak, yaiyu otak laki-laki lebih besar 10% dari perempuan dan
tidak ada korelasi yan berarti antara besar otak dan ( 2100cc) secara fungsional
adalah sama.
Otak lebih kompleks dari pada batang otak. Otak manuasia kir-kira
merupakan 2% dari berat badan orang dewasa. Otak menerima 15% dari curah
jantung, memerlukan sekitar 20% pemakaian oksigen tubuh dan sekitar 400kilo
kalori energy setiap harinya.
Otak merupakan jaringan yang paling banyaak memakai energy dalam
seluruh tubuhmanusia dan terutama berasal dari proses metabolism oksidasi
glukosa. Jaringan otak sangat rentan dan kebutuhan akan oksigen dan glikosa
melalui aliran darah adalah konstan. Metabolism otak merupakan proses tetap dan
kontinu, tanpa ada masa isirahat.

3
B. PELINDUNG OTAK
Jaringan otak dan medulla spinalis di lindungi oleh tulang tengkorak dan
tulang belakang, serta 3 lapisan jaringan penyambung atau meningen, yaitupia
meter, arakhnoid, dan durameter.
1) Pia Mater
Piameter langsung berhubungan dengan otak dan jaringan spinal, dan
mengikuti kontur struktur eksternal otak dan jaringan spinal. Piameter merupakan
lapisan vascular, tempat pembuluh-pembuluh darah berjalan menuju struktur
dalam SSP untuk member nutrisi pada jaringan saraf. Pia meter meluas ke bagian
bawah medulla spinalis (spinal cord), yang seperti telah di sebutkan sebelumnya,
berakhir kira-kira setinggi bagian bawah L1.

2) Arakhnoid
Arakhnoid merupakan suatu membrane fibrosa yang tipis, halus dan
avaskular. Arakhnoid meliputi otak dan medulla spinalis, tetapi tidak mengikuti
kontur luar seperti pia meter.
Daerah antara arakhnoid dan pia meter di sebut ruang sub arakhnoid di
mana terdapat arteri, vena serebri, dan trabekulaarakhnoid. Dan cairan
serebrospinal yang membasahi SSP. Ruang antara sub arakhnoid ini mempunyai
pelebaran-pelebaran yang di sebut sisterna. Salah satu pelebaran yang terbesar
adalah sisterna lumbalis di daerah lumbal kolumna vertebralis. Bagian bawah
lumbaal ( biasanya antara L3-L4 atau L4-L5) merupakan tempat yang biasanya di
gunakan untuk mendapatkan cairan serebrospinal untuk pemeriksaan lumbal
pungsi.

4
3) Duramater
Durameter merupakan suatu jaringan liat, tidak elastis, dan mirip kulit sapi,
yang terdiri dari atas dua lapisan
1. Bagian luar di sebut duraendosteal
2. Bagian dalam di sebut meningeal
Lapian endosteal membentuk bagian dalam periosteum tengkorak dan
berlanjut sebagai periosteum yang membatasi kanalis vertebralis medulla spinalis.
Kulit kepala merupakan struktur tambahan lain yang juga harus di
pertimbangkan sebagai salah satu penutup SSP. Kulit kepala yang melapisi
tengkorak dan melekatpada tengkorak melalui otot frontalis dan oksipitalis
merupakan jaringan ikat padat fibrosa yang dapat bergerak dengan bebas, yang
dinamakan galea aponeurotika ( dalam bahasa latin “ galea” berarti “helm”)
Galea membantu meredam kekuatan trauma eksternal, terutama pukulan
yang tidak tepat. Tanpa lindungan kulit kepala, tengkorak jauh lebih rentan
terhadap fraktur. Di atas galea terdapat lapisan membrane mengandung banyak
pembuluh darah besar, lapisan lemak, kulit dan rambut.

C. CAIRAN SEREBROSPINAL
Dalam setiap ventrikel terdapat
struktur sekresi khusus yang di namakan
pleksus koroideus. Pleksus koroideus inilah
yang menyekresi CSS yang jernih dan tak
berwarna, yang merupakan bantal cairan
pelindung di sekitar SSP. CSS terdiri atas
air, elektrolit, gas oksigen dan karbon
dioksida yang terlarut, glukosa, beberapa
leukosit (terutama limfosit), dan sedikit
protein (price, 1995).
CSS di produksi dan di reabsorpsi
terus menerus dalam SSP. Volume total
CSS di seluruh rongga serebro spinal sekitar 125 ml, sedangkan kecepatan sekresi
pleksus koroideus sekitar 500-750 ml perhari. Adanyan tekanan oleh cairan

5
serebrospinal memengaruhi kecepatan proses pembentukan cairan dan resistensi
reabsorpsi oleh vili arakhnoidalis. Tekanan CSS sering di ukur pada saat lumbal
fungsi dan pada posisi terlentang biasanya berkisar antara 130 mmH2O
(13mmHg) (price, 1999). Fungsi CSS antara lain :
1) Sebagai alas atau bantalan dari struktur neuron
2) Sebagai penyangga dari otak. Secara anatomis oatak berada dalam
rongga cranium dan pengapung di dalam cairan serebrospinal. Otak
mempunyai berat sekitar 1400g dan hanya berat 50g apanbila mendapat
sanggahan dari CSS.
3) Transportasi nutrisi, pesan kimia, dan produk sisa.

D. VENTRIKEL
Ventrikel merupakan rangkaian dari empat rongga dalam otak yang saling
berhubungan dan di batasi oleh ependimal ( semacam sel epitel yang membatasi
semua rongga otak dan medulla spinalis dan mengandung CSS. Pada setiap
hemisfer srebri , terdapat satu ventrikel lateral ( dapat di lihat pada gambar1-11).
Ventrikel ketiga terdapat dalam diensefalon. Ventrikrl ke eempat dalam pons dan
oblongata. Ventrikel lateral memepunyai hubungan dengan ventrikel ke tiga
melalui sepasang foramen –interventrikularis ( foramen monro).

Ventrikel ke-3 dan ke4 di hubungkan melalui suatu saluran sempit di dalam
otak tengah di namakan akueduktus silvius.

6
Pada ventrikel ke4 terdapat tiga lubang sepasang foramen luschka di lateral
dan satu foramen megendie di medial, yang berlanjut subarkhnoid aotak dan
medulla spinalis.

E. SUPLAI DARAH
SSP seperti juga jaringan tubuh lainnya sangat tergantung pada aliran darah
yang memadai untuk nutrisi dan pembuangan sisa-sisa metabolismenya. Suplai
darah arteri ke otak merupakan suatu jalinan pembuluh-pembuluh darah yang
bercabang-cabang, saling berhubungan erat sehingga dapat menjamin suplai darah
yang adekuat untuk sel.
Suplai darah ini di jamin oleh dua pasang arteri yaitu: arteri vertebralis dan
arteri karotis interna, yang memiliki cabang –cabang yang beranastomosis
membentuk sirkulus arteriosus serebri willisi.

F. SEREBRUM
Area atau wilayah terbesar dari otak adalah serebrum. Subtansi grasia (gray
matter) dapat ditemukan pada korteks serebri dan nukleus serebri. Subtansia alba
(white matter ) terdapat pada korteks neural dan sekitar nukelus.
Serbrum terdiri atas hemifer kanan dan kiri yang dibagi oleh satu lekuk atau
celah dalam yang disebut fisura longitudinamis mayor. Bagian luar hemistfer
serebri terdiri atas subtansi grisea yang disebut sebagai kortek serbri ,terletak
diatas substansia alba yang merupakan bagian dalam (inti) hemisfer dan disebut
pusat medula. Kedua hemisfer saling dihubungkan oleh suatu pita serebut lebar
yang disebut korpus kalosum.

7
Didalam subtansia alba terdapat kumpulan massa subtansia grisea yang
disebut ganglia basalis. Pusat aktivitas sensorik dan motorik pada masing masing
hemisfer dirangkap dua, dan sebagian besar berkaitan dengan bagian tubuh yang
berlawanan. Hemisfer serebri kanan mengatur bagian tubuh bagian tubuh sebelah
kiri dan hemisfer serebri kiri mengatur bagian tubuh kanan . konsep fungsional ini
disebut pengendalian kontralateral.
1) Korteks serebri
Korteks serebri atau subtansia grisea dan dari serenrum mempunyai banyak
lipatan yang disebut giri ( tunggal girus).
Susunan seperti ini memungkinkan permukaan otak menjadi luas
(diperkirakan luasnya 2200cm2) untuk berada di dalam rongga tengkorak yang
sempit.
2) Lobus frontalis
Lobus frontalis bertanggung jawab untuk perilaku bertujuan, menentukan
keputusan moral, dan perilaku kompleks. Lobus frontalis memodifikasi dorongan
dorongan emosional yang dihasilkan oleh sistem limbik dan refleks refleks
vegetatif dari batang otak. Badan-badan sel didaerah motorik primer lobus
frontalis mengirim tonjolan-tonjolan akson ke medula spinalis, yang sebagian
besar berjalan dalam jalur yang disebut dengan sistem piramidalis.

3) Lobus parietalis.
Lobus ini merupakan daerah sensorik primer otak untuk sensasi peraba dan
pendengaran. Sel-sel lobus perietalis bekerja sebagai area asosiasi sekunder untuk

8
menginterpretasikan rangsangan-rangsangan yang datang. Lobus perietalis
menyampaikan informasi sensorik kedaerah lain diotak, termasuk daerah asosiasi
motorik dan visual di sebelahnya.

4) Lobus oksipitalis.
Lobus oksipitalis adalah lobus posterior korteks serebrum.lobus ini terletak
disebelah posterior dari lobus parietalis dan didasar fisura parieto-oksipitalis, yang
memisahkan dari serebellum. Lobus ini adalah pusat asosiasi visual utama. Lobus
ini menerima informasi yang berasal dari retina mata.
5) Lobus temporalis.
Lobus temporalis adalah area asosiasi primer untuk informasi audiotik dan
mencakup area wernicke tempat interpretasi bahasa. Lobus ini juga terlibat dalam
interpretasi bau dan menyimpan ingatan.

G. SEREBELLUM
Serebellum terletak didalam fosa
krani posterior dan ditutupi oleh dura mater
yang menyerupai atap tenda, yaitu
tentorium, yang memisahkannya dari
bagian posterior serebrum.
Serebellum terdiri dari bagian tengah,
vermis dan dua hemisfer lateral.
Serebellum dihubungkan dengan batang
otak oleh tiga berkas serabut yang
dinamakan pendikuli. Semua aktivitas
serebellum berada dibawah kesadaran.
Fungsi utama serebellum:
1) Mengatur otot otot postural tubuh. Serebbelum mengoordinasi
penyesuaian secara cepat dan otomatis dengan memelihara keseimbangan
tubuh.
2) Melakukan program akan gerkan-gerakan pada keadaan sadar dan bawah
sadar.

9
Serebellum sebagian pusat refleks yang mengoordinasi dan memperhalus
gerakan otot serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk
mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh.

H. BATANG OTAK
1) Pons
Pons adalah (dalam bahasa latin berarti jembatan) berbentuk jembatan-
jembatan serabut-serabut ynag menghubungkan kedua hemisfer serebellum, serta

menghubungkan mesensefalon disebelah atas dengan medula oblongata dibawah .


pons merupakan mata rantai penghubung yang penting pada jaras kortikosebelaris
yang menyatukan hemisfer serebri dan serebellum. Bagian bawah pons berperan
dalam pengaturan pernapasan. Nukleus saraf kraneal V (trigeminus) VI (abdusen),
dan VII (fasialis) terdapat disini.
2) Medula oblongata.
Medula oblongata merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung ,
vasokontriktor , pernapasan , bersin, batuk, menelan, pengeluaran air liur dan
muntah.

10
I. BAGIAN OTAK LAIN
1) Mesensefalon
MEsensefalon (otak tengah) merupakan bagian pendek dari batang otak
yang letaknya diatas pons. Secara fisiologis masensefalon mempunyai peran yang
penting dalam pengaturan respons- respons tubuh.

2) Diensefalon
Diensefalon adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan struktur-
struktur di sekitar ventrikel ketiga dan membentuk inti bagian dalam serebrum.
Diensefalon biasanya dibagi menjadi empat wilayah, yaitu thalamus, epitalamus,
dan hipotalamus.
3) Thalamus
Thalamus terdiri atas struktur ovoid
yang besar, masing-masing mempunyai
kompleks nukleus yang saling berhubungan
dengan korteks serebri homolateral,
serebellum, dan dengan berbagai kompleks
nuclear subkortikal seperti yang ada di
hipotalamus., formasi retikularis batang
otak, basal ganglia, dan mungkin juga
substansia nigra. Thalamus merupakan
stasiun transmitter yang penting dalam otak
dan juga merupakan pengintegrasi
subkortikal yang penting.
4) Hipotalamus
Hipotalamus terletak di bawah thalamus. Hipotalamus berkaitan dengan
pengaturan rangsangan dari system susunan saraf otonom perifer yang menyertai
ekspresi tingkah laku dan emosi. Beberapa fungsi dari hipotalamus meliputi :
1) Pengendalian secara tidak sadar dari kontraksi otot-otot skeletal.
2) Pengendalian fungsi otonom.
3) Koordinasi aktivitas system persarafan dan endokrin.
4) Sekresi hormone.

11
5) Menghasilkan dorongan emosi dan prilaku.
6) Koordinasi antara fungsi otonom dan volunteer.
7) Mengatur suhu tubuh.
5) Subtalamus
Subtalamus merupakan nucleus ekstrapiramidal diensefalon yang penting.
Subtalamus mempunyai hubungan dengan nucleus ruber, substansia nigra, dan
globus palidus dari ganglia basalis. Fungsinya belum jelas diketahui, tetapi lesi
pada subtalamus dapat menimbulkan dikinesia dramatis yang disebut
hemibalismus.
6) Epitalamus
Epitalamus berbentuk pita sempit jaringan saraf yang membentuk atap
diensefalon. Struktur utama daerah ini adalah nucleus habenular dan komisura,
komisura posterior, striae medularis, dan epifisis.
Epitalamus berhubungan dengan system limbic dan sedikit berperan pada
beberapa dorongan emosi dasar dan integrasi informasi olfaktorius. Epifisis
menyekresi melatonin dan membantu mengatur irama sirkadian tubuh serta
menghambat hormone-hormon gonadotropin.
J. SARAF KRANIAL
Saraf kranial merupakan saraf yang mensarafi daerah kepala dan leher,
yakni pada daerah wajah, leher dan telinga.
Fungsi-fungsi saraf kranial
Saraf kranial Komponen Fungsi
I Olfaktorius Sensorik Penciuman
II Optikus Sensorik Penglihatan
III Okulomotorius Motorik Mengangkat kelopak mata
atas
Kontriksi pupil
Sebagian besar gerakan
ekstraokular
IV Troklearis Motorik Gerakan mata ke bawah dan
ke dalam
V Trigeminus Motorik Otot temporalis dan maseter

12
(menutup rahang dan
mengunyah) gerakan rahang
ke lateral
Sensorik  Kulit wajah, dua pertiga
depan kulit kepala, mukosa
mata, mukosa hidung dan
rongga mulut, lidah dan
gigi
 Reflek kornea atau reflek
mengedip, komponen
sensorik dibawa oleh saraf
cranial V, respons motorik
melalui saraf cranial VII
VI Abdusens Motorik  Deviasi mata ke lateral
VII Fasialis Motorik  Oto-otot ekspresi wajah
termasuk otot dahi,
sekeliling mata serta
mulut.
 Lakrimasi dan salvias
Sensorik Pengecapan dua pertiga
depan lidah (rasa, manis,
asam, dan asin)
VIII Sensorik Keseimbangan
Cabang vestibularis;
Vestibulokoklearis;
Cabang koklearis Pendengaran
IX Glosofaringeus Motorik Faring : menelan,reflex
muntah
Parotis : salvias
Sensorik Faring, lidah posterior,
termasuk rasa pahit

13
X Vagus Motorik Faring, faring:menelan,
reflex muntah, fonasi:visera
abdomen
Sensorik Faring, laring:reflex
muntah,visera leher,thoraks
dan abdomen
XI Asesorius Motorik Otot sternokleidomastoideus
dan bagian atas dari
otottrapezius :pergerakan
kepala dan bahu
XII Hipoglosus Motorik Pergerakan lidah

2.2 DEFINISI ABSES OTAK


Abses otak merupakan kumpulan dari unsur-unsur infeksius dalam jaringan
otak (Smeltzer, 2001). Abses ini berupa nanah yang timbul akibat serangan infeksi
di jaringan parenkim otak.
Menurut Dorland, abscess adalah kumpulan nanah setempat dalam suatu
rongga yang terbentuk akibat kerusakan jaringan. Brain abscess adalah abses yang
mengenai otak akibat penjalaran infeksi (ex : otitis media) dari daerah sekitar, atau
melalui penularan dari darah.
Abses otak adalah proses infeksi yang terjadi pada parenkim otak. Abses
otak terutama disebabkan oleh penyebaran infeksi dari fokus yang berdekatan
dengan atau yang menembus sistem vaskular (Ariani, 2012).
Abses otak (AO) adalah suatu proses infeksi yang melibatkan parenkim
otak; terutama disebabkan oleh penyebaran infeksi dari fokus yang berdekatan
atau melaui sistem vaskular. Timbunan abses pada daerah otak mempunyai daerah
spesifik, pada daerah cerebrum 75% dan cerebellum 25%.
Abses otak merupakan
kumpulan pus yang bebas maupun
terenkapsulasi (terkumpul) yang
biasanya muncul di lobus
temporal, serebelum, atau lobus

14
frontal. Abses otak ini ukurannya bervariasi dan bisa muncul sebagai abses
tunggal maupun multilokular.
Abses otak relatif tidak sering terjadi. Penyakit ini bisa diderita oleh orang
usia berapapun, namun paling sering adalah orang berusia 10 sampai 35 tahun,
dan jarang diderita orang yang berusia jauh dari itu.
Beberapa ahli membagi perubahan patologi AO dalam 4 stadium yaitu :
1) Stadium serebritis dini (Early Cerebritis)
Terjadi reaksi radang local dengan infiltrasi polymofonuklear leukosit,
limfosit dan plasma sel dengan pergeseran aliran darah tepi, yang dimulai pada
hari pertama dan meningkat pada hari ke 3. Sel-sel radang terdapat pada tunika
adventisia dari pembuluh darah dan mengelilingi daerah nekrosis infeksi.
Peradangan perivaskular ini disebut cerebritis. Saat ini terjadi edema di sekita otak
dan peningkatan efekmassa karena pembesaran abses.
2) Stadium serebritis lanjut (Late Cerebritis)
Saat ini terjadi perubahan histologis yang sangat berarti. Daerah pusat
nekrosis membesar oleh karena peningkatan acellular debris dan pembentukan
nanah karena pelepasan enzim-enzim dari sel radang. Di tepi pusat nekrosis
didapati daerah sel radang, makrofag-makrofag besar dan gambaran fibroblast
yang terpencar. Fibroblast mulai menjadi reticulum yang akan membentuk kapsul
kolagen. Pada fase ini edema otak menyebar maksimal sehingga lesi menjadi
sangat besar
3) Stadium pembentukan kapsul dini (Early Capsule Formation)
Pusat nekrosis mulai mengecil, makrofag menelan acellular debris dan
fibroblast meningkat dalam pembentukan kapsul. Lapisan fibroblast membentuk
anyaman reticulum mengelilingi pusat nekrosis. Di daerah ventrikel, pembentukan
dinding sangat lambat oleh karena kurangnya vaskularisasi di daerah substansi
putih dibandingkan substansi abu. Pembentukan kapsul yang terlambat di
permukaan tengah memungkinkan abses membesar ke dalam substansi putih. Bila
abses cukup besar, dapat robek ke dalam ventrikel lateralis. Pada pembentukan
kapsul, terlihat daerah anyaman reticulum yang tersebar membentuk kapsul
kolagen, reaksi astrosit di sekitar otak mulai meningkat.
4) Stadium pembentukan kapsul lanjut (Late Capsule Formation)

15
Pada stadium ini, terjadi perkembangan lengkap abses dengan gambaran
histologis sebagai berikut:
a) Bentuk pusat nekrosis diisi oleh acellular debris dan sel-sel radang.
b) Daerah tepi dari sel radang, makrofag, dan fibroblast.
c) Kapsul kolagen yang tebal.
d) Lapisan neurovaskular sehubungan dengan serebritis yang berlanjut.
e) Reaksi astrosit, gliosis, dan edema otak di luar kapsul.
Abses dalam kapsul substansia alba dapat makin membesar dan meluas ke
arah ventrikel sehingga bila terjadi ruptur, dapat menimbulkan meningitis.

2.3 ETIOLOGI ABSES OTAK


1) Bakteri

Bakteri yang tersering adalah Staphylococcus


aureus, Streptococcus anaerob, Streptococcus beta
hemolyticus, Streptococcus alpha hemolyticus, E.
coli dan Baeteroides. Abses oleh Staphylococcus
biasanya berkembang dari perjalanan otitis media
atau fraktur kranii. Bila infeksi berasal dari sinus
paranasalis penyebabnya adalah Streptococcus
aerob dan anaerob, Staphylococcus dan Haemophilus influenzae. Abses oleh
Streptococcus dan Pneumococcus sering merupakan komplikasi infeksi paru.
Abses pada penderita jantung bawaan sianotik umumnya oleh Streptococcus
anaerob. ( Elizabeth J,2009).
2) Jamur

Jamur penyebab AO antara lain Nocardia asteroides, Cladosporium


trichoides dan spesies Candida dan Aspergillus.
3) Parasit

Walaupun jarang, Entamuba histolitica, suatu parasit amuba usus dapat


menimbulkan AO secara hematogen.
4) Komplikasi dari infeksi lain

16
Komplikasi dari infeksi telinga
(otitis media, mastoiditis) hampir
setengah dari jumlah penyebab abses
otak serta komplikasi infeksi lainnya
seperti: paru-paru (bronkiektaksis, abses
paru, empisema), jantung
(endokarditis), organ pelvis, gigi dan
kulit.
Smeltzer (2001) mengatakan bahwa abses otak dapat terjadi melalui:
1) Invasi otak langsung dari trauma intracranial atau pembedahan
2) Penyebaran infeksi dari daerah lain seperti, sinus, telinga dan gigi
(infeksi sinus pranasal, otitis media, sepsis gigi)
3) Penyebaran infeksi dari organ lain ( abses paru-paru, endo karditis
infektif)
Menurut Sarjadi (1999), Abses serebral biasanya terjadi dari ensefalitis akut
supuratif setelah adanya :
1) Penyebaran langsung infeksi, biasanya hasil Gram negative, dari sinus
pranasal atau telinga bagian tengah.
2) Thrombosis sinus septik,disebabkan penyebaran radang dari rongga
mastoid dan telinga tengah lewat sinus sigmoid.
3) Penyebaran hematogen, misalnya pada penderita dengan endokarditis
infeksiosa (terutama dalam hubungannya dengan penyakit jantung
bawaan) atau bronkiektasis. Abses hemtogenosa sering ditemukan pada
lobus parietalis,tetapi dapat terjadi pada beberapa daerah di otak, dan
sering multipel.

2.4 MANIFESTASI KLINIS ABSES OTAK


Gambaran klinis mirip dengan meningitis bakterialis akut,tanda neurologis
fokal,epilepsi dan demam merupakan manifestasi yang biasa ditemukan. Abses
bertindak sebagai lesi yang mengisi ruang dan ini penting untuk diingat bahwa
fungsi lumbal harus tidak dilakukan sebagai pemeriksaan awal pada penderita

17
dengan suspek abses serebral (atau lesi lain yang mengisi ruang). Hal ini dapat
menimbulkan herniasi intrakranial yang fatal (Sarjadi, 1999).
Manifestasi klinis dari abses otak diakibatkan oleh perubahan pada
dinamika intracranial (edema,pergeseran otak), infeksi, atau lokasi abses.
a) Sakit kepala, biasanya memburuk pada pagi hari,adalah gejala paling lanjut
pasien.
b) Mual muntah juga umum terjadi.
c) Tanda neurologik fokal (kelemahan ekstremitas,penurunan
penglihatan,kejang) dapat terjadi, bergantung pada tempat abses.
d) Terdapat perubahan pada status mental pasien , seperti ditunjukkan pada
prilaku letargik, peka, atau perilaku disorientasi.
e) Demam mungkin ada tetapi juga tidak.
Gejala fokal yang terlihat pada abses otak
Lobus Gejala
Frontalis Mengantuk, tidak ada perhatian, hambatan dalam mengambil
keputusan, gangguan inteligensi, kadang-kadang kejang
Temporalis Tidak mampu menyebut objek; tidak mampu membaca,
menulis atau mengerti kata-kata; hemianopia
Parietalis Gangguan sensasi posisi dan persepsi stereognostik, kejang
fokal, hemianopia hormonim, disfasia, akalkulia, agrafia
Serebelum Sakit kepala suboksipital, leher kaku, gangguan koordinasi,
nistagmus, gangguan berjalan, tremor intensional (bertujuan)

18
2.5 PENATALAKSANAAN MEDIS ABSES OTAK
Abses otak adalah komplikasi yang meningkat pada pasien yang sistem
imunnya disupresi baik karena terapi atau penyakit. Untuk mencegah abses otak
maka perlu dilakukan pengobatan yang tepat pada otitis media, mastoiditis,
sinusitis, infeksi gigi dan infeksi sistemik (Smeltzer, 2001). Sasaran
penatalaksanaaan adalah untuk menghilangkan abses. Abses otak di obati dengan
cara :
1) Terapi antimikroba. Pengobatan antimikroba diberikan untuk
menghilangkan organisme sebagai penyebab atau menurunkan perkembangan
virus. Dosis besar melalui intravena biasanya ditentukan praoperatif untuk
menembus jaringan otak dan abses otak. Terapi diteruskan pada pascaoperasi.
Kortikosteroid dapat diberikan untuk menolong menurunkan radang edema
serebral jika pasien memperlihatkan adanya peningkatan deficit neurologik.
Dosis besar melalui intravena biasanya di tentukan praoperatif untuk
menembus jaringan otak dan abses otak. Terapi di teruskan pada pasca
operasi.
2) Terapi antibiotic. Terapi ini bermanfaat untuk pengobatan abses pada fase
permulaan, tetapi begitu kapsula terbentuk,maka perlu dilakukan aspirasi
pembedahan atau eksisi (Sarjadi, 1999).
3) Obat-obatan. Obat-obat antikonvulsan (fenitoin, fenobarbital) dapat
diberikan sebagai profilaksis mencegah terjadinya kejang. Kortikosteroid
dapat di berikan untuk menolong menurunkan peradangan edema serebri jika
klien memperlihatkan adanya peningkatan deficit neurologis.
4) Penuhi Nutrisi tubuh. Nutrisi tubuh harus dipenuhi terutama tinggi kalori
dan protein.
5) Pembedahan (Craniectomi). Mengaspirasi pus yang menumpuk di otak.

19
2.6 PATOFISIOLOGI ABSES OTAK
Abses otak merupakan terbentuknya nanah di otak. Abses otak yang
disebabkan oleh parasit dapat terjadi ketika otak mengalami trauma langsung baik
itu berupa trauma benda tumpul maupun tajam. Trauma langsung ini membuka
jalan masuk bagi mikroorganisme parasit ke dalam rongga tengkorak. Parasit atau
agen infeksius ini akan masuk dan menyerang komponen yang ada dalam
intrakranial termasuk jaringan parenkim otak. Adanya serangan tersebut
mengakibatkan leukosit dan sel pertahanan tubuh lainnya masuk ke parenkim otak
untuk melawan mikroorganisme tersebut. Proses tersebut dinamakan proses
inflamasi atau pyogenic. Hasil akhir dari proses tersebut berupa pus atau nanah
yang berisi leukosit dan mikroorganisme pathogen yang sudah mati.
Pada otitis media, infeksi dapat meluas melalui kavum timpani atau melalui
mastoid dan meningen, untuk kemudian mencapai jaringan otak. Infeksi meluas
melalui vena-vena telinga dalam menyebabkan trombosis vena. Trombosis dapat
menghambat sirkulasi serebral sehingga terjadi iskemia dan infark yang
mempercepat terjadinya infeksi lokal. Setiap robekan pada dura akibat trauma
merupakan sumber potensial untuk terjadinya infeksi pada otak.
Pada penyakit yang berada di daerah sekitar jaringan otak, seperti
meningitis dan ensefalitis, pus dalam otak terjadi akibat perluasan infeksi dari
peradangan pada penyakit tersebut ke jaringan parenkim otak.
Sementara, pada jalur penyebaran infeksi secara hematogen (melalui darah)
biasanya infeksi terjadi pada organ lain yang letaknya jauh dari otak. Misalnya,
endokarditis pada jantung. Bakteri atau mikroorganisme pathogen penyebab
endokarditis masuk ke intravaskuler dan di bawa darah keluar jantung sehingga
sampai di otak. Abses yang terjadi oleh penyebaran hematogen dapat pada setiap
bagian otak, tetapi paling sering pada pertemuan substansia alba dan grisea.
Ada penjagaan otak khusus terhadap bahaya yang dating melalui lintasan
hematogen, yang dikenal sebagai sawar darah otak atau blood brain barrier.
Namun, sawar darah otak dapat dilalui oleh mikroorganisme pathogen. Sehingga
sawar darah otak rusak dan tidak lagi bertindak sebagai sawar khusus. Walaupun
dalam banyak hal sawar darah otak sangat protektif, namun ia menghambat
penetrasi fagosit, antibody dan antibiotik. Jaringan otak tidak memiliki fagosit

20
yang efektif dan juga tidak memiliki lintasan pembuangan limfatik untuk
pemberantasan infeksi bila hal itu terjadi. Maka berbeda dengan infeksi di otak
cenderung menjadi sangat virulen dan destruktif. Hal ini menyebabkan mudahnya
pembentukan pus di otak.
Pada tahap awal AO terjadi reaksi radang yang difus pada jaringan otak
dengan infiltrasi lekosit disertai udem, perlunakan dan kongesti jaringan otak,
kadang-kadang disertai bintik perdarahan. Setelah beberapa hari sampai beberapa
minggu terjadi nekrosis dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu
rongga abses. Astroglia, fibroblas dan makrofag mengelilingi jaringan yang
nekrotikan. Mula-mula abses tidak berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan
fibrosis yang progresif terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris. Tebal
kapsul antara beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter. Di dalam kapsul
terus terjadi nekrosis pencairan yang membentuk pus.

21
2.7 KOMPLIKASI ABSES OTAK
Komplikasi abses serebral yaitu :
a) Retardasi mental
b) Peningkatan tekanan intakranial
c) Meningitis
d) Hidrosephalus
e) Herniasi intrakranial
f) Defisit neurologis fokal
g) Epilepsi.

2.8 PROGNOSIS ABSES OTAK


Setelah pengobatan abses otak, defisit neurologik dapat terjadi berupa
hemiparesis, kejang, gangguan penglihatan dan kelumpuhan saraf kranial karena
kemungkinan adanya gangguan jaringan otak. Serangan ulang biasanya terjadi,
dengan angka kematian yang tinggi.
Angka kematian yang dihubungkan dengan abses otak secara signifikan
berkurang, dengan perkiraan 5-10% didahului CT-Scan atau MRI dan antibiotic
yang tepat, serta manajemen pembedahan merupakan faktor yang berhubungan
dengan tingginya angka kematian, dan waktu yang mempengaruhi lesi, abses
mutipel, kesadaran koma dan minimnya fasilitas CT-Scan. Angka harapan yang
terjadi paling tidak 50% dari penderita, termasuk hemiparesis, kejang,
hidrosefalus, abnormalitas nervus kranialis dan masalah-masalah pembelajaran
lainnya.
Prognosis dari abses otak ini tergantung dari:
1) Cepatnya diagnosis ditegakkan
2) Derajat perubahan patologis
3) Soliter atau multipel
4) Penanganan yang adekuat.
Dengan alat-alat canggih dewasa ini AO pada stadium dini dapat lebih cepat
didiagnosis sehingga prognosis lebih baik. Prognosis AO soliter lebih baik dan
mu1tipel. Defisit fokal dapat membaik, tetapi kejang dapat menetap pada 50%
penderita.

23
2.9 PENCEGAHAN ABSES OTAK

Abses otak selalu berkaitan dengan infeksi organ lain dan oral higiene yang
tidak baik. Beberapa pencegahan abses otak, yaitu :
1) Abses otak dapat dicegah dengan mengobati penyakit infeksi lain dalam
tubuh. Misalnya mengobati otitis media dengan tuntas.
2) Menjaga dan membersihkan rongga mulut dan gigi dengan baik serta secara
teratur mengunjungi dokter gigi.
3) Infeksi HIV dicegah dengan tidak melakukan hubungan seks yang tidak aman.

2.10 HASIL PENELITIAN TENTANG ABSES OTAK


Abses otak paling sering terjadi pada usia antara 20 dan 50 tahun, tetapi,
telah ditemukan pada setiap usia. Pasien-pasien datang dengan nyeri kepala dan
tanda-tanda neurologis fokal yang bervariasi tergantung pada lokasi abses. Tanda-
tanda peningkatan tekanan intrakranial (khususnya mual, muntah, dan penurunan
kesadaran) merupakan hal yang paling sering ditemukan.

2.11 ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ABSES OTAK


1) Pengkajian
A. Anamnesis.
Keluhan utama
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta bantuan
pelayanan kesehatan adalah adanya gejala neurologis ( kelemahan ekstremitas,
penurunan penglihatan, kejang).
Riwayat penyakit saat ini
Faktor riwayat penyakit sangat penting di ketahui untuk mengetahui jenis
kuman penyebab, tanyakan kepada klien dengan jelas tentang gejala yang timbul
seperti kapan mulai serangan , sembuh, atau bertambah buruk. Pada pengkajian
klien abses otak, biasanya di dapatkan keluhan yang berhubungan dengan akibat
dari proses supurasi infeksi dan peningkatan TIK. Keluhan tersebut adalah
kelemahan ekstremitas, penurunan penglihatan, dan kejang. Keluhan kejang perlu
mendapat perhatian untuk di lakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana sifat

24
timbulnya kejang, stimulus apa yang sering menimbulkan kejang, dan tindakan
apa yang telah di berikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut.
Adanya penurunan atau perubahan pda tingkat kesadaran di sebabkan oleh abses
otak bakteri, disorientasi dan gangguan memori biasanya merupakan perubahan
lanjut dari abses otak. Perubahan yang terjadi bergantung pada beratnya penyakit,
demikian pula respon individu terhadap proses fisiologis. Keluhan perubahan
prilaku juga umum terjadi. Sesuai perkembangan penyakit dapat terjadi letargi,
tidak responsive, dan koma.
Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah di alami klien yang mungkin adanya
hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi, pernahkah klien
mengalami riwayat trauma langsung dari trauma intracranial atau pembedahan,
pernahkah mengalami infeksi dari daerah lain seperti sinus, telinga, gigi ( infeksi
sinus pranasal, otitis media, sepsis gigi), kemungkinan penyebaran infeksi dari
organ lain ( abses paru-paru, endokarditis infektif) dan dapat menjadi komplikasi
akibat beberapa bentuk meningitis yang menjadikan terjadinya abses otak.
Sering ditemukan adanya riwayat otitis media; mastoiditis; sinusitis
supuratif; atau infeksi pada wajah, kulit kepala atau tengkorak. Bronkiektasis,
abses paru, empiema, dan endokarditis bakterial juga telah diketahui dapat
menyebabkan abses otak.
Riwayat Keluarga
Tanyakan pula apakah keluarga pasien juga pernah mengalami penyakit
pernapasan atau penyakit yang sama dengan pasien saat ini. Anggota keluarga
yang memiliki riwayat penyakit paru-paru yang penularannya mudah atau
penyakit menular lainnya juga dapat menyebabkan terjadinya abses otak.
Riwayat Pekerjaan dan Kebiasaan
Pekerjaan dan kebiasaan yang tidak sehat memudahkan masuknya
mikroorganisme ke dalam tubuh dan akhirnya menyerang otak dan
mengakibatkan abses otak.
Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Pengkajian psikologis klien abses otak meliputi beberapa dimensi yang
memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status

25
emosi, kognitif, dan prilaku klien. Sebagian besar pengkajian ini dapat di
selesaikan melalui interaksi menyeluruh dengan klien dalam pelaksanaan
pengkajian lain dengan memberi pertanyaan dan tetap melakukan pengawasan
sepanjang waktu untuk menentukan kelayakan ekspresi emosi dan pikiran.
Pengkajian mekanisme koping yang di gunakan klien juga penting untuk menilai
respon emosi klien terhadap penyakit yang di deritanya dan perubahan peran klien
dalam keluarga dan masyarakat. Apakah ada dampak yang timbul pada klien,
yaitu timbul ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk
melakukan aktifitas secara optimal dan pandangan terhadap dirinya yang salah (
gangguan citra tubuh). Pengkajian mengenai mekanisme koping yang secara sadar
biasa di gunakan klien selama masa stres meliputi kemampuan klien untuk
mendiskusikan masalah kesehatan saat ini yang tela di ketahui dan perubahan
prilaku akibat stress.
Karena klien harus menjalani rawat inap maka apakah ini member dampak
pada status ekonomi klien. Karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan
dana yang tidak sedikit. Perawat juga memasukkan pengkajian terhadap
fungsineurologis dengan dampak ganguan neurologis yang akan terjadi pada gaya
hidup individu, erspektif keperawatan dalam mengkaji terdiri dari dua masalah,
yaitu keterbatasan yang di akibatka oleh deficit neurologis dalam hubungannya
dengan peran social klien dan rencana pelayanan yang akan mendukung adaptasi
pada gangguan neurologis di dalam system dukungan individu.
B. Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien,
pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian
anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya di lakukan persistem (B1-B6) dengan
focus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (brain) yang terarah dan di
hubungkan dengan keluhan –keluhan dari klien. Pemeriksaan fisik di mulai
dengan memeriksa tanda-tanda vital (TTV).
Pada klien abses otak biasanya di dapatkan peningkatan suhu tubuh lebih
dari 38-41oC. keadaan ini biasanya di hubungkan dengan proses inflamasi dan
proses supurasi di jaringan otak yang sudah mengganggu pusat pengatur suhu
tubuh. Penurunan denyut nadi terjadi berhubungan dengan tanda-tanda

26
peningkatan TIK. Apabila disertai peningkatan frekuensi pernafasan sering
berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum adanya infeksi pada
system pernafasan sebelum mengalami abses otak. TD biasanya normal atau
meningkat berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK.
B1(BREATHING)
1) Inspeksi kemampuan klien batuk, produksi sputum, sesak nafas,
penggunaan otot bantu nafas, dan peningkatan frekuensi pernafasan yang
sering di dapatkan pada klien abses otak yang di sertai adanya gangguan
pada system pernafasan.
2) Palpasi thoraks untuk menilai taktil premitus, pada efusi pleura atau
abses paru taktil premitus akan menurun pada posisi yang sakit.
3) Auskultasi bunyi nafas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan
peningkatan akumulasi secret.
B2 (BLOOD)
Pengkajian pada system kardiovaskuler terutama di lakukan pada klien
abses otak pada tahap lanjut sepeti apabila klien sudah mengalami renjatan (syok).
B3 ( BRAIN)
Pengkajian B3 merupakan fokus pemeriksaan.
Tingkat kesadaran
Kualitas kesadaran klien adalah parameter yang paling mendasar dan paling
penting yang membutuhkan pengkajian.
Tingkat kesadaran klien dan respon terhadap linkungan adalah indicator
paling sensitive untuk disfungsi system persarafan. Beberapa system digunakan
untuk membuat peringkat perubahan dalam kewaspadaan dan kesadaran.
Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien abses otak biasanya berkisar
pada tingkat letargi, stupor, semikomatosa. Apabila klien sudah mengalami koma
maka penilaianGCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan
bahan evaluasi untuk monitoring pemberian asuhan.

27
Fungsi serebral
1) Status mental
Observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara, dan observasi
ekspresi wajah serta aktifitas motorikyang pada klien abses otak tahap lanjut
biasanya status mental klien mengalami perubahan.
2) Pemeriksaan saraf cranial
Saraf I. tidak ada kelainan dan fungsi penciuman tidak ada kelainan
Saraf II. Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal. Pemeriksaan
papiledema mungkin di dapatkan terutama abses otak supuratif disertai abses
serebri dan efusi subdural yang menyebabkan terjadinya TIK.
Saraf III, IV, VI. Pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil pada klien abses otak yang
tidak di sertai penurunan kesadaran biasanya di tandai kelainan. Pada tahap lanjut
abses otak yang telah menggangu kesadaran, tanda-tanda perubahan dari fungsi
dan reaksi pupil akan di dapatkan. Dengan alasan yang tidak diketahui, klien
abses otak mengeluh mengalami fotofobia atau sensitive yang berlebihan terhadap
cahaya
Saraf V. abses otak umumnya tidak di dapatkan paralisis pada otot wajah dan
reflex kornea biasanya tidak ada kelainan.
Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.
Saraf VIII. Tidak di temukan adanya tuli konduktif dn tuli persepsi.
Saraf IX, X. kemampuan menelan baik.
Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomaspezius. Adanya usaha dari klien
untuk melakukan fleksi leher dan kaku leher ( regiditas nukal)
Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi.
Indra pengecapan normal.
3) Sistem motorik
Kekuatan otot menurun, control keseimbangan dan koordinasi pada
absesotak tahap lanjut mengalami perubahan sehingga klien mengalami
kelemahan ekstremitas dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pemeriksaan reflex
Pemeriksaan reflek dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum, atau periosteum
derjat reflex pada respon normal.

28
Gerakan involunter
Tidak di temukan adanya tremor, TIC, dan distonia. Pada keadaan tertentu klien
biasanya mengalami kejang umum terutama pada anak dengan abses otak di sertai
peningkatan suhu tubuh yang tinggi, kejang dan peningkatan TIK juga
berhubungan dengan abses otak.
4) Sistem sensorik
Pemeriksaan sensorik pada abses otak biasanya di dapatkan perasaan raba
normal. Perasaan nyeri normal. Perasaan suhu normal, tidak ada perasaan
abnormal di permukaan tubuh, perasaan proprioseptif normal dan perasaan
diskriminatif normal.
B4 (BLADDER)
Pada pasien dengan abses otak, kontrol sfingter uretra mengalami masalah
atau gangguan. Hal ini dikarenakan terjadi defisit neurologis. Sehingga
menyebabkan inkontinensia. Selain itu oliguria juga dapat terjadi berhubungan
dengan penurunan kesadaran. Sehingga intake cairan berkurang dan retensi cairan
di dalam tubuh.
B5 (BOWEL)
Penurunan kesadaran juga berpengaruh pada intake nutrisi ke dalam tubuh.
Terjadi penurunan intake nutrisi, karena penurunan kemampuan menelan.
Sehingga pemenuhan nutrisi tubuh terganggu.
B6 (BONE)
Abses otak menyebabkan penurunan GCS. Pasien dianjurkan untuk bedrest
total. Tirah baring yang lama menyebabkan kekuatan otot berkurang karena jarang
melakukan gerakan aktif. Artrofi otot dapat terjadi akibat hal ini.

C. Pemeriksaan Diagnostic
Pengulangan pengkajian neurologis dan pengkajian klien secara terus
menerus penting untuk menentukan letak abses yang akurat. Selain itu perlu
dilakukan pemeriksaan diagnostik sebagai berikut :
1) CT scan sangat baik dalam menentukan abses, setelah evolusi dan resolusi
lesi-lesi supuratif, dan dalam menentukan waktu yang optimal untuk di
laksanakan intervensi pembedahan.

29
2) Pungsi lumbal, mengambil sample cairan serebrospina untuk menentukan
infeksi. Namun, biasanya dihindari jika dicurigai ada massa yang besar.
Karena dapat menyebabkan herniasi otak.
3) Biopsi stereotaktis yang dipandu CT bisa dilakukan untuk mengalirkan
dan mengkulturkan abses
4) Kultur dan sensitivitas drainase mengidentifikasi organisme penyebab
abses.
5) Sinar-X tengkorak dan scan radioisotop bisa menunjukkan abses.

2) Diagnosis Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d ketidakmampuan membuang sekret
akibat penurunan kesadaran ditandai dengan dispneu.
2. Gangguan perfusi serebral b/d sirkulasi otak terhambat ditandai syncope
3. Hipertermi b/d edema otak ditandai peningkatan suhu basal
4. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d penekanan komponen-komponen dalam
intrakranial akibat TIK meningkat ditandai dengan sakit kepala
5. Gangguan perfusi jaringan b/d peningkatan tekanan intrakranial, nyeri
kepala ditandai dengan pucat (sianosis)
6. Perubahan eliminasi urine b/d gangguan sfingter uretra ditandai
inkontinensia urin dan oliguria
7. Gangguan pemenuhan nutrisi tubuh b/d ketidak-mampuan menelan akibat
kesadaran menurun ditandai penurunan berat badan
8. Hambatan mobilitas fisik b/d penurunan kesadaran dan kelemahan otot
ditandai dengan artropi otot
9. Ansietas berhubungan dengan nyeri karena kurang pengetahuan
10. Resiko cedera b/d peningkatan pelepasan muatan listrik otak ditandai
kejang
11. Resiko kerusakan integritas kulit b/d tirah baring lama akibat penurunan
kesadaran

30
3) Rencana Intervensi
Diagnosa Tujuan dan Rencana
No. Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
1. Bersihan jalan Tujuan : a) Kaji fungsi Pengkajian fungsi
napas tidak efektif dalam waktu paru, adanya pernafasan dengan
b/d 1x5 jam bunyi nafas interval yang
ketidakmampuan setelah di tambahan, teratur adalah
membuang sekret berikan perubahan penting karena
akibat penurunan tindakan, jalan irama dan pernafasan yang
kesadaran ditandai nafas kembali kedalam tidak efektif dan
dengan dispneu efektif. penggunaan adanya kegagalan,
KH:: secara otot-otot akibat adanya
Subjectif sesak aksesori, kelemhan atau
nafas (-), warna, paralisis pada otot-
frekuensi nafas kekentalan otot interkostal
16-20x/menit, sputum dan diafragma
tidak berkembang
menggunakan dengan cepat.
otot bantu b) Atur posisi Peninggian kepala
nafas, retraksi fowler dan semi tempat tidur
ICS (-), ronkhi fowler memudahkan
(-/-), dapat pernafasan,
mendemonstras meningkatkan
ikan cara batuk ekspansi dada, dan
efektif meningkatkan
batuk lebih efektif.
c) Ajarkan cara Klien berada pada
batuk efektif resiko tinggi bila
tidak dapat batuk
dengan efektif

31
untuk
membersihkan
jalan nafas dan
mengalami
kesulitan dalam
menelan, sehingga
menyebabkan
aspirasi saliva dan
mencetuskan gagal
nafas akut.
d) Lakukan Terapi fisik dada
fisioterapi dada, membantu
vibrasi dada meningkatakan
batuk lebih efektif.
e) Penuhi hidrasi Pemenuhan cairan
cairan via oral dapat
eperti minum mengencerkan
air putih dan mucus yang kental
pertahankan dan dapat
asupan cairan membantu
2500ml/hari pemenuhan cairan
yang banyak
keluar dari tubuh
f) Lakukan Pengisapan
pengisapan mungkin di
lendir di jalan perlukan untuk
nafas mempertahankan
kepatenan jalan
nafas menjadi
bersih

32
Diagnosa Tujuan dan Rencana
No. Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
2. Gangguan perfusi Tujuan: dalam a) Monitor klien Untuk mencegah
serebral b/d waktu 3x24 dengan ketat nyeri kepala yang
sirkulasi otak jam setelah di terutama menyertai
terhambat ditandai berikan setelah lumbal perubahan tekanan
syncope intervensi pungsi, intracranial
perfusi jaringan anjurkan klien
otak meningkat berbaring
Criteria hasil: minimal 4-6
tingkat jam setelah
kesadaran lumbal pungsi
meningkat b) Monitor tanda- Untuk mendeteksi
menjadi sadar, tanda tanda-tanda syok,
disorientasi peningkatan yang harus di
negative, tekanan laporkan ke dokter
konsentrasi intrkranial untuk intervensi
baik, perfusi selama awal.
jaringan dan perjalanan
oksigenasi baik penyakit (nadi
tanda-tanda lambat, tekanan
vital dalam darah
batas normal, meningkat,
dan syok dapat kesadaran
di hindari. menurun, nafas
irregular, reflex
pupil menurun,
kelemahan)
c) Monitor TTV Perubahan ini
dan neurologis menandakan ada
tiap 5-30 menit. perubahan tekanan
Catat dan intracranial dan

33
laporkan segera penting untuk
perubahan intervensi awal
tekanan
intracranial ke
dokter
d) Hindari posisi Untuk mencegah
tungkai di tekuk peningkatan TIK
atau gerakan
klien, anjurkan
untuk tirah
baring.
e) Tinggikan Untuk mengurangi
sedikit kepala TIK.
klien dengan
hati-hati, cegah
gerakan yang
tiba-tiba dan
tidak perlu dari
kepala dan
leher, hindari
fleksi leher.
f) Bantu seluruh Untuk mencegah
aktifitas dan keregangan otot
gerakan klien. yang dapat
Beri petunjuk menimbulkan
untuk BAB peningkatan TIK
(jangan enema).
Anjurkan klien
untuk
menghembus-
kan nafas dalam
bila miring dan

34
bergerak di
tempat tidur.
Cegah posisi
fleksi pada
lutut.
g) Waktu Untuk mencegah
prosedur eksitasi yang
perawatan di merangsang otak
sesuaikan dan yang sudah iritasi
di atur tepat dan dapat
waktu dengan menimbulkan
periode kejangan
relaksasi,
hindari
rangsangan
lingkungan
yang tidak
perlu.
h) Beri penjelasan Untuk mengurangi
kepada disorientasi dan
keadaan untuk klasifikasi
lingkungan persepsi sensorik
klien yang terganggu
i) Evaluasi selama Untuk merujuk ke
masa rehabilitasi
penyembuhan
terhadap
gangguan
motorik,
sensorik,
intelektual

35
j) Kolaborasi Untuk
pemberian menurunkan TIK
steroid osmotic

Diagnosa Tujuan dan Rencana


No. Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
3. Hipertermi b/d Tujuan : a) Berikan Antibiotik berguna
edema otak Dalam waktu antibiotik untuk mengurangi
ditandai 1x24 jam maka sesuai indikasi peradangan/infeksi
peningkatan suhu suhu tubuh sehingga suhu
basal pasien tubuh dapat
menurun. normal kembali.
Kriteria hasil: b) Monitor suhu Untuk mengetahui
Suhu tubuh tubuh secara efek obat terhadap
o
<38 C teratur pasien.
c) Berikan Untuk
antipiretik menormalkan suhu
sesuai program tubuh pasien.
d) Gunakan Selimut
selimut hipotermia
hipotermia berguna untuk
(bypothemia menjaga suhu
blanket) jika tubuh tetap
diindikasikan hangat(normal).

Diagnosa Tujuan dan Rencana


No. Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
4. Gangguan rasa Tujuan : a) Catat Variasi
nyaman nyeri b/d dalam waktu 1 karakteristik penampilan dan
penekanan X 24 jam nyeri, lokasi, perilaku klien
komponen- terdapat intensitas dan karena nyeri

36
komponen penurunan penyebaran- terjadi sebagai
intrakranial akibat respon nyeri nya. temuan
TIK meningkat pada tulang pengkajian.
belakang b) Anjurkan Nyeri berat dapat
pasien untuk menyebabkan
KH: melaporkan syok dan
secara nyeri dengan memperparah
subyektif segera keadaan pasien
pasien c) Istirahatkan Istirahat akan
menyatakan pasien menurunkan
penurunan rasa aktivitas pasien.
nyeri dada, Sehingga nyeri
secara objektif berkurang
didapatkan d) Manajemen Lingkungan yag
TTV dalam lingkungan : tenang dan
batas normal, lingkungan membatasi
wajah rileks tenang dan pengunjung dapat
batasi memudahkan
pengunjung pasien beristirahat
e) Ajarkan Dapat menurunkan
teknik stimulus internal
distraksi dengan
(pengalihan mekanisme
perhatian) saat peningkatan
nyeri produksi endorfin
dan enkifalen yang
dapat memblok
reseptor nyeri.
f) Lakukan Berupa sentuhan
manajemen dukungan
sentuhan psikologis misal :
masase ringan

37
yang dapat
membantu
menurunkan nyeri
dan meningkatkan
aliran darah.
g) Kolaborasi Antianalgesik
pemberian yang sesuai
antianalgesik dengan indikasi
sesuai indikasi akan mengurangi
nyeri pasien.

Diagnosa Tujuan dan Rencana


No. Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
5. Gangguan perfusi Tujuan : a) Berikan Untuk menyuplai
jaringan b/d Setelah oksigen kebutuhan
peningkatan dilakukan dengan jaringan yang
tekanan tindakan menggunakan berlebihan karena
intrakranial, nyeri keperawatan rebrething kondisi
kepala ditandai 2x24 jam mask (100%) hipermetabolik
dengan pucat perfusi atau intubasi dan untuk
(sianosis) jaringan sesuai indikasi memperbaiki
adekuat. kegagalan sistem
Kriteria hasil : kardiopulmonal.
Klien
mengatakan b) Pemberian Memperbaiki
tidak mual, cairan IV sirkulasi dan
tidak kejang, dengan RL mempermudah
sadar dan TTV atau normal pendinginan.
dalam batas saline
normal. c) Berikan Kalium untuk
kalium untuk mengoreksi
koreksi hipokalemia dan

38
hipokalemia natrium
dan natrium bikarbonat untuk
bikarbonat mengoreksi
untuk koreksi asidosis metabolic,
adosis sesuai hasil
metabolic. pemeriksaan
laboratorium.

d) Pantau TTV Perubahan TTV


dan EEG. dan EEG akan
berpengaruh
terhadap tindakan
yang dilakukan
selanjutnya.
Elektrokardiogram
dapat
menunjukkan
disritmia tanpa
bukti-bukti infark
pada jaringan otak.
e) Ukur balance Untuk mengetahui
cairan setiap 1 cairan itu kurang
jam. atau lebih supaya
tetap seimbang dg
kebutuhan.
f) Pantau adanya Dengan
kejang memantau, akan
segera bisa
memberikan
pertolongan, jika
klien sedang
kejang.

39
g) Berikan Memperlancar
diuretic untuk eliminasi urine
meningkatkan agar suhu bisa
dieresis. cepat turun

Diagnosa Tujuan dan Rencana


No. Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
6. Perubahan Tujuan : a) Monitor asupan Asupan cairan dan
eliminasi urine b/d dalam waktu 1 cairan, pola jumlah residu
gangguan sfingter kali 24 jam berkemih, urine merupakan
uretra ditandai terdapat jumlah residu data awal untuk
inkontinensia urin eliminasi urin urine, kualitas penghitungan
dan oliguria pasien kembali urine intake dan output
efektif b) Ukur intake dan Intake dan output
output pasien yang sama,
KH: menunjukkan
secara objektif perubahan
didapatkan eliminasi urin
TTV dalam pasien mulai
batas normal
normal,peningk c) Bantu Pasien Mengurangi resiko
atan kemajuan jika ingin cedera lebih lanjut
pasien dalam berkemih di
eliminasi urin. kamar mandi
d) Pasang kateter Kateter
memudahkan
pasien untuk
berkemih tanpa
harus
mengeluarkan
banyak tenaga
untuk ke kamar

40
mandi

Diagnosa Tujuan dan Rencana


No. Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
7. Gangguan Tujuan : a) Observasi Mengetahui status
pemenuhan nutrisi kebutuhan tekstur dan nutrisi klien
tubuh b/d ketidak- nutrisi klien turgor kulit
mampuan menelan terpenuhi b) Lakukan oral Kebersihan mulut
akibat kesadaran dalam waktu higine merangsang nafsu
menurun ditandai 5x24 jam makan
penurunan berat KH: c) Observasi Mengetahui
badan turgor baik, asupan dan keseimbangan
asupan dapat keluaran nutrisi klien
masuk sesuai d) Observasi Untuk
kebutuhan posisi dan menghindari
terdapat keberhasilan resiko
kemampuan sonde infeksi/iritasis
menelan , e) Tentukan Untuk menetapkan
sonde dilepas, kemampuan jenis makanan
berat badan klien dalam yang akan di
meningkat 1kg, mengunyah, berikan pada klien
HB dan menelan, dan
albumin dalam reflek batuk.
batas normal. f) Kaji Dengan mengkaji
kemampuan factor tersebut
klien dalam dapat menentukan
menelan, batuk, kemampuan
adanya secret menelan klien dan
mencegah resiko
aspirasi
g) Auskultasi Fungsi
bising usus, gastroinfestinal

41
amati bergantung paa
penurunan atau kerusakan otak.
hiperaktifitas Bising usus
bisisng usus. menentukan
respon pemberian
makan atau
terjadinya
komplikasi
misalnya pada
ileus
h) Timbang berat Untuk
badan sesuai mengevalusi
dengan indikasi efektifitas dari
asupan makanan
i) Berikan Menurunkan
makanan resikoregurgitasi
dengan cara atau aspirasi
meninggikan
kepala
j) Letakkan posisi Untuki klien lebih
kepala lebih mudah untuk
tinggi pada menelan karena
waktu, selama gaya gravitasi
dan sesudah
makan
k) Stimulasi bibir Membantu dalam
untuk menutup melatih kembali
dan membuka sensorik dan
mulut secara meningkatkan
manual dengan control muscular
menekan ringan
di atas bibir/di

42
bawah dagu
jika dibutuhkan
l) Letakkan Memberikan
makanan pada stimulasi sensorik
daerah mulut (termasuk rasa
yang tidak kecap) yang dapat
terganggu mencetuskan
usaha untuk
menelan dan
meningkatkan
masukan
m) Berikan Klien dapat
makan dengan berkonsentrasi
perlahan pada pada mekanisme
lingkungan makan tanpa
yang tenang adanya distraksi
dari luar
n) Mulailah untuk Makanan lunak/
memberikan cair mudah untuk
makan peroral dikendalikan di
setengah cair dalam mulut dan
dan makanan menurunkan
lunak ketika terjadinya aspirasi
klien dapat
menelan air
o) Anjurkan klien Menguatkan otot
menggunakan fasial dan otot
sedotan ketika menelan dan
minum menurunkan
resiko terjadinya
tersedak
p) Anjurkan klien Dapat

43
untuk meningkatkan
berpartisipasi pelepasan
dalam program cindorfin dalam
latihan otak yang
/kegiatan meningkatkan
nafsu makan
q) Kolaborasi Mungkin di
dengan tim perlukan untuk
dokter untuk memberikan
memberikan cairan pengganti
cairan melalui dan juga makanan
IV atau jik klien tidak
makanan mampu untuk
melalui selang memasukkan
segala sesuatu
melalui mulut

Diagnosa Tujuan dan Rencana


No. Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
8. Hambatan Tujuan : a) Kaji mobilitas Mengetahui
mobilitas fisik b/d Dalam waktu 3 yang ada dan tingkat
penurunan X 24 jam observasi kemampuan klien
kesadaran dan kegiatan pasien terhadap dalam melakukan
kelemahan otot meningkat peningkatan aktivitas
ditandai dengan sesuai dengan kerusakan,
artropi otot kemampuannya kaji secara
. teratur fungsi
motorik
KH : b) Ubah posisi Mengurangi
secara mandiri klien tiap 2 terjadinya iskemia
maupun jam jaringan akibat
dengan sedikit sirkulai darah

44
bantuan yang buruk pada
pasien tidak daerah yang
mengeluh tertekan
pusing, alat dan c) Ajarkan klien Gerakan aktif
sarana untuk melakukan memberikan
memenuhi latihan gerak massa, tonus dan
aktivitas aktif kekuatan otot serta
tersedia dan memperbaiki
mudah fungsi jantung dan
dijangkau pernapasan
klien, kekuatan d) Pertahankan Telapak kaki
otot bertambah, sendi 90 dalam posisi 90
tidak terjadi derajat derajat dapat
kontraktur terhadap mencegah
sendi papan kaki footdrop
e) Inspeksi kulit Deteksi dini
bagian distal adanya gangguan
setiap hari. integritas kulit
Pantau kulit
dan membran
mukosa
terhadap
iritasi,
kemerahan
atau lecet-
lecet
f) Bantu klien Menjaga
melakukan kebersihan tubuh
perawatan diri klien
sesuai
toleransi
g) Kolaborasi Latihan fisik dari

45
dengan ahli tim fisioterapis
fisioterapi dapat
untuk latihan meningkatkan
fisik klien kemampuan
mobilitas.

Diagnosa Tujuan dan Rencana


No. Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
9. Ansietas Tujuan : a) Tunjukkan Membuat pasien
berhubungan Dalam waktu 2 sikap sopan nyaman dan tidak
dengan kurang X 24 jam dan lemah sungkan
pengetahuan pasien lembut kepada
terhindar dari pasien
kecemasan atau b) Perbanyak Menumbuhkan
kecemasan tatap muka kepercayaan psien
pasien dan terhadap perawat
berkurang komunikasi
dengan pasien
KH : c) Anjurkan Membantu
Secara objektif, pasien mengatasi masalah
TTV normal, menceritakan pasien
tidak terlihat masalahnya
tanda-tanda jika ia sudah
adanya siap
dekubitus, lesi d) Berikan Pasien akan
atau informasi nyaman dan lebih
peradangan yang tepat percaya kepada
pada kulit mengenai perawat. Dehingga
penyakit dia mau kebih
pasien dan hal terbuka tentang
yang menjadi apa yang
penyebab membuatnya

46
kecemasan cemas. Dengan
pasien tanpa demikian, pasien
mengintimida akan merasa lebih
si pasien tenang.

Diagnosa Tujuan dan Rencana


No. Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
10. Resiko cedera b/d Tujuan : a) Monitor Gambaran
peningkatan dalam waktu kejang pada iritabilitas system
pelepasan muatan 3x24 jam tangan, kaki, saraf pusat
listrik otak perawatan, mulut, dan memerlukan
klien bebas dari otot-otot evaluasi yang
cedera yang di muka lainnya sesuai dengan
sebabkan oleh intervensi yang
kejang dan tepat untuk
penurunan mencegah
kesadaran terjadinya
KH: komplikasi
klien tidak b) Persiapkan Melindungi klien
mengalami lingkungan bila kejang terjadi
cedera apabila yang aman
ada kejang seperti
berulang. batasan
ranjang, papan
pengaman,
alat suction
selalu berada
dekat klien
c) Pertahankan Mengurangi resiko
bedrest total jatuh / cedera jika
selama fase terjadi vertigo dan

47
akut ataksia
d) Kolaborasi Untuk mencegah
pemberian atau mengurangi
terapi, kejang
diazenam, Catatan:
fenobarbital fenobarbital dapat
menyebabkan
depresi pernafasan
dan sedasi

Diagnosa Tujuan dan Rencana


No. Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
11. Resiko kerusakan Tujuan : a) Catat TTV TTV menjadi
integritas kulit b/d Dalam waktu 3 sesudah indikator
tirah baring lama X 24 jam melakukan kemampuan
akibat penurunan pasien aktivitas pasien dalam
kesadaran terhindar dari melakukan
resiko kegiatan
kerusakan b) Lakukan Perubahan posisi
integritas kulit perubahan dapat mengurangi
posisi tiap 2 atau mencegah
KH : jam bila kerusakan
Secara objektif, sudah ada integritas kulit.
TTV normal, petunjuk Perubahan posisi
tidak terlihat dokter namun yang mendadak
tanda-tanda hati-hati dapat
adanya terhadap menyebabkan
dekubitus, lesi timbulnya hipotensi
atau hipotensi ortostatik.
peradangan akibat
pada kulit perubahan
posisi

48
c) Inspeksi kulit Menentukan
dengan cermat adanya luka atau
pada setiap lesi
membalikkan
pasien
d) Bersihkan Membuang bakteri
kulit pasien atau
setiap mikroorganisme
beberapa jam lain yang dapat
dengan sabun menyebabkan
ringan, dibilas timbulnya lesi
dan kemudian
dikeringkan
e) Lakukan Massage membuat
massage pasien lebih rileks
dengan dan nyaman.
perlahan Lotion membantu
menggunakan melembabkan
gerakan kulit
sirkular dan
olehkan krim
atau lotion
pada daerah
tertekan

4) Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang dilakukan sesuai rencana intervensi
yang diberikan. Lakukan tindakan sesuai rencana intervensi dan cantumkan nama,
waktu serta tanda tangan yang melakukan tindakan.
5) Evaluasi
Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan yang dilakukan berupa :
1. Kesadaran klien berangsur-angsur normal, jalan napas kembali efektif

49
2. Perfusi otak klien kembali optimal
3. Nyeri kepala berkurang
4. Suhu badan klien menurun
5. Gangguan eliminasi urin berkurang, kontrol sfingter uretra mulai normal
6. Nutrisi klien selama perawatan seimbang dengan BB stabil
7. Kekuatan otot klien meningkat
8. Kecemasan klien berkurang dengan informasi yang diberikan perawat
9. Klien terhindar dari resiko cidera dan dekubitus .

50
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Abses otak merupakan kumpulan pus atau nanah yang terdapat di jaringan
parenkim otak. Abses ini disebabkan adanya invasi mikroorganisme patogen
secara langsung ke otak melalui trauma intrakranial ataupun melalui penyebaran
secara hematogen dari infeksi organ lain.
Tanda dan gejala penyakit ini diantaranya sakit kepala, mual, muntah dan
demam. Namun, berdasarkan tempat abses tanda dan gejala fokalnya berbeda-
beda. Abses ini ditangani dengan terapi antimikroba & antibiotik, terapi anti
analgesik untuk mengurangi nyri kepala, bahkan craniectomy untuk membuang
pus pada jaringan otak.
Pus atau nanah yang terkumpul di dalam otak dapat mengganggu fungsi
saraf otak bahkan aliran impuls di otak. Beberapa komplikasi dari abses otak yaitu
TIK meningkat, epilepsi, hidrosephalus, retardasi mental dan lainnya. Selain
komplikasi tersebutm jika tidak segera ditangani abses otak dapat menyebabkan
kematian. Oleh karena itu, setiap mengalami penyakit infeksius, hendaknya
diobati sampai tuntas agar tidak terjadi penyebaran infeksi ke otak yang akhirnya
menyebabkan abses otak.

3.2 SARAN
Abses otak dapat menyebabkan perubahan status kesehatan pada
penderitanya serta dapat menimbulkan komplikasi yang dapat memperparah
kondisi prognosis pada klien dengan kasus tersebut. Oleh karena itu perlu adanya
penanganan yang serius terhadap kasus ini.
Seorang perawat hendaknya mendalami penyakit-penyakit yang berkaitan
dengan sistem persarafan termasuk penyakit yang menyerang otak salah satunya
abses otak. Dengan mendalami dan memahami etiologi dan patofisiologi penyakit
ini, maka pemberian asuhan keperawatan terhadap klien atau pasien dapat
dilakukan dengan efektif dan efisien.

51
DAFTAR PUSTAKA

Ariani, Tutu A. 2012. Sistem Neurobehavior. Jakarta : Salemba Medika.


Dorland, W.A. Newman. 2012. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Guyton, Arthur C. dan John E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedoktera n:
Edisi 11. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta:Salemba medika.
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. 2002. Patofisiologi: Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit : Volume 2: Edisi 6. Jakarta:Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Syaifuddin. 2011. Anatomi Fisiologi untuk Keperawatan dan Kebidanan :
Edidi 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Honny. 2013. Asuhan keperawatan pada abses otak. jum’at
http://ochonny.blogspot.com/2013/05/asuhan-keperawatan-pada-abses-
otak.html. Diakses tanggal 24 Oktober 2013, pukul : 07. 05 WIB.

52